Silahkan Mencari !!!

Info!!!

kelanjutan fan fiction & recap drama semua ada di blog q yang baru
fanfic : www.ff-lovers86.blogspot.com
recap : www.korea-recaps86.blogspot.com
terima kasih...
Tampilkan postingan dengan label Hwang Jin Yi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hwang Jin Yi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Agustus 2010

Hwang Jin Yi (Episode 5)


Geram mendengar Ji-ni berani membantah bahkan menyerang balik dengan mengatakan bahwa Eun-ho yang lebih dulu mengiriminya puisi, ibu Eun-ho langsung mengambil sebaskom air panas dan menyiramkannya ke Ji-ni. Siapa sangka, muncul Baek-moo yang langsung melindungi Ji-ni dengan tubuhnya.

Ji-ni langsung mencucurkan air mata melihat sang guru tanpa malu-malu bersimpuh dihadapan kaki ibu Eun-ho, dan yang lebih menyakitkan lagi, pemuda yang mulai disukainya itu hanya bisa berdiri mematung tanpa berbuat apa-apa. Saat mengobati luka bakar di punggung Baek-mo, Ji-ni mendapat nasehat berharga tentang kehidupan seorang gisaeng.

Sudah tentu, yang paling kuatir dengan keadaan Ji-ni adalah ibunya Hyeon-geum, yang sadar kalau cinta putrinya dan Eun-ho tidak cukup kuat. Belakangan, ia dipanggil oleh Gae-yeon tunangan Eun-ho yang putri petinggi wilayah sekaligus gadis yang pernah ditemui Ji-ni di perpustakaan, yang memberi ultimatum supaya insiden yang terjadi tidak sampai di kuping sang ayah.

Melihat muridnya terduduk sedih sambil menangis, Bak-moo mendatangi Ji-ni dan mengajarinya sebuah tarian sulit untuk mengatasi rasa cinta pertamanya. Sementara itu di kediaman kelompok, Mae-hyang melatih murid-muridnya dengan keras sambil memperhatikan Bu-yong yang memang memiliki bakat besar dalam hal menari.

Ambisinya cuma satu : ia tidak ingin murid kesayangannya itu kalah bersaing dengan Ji-ni yang sudah berani menyebut impiannya untuk bisa mendapatkan hadiah dari pihak kerajaan. Namun, yang paling diharapkan Mae-hyan adalah supaya Bu-yong bisa memikat Byeok Gae-soo, kerabat kerajaan yang memiliki wawasan luas dan diduga bakal menjadi ketua dewan juri kompetisi antar kelompok penghibur.

Dasar sudah kehilangan akal sehat, Eun-ho nekat mendatangi kediaman kelompok Song Do untuk bertemu Ji-ni setelah sebelumnya menitipkan surat perpisahan ke Gae-yeon. Untungnya, kenekatan itu bisa diatasi oleh pengawal Baek-moo yang juga bertugas menjaga Hyeon-geum.

Kenekatan Eun-ho ternyata harus dibayar mahal. Saat pulang, ia mendapati sang ibu telah memerintahkan pengawal untuk memukuli Duk-pal pria yang biasa mengiringinya. Kejadian itu membuat mata Eun-ho semakin terbuka akan hidup tentang status yang berlaku di Korea, dan merasa semakin sedih dengan kenyataan.

Melihat kesungguhan hati sang majikan, Duk-pal luluh dan menyebut siap mengantarkan surat kepada Ji-ni. Dasar nekat, Ji-ni memutuskan untuk menemui Eun-ho yang diharapkannya untuk terakhir kali. Saat berjalan menuju tempat yang disepakati, betapa terkejutnya Ji-ni melihat jalanan telah ditaburi bunga yang indah dan di pondok, ada sebuah tali yang diujungnya terdapat cincin yang menunjukkan keseriusan cinta Eun-ho.

Hwang Jin Yi (Episode 4)


Saat dipanggil, Ji-ni terkejut saat mendengar kalau Baek-moo ternyata sudah tahu dengan aksinya berjalan diatas tali saat berada di pasar. Namun yang lebih terkejut lagi adalah Baek-moo begitu mendengar apa alasan Ji-ni melatih aksi yang menurutnya tidak berguna itu : melatih konsentrasi terutama dibagian kaki.

Sadar kalau bakat Ji-ni sangat sayang untuk disia-siakan terutama setelah sekian tahun bersama, Baek-moo yang dipanggil oleh petinggi istana mengusulkan untuk diadakan kompetisi antara kelompok perempuan penghibur dimana si pemenang bisa menjadi kepala kelompok lain. Sudah tentu, usul tersebut membuat musuh bebuyutannya Mae-hyang marah besar.

Sikap permusuhan tidak cuma ditunjukkan oleh Mae-hyang tapi juga oleh Bu-young, muridnya yang kini telah tumbuh dewasa. Karena itu, mereka sangat terkejut mendengar ungkapan Ji-ni yang menyebut tidak perduli akan menang-kalah tapi berharap bisa mendapat hadiah utama dari putra mahkota. Sambil menunggu, Ji-ni mendapat pelajaran filosofi berharga tentang arti menjadi gisaeng dari Baek-moo.

Begitu kembali, Baek-moo langsung mempersiapkan murid-muridnya untuk kompetisi. Salah satu yang paling serius adalah Ji-ni, yang bahkan rela menolak bertemu dengan Eun-ho yang sudah memendam kerinduan. Lewat perantaraan Gae-dong, gadis itu menyebut tidak bisa bertemu Eun-ho lagi.

Penolakan tersebut membuat Eun-ho patah semangat, ia bahkan berani melawan perintah gurunya sehingga mendapat hukuman sabetan. Bahkan didepan pembantunya, pemuda itu sampai menitikkan air mata. Keruan saja, Ji-ni yang mendengar hal itu merasa bersalah dan memutuskan untuk menemui Eun-ho sambil membawa harpanya.

Keduanya menghabiskan waktu seharian bersama-sama, Ji-ni memetik harpa sementara Eun-ho melukis sosok gadis itu yang sedang bermain musik. Ketika kembali, kebahagiaan Ji-ni bisa dirasakan oleh sang ibu Hyeun-geum. Mampu merasakan kalau sang putri sedang jatuh cinta, wajah Hyeun-geum berubah kuatir ketika Ji-ni mulai menanyakan soal ayahnya dan apakah bisa seorang gisaeng tetap menghibur sekaligus menjadi istri seorang pria.

Tahu akan betapa pekanya perasaan Hyeun-geum, Ji-ni berpesan pada Gae-dong untuk tidak membocorkan perasaan bahagianya pada sang ibu. Namun dasar Gae-dong, ia malah tidak sengaja membocorkan rahasia tersebut kepada Hyeun-geum saat dirinya dipanggil menghadap.

Kepada asisten Baek-moo yang kerap melindunginya, Hyeun-geum memohon sang sahabat untuk menyelidiki ketulusan pemuda misterius yang telah mencuri hati Ji-ni. Di tempat lain, Eun-ho yang langsung terpesona melihat tarian Ji-ni meminta gadis itu untuk tidak menari bagi orang lain selain dirinya.

Ketika berjalan pulang, terjadi dua hal pada diri Eun-ho. Yang pertama adalah pertemuannya dengan asisten Baek-moo yang menanyakan sejauh mana keseriusan hubungannya dengan Ji-ni, sementara yang kedua adalah percintaannya yang diketahui oleh ibunya. Yang terakhir cukup fatal, pasalnya sang ibu memutuskan untuk melabrak Ji-ni.

Hwang Jin Yi (Episode 3)


Hal serupa ternyata juga terjadi pada Ji-ni, yang bahkan berani membantah perkataan Baek-moo saat diajarkan cara menuangkan arak kedalam cangkir. Komentarnya yang menyebut latihan tata-krama tidak terlalu penting membuat murka sang guru, dan bisa ditebak hukuman apa yang diberikan : sabetan di kaki.

Disaat diam-diam masih memikirkan Eun-ho, nasib kembali mempertemukan mereka ketika pemuda yang juga begitu terpesona pada Ji-ni itu datang ke tempat kelompok So Dong bersama sang ayah yang adalah seorang pejabat terkemuka dan salah seorang sahabatnya. Dengan pikiran kalut, Eun-ho belakangan memutuskan untuk kembali ke rumah dengan alasan sedang memikirkan ibunya yang sendirian.

Di kediaman kelompok So Dong sendiri, Ji-ni mempunyai seorang sahabat bernama Gae-dong yang ceroboh dan kerap memecahkan guci. Untuk membujuk sang sahabat, perempuan itu nekat mengajaknya masuk ke kediaman salah seorang bawahan Baek-moo demi menggunakan alat rias. Berhasil membuat Gae-dong tersenyum lewat nama baru yang diberikan Ji-ni, keduanya akhirya ketahuan dan dihukum.

Pelajaran yang paling ditunggu Ji-ni yaitu menari akhirnya tiba, namun siapa sangka ia malah berulang kali dimarahi Baek-moo karena dianggap tidak luwes. Mendengarkan masukan sang guru dengan seksama, Ji-ni sampai nekat menggunakan arak mahal demi melatih kelenturan kakinya saat menari.

Masih merasa tidak dapat menemukan perasaan yang pas saat melangkahkan kaki, Ji-ni mengambil cara yang lebih ekstrim : menemui seorang pria untuk melatihnya berjalan diatas seuntai tali, keahlian yang justru biasanya didalami kaum pria.

Tidak cuma itu, Ji-ni bahkan nekat menyelinap keluar dari rombongan calon gisaeng yang sedang melihat-lihat keadaan pasar demi memenuhi janjinya tampil didepan umum dengan berjalan diatas seuntai tali sambil memegang kipas. Sayang, aksinya terhenti demi melihat kemunculan Baek-moo, dan saat terjatuh sambil ditahan Eun-ho yang berusaha menolong, bibir keduanya secara tidak sengaja bersentuhan.

Sentuhan bibir yang tidak sengaja itu membuat Eun-ho semakin penasaran untuk bertemu Ji-ni, dan untungnya ia mendapat bantuan dari Gae-dong, yang sengaja menuntun sang sahabat untuk bertemu pujaan hatinya. Menerima surat yang ditulis Eun-ho melalui perantara, dengan lantang Ji-ni menyebut kalau isi surat tersebut adalah jiplakan dari sebuah puisi terkenal.

Sempat merasa malu dan putus asa, semangat Eun-ho langsung bangkit saat si calon gisaeng menyebut kalau dirinya memiliki keahlian sebagai seorang penyair. Setelah suasana kaku cair, Eun-ho dan Ji-ni berjalan-jalan di pinggir sebuah air terjun. Rupanya, bambu yang pernah digambar calon gisaeng itu telah mengakar kuat di putra pejabat tersebut.

Hwang Jin Yi (Episode 2)


Sudah tentu, niat tersebut malah membuat Ji-ni terpukul demi melihat ibu yang telah melahirkannya menolak untuk mengakui keberadaan gadis cilik itu. Hyeon-geum sendiri sempat meloloskan diri dari penjara untuk menemui Baek-moo sambil memohon sang guru untuk melepas putrinya, namun sudah tentu permintaan itu ditolak.

Dalam keadaan sedih, Ji-ni yang sedang berjalan-jalan di taman bertemu dengan salah satu orang kepercayaan Baek-moo. Dari pria berjanggut lebat itu, ia akhirnya tahu asal-usul percintaan terlarang Hyeon-geum dengan seorang pria dari kalangan ningrat yang menghasilkan dirinya hingga alasan kebutaan sang ibu. Keruan saja, gadis cilik itu makin merasa kehadirannya di dunia sama sekali tidak diinginkan.

Meski terlihat keras, namun Baek-moo ternyata sangat menyayangi Hyeon-geum sampai-sampai memohon pada pejabat untuk melepas salah satu gisaeng andalannya tersebut. Padahal, hukuman bagi pelanggaran yang dilakukan perempuan itu adalah dibuang.

Baek-moo tidak sadar, kenekatannya untuk menyelamatkan Hyeon-geum malah membuat sang pejabat berniat untuk menggeser posisinya sebagai pimpinan kelompok Song Do dan menggantinya dengan gisaeng senior lain. Dasar nekat, Hyeon-geum yang baru dilepaskan dari penjara memaksa untuk bertemu Ji-ni.

Dengan penuh cucuran air mata, anak dan ibu akhirnya bertemu muka secara langsung. Bisa dibayangkan, bagaimana perasaan Hyeon-geum ketika Ji-ni menyebut tidak akan pernah melupakan wangi tubuh perempuan itu dan dengan tatapan mata sendu memanggilnya dengan sebutan ibu. Tangis Hyeon-geum langsung meledak, ia tidak dapat menahan diri untuk memeluk sang putri yang begitu dicintainya.

Tahu kalau Ji-ni bakal memulai pelatihan sebagai calon gisaeng, Hyeon-geum bertekad untuk bisa berada disamping putrinya dan akhirnya pasrah dengan jalan hidup yang tidak bisa dihindari. Di awal ajaran, Baek-moo langsung menekankan satu hal penting bagi para calon penerusnya : melupakan keinginan untuk menjadi istri bagi seorang pria sekaligus melepas emosi.

Dengan mata terbelalak, Ji-ni menyaksikan sebuah pintu menuju dunia baru seakan dibukakan untuknya mulai dari kemewahan pakaian, keindahan musik, hingga tarian yang mampu menggetarkan siapapun yang menyaksikan. Untuk menguasai dua hal terakhir, Baek-moo mengajarkan pada murid-muridnya cara melatih pernapasan dengan menyelam selama jangka waktu yang telah ditentukan.

Tidak terasa beberapa tahun berlalu, dan Ji-ni telah menjelma menjadi gadis remaja yang cantik. Saat bersama rekan-rekannya berlatih di air terjun dibawah pengawasan Baek-moo, terjadi sebuah insiden dimana segerombolan pelajar yang salah satunya adalah pelajar tampan Kim Eun-hoo mengintip dan berusaha mencuri pakaian. Niat tersebut buyar karena Eun-ho terpesona oleh kecantikan Ji-ni.

Kehadiran para pemuda pelajar yang tidak diundang itu kontan membuat para calon gisaeng histeris ketakutan, yang malah membuat mereka dihukum oleh Baek-moo karena dianggap melupakan aturan pertama yaitu menutupi emosi dari siapapun. Bisa ditebak siapa yang paling keras kepala : Ji-ni. Ia menolak ajaran itu meski untuk itu harus dihukum pukulan dengan kayu di bagian betis.

Tumbuh besar dengan Hyeon-geum disampingnya, Ji-ni langsung merengut ketika sang ibu berusaha membujuknya untuk meninggalkan Song Do dan hidup normal, ucapan yang telah disampaikan sejak mereka kembali bersama. Dengan wajah penuh keyakinan, ia menyebut sudah bahagia bisa hidup seperti sekarang dan tidak butuh pernikahan atau status.

Namun didalam hatinya, perasaan Ji-ni berkecamuk hebat yang kemudian dilampiaskannya lewat lukisan bambu nan artistik. Saat hendak membuang gambar yang disebut menunjukkan emosinya yang tidak stabil, gadis itu kembali bertemu dengan Eun-ho.

Kamis, 19 Agustus 2010

Hwang Jin Yi (Episode 1)


Gisaeng adalah salah satu profesi yang paling unik di Korea masa silam, dan salah satu kelompok yang cukup terkenal adalah kelompok penghibur Song Do pimpinan Im Baek-moo. Namun meski para anggotanya terlihat selalu tersenyum saat tampil, ternyata Song Do menyimpan berbagai masalah.

Salah satu yang paling memusingkan Baek-moo adalah niat mundur yang diutarakan salah satu gisaeng andalannya yang kini telah buta Hyeon-geum. Tidak ada yang tahu, Hyeun-geum sendiri ternyata memiliki seorang putri yang berhasil diungsikannya ke sebuah biara : Hwang Ji-ni.

Meski dididik oleh para biksu, Ji-ni sendiri dikenal memiliki kemauan yang sangat keras dan rela melakukan apa saja bila sudah menginginkan sesuatu. Hal terakhir yang dilakukannya adalah melakukan gerakan menyembah sebanyak 3000 kali supaya diijinkan untuk datang ke kota dan melihat keramaian. Harapannya cuma satu : bisa mengenali sang ibu yang tidak pernah dilihatnya.

Meski yang terakhir tidak bisa dilakukan, ada satu hal yang langsung membekas di ingatan Ji-ni : dengan mata kepalanya sendiri, ia akhirnya bisa melihat sekumpulan perempuan cantik yang melintas dengan pakaian indah nan harum. Sempat tidak sengaja melihat aksi kelompok gisaeng, Ji-ni nekat mengulangi sejumlah gerakan tarian sehingga berulang kali mendapat hukuman.

Di tempat lain, Baek-moo sedang menghadapi dilema karena saat diminta menghibur utusan dinasti Ming, di tengah pertunjukan kelompok penghibur istana pimpinan Mae-hyang tiba-tiba menyeruak masuk dan mengambil alih acara. Sadar kalau Mae-hyang takut posisinya direbut, Baek-moo tidak berkutik karena tahu kalau kekuatan kelompoknya masih belum sebanding dengan kelompok istana yang memiliki si kecil Bu-young sebagai penari potensial.

Satu-satunya harapan adalah merekrut gadis-gadis muda untuk dilatih menjadi gisaeng andalan, dan secara kebetulan Ji-ni (yang berhasil kabur dari biara) melihat pengumuman tersebut dan berniat mendaftar. Sempat ditolak masuk, aksi Ji-ni yang berusaha meniru tarian secara tidak sengaja dilihat oleh Baek-moo.

Sang pimpinan kelompok Song Do makin terpesona saat tahu kalau Ji-ni mampu menghapal gerakan tersebut dengan hanya sekali lihat. Baru saja berniat untuk menawarkan bergabung, muncul pimpinan biara yang langsung membawa Ji-ni pulang. Dasar keras kepala, gadis cilik itu menolak makan dan minum selama nyaris tiga hari saat berada dalam kurungan.

Niatnya cuma satu : bergabung dengan kelompok Song Do. Bingung dengan keteguhan hati Ji-ni, kepala biara mendatangi kediaman Hyeon-geum untuk memberitahu kondisi terakhir sang putri. Apes bagi mereka, pembicaraan tersebut terdengar oleh Baek-moo, yang langsung memerintahkan para pengawal untuk menjemput Ji-ni yang dikurung.

Saat tiba di biara, Ji-ni teryata sudah tidak ada sehingga Baek-moo mengira kalau Hyeon-geum yang telah menyembunyikan sang putri. Dipukuli didepan gisaeng lain karena tidak mau mengaku, sekonyong-konyong Ji-ni malah muncul didepan kediaman kelompok Song Do.

Baek-moo langsung tersenyum lebar, dan dengan tatapan wajah penuh arti menawarkan Ji-ni untuk bergabung. Sementara itu dibelakang mereka, Hyeon-geum yang terlihat begitu lemas terus berteriak dengan pilu supaya sang putri, yang tidak mengenalinya, menolak.