Silahkan Mencari !!!

Info!!!

kelanjutan fan fiction & recap drama semua ada di blog q yang baru
fanfic : www.ff-lovers86.blogspot.com
recap : www.korea-recaps86.blogspot.com
terima kasih...

Rabu, 25 Agustus 2010

Cinderella's Sister (Episode 6)

Dalam perjalanan pulang setelah menjemput Hyo Seon, Ki Hoon menyalakan musik klasik Jung Kyung Ah. Eun Jo mematikan musik itu dengan acuh.

"Semudah itukah kau melupakan segalanya?" tanya Ki Hoon sedih. Eun Jo tidak menjawab.

Saat itu, Hyo Seon ternyata sadar. Ia mendengar pembicaraan mereka.

Setelah menyelimuti Hyo Seon, Eun Jo mematikan lampu dan berjalan keluar dari kamar. Tidak lama kemudian Hyo Seon juga keluar.

"Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?" terdengar Ki Hoon bertanya, kemudian menarik Eun Jo pergi.

"Eun Jo-ah!" panggil Ki Hoon. "Eun Jo-ah."

Eun Jo tidak bisa menahan air matanya ketika mendengar Ki Hoon memanggilnya seperti itu.

Ki Hoon berjalan mendekati Eun Jo.

Eun Jo menghapus air matanya. "Tidak peduli siapa kau, bagaimana kau tersenyum dan siapa namamu, semua tidak penting." katanya kasar. "Dan bagiku, kau tidak lebih dati debu dan serangga. Jangan berani tersenyum dan memanggil namaku lagi, karena aku akan benar-benar membunuhmu." Setelah berkata begitu, Eun Jo meninggalkan Ki Hoon.

Hyo Seon bersembunyi.

Hyo Seon kembali ke dalam rumah. Disana, ia melihat ayahnya sedang menggendong Joon Soo dengan sayang.

Hyo Seon tersenyum melihat mereka. "Semua orang pergi, meninggalkanku sendirian. Meninggalkanku..." gumamnya dalam hati.

"Kau boleh pergi sekarang." kata Dae Sung. "Sekarang sudah ada banyak orang yang bisa melanjutkan penelitian ragi selain kau. Aku tidak berpikir mengenai kemungkinan bahwa kau tinggal disini tapi sebenarnya ingin pergi. Kau tidak hanya memiliki pemikiran yang cepat, tapi juga memiliki kaki yang cepat. Jika kau ingin terbang, aku sudah menyiapkan sayap untukmu. Aku tidak pernah menganggapmu sebagai anak jalanan."

"Aku tahu." kata Eun Jo.

"Kau tahu?" tanya Dae Sung, menggeleng. "Tidak, kau tidak tahu. Jika kau tahu, kau tidak akan berpikir seperti itu. Aku tidak pernah menganggapmu berbeda dengan Hyo Seon. Serahkan padaku rencana tertulis yang ingin kau lakukan mulai saat ini. Aku punya hak untuk memintanya darimu. Jika kau bekerja disini karena ingin membayar hutangmu, dalam hatimu kau pasti memiliki sesuatu yang ingin kau lakukan. Apa yang ingin kau lakukan, bagaimana kau menyiapkannya, dan bagaimana kau akan hidup begitu kau keluar dari sini. Sejak pertama kau mengubah nama keluargamu dengan namaku, aku menganggapmu tidak mandiri dan berperan sebagai pelindungmu. Aku harus tahu apa rencanamu untuk masa depan."

Eun Jo menunduk. "Aku akan menyerahkan itu padamu. Rencana tertulis." kata Eun Jo.

"Kau boleh pergi." kata Dae Sung.

Tanpa sengaja Kang Sook mendengar pembicaraan mereka.

"Apa kau mengusirnya?" tanya Kang Sook pada Dae Sung. "Apa kau mengusirku dan Eun Jo keluar? Jika aku melakukan kesalahan, tolong maafkan aku. Aku sudah melakukan yang terbaik." Kang Sook menangis histeris kemudian pingsan.

"Ayo menikah." kata Hyo Seon pada Ki Hoon.

Ki Hoon tertawa. "Ya, ayo kita menikah." katanya.

"Sebesar apapun kau menyukai Eun Jo, itu tidak mungkin terjadi." kata Hyo Seon. "Jika kau pergi pada Eun Jo, apa lagi milikku yang tersisa?"

"Hyo Seon..." Mendadak ponsel Ki Hoon berbunyi.

"Kau milikku, Kak!" seru Hyo Seon. "Aku sudah mengatakan bahwa kau milikku untuk selamanya. Jangan menolak." Ia kemudian berjalan pergi.

Eun Jo membaringkan ibunya di kamar.

"Apa ada seseorang di luar?" tanya Kang Sook.

"Tidak ada siapapun." jawab Eun Jo.

Kang Sook langsung bangun dan memukul Eun Jo. "Dasar gila!" serunya marah. "Kemana kau pikir kau akan pergi?! Jika kita tetap disini, maka perusahaan dan semuanya akan jatuh ke tanganmu dan Joon Soo."

Eun Jo terpukul meihat ibunya. Ia benar-benar mencemaskan Kang Sook, namun Kang Sook ternyata hanya berakting. "Jadi... semuanya hanya pura-pura?" tanyanya.

"Katakan pada ayahmu kalau kau tidak jadi pergi. Mengerti?!" perintah Kang Sook.

Eun Jo diam. "Aku berharap, aku mati." katanya. "Ada banyak kesempatan agar aku bisa bebas darimu."

"Kau bicara apa?" tanya Kang Sook bingung.

Eun Jo keluar dari kamar. Tiba-tiba Hyo Seon lari dengan panik, ingin melihat ibunya. Kang Sook berpura-pura kembali pingsan.

Eun Jo pergi dari rumah dan berjalan menyusuri sungai. Jung Woo mengikutinya dari belakang.

Eun Jo duduk diam di pinggir sungai. Jung Woo berjalan mendekati dan duduk di sampingnya, tapi Eun Jo malah berdiri. Jung Woo mengejar.

"Aku tidak mendengar apa yang kau katakan." kata Eun Jo, menoleh pada Jung Woo.

"Hah? Apa?"

"Apa kau mengatakan sesuatu padaku?" tanya Eun Jo.

Jung Woo menggeleng.

"Apa kau ada urusan denganku?" tanya Eun Jo.

Jung Woo menggeleng.

"Kalau begitu, apa presiden mencariku?" tanya Eun Jo lagi.

Jung Wo mengangguk.

"Katakan padanya aku akan kembali nanti sore." Eun Jo berjalan pergi.

"Kakak..." panggil Eun Jo pelan dan ragu. Namun Eun Jo tidak mendengar. Paman Hyo Seon datang dan memanggilnya.

Paman Hyo Seon mengajak Jung Woo ke suatu tempat. Di dalam mobil, ia memberikan sejumlah uang sogokan, tapi Jung Woo terlalu polos hingga tidak mengerti.

Hyo Seon tertidur di samping Kang Sook. Ia memeluk ibunya itu. Kang Sook kesal dan menyingkirkan tangan Hyo Seon. Hyo Seon memeluknya lagi.

"Ibu!" panggil Joon Soo.

"Ya, Joon Soo, ibu datang!" jawab Kang Sook. Akhirnya ia bisa lepas dari Hyo Seon.

Setelah Kang Sook pergi, Hyo Seon membuka matanya.

Eun Jo melakukan penelitian ragi di laboratorium.

Guru Eun Jo, Guru Oh, mengemukakan mengenai seorang laki-laki yang ingin sekali mendekati Eun Jo, tapi Eun Jo cuek saja.

Dae Sung berkata bahwa ia tidak bisa membiarkan Ki Hoon pergi walaupun Eun Jo sudah memecatnya. "Kau sangat kejam, Nak." katanya pada Eun Jo. "Apakah kau sudah membuat rencana tertulis?"

"Belum." jawab Eun Jo.

"Bagus. Kau melakukan hal yang benar." kata Dae Sung. "Aku bisa melepaskanmu karena aku yakin kau tidak akan berakhir kelaparan dijalanan. Sampai kau bisa menemukan tempat dimana kau tidak ingin lari lagi, aku akan terus menjagamu. Ketika kau mengatakan bahwa kau ingin membayar hutangmu padaku, aku merasa sangat kecewa. Aku sangat sedih. Tolong jangan lakukan itu lagi."

"Tinggal di rumah ini sulit untukku." ujar Eun Jo. "Tolong jangan berikan hatimu padaku. Jika kau sudah memberikannya padaku, maka ambillah semuanya. Aku adalah seseorang yang tidak ada bagusnya. Kau akan tahu seberapa mengerikannya aku. Walaupun saat ini aku mengalah demi ibuku, tapi aku tetap ingin pergi. Kau tidak perlu memedulikan aku. Aku bukan tipe orang yang akan berterima kasih atas apa yang sudah kau berikan padaku."

Ki Hoon datang menemui ayahnya dan berkata bahwa ia akan kembali ke Perusahaan Anggur Dae Sung. "Perusahaan Anggur Dae Sung bukanlah sainganmu." katanya. "Kau tidak perlu memedulikan mereka."

"Kau tidak tahu apapun." kata Presiden Hong.

"Aku hanya ingin beristirahat selama beberapa waktu disana." kata Ki Hoon. "Sembari beristirahat, aku akan memikirkan cara untuk membantumu, Ayah. Jangan pernah membiatkan Kak Ki Jung mengambil semuanya dari kita dan menahan kekayaanmu."

"Kau bilang Perusahaan Dae Sung bukan sainganku?" tanya Presiden Hong. Ia memberikan sebuah berkas pada Ki Hoon. "Ki Jung sudah memulai negosiasi. Itu adalah dokumen yang digunakannya untuk berusaha membeli Perusahaan Anggur Dae Sung. Ia gagal. Dae Sung tidak mau menjualnya, tapi Ki Jung bersikeras. Kita tidak boleh membiarkan Ki Jung memilikinya. Aku akan mengatakan satu hal lagi. Apa kau tahu bagaimana ibumu mati?"

Ki Hoon keluar dari ruangan ayahnya dan melihat Eun Jo berjalan tidak jauh darinya. Rupanya Eun akhirnya Jo bersedia bertemu dengan pria yang disebut-sebut Guru Oh.

"Kudengar kau adalah putri pemilik perusahaan yang bersaing ketat dengan Perusahaan Hong." kata pria itu.

"Karena itukah kau ingin tahu tentangku?" tanya Eun Jo dingin.

Pria itu menjadi tidak enak. "Berapa tinggimu?" tanyanya. "160? 161?"

"Barapa tinggi yang harus kubutuhkan untukmu agar menikahiku?" tanya Eun Jo sinis. "170? 171?"

"Jika aku ingin menikahi seseorang karena tingginya, aku akan mencari seorang model." kata pria itu.

Ki Hoon mencuri dengar pembicaraan mereka.

Dengan acuh, Eun Jo berdiri dan berjalan pergi meninggalkan pria itu.

"Sepertinya pria itu bukan tipemu." kata Ki Hoon di pintu depan. "Kau pergi sangat cepat."

Tanpa mengatakan apa-apa, Eun Jo naik ke mobilnya dan pergi. Ki Hoon mengejarnya.

Eun Jo mengemudi dengan kecepatan gila-gilaan. Ki Hoon menyalipnya, kemudian berhenti di depannya. Eun Jo mengincap remnya mati-matian untuk menghindari tabrakan.

Ki Hoon turun. "Aku tidak akan mengejarmu." katanya pada Eun Jo. "Jadi mengemudi pelan-pelan. Aku tidak akan berusaha mendapatkanmu ataupun meraihmu. Kau tidak perlu melarikan diri seperti itu. Mengerti?!"

Eun Jo pulang. Jung Woo berjalan di belakangnya.

"Apa kau ingin mengatakan sesuatu padaku?" tanya Eun Jo.

Jung Woo menggeleng.

Eun Jo melepas sepatunya dan masuk ke rumah. Jung Woo merapikan sepatu Eun Jo.

Eun Jo menoleh.

"Inilah yang harus kulakukan pada atasanku. Kesetiaan." kata Jung Woo seraya memberi hormat pada Eun Jo.

Ki Hoon menelepon ayahnya. "Berjanjilah satu hal. Jika kau ingin melakukan sesuatu pada Perusahaan Dae Sung, biarkan aku yang mengerjakannya. Jika kau berjanji, aku akan melakukan tugas yang yang kau minta."

Hyo Seon mencuci beras. Dae Sung ragu apakah ia bisa mengerjakannya dengan benar.

Hyo Seon sangat sedih. "Ya, aku akan melakukannya dengan benar." ujarnya pada ayahnya.

Setelah Dae Sung pergi, Hyo Seon hampir menangis. "Aku sangat tidak berguna bukan, bibi?" tanyanya pada bibinya. "Aku.. akan melakukan semuanya dengan benar. Aku bisa melakukannya."

Eun Jo melihat Hyo Seon. "Jika kau sudah selesai, temui aku di kamarmu." katanya.

Jung Woo memberi hormat pada Eun Jo.

Eun Jo meminta Hyo Seon memakai sebuah gauh hitam.

"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Hyo Seon dingin pada Eun Jo. "Apa kau ingin menyuruhku menari?"

"Kau cantik." kata Eun Jo, kemudian bangkit dan hendak pergi. "Itu saja."

"Mengatakan aku cantik tidak mempan lagi." kata Hyo Seon. "Kau pembohong. Setelah membuatku senang dengan mengatakan aku cantik, aku tahu kau hanya akan menyuruhku melakukan apapun yang kau minta. Aku tidak akan terjebak dua kali."

"Sangat disayangkan." kata Eun Jo.

"Apa kau pikir, jika kau memintaku melakukan sesuatu, aku selalu mau, tanpa bertanya?" tanya Hyo Seon.

"Kau tidak mau melakukannya?" tanya Eun Jo. "Jika kau melakukannya, kurasa kau akan suka. Aku tidak akan memaksamu. Jika kau tidak mau melakukannya, aku akan menggunakan uang. Uang ayahmu."

"Kau... jahat." kata Hyo Seon.

Eun Jo meminta Hyo Seon menjadi model iklannya. Walaupun terlihat lelah, tapi sepertinya Hyo Seon menikmati pekerjaan itu. Ki Hoon tersenyum melihat Hyo Seon. Eun Jo kelihatan cemburu.

Saat makan malam bersama di kedai, Hyo Seon menggenggam tangan Ki Hoon dan menyuapinya. Eun Jo cemburu melihat itu dan minum hingga mabuk. Ki Hoon ikut-ikutan minum sampai mabuk.

Hyo Seon terpaksa memanggil seseorang dari rumah untuk membantu mengangkat mereka ke mobil.

Jung Woo datang dan membawa mereka ke mobil.

"Siapa namamu?" tanya Hyo Seon.

"Namaku Han Jung Woo."

"Kau seperti tentara." kata Hyo Seon.

"Bukan hanya tentara, tapi aku angkatan darat." jawab Jung Woo.

Hyo Seon dan Jung Woo mengangkat Ki Hoon terlebih dulu ke kamarnya. Ketika mereka kembali ke mobil untuk mengangkat Eun Jo, Eun Jo sudah tidak ada.

"Kakak!" panggi Hyo Seon, mencari-cari Eun Jo bersama Jung Woo.

Ki Hoon terbangun mendengar keributan itu.

Rupanya Eun Jo ada di ruang penyimpanan anggur. Ia duduk diam disana, bersandar pada salah satu gentong. Ki Hoon datang kesana dan berniat menyentuh Eun Jo, tapi mengurungkan niatnya, lalu meninggalkan Eun Jo.

Jung Woo-lah yang kemudian menemukan Eun Jo dan menggendongnya ke kamarnya.

Akhirnya iklan produk anggur Dae Sung selesai dan sudah diluncurkan ke televisi.

Eun Jo terus menerus bekerja di laboratorium dan mengerjakan penelitiannya.

Karena iklan yang ditayangkan, permintaan akan anggur Dae Sung makin melejit.

"Tolak semua pesanan yang datang." kata Dae Sung pada Ki Hoon.

Eun Jo sedang bicara di telepon. Setelah selesai, ia berkata, "Terima semua pesanan. Kita akan disupply oleh Menteri pertanian dan perikanan. Dengan itu, kita bisa meningkatkan jumlah produksi."

Mendadak, Dae Sung berlari ke arah Eun Jo dan mengambil tissue gulung. Hidung Eun Jo mengeluarkan darah. "Hyo Seon, pergi dan ambil kapas. Cepat!" perintahnya.

"Ya." jawab Hyo Seon.

Eun Jo mimisan karena terlalu banyak bekerja dan kelelahan. Ia mencoba mengerjakan semuanya sendiri.

Hyo Seon berlari mengambil kotak p3k. Ketika ia kembali, Eun Jo mendadak pingsan. Mereka bergegas membawanya ke rumah sakit.

Hyo Seon menunggui Eun Jo di rumah sakit.

"Song Eun Jo... bukan, Goo Eun Jo." kata Hyo Seon dalam hatinya. "Tidak mungkin aku bisa menirunya. Aku tidak bisa menjadi seperti dia. Aku ingin menangis. Aku tidak ingin, tapi enah kenapa air mata ini tidak mau berhenti." Hyo Seon menangis. "Setiap kata yang pernah kuucapkan padanya, semuanya bohong."

Hyo Seon menatap Eun Jo. "Kakak, jangan mati." katanya. "Mati saja. Itulah yang ingin kukatakan." ujar Hyo Seon dalam hati. "Kakak, aku akan melakukan yang terbaik. Aku peduli padamu." Hyo Seon menangis. "Darah dari hidungmu, kaulah yang menaruhnya bukan?"

"Ada apa?' tanya Eun Jo, terbangun. "Apa aku akan mati? Atau kau berharap aku mati?"

Eun Jo melepas selang infus dan bangkit dari tidurnya. Hyo Seon menarik dan memaksanya kembali ke tempat tidur.

"Kau membuatku semakin membencimu!" seru Hyo Seon. "Berada di laboratorium sepanjang malam agar kau terlihat hebat di depan ayahku!" Hyo Seon mengganggap jika Eun Jo sakit dan pingsan, maka hal itu akan membuat Eun Jo kelihatan lebih baik dan sempurna. Jika Eun Jo pergi dan pingsan lagi, maka semua orang hanya akan lebih peduli dan mengkhawatirkannya. "Tidak ada hal lain yang kuinginkan selain kematianmu!"

Mendadak Dae Sung dan Kang Sook datang. Dae Sung berteriak marah. Hyo Seon bergegas melarikan diri.

"Hyo Seon! Kita harus bicara!" panggil Dae Sung, mengejar Hyo Seon.

Hyo Seon pergi menaiki mobil Ki Hoon.

Eun Jo bertanya pada ibunya apakah benar semua yang telah dilakukan Kang Sook adalah untuk kepentingan Eun Jo.

"Aku adalah tipe orang yang akan menantang Buddha dan Tuhan untuk menyelamatkanmu." jawab Kang Sook.

Eun Jo menangis.

"Tidak perlu merasa tersentuh." kata Kang Sook. "Tidak ada ibu yang tidak melakukan hal yang sama pada anaknya."

"Ayah Hyo Seon... Apakah kau memiliki perasaan padanya?" tanya Eun Jo. "Apakah ayah Hyo Seon... adalah seseorang yang memiliki banyak hal yang bisa kau curi? Kau memiliki perasaan untuknya kan, Ibu?! Katakan padaku kau memiliki perasaan untuknya!"

Disaat yang sama, Dae Sung berjalan gontai kembali dan membuka kamar Eun Jo.

"Katakan padaku kau berada disisinya karena kau mencitainya!" teriak Eun Jo. "Jika kau mengatakan itu, aku akan memaafkanmu!"

"Kenapa kau bertanya begitu?" tanya Kang Sook. "Aku menyukainya. Aku menyukainya! Aku menyukainya karena ia memiliki banyak hal yang bisa kucuri. Kau puas sekarang?"

Dae Sung membuka pintu, melihat Eun Jo menangis dan menjerit histeris.

d� n-@��\ial'>"Masuklah ke dalam."

"Siap, Pak!"

Jung Woo masuk dan melihat Eun Jo sedang menjelaskan segala sesuatu di pabrik itu pada para pengusaha. Jung Woo tersenyum tipis dan berjalan mengikutinya.

Eun Jo membawa para pengusaha itu ke ruang penyimpanan anggur dan menyuruh mereka mendengarkan suaranya. Eun Jo terdiam karena merasakan sesuatu. Matanya menjadi berkaca-kaca.

Dae Sung menepuk pundak Eun Jo pelan dan menyuruhnya mengantar para pengusaha itu ke ruang ragi. Eun Jo berjalan melewati Jung Woo, namun tidak mengenalinya.

Hyo Seon ikut audisi menari balet, namun ia terjatuh. Lagi-lagi terjatuh.

"Biar aku mencobanya lagi." pinta Hyo Seon pada para juri.

"Kami sudah melihat. Kau boleh pergi." kata Juri.

Tanpa memedulikan kata-kata juri, ia terus menari dan terjatuh lagi. Hyo Seon teringat kata-kata Eun Jo. "Apa kau tidak punya cita-cita? Kau tidak memiliki rencana dan tujuan, bukan?"

Hyo Seon menangis. "Aku bisa mulai membuat rencana sekarang." katanya.

Kang Sook menunggui Hyo Seon audisi. Ia menelepon seseorang dan marah-marah. "Sudah kubilang aku tidak bisa hari ini!" teriaknya.

"Ada apa, ibu?" tanya Hyo Seon. "Kau seperti bertengkar dengan seseorang. Kau bertengkar dengan kakak?"

Kang Sook berbohong. "Ah, Ya." jawabnya.

Eun Jo berbincang dengan Dae Sung. Ia mengatakan bahwa jika ia berhasil dalam penelitian ragi, maka ia akan pergi. "Jika aku berhasil, aku yakin itu cukup untuk membayar hutang yang kutumpuk hingga sekarang." katanya.

Dae Sung menjadi cemas. "Bagaimana bisa kau berpikir itu sebagai hutang?" tanyanya.

Tapi keputusan Eun Jo sudah bulat, Dae Sung tidak bisa berbuat dan berkata apa-apa.

Eun Jo berjalan keluar. Di sana, ia berpapasan dengan Jung Woo yang sedang menangkat kayu. Eun Jo bergeser ke kiri untuk menghindarinya, tapi Jung Woo malah ikut ke kiri. Eun Jo bergeser ke kanan dan Jung Woo ikut ke kanan.

"Kau jalan duluan." kata Eun Jo datar.

Jung Woo meletakkan kayunya dan membiarkan Eun Jo lewat.

"Aku menepati janjiku." katanya. "Kau tidak mengenaliku?"

Eun Jo berbalik.

Di pihak lain, Hyo Seon terkejut melihat pria di hadapannya. Ki Hoon.

"Kak Ki Hoon?" gumam Hyo Seon.

Ki Hoon tersenyum. "Kau masih mengenaliku."

Hyo Seon berlari memeluk Ki Hoon.

"Aku tidak mengenalmu." kata Eun Jo. "Mungkin kau salah orang."

"Tu... tunggu..." gumam Jung Woo. Ia mengejar Eun Jo. "Ini aku! Jung Woo!"

"Kau salah orang." kata Eun Jo. "Kau pekerja baru yang direkrut oleh Paman Hyo Seon, Manajer Yang, bukan? Kau mencari Hyo Seon? Dia ada di dalam rumah saat ini."

"Ini aku, Jung Woo!" seru Jung Woo. "Jung Woo yang hidup dengan Tuan Jang berambut!"

Eun Jo diam. Ia memandang lurus ke depan.

Jung Woo menoleh pada apa yang dilihat Eun Jo. Hyo Seon dan sedang berjalan bersama dengan Ki Hoon.

"Aku kenal wajah itu." kata Ki Hoon, menatap Eun Jo. "Kau Kakak Hyo Seon, bukan? Apa kau ingat aku?"

Eun Jo hanya diam, melihat Ki Hoon tanpa berkedip.

"Kakak, kau tidak ingat Kak Ki Hoon?" tanya Hyo Seon.

Eun Jo tetap diam dan tidak bergerak sedikitpun. Setelah beberapa saat, akhirnya ia berkata, "Halo."

"Ya... halo..." balas Ki Hoon.

Hyo Seon mengajak Ki Hoon masuk ke rumah untuk menemui ayahnya. Eun Jo berjalan lagi.

Mengetahui Ki Hoon berasal dari Angkatan Laut, Jung Woo memberi hormat padanya.

Rupanya Ki Hoon datang untuk melamar pekerjaan. Setelah menelepon dua kandidat sebelumnya, yang ternyata sudah mendapat pekerjaan lain, akhirnya Eun Jo terpaksa mewawancarai Ki Hoon.

"Pendidikan dan pengalamanmu sangat bagus." kata Eun Jo. "Kenapa kau ingin bekerja di tempat seperti ini? Apakah ini hanya akan menjadi pemberhentian sementara sebelum kau menemukan pekerjaan yang lebih baik?"

"Itu tidak akan terjadi." kata Ki Hoon, menatap Eun Jo. "Aku akan bekerja dengan sangat keras hingga kau tidak akan mau kehilangan aku. Jika kelihatannya aku ingin pergi, kau akan memperlakukan aku dengan lebih baik."

Dae Sung melirik mereka berdua.

"Aku sudah pernah hidup disini sebelumnya dan aku sangat menyukainya." tambah Ki Hoon.

"Berapa lama kau menyelesaikan wajib militer?" tanya Eun Jo. "Apakah selama itu, kau tidak pernah...."

"Aku selalu kembali setiap hari libur." jawab Ki Hoon.

Eun Jo kelihatan sangat terpukul mendengarnya.

Hyo Seon duduk di tepi sungai dan menelepon tempat audisinya. Ia gagal lagi.

"Kau gagal?" tanya Ki Hoon, berjalan mendekati dan duduk di sampingnya. "Apa kau sedih?"

Hyo Seon menunduk.

"Tidak apa-apa." hibur Ki Hoon seraya mengusap rambut Hyo Seon. "Masih banyak hal yang menyenangkan yang bisa dilakukan di dunia ini."

"Kakak, kemana saja kau selama ini hingga tidak pernah kembali sampai sekarang?" tanya Hyo Seon. "Aku senang melihatmu."

"Kenapa kau ingin menangis?" tanya Ki Hoon.

"Aku tidak punya cita-cita, tidak punya rencana dan tidak punya tujuan. Bisakah seseorang sepertiku memiliki hidup yang menyenangkan?" tanya Hyo Seon sedih. "Kakak, katakan sesuatu yang bisa kupercaya seperti saat aku percaya bahwa bulan itu kotak."

"Saat ka menjalani hidupmu dengan senang, maka kau akan menemukan impianmu." kata Ki Hoon. "Kau akan menemukan tujuanmu dan membuat rencana untuk menggapainya."

Hyo Seon bersandar di bahu Ki Hoon. "Kakak milikku, kenapa kau tidak pernah datang? Kau sangat jahat."

Ketika Eun Jo lewat, ia melihat mereka.

Ki Hoon mengusulkan agar Perusahaan Anggur Dae Sung menayangkan iklan di televisi, sama seperti Perusahaan Oh Sang, yang kini menjadi perusahaan terbesar dengan 6 cabang.

Eun Jo menyuruhnya memperkirakan jumlah biaya yang dibutuhkan dan membuat laporan, lalu menyerahkan semua itu padanya.

Eun Jo meminta Hyo Seon berlaku layaknya model iklan.

"Minumlah, tapi dengan label yang menghadap depan." kata Eun Jo.

"Jika kau membuatku melakukan ini tanpa alasan yang bagus, kau akan mati." kata Hyo Seon kesal. Ia meminumnya. "Enak." katanya.

Eun Jo memotret Hyo Seon.

"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Hyo Seon.

"Kau cukup cantik." kata Eun Jo.

Hyo Seon bingung. "Hah? Apa katanya?"

Karena penasaran. Hyo Seon mengejar Eun Jo. "Apa katamu? Tolong katakan sekali lagi. Kau bilang aku cantik, bukan? Kakak, kau berkata itu dari mulutmu sendiri, bukan?"

"Ini bukan pertama kali kau mendengarnya." kata Eun Jo. "Ibu bilang beratus-ratus kali setiap hari. Semua orang di keluarga kita dan di Perusahaan Dae Sung berpikir kau cantik. Joon Soo juga bilang Kakak kecil yang paling cantik. Mungkin pacarmu juga berpendapat sama. Pulanglah dan jangan ganggu aku."

Hyo Seon memegang wajahnya, kemudian tersenyum senang.

Ki Hoon menyerahkan laporan perkiraan biaya, tapi Eun Jo memintanya membuat lagi dengan mengurangi biaya agen, model, naskah dan direktor. Ia meminta Ki Hoon menambahkan biaya untuk fotografer dan poster karena menurutnya itulah yang paling penting.

Ki Hoon mendengarkan. "Kau tidak ingin mengatakan hal lain padaku?" tanyanya.

"Sudah cukup. Kau boleh pergi." kata Eun Jo acuh.

"Benarkah tidak ada?" tanya Ki Hoon lagi. "Baiklah. Aku pergi sekarang."

Paman Hyo Seon mengajak Jung Woo ke sebuah jalan kecil dikelilingi hutan dengan membawa beberapa gentong anggur. Ia menyuruhnya turun dan menelepon bila melihat sesuatu.

Beberapa saat kemudian, Paman Hyo Seon datang lagi tanpa gentong anggur. Jung Woo agak bingung.

Dae Sung memerintahkan Hyo Seon bekerja kembali di Perusahaan Anggur Dae Sung.

Kang Sook pergi ke Seoul untuk menemui mantan pacarnya, Jang, dengan alasan untuk melihat dunia luar agar bisa melakukan sesuatu yang berguna. Ia pergi menemuinya untuk mabuk-mabukan dan melampiaskan rasa frustasinya.

Kang Sook tiba rumah saat hari sudah gelap. Dae Sung keluar tiba-tiba. Ia menceritakan bahwa teman Hyo Seon menelepon dan mengatakan bahwa putrinya itu minum hingga mabuk.

"Ki Hoon dan Eun Jo sedang pergi menjemputnya." kata Dae Sung.

Kang Sook menarik napas panjang. "Aku juga baru saja bertemu dengan teman Hyo Seon." katanya berbohong. "Ayo kita bicara di dalam."

Di dalam mobil, Ki Hoon menyalakan musik klasik. "Ini Jung Kyung Ah." katanya. "Apa ada sesuatu yang kau ingat?"

Eun Jo tidak menjawab dan memejamkan mata.

Ki Hoon menggendong dan membaringkan Hyo Seon di tempat tidur, kemudian berjalan keluar. Eun Jo menyelimuti Hyo Seon. Ia keluar dan melihat Ki Hoon masih ada disana.

"Kau benar-benar tidak ingin mengatakan apapun padaku?" tanya Ki Hoon.

Eun Jo diam.

Ki Hoon menarik tangan Eun Jo dan mengajaknya keluar gerbang. "Kau berpura-pura tidak mengenalku?"

"Apa aku berpura-pura tidak mengenalmu?" Eun Jo bertanya balik.

"Jika tidak..."

"Tutup mulutmu!" kata Eun Jo sinis. "Brengsek! Apa artinya Hyo Seon bagimu dan apa artinya aku? Mulanya aku tidak tahu kalau kau seorang pria brengsek, tapi sekarang aku tahu."

"Bukan." kata Ki Hoon. "Bukan Hyo Seon. Itu tidak benar."

"Apa Hyo Seon tahu bahwa itu tidak benar?" tanya Eun Jo dingin.

"Itu tidak benar!" seru Ki Hoon.

"Kau dipecat." kata Eun Jo. "Jangan pernah berpikir untuk menginjakkan kaki lagi di tempat ini." Eun Jo berjalan pergi meninggalkan Ki Hoon.

"Eun Jo-ah!" panggil Ki Hoon.

Eun Jo berhenti berjalan.

"Eun Jo-ah." panggil Ki Hoon lagi. "Eun Jo-ah."

Eun Jo menangis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar