Silahkan Mencari !!!

Info!!!

kelanjutan fan fiction & recap drama semua ada di blog q yang baru
fanfic : www.ff-lovers86.blogspot.com
recap : www.korea-recaps86.blogspot.com
terima kasih...
Tampilkan postingan dengan label Goo Hye Sun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Goo Hye Sun. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Agustus 2010

Cinta Saja Tidak Cukup

Title : Cinta Saja Tidak Cukup
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance, Friendship, Comedy
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 2 Agustus 2010, 02.52 PM
Cast :
Goo Hye Sun
Lee Min Ho
Kim So Eun (Hye Sun’s Friend)
Kim Hyun Joong (Hye Sun’s Boyfriend)
Go Ah Ra (Min Ho’s Girlfriend)



Cinta Saja Tidak Cukup
Created By Sweety Qliquers
(020810, 0252PM)

“Menyeramkan sekali, maksudmu setan ya?” Goo Hye Sun langsung terlonjak kaget begitu mendengar kata-kata sahabatnya.

“Dengarkan aku dulu, Kim So Eun. Kau cerna dalam-dalam perumpamaanku itu. Baru komentar. Jangan sebaliknya. Komentar padahal tidak mengerti duduk permasalahannya...” jawab Goo Hye Sun sabar.

“Tunggu. Dia ada, tapi sebenarnya tidak ada.... Dia tidak ada tapi sebenarnya ada. Sudahlah, aku menyerah saja. Jelaskan dengan baik dan benar padaku. Jangan ditambah atau dikurangi....”

Goo Hye Sun terdiam sejenak.

“Kim So Eun, kau tahu Lee Min Ho kan?”

“Ya. Tahu. Lalu?”

“Kau tahu kan kalau aku sudah lama mengaguminya?”

“Tahu, lalu?”

“Kau tahu kan kalau setiap saat aku selalu memikirkannya? Dia sangat baik padaku. Kita berdua setiap hari selalu saling sms atau telepon. Tapi....”

“Tapi apa?”

“Kami hanya sebatas teman... sebatas sahabat saja. Dan bagiku itu sudah sangat indah...” kata Goo Hye Sun sedih. Dengan mata sedikit berkabut.

“Tapi kenapa nada bicaramu tidak ceria. Berarti kau sudah jatuh cinta dengan Lee Min Ho. Iya kan? Kalau tidak, ya sudah. Segitu saja sudah cukup....”

“Tidak Kim So Eun. Aku tidak mengerti ini cinta atau bukan. Tapi dia adalah satu-satunya orang yang membuat hidupku jadi lebih terang. Dia sudah menerangi hidupku...” kata Goo Hye Sun syahdu.

“Berarti Lee Min Ho setara dengan PLN ya?” jawab Kim So Eun polos.

Goo Hye Sun tersenyum. Sahabatnya memang selalu melucu sendiri.

“Dia seperti embun di musim kering...” kata Goo Hye Sun lagi. Kim So Eun mengangguk.

“Kau mengangguk, Kim So Eun? Kenapa? Setuju?”

“Biasa saja. Leherku pegal....”

“Oo.”

Dan curhat singkat antara Goo Hye Sun dengan Kim So Eun pagi itu sudah lumayan banyak mengurangi beban pikiran Goo Hye Sun selama ini. Kadang Kim So Eun sering berkelakuan ajaib. Tidak memberi pemecahan. Tapi paling tidak Kim So Eun satu-satunya orang yang mau mendengarkan keluh kesah Goo Hye Sun tentang Lee Min Ho.

Lee Min Ho.

Kakak kelas SMP-nya yang ia temui saat reuni.

Sejak pertemuan itu, Goo Hye Sun tak pernah berhenti sedetik pun untuk memikirkan Lee Min Ho.


Sosok Lee Min Ho yang tampan. Pintar. Lucu.

“Dia beda sekali dengan Kim Hyun Joong....” begitu alasan Goo Hye Sun.

“Di dunia ini tidak ada yang sama. Termasuk kembar identik. Lihat saja Kak Seto dan Kak Seno...” kata Kim So Eun.

Dan Goo Hye Sun kembali terdiam, menerawang jauh....


Sebenarnya Goo Hye Sun hanya sedikit melow saja hari ini. Sudah dua hari Lee Nin Ho tidak sms dan menelponnya. Walaupun hanya sekedar say hello. Padahal Goo Hye Sun ingin mengucapkan terima kasih pada Lee Min Ho. Beberapa hari lalu Goo Hye Sun minta tolong untuk dibelikan Buku National Geographic pada Lee Min Ho yang memang rajin berburu buku ke mana-mana. Dan ketika buku itu sudah dapat, Lee Min Ho mengantarkannya sendiri ke rumah Goo Hye Sun.

Sosok Lee Min Ho memang sangat perhatian.

Dia tidak pernah bilang tidak setiap kali Goo Hye Sun minta tolong. Padahal Lee Min Ho sibuk sekali dengan kegiatannya yang seabrek.

Beda sekali dengan sosok Kim Hyun Joong yang sudah 10 bulan menjadi cowoknya. Kim Hyun Joong tidak pernah merespon dengan baik apa yang ada di dalam pikiran Goo Hye Sun. Kim Hyun Joong cenderung pasif. tidak peduli. Suka asyik dengan dirinya sendiri. Jadi 10 bulan punya pacar, rasanya tetap menjomblo. Kalau kata orang dalam hubungan harus ada take and give, dengan Kim Hyun Joong, Goo Hye Sun merasa tidak menemukan semua itu.

“Putus saja, Goo Hye Sun. Susah sekali...” kata teman-teman Goo Hye Sun yang paham betul dengan apa yang terjadi.

“Aku juga sudah pernah memikirkan hal itu. Tapi Kim Hyun Joong tidak pernah merespon. Tidak mungkin putus hanya sepihak. Lagipula aku tidak enak dengan mami dan papi Kim Hyun Joong. Aku sudah dekat dengan mereka....”

“Tapi untuk apa kau paksakan?”

“Aku masih berharap someday Kim Hyun Joong akan berubah. Kalaupun aku putus dengan Kim Hyun Joong, aku juga tidak akan jadian dengan Lee Min Ho. Pacar Lee Min Ho yang ada di Amerika, aku dengan dia sayang sekali dengan Lee Min Ho. Aku tidak akan mengganggu hubungan mereka yang sudah solid...”

“Berubah? Memangnya Powers Rangers...!” semua teman-teman Goo Hye Sun tertawa kompak.

Tapi niat Goo Hye Sun sangat putih dan tulus pada Kim Hyun Joong. Seperti apa pun Kim Hyun Joong ia mencoba menerima Kim Hyun Joong apa adanya.

Dan sore itu Kim Hyun Joong muncul seperti biasa ke rumahnya.

Membuat Goo Hye Sun agak jengah.

Pakaian Kim Hyun Joong tidak rapi.


Rambutnya pun tidak rapi, pakai jeans yang sudah belel.

Ah, berbeda jauh sekali dengan Lee Min Ho yang selalu wangi dan berpenampilan keren. Dan ketika bayang-bayang Lee Min Ho muncul, sekuat tenaga Goo Hye Sun menepisnya jauh-jauh dari benaknya.



Setelah say hello dengan Goo Hye Sun, Kim Hyun Joong dengan cuek duduk di depan TV dan menyalakan play station. Tidak lama kemudian ia sudah asyik dengan play station-nya.
Hati Goo Hye Sun bener-bener miris. Kim Hyun Joong terlalu asyik dengan dirinya sendiri. Kim Hyun Joong tidak pernah bertanya dengan sikap mesra, apa kegiatan Goo Hye Sun hari ini, capek tidak, apa yang bisa ia bantu. Pertanyaan standar dari seorang cowok untuk soulmate-nya.

“Kim Hyun Joong... kita harus bicara....”

“Ya? Apa?” tanya Kim Hyun Joong masih asyik dengan play station-nya.

“Tentang kita berdua. Hubungan kita....”

“Memangnya ada apa dengan hubungan kita, Goo Hye Sun? Kita baik-baik saja....”

“Kim Hyun Joong, aku merasa kalau kau sudah tidak perhatian lagi denganku. Kita sudah jauh berbeda. Kau tidak pernah berubah dari dulu....”

“Apa yang berbeda? Aku tetap mencintaimu, Goo Hye Sun.” Akhirnya Kim Hyun Joong meletakkan stick PS-nya. Ia lalu menatap Goo Hye Sun tajam. Kim Hyun Joong bersandar di sofa.

“Cinta saja tidak cukup, Kim Hyun Joong.... Tapi harus ada sesuatu yang membuat kita berdua merasa bahagia jika saling bertemu. Tidak hambar....”

“Jadi kau tidak merasa bahagia jika bertemu denganku?” Tiba-tiba saja mata Kim Hyun Joong berubah jadi merah. Seakan tidak senang dengan ucapan Goo Hye Sun.

“Bukan begitu, Kim Hyun Joong. Aku saying padamu. Tapi aku ingin kau jadi lebih baik. Jadi lebih rapi, kau tidak hanya mengabiskan waktumu hanya untuk main play station...” Goo Hye Sun kelihatan sedih. Ia menunduk. Dua air bening melesat lembut membasahi pipi, wajah cantik Goo Hye Sun.

Dan tidak ada sepuluh detik Goo Hye Sun menunduk, mengusap airmatanya, ketika ia mengangkat wajah, ternyata Kim Hyun Joong sudah tidur dengan cueknya, dengan kepala menyandar di sofa.

Goo Hye Sun bengong.

***

“Gila, dasar cowok aneh! Dia malah tidur?!!!” Kim So Eun menjerit histeris.

Goo Hye Sun dengan pasrah mengangguk.




“Goo Hye Sun, ini aneh! Kau ini sabar atau naif? Sudahlah, putus saja dengan Kim Hyun Joong. Di luar sana masih banyak cowok yang menunggumu! Kemarilah kau, Goo Hye Sun! Bercerminlah!!!” Kim So Eun mengeluarkan kaca barbie warna pink-nya yang centil dan menunjukkan di depan wajah Goo Hye Sun.

“Kau itu cantik! Kau pinter! Kau dari keluarga konglomerat! Kata pak ustadz, kau itu solehah! Kata pak RT, kau warga yang baik karena sopan dan santun! Kata orang duafa, kau itu seperti malaikat karena hatimu baik dan kau suka memberi sedekah kepada mereka! Kata mamimu, kau itu anak tersantun di dunia! Kataku, kau itu sahabat terindah di planet bernama bumi! Dan bisa-bisanya kau bertahan dengan cowok seperti Kim Hyun Joong?!” kata Kim So Eun dengan bertubi-tubi.

Dan Goo Hye Sun hanya menunduk.

“Itu kan katamu, Kim So Eun... Buktinya Kim Hyun Joong tidak pernah mengucapkan semua itu padaku...”

“Itu karena si Kim Hyun Joong gengsi bilang! Dia minder denganmu luar dalam, dunia akherat! Aku harus bicara dengan Kim Hyun Joong! Apa maksudnya memperlakukanmu seperti ini! Kalau memang sudah tidak suka, kenapa dia tidak memutuskanmu?” kemarahan Kim So Eun nampak memuncak. Ia kelihatan sudah tidak terima lagi melihat sahabatnya, yang di mata Kim So Eun seperti permata yang nyaris sempurna.

Goo Hye Sun tersenyum.

Kim So Eun berdiri.

“Kim So Eun, kau mau ke mana! Jangan, jangan! Kau tidak perlu berbicara dengan Kim Hyun Joong! Biar aku sendiri yang bicara! Sekarang kau sedang emosi! Kau mau ke mana, Kim So Eun?” Goo Hye Sun memegang tangan Kim So Eun kuat-kuat. Takut sahabatnya itu akan memaki-maki Kim Hyun Joong.

“Lepaskan tanganku! Aku sudah tidak sabar!”

“Sabar, Kim So Eun. Istighfar!”

“Kali ini aku sudah tidak tahan!”

“Kau mau ke mana, Kim So Eun.....??? Mau ke mana????”

“Kamar mandi....” jawab Kim So Eun polos.

***

Dan sorenya, Tuhan seakan mengirimkan satu “malaikat” kecilnya pada Goo Hye Sun. Saat ia suntuk memikirkan sikap Kim Hyun Joong, tiba-tiba satu SMS dari Lee Min Ho masuk.

“Kita ketemu di tempat seperti biasa ya? Toko buku. Ada yang ingin aku ceritakan padamu. Jam lima ya?”

Dan Lee Min Ho muncul dengan gayanya yang khas. Keren, wangi, dan rapi.

“Hai....” kata Lee Min Ho.


“Lee Min Ho, ini duit buku National Geographic kemarin....” Goo Hye Sun mengulurkan uang pada Lee Min Ho.

Lee Min Ho tersenyum, menggeleng.

“Tidak usah....”

“Kenapa? Aku mau mengganti uangmu?!”

“Iya, tapi aku tidak mau diganti. Apalagi menggunakan uang jajanmu. Aku ingin memberikan buku itu untukmu boleh, kan?”

“Jangan Lee Min Ho!”


“Sudahlah... aku ikhlas” Lee Min Ho menatap Goo Hye Sun lembut. Ah, swear, jarang banget Goo Hye Sun diperlakukan seperti itu oleh cowok. Apalagi Kim Hyun Joong. Dan herannya, kenapa justru cowok lain yang perhatian dengan dia?


“Aku sedang bahagia. Go Ah Ra cewekku baru saja datang dari Amrika. Dia punya adik angkat baru, Dia lucu sekali. Nanti kau, aku kenalkan dengan cewekku ya?” kata Lee Min Ho dengan mata berbinar-binar bahagia.


“Adik angkat Go Ah Ra namanya Seo Shin Ae. Lucu sekali. Aku sekarang mau ke baby shop beli hadiah buat Seo Shin Ae. Kau mau menemaniku? Setelah itu kita sama-sama ke rumah Go Ah Ra. Kau sahabat terbaikku, Goo Hye Sun. Dia harus mengenalmu.... Yuk.....” Lee Min Ho bicara penuh semangat.

Goo Hye Sun tersenyum.

Ah, andai Lee Min Ho tahu kalau Goo Hye Sun sangat menyayangi Lee Min Ho....
Andai ia diperbolehkan menyandarkan sejenak kepalanya di bahu Lee Min Ho, sekedar melepas lelah hatinya yang kadang tidak habis pikir memikirkan sikap Kim Hyun Joong....

Ketika keduanya berjalan menyusuri toko mainan anak-anak dan Lee Min Ho memilih dengan semangat berbagai macam mainan sambil terus bercerita tentang segala hal, termasuk Go Ah Ra dan Seo Shin Ae, Goo Hye Sun hanya mampu tersedu.

Voice over, Goo Hye Sun hanya mampu mendesahkan beberapa bait curhat pada Tuhan, tentang dirinya sendiri.....

“Allah, ternyata hanya Engkau yang tidak pernah mengecewakanku. Yang dapat mengetahui perasaanku, yang mengetahui sepiku. Bagaimanapun juga Lee Min Ho manusia biasa. Dia tidak pernah bisa membaca hati hamba yang sedang lara.... Apalagi Kim Hyun Joong.

Tapi Engkau pasti bisa membaca.

Dan Goo Hye Sun tiba-tiba memiliki kekuatan luar biasa setelah mengucapkan semua itu. Ia berdiri dengan tegak, tegar, karena yakin Tuhan pasti akan memberikan jalan yang terbaik untuk dirinya ke depan.

Tapi tanpa Goo Hye Sun sadari, di balik ceriaan Lee Min Ho, Lee Min Ho juga sedang ber-voice over, bicara dalam hatinya sendiri, mengadu pada Tuhan.

“Tuhan, hanya Engkau yang tahu. Hamba sayang pada Goo Hye Sun. Tapi bagaimana Go Ah Ra ya Tuhan? Hamba kan sudah komitmen berpacaran dengan Go Ah Ra. Tapi mengapa hamba merasa bahagia jika berada dekat dengan Goo Hye Sun?”

Ya, hati manusia, memang tidak pernah bisa diduga....



TAMAT

Senin, 02 Agustus 2010

30 Years, It's Just Too Early

Title : 30 Years, It's Just Too Early
Author : Sweety Qliquers
Genre : Earth, Romance, Friendship
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 1 Agustus 2010, 11.11 AM
Cast :
Goo Hye Sun
Lee Min Ho
Gook Ji Yun (Hye Sun’s Friend)
Kim Hyun Joong (Hye Sun’s Friend)
Han Hyo Joo (Hye Sun’s Friend)



30 Years, It's Just Too Early
Created By Sweety Qliquers
(Samarinda, Kamis <> 010810, 111AM)


"Diperkirakan 30 tahun dari sekarang, bumi dikhawatirkan akan mengalami kehancuran."

Begitulah kutipan kalimat dalam sebuah artikel suratkabar yang dibaca Goo Hye Sun. Ditutupnya koran yang ia pegang kemudian ia mengkalkulasikan umurnya saat ini dengan perkiraan waktu bumi akan hancur.

"Berarti ketika aku berumur 47 tahun! Haaaaaaaaahhh?!" jerit Goo Hye Sun histeris, membuat Bunda yang melintas di depannya terkejut melihat putrinya menjerit heboh.

"Ada apa, Goo Hye Sun?" tanya Bunda bingung.

Goo Hye Sun teringat langkah pencegahan global warming dari artikel yang baru dibacanya. "Mulai besok aku mau ke sekolah naik sepeda saja, Bun," kata Goo Hye Sun.


"Sepedanya kan dibawa Kak Hyun Bin ke Busan," timpal Bunda.

"Bukan sepeda motor, Bun. Tapi sepeda ontel yang sudah lama tidak pernah dipakai itu," terang Goo Hye Sun.

"Hah?" Bunda terkejut dengan penjelasan Goo Hye Sun yang terdengar agak aneh itu.

"Sekolahmu kan lumayan jauh, Goo Hye Sun. Apa nanti kau tidak terlambat datangnya?" tanya Bunda, masih tidak mengerti maksud di balik rencana putrinya itu.

"Aku kan bisa berangkat lebih pagi, sekalian olahraga, Bun. Lagipula, aku pernah baca di koran, Pemkot saja udah mencanangkan Bike to Work. Kenapa aku tidak Bike to School? Demi kelangsungan bumi kita tercinta, Bunda." Goo Hye Sun mengakhiri perkataannya sambil tersenyum, Bunda pun dibuat amazed akan jawaban Goo Hye Sun. Beliau kagum putrinya concern juga masalah kondisi bumi yang semakin gawat ini.

***

Esoknya di sekolah.

Goo Hye Sun sudah menjadi pusat perhatian sejak ia mulai mengayuh sepedanya melewati pintu gerbang sekolahnya, bahkan satpam penjaga gerbang saja sampai tercengang.

"Goo Hye Sun?" sebuah suara menyapa Goo Hye Sun yang sedang mengunci sepeda ontelnya di tempat parkir motor.

"Hai, Lee Min Ho," sapa Goo Hye Sun, degup jantungnya mendadak semakin cepat. Diam-diam ia naksir sang Ketua Kelas di hadapannya ini.

"Kau naik sepeda ke sekolah?" tanya Lee Min Ho sambil melirik sepeda yang masih tampak mulus di samping Goo Hye Sun.

Goo Hye Sun mengangguk. "Aku tidak mau mati muda, Lee Min Ho" jawab Goo Hye Sun sambil berlalu, meninggalkan Lee Min Ho yang masih belum menangkap maksud jawaban Goo Hye Sun.


Lee Min Ho pun mengejar Goo Hye Sun yang melenggang masuk ke dalam sekolah.

"Maksudmu? Kau tidak sedang mengidap penyakit parah, kan?" tanya Lee Min Ho setengah khawatir.

"Tentu saja tidak, Lee Min Ho. Ini cuma supaya bumi kita tidak cepat hancur, aku baca di koran prediksinya 30 tahun dari sekarang. Masih banyak yang mau aku lakukan, masih pengen keliling dunia. Aduh, pokoknya mati umur 47 masih terlalu muda!" Goo Hye Sun berseru histeris.

Lee Min Ho pun dibuat terdiam akan jawaban Goo Hye Sun yang polos itu. Selama ini ia tidak pernah notice hal-hal tentang global warming meski media juga tengah gencar menyiarkan. Tapi, penjelesan sederhana dari cewek yang selama ini ia kagumi ini ternyata mampu menyadarkannya tentang seberapa gawat keadaan bumi sekarang.

30 tahun? Aku juga masih ingin hidup di umur 47 tahun, batin Lee Min Ho.

"Goo Hye Sun, kau kan Ketua Osis. Kenapa tidak membuat program saja untuk menyelamatkan bumi? Kalau tidak salah kan Pemkot bikin Bike to Work, kita buat saja Bike to School." Lee Min Ho mengusulkan.

Gosh, Lee Min Ho. Kenapa kita bisa berpikiran sama sih? batin Goo Hye Sun.

"Boleh. I've been thinking about that actually. Makasih ya usulnya," kata Goo Hye Sun sambil tersenyum manis. Membuat jantung Lee Min Ho berdebar kencang saat melihatnya.


"Goo Hye Sun, aku denger kau naik sepeda ke sekolah," todong Kim Hyun Joong, salah satu sahabat Goo Hye Sun.

Bel istirahat berdering, para siswa SMA Shinhwa berhamburan menuju kantin sekolah yang mungil tapi punya tempat makan favorit siswa yang nyaman karena outdoor di area taman. Tidak terkecuali Goo Hye Sun dan ketiga sahabatnya.

"Iya, memang kenapa?" tanya Goo Hye Sun sambil menyeruput es jeruk nipis kesukaannya kala matahari sedang terik-teriknya seperti sekarang.


"Apa kata anak-anak nanti, Goo Hye Sun. Masa Ketua Osis naik sepeda? Memangnya Papamu sudah tidak mau mengantarmu lagi?" tanya Gook Ji Yun yang selalu mementingkan image di depan orang lain.

"Kalau aku cuek saja, Goo Hye Sun. Tidak usah perduli apa kata orang! Di Seoul, orang yang nekat sepertimu itu jarang sekali. Teruskan saja, Goo Hye Sun. Besok aku juga naik sepeda ke sekolah." Berbeda dengan pendapat kedua temannya yang lain, Han Hyo Joo yang asli Seoul malah mendukung Goo Hye Sun.

Goo Hye Sun pun menceritakan tentang artikel yang dibacanya kemarin. "Kalian tidak harus mengikuti caraku kok, kalian boleh ke sekolah naik apa saja sesuka kalian. Tapi usahakan jangan membuat polusi semakin meningkat," lanjut Goo Hye Sun.

"Oh begitu ya, Goo Hye Sun. Kemarin aku juga baca artikel seperti itu juga. mengerikan memang membayangkan kalau bumi kita hancur dalam waktu dekat," sahut Kim Hyun Joong.

"Berarti kita mati muda dong?! NO...!" seru Gook Ji Yun heboh. "Aku kan masih pengen jadi bintang film di Hollywood.Kalo 30 tahun lagi bumi sudah hancur, aku tidak bisa ke Hollywood dong!"


"Ya sudah, besok kau berangkat ke sekolah naik bis saja, Gook Ji Yun," kata Han Hyo Joo asal, membuahkan tawa yang mendengarnya. Naik angkutan umum adalah hal yang paling tidak mungkin Gook Ji Yun lakukan. Pikiran-pikiran parno mengenai bis pun langsung menyergapnya. Gook Ji Yun pun memandang Goo Hye Sun, minta pertolongan.

"Kalo tidak mau naik bis ya naik sepeda saja, Gook Ji Yun," usul Goo Hye Sun yang malah membuahkan tawa yang semakin keras dari teman-temannya. Membayangkan Gook Ji Yun mengayuh sepeda bakal sama seperti membayangkan betapa lucunya seorang putri manja yang naik sepeda ontel ke sekolah.

"Atau kau bisa bareng denganku ke sekolah, Gook Ji Yun. Memang sih mobilku tidak senyaman Mercedez-mu. Apalagi aku barengan dengan dua adikku yang masih SD, tapi masih ada tempat kosong kalau kau mau nebeng. Bagaimana?" Kim Hyun Joong memberi usul yang kali ini masih agak masuk akal.


"Iya, Gook Ji Yun. Rumah kalian kan sekomplek, barengan saja kan lebih efisien," timpal Goo Hye Sun.

Gook Ji Yun pun mengiyakan. "Ini semua demi mimpiku ke Hollywood," kata Gook Ji Yun menerawang. Goo Hye Sun, Kim Hyun Joong dan Han Hyo Joo pun tertawa terbahak melihat tingkah temannya ini.

***

Esok paginya di sekolah.


Ketika sedang antri untuk memarkirkan sepedanya, Goo Hye Sun dibarengi seorang cowok yang juga naik sepeda ontel ke sekolah. Saat menoleh ke samping, ternyata cowok itu adalah Lee Min Ho.

"Lee Min Ho? Kau...." tanya Goo Hye Sun takjub, tak menyangka Lee Min Ho yang tampak berwibawa ini akan mengikuti jejaknya.

"Aku juga tidak mau mati muda. Still have lots of things to do," jawab Lee Min Ho sembari tersenyum.

Goo Hye Sun dan Lee Min Ho pun memarkirkan sepedanya bersebelahan, hal itu tanpa mereka sadari menarik perhatian Han Hyo Joo yang tengah melintas usai memarkirkan sepedanya tepat di depan mereka.

"Aduh, romatis sekali! Sepedanya sampai diparkir bersebelahan begitu," goda Han Hyo Joo sambil melenggang pergi.

Goo Hye Sun pun jadi blushing mendengarnya, ia lihat Lee Min Ho juga tampak bingung menyembunyikan wajahnya yang merona.

30 years is just too early for God's sake!



TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.korealovers-86.blogspot.com

Jumat, 23 Juli 2010

Happy B'Day Cinta

Title : Happy B`Day Cinta
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance 18+, Friendship, Love In High School
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 20 July 2010, 0336 AM
Cast :
Goo Hye Sun as Geum Jan Di
Lee Min Ho as Goo Jun Pyo
Lee Min Jung as Ha Jae Kyung
Lee Hye Young as Kang Hee Soo (Jun Pyo’s Mother)
Gook Ji Yun (Cameo)
Kim Young Ok (Ka.Rumah Tangga)



Sinopsis
Incheon kala itu masih menyimpan kenangan manis. Mungkin hal tersebut merupakan euforia cinta masa remajanya. Jun Pyo yang merupakan kakak kelasnya suatu ketika mengungkapkan isi hatinya pada seorang gadis bernama Geum Jan Di. Namun sayang, kenangan indah cinta mereka tak berlangsung lama. Jan Di yang tulus mencintai Jun Pyo, dan Jun Pyo yang ternyata hanya menomorduakan cinta mereka di bawah prioritas sekolah dan orangtuanya.

Sebenarnya Jun Pyo pun mencintai Jan Di, tapi karena ia tidak mau dianggap anak yang tidak berbakti, Jun Pyo menuruti semua perintah kedua orang tuanya. Ia meminta Jan Di untuk backstreet dan menurutnya itu adalah solusi paling tepat untuk mengakali hubungan mereka yang jelas-jelas ditentang kedua orang tua Jun Pyo. Jan Di tidak mau main-main dengan cinta mereka! Ia tidak mau backstreet. Ia lebih memilih putus dengan Jun Pyo.

Waktu itu Jan Di tidak mau berkompromi. Usia dini masa SMP baginya bukanlah alasan kalau cinta itu dijadikan sebentuk konsekuensi akil-balig dan pencarian jatidiri remaja. Cinta adalah sesuatu yang harus dibina dengan keseriusan. Tidak ada backstreet. Tidak ada cinta monyet. Makanya, diputuskannya untuk mengakhiri hubungannya yang singkat dengan Jun Pyo, yang kala itu dianggapnya tidak memiliki pendirian dan masih terkekang oleh orangtuanya.

Namun sang waktu mempertemukan mereka kembali. Sebagai siswa berprestasi di sekolah, Jan Di mendapat prioritas beasiswa di SMA Shinhwa Seoul sehabis menamatkan SMP-nya. Tapi siapa nyana ia dapat bertemu kembali dengan cinta pertamanya di Seoul. Barangkali sang waktu ingin kembali menguakkan luka lama di hatinya. Barangkali sang waktu tidak ingin seorang Geum Jan Di melupakan masa lalunya yang pahit. Ah, entahlah. Ia sendiri tidak tahu!

Dan barangkali bukan kebetulan kalau ia akhirnya bertemu dengan cowok itu lagi, justru di ‘Kost’annya di Seoul. Luka lama itu kembali menguak begitu Goo Jun Pyo hadir di ‘Kost’annya suatu hari. Dan ia hadir sebagai anak sulung Ny. Kang Hee Soo, pemilik ‘Kost’an tersebut.



Tokoh Happy B`Day, Cinta


Goo Hye Sun as Geum Jan Di
Gadis dari keluarga sederhana di Incheon. Karena mendapatkan beasiswa di SMA Shinhwa Seoul, mengharuskan Geum Jan Di tinggal di rumah ‘kost’ di Seoul. Dan disanalah ia bertemu kembali dengan Goo Jun Pyo, cintanya di masa SMP.


Lee Min Ho as Goo Jun Pyo
Cinta Pertama Geum Jan Di. Ketika semasa SMP dulu Goo Jun Pyo menganggap cintanya pada Geum Jan Di hanya ada diurutan no.2, sedangkan sekolah dan orang tua baginya adalah prioritas utama. Menuruti perintah Mamanya untuk menjauhi Geum Jan Di karena tidak mau dianggap anak yang tidak berbakti.


Lee Min Jung as Ha Jae Kyung
Membantu Goo Jun Pyo untuk membuat pesta kejutan Ultah Geum Jan Di. Ha Jae Kyung dan anak-anak kost yang lain mau membantu Goo Jun Pyo karena Jun Pyo yang bertugas menagih uang bulanan sewa kamar para penghuni kost sering memberi kelonggaran bagi mereka yang terlambat mendapat 'kiriman' dari Orang Tua mereka.


Lee Hye Young as Kang Hee Soo (Jun Pyo’s Mother)
Mama Goo Jun Pyo. Wanita yang menentang hubungan Goo Jun Pyo – anaknya dengan Geum Jan Di dimasa mereka masih duduk di bangku SMP. Pemilik Kost yang ditempati Geum Jan Di di Seoul.


Gook Ji Yun (Cameo)
Teman kost Jan Di dan Jae Kyung.
Tiba-tiba dibentak Jan Di dan Jae Kyung ketika ikut nimbrung pembicaraan mereka yang menjadi menegang.
Gook Ji Yun nimbrung setelah sedari tadi diam menyimak. "Eh, Jan Di. Lo dipegang-pegang sama Jun Pyo sampe lo hate banget sama dia, ya?"


Kim Young Ok as Kepala Rumah Tangga
“Ya, ada apa, Non Jan Di?”
“Lho, Non Jan Di nggak tahu?” Wanita separo baya itu seperti terperanjat.
“Apa Non Jan Di belum diberitahu sama anak-anak kalau acara siang nanti....”
“Acara ulangtahun. Kan hari ini ulangtahun Non Jan Di?”
“Non Jan Di lupa, ya?”
“Ya, tentu saja mereka sibuk, Non Jan Di. Soalnya, mereka kan sudah diwanti-wanti sama Tn.Muda Jun Pyo untuk bikin acara ulangtahun Non Jan Di hari ini.”
”Ya, Tn.Muda Jun Pyo. Putra sulung Ny. Kang Hee Soo. Non Jan Di sudah kenal, kan?”
“Non Jan Di, Non Jan Di!” Bibi Young Ok tercenung tidak mengerti.
“Non Jan Di nggak apa-apa, kan?”



Happy B`Day, Cinta
Created By Sweety Qliquers
(Samarinda, 200710 <> 0336PM)


Kalau sepagi ini terdengar riuh rutinitas di lantai bawah yang asalnya dari ruang dapur, tentulah bukan hal yang lumrah. Masih terlalu pagi. Bahkan terlalu pagi sekadar menjalankan aktivitas semisal mengebulkan asap kompor buat sarapan sekalipun. Tapi hari ini semuanya jadi aneh. Nyaris seluruh penghuni ‘Kost’ grasa-grusu seperti hendak menyambut kedatangan makhluk dari Planet Mars. Sibuknya luar biasa.

Acara tidurnya terganggu. Padahal, jarang-jarang ia memiliki waktu luang untuk dipakai tidur senyenyak-nyenyaknya. Masa liburan sebulan sekolah lalu pun tak pernah dikecapnya dengan nyaman seperti gadis-gadis penghuni Kost lainnya. Sebab ia mesti kerja sambilan untuk menambah biaya sekolahnya. Kesadaran yang datangnya dari lubuk hati atas kondisi keluarganya yang pas-pasan di daerah. Mungkin dia kurang beruntung terlahir dalam keluarga sederhana di Incheon, tapi ia masih tetap bersyukur karena terlahir dalam keadaan sempurna lahir dan batin.

“Ada kejadian apa sih, Ha Jae Kyung?" tanya Geum Jan Di pada Jae Kyung, sahabatnya yang tinggal bersebelahan kamar dengannya. Sembari mengucek-ngucek mata, gadis yang masih mengantuk dan sesekali menguap itu bertanya sesaat setelah turun dari lantai atas.

“Ada acara makan-makan ya, Jae Kyung?”

Jae Kyung menggeleng cuek. Sama sekali tidak berminat menanggapi kebingungan Jan Di. Pertanyaan gadis bertubuh mungil itu dijawabi dengan satu kibasan tangan. Dan gadis tajir asal Busan itu terus saja bergelut dengan kegiatannya yang super-sibuk di dapur. Membersihkan piring-piring dan gelas-gelas yang sudah berdebu di lemari dapur, satu-satunya aset ‘Kost-Kost’an yang ditinggal pemiliknya untuk penghuni kost yang baru.

Jan Di masih tercenung di ujung tangga setelah turun buru-buru tadi dengan daster yang masih melekat di badan. Alisnya mengernyit. Diliriknya jam dinding yang tergantung di atas bingkai pintu utama. Jarum pendek masih menunjuk tepat di angka enam. Biasanya juga kalau jam-jam begini gadis-gadis itu masih pada ngorok. Ih, boro-boro bikin sarapan. Menyentuh air di kamar mandi saja rasanya ogah!

Tapi hari ini memang lain. Pasti ada 'something wrong'. Kalau tidak, mana mungkin nona-nona tajir itu mau kompakan bangun pagi dan bersibuk-sibuk ria dengan senang hati di dapur. Tentu saja. Buktinya tadi, saking sibuknya, Jae Kyung yang nyinyir itu malah tidak punya waktu untuk menjelaskan ‘what happen in kitchen’.

“Jae Kyung...”

“Sorry. Gue sibuk.”

“Tapi....”

“Udah deh, Jan Di. Lo tidur aja sana. Jangan ganggu kita-kita!”

“Gue bantuin, ya?”

“Jangan. Kita-kita di sini nggak butuh PRT lagi.”

Jan Di tersenyum geli. “Hei, emangnya gue babu apa?”

Jae Kyung hanya tersenyum sebentar sebelum melanjutkan kegiatannya yang ‘misterius’. Jan Di mengedikkan bahunya tanda tidak paham. ‘Kita-kita’ yang dimaksud cewek tajir asal Busan tadi adalah geng rumpi ‘Kost-Kost’an; Gook Ji Yun, Lee Hyori, Yoon Eun Hye, Song Hye Gyo, dan Ha Jae Kyung. Heh, sejak kapan nona-nona tajir itu tiba-tiba dengan suka rela tanpa dipaksa-paksa mau bekerja ala PRT?

Jan Di masih menggeleng tidak mengerti, dan baru saja hendak menapaki undakan naik tangga ketika berpapasan dengan Bibi Young Ok yang berjalan turun dari lantai atas.

“Eh, Bibi Young Ok...,” Jan Di mengurungkan niatnya ke lantai atas, hendak meneruskan tidurnya yang terganggu gaduh ‘misterius’ sahabat satu ‘kost-kost’an dengannya. Dijawilnya pundak pembantu wanita yang mengurusi keperluan penghuni Kost.

“Ya, ada apa, Non Jan Di?”

“Ada acara apaan sih, Bibi Young Ok? Kok, kelihatannya mereka sibuk banget?”

“Lho, Non Jan Di nggak tahu?” Wanita separo baya itu seperti terperanjat.

“Apa Non Jan Di belum diberitahu sama anak-anak kalau acara siang nanti....”

“Acara?!” Jan Di membeliak.

“Acara apaaan?!”

“Acara ulangtahun. Kan hari ini ulangtahun Non Jan Di?”

“Hah?!” Jan Di nyaris terjatuh dari tangga saking kaget.

“U-ulangtahun gue?! Ya, ampun!”

“Non Jan Di lupa, ya?”

“Tapi, kok mereka yang sibuk sih, Bibi Young Ok?!”

“Ya, tentu saja mereka sibuk, Non Jan Di. Soalnya, mereka kan sudah diwanti-wanti sama Tn.Muda Jun Pyo untuk bikin acara ulangtahun Non Jan Di hari ini.”

Astaga!

Ia sendiri lupa kalau hari ini merupakan hari ulangtahunnya. Dan cowok bernama ‘JUN PYO itu mengingatnya! Bahkan hendak merayakannya secara diam-diam siang nanti untuknya!

“Jun… Pyo?!”

”Ya, Tn.Muda Jun Pyo. Putra sulung Ny. Kang Hee Soo. Non Jan Di sudah kenal, kan?”

Kepala Jan Di mendadak berdenyar. Dicengkeramnya pegangan tangga erat-erat. Jun Pyo?! Goo Jun Pyo?! Rasa-rasanya kepalanya hendak pecah dipenuhi serpihan-serpihan kenangan lama. Tubuhnya serasa limbung.

“Non Jan Di, Non Jan Di!” Bibi Young Ok tercenung tidak mengerti.

“Non Jan Di nggak apa-apa, kan?”

Jan Di menggeleng. Meneruskan langkah menuju kamarnya di lantai atas.

***

Incheon kala itu masih menyimpan kenangan manis. Mungkin hal tersebut merupakan euforia cinta masa remajanya. Jun Pyo yang merupakan kakak kelasnya suatu ketika mengungkapkan isi hatinya pada seorang gadis bernama Geum Jan Di. Namun sayang, kenangan indah cinta mereka tak berlangsung lama. Jan Di yang tulus mencintai Jun Pyo, dan Jun Pyo yang ternyata hanya menomorduakan cinta mereka di bawah prioritas sekolah dan orangtuanya.

“Gue nggak bermaksud nyakitin hati lo, Jan Di.”

“Tapi, nyata-nyata Lo udah melukai hati gue!"

"Gue minta maaf. Tapi gue nggak mau dianggap anak nggak berbakti, Jan Di. Mending kita backstreet aja. Ini solusi buat ngakalin hubungan kita yang jelas-jelas ditentang sama bokap-nyokap gue."

"Gue nggak mau main-main dengan cinta kita, Jun Pyo! Gue nggak mau backstreet. Lo seperti nggak punya pendirian, Jun Pyo! Gue mau hubungan kita ini jelas. Terus atau putus!"

"Tapi...."

Waktu itu Jan Di tidak mau berkompromi. Usia dini masa SMP baginya bukanlah alasan kalau cinta itu dijadikan sebentuk konsekuensi akil-balig dan pencarian jatidiri remaja. Cinta adalah sesuatu yang harus dibina dengan keseriusan. Tidak ada backstreet. Tidak ada cinta monyet. Makanya, diputuskannya untuk mengakhiri hubungannya yang singkat dengan Jun Pyo, yang kala itu dianggapnya tidak memiliki pendirian dan masih terkekang oleh orangtuanya.

Namun sang waktu mempertemukan mereka kembali. Sebagai siswa berprestasi di sekolah, Jan Di mendapat prioritas beasiswa di SMA Shinhwa Seoul sehabis menamatkan SMP-nya. Tapi siapa nyana ia dapat bertemu kembali dengan cinta pertamanya di Seoul. Barangkali sang waktu ingin kembali menguakkan luka lama di hatinya. Barangkali sang waktu tidak ingin seorang Geum Jan Di melupakan masa lalunya yang pahit. Ah, entahlah. Ia sendiri tidak tahu!

Dan barangkali bukan kebetulan kalau ia akhirnya bertemu dengan cowok itu lagi, justru di ‘Kost’annya di Seoul. Luka lama itu kembali menguak begitu Goo Jun Pyo hadir di ‘Kost’annya suatu hari. Dan ia hadir sebagai anak sulung Ny. Kang Hee Soo, pemilik ‘Kost’an tersebut.

***

"Gue pengen ngomomg sama Lo , Jae Kyung!"

"Ada apa sih, Jan Di? Gue sibuk, nih."

Jan Di menarik lengan Jae Kyung yang hendak meneruskan kewajibannya mengamanati perintah putra sulung Ny. Kang Hee Soo, Goo Jun Pyo. Tentu saja anak-anak penghuni ‘Kost’ yang didominasi seratus persen cewek itu tidak bisa menolak. Selain karena tidak enak hati, Goo Jun Pyo yang punya wajah cool mirip Lee Min Ho – salah satu pemain di drama serial Korea ‘Boys Befote Flower’ itu sebenarnya juga diidolai nyaris satu penghuni ‘Kost’.

Sayang Goo Jun Pyo jauh-jauh hari sudah memploklamirkan kalau Geum Jan Di merupakan calon pendamping hidupnya kelak. Jadi anak-anak cewek penghuni ‘Kost’ yang rada-rada genit tersebut hanya bisa ngiri. Tapi sebetulnya tidak tepat-tepat begitu. Yang paling mengandili antusiasme mereka bantu-bantu adalah, karena Goo Jun Pyo yang bertugas menagih uang bulanan sewa kamar pada anak-anak cewek sering ngasih kelonggaran bagi mereka yang terlambat dapat 'kiriman' dari Orang Tua mereka.

"Jae Kyung! Ini penting!"

"Acara ini lebih penting. So, tolong jangan recoki kesibukan gue lagi, ya?"

"Jae Kyung, please! Gue nggak mau lo-lo pada bikin acara norak begini untuk gue!"

Jae Kyung terlongong. Beberapa cewek yang mendengar 'pertengkaran kecil' itu mengalihkan perhatian mereka dari oven-kue. Gook Ji Yun malah sudah mendekat ke arah sumber keributan.

"Ja-jadi lo udah tahu kalau acara siang nanti adalah pesta ultah Lo, Jan Di?!"

"Sorry, Jae Kyung. bukannya gue nggak menghargai niatan kalian, tapi tolong hargai juga dong hak gue untuk menolak segala kebaikan Jun Pyo!"

"Lho, memangnya Jun Pyo salah apa sama Lo sampe Lo antipati gitu?!"

Gook Ji Yun nimbrung setelah sedari tadi diam menyimak. "Eh, Jan Di. Lo dipegang-pegang sama Jun Pyo sampe lo hate banget sama dia, ya?"

"Gook Ji Yun... please...!" Kalimat itu serempak terlontar dari mulut Jan Di dan Jae Kyung.

"Batalin acara itu!" Jan Di mengultimatum setelah mengalihkan pandangannya dari wajah culun Gook Ji Yun, dan kembali menatap mata Gook Ji Yun yang sedikit rikuh dengan sikapnya yang emosional.

"Batalin?!" Mata Jae Kyung melotot.

"Heh, gue lebih memilih diomeli dan dimusuhi sama Lo ketimbang harus ngebatalin acara nanti. Dih, bisa digorok leher gue sama Jun Pyo!" Lanjut Jae Kyung.

"Apa hak Jun Pyo bikin acara ultah untuk gue?!"

Sepi sesaat. Entah Jae Kyung harus ngomong apa untuk membela diri. Ia bingung dengan pertanyaan Jan Di barusan. Ya, untuk apa mereka turut campur dalam urusan Jan Di dan Jun Pyo?! sesalnya.

"Benar, gue nggak berhak atas hidup Lo!" Ada suara berat dari arah bingkai pintu masuk ‘Kost’.

"Tapi, tolong. Jangan salahkan anak-anak. Gue yang nyuruh mereka, kok. Kalau Lo mau marah, marah aja sama gue. Acara nanti semuanya atas inisiatif gue kok, Jan Di!" Lanjut Jun Pyo.

Kegiatan di dalam ruang dapur terhenti. Semua cewek melongok. Jun Pyo telah berdiri di hadapan Jan Di dan Jae Kyung dengan sikap dingin.

"Tapi, gue nggak suka Lo seenaknya bikin acara siang nanti tanpa seizin gue, Jun Pyo!"

"Sorry. Itu kesalahan gue. Tapi, semua gue lakukan demi Lo. Gue pengen bikin Lo happy. Gue pengen menebus kesalahan gue yang lalu-lalu, Jan Di!"

"Ta-tapi, bukan begitu caranya...."

"Gue tahu Lo masih benci sama gue, Jan Di! Lo belum dapat menerima kegagalan cinta kita semasa SMP dulu. Tapi, swear! Waktu itu gue nggak bermaksud nyakiti hati Lo. Gue...."

Jan Di mengibaskan tangan. "Udahlah, Jun Pyo! Itu masa lalu!"

"Tapi gue masih mencintai Lo, Jan Di!" Jun Pyo berteriak tanpa mempedulikan penghuni ‘Kost’ yang menyaksikan mereka.

"Gue nggak bisa melupain Lo. Sampai kapan pun juga!"

Jan Di menutup telinganya dengan kedua belah telapak tangan. Namun Jun Pyo menarik kedua lengan Jan Di, menyentaknya dan memandang sepasang mata telaga itu dalam-dalam.

"Oke, oke. Dulu, memang gue yang salah karena nggak punya pendirian seperti yang lo tuduhin ke gue. Tapi, gue mau Lo jujur. Kenapa Lo nggak nyari ‘Kost’ lain begitu lo tahu sebenarnya gue ini anak Kang Hee Soo, pemilik ‘Kost’ ini?! Kenapa, kenapa, Jan Di?!"

Jan Di tercenung. Digigitnya bibir keras-keras. Airmatanya sudah menitik. Ada kalimat yang berdenyar di nuraninya. Kenapa?! Ya, kenapa?! Karena sesungguhnya ia pun masih mencintai Jun Pyo!

Dan ketika Jun Pyo menarik tubuhnya ke dalam pelukannya, ia tidak kuasa menolaknya lagi. Hanya airmatanya saja yang semakin menderas.

"Gue cinta sama Lo, Jan Di," jelas Jun Pyo.

"Dan gue nggak pengen kehilangan Lo lagi. Selamanya."

Jan Di terisak. Rasa sakit yang selama ini berkecamuk di dadanya mendadak lenyap. Mungkin sudah saatnyalah ia membuka pintu hatinya untuk pemuda cinta pertamanya itu.

"Met ultah ya, Jan Di," bisik Jun Pyo lembut, mempererat pelukannya.

Sementara itu terdengar riuh tepuk tangan nyaris seantero penghuni ‘Kost’. Persis penonton dalam ruang teater yang menyaksikan akhir cerita yang membahagiakan. Happy ending.


TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.mininovel-lovers86.blogspot.com