Silahkan Mencari !!!

Info!!!

kelanjutan fan fiction & recap drama semua ada di blog q yang baru
fanfic : www.ff-lovers86.blogspot.com
recap : www.korea-recaps86.blogspot.com
terima kasih...
Tampilkan postingan dengan label Lee Hong Ki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lee Hong Ki. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Agustus 2010

That Perfect Guy


Title : That Perfect Guy
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 16 Agustus 2010, 02.35 PM
Cast :
Son Ye Jin
Son Dam Bi
Lee Min Ho
Lee Hong Ki (Ye Jin’s Brother)


That Perfect Guy
Created By Sweety Qliquers


Son Ye Jin bercerita dengan semangat 45. Tangannya bergerak kesana kemari bagai konduktor dalam konser musik. Senyum kebahagiaan terukir di bibirnya. Sesekali tawanya yang renyah terdengar. Di depannya, Son Dam Bi duduk dengan manis mendengarkan cerita sang sahabat.

“Finally, I found him…..,” desah Son Ye Jin mengakhiri ceritanya. Matanya yang cantik memandang jauh ke arah taman rumah Son Dam Bi yang ditata asri.

“Are you sure? Apa benar, ada pria seperfect itu? “ tanya Son Dam Bi ragu.

“100 %.“ Son Ye Jin mengangguk mantap.

“Otaknya bagaimana? Lemot tidak?” Son Dam Bi teringat cerita Son Ye Jin sebulan lalu tentang Pria tampan yang ditaksirnya tapi sayang… BOTOL alias Bodoh dan Tolol.

“Apa aku belum memberitahumu, kalau titelnya itu berderet. Ir, MBA,MM?”

“Hmm… berotak encer, berkantong tebal, berwajah tampan, bersifat lembut, perhatian, baik hati, dan tidak sombong. Tapi, bagaimana dengan bodinya?“ tanya Son Dam Bi masih penasaran.

“Bagus banget! Bukan tipe Pendekar, Pendek dan Kekar. Juga bukan tipe n’dut. Tingginya sekitar 185 senti.”

“Wah, kalau setinggi itu… biasanya cungkring. Padahal, kau kan anti pria kurus kering. “ cerocos Son Dam Bi, terkenang pada Choi Han Kyul, teman mereka semasa SMA yang baik hati dan cinta mati pada Son Dam Bi tapi ditampik gara-gara TULALIT (tinggal Tulang dan Kulit, saking cekingnya).

“Tebakan yang salah! Gebetan ku kali ini punya body proporsional. Kalau kau melihatnya, dijamin…. ngiler.”

“Ya begitu juga dong, Son Ye Jin. Memangnya, dia makanan…,” Son Dam Bi tersenyum sambil berpikir. Apalagi ya, hal-hal yang membuat pria tidak oke di mata Son Ye Jin. Soalnya, sohibnya ini memang super duper cerewet dalam hal memilih pacar. Semua pria yang naksir dan (pernah) ditaksirnya selalu saja ada minusnya. Entah minus dari segi fisik maupun dari segi kebiasaan yang… such as : suka mengupil dan buang gas di tempat umum. Tidak heran, di usianya yang ke 27 Son Ye Jin masih saja menjomblo.

“Keringatnya bau tidak?” Aha! Son Dam Bi menemukan lagi point penting yang bisa membuat Son Ye Jin ilfil pada pria (setampan apapun dia). Soalnya, Son Ye Jin pernah menolak cinta seorang pria tampan lantaran dia Triple B. Bau Badan Banget.

“Nope! aku ‘kan pernah nge-gym bareng dia. Gilaaaa! Biar sudah banjir keringat seperti itu, tidak tercium bau-bauan aneh. Malah, rasanya aku mencium aroma parfum yang unik banget. Campuran antara parfum yang dia pakai sama keringatnya kali.” Son Ye Jin nyengir.

“Hobi kentut di sembarang tempat?” Pertanyaan Son Dam Bi meremind otak Son Ye Jin pada Cha Bong Gun, teman sekantornya yang naksir dia but ditolak mentah-mentah lantaran dia suka meledakkan ‘bom molotov’ anywhere, anytime. Mana ‘wangi’ nya duahsyat, bo!

“Tentu saja tidak! Dia itu very wangi. Kalaupun dia kentut, pasti harum.” Son Ye Jin membela sang gebetan. Duileh, yang lagi falling in love. Mana ada sih kentut yang wangi? Memang minumannya parfum dari Paris?

“Suka mengupil pake jari telanjang, tidak?” Son Dam Bi kehabisan pertanyaan.

“Kalaupun mengupil, pasti pakai baju eh….tisu. Tidak seperti kekasihmu. Sudah kukunya panjang-panjang dan hitam. Hobi mengupil lagi di depan publik.” Son Ye Jin sewot.

“Eits, jangan bawa-bawa Kekasihku!” Son Dam Bi tersinggung.

“Pertanyaanmu itu menyebalkan sekali! Sudah aku katakan, dia itu PERFECTO! Sesuai dengan seleraku. So, jangan tanya yang macam-macam lagi” Son Ye Jin cemberut.


“Iya deh, iya…yang punya pacar perfect. Eh, belum pacar ya? Baru calon. Makanya, cepat rebut hatinya.” Son Dam Bi mengedipkan mata.

“Hatinya sudah aku rebut kok. Buktinya, hampir tiap malam dia ke rumahku. Apalagi kalau bukan karena ada ‘something’? Udah gitu, dia juga gampang akrab dengan Ayah dan Ibuku. Terutama sama Lee Hong Ki, adik bungsuku. Dia sering membantu Lee Hong Ki mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Kebetulan, Lee Hong Ki kan kuliah di jurusan Teknik Arsitektur. Bidang yang dia kuasai sekali.” Ujar Son Ye Jin PD. Wajah cemberutnya sudah bermetamorfosis menjadi secerah langit sore. Cinta memang sakti ya? Bisa mengubah wajah orang seenak jidat, secepat kilat.

“O ya?” Son Dam Bi memandang sobatnya dengan setitik rasa iri. Hebat sekali, beruntung sekali Son Ye Jin Bisa mendapatkan pria se perfect itu. Sementara kekasih Son Dam Bi sampai saat ini masih dianggap ‘alien’ sama calon mertua, lantaran penampilannya yang acak-adut dan gayanya yang slengean. Ya gaya seorang Pelukis! Mana bisa dia serapi dan sesantun ‘Tom Cruise’?

“Tidak percaya? Kapan-kapan, aku kenalin ya!”

“Well, what should I say. Congrats ya! Ngomong-ngomong dia tidak BM kan?”

“Maksudmu?”

“Bau Mulut, sayang……,”

“Son Dam Bi!!!!”

***


Dua minggu kemudian.

“Apa? Kau tidak sedang bercanda kan?” Mata Son Dam Bi yang belo, jadi dobel belo saking kagetnya mendengar cerita Son Ye Jin. Son Ye Jin mengangguk lesu.

“Aku lihat sendiri. Dia merayu dan mencoba mencium Lee Hong Ki. Untung, Lee Hong Ki gesit berkelit. Kalau tidak, aku tidak tahu apa jadinya!“ Ujarnya geram.

“Katanya, semula dia memang menyukaiku… tapi… begitu melihat ketampanan Lee Hong Ki, ‘penyakit’ lamanya kumat. Pantesan, dia perhatian sekali pada Lee Hong Ki. Rese! Aku dibohongi habis-habisan!” lanjut Son Ye Jin emosi.

“Sabar… sabar… tidak perlu marah-marah seperti itu. Nanti kau cepat tua! Yang penting, kau belum terlanjur menikah dengannya.” Son Dam Bi mengelus-elus punggung Son Ye Jin.

“Iya siih… tapi… aku sudah terlanjur jatuh cinta padanya. Ralat, maksudnya… ‘pernah jatuh cinta’. Gila! Kenapa aku tak pernah curiga melihat dia baik sekali pada Lee Hong Ki? Kenapa aku bisa apes seperti ini?” Son Ye Jin menyesali diri.



“Sudahlah, anggap saja ini pelajaran untukmu. Biar tidak silau lagi dengan pria perfect. Nobody is perfect! Justru, yang terlalu sempurna patut dicurigai.” Son Dam Bi menasihati. Son Ye Jin terdiam. Tampaknya, ia meresapi setiap kata sobatnya itu.

“Yah, lain kali aku harus hati-hati kalau jatuh cinta pada seorang pria, apalagi kalau dia keliatan perfect sekali.” Ujar Son Ye Jin kemudian sambil bangkit dari duduknya.

“Eh, mau kemana?”

“Ke tempat yang banyak pria tampannya. Siapa tahu saja ada yang cocok. ”

“Kok bisa sih? Kau kan baru saja patah hati…,” Son Dam Bi takjub.

“Patah hati? No way! Patah satu tumbuh seribu dong!” Son Ye Jin tersenyum genit.

“Son Ye Jin … Son Ye Jin … Kau itu tidak pernah berubah ya?”


TAMAT

Sabtu, 14 Agustus 2010

Beginilah Cinta


Title : Beginilah Cinta
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 14 Agustus 2010, 10.58 AM
Cast :
Lee Hong Ki
Song Hye Gyo


Beginilah Cinta
Created By Sweety Qliquers


Cinta itu aneh!

Sebab sampai sekarang aku tidak pernah bisa mengerti apa arti cinta. Banyak hal-hal yang tidak adil terjadi di seputar cinta. Misalnya begini: si Playboy mengobral cinta dan hasilnya sukses berat dengan bertepuk dua tangan, meski cinta si Playboy itu palsu. Nah, giliran si Serius yang telah berikrar cinta sampai mati, eh, hasilnya malah bertepuk sebelah tangan. Aneh, tidak?

Menurut teori sih, cinta itu sakral. Artinya, cinta itu bukan sebentuk permainan yang sering dilakukan oleh anak-anak kecil. Tapi dalam prakteknya, cinta itu tidak begitu. Lha, bagaimana tidak? Aku sering menyaksikan sebaya-sebayaku melecahkan cinta mereka. Mereka menduakan cinta.

Kata mereka, pacar tidak cukup jika hanya satu. Paling sedikit dua. Buat cadangan dan jaga-jaga. Uh, memangnya ban mobil pakai cadangan segala. Aku kok, mendadak menjadi bodoh memikirkan cinta. Apa aku yang tidak becus dalam asmara, atau mereka yang kelewat moderat dalam hal ini?!

Tapi lupakanlah. Soalnya aku tidak terlalu mengambil hati. Untuk apa sih pusing-pusing ke hal yang tidak bermanfaat begitu? Lebih baik aku memikirkan urusanku sendiri. Dan terutama ke persoalan yang menyangkut Song Hye Gyo!


Ya, Song Hye Gyo. Mengingat gadis manis itu, Aku selalu senewen dibuatnya. Mengejar dia sama susahnya mengejar layangan yang putus. Mungkin mengejar Song Hye Gyo ini lebih sulit. Karena dia sering menghilang entah kemana. Kalau layangan kan, palingan menyangkut di genteng rumah.

Aku ingat, aku mengejar Song Hye Gyo ketika aku masih duduk di bangku SMP kelas tiga. Waktu itu dia masih kelas satu SMP. Jadi mengejarnya juga menggunakan gaya si ‘Amank’, tuh monyet tetangga yang doyan pisang! Namun jangan menyamakan diriku dengan si ‘Amank’. Karena aku masih lebih manusiawi daripada si ‘Amank’, sedangkan dia lebih hewani dariku.

Oya, ngomong ke soal mengejar-ngejar gadis manis itu, sebetulnya aku malu untuk menceritakannya. Bukan kenapa-kenapa, tapi masa’ iya mengejar Song Hye Gyo itu makan waktu sampe lima tahun dan belum juga mendapatkannya!

Tapi, meski begitu aku tidak berputus asa, terlebih-lebih lagi untuk berputus napas atawa bunuh diri. Ih, tidak janjilah, ya? Walaupun dia mengataiku muka badak. Walaupun dia menolakku mentah-mentah. Tidak peduli. Cintaku pada Song Hye Gyo jalan terus. Dan cinta yang kuserahkan padanya itu murni 24 karat. Asli, tidak susut atau dipotong pajak.

Eh, namun jangan menganggapku manusia super yang tahan banting. Aku juga bisa patah hati dan menangis. Aku bisa melek semalam-malaman jika mengingat cintaku yang malang ini. Tapi, tentu saja aku tidak bersedih terus-terusan. Sebab kupikir masih banyak hal yang belum kubereskan. Cucian-cucian yang menumpuk di kamar kos saja belum kubereskan. Juga sewa kos untuk bulan lalu belum kulunasi.

***


Ya, begitulah Song Hye Gyo. Orangnya keras, adatnya pedas. Kalo dia lagi ngambek lantaran pendekatan gencar yang kulakukan tanpa embel-embel malu-maluin. Jadi deh mukanya kayak cabe yang siap diulek buat dijadiin sambel terasi. Lagaknya segalak macan ompong. Karena kekerasan hatinya itu pula maka sampe kini aku nggak kesampaian ngerebut hatinya. Entah terbuat dari batu apa hatinya itu.

Padahal, berani sumpah pocong, aku sudah berkorban banyak untuk dia. Seluruh waktu dan hidupku nyaris hanya tercurah ke dia. Ke mana-mana dan di mana-mana, di benak dan hatiku ya cuma ada dia. Hanya dia!

Tapi, ya itulah Song Hye Gyo. Meskipun aku bersujud di bawah telapak kakinya untuk mengemis-ngemis cintanya pun, aku tak akan diterima. Kurun waktu yang lama telah membuktikan jika dia itu, idealis banget. Alasannya setiap kali menolakku, dia bilang begini:

"Eh, Lee Hong Ki, kita tuh mending berteman aja. Misalnya nanti kita sejodoh, toh pada dasarnya kita pasti akan bersatu."

Lantas setiap kali dia mengucapkan kalimat itu, maka aku hanya dapat menelan ludah yang tiba-tiba terasa pahit seperti kopi. Ah, Song Hye Gyo, sebenarnya apa, kekuranganku? Padahal aku kan, tidak jelek-jelek amat bila dibandingkan dengan pesaing-pesaingku. Bahkan, konon aku adalah pria tertampan dibandingkan para penghuni di bonbin (Kebun Binatang)!

Atau, mungkin Song Hye Gyo meragukan cintaku? Itu yang sering kulontarka padanya bila sudah merasa kecewa sekali. Tapi apa tanggapannya?

Dia bilang begini, "Lee Hong Ki, Kau ini bagaimana, sih? Kau itu sahabatku. Jadi aku tidak perlu meragukan cintamu sebagai seorang teman lagi. Kau baik, sangat baik sebagai seorang sahabat. Oke?"


Ups! Kalimat. Just a friend! Itu yang tidak kuinginkan. Itu yang paling kubeeeenciii....
Tapi apa mau dikata lagi? Song Hye Gyo memang tidak mencintaiku. Aku sadar itu. Sebab dia menolakku, itu jelas. Sebab ada nama dan wajah lain yang mengisi ruang hatinya. Yang pasti, someone special itu bukan aku. Karena Song Hye Gyo....

Ah, forget it! Malam ini aku harus tidur, karena besok aku harus kuliah pagi-pagi sekali. Aku hanya berharap seperti malam-malam yang kemarin, semoga Song Hye Gyo dapat mengubah pendiriannya yang setegar karang batu. Atau, biarkan jodoh yang bicara seperti yang selalu dia katakan. Jika kita berjodoh, toh pada dasarnya kita pasti akan bersatu.

Yap, mungkin.

Huaaap... aku mengantuk berat.

Kulihat di luar jendela saat kurebahkan kepala di bantal. Langit kelam berjelaga awan hitam. Hatiku sunyi dan hampa seperti langit yang tidak berbintang itu. Selanjutnya ada lara yang bersenandung di sana. Tak kutahu persis lagu dan irama apa. Hanya titik-titik airmataku yang bisa menjawabnya.


TAMAT