Silahkan Mencari !!!

Info!!!

kelanjutan fan fiction & recap drama semua ada di blog q yang baru
fanfic : www.ff-lovers86.blogspot.com
recap : www.korea-recaps86.blogspot.com
terima kasih...
Tampilkan postingan dengan label Cinderella's Sister. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinderella's Sister. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Agustus 2010

Cinderella's Sister (Episode 20-TAMAT)

"Jadi, ini bulan Juni 2010, bukan?" kata Eun Jo, menggambar di bukunya. "Saat itu, aku ingin membawa ibu jalan-jalan ke luar. Saat itu juga, Hyo Seon seharusnya sudah menikah. Kita menabung untuk membeli rumah. Mungkin butuh 10 tahun?"

Ki Hoon tidak memperhatikan gambar yang dibuat Eun Jo. Matanya hanya tertuju pada Eun Jo.

Eun Jo mendongak. "Yang kau pikirkan sekarang hanya ayahmu, bukan?" tanyanya. "Kurasa memang begitu. Karena itulah aku ingin menenangkan emosimu terlebih dahulu."

"Aku sudah tenang sekarang." kata Ki Hoon. Ia menunjuk gambar yang dibuat Eun Jo. "Ini memberi kekuatan untukku. Jangan pernah berpikir untuk berubah pikiran atau kau akan menerima akibatnya."

"Televisi dan surat kabar akan penuh dengan berita mengenai ayahmu." ujar Eun Jo. "Hyo Seon juga akan segera tahu."

"Aku akan memberitahu padanya sebelum ia tahu." jawab Ki Hoon. "Aku tidak akan membiarkan kesempatan bicara dengannya lolos begitu saja, seperti aku gagal bicara denganmu."

Di perusahaan, Kang Sook membelikan baju olahraga untuk para karyawannya. "Karena saat ini kita tidak memiliki banyak uang, aku hanya bisa memberi kalian baju olahraga agar kalian bisa pergi mendaki gunung bersama." katanya.

Kang Sook beranjak pergi bersama Hyo Seon. Namun mendadak ia melihat ke arah Heojin, kemudian membisikkan sesuatu di telinga Hyo Seon.

Kang Sook pergi terlebih dulu.

Hyo Seon mendekati pamannya. "Paman, ibu ingin bicara denganmu."

Heojin ketakutan setengah mati mengetahui Kang Sook ingin bicara dengannya, tapi Hyo Seon menenangkannya.

Setelah mengantar pamannya ke rumah, Hyo Seon keluar dan melihat Ki Hoon datang bersama Eun Jo.

Eun Jo mengangguk pelan pada Ki Hoon.

"Hyo Seon, sudah lama aku tidak melihatmu walaupun kita tinggal di rumah yang sama." ujar Ki Hoon.

Hyo Seon tersenyum. "Kelihatannya begitu."

"Aku ingin bicara denganmu." ujar Ki Hoon. "Ayo masuk."

Belum sempat Ki Hoon masuk bersama Eun Jo dan Hyo Seon, dua orang pria datang.

"Hong Ki Hoon, kau tahu bahwa Presiden Hong sedang diinvestigasi, bukan?" tanya salah seorang pria. "Ada laporan mengenai uang yang ditransfer secara ilegal ke rekeningmu. Kau harus ikut bersama kami."

"Apa katamu?" tanya Ki Hoon.

Ki Hoon terpaksa ikut dengan kedua pria itu. Eun Jo sangat cemas, namun Ki Hoon menenangkannya.

"Aku akan segera kembali. Tunggu aku." ujar Ki Hoon. "Katakan semuanya pada Hyo Seon. Katakan semuanya, jangan ada yang terlewat, dari awal sampai saat ini. Jangan sembunyikan apapun darinya."

Ki Hoon naik ke mobil. Eun Jo diam sejenak, kemudian mengejar mobil itu.

"Tunggu!" teriaknya. "Tunggu sebentar! Aku ingin mengatakan sesuatu!"

Namun mobil tidak mau berhenti dan meninggalkan Eun Jo dibelakang.

Kang Sook mengatakan pada Heojin bahwa mereka berdua sama-sama muak satu sama lain dan tidak ingin bertemu satu sama lain. Tapi bila Kang Sook mengusir Heojin, Hyo Seon dan para tetua akan membuat keributan.

"Satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan menikahkanmu." ujar Kang Sook.

"Ji... jika aku ingin melakukan itu, aku butuh seorang wanita." kata Heojin tanpa memandang Kang Sook.

Kang Sook mengeluarkan sebuah foto dan menunjukkannya pada Heojin.

Tanpa memandang foto itu terlebih dulu, Heojin meminta Kang Sook memaafkannya. Ia benar-benar tidak mampu hidup di luar. "Aku orang yang lambat. Hanya disinilah pekerjaan yang bisa kulakukan. Maafkan aku."

"Lihat fotonya!" seru Kang Sook.

"Y.. ya..." ujar Heojin seraya menoleh ke arah foto.

Foto itu adalah foto seorang gadis muda dan cantik. Heojin terpesona melihat foto itu.

"Ayah Hyo Seon membuat sebuah rencana untukmu, jadi aku harus menghormati keputusannya." ujar Kang Sook. Kang Sook terus mengoceh, namun Heojin tidak mendengarkan. Ia terlalu terpesona pada foto gadis itu.

Eun Jo menceritakan semuanya pada Hyo Seon.

Hyo Seon diam sejenak, kemudian bangkit dari duduknya. "Aku tidak percaya." katanya. "Kak Ki Hoon merencanakan semua itu dan mencoba membuat bisnis ayahku gagal? Kau ingin aku percaya? Apa yang sedang kalian rencanakan?"

"Jangan merasa terpukul Hyo Seon, karena masih ada hal yang ingin kukatakan padamu." ujar Eun Jo.

"Kau.. ingin balas dendam padaku, bukan?" tanya Hyo Seon. "Kau ingin balas dendam karena aku menyembunyikan surat itu. Kau pikir aku akan merasa sakit karena aku jatuh cinta pada orang yang menyebabkan kematian ayahku... Kau ingin memarahiku, bukan?"

Hyo Seon menangis. "Terlambat. Aku sudah terpukul. Aku tidak bisa menahannya. Bagaimana bisa kau mengatakan semua ini padaku?"

Eun Jo bangkit dari duduknya dan mendekati Hyo Seon. "Hyo Seon.."

"Sejak kedatanganmu, hidupku banyak berubah." ujar Hyo Seon. "Ayah makin mendekat padamu. Dan pada akhirnya, ia hanya melihatmu. Aku harus membagi ayahku dengan orang lain. Dan ibuku... aku tahu dia tidak menyayangiku dan semuanya hanyalah kebohongan. Lalu aku menemukan bahwa dia mengkhianati ayahku! Karena aku tidak bisa melepaskan ibu, aku merasa buruk. Aku hanyalah seorang anak tiri dan ibu mengatakan akan memperlakukan aku seperti anak tiri. Dan sekarang... Sekarang mengenai Kak Ki Hoon? Apa yang dia lakukan? Apa?"

Hyo Seon terduduk di sofa.

"Hyo Seon.." panggil Eun Jo seraya menyentuh lengan Hyo Seon. Hyo Seon mengelak, menolak disentuh.

"Jangan sentuh aku." ujar Hyo Seon. Ia bangkit dan berlari pergi.

Jung Woo berjalan gontai pulang ke rumah. Ketika ia tiba di depan pintu rumah, ia melihat Hyo Seon lari dan Eun Jo mengejarnya.

Hyo Seon berlari dan menangis. Ia mengingat kenangan-kenangannya bersama Ki Hoon.

"Hyo Seon!" panggil Eun Jo.

Hyo Seon menangis, lalu tiba-tiba terjatuh.

"Hyo Seon, kau tidak apa-apa?" seru Eun Jo cemas, menolong Hyo Seon.

Hyo Seon menangis. "Jauhkan tanganmu dariku!"

"Hyo Seon!" Eun Jo memeluk Hyo Seon dan menenangkannya.

Eun Jo mengobati lulut Hyo Seon yang terluka, kemudian duduk disampingnya.

"Masih ada yang ingin kukatakan padamu." katanya. "Aku bingung apakah harus mengatakannya sekarang atau nanti. Mungkin dengan mengatakan semuanya langsung, kau hanya akan terluka sekali saja. Kurasa itu akan lebih baik. Aku... dengan orang itu..."

"Kakak..." potong Hyo Seon. "Aku merasa kasihan pada Kak Ki Hoon. Aku ingin memeluknya. Ketika pertama kali ayah membawanya ke rumah, walaupun ia mengatakan bahwa ia seperti giok, bagiku ia seperti kaca yang rapuh. Sama seperti pada kita, ayah juga ingin melindunginya. Ia mengatakan padaku, 'Hyo Seon, kau juga harus menjaganya dengan baik'. Jika saja ia memilih tetap bersama ayah, ia tidak akan rusak. Tapi sekarang ia sudah rusak... berapa pecahan yang masih tersisa? Aku ingin sekali mengumpulkan pecahan kaca itu. Apakah ia akan mengizinkan?"

Hyo Seon menoleh pada Eun Jo. "Kakak, tolong katakan padanya agar tidak melarikan diri."

Eun Jo diam. "Apakah kisah ini tidak pantas untukku?" pikirnya dalam hati. "Kisah ini terlalu lembut dan manis."

Ketika penuntut menanyakan pada Ki Hoon mengenai rekening, Ki Hoon terus menjawab bahwa ia tidak tahu sama sekali.

"Bagaimana keadaan ayahku?" tanya Ki Hoon. "Bolehkah aku bertemu dengannya?"

Eun Jo sangat cemas menunggu Ki Hoon. Ia kemudian menelepon seorang penuntut bernama Kim Young Man.

"Bolehkah aku menghubungi Hong Ki Hoon?" tanya Eun Jo. Orang diseberang ruangan menolak. "Kalau begitu, bolehkah aku bertemu dengannya? Bisakah aku bertemu dengannya sebentar?"

Orang di seberang telepon menolak.

"Tunggu! Tolong tunggu sebentar." kata Eun Jo. "Tolong katakan padanya bahwa aku ingin mengatakan sesuatu yang penting."

"'Tolong katakan padanya bahwa aku menunggunya'" pikir Eun Jo dalam hati. "Itulah yang ingin kukatakan."

"Tidak, tidak jadi." ujar Eun Jo, mengurungkan niatnya. "Aku tidak ingin mengatakan sesuatu. Maafkan aku."

Jung Woo memasukkan pakaiannya dalam tas, berniat pergi.

Sebelum pergi, ia meminta Joon Soo melempar bola padanya.

Berkali-kali Joon Soo gagal melempar, akhirnya ia berhasil juga.

Jung Woo memukul bola dengan tongkat miliknya. Bola itu melayang tinggi sekali. Setelah itu, ia melempar tongkatnya ke danau, pertanda ia akan melupakan Eun Jo.

Ki Hoon dioperbolehkan bertemu dengan ayahnya.

"Sulit bukan?" tanya Ki Hoon. "Kau lebih memilih dipenjara dibandingkan melepaskan segalanya, Ayah?"

"Bagaimana denganmu?"

"Mudah untukku." jawab Ki Hoon "Apapun yang kutahu, aku menjawab bahwa aku tahu. Apapun yang tidak kutahu, aku menjawab tidak tahu."

Presiden Hong mengangguk.

"Aku ingin hidup bersamamu, Ayah." ujar Ki Hoon sedih. "Walaupun hanya sekali, jadilah ayah yang kuinginkan. Dengan begitu, semua akan baik-baik saja. Ayah, kau akan diinvestigasi. Kau tidak tahu sampai kapan akan tinggal disini. Aku akan menunggumu bersama dengan seorang gadis cantik. Kami akan menjagamu. Kami akan menunggumu disebuah rumah yang indah. Jangan mempertahankan apapun kecuali aku, Ayah."

Presiden Hong menangis.

Ki Hoon meraih tangan ayahnya dan menggenggamnya erat.

Malam itu, mendadak Hyo Seon masuk ke kamar Eun Jo dan mengatakan bahwa para tetua batal menjual saham mereka pada Perusahaan Hong.

"Dan yang sudah menjual sahamnya, mereka akan mengambilnya kembali." ujar Hyo Seon. Ia mengatakan pada Eun Jo bahwa besok pagi ia akan menemui Ki Hoon dan menceritakan segalanya. Mungkin dengan begitu, Ki Hoon akan merasa lebih baik. "Maukah kau pergi bersamaku? Bisakah kau pergi bersamaku?"

Eun Jo bangkit mendekati Hyo Seon. Ia ingin mengatakan. "Jika aku melakukan apapun yang kuinginkan, apa yang akan kau lakukan?" Tapi Eun Jo tidak sanggup mengatakannya. Kata yang keluar dari mulutnya hanyalah. "Baiklah, aku akan ikut denganmu."

Hyo Seon tersenyum. "Terima kasih."

Eun Jo berjalan perlahan, dengan ragu, menuju kamar Jung Woo. Mendadak, Heojin keluar dengan ngedumel. "Ada apa dengan anak itu?" gumamnya. Ia melihat Eun Jo dan menyerahkan sebuah kertas kecil padanya. "Jung Woo menyuruhku memberikan ini pada Kakak Joon Soo."

Eun Jo menerima dan membuka kertas itu. "Dimanapun aku berada dan dimanapun kau mungkin berada, wanita yang ada dihatiku hanyalah kau, Kakak." ujar Jung Woo dalam suratnya. "Aku masih menginginkanmu. Kapanpun kau membutuhkan aku, aku pasti akan datang. Ingat itu."

Eun Jo bertanya pada Heojin ke arah mana Jung Woo pergi, kemudian berlari mengejarnya.

Saat itu, Jung Woo sedang duduk diam di halte, menunggu bus.

"Kemana kau akan pergi?" tanya Eun Jo dengan napas terengah-engah. "Apa kau punya tempat untuk pergi?"

"Jangan cemas." jawab Jung Woo. "Aku punya banyak tempat untuk pergi."

"Ayo pulang!" ajak Eun Jo seraya menggandeng tangan Jung Woo.

Jung Woo menarik tangan Eun Jo dan memeluknya. "Aku selalu ingin memelukmu seperti ini." katanya. "Tapi sekarang sudah terlambat. Jika aku melepaskanmu, kau pasti akan memukulku, bukan? Tapi tidak apa-apa. Aku akan dihukum sebelum pergi. Tetaplah bahagia. Terima kasih karena sudah mengantar kepergianku. Aku tidak akan kelaparan lagi, jangan cemas. Jika kau membutuhkan aku, aku akan datang. Jika kau tidak ingin aku datang lagi, maka hiduplah yang baik."

Eun Jo menangis. Ia mengatakan bahwa ia ingin mengembalikan uang Jung Woo terlebih dulu, barulah Jung Woo boleh pergi. Tapi Jung Woo menolak. "Gunakan saja uang itu." katanya.

Bus datang dan Jung Woo naik ke dalam bus.

Eun Jo menangis.

Melihat kepergian Jung Woo, membuat Eun Jo lebih kuat. "Tidak apa-apa." katanya dalam hati. "Pergi adalah hal yang mudah. Aku akan pergi seperti Jung Woo... dengan senyuman."

Eun Jo kembali ke rumah dan dengan ragu mengambil tasnya.

Beberapa saat kemudian, ponsel Eun Jo berdering.

"Sekarang aku sedang berada dalam perjalanan pulang." kata Ki Hoon. "Penyelidikan sudah selesai."

Mendengar suara Ki Hoon, Eun Jo tidak bisa menahan tangisnya.

Eun Jo meninggalkan sebuah surat di kamar tidur Ki Hoon dan pergi.

Ki Hoon tiba di rumah saat hari terang. Ia membaca surat Eun Jo yang hanya tertulis, "Tolong jaga Hyo Seon."

Hyo Seon sangat terpukul mendengar kepergian Eun Jo. "Eun Jo... mencampakkan kita lagi." ujarnya.

Ki Hoon bertanya mengenai keberadaan Eun Jo pada Kang Sook, tapi Kang Sook menjawab bahwa ia tidak tahu apa-apa.

Beberapa bulan kemudian.

Perusahaan Anggur Dae Sung berjalan dengan lancar.

"Apa kau yakin?" tanya Hyo Seon pada seseorang ditelepon.

"Aku tidak yakin karena tidak mendengarnya sendiri. Tapi. bukankah temanku satu universitas dengan Kakakmu?" tanya suara di telepon. Dia mendengar seseorang menyebut 'Goo Eun Jo' dengan jelas."

Hyo Seon tersenyum. "Aku mengerti. Terima kasih, Na Mi."

Hyo Seon masuk ke sebuah gedung laboratorium. Diluar, mobil Ki Hoon sudah terparkir.

Ketika Hyo Seon masuk, Ki Hoon sednag bicara dengan seorang pria. Pria tersebut bernama Goo Eun Jo. Sayang sekali bukan Eun Jo yang mereka maksud.

Hyo Seoon menunduk sedih dan kecewa.

"Kakak." panggil Hyo Seon. "Apakah kau membuat janji dengan Kak Eun Jo?"

Ki Hoon terlihat ragu.

"Tidak apa-apa. Katakanlah padaku." ujar Hyo Seon.

"Ya, aku membuat janji dengannya." jawab Ki Hoon.

"Tapi, kenapa saat aku memintamu memulai hubungan lagi, kau tidak mengatakan apapun?" tanya Hyo Seon.

"Kupikir semuanya sudah berakhir." jawab Ki Hoon. "Aku tidak mengerti apa yang dimaksudkan Eun Jo ketika ia memintaku menjagamu. Aku terus memikirkan hal tersebut, tapi tetap tidak mengerti. Jadi, sampai saat Eun Jo kembali dan menjelaskan padaku..."

"Kakak.." potong Hyo Seon. "Jangan katakan apa-apa lagi. Tidak masalah. Aku mengerti. Ayo kita temukan Eun Jo. Kita bisa menggabungkan kekuatan untuk mencarinya. Bukankah itu lebih baik."

Ki Hoon tersenyum. "Ya." jawabnya seraya berjalan pergi.

Hyo Seon memanggil Ki Hoon lagi. "Kakak! Aku mencampakkanmu!" serunya. "Kenapa kau bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun? Aku baru saja mencampakkanmu!"

Ki Hoon tersenyum. Ia berjalan mendekati Hyo Seon dan mengusap rambutnya.

Hyo Seon menahan tangisnya. "Jika kau kembali lagi dengan kakak, jangan lupa menjagaku. Itulah yang harus dilakukan kakak ipar."

"Tentu saja." ujar Ki Hoon.

"Aku.. merindukan Eun Jo." ujar Hyo seon pelan.

Setelah Ki Hoon dan Hyo Seon pergi, Eun Jo keluar. Rupanya ia yang meminta pria itu berbohong dan mengaku bahwa namanya adalah Goo Eun Jo.

Ki Hoon naik ke mobil bersama Hyo Seon.

Tidak sengaja, ia berpapasan dengan pria yang mengaku bernama Goo Eun Jo. Pria itu sedang menelepon seseorang. "Ya, ini Jeon Hyuk Sun yang bicara. Bagaimana kabarmu?"

Ki Hoon menoleh dengan bingung.

Hyo Seon menelepon Ki Hoon dan mengatakan bahwa ada yang aneh mengenai salah satu artikel penelitian di sebuah buku dan laboratorium yang kemarin mereka kunjungi.

Ki Hoon akhirnya sadar dan bergegas pergi ke gedung laboratorium. Disana, ia melihat Eun Jo hendak menyeberang jalan.

Begitu melihat Ki Hoon, Eun Jo mencoba melarikan diri.

Ki Hoon berusaha mengejar dan menyebrang jalan.

Eun Jo berbalik, berjalan pergi. Mendadak, ia mendengar suara mobil di rem mendadak.

Eun Jo berbalik, ketakutan karena ia pikir Ki Hoon tertabrak. Tapi ternyata tidak. Ki Hoon berdiri tepat disampingnya.

Ki Hoon menggandeng tangan Eun Jo dan mengajaknya ke taman.

Eun Jo menangis karena mengira Ki Hoon megalami kecelakaan. Ia bertanya apa hal keempat yang belum sempat dikatakan Ki Hoon.

"Cepat katakan!" seru Eun Jo.

"Aku mencintaimu." jawab Ki Hoon. "Aku mencintaimu, Gadis jahat."

Eun Jo memeluk Ki Hoon, lalu Ki Hoon mengecup bibirnya.

"Apa arti MMM?" tanya Eun Jo.

"Gadisku yang jahat." jawab Ki Hoon.

Eun Jo, Hyo Seon, Kang Sok dan Joon Soo pulang setelah menghadiri penugerahaan award. Eun Jo tersenyum senang pada Ki Hoon.

Perusahaan Anggur Dae Sung menang dalam sebuah award. Hyo Seon dan Eun Jo mempersembahkannya untuk Dae Sung.

"Di depan ayah, apakah kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Hyo Seon. "Apa kau tahu hal apa yang ingin kukatakan padamu? Aku merindukanmu, Kak. Bagaimana denganmu?"

Eun Jo diam sejenak. "Aku juga merindukanmu." katanya.

Hyo Seon tersenyum dan memeluk Eun Jo.

Eun Jo memeluk Hyo Seon dan tersenyum juga.

Dae Sung datang dan menyentuh tangan kedua putrinya dengan perasaan sayang. Eun Jo dan Hyo Seon menangis.


TAMAT

Cinderella's Sister (Episode 19)

"Kemana kita akan pergi?" tanya Eun Jo pada Ki Hoon.

"Ke tempat dimana hanya ada kau dan aku." jawab Ki Hoon. "Untuk sementara, kita akan melupakan semua yang kita alami."

"Jangan pergi terlalu jauh." kata Eun Jo protes.

"Tutup saja mulutmu." kata Ki Hoon. Ia juga mengatakan pada Eun Jo bahwa ia sangat lapar. Saat disekap, ia tidak berani makan karena takut makanannya diracuni.

"Perhatikan jalan." kata Eun Jo. "Dan berhenti tersenyum."

"Aku tidak ingin mengambil apapun darimu, jadi jangan takut."

Ki Hoon mengajak Eun Jo ke pinggir hutan di gunung.

"Disini tidak ada restoran." protes Eun Jo. "Kenapa kau membawaku kesini? Sekarang kau lapar. Apa yang bisa dilakukan di tempat ini."

"Ayo duduk dan bicara." ajak Ki Hoon.

Tapi Eun Jo tidak menggubris kata-kata Ki Hoon. Ia pergi ke toko terdekat untuk mencari makanan. "Permisi, Nenek." ujarnya. "Aku tahu disini bukan restoran. Tapi, bisakah kau memberikan kami sesuatu untuk dimakan? Ada seseorang yang sangat kelaparan. Aku takut jika ia makan sembarangan ia akan sakit perut. Bisakah kau memasakkan semangkuk bubur, Nek?"

Akhirnya, Ki Hoon makan bubur dan duduk di atas tikar di pinggir mobil.

"Sekarang. Kau dan Aku. 1 Mei 2002. Mengerti?" ujar Ki Hoon. "Untuk 1 jam 10 menit kedepan, setiap 10 menit akan menjadi 1 tahun."

"Aku tidak mengerti apapun yang kau katakan." kata Eun Jo bingung.

"Aku tidak pernah naik ke kereta itu dan kita tetap hidup bersama di Perusahaan Dae Sung." ujar Ki Hoon. "Sepuluh menit lagi, kita ada di tahun 2002."

Eun Jo hanya diam.

"Eun Jo, kenapa soal matematikamu yang no. 10 salah?" omel Ki Hoon. "Kau harus dihukum pukul tangan. Mana tanganmu?"

Eun Jo hanya tersenyum. "Makan buburmu."

Dalam 1 hari itu, Ki Hoon ingin mengganti tahun-tahunnya yang hilang bersama Eun Jo.

Setelah itu, Ki Hoon mengajak Eun Jo berkeliling dengan sepeda.

Tahun 2005. Eun Jo masuk ke universitas tempat Ki Hoon kuliah. Ki Hoon bertanya pada Eun Jo siapa laki-laki yang bermain bersamanya. Ki Hoon membantu Eun Jo membawa buku-buku dan tas kuliah Eun Jo.

Tahun 2006. Ki Hoon sudah lulus kuliah tapi ia menunda mencari kerja dan terus berada di universitas itu. Ki Hoon mengatakan bahwa ia tidak bisa meninggalkan Eun Jo di universitas karena ia takut Eun Jo mungkin akan berkencan dengan pria lain.

Eun Jo dan Ki Hoon naik sepeda untuk membeli bensin.

"Kau akan pergi ke luar negeri?" tanya Ki Hoon. "Kau pikir aku akan mengizinkan? Sekarang saja aku sudah takut ada seseorang yang merebutmu. Kau pikir aku akan mengizinkan? Ke Amerika? Belajar? Aku yang akan mengajarimu bahasa Inggris! Cobalah! I'm a boy!"

Eun Jo tertawa.

Tahun 2008. Eun Jo lulus kuliah. Sampai saat ini, Eun Jo dan Ki Hoon belum putus.

Ki Hoon senang melihat Eun Jo tertawa. "Ketika kau tertawa, apa kau selalu mengeluarkan suara?" tanyanya. "Coba tertawa lagi. Aku sangat kagum."

Eun Jo mengelak dan kabur.

Ki Hoon dan Eun Jo tiba lagi di desa dan mengisi bensin mobil mereka.

"Coba lihat sekelilingmu." kata Ki Hoon. "Apakah ada laki-laki yang sepertiku? Aku tampan, pintar, berbakat dan lucu. Memiliki sedikit uang hanya adalah kekurangan, tapi aku bisa mendapatkan banyak uang mulai saat ini. Satu-satunya hal yang kusesali adalah bahwa kita harus hidup bersama ayahku. Sejak kehilangan perusahaannya, ayahku menjadi seperti macam yang kehilangan giginya. Tidak apa-apa, karena kau dan aku punya kekuatan."

Tahun 2010. Ki Hoon akhirnya mendapat pekerjaan. Sampai saat ini, ia belum pernah melakukan kesalahan. Ia melamar Eun Jo dengan sikap biasa. Eun Jo mengatakan bahwa ia butuh waktu untuk berpikir.

Ki Hoon meminta Eun Jo mengembalikan jirigen pada Nenek. Ketika Eun Jo menoleh dan hendak kembali ke mobil, Ki Hoon dan mobilnya sudah tidak ada.

Eun Jo menelepon Ki Hoon.

"Eun Jo," ujar Ki Hoon. "Aku akan menyerahkan dokumen ini ke Perusahaan Hong. Jika kita tidak ingin kehilangan Perusahaan Dae Sung, maka inilah satu-satunya solusi."

"Kembali sekarang." kata Eun Jo.

"Pulanglah." kata Ki Hoon. "Aku akan menyelesaikan semuanya."

"Kembali sekarang juga!"

"Eun Jo, dengarkan aku." kata Ki Hoon. "Kita harus menyelamatkan Perusahaan. Setelah itu, aku tidak akan peduli apapun lagi. Aku tidak peduli apakah aku akan berjalan di jalanan sebagai gelandangan."

Apapun yang dikatakan Eun Jo, Ki Hoon tidak mau mendengar. Keputusannya sudah bulat. Setelah kembali, Ki Hoon berjanji akan mengatakan hal keempat pada Eun Jo.

Tidak lama setelah Eun Jo menutup telepon Ki Hoon, Hyo Seon menelepon sambil menangis.

"Kakak." ujar Hyo Seon. "Joon Soo menghilang."

Hyo Seon, Jung Woo, Heojin, Bibi dan Nenek Hyo Seon sedang berusaha mencari Joon Soo kemana-mana, namun tidak juga bisa menemukannya.

Hyo Seon kembali ke rumah dan dengan takut menelepon ibunya. Ponsel Kang Sook tidak aktif. Akhirnya Hyo Seon meninggalkan pesan suara.

Kang Sook berjalan ke taman untuk menenangkan anak Ji Nam yang menangis keras. Akan Ji Nam tidak suka melihat ibunya tertawa dan bertengkar dengan pria-pria. Ia tidak suka ibunya dihina pria-pria.

Kang Sook memeluk anak Ji Nam. Ia melihat anak itu seperti melihat Eun Jo. Hidup Ji Nam dan hidup Kang Sook tidak berbeda. Dengan begitu, penderitaan Eun Jo dan anak Ji Nam juga pasti sama.

Eun Jo dan Hyo Seon pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kehilangan Joon Soo.

"Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?" tanya Hyo Seon sedih dan terpukul.

"Ia akan baik-baik saja." kata Eun Jo menenangkan.

"Kemana saja kau seharian ini?" tanya Hyo Seon. "Aku berlutut di depan rumah nenek seharian, tapi nenek sama sekali tidak mau menemuiku. Tak peduli seperti apa aku bicara, ia berpura-pura tidak mendengarkan. Ketika aku pulang, aku tidak menemukan Joon Soo. Apa yang kau lakukan seharian ini?"

"Aku akan mengatakan padamu nanti." jawab Eun Jo. "Untuk saat ini, ayo kita cari Joon Soo."

"Apakah kau mencemaskan Joon Soo?" tanya Hyo Seon. "Apakah kau pernah memeluk Joon Soo? Apakah kau menganggap dia adikmu? Kadang-kadang, aku benar-benar tidak mengerti kau."

Eun Jo terpukul mendengar perkataan Hyo Seon.

Eun Jo, Hyo Seon dan Jung Woo hanya duduk diam, cemas memikirkan Joon Soo.

Eun Jo bangkit dan mengambil buku gambar Joon Soo. Disana, Joon Soo menggambar ketika Dae Sung menggendongnya di punggung. Setelah itu, ia menggambar keluarganya (Joon Soo, Dae Sung, Kang Sooj dan Hyo Seon, tanpa Eun Jo).

Eun Jo menangis.

Di lain sisi, Ki Hoon mengendarai mobilnya dan berhenti di depan Perusahaan Hong.

"Berikan aku surat perjanjian yang tertulis bahwa kau tidak akan pernah menyentuh saham Perusahaan Dae Sung. Dan ketika kau sudah mengembalikan saham yang kau ambil, telepon aku." ujar Ki Hoon dan Ki Jung. "Setelah itu, aku akan mengambil dokumen yang kumiliki."

"Silahkan saja." tantang Ki Jung. "Jika kau melakukannya, kau tahu apa yang akan terjadi pada ayah, bukan?"

"Lihat saja, apakah aku berani atau tidak." balas Ki Hoon. "Aku akan menunggumu sampai besok malam."

Hyo Seon, Jung Woo dan Eun Jo duduk bersama dalam diam. Mendadak Kang Sook datang dengan panik.

"Apa maksud kalian Joon Soo hilang?!" serunya cemas. "Memangnya ada berapa orang disini sampai tidak bisa menjaganya?!"

Mereka bertiga terkejut melihat Kang Sook tiba-tiba muncul.

Hyo Seon memeluk Kang Sook.

"Apa kalian sudah memeriksa semua tempat?" tanya Kang Sook.

"Apakah kau akan kembali?" tanya Hyo Seon. "Kau akan kembali selamanya?"

Kang Sook berlari ke ruang kerja Dae Sung. Disana, Joon Soo sedang berbaring di karpet sambil menangis.

Joon Soo memeluk Kang Sook.

Eun Jo kelihatan lega melihat Joon Soo, tapi ia hanya berdiri diam, kemudian pergi bersembunyi di kamarnya.

Kang Sook dan Hyo Seon memandikan Joon Soo. Eun Jo masuk dan melihat mereka.

"Untuk apa kau bersembunyi dibawah meja?" tanya Kang Sook.

"Aku bermain petak umpet." jawab Joon Soo.

"Dengan siapa?" tanya Hyo Seon.

Rupanya Joon Soo bermain petak umpet bersama Dae Sung. (Hiiii... sereemmm...)

Joon Soo bersembunyi di bawah meja bersama Dae Sung. Dae Sung berpesan padanya agar menjaga ibu dan kedua kakaknya, menggantikan kedudukan ayahnya.

Karena semalaman tidak tidur karena Joon Soo, Kang Sook meminta Hyo Seon dan Eun Jo tidur. Tapi Hyo Seon mengatakan bahwa ia lapar dan ingin Kang Sook memasakkan sesuatu untuknya.

"Apa kau tahu bahwa Hyo Seon tidak bisa merasakan apapun?" tanya Eun Jo ketika Kang Sook sedang memasak di dapur. "Ibu, kaulah yang menyebabkannya."

Setelah selesai makan, Kang Sook makan bersama Eun Jo dan Hyo Seon.

Hyo Seon makan dengan lahap.

"Makan pelan-pelan." ujar Kang Sook. "Tidak akan ada yang merebut makanan itu darimu."

Hyo Seon hampir menangis.

Eun Jo memberikan minum pada Hyo Seon.

"Kami menjadi sangat miskin, Ibu." kata Hyo Seon. "Mungkin rumah ini akan diambil juga. Kita akan kehilangan segalanya. Walaupun aku tidak tahu apa artinya kehilangan semua, tapi kita akan merasakannya, Ibu. Kita tidak akan menjadi satu keluarga lagi."

"Apa maksudmu?" tanya Eun Jo. "Rumah siapa yang akan diambil?"

Hyo Seon tetap memandang Kang Sook. "Bagaimana aku harus menjalani semua ini? Tolong katakan padaku agar aku bisa bersiap-siap. Sebelum kau pergi, tolong peringatkan aku, Ibu."

"Tanyakan saja pada Eun Jo." jawab Kang Sook. "Sejak bayi sampai sekarang, ia tidak pernah mendengar kata-kata baik dari mulutku. Jika aku mengucappkan kata-kata baik padamu, apakah kau mau mempercayainya?"

Kang Sook menyuruh Eun Jo dan Hyo Seon melanjutkan makan. Kang Sook berpaling pada Eun Jo. "Kenapa jika ia bicara, ia tidak memiliki rasa hormat?" tanyanya. "Seharusnya kalian tahu apa konsekwensinya sebelum bicara. Seharusnya kalian mencari cara pemecahan masalah sebelum memutuskan untuk menjual rumah. Dia (Hyo Seon) menyuruhku memperingatkannya sebelum aku ingin meninggalkannya lagi? Kau! Belajarlah dari Eun Jo bagaimana caranya bicara dengan benar."

Hyo Seon dan Eun Jo hanya diam.

"Pada siapa kau menjual rumah ini?" tanya Kang Sook. "Kau pikir aku akan diam begitu saja melihat rumah ini dijual pada orang luar? Aku, Song Kang Sook, tidak akan pernah menjual rumah ini."

Melihat kondisi rumah berantakan, Kang Sook memarahi seluruh pekerja, termasuk Paman Hyo Seon.

Kang Sook hendak mengajak Hyo Seon ke suatu tempat.

"Kau akan mengenakan pakaian itu?" tanya Kang Sook. "Kau hanya akan mempermalukanku jika berjalan disampingku."

Kang Sook berjalan dan melihat lemaro Hyo Seon. "Berikan sebagian bajumu pada Eun Jo." katanya. "Apa kau tidak malu mengenakan pakaian mahal ini sementara Eun Jo hanya mengenakan pakaian biasa."

Hyo Seon menatap Kang Sook bingung.

"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Kang Sook. "Aku ibu tirimu. Aku hanya bersikap seperti ibu tiri."

Kang Sook memberikan satu pakaian untuk dikenakan Hyo Seon.

"Apa maksudmu kau akan bersikap seperti ibu tiri?" tanya Hyo Seon.

Kang Sook mengatakan pada Hyo Seon bahwa ia akan memperlakukan Hyo Seon berbeda dengan Eun Jo atau Joon Soo. Ia tidak ingin lagi berpura-pura atau mengatakan kata-kata manis. "Jika Eun Jo atau Joon Soo sakit, aku juga akan merasa ikut sakit. Tapi jika kau yang sakit, aku tidak akan merasa seperti itu. Tapi, aku akan merasakan luka kecil yang berdarah dan sakit sedikit. Kaulah satu-satunya yang bisa mengingatkanku pada ayahmu. Jika semua ini jelas, kita tidak akan membina hubungan yang lebih dalam."

Hyo Seon bertanya pada Kang Sook apakah mungkin jika Kang Sook ikut merasa sakit jika Hyo Seon sakit. Dan Kang Sook menjawab, tergantung Hyo Seon sendiri.

"Jika memang tergantung padaku, aku akan berusaha keras." kata Hyo Seon, menangis. Ia memeluk Kang Sook. "Hutangmu padaku dan ayah, jangan pernah dilupakan. Hanya itulah yang kuminta. Jika kau sedih seperti kakak, itu sudah cukup."

Jung Woo duduk diam, memegang tongkat baseballnya dan mengingat semua kenangannya bersama Eun Jo. Akhirnya ia membulatkan tekadnya untuk bicara dengan Eun Jo. Saat itu, Eun Jo sedang terburu-buru hendak pergi, namun Jung Woo menahannya.

Jung Woo menyerahkan tongkat Baseball pada Eun Jo. Eun Jo menerimanya.

"Aku tahu bahwa aku akan ditolak." kata Jung Woo. "Tapi, aku tetap ingin mengatakannya. Sejak umur 14, kau sudah menjadi gadisku. Kuharap aku bisa menjadi seseorang yang berada disampingmu. Aku tahu kau dan Hong Ki Hoon saling menyukai. Aku tidak akan mengatakan apa-apa. Tapi, dia sudah sering membuatmu menangis. Aku tidak bisa melihat itu lagi. Hiduplah bersamaku."

"Jung Woo..."

"Hiduplah bersamaku. Kau akan bahagia bersamaku. Aku akan melindungimu."

"Jung Woo, aku menyukai orang itu." ujar Eun Jo. "Bukan aku tidak menyukaimu, tapi aku sangat mencintai orang itu. Karena itulah aku tidak bisa bersamamu. Aku yakin kau akan menemukan seseorang yang mencintaimu seperti aku mencintai orang itu."

Eun Jo menyerahkan kembali tongkat baseball pada Jung Woo, kemudian pergi.

Ki Hoon masih menunggu dalam mobilnya di depan Perusahaan Hong. Tidak lama, ia melihat Eun Jo berlari masuk ke dalam perusahaan. Ki Hoon berusaha mengejarnya, namun terlambat. Eun Jo sudah naik ke elevator. Ki Hoon mengejar lewat tangga darurat.

Ki Hoon menelepon Eun Jo. "Diam disitu. Jangan berjalan selangkahpun!"

Akhirnya Ki Hoon berhasil mengejar Eun Jo.

"Semuanya sudah berakhir." kata Eun Jo. "Dokumen itu sudah berada di tangan polisi. Pabrik Hong dan.. Presiden Hong."

Mendadak pintu terbuka, Ki Jung keluar bersama para pegawainya, melewati mereka, kemudian berbalik.

"Bagus sekali." katanya. "Kau menang."

"Park Ki Man, Direktur sebelumnya dari perusahaan ini. Kau kenal dia?" tanya Eun Jo pada Ki Hoon. "Dia melaporkan Perusahaan Hong dan Presiden Hong pagi tadi. Seharusnya kau menjawab teleponmu. Seharusnya kau merundingkan semua ini dulu denganku. Mungkin saat ini Presiden Hong sedang diselidiki."

Eun Jo mengajak Ki Hoon melihat Presiden Hong. Presiden Hong sedang dibawa ke dalam mobil. Para wartawan berebut mengambil gambarnya.

Ki Hoon berlari menuju ayahnya.

"Aku mohon padamu untuk terakhir kali." ujar Ki Hoon. "Bisakah kau melepaskan segalanya? Lepaskan segalanya dan ikutlah denganku. Aku akan menjagamu. Aku akan berusaha keras mencari uang. Aku akan bermain catur denganmu. Aku akan memancing denganmu. Aku akan... menghormatimu. Kumohon lepaskan segalanya, Ayah."

Presiden Hong menangis, namun tidak menjawab, pertanda bahwa ia tidak mau melepaskan semuanya.

Ki Hoon menunduk sedih. Eun Jo menggandeng tangannya pergi.

Hyo Seon berbelanja bersama Kang Sook. Kang Sook membelikan sebuah pakaian untuk Eun Jo. Hyo Seon tidak mau kalah dan memilih satu pakaian juga.

Ki Hoon menangis sedih. Eun Jo mengajaknya pergi.

Eun Jo menyentuh bahu Ki Hoon ketika Ki Hoon sedang menangis di mobil, kemudian menggandeng tangannya agar ia keluar.

Eun Jo memeluk Ki Hoon dengan sangat erat. "Jika sejak awal kau mengatakan segala kesulitanmu padaku, semuanya tidak akan berakhir seperti ini. Kita berdua tidak akan kehilangan apapun. Bersandarlah padaku. Kau bisa bersandar padaku."

Ki Hoon menangis dan memeluk Eun Jo.

Ki Hoon melepaskan pelukannya dari Eun Jo, lalu mengecup keningnya. Setelah itu, Ki Hoon mengecup bibir Eun Jo. ]�igX7�! Aku mencintaimu. Jangan pergi kemana-mana dan tunggu aku. Aku ingin sekali menulis surat yang membuat jantungmu berdebar. Jadi, kutulis surat ini. Saat ini aku harus melewati jembatan dimana tidak ada jalan kembali. Aku ingin kau menahanku pergi. Maukah kau menahanku? Jika kau menahanku, kurasa aku mungkin bisa berhenti saat ini. Sebelum aku naik ke kereta ini, tolong tahan aku."

Eun Jo berlari ke tempat penyimpanan anggur dengan perasaan kacau balau. "Aku tidak bisa menangis." pikirnya dalam hati. "Hatiku seperti terganjal sesuatu."

"Aku akan membawamu ke bulan dan ke bintang." kata Ki Hoon.

"Kapan?"

"Maukah kau menahanku pergi?"

"Bagaimana?"

Eun Jo menangis, setelah ia menyadari bahwa Ki Hoon mengalami penderitaan yang sama dengannya. Bahwa Ki Hoon, sama seperti dirinya, tidak memiliki siapapun.

Di kamar, Hyo Seon tersenyum, namun dengan mata berkaca-kaca. Ia sudah lega, akhirnya bisa menyampaikan surat Ki Hoon pada Eun Jo.

Sampai keesokkan harinya, Eun Jo tidak bisa tidur karena menunggu kedatangan Ki Hoon. Pagi-pagi sekali, ia menggedor kamar Ki Hoon dan Jung Woo. Tapi Ki Hoon belum juga pulang.

"Ia menyuruhku menunggunya, jadi ia pasti kembali." gumam Eun Jo cemas. "Jika ia mengatakan akan kembali, ia pasti akan kembali."

Eun Jo berlari ke luar gerbang. Mobil Ki Hoon sudah ada disana dan tidak terkunci. Tapi kenapa Ki Hoon tidak ada?

"Jung Woo, ada sesuatu yang terjadi, bukan?" tanya Eun Jo khawatir. Ia bergegas berlari ke ruang kerja Perusahaan Dae Sung. Jung Woo mengikutinya. Ia meminta Jung Woo mengatakan pada Hyo Seon agar Hyo Seon bicara pada nenek untuk menggantikannya.

Eun Jo membuka email lagi dan mencoba beberapa password. Tetap gagal.

Eun Jo terduduk panik. "Ia akan mengatakan 4 hal padaku, tapi ia baru memberitahukan 3 hal." gumam Eun Jo, berpikir. "Apa hal keempat?"

Akhirnya ia mengetikkan beberapa huruf di kolom password. Password tersebut benar.

Presiden Hong datang ke perusahaannya dengan cemas. Ia masuk ke ruangan Ki Jung, tapi ruangan tersebut kosong.

"Ia sedang pergi keluar." kata seorang pegawai.

"Kemana?" tanya Presiden Hong.

"Aku tidak tahu."

Orang-orang suruhan Ki Jung membawa Ki Hoon ke sebuah hotel. Wajah Ki Hoon babak belur. Sepertinya ia dipukuli.

Ki Jung datang ke kamar itu. "Aku menyesal karena harus melakukan ini." katanya. "Aku tidak ingin menyakitimu. Besok, ayah dan ibu akan bercerai. Beberapa hari kemudian, akan dilakukan kesepakatan. Diantara perceraian dan kesepakatan, permasalahan Perusahaan Anggur Dae Sung akan selesai. Kau bisa tinggal disini selama beberapa hari."

"Aku tidak tahu kalau kau punya geng, Kak Ki Jung." ujar Ki Hoon, tersenyum.

"Orang yang memberitahumu adalah Direktur Park, bukan?" tanya Ki Jung dingin.

"Tanpa akupun kau akan jatuh, Kak." ujar Ki Hoon tenang. "Aku sudah tahu kau akan menggunakan cara seperti ini. Kau orang yang sangat lemah."

Ki Hoon diam sejenak, kemudian memukul Ki Jung dan mencoba kabur. Orang-orang Ki Hoon memukul dan dan menangkapnya lagi.

"Semuanya akan segera berakhir, Ki Hoon." kata Ki Jung. "Simpan tenagamu dan diam."

Eun Jo mendengarkan rekaman Ki Hoon. "Jung Woo, kurasa kakak Ki Hoon menangkapnya."

"Apa?"

"Orang ini berusaha membuat kesepakatan dengan Perusahaan Hong menggunakan kelemahan mereka. Informasi itu... ada di komputer ini. Masukkan komputer ini ke mobil, Jung Woo. Kita akan melakukan pertukaran dengan mereka." Eun Jo diam sejenak. "Apa yang dilakukan Hyo Seon?"

Di saat yang sama, Hyo Seon sedang berlutut di depan rumah Nenek Dong Sook. Karena neneknya tidak mau bicara dan menemuinya, Hyo seon tetap berlutut dan memohon sampai neneknya mau menemuinya.

"Apa nenek mau bertanggung jawab atas Joon Soo?" tangis Hyo Seon. "Dengan uang hasil penjualan perusahaan, apakah kau akan membayar biaya kuliah Joon Soo? Apakah kau akan menikahkan aku dan kakakku? Nenek! Nenek...."

Mendadak, Jung Woo berjalan mendekati Hyo Seon dengan iba. Hyo Seon mendongak kaget.

"Aku datang untuk menemanimu." kata Jung Woo. "Kakak menyuruhku menemanimu."

Eun Jo menelepon Ki Jung. "Kau menculik Hong Ki Hoon, bukan?"

"Ia adikku. Untuk apa aku menculik adikku sendiri?" jawab Ki Jung.

"Kau pernah berkata bahwa ia bukan adikmu." kata Eun Jo. "Aku tidak merekamnya, tapi aku ingat dengan jelas. Kau hanya memiliki satu adik, yaitu Hong Ki Tae. Hong Ki Jung bukan adikmu, tapi hanyalah putra ayahmu. Dengan kata-katamu itu, aku bisa menebak bagaimana kau memperlakukan adik tirimu."

"Katakan apa yang ingin kau katakan padaku." ujar Ki Jung. "Jika mengenai Ki Hoon, aku tidak akan mengatakan apa-apa. Aku akan menutup telepon."

Eun Jo meminta Ki Jung melepaskan Ki Hoon. Jika tidak, maka ia akan melaporkan semua informasi mengenai kejahatan perusahaan Hong ke polisi.

"Saat ini, aku sedang berada di depan kantor polisi." kata Eun Jo. "Aku tidak tahu informasi macam apa yang ada dalam file itu, tapi aku yakin bahwa kalian sudah melakukan kejahatan besar. Aku ingin menukar informasi ini dengan Hong Ki Hoon."

Eun Jo mengatakan bahwa ia rela memberikan semua yang dibutuhkannya untuk menyelamatkan Perusahaan Anggur Dae Sung demi Ki Hoon. Ia yakin, Dae Sung juga akan menganggap itu keputusan yang benar. Eun Jo memberikan waktu pada Ki Jung untuk membebaskan Ki Hoon. Jika tidak, maka semua informasi mengenai Perusahaan Hong akan jatuh ke tangan polisi.

Setelah selesai bicara, Eun Jo menutup telepon dan menangis.

Akhirnya Ki Jung membebaskan Ki Hoon.

Ki Hoon menelepon Eun Jo. "Turunkan jendela mobilmu agar aku bisa melihatmu." katanya.

Eun Jo menoleh dan melihat Ki Hoon ada di seberang jalan.

"Siapa yang menyuruhmu melakukan ini?" tanya Ki Hoon.

"Kau baik-baik saja?" tanya Eun Jo.

"Kau tidak bisa lihat? Aku baik-baik saja." jawab Ki Hoon. "Kau tidak bisa melakukannya. Informasi itu adalah kunci untuk menyelamatkan Perusahaan Anggur Dae Sung."

Eun Jo menangis dan menggeleng.

Ki Hoon menutup telepon dan menyeberang jalan, menuju ke mobil Eun Jo.

Eun Jo turun dari mobilnya dan menyeberang jalan. Ia berlari dan memeluk Ki Hoon di tengah jalan.

Cinderella's Sister (Episode 18)

Rupanya Eun Jo hanya diam, berdiri tak bergerak. Mengurungkan niatnya untuk berjalan mendekati Ki Hoon.

"Kurasa kau tidak akan datang." gumam Ki Hoon. "Sepertinya aku yang harus kesana."

Ki Hoon bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Eun Jo. Ia mengeluarkan sebuah lipatan kertas kecil.

"Setiap kali memulai percakapan dengamu, aku tidak pernah bisa menyelesaikannya." kata Ki Hoon. "Karena setiap kali aku bicara, kau selalu pergi tanpa kata. Benar-benar kebiasaan yang buruk."

Ki Hoon menyerahkan surat itu pada Eun Jo. Eun Jo membukanya.

"Sampai aku bisa memberitahukan padamu semua yang ada di daftar itu, jika kau berpikir untuk melangkah satu kaki saja, kau akan berada dalam masalah, Anak Nakal." ujar Ki Hoon. "Mengerti?"

Eun Jo diam.

"Satu. Apapun yang terjadi, jangan terkejut." kata Ki Hoon, tersenyum. "Dua. Percayalah padaku bahwa Perusahaan Anggur Dae Sung akan tetap berjalan. Jika kita melewati ini, walaupun ada gempa bumi, kita tidak akan tergoyahkan."

"Berhenti bicara omong kosong dan katakan padaku." kata Eun Jo tidak sabar.

Ki Hoon tidak menggubris Eun Jo. "Tiga. Kau harus tutup mulut. Kau tidak boleh bicara. Kau tidak boleh menangis. Kau tidak boleh berteriak. Jika tidak, maka akan sangat berat untukku. Dan yang keempat... Setelah semua masalah ini selesai, jika aku masih bisa melihatmu lagi, aku akan memberitahu hal yang keempat. Simpan catatan itu. Itu sangat penting."

Ki Hoon berjalan pergi.

Eun Jo terlihat marah. "Apa maksudmu?!" serunya, mengejar Ki Hoon. "Apa kau bercanda?! Apa yang terjadi sampai kau berbuat seperti ini?!"

"Apa yang terjadi tidak penting." jawab Ki Hoon. "Pada akhirnya, semua ini akan berakhir. Seperti tidak pernah terjadi apapun, semua akan pergi. Hanya itulah yang perlu kau tahu."

Keesokkan harinya, para tetua datang lagi ke perusahaan untuk menemui Hyo Seon dan Eun Jo.

"Apa yang kalian katakan saat ini bukan untuk menanyakan pendapat kami, tapi kalian memang sudah membuat keputusan?" tanya Hyo Seon sedih. "Semua yang kudengar salah, bukan?"

Para tetua diam.

Hyo Seon berusaha tegar. "Tentu saja, kalian semua memegang saham perusahaan. Jadi kalian memiliki hak untuk membuat keputusan. Aku tahu semua itu, tapi..."

Eun Jo terdiam. Ia teringat perkataan Ki Hoon tadi malam.

"Perusahaan ini adalah perusahaan milik ayah." ujar Hyo Seon, menahan tangis. "Perusahaan ini bukan perusahaan biasa. Tapi, perusahaan ini adalah Perusahaan Anggur Dae Sung. Perusahaan Anggur Dae Sung akan tetap menjadi Perusahaan Anggur Dae Sung. Memberikannya pada orang lain akan..."

"Hyo Seon." panggil Kakek.

"Ya, Kakek."

"Keputusan sudah diambil." ujar Kakek. "Kami telah menyerahkan semuanya pada kalian yang tidak berpengalaman. Dengan melakukan itu, kami merasa bahwa kami telah memberikan beban yang sangat berat pada kalian."

"Kakek, kami merasa tidak terbebani." kata Hyo Seon. "Bagaimana bisa kita menyerahkan Perusahaan Dae Sung begitu saja?"

"Aku mengerti apa yang para tetua katakan." ujar Eun Jo, membuat Hyo Seon menoleh dengan terkejut. "Hyo Seon, aku dan ibu mendapat masalah sehingga para tetua berbuat seperti ini. Aku mengerti. Tapi, apa kalian tahu siapa orang yang menyebabkan semua masalah yang menimpa Perusahaan Dae Sung?"

Paman Hyo Seon menunduk.

"Perusahaan Hong yang melakukannya." Eun Jo menjawab pertanayaannya sendiri. "Ayah... Ayah kami... Jika bukan karena orang-orang yang bekerja di Perusahaan Hong, ia tidak akan jatuh sekarang. Ayah kami yang meninggal, pergi dengan hati yang tulus. Tapi para tetua membuat kematian ayah kami sia-sia. Apa yang harus kami lakukan?"

Para tetua diam dan memalingkan muka.

"Kepala keluarga ini sudah tidak ada. Apa yang harus kami lakukan?" ujar Eun Jo meneruskan. "Semua impian yang belum sempat diwujudkan ayah kami, perkataan 'kalian harus melakukan itu untukku'... Aku masih ingat dengan jelas. Bagaimana mungkin kalian bisa membuang semuanya dan membuat keputusan ini?"

"Diam, kau!" kata Nenek. "Kau tidak seharusnya bicara! Ibumu hanyalah seorang wanita rendahan. Beraninya kau mengajari kami!"

"Nenek!" seru Hyo Seon. "Jangan bicara seperti itu tentang ibuku! Apa kalian pernah mengikuti ibuku dan melihatnya langsung? Apa kalian punya bukti?! Jika ibuku memang seperti itu, aku tidak akan pernah memaafkannya. Bukankah aku sudah berkali-kali mengatakannya pada kalian?! Walaupun jika semua itu benar, kalian para tetua, tidak berhak bicara seperti itu. Untuk adikku, Joon Soo, tolong jangan bersikap seperti itu, Nenek."

"Apa kau tahu bahwa anak itu benar-benar adikmu?" kata Nenek sinis.

Eun Jo terpukul mendengar kata-kata Nenek. Ia oleng dan hampir terjatuh.

"Kakak..." ujar Hyo Seon, memegangi Eun Jo.

"Sejak wanita itu datang ke rumah ini, ia selalu menyebabkan masalah." kata Nenek.

"Nenek!" teriak Hyo Seon.

"Jika itu memang benar, apa yang akan kalian lakukan?" tanya Eun Jo, menatap Nenek tajam. "Karena ayah sudah meninggal, kita tidak bisa mengakhiri ini dengan perceraian. Semua kekacauan ini dan ibuku sama sekali tidak berhubungan!"

"Beraninya kau bersikap seperti itu pada para tetua!" seru Nenek marah seraya menggebrak meja.

Eun Jo sangat marah dan berjalan ke luar ruangan. Hyo Seon mengikutinya.

"Bicaralah denganku." kata Hyo Seon, mengejar Eun Jo.

"Kau sudah tahu dan para tetua sudah tahu." kata Eun Jo. "Semua orang sudah tahu."

"Gunakan akal sehatmu." kata Hyo Seon. "Apakah itu penting? Jika kau seperti ini, perusahaan kita akan diberikan pada Perusahaan Hong. Kau mau itu terjadi? Aku tidak akan membiarkan itu. Aku akan berlutut di depan para tetua dan memohon. Sampai aku mendengar kau mengatakan bahwa kau tidak akan membiarkan semua ini terjadi, aku tidak akan menyerah. Apa yang akan kau lakukan? Orang pintar sepertimu, berpikirlah!"

"Tunggu. Tolong tunggu sebentar. 1 jam. Tidak, 30 menit. 10 menit. Aku ingin sendirian 10 menit."

Eun Jo pergi. Hyo Seon menangis dan berteriak, "Jangan pernah menyerah. Dan jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku..."

Eun Jo pergi ke ruang penyimpanan anggur dan menelepon ibunya. Karena ponsel ibunya tidak aktif, ia meninggalkan pesan. Ia mengatakan pada ibunya bahwa ia telah menerima semprotan karena kesalahan yang telah dilakukan Kang Sook. Ia menyuruh agar ibunya bersembunyi dan jangan pernah kembali. Eun Jo akan menerima semua cacian dan hinaan dari orang lain demi ibunya.

"Anggur-anggur ini terfermentasi dengan baik, Eun Jo." kata Ki Hoon, mendadak muncul di ruang penyimpanan anggur.

Eun Jo berdiri dari duduknya, terkejut.

Ki Hoon mendekati Eun Jo dan mengusap air matanya.

"Karena aku adalah anak wanita jahat, apakah aku juga jahat?" pikir Eun Jo dalam hatinya. "Apapun kesalahan yang telah dilakukan pria ini, aku sudah memaafkannya."

"Aku sudah bilang padamu untuk tetap tenang." kata Ki Hoon. "Kenapa kau menangis?"

"Karena pria ini, aku tidak ingin melakukan apa-apa lagi." pikir Eun Jo. "Aku ingin bergantung padanya."

"Aku mengatakan padamu agar tidak terkejut. Tapi kau terkejut. Aku mengatakan padamu untuk tidak bicara, tapi sekarang kau menangis. Sekarang aku jadi merasa harus melakukan sesuatu. Aku merasa takut, tapi aku tidak akan menghindarinya. Aku akan melakukan sebisaku." Ki Hoon memegang kedua pundak Eun Jo, kemudian berjalan pergi.

Mendengar bahwa Ki Hoon takut, Eun Jo juga ikut takut. "Tunggu! Kau akan pergi kemana? Apa yang akan kau lakukan?" tanyanya.

Ki Hoon tersenyum. "Aku akan segera kembali." katanya. "Untuk saat ini, jangan lakukan apapun. Tunggu aku seperti gadis baik dan jangan menangis."

Ki Hoon pergi mengendarai mobilnya.

Hyo Seon dan Eun Jo berusaha mencari tahu masalah pembelian Perusahaan Anggur Dae Sung. Setelah mencari catatan-catatan di departemen finansial, mereka berunding di mobil. Jung Woo hanya diam mendengar dari balik kemudi mobil.

"Tidak ada catatan apapun." kata Eun Jo. "Setelah membeli perusahaan kita, kurasa mereka berusaha melenyapkan segala bukti."

"Apa? Membeli dan melenyapkan?" tanya Hyo Seon. "Walaupun mereka sudah membeli perusahaan kita, mereka harus tetap mempertahankan nama..."

"Semuanya bohong." potong Eun Jo. "Mereka hanya ingin melenyapkan semuanya. Karena itulah produk kita akan menjadi bagian tunggal Perusahaan Hong. Selain itu, mereka mencariku untuk mencari tahu mengenai ragi kita. Itu artinya, aku akan menjadi pembuat ragi Perusahaan Hong."

"Apa?"

"a, pasti begitu." pikir Eun Jo. "Tidak ada alasan bagi mereka untuk membeli Perusahaan Dae Sung dengan harga tinggi. Itu tidak masuk akal."

"Tolong jelaskan padaku. Aku tidak mengerti." kata Hyo Seon.

"Ayo kita pergi." ajak Eun Jo. "Tidak ada cara lain untuk kita selain berusaha membujuk para tetua."

Ki Hoon datang ke Perusahaan Hong untuk memberikan dokumen pada Ki Jung dan Presiden Hong. Setelah membaca dokumen itu, Presiden Hong melempar dokumen ke meja dengan marah. Sama halnya dengan Ki Jung.

Ki Hoon tersenyum.

"Siapa? Siapa yang memberimu informasi palsu ini?" tanya Ki Jung.

"Kau tidak perlu tahu." jawab Ki Hoon. "Itu tidak penting."

"Kalau begitu, katakan apa yang ingin kau lakukan. Katakan rencanamu." kata Ki Jung. "Kau datang untuk membuat kesepakatan dengan kami. Aku ingin dengar apa yang kau tawarkan."

"Tutup mulutmu, Ki Jung." kata Presiden Hong. "Informasi ini bukan berasal dari perusahaan kami. Bagaimana bisa kau menggunakan informasi palsu untuk membuat kesepakatan dengan kami?"

Ki Jung hendak bicara lagi, namun Presiden Hong melarangnya. "Jangan katakan apapun, Ki Jung."

Ki Hoon tersenyum. "Karena kau menanyakan apa keinginanku, itu artinya kau mengakui bahwa informasi ini benar, Kakak?"

"Itu tidak benar." jawab Presiden Hong.

"Jika aku tahu apa keinginanmu, aku bisa menerima permintanmu atau memberimu pilihan lain. Katakan pada kami." jawab Ki Jung. "Kau seperti rubah. Berjalan dengan wajah yang menyedihkan. Aku khawatir bahwa aku bersikap terlalu keras padamu."

Ki Hoon masih tersenyum dan bicara dengan tenang. "Setelah aku melihat informasi itu, aku sangat terkejut, Kak. Aku berpikir, sangat luar biasa jika hal seperti itu terjadi. Kau sangat berbakat. Bahkan orang yang belajar di Amerika juga sangat terkesan. Siapa menurutmu? Orang yang sangat pintar dalam masalah luar negeri."

Ki Jung terkejut. "Diam kau! Tanpa melakukan ini, kau pikir Perusahaan Jung bisa tumbuh dengan cepat dalam waktu singkat hanya menggunakan kemampuan ayah? Cepat katakan apa yang kau inginkan!"

Presiden Jung memejamkan mata dan menarik napas dalam. Kata-kata Ki Jung tadi sama halnya dengan mengakui bahwa informasi tersebut memang benar.

"Kau sudah tahu apa yang kuinginkan." jawab Ki Hoon tenang. "Jangan sentuh kami. Jangan sentuh Perusahaan Anggur Dae Sung." Ia diam sejenak, kemudian mengeluarkan ponselnya. "Tolong tunggu sebentar, aku ingin mengirim pesan."

Ki Hoon menekan tombol ponselnya. Di ruang kerja Perusahaan Dae Sung, komputer menyala. Sebuah email masuk.

Ki Hoon menyalakan ponselnya dan terdengar suara Ki Jung. Rupanya Ki Hoon merekam semua percakapannya tadi dengan Ki Jung, sebagai bukti.

Ki Jung mendekati Ki Hoon dan mengambil ponselnya.

"Aku sudah mengirim rekaman itu ke tempat yang aman." kata Ki Hoon. "Aku akan memberimu waktu. Besok, kembalikan semua yang sudah kau beli dari para tetua." Ia mengambil kembali ponselnya dan berjalan pergi.

Setelah Ki Hoon pergi, Ki Jung mengambil ponselnya sendiri.

"Apa yang ingin kau lakukan?!" seru Presiden Hong cemas.

"Apa kau ingin memintaku untuk membiarkan semua ini?" tanya Ki Jung dingin. Ia berniat melakukan sesuatu.

Hyo Seon dan Eun Jo berusaha menyelamatkan perusahaan.

"Kita harus mendapatkan 2 orang pemegang saham lagi." kata Eun Jo. "Kita sudah memiliki 40%. Hanya tinggal 11% lagi."

"Siapa yanga kan kita bujuk?" tanya Hyo Seon.

"Kakek Jobu dan Nenek Dang Sook." jawab Eun Jo.

Hyo Seon menawarkan diri untuk menemui Nenek, sementara Eun Jo menemui Kakek. Tapi Eun Jo menolak. Ia ingin menemui Nenek.

Mereka akan pergi besok pagi.

Kang Sook mencuci piring dengan hati tidak tenang. Pikirannya tidak bisa lepas dari perkataan Hyo Seon dan Eun Jo hari sebelumnya.

Ki Hoon mengendarai mobilnya malam itu. Ia curiga bahwa dari belakang, dua buah mobil terus mengikutinya. Ki Hoon berhenti di sisi jalan. Dua mobil itu berjalan melewatinya.

Eun Jo masuk ke ruang kerja Perusahaan Dae Sung. Disana, ia melihat komputer menyala dan ada satu buah email masuk. Eun Jo membukanya, tapi ternyata email itu diberi password. Eun Jo mencoba menebak password itu, namun gagal.

Jung Woo dan Hyo Seon masuk ke rumah dengan membawa banyak buku.

Tidak lama setelah itu, Ki Hoon tiba di depan gerbang rumah dan keluar dari mobilnya. Mendadak, dua orang pria menyekap dan menculik Ki Hoon.

Ki Hoon dibawa masuk ke mobil. Saat kedua mobil lewat perusahaan, Eun Jo juga berjalan keluar, tapi sayang ia tidak menyadari mobil tersebut.

"Lepaskan aku!" seru Ki Hoon. "Apa Hong Ki Jung yang memerintahkan kalian?!"

"Dia belum kembali?" tanya Eun Jo pada Jung Woo. Ia sangat mencemaskan Ki Hoon.

Jung Woo menggeleng.

"Tidak ada telepon juga?" tanya Eun Jo lagi.

"Tidak ada." jawab Jung Woo.

Eun Jo beranjak masuk lagi ke dalam rumah, tapi Jung Woo mengatakan bahwa ia ingin bicara dengan Eun Jo.

Di dalam, Hyo Seon membacakan buku cerita untuk Joon Soo. Mendadak ia teringat saat neneknya mengatakan bahwa Joon Soo mungkin saja bukan anak Dae Sung. Hyo Seon menggeleng-geleng, berusaha membuang pikiran itu jauh-jauh.

"Apa katamu?" tanya Eun Jo pada Jung Woo.

"Aku memiliki yang yang kuhasilkan." kata Jung Woo. "Jika itu tidak cukup, aku bisa berhutang."

"Kau ingin menikah?" tanya Eun Jo, keget.

"Ya." jawab Jung Woo.

"Benarkah?"

"Ya!" jawab Jung Woo. "Untuk saat ini, aku butuh kamar tidur dan dapur. Apa bisa?"

Eun Jo tersenyum.

"Aku akan mulai dengan itu dan kemudian menambah jumlah sendok dan piring." kata Jung Woo. "Tidak bisakah aku hidup seperti itu?"

"Kupikir kau akan menikah beberapa tahun lagi." kata Eun Jo. "Jika kau menikah beberapa tahun lagi, aku pasti bisa memberikan lebih padamu. Saat ini, aku tidak bisa membantumu. Aku tidak ingin memintamu menungguku sampai bisa membantumu. Aku mengerti, berhutang atau apapun, aku akan membantumu."

Eun Jo masuk kembali ke dalam rumah. Jung Woo menarik napas panjang. "Bukan begitu, Kakak. Aku sedang berusaha mengungkapkan padamu..."

Setelah berunding masalah perusahaan, Hyo Seon mengajak Eun Jo ke kamarnya. Hyo Seon mengeluarkan kotak barang berharganya dan menuangnya di ranjang.

Hyo Seon menunjukkan pakaian ibu kandungnya dan menceritakan pada Eun Jo ketika Kang Sook menggunakan pakaian itu dulu.

Eun Jo melihat surat dari Ki Hoon yang disembunyikan Hyo Seon, kemudian mengambil dan membukanya. Surat yang ditulis dalam bahasa Spanyol.

"Jika aku melihat wajahmu, mungkin aku tidak akan sanggup pergi." kata Ki Hoon dalam suratnya. "Jadi aku pergi begitu saja. Saat ini, aku pergi sendirian. Tapi suatu saat nanti, aku akan menggandeng tanganmu dan membawamu ke Ushuaia, ke bulan, juga ke bintang,"

Eun Jo memegang surat itu dengan tangan bergetar. Ia bangkit dari duduk dan berjalan menuju kamarnya.

"Jangan lari." kata Ki Hoon dalam lanjutan suratnya. "Jangan pergi kemanapun dan tunggu aku di rumah. Aku akan mengatasi semuanya dengan keyakinan bahwa kau akan menungguku. Dan aku ingin kau yakin bahwa aku akan kembali untukmu. Aku menyukaimu, Eun Jo. Di dunia ini, kaulah orang yang paling kusukai. Aku mencintaimu. Jangan pergi kemana-mana dan tunggu aku. Aku ingin sekali menulis surat yang membuat jantungmu berdebar. Jadi, kutulis surat ini. Saat ini aku harus melewati jembatan dimana tidak ada jalan kembali. Aku ingin kau menahanku pergi. Maukah kau menahanku? Jika kau menahanku, kurasa aku mungkin bisa berhenti saat ini. Sebelum aku naik ke kereta ini, tolong tahan aku."

Eun Jo berlari ke tempat penyimpanan anggur dengan perasaan kacau balau. "Aku tidak bisa menangis." pikirnya dalam hati. "Hatiku seperti terganjal sesuatu."

"Aku akan membawamu ke bulan dan ke bintang." kata Ki Hoon.

"Kapan?"

"Maukah kau menahanku pergi?"

"Bagaimana?"

Eun Jo menangis, setelah ia menyadari bahwa Ki Hoon mengalami penderitaan yang sama dengannya. Bahwa Ki Hoon, sama seperti dirinya, tidak memiliki siapapun.

Di kamar, Hyo Seon tersenyum, namun dengan mata berkaca-kaca. Ia sudah lega, akhirnya bisa menyampaikan surat Ki Hoon pada Eun Jo.

Sampai keesokkan harinya, Eun Jo tidak bisa tidur karena menunggu kedatangan Ki Hoon. Pagi-pagi sekali, ia menggedor kamar Ki Hoon dan Jung Woo. Tapi Ki Hoon belum juga pulang.

"Ia menyuruhku menunggunya, jadi ia pasti kembali." gumam Eun Jo cemas. "Jika ia mengatakan akan kembali, ia pasti akan kembali."

Eun Jo berlari ke luar gerbang. Mobil Ki Hoon sudah ada disana dan tidak terkunci. Tapi kenapa Ki Hoon tidak ada?

"Jung Woo, ada sesuatu yang terjadi, bukan?" tanya Eun Jo khawatir. Ia bergegas berlari ke ruang kerja Perusahaan Dae Sung. Jung Woo mengikutinya. Ia meminta Jung Woo mengatakan pada Hyo Seon agar Hyo Seon bicara pada nenek untuk menggantikannya.

Eun Jo membuka email lagi dan mencoba beberapa password. Tetap gagal.

Eun Jo terduduk panik. "Ia akan mengatakan 4 hal padaku, tapi ia baru memberitahukan 3 hal." gumam Eun Jo, berpikir. "Apa hal keempat?"

Akhirnya ia mengetikkan beberapa huruf di kolom password. Password tersebut benar.

Presiden Hong datang ke perusahaannya dengan cemas. Ia masuk ke ruangan Ki Jung, tapi ruangan tersebut kosong.

"Ia sedang pergi keluar." kata seorang pegawai.

"Kemana?" tanya Presiden Hong.

"Aku tidak tahu."

Orang-orang suruhan Ki Jung membawa Ki Hoon ke sebuah hotel. Wajah Ki Hoon babak belur. Sepertinya ia dipukuli.

Ki Jung datang ke kamar itu. "Aku menyesal karena harus melakukan ini." katanya. "Aku tidak ingin menyakitimu. Besok, ayah dan ibu akan bercerai. Beberapa hari kemudian, akan dilakukan kesepakatan. Diantara perceraian dan kesepakatan, permasalahan Perusahaan Anggur Dae Sung akan selesai. Kau bisa tinggal disini selama beberapa hari."

"Aku tidak tahu kalau kau punya geng, Kak Ki Jung." ujar Ki Hoon, tersenyum.

"Orang yang memberitahumu adalah Direktur Park, bukan?" tanya Ki Jung dingin.

"Tanpa akupun kau akan jatuh, Kak." ujar Ki Hoon tenang. "Aku sudah tahu kau akan menggunakan cara seperti ini. Kau orang yang sangat lemah."

Ki Hoon diam sejenak, kemudian memukul Ki Jung dan mencoba kabur. Orang-orang Ki Hoon memukul dan dan menangkapnya lagi.

"Semuanya akan segera berakhir, Ki Hoon." kata Ki Jung. "Simpan tenagamu dan diam."

Eun Jo mendengarkan rekaman Ki Hoon. "Jung Woo, kurasa kakak Ki Hoon menangkapnya."

"Apa?"

"Orang ini berusaha membuat kesepakatan dengan Perusahaan Hong menggunakan kelemahan mereka. Informasi itu... ada di komputer ini. Masukkan komputer ini ke mobil, Jung Woo. Kita akan melakukan pertukaran dengan mereka." Eun Jo diam sejenak. "Apa yang dilakukan Hyo Seon?"

Di saat yang sama, Hyo Seon sedang berlutut di depan rumah Nenek Dong Sook. Karena neneknya tidak mau bicara dan menemuinya, Hyo seon tetap berlutut dan memohon sampai neneknya mau menemuinya.

"Apa nenek mau bertanggung jawab atas Joon Soo?" tangis Hyo Seon. "Dengan uang hasil penjualan perusahaan, apakah kau akan membayar biaya kuliah Joon Soo? Apakah kau akan menikahkan aku dan kakakku? Nenek! Nenek...."

Mendadak, Jung Woo berjalan mendekati Hyo Seon dengan iba. Hyo Seon mendongak kaget.

"Aku datang untuk menemanimu." kata Jung Woo. "Kakak menyuruhku menemanimu."

Eun Jo menelepon Ki Jung. "Kau menculik Hong Ki Hoon, bukan?"

"Ia adikku. Untuk apa aku menculik adikku sendiri?" jawab Ki Jung.

"Kau pernah berkata bahwa ia bukan adikmu." kata Eun Jo. "Aku tidak merekamnya, tapi aku ingat dengan jelas. Kau hanya memiliki satu adik, yaitu Hong Ki Tae. Hong Ki Jung bukan adikmu, tapi hanyalah putra ayahmu. Dengan kata-katamu itu, aku bisa menebak bagaimana kau memperlakukan adik tirimu."

"Katakan apa yang ingin kau katakan padaku." ujar Ki Jung. "Jika mengenai Ki Hoon, aku tidak akan mengatakan apa-apa. Aku akan menutup telepon."

Eun Jo meminta Ki Jung melepaskan Ki Hoon. Jika tidak, maka ia akan melaporkan semua informasi mengenai kejahatan perusahaan Hong ke polisi.

"Saat ini, aku sedang berada di depan kantor polisi." kata Eun Jo. "Aku tidak tahu informasi macam apa yang ada dalam file itu, tapi aku yakin bahwa kalian sudah melakukan kejahatan besar. Aku ingin menukar informasi ini dengan Hong Ki Hoon."

Eun Jo mengatakan bahwa ia rela memberikan semua yang dibutuhkannya untuk menyelamatkan Perusahaan Anggur Dae Sung demi Ki Hoon. Ia yakin, Dae Sung juga akan menganggap itu keputusan yang benar. Eun Jo memberikan waktu pada Ki Jung untuk membebaskan Ki Hoon. Jika tidak, maka semua informasi mengenai Perusahaan Hong akan jatuh ke tangan polisi.

Setelah selesai bicara, Eun Jo menutup telepon dan menangis.

Akhirnya Ki Jung membebaskan Ki Hoon.

Ki Hoon menelepon Eun Jo. "Turunkan jendela mobilmu agar aku bisa melihatmu." katanya.

Eun Jo menoleh dan melihat Ki Hoon ada di seberang jalan.

"Siapa yang menyuruhmu melakukan ini?" tanya Ki Hoon.

"Kau baik-baik saja?" tanya Eun Jo.

"Kau tidak bisa lihat? Aku baik-baik saja." jawab Ki Hoon. "Kau tidak bisa melakukannya. Informasi itu adalah kunci untuk menyelamatkan Perusahaan Anggur Dae Sung."

Eun Jo menangis dan menggeleng.

Ki Hoon menutup telepon dan menyeberang jalan, menuju ke mobil Eun Jo.

Eun Jo turun dari mobilnya dan menyeberang jalan. Ia berlari dan memeluk Ki Hoon di tengah jalan.