Silahkan Mencari !!!

Info!!!

kelanjutan fan fiction & recap drama semua ada di blog q yang baru
fanfic : www.ff-lovers86.blogspot.com
recap : www.korea-recaps86.blogspot.com
terima kasih...
Tampilkan postingan dengan label Song Hye Gyo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Song Hye Gyo. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Agustus 2010

Pastikan Dia Jangan Menunggu (Part 7-Tamat)

glitter-graphics.com

Title : Pastikan Dia Jangan Menunggu
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance
Episodes : 7 Part (Part 7-Tamat "Pastikan Dia Jangan Menunggu")
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 16 Agustus 2010, 03.44 PM
Cast :
Lee Min Ho
Son Ye Jin
Yoon Eun Hye
Song Hye Gyo
Rain Bi
Park Hae Mi (Min Ho’s Mother)
Kim Ja Ok (Ye Jin’s Mother)
Kim Young Ok (Kepala Rumah Tangga Keluarga Lee Min Ho)


Pastikan Dia Jangan Menunggu
Created By Sweety Qliquers

Part 7-Tamat
Pastikan Dia Jangan Menunggu


"Seharusnya Kak Lee Min Ho tidak perlu repot-repot begini. Sampai mengantarkan segala. Aku sudah minta tolong Song Hye Gyo."

"Song Hye Gyo datang kemarin. Tapi aku katakan, ingin aku antar sendiri."

"Ada yang penting?" Son Ye Jin duduk di hadapan Lee Min Ho. Menatapnya.

"Kalau tidak penting, tidak boleh menemuimu?"

"Bukan begitu. Biasanya Kak Lee Min Ho kan...."

"Tidak pernah mencarimu, apa lagi sampai ke rumah?" potong Lee Min Ho tersenyum. "Selama ini aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri, ya?"

"Tak apa. Melukis toh bukan hal yang jelek."

"Bukan itu. Maksudku...."

Son Ye Jin menunduk. "Aku mengerti."

"Seharusnya aku bisa lebih memahamimu."

"Tidak perlu. Pahami saja keinginanmu." Son Ye Jin menelan ludah pahit. "Sudah terima amplop coklat yang kutitipkan?"

"Ya."

"Rain Bi bilang, itu panggilan kerja untuk Kak Lee Min Ho."

Lee Min Ho mengangguk. "Pertambangan minyak di Batam-Indonesia."

"Kau mau menerimanya?"

"Menurutmu bagaimana?"

"Aku tidak punya pendapat untuk itu." Son Ye Jin menggeleng. "Kenapa tidak bertanya pada Yoon Eun Hye?"

"Yoon Eun Hye?" Lee Min Ho memajukan tubuhnya. "Karena kau melihatku memeluknya?"

"Sebenarnya bukan hanya itu."

"Apa lagi?"

"Aku tidak ingin membicarakannya."

"Kau belum tahu secara pasti bagaimana aku dengan Yoon Eun Hye. Kenapa langsung memutuskan?"

"Itu masalah pribadimu. Kenapa aku harus tahu?" elak Son Ye Jin. "Kenapa harus dibicarakan padaku?"

"Karena kau tersangkut di dalamnya."

"Aku?" Son Ye Jin tertawa. Pahit. "Aku bukan apa-apa."

"Kalau kau bukan apa-apa, dia tak akan cemburu. Yoon Eun Hye bukan tipe orang yang bisa menyerah begitu saja sebelum bertanding."

"Tidak perlu ada pertandingan. Toh memang sudah ada pemenangnya."

"Kau!" Lee Min Ho mengultimatum. "Kaulah pemenangnya!"

"Pembicaraan apa ini? Apa yang sedang kau bicarakan, aku tidak mengerti!" Son Ye Jin bangkit. Bagaimana dia bisa tahan duduk berhadapan begitu dan membiarkan Lee Min Ho mempermainkan perasaannya, mengobrak-abriknya?

"Duduk, Son Ye Jin. Aku belum selesai."

"Apa lagi?!"

"Aku diwisuda besok."

"Lalu?"

"Mau mendampingiku?"

"Kenapa tidak minta pada Yoon Eun Hye?"

"Yoon Eun Hye lagi, Yoon Eun Hye lagi!" Lee Min Ho menggeleng kesal. "Aku minta padamu! Bukan Yoon Eun Hye!"

"Apa yang kau inginkan sebenarnya?"

"Waktu Yoon Eun Hye meminta kembali, aku tidak tahu kenapa tidak ada lagi yang bisa kuberikan padanya. Di hatiku sudah tidak ada namanya lagi. Di hatiku hanya ada kau...."

Son Ye Jin menggeleng.

"Aku bukan apa-apa bagimu. Aku bukan apa-apa...."

"Karena aku tidak pernah membalas semua yang kau berikan?"

"Memang tidak harus, kan?"

"Son Ye Jin, waktu kau ke paviliun saat itu...."

"Aku tidak ingin mendengar penjelasanmu tentang alasan memeluk Yoon Eun Hye seperti itu. Itu urusanmu."

"Urusanmu juga." Lee Min Ho menatap tajam. "Aku perlu menanyakan ini, Son Ye Jin. Sebelum kuputuskan ke Batam atau tidak."

"Kau akan ke Batam?" Son Ye Jin menatap Lee Min Ho tanpa menyadari matanya menyimpan kepanikan.

"Tergantung jawabanmu."

"Aku?"

"Ya, bukan Yoon Eun Hye! Aku mohon, jangan bicarakan dia lagi. Kita sedang mendiskualifikasikan dia." Lee Min Ho menarik napas sejenak. "Kau ingin aku pergi ke Batam dan terikat kontrak yang memisahkan kita begitu lama?"

Son Ye Jin tak tahu harus menjawab apa. Kalau menuruti kata hatinya, maka dia ingin menjawab tidak.

"Apa kau ingin pergi?"

"Bagiku, kerja di manapun sama saja kalau tidak ada dirimu. Tapi kalau ada kau, kupilih kerja di sini. Sudah ada perusahaan lagi yang menawariku. Kalau kau ingin kita tidak berpisah, minta aku jangan pergi!"

Son Ye Jin mendongak. Menatap hitamnya mata Lee Min Ho yang bagus.

"Aku tidak ingin kau pergi," ucapnya pelan. "Aku...."

Lee Min Ho menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

"Aku tak akan pergi," jawabnya pasti. "Aku tak akan pergi!"


TAMAT

Pastikan Dia Jangan Menunggu (Part 6)

glitter-graphics.com

Title : Pastikan Dia Jangan Menunggu
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance
Episodes : 7 Part (Part 6 "Hatiku Patah")
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 16 Agustus 2010, 03.44 PM
Cast :
Lee Min Ho
Son Ye Jin
Yoon Eun Hye
Song Hye Gyo
Rain Bi
Park Hae Mi (Min Ho’s Mother)
Kim Ja Ok (Ye Jin’s Mother)
Kim Young Ok (Kepala Rumah Tangga Keluarga Lee Min Ho)


Pastikan Dia Jangan Menunggu
Created By Sweety Qliquers

Part 6
Hatiku Patah


"Apa kau mau menolongku, Song Hye Gyo?"

"Apa?"

"Kalau pulang kau selalu lewat rumah Kak Lee Min Ho, kan?"

"Kadang-kadang. Memangnya kenapa?"

"Kalau lewat, tolong mampir sebentar. Ada beberapa barangku yang tertinggal di tempatnya."

Song Hye Gyo menoleh. Menatap Son Ye Jin dengan dahi berkerut.

"Ada apa denganmu?"

"Tidak ada." Son Ye Jin tersenyum.

"Kenapa harus aku yang datang? Bukannya kau?"

"Aku sibuk. Harus belajar untuk ujian semester."

"Biasanya minta Lee Min Ho yang mengajarkan."

"Merepotkan dia saja."

"Hei, ada apa denganmu?" ulang Song Hye Gyo heran.

Son Ye Jin menarik napas panjang, menunduk sedikit.

"Kau benar. Aku memang bukan apa-apa untuk Lee Min Ho."


"Oo, Son Ye Jin." Song Hye Gyo memeluk Son Ye Jin. "Dia mengatakan itu padamu?"

"Aku melihatnya sendiri. Yoon Eun Hye kembali."

"Dia bilang akan kembali pada Yoon Eun Hye?"

"Lee Min Ho tidak menjelaskan apa-apa. Aku melihatnya memeluk Yoon Eun Hye. Apa itu tidak menjelaskan segalanya?"

"Son Ye Jin!"

Son Ye Jin menelan ludahnya dengan susah payah.

"Seharusnya aku mengerti sejak dulu," ungkapnya.

"Kalau saja kau mau mendengarkan aku."

"Ya. Tapi tidak ada gunanya memang. Sudah selesai. Semua." Son Ye Jin tersenyum pahit. "Jangan lupa, ya? Tolong ambilkan barangku."

"Mau titip sesuatu untuk Lee Min Ho?"

Son Ye Jin menggeleng.

"Tak akan ada gunanya."

***


"Nah, itu dia pulang!"

Son Ye Jin tertegun di ambang pintu. Ibu berdiri dari duduknya. Menyambutnya. Tapi yang membuat Son Ye Jin bingung adalah kehadiran Lee Min Ho di ruang tamu sekarang.

"Kemana saja kau, Son Ye Jin? Lee Min Ho sudah lama menunggumu."

"Jalan-jalan."

"Tante tinggal ke dalam ya, Lee Min Ho."


Lee Min Ho mengangguk. "Terima kasih, Tante."

Pandangannya dialihkan ke Son Ye Jin setelah Ibu gadis itu menghilang. Sementara Son Ye Jin masih saja berdiri di tempatnya.

"Kenapa melihatku seperti melihat UFO?"

Son Ye Jin tertawa kecil. "Tumben kau kemari? Ada apa?"

"Mengantarkan barang-barangmu."

Bersambung…

Pastikan Dia Jangan Menunggu (Part 5)

glitter-graphics.com

Title : Pastikan Dia Jangan Menunggu
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance
Episodes : 7 Part (Part 5 "Air Mataku Menetes")
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 16 Agustus 2010, 03.44 PM
Cast :
Lee Min Ho
Son Ye Jin
Yoon Eun Hye
Song Hye Gyo
Rain Bi
Park Hae Mi (Min Ho’s Mother)
Kim Ja Ok (Ye Jin’s Mother)
Kim Young Ok (Kepala Rumah Tangga Keluarga Lee Min Ho)


Pastikan Dia Jangan Menunggu
Created By Sweety Qliquers

Part 5
Air Mataku Menetes


"Ada telepon untukku, Bu?"

"Tidak." Ibu mendongak, menatap Son Ye Jin sambil berkerut. "Kau menunggu telepon dari siapa, Son Ye Jin? Penting ya sampai menanyakannya setiap hari?"

Son Ye Jin tersenyum pahit. Menggeleng perlahan. Jadi Song Hye Gyo benar. Dia memang tidak berarti apa pun untuk Lee Min Ho.

Sudah lebih dari sebulan Son Ye Jin tidak lagi menemui Lee Min Ho. Terakhir adalah saat Son Ye Jin mengantarkan amplop titipan Rain Bi. Itu pun Lee Min Ho tidak ada di rumah. Dia hanya ditemani Ibu Lee Min Ho. Setelah itu Son Ye Jin menjauh. Mencoba menahan diri. Dia harus tahu, apa memang ada yang bisa diharapkan.


Tapi ternyata tidak! Sama sekali tidak!

Lee Min Ho tidak mencarinya. Tidak menelepon. Tidak datang ke rumah.

Mungkin dia memang harus melupakan. Tidak usah mengharapkannya. Tapi bisakah? Sebulan ini saja Son Ye Jin sudah merasa kehilangan.

"Oya, Son Ye Jin. Tadi Song Hye Gyo datang. Katanya, mau pinjam diktat organik untuk kuis besok. Ibu suruh cari sendiri di kamarmu. Tapi katanya tidak ada."

Tertinggal di tempat Lee Min Ho saat Son Ye Jin memaksa cowok itu mengajarkannya sebelum ujian kemarin. Dan dia lupa mengambilnya kembali untuk dipinjamkannya pada Song Hye Gyo besok.

"Aku pergi dulu, Bu."

"Lho, baru pulang kok mau pergi lagi?"

"Ambil diktat di rumah teman. Kasihan Song Hye Gyo, besok dia perlu sekali."

Sekalian mengambil semua barangnya yang tertinggal di paviliun Lee Min Ho.

***


"Kak Lee Min Ho ada, Bi?" Rumah besar itu sepi saat Son Ye Jin tiba di sana. Hanya Bibi Kim Young Ok-kepala rumah tangga keluarga Lee Min Ho, yang menyambutnya.

"Ada di paviliun, Non. Biasa, sedang melukis. Masuk saja ke dalam."

Son Ye Jin melangkah masuk. Menyusuri taman belakang yang luas sebelum sampai ke paviliun.

"Kak Lee Min Ho!"


Son Ye Jin tertegun di ambang pintu. Batal melangkahkan kaki untuk masuk. Merasakan seluruh dunia berputar balik. Dan dia terjebak dalam pusaran tanpa henti.

Lee Min Ho menoleh. Mendapatkan Son Ye Jin tertegun di ambang pintu. Dia bisa membaca seluruhnya. Keterkejutan. Kesakitan. Semua di mata itu. Perlahan dilepaskannya pelukannya pada Yoon Eun Hye.

"Son Ye Jin."

"Maaf, aku tidak tahu kalau Kak Lee Min Ho ada tamu." Son Ye Jin mencoba tersenyum.

"Tak apa." Lee Min Ho menghampiri. Tenang seperti biasa. "Oya, kenalkan. Ini Yoon Eun Hye. Yoon Eun Hye, ini Son Ye Jin."

Son Ye Jin melebarkan senyumnya. "Maaf mengganggu. Aku hanya ingin mengambil barang-barangku yang tertinggal."

"Berserakan di mana-mana."

"Tidak penting, kok. Hanya diktat itu yang mendesak. Bisa tolong kau ambilkan?"

Lee Min Ho meraih diktat organik Son Ye Jin di atas lemari.

"Terima kasih. Aku pulang."

Son Ye Jin berbalik cepat. Melangkah cepat melintasi taman belakang rumah Lee Min Ho.

"Son Ye Jin!" kejar Lee Min Ho. "Katanya mau mengambil barang-barang yang lain?"

"Tidak begitu penting. Bisa tolong kau kumpulkan dulu? Nanti kuminta Song Hye Gyo mampir mengambilkannya. Dia suka lewat sini kalau pulang."


"Kenapa tidak diambil sendiri?"

"Aku sibuk. Sudah hampir ujian semester. Harus belajar keras."

"Tidak ingin kuajari seperti biasa?"

"Aku tidak mau mengganggumu. Lagipula, aku harus mandiri kan?" Son Ye Jin tersenyum lagi. Menyamarkan semua rasa yang sempat terlihat Lee Min Ho tadi. "Aku pulang, Kak."

"Aku antar ya?"

Hampir setahun berada di dekat Lee Min Ho, menghampirinya selalu, Lee Min Ho tidak pernah menawarinya mengantar pulang. Pun setelah seharian Son Ye Jin menemaninya di paviliun. Atau membereskan paviliun yang seperti kapal pecah. Lee Min Ho bahkan tidak pernah mengantar sampai ke depan rumah, tempat Son Ye Jin memarkirkan mobilnya.

Lalu kenapa baru sekarang, setelah segalanya terlambat?

"Aku bawa mobil."

"Kuantar sampai depan."

"Tidak perlu. Kak Lee Min Ho kan ada tamu. Kau kembali saja kedalam, dia pasti sudah menunggumu."

"Hati-hati."

Son Ye Jin mengangguk. Lee Min Ho bahkan tidak pernah berpesan seperti itu.

Di dalam mobil, airmata Son Ye Jin mengalir deras.

Bersambung…

Pastikan Dia Jangan Menunggu (Part 4)

glitter-graphics.com

Title : Pastikan Dia Jangan Menunggu
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance
Episodes : 7 Part (Part 4 “Lee Min Ho & Yoon Eun Hye”)
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 16 Agustus 2010, 03.44 PM
Cast :
Lee Min Ho
Son Ye Jin
Yoon Eun Hye
Song Hye Gyo
Rain Bi
Park Hae Mi (Min Ho’s Mother)


Pastikan Dia Jangan Menunggu
Created By Sweety Qliquers

Part 4
Lee Min Ho & Yoon Eun Hye


"Lee Min Ho!"

"Kapan kembali?"

"Kemarin. Aku meneleponmu tapi kau sedang keluar. Jadi hari ini aku kemari."

Yoon Eun Hye masih saja cantik, seperti dulu. Lebih cantik malah. Tapi membuat Lee Min Ho merasa sangat asing.

"Masih suka melukis, Lee Min Ho?"

"Seperti yang kau lihat."

"Kudengar kau sudah lulus. Selamat, ya? Kapan wisudanya?"

"Bulan depan."

Genggaman tangannya pun sudah terasa lain. Yoon Eun Hye yang kembali sekarang sudah terasa lain. Yoon Eun Hye yang kembali sekarang bukan seperti Yoon Eun Hye yang dilepasnya pergi dulu.

"Tempat ini tidak pernah dibereskan, ya?" Yoon Eun Hye mengalihkan pembicaraan. Mencoba mencairkan kedinginan Lee Min Ho.

"Kadang-kadang." Kalau Son Ye Jin datang dan Lee Min Ho tidak sedang melukis. Lee Min Ho akan berselonjor di sofa panjang, mendengarkan kicauan petasan injak itu dan membiarkan gadis itu menata paviliunnya sesuka hati.

"Bagaimana kalau kita keluar, Lee Min Ho?"

"Maaf, aku capek."

"Kutemani di sini, ya?"

"Tempat ini kotor."

"Tak apa. Aku ingin melihatmu melukis lagi seperti dulu."

Bagaimana bisa, sementara suasana di antara mereka tidak lagi sama seperti dulu?

***


"Kenapa cita-citamu berubah?" tanya Lee Min Ho dua tahun yang lalu saat Yoon Eun Hye memutuskan berangkat ke Amsterdam.

"Kesempatan ini jarang sekali datang, Lee Min Ho. Aku tidak bisa mengabaikannya begitu disodorkan padaku."

"Juga kalau itu berarti kita berpisah?"

"Hanya sementara!"

"Tapi kau bahkan tidak bisa memastikan kapan akan kembali. Bagiamana kalau kau tidak kembali?"

"Aku pasti kembali."

"Sampai kapan?"

"Tidak lama!"

"Setahun, dua tahun, sepuluh tahun? Atau kau ingin aku menunggu seumur hidup?"

"Lee Min Ho!"

"Kuliahmu sudah setengah jalan, Yoon Eun Hye."

"Bisa kulanjutkan kalau aku kembali."

"Asal kau kembali belum jadi nenek-nenek."

"Kau tidak suka aku pergi?"

"Ya! Aku tidak suka kau membuang semua yang sudah kau miliki hanya untuk mengejar sesuatu yang baru. Yang tidak pasti!"

"Aku tidak membuangnya, Lee Min Ho. Aku hanya menundanya. Aku tak akan tahu kalau tidak pernah mencoba."

"Bagaimana kalau kau gagal?"

"Aku bisa kembali, dan meneruskan kuliahku yang di sini."

"Asal kau tidak terlambat. Asal pintu belum tertutup rapat saat kau kembali."

Lee Min Ho tidak bisa mengerti. Tidak bisa memahami. Yoon Eun Hye sudah punya segalanya. Keluarga. Cita-cita yang akan diraihnya dalam dua tahun mendatang. Lee Min Ho yang mencintainya, yang didapatnya setelah menyingkirkan tidak sedikit saingan.

Dan sekarang Yoon Eun Hye bermaksud meninggalkan semua demi sebuah kesempatan ke Amsterdam. Hanya karena gadis itu menerima tawaran untuk hidup dan belajar musik di Negeri Kincir Angin itu. Tawaran dari salah seorang pamannya!

Musik?! Astaga! Lee Min Ho tahu betul, Yoon Eun Hye tidak pernah berminat pada dunia yang satu itu.

"Aku tidak bisa menghalangimu. Aku hanya berharap, kau sudah kembali sebelum semuanya terlambat."

Termasuk dalam hal memperoleh kembali hati Lee Min Ho.

***


"Siapa Son Ye Jin, Lee Min Ho?" Yoon Eun Hye meraih diktat Son Ye Jin yang tergeletak di atas lemari.

"Adik angkatan." Lee Min Ho mengambil diktat itu dan meletakkannya di atas lemari.

"Dia sering kemari? Kok bukunya ada di sini?"

"Bukan urusanmu."

"Tentu saja urusanku kalau semua belum terlambat." Yoon Eun Hye menatap Lee Min Ho sambil tersenyum. "Belum terlambat kan, Lee Min Ho?"

Bersambung…

Pastikan Dia Jangan Menunggu (Part 3)

glitter-graphics.com

Title : Pastikan Dia Jangan Menunggu
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance
Episodes : 7 Part (Part 3 “Segalanya Tentang Lee Min Ho”)
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 16 Agustus 2010, 03.44 PM
Cast :
Lee Min Ho
Son Ye Jin
Yoon Eun Hye
Song Hye Gyo
Rain Bi
Park Hae Mi (Min Ho's Mother)


Pastikan Dia Jangan Menunggu
Created By Sweety Qliquers

Part 3
Segalanya Tentang Lee Min Ho


Lee Min Ho melangkah ke dalam. Melewati ruang makan dan terhenti di dapur.

"Ibu!"

"Lee Min Ho, Dari mana saja kau?"

"Jalan-jalan sebentar."

"Tadi Son Ye Jin kemari. Lebih dari satu jam menunggumu."

"Ada pesan?"

"Dia meninggalkan memo dan amplop. Ibu taruh di atas kulkas."

Lee Min Ho menjangkau atas kulkas dan menemukan secarik memo kecil tertindih amplop coklat.

Titipan Rain Bi.
Katanya bulan depan Kak Lee Min Ho diwisuda. Bawa foto dan urus administrasinya di sekretariat.
Son Ye Jin.

Kemajuan!

Lee Min Ho tersenyum tipis. Biasanya gadis itu tidak pernah cukup menulis memo dengan selembar kertas kecil seperti ini.


"Sudah makan, Lee Min Ho?"

"Tadi sudah makan di jalan. Aku ke paviliun dulu, bu."

"Oo, hampir lupa." Ibu meninggalkan blendernya. Menghampiri Lee Min Ho, menatap putranya lembut. "Ada tamu untukmu. Dia sudah hampir setengah jam menunggu. Katanya mau menunggu di paviliun saja. Jadi Ibu biarkan dia di sana."

"Son Ye Jin?"

"Yoon Eun Hye."

Lee Min Ho tertegun.

"Temuilah, Lee Min Ho. Ada yang harus diselesaikan antara kalian."

"Semua sudah selesai," gumam Lee Min Ho tak bergeming. "Dia sudah memilih jalan hidupnya. Untuk apa kembali?"


"Dia berhak memberi penjelasan." Ibu mendorong Lee Min Ho lembut. "Temuilah. Kalau kau masih mencintainya, kenapa harus menolak?"

"Aku sudah tidak mencintainya lagi."

"Karena Son Ye Jin?" Ibu tersenyum. "Atau karena menuruti kemarahanmu saja?"

"Son Ye Jin hanya anak kecil, Ibu."

"Tapi kau bahkan tidak bisa menolak kehadirannya."

"Ibu!" Pusing di kepala Lee Min Ho bertambah.

Lee Min Ho tidak ingin menemui Yoon Eun Hye sebenarnya. Biar saja gadis itu menunggu di paviliun sampai bosan. Lee Min Ho bisa berbaring di kamarnya di atas. Tapi itu tak akan menyelesaikan segalanya. Biar pun Lee Min Ho menghindar, tetap saja masih ada yang tersisa diantara kami, batinnya.

Bersambung…

Pastikan Dia Jangan Menunggu (Part 2)

glitter-graphics.com

Title : Pastikan Dia Jangan Menunggu
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance
Episodes : 7 Part (Part 2 “Cintakah Dia?”)
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 16 Agustus 2010, 03.44 PM
Cast :
Lee Min Ho
Son Ye Jin
Yoon Eun Hye
Song Hye Gyo
Rain Bi


Pastikan Dia Jangan Menunggu
Created By Sweety Qliquers

Part 2
Cintakah Dia?


"Nanti ke rumah Lee Min Ho?"

"Mungkin. Kenapa?"

Rain Bi mengeluarkan amplop coklat dari dalam ranselnya. "Titip ini buatnya. Dan ingatkan dia, Son Ye Jin. Wisudanya bulan depan. Dia harus datang mengurus administrasi. Jangan lupa bawa foto."

"Oke."

"Terima kasih." Rain Bi melambai sambil menjauh.

"Kenapa harus kau yang merawat bayi besar itu?" tanya Song Hye Gyo setelah Rain Bi berlalu. "Mengingatkannya makan. Bahkan sekarang mengingatkan untuk acara wisudanya. Sementara dia sendiri tidak ingat apa-apa selain melukis."


"Bayi besar yang mana?"

"Tentu saja Lee Min Ho! Siapa lagi?"

"Oo." Son Ye Jin tersenyum manis. Kalau bukan aku, siapa lagi? Lagipula, Kak Lee Min Ho banyak membantuku."

"Kimia?" Song Hye Gyo mencibir. "Sebenarnya tanpa dia pun kau bisa."

"Biar saja. Kak Lee Min Ho toh tidak keberatan."

"Apa yang kau cari darinya, Son Ye Jin?"

"Tidak ada."

"Kau tidak sedang jatuh cinta padanya, kan?"

"Tidak!"

"Kau terlalu cepat menjawab."

Jatuh cinta? Son Ye Jin bahkan tidak pernah memikirkan itu. Dia hanua merasa senang berada di dekat Lee Min Ho.

"Apa dia tidak terlalu tua untukmu, Son Ye Jin?"

"Kau ini bicara apa, sih?!" Son Ye Jin mendelik. Mulai sebal dengan Song Hye Gyo yang nyinyir.

"Aku hanya kasihan melihatmu. Selama ini selalu kau yang menghampirinya. Memperhatikannya. Apa dia pernah bertindak sebaliknya?"


Son Ye Jin terdiam. Memang tidak pernah, jawabnya dalam hati.

"Aku tidak menuntut apa pun," sanggah Son Ye Jin. Tapi dia tahu hatinya tidak yakin.

"Kau tidak jujur."

"Jangan bicara lagi, Song Hye Gyo!"

"Kalau kau menghindar terus, semua bisa terlambat. Dia terlalu tua untukmu. Kau bahkan baru duduk di semester pertama sementara Lee Min Ho sudah lulus."

"Kami cuma berbeda lima tahun!"

"Lebih baik mencari yang seumur denganmu. Yang mendekatimu banyak, Son Ye Jin. Untuk apa mengejarnya terus kalau dia tidak mencintaimu?"

"Aku tidak bilang aku jatuh cinta padanya."

"Suatu saat pun kau pasti sampai pada kesimpulan itu."

Benarkah?

"Son Ye Jin, aku bisa bicara seperti ini karena aku mengenal Lee Min Ho dengan baik. Aku sudah berteman dengannya sejak dulu. Bahkan saat dia masih bersama Yoon Eun Hye. Dia sangat mencintai gadis itu."

"Aku tahu."

"Bahkan mungkin sampai sekarang," lanjut Song Hye Gyo hati-hati. "Kukatakan ini karena aku tidak mau kau terperangkap. Kau teman baikku, Son Ye Jin. Aku tidak mau melihatmu terluka tanpa ada yang bisa kulakukan."

Lalu dia harus apa?!

Son Ye Jin bahkan tidak tahu harus bagaimana. Dia bahkan tidak tahu apa benar dia jatuh cinta pada Lee Min Ho, seperti yang dikatakan Song Hye Gyo? Namun hati kecilnya membenarkan sebagian besar yang dikatakan Song Hye Gyo.

Apa dia harus mencoba menjauh dari Lee Min Ho, sekedar mencari tahu apa Lee Min Ho peduli padanya? Lalu bagaimana kalau ternyata Lee Min Ho memang tidak mencarinya, kalau ternyata bagi pria itu seorang Son Ye Jin memang bukan apa-apa?

Son Ye Jin tidak berani membayangkan.

Dia bahkan tidak berani memikirkannya.

Bersambung…

Senin, 30 Agustus 2010

Pastikan Dia Jangan Menunggu (Part 1)

glitter-graphics.com

Title : Pastikan Dia Jangan Menunggu
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance
Episodes : 7 Part (Part 1 “Si Petasan Injak”)
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 16 Agustus 2010, 03.44 PM
Cast :
Lee Min Ho
Son Ye Jin
Yoon Eun Hye
Song Hye Gyo
Rain Bi


Pastikan Dia Jangan Menunggu
Created By Sweety Qliquers

Chapter 1
Si Petasan Injak


"Kak Lee Min Ho!"

Petasan injak itu lagi!

"Kenapa au cuek seperti itu padaku?" Son Ye Jin menarik kursi mendekati Lee Min Ho. "Aku kan tidak pernah dapat B. Selalu C, itu pun setelah belajar sampai jungkir balik."

"Kalau tidak bisa kimia, kenapa nekat masuk Perminyakan?"

"Kalau tidak masuk Perminyakan, tidak akan bertemu denganmu?" Son Ye Jin tersenyum manis.

Gadis ini! gerutu Lee Min Ho dalam hati. Selalu saja bisa menangkis semua kata-katanya. Lee Min Ho menoleh. Menatap ke arah Son Ye Jin sekilas. Gadis itu bahkan tidak menyadari kalau kehadirannya benar-benar mengganggu konsentrasi Lee Min Ho.

"Kemari cuma mau lapor hasil ujianmu?"

"Kak Lee Min Ho keberatan aku datang kemari, ya?" Son Ye Jin menatap profil samping Lee Min Ho. Pria itu masih saja menatap lurus ke arah kanvasnya.

"Bisa kan menjawab pertanyaan dulu sebelum bertanya balik?" tegur Lee Min Ho.

Son Ye Jin terkekeh. "Pertanyaan Kak Lee Min Ho seperti mau mengusirku."




Aku memang mau mengusirmu! geram Lee Min Ho dalam hati. Setiap Son Ye Jin muncul, lukisannya pasti terbengkalai. Tidak pernah selesai. Ada-ada saja permintaan gadis itu. Minta diajari kimia. Mencari buku. Kaset. Nonton bioskop. Segalanya, bahkan sampai makan! Dan dengan caranya sendiri, Son Ye Jin selalu berhasil membuat Lee Min Ho menuruti keinginannya.

"Kak Lee Min Ho sudah makan?"

"Sudah."

"Aku belum. Temani aku makan keluar, ya."

"Aku sedang melukis," tolak Lee Min Ho.

"Nanti kan bisa diteruskan lagi. Ayolah, Kak Lee Min Ho! Tidak kasihan melihatku kelaparan?"

"Kau kan bisa makan sendiri."

"Ah, mana enak makan tanpa teman."

"Kenapa tidak makan dulu sebelum kemari?" gerutu Lee Min Ho tanpa menyembunyikan rasa kesalnya.


"Aku mau mentraktirmu. Kan ujianku dapat B karena kau yang mengajariku."

"Aku tidak minta bayaran. Simpan saja uangmu."

"Kenapa kak Lee Min Ho menolak niat baik orang?"

"Lukisanku belum selesai."

"Nanti bisa dilanjutkan. Aku janji akan menemanimu untuk menyelesaikannya."

"Tidak perlu," tolak Lee Min Ho cepat. "Nanti malah lebih tidak selesai."

Bersambung…

Sabtu, 14 Agustus 2010

Beginilah Cinta


Title : Beginilah Cinta
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 14 Agustus 2010, 10.58 AM
Cast :
Lee Hong Ki
Song Hye Gyo


Beginilah Cinta
Created By Sweety Qliquers


Cinta itu aneh!

Sebab sampai sekarang aku tidak pernah bisa mengerti apa arti cinta. Banyak hal-hal yang tidak adil terjadi di seputar cinta. Misalnya begini: si Playboy mengobral cinta dan hasilnya sukses berat dengan bertepuk dua tangan, meski cinta si Playboy itu palsu. Nah, giliran si Serius yang telah berikrar cinta sampai mati, eh, hasilnya malah bertepuk sebelah tangan. Aneh, tidak?

Menurut teori sih, cinta itu sakral. Artinya, cinta itu bukan sebentuk permainan yang sering dilakukan oleh anak-anak kecil. Tapi dalam prakteknya, cinta itu tidak begitu. Lha, bagaimana tidak? Aku sering menyaksikan sebaya-sebayaku melecahkan cinta mereka. Mereka menduakan cinta.

Kata mereka, pacar tidak cukup jika hanya satu. Paling sedikit dua. Buat cadangan dan jaga-jaga. Uh, memangnya ban mobil pakai cadangan segala. Aku kok, mendadak menjadi bodoh memikirkan cinta. Apa aku yang tidak becus dalam asmara, atau mereka yang kelewat moderat dalam hal ini?!

Tapi lupakanlah. Soalnya aku tidak terlalu mengambil hati. Untuk apa sih pusing-pusing ke hal yang tidak bermanfaat begitu? Lebih baik aku memikirkan urusanku sendiri. Dan terutama ke persoalan yang menyangkut Song Hye Gyo!


Ya, Song Hye Gyo. Mengingat gadis manis itu, Aku selalu senewen dibuatnya. Mengejar dia sama susahnya mengejar layangan yang putus. Mungkin mengejar Song Hye Gyo ini lebih sulit. Karena dia sering menghilang entah kemana. Kalau layangan kan, palingan menyangkut di genteng rumah.

Aku ingat, aku mengejar Song Hye Gyo ketika aku masih duduk di bangku SMP kelas tiga. Waktu itu dia masih kelas satu SMP. Jadi mengejarnya juga menggunakan gaya si ‘Amank’, tuh monyet tetangga yang doyan pisang! Namun jangan menyamakan diriku dengan si ‘Amank’. Karena aku masih lebih manusiawi daripada si ‘Amank’, sedangkan dia lebih hewani dariku.

Oya, ngomong ke soal mengejar-ngejar gadis manis itu, sebetulnya aku malu untuk menceritakannya. Bukan kenapa-kenapa, tapi masa’ iya mengejar Song Hye Gyo itu makan waktu sampe lima tahun dan belum juga mendapatkannya!

Tapi, meski begitu aku tidak berputus asa, terlebih-lebih lagi untuk berputus napas atawa bunuh diri. Ih, tidak janjilah, ya? Walaupun dia mengataiku muka badak. Walaupun dia menolakku mentah-mentah. Tidak peduli. Cintaku pada Song Hye Gyo jalan terus. Dan cinta yang kuserahkan padanya itu murni 24 karat. Asli, tidak susut atau dipotong pajak.

Eh, namun jangan menganggapku manusia super yang tahan banting. Aku juga bisa patah hati dan menangis. Aku bisa melek semalam-malaman jika mengingat cintaku yang malang ini. Tapi, tentu saja aku tidak bersedih terus-terusan. Sebab kupikir masih banyak hal yang belum kubereskan. Cucian-cucian yang menumpuk di kamar kos saja belum kubereskan. Juga sewa kos untuk bulan lalu belum kulunasi.

***


Ya, begitulah Song Hye Gyo. Orangnya keras, adatnya pedas. Kalo dia lagi ngambek lantaran pendekatan gencar yang kulakukan tanpa embel-embel malu-maluin. Jadi deh mukanya kayak cabe yang siap diulek buat dijadiin sambel terasi. Lagaknya segalak macan ompong. Karena kekerasan hatinya itu pula maka sampe kini aku nggak kesampaian ngerebut hatinya. Entah terbuat dari batu apa hatinya itu.

Padahal, berani sumpah pocong, aku sudah berkorban banyak untuk dia. Seluruh waktu dan hidupku nyaris hanya tercurah ke dia. Ke mana-mana dan di mana-mana, di benak dan hatiku ya cuma ada dia. Hanya dia!

Tapi, ya itulah Song Hye Gyo. Meskipun aku bersujud di bawah telapak kakinya untuk mengemis-ngemis cintanya pun, aku tak akan diterima. Kurun waktu yang lama telah membuktikan jika dia itu, idealis banget. Alasannya setiap kali menolakku, dia bilang begini:

"Eh, Lee Hong Ki, kita tuh mending berteman aja. Misalnya nanti kita sejodoh, toh pada dasarnya kita pasti akan bersatu."

Lantas setiap kali dia mengucapkan kalimat itu, maka aku hanya dapat menelan ludah yang tiba-tiba terasa pahit seperti kopi. Ah, Song Hye Gyo, sebenarnya apa, kekuranganku? Padahal aku kan, tidak jelek-jelek amat bila dibandingkan dengan pesaing-pesaingku. Bahkan, konon aku adalah pria tertampan dibandingkan para penghuni di bonbin (Kebun Binatang)!

Atau, mungkin Song Hye Gyo meragukan cintaku? Itu yang sering kulontarka padanya bila sudah merasa kecewa sekali. Tapi apa tanggapannya?

Dia bilang begini, "Lee Hong Ki, Kau ini bagaimana, sih? Kau itu sahabatku. Jadi aku tidak perlu meragukan cintamu sebagai seorang teman lagi. Kau baik, sangat baik sebagai seorang sahabat. Oke?"


Ups! Kalimat. Just a friend! Itu yang tidak kuinginkan. Itu yang paling kubeeeenciii....
Tapi apa mau dikata lagi? Song Hye Gyo memang tidak mencintaiku. Aku sadar itu. Sebab dia menolakku, itu jelas. Sebab ada nama dan wajah lain yang mengisi ruang hatinya. Yang pasti, someone special itu bukan aku. Karena Song Hye Gyo....

Ah, forget it! Malam ini aku harus tidur, karena besok aku harus kuliah pagi-pagi sekali. Aku hanya berharap seperti malam-malam yang kemarin, semoga Song Hye Gyo dapat mengubah pendiriannya yang setegar karang batu. Atau, biarkan jodoh yang bicara seperti yang selalu dia katakan. Jika kita berjodoh, toh pada dasarnya kita pasti akan bersatu.

Yap, mungkin.

Huaaap... aku mengantuk berat.

Kulihat di luar jendela saat kurebahkan kepala di bantal. Langit kelam berjelaga awan hitam. Hatiku sunyi dan hampa seperti langit yang tidak berbintang itu. Selanjutnya ada lara yang bersenandung di sana. Tak kutahu persis lagu dan irama apa. Hanya titik-titik airmataku yang bisa menjawabnya.


TAMAT

Rabu, 11 Agustus 2010

Senyuman Di Balik Pintu


Title : Senyuman Di Balik Pintu
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance, Family
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 10 Agustus 2010, 04.16 PM
Cast :
Rain
Song Hye Gyo
Choi Il Hwa (Rain’s Father)
Kim Ja Ok (Rain’s Mother)



Senyuman Di Balik Pintu
Created By Sweety Qliquers

Untuk kesekian kali, kakiku merambah genangan becek aspal jalan yang berlubang. Malam ini terasa bertambah dingin. Lampu jalan yang lapisan kristalnya mulai nampak kotor, menambah bias keredupan malam. Sesekali tubuhku dihantam genangan air yang terlindas roda mobil. Aku hanya diam.

Aku merasa malam ini aku dihujat malam.

Di depan pintu rumah. Aku termenung, memandang kayu rapuh pintu itu. Namun untuk kesekian kali aku bangga melihat pintu itu yang masih setia menungguku. Dan tetap setia menjaga istriku yang terbaring tak berdaya.

Tak perlu aku membangunkan istriku, seperti malam-malam sebelumnya.

Kurebahkan badanku di kursi.

"Baru pulang, Rain?" Wanita yang kucintai itu bertanya lirih. Masih saja, dia selalu menyebut nama kesayanganku.

Aku tersenyum, kucoba menghampiri dia walaupun badan ini rasanya ditelikung lelah yang luar biasa, dan enggan beranjak dari sandaran.

"Iya, Song Hye Gyo. Hm, tadi hujan di luar deras sekali. Sekarang sudah berhenti." Tanganku membelai rambutnya yang mulai kumal.

Dulu rambut Song Hye Gyo yang panjang lebat dan hitam mengkilat adalah salah satu keindahan yang memikatku.

"Bajumu basah. Ganti baju dulu, Rain. Sebentar masuk angin."

Masih saja perhatiannya membungkam kejenuhanku.

"Oya, Song Hye Gyo. Eh, ini obatnya diminum dulu...."


Aku melangkah ke bilik kamar. Selama sakit, istriku selalu tidur di ranjang, di balik lemari penyekat ruangan tamu. Aku sudah kehabisan kata untuk mengingatkannya agar tidur di kamar. Namun dia selalu berdalih untuk selalu pertama hadir menyambut ketika aku pulang.

***

Di depan cermin, kucoba memandang wajahku yang kuyu. Kucoba tersenyum agar aku tahu, bagaimana wajahku jika tersenyum ketika menghadapi istriku. Sebab aku yakin, senyuman adalah satu-satunya hadiah terindah yang selalu aku berikan kepada istriku.

"Ini senyuman paling menyakitkan, senyuman tanpa keikhlasan." Dengan cepat-cepat aku membuang wajahku dari cermin setelah merutuk dalam batin.

Kuambil pakaian kering yang belum sempat aku setrika. Lalu menuju ke dapur untuk memanaskan air. Sambil menunggu air untuk kopi, kakiku melangkah di atas sajadah. Ya, kupasrahkan semua beban ini di hadapan-Mu....

"Tuhan... aku tidak meminta dan tidak meratap. Tuhan... aku hanya berharap agar tatapan-Mu tidak pernah alpa dalam mengawasiku."

Tidak ada doa khusus dan tidak ada amalan khusus. Karena dalam pandanganku, doa dan amalan adalah hilangnya keikhlasan. Sebab doa dan amalan berujung suatu yang minta balasan.
Padahal ketika Tuhan memberi, hal tersebut merupakan sebuah konsekuensi dan tanggung jawab. Makanya aku tidak mau main-main terhadap doa dan amalan.

Suara air yang mendengung dalam didih, menyeret langkahku meninggalkan arah kiblat tepat ketika kusudahi doa. Kutuangkan gelas dan menyeduh kopi dan segelas teh hangat.

***

"Sudah diminum obatnya?" Kuangkat kepala Song Hye Gyo dan kurebahkan badannya untuk bersandar.

"Belum, Rain. Minta tehnya."

Teh manis hangat kuku kesukaan istriku, kuambil dan kuminumkan. Ada perasan sejuk di hati ketika aku bisa berbuat begitu. Mungkin sesejuk teh manis yang mengaliri tenggorokannya.

"Song Hye Gyo... aku mau ke rumah Papa."

"Ada keperluan apa, Rain?" Mata sayu istriku melirik wajahku. Ada kecurigaan di sudut matanya.

Ia tahu selama ini aku tidak pernah menengok Papa – ayahku, begitu juga ia. Setelah perkawinan sakral yang tanpa restu dan tanpa didasari keikhlasan di hati mereka – terutama ayahku, kami tak pernah menengok mereka lagi. Bukannya menaruh dendam, namun kami mengurung pertengkaran yang bakal terjadi.

"Song Hye Gyo, maafkan aku...." Aku menahan napas.

Matanya mencari jawaban. Tapi tak ada kalimat yang terjaring. Dan ia hanya diam dalam sunyi.

"Kau tidak harus sakit begini terus. Kau harus mendapat perawatan yang lebih baik. Aku akan pinjam uang ke Papa."

"Rain, Aku tidak apa-apa. Kondisiku sudah cukup baik. Aku sudah bisa bangun... huk-huk...."

Istriku mencoba menyenangkanku dengan mencoba bangkit, namun dia tidak bisa menyembunyikan sakitnya sehingga batuknya mulai mendera.

"Coba lihat, Kau belum sembuh Song Hye Gyo!" Kurebahkan badannya untuk berbaring kembali. Dan aku juga membaringkan tubuhku di sampingnya.

Batuknya menyeruak ke langit-langit, menampar ibaku, mengeringkan airmataku.

"Rain, kau tidak perlu ke rumah Papa, kalau hanya untuk pinjam uang."

Aku hanya membisu. Antara keraguan dan ketakutan. Keraguaan akan penerimaan Papa terhadap kehadiran anaknya yang hilang. Dan ketakutan akan kesehatan istriku yang akan semakin parah.

Aku memijit punggung istriku. Dan tanpa sadar, diselingi batuknya dan rencana esok pagi yang sudah tersusun di benakku, aku sudah tertidur dalam kelelahan.

***


Halaman rumah yang sudah bertahun tidak aku singgahi, masih nampak seperti dulu. Masih asri karena selalu dimanja tangan Mama.

Sejenak, aku teringat masa kecil. Aku berayun bersama adikku di samping Papa yang sedang membetulkan letak pot bunga kala itu.

Dengan perasaan berat, kuberanikan untuk menapak arah menuju pintu begitu lamunan silam itu buyar dari benakku. Ada satu kenangan setiap aku melangkahkan kaki di halaman rumah ini.

"Masih ingat jalan pulang?!" Suara berat yang lama pernah aku kenal, sertamerta menghentikan langkahku.

Kuarahkan pandangan secara lamat menuju arah sumber suara. Kutemukan wajah Papa tanpa guratan kangen di wajahnya. Yang ada hanya rasa asing nan hambar. Saling tak mengenal.

"Bagaimana kabarnya, Papa dan Mama...?" Aku mencoba mengakrabi sepotong hati yang beku di hadapanku. Ah, dulu kami pernah demikian karib dalam hari-hari. Namun sekarang....

"Hal terlucu yang pernah aku dengar!" Lelaki itu sertamerta membuang muka.

Aku seperti mayat hidup, dicaci tanpa berani menatap, dihakimi tanpa berani membela.

"Aku butuh uang, Pa. Song Hye Gyo sakit."

"Semua orang butuh uang!" ujarnya menghardik. "Dan hanya orang yang tidak tahu diri saja yang berani mengemis uang."

Perkataan itu membuat aku semakin melupakan niatku, melupakan dia sebagai seorang ayah, dan melupakan aku sebagai anak yang terlahir dari darah dan dagingnya sendiri. Tapi setiap mengingat istriku yang terkapar sakit, maka urunglah niatku menentang!

"Song Hye Gyo sakit, Pa!" Aku masih memohon. "Aku pinjam uang tidak banyak, hanya untuk ongkos perawatan ke rumah sakit. Dan tidak lama uang itu akan aku kembalikan."

"Lebih baik mengasihani anjing daripada...."


"Pa, cukup!" Suara yang aku kenal datang menghardik dari balik pintu.

"Kembali saja kau ke dalam tidak usah ikut campur!" Orang yang sebenarnya tidak aku anggap sebagai ayah itu memaki seorang wanita paruh baya, yang tidak lain adalah ibuku.

"Dan kau... pergi dari sini! Dan jangan pernah ke sini!"

Aku menatap galau. Tiba-tiba kebencianku kembali membuncah. Ia sama sekali terlihat bukan seorang ayah bagiku. Ia iblis! Iblis yang melaknat putranya yang khilaf menentukan jalan hidupnya karena melakukan hubungan terlarang sebelum menikah dengan seorang gadis bernama Song Hye Gyo. Bagiku, dia terlihat seperti seorang pemerkosa yang memaksa ibu untuk melahirkan aku – ya Tuhan, maafkan aku atas kesalahan ini!

Dan aku menyalahkan diriku, kenapa aku mengabaikan perkataan istriku.

Aku melangkah kembali, menapaki rumput halaman rumah yang menyimpan kenangan.
Sesampai di ujung gang, sepatah suara menghentikan langkahku. Suara yang lamat-lamat aku kenal dan pernah kuakrabi suatu waktu dulu.


"Pak Jung Bin?!"

"Tn.Muda, ini titipan Ibu."

"Siapa yang kasih, Pak Jung Bin?"

"Ibu. Eh, Tn.Muda tinggal di mana?"

Aku terdiam

"Wah, bilang ke Mama, terima kasih. Akan kukembalikan secepatnya."

Aku berlalu secepatnya setelah menerima amplop yang diserahkan lelaki tua yang sudah mengabdi hampir separo hidupnya pada keluargaku. Tanpa membukanya pun aku sudah tahu apa isinya. Uang! Uang yang kuperlukan untuk keperluan perawatan Song Hye Gyo di rumah sakit!

"Tn.Muda, Tn.Muda Rain!"

Tak kugubris. Suara itu memanggilku, dan pelan-pelan hilang di pertikungan jalan menuju jalan raya.

***

Dalam perjalanan aku mampir ke rumah seorang teman yang bertugas sebagai seorang mantri, dan bertanya berapa ongkos perawatan di rumah sakit. Namun aku mendapatkan jawaban yang tak pasti. Padahal, hanya ia satu-satunya jalan menuju akses murah berobat ke rumah sakit yang berongkos mahal.

"Wah, maaf. Kau langsung saja ke administrasi rumah sakit. Aku sedang sibuk."

Aku pulang dengan informasi nihil.

Siang menjalar sore.

Sambil menunggu reda hujan yang tiba-tiba mengguyur tak begitu lama tadi, kusempatkan untuk membeli makanan kesukaan istriku. Sambil menatap kecipak air hujan yang belum reda, aku membayangkan raut wajah istriku yang akan tersenyum manis. Sebab hari ini aku membawakan makanan kesukaannya, dan esok hari dia tidak akan di ranjang menanti aku pulang. Sebab ia akan ditemani oleh perawat di rumah sakit!

Aku bersenandung dalam hati. Dan berharap hari-hari esok akan melewati hari dengan keindahan....

Hujan belum reda.

Sore yang merambat berlalu menggapai malam. Hari ini seperti kemarin. Untuk kesekian kali, kupaksa kakiku merambah genangan becek aspal jalan yang bertambah lubangnya dari hari ke hari. Namun malam ini tidak terasa dingin. Ada semangat yang menyala yang menghangatkan badanku, meski lampu jalan masih seperti dulu dengan lapisan kristalnya mulai nampak retak, menambah kelu gelapnya malam dari hari ke hari.

Masih saja tubuhku dihantam genangan air yang terlindas roda mobil. Namun kali ini aku hanya tersenyum. Sebab ada secercah harap yang membenderang, meski berupa noktah. Tidak seperti malam-malam lalu.

***

Di depan pintu rumah. Aku tersenyum. Menyapa kayu rapuh pintu itu. Aku harap untuk kesekian kali, pintu itu dapat bercerita suatu waktu, dan membuatku bangga bahwa seseorang masih setia menungguku di rumah. Seseorang yang telah bersamaku mengarungi kehidupan yang mahaberat ini. Dan namanya Song Hye Gyo, istriku tercinta!

Dalam, sangat dalam harapan yang akan kulukiskan.

Di bawah lantai segelas air teh tumpah, beling pecah berhamburan bercampur darah yang memerah kental. Sesosok tubuh tergeletak kaku bersandar di ranjang. Matanya memejam, namun senyumannya tetap hadir untuk menanti aku pulang. Seperti biasa!

Pandanganku mengabur. Sekelilingku gelap.

Aku hanya bisa mengingat kalimat yang sering kucetuskan padanya yang membandel:
"Aku sudah kehabisan kata untuk mengingatkanmu, Song Hye Gyo. Kau tidur saja di kamar. Jangan menungguku pulang."

Namun dia selalu berdalih untuk selalu pertama hadir menyambut ketika aku pulang....


TAMAT

Jumat, 23 Juli 2010

Lagi-Lagi Uang


Title : Lagi-Lagi Uang
Author : Sweety Qliquers
Genre : Family
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 20 July 2010, 04.16 PM
Cast :
Song Hye Gyo
Rain


Lagi-Lagi Uang
Created By Sweety Qliquers


Bagi semua pengantin baru, apalagi pasangan muda, aku rasa honeymoon is a must. Sepertinya kalau bukan karena alasan yang mendesak misalnya jadwal kontrak kerja yang padat, tak sepasang pun pengantin baru ingin menunda atau bahkan melewatkan bulan madu mereka.

Aku dan Rain, suamiku, pun merasa demikian. Walaupun tidak berbudget besar, kami tetap mengupayakan terlaksananya bulan madu kami ke Singapura. Segala persiapan mulai dari membuat paspor, memesan tiket dan penginapan, memilih obyek-obyek wisata yang akan dikunjungi, hingga menyusun koper kami lakoni dengan penuh semangat sebab begitu lewat hari H, kami langsung bertolak.

Hmm... sudah kubayangkan pasti seru rasanya melancong ke tempat baru berdua saja dengan orang yang kita sayangi.

***


Pipi kiri dan kanan ini masih terasa pegal karena kebanyakan cipika cipiki saat menyalami para tamu yang hadir di perhelatan pernikahan kami sehari sebelumnya. Namun, girangnya hati membuat tawa canda dan senyum tak henti-hentinya lepas untuk satu sama lain saat pesawat lepas landas meninggalkan bandara KangSan.

Lalu, apakah benar honeymoon itu semanis madu? Seheboh persiapannya? Tak terlupakan sepanjang masa? Ah, itu omong kosong! Lho?

Sungguh, mungkin tak akan ada orang percaya. Di masa honeymoon yang kata orang enak dan berkesan, aku dan Rain bertengkar! Meski tidak sampai berteriak-teriak, ini yang paling pahit dalam hubungan kami. Rain bahkan mengutarakannya saat kami menanti pesta kembang api di River Hong Bao, yang sebelumnya kubayangkan bakal romantis sekali.

Kecewa sudah pasti. Banget, malah. Siapa sih yang ingin impiannya dirusak. Dan penyebab dari semua itu tak lain dan tak bukan adalah uang. Rain merasa 'kaget', bahkan dibuat 'ngeri' dengan pengeluaranku yang menurutnya boros. Padahal, barang-barang yang kubeli itu kebanyakan titipan ortu. Aku bahkan tak sempat membelikan oleh-oleh untuk teman-teman dan saudara-saudaraku yang lainnya.

Dari masalah boros tersebut, dia jadi sangsi mempercayakan pengelolaan uang padaku. Dia juga takut aku membelanjakan uang bersama untuk hal-hal yang menurutnya sekunder. Menurutnya, aku harus menyusun prioritas dalam berkeluarga. Menghabiskan 90.000 rupiah untuk eye shadow merek cukup ternama menurutnya hanya membuang-buang uang, sementara di pasar bisa diperoleh merek lain dengan harga jauh lebih murah. Hello?

Aku tak menampik jika suamiku memang orang yang sederhana. Dia baru mengganti barang jika sudah rusak atau menurutnya tidak layak pakai lagi. Tapi wanita mana yang tak butuh aksesoris penunjang penampilannya? Lagipula, barang-barang bermerek yang kupakai sekarang, sebagian besar diberi ortu. Aku bukan penggila merek, hanya saja terkadang baju yang jatuhnya lebih bagus itu kebetulan bermerek.


Toh, ada juga kaos-kaos milikku yang harganya tak lebih dari 20.000 rupiah per potong. Yang penting bagus dan nyaman dipakai. Kosmetik yang cukup mahal pun, aku beli dengan hasil keringat sendiri. Kecuali pembersih wajah, kebanyakan habis pakai lebih dari setahun. Sebagai salah seorang pembicara di perusahaan, aku rasa wajar bila penampilan perlu sedikit dipoles.

Sejak zamannya masih ditunjang ortu, aku telah terbiasa mandiri untuk pos-pos pengeluaran penunjang penampilan. Aku juga penganut paham yang mengatakan bahwa dengan cinta, semua bisa teratasi. Asal ada cinta, hidup susah pun jadi senang. Ah, naif sekali rasanya sekarang.

Memang logis kalau dia bilang kebutuhan menabung untuk membeli rumah, biaya pendidikan anak kelak, dan hal-hal lain menyangkut keluarga harus diprioritaskan. Tanpa disinggung olehnya pun, aku sudah tahu, mengerti, dan berniat melakukannya. Begitu dini dia memvonisku gila belanja, padahal belum sepeser pun uangnya kuhabiskan untuk berfoya-foya membeli baju, tas atau kosmetik pribadi.

Aku dan Rain sangat jarang bertengkar. Jadi wajar jika tak pernah terlintas dalam pikiranku, di masahoneymoon pun pertengkaran bisa terjadi. Serasa ada benda tajam yang menikam ulu hatiku. Aku merasa terusik oleh kata-katanya, ketidakpercayaannya. Kok tega-teganya ya, dia merusak bulan madu kami gara-gara uang. Ironisnya, kami baru saja melewati Fountain of Wealth... di Suntec City. Bahkan make a wish segala di sana.

***


Mungkin karena kekecewaan yang berlarut, aku jatuh sakit. Mataku bengkak dan perih karena terlalu banyak menangis. Parahnya lagi, badanku demam tinggi. Rain yang awalnya masih bersikap dingin jadi panik saat keesokan harinya, aku tak kunjung membaik.

Mataku merah sekali walaupun lensa kontak telah kulepas. Salahku juga tetap memakai lensa kontak di kala tidur, dan bodohnya aku lupa membawa kacamata cadangan. Di saat aku merasa sedih, sakit, dan lonely itulah, Rain begitu telaten mengurusku. Merasa berdosa kali, pikirku sinis. Dia bahkan membawaku ke rumah sakit, khawatir terjadi sesuatu pada mataku. Padahal ongkos berobat di Singapura kan mahal.

Kami pulang lebih awal dari rencana semula. Repot, sudah pasti. Plus, uang deras mengalir seperti air keran. Dari membiayai rumah sakit, membeli kacamata, mengganti jadwal tiket, semuanya butuh dana ekstra. Sekembalinya ke tanah air, aku benci sekali bila ada yang menanyakan honeymoon kami. Ada yang menyalahkan karena kami terlalu cepat berangkat, bukannya beristirahat dulu sehabis hari H. Ada juga yang menyayangkan sekaligus menghibur bahwa masih ada kesempatan di lain waktu. Aku sih tidak terlalu berharap.

Namun, tak seorangpun tahu alasan sebenarnya. Bahwa Honeymoon kami berakhir dengan pertengkaran dengan uang sebagai pemicunya. Memalukan. Dan aku jadi agak pesimis dengan bahtera perkawinan kami selanjutnya.

***


Dua tahun berlalu. Terkadang, aku masih sakit hati jika teringat honeymoon perdana kami yang tidak mengenakkan. Tapi, aku memaafkan suamiku. Rain pun nampaknya sudah melupakan hal ini. Toh, aku tidak pernah seenaknya membelanjakan uang bersama. Ada skala prioritas dan penghematan juga sehingga kami selalu dapat menabung. Selain itu, Rain banyak memperbaiki sikapnya sejak aku melahirkan putri pertama kami. Mungkin trauma juga melihatku bersusah payah melahirkan dengan banyak darah.

Menurutku, dia sekarang lebih sabar dan penyayang. Walaupun tidak selalu ikut begadang karena harus bekerja esoknya pagi-pagi sekali, dia cukup perhatian dengan dukungan morilnya di tengah kelelahan fisik yang aku hadapi di bulan-bulan awal mengasuh bayi kami.
Kejadian itu juga telah mengubah pola pikirku. Wanita perlu bekerja, full-time part-time tidak masalah. Tidak bisa seratus persen bergantung pada suami. Kendati suami tetap menafkahi, untuk kesenangan pribadi, aku lebih suka merogoh kocekku sendiri. Jadi nggak perlu setiap saat bertanya dan meminta pada suami. Kalau barang yang kita minta dikasih sih tidak masalah, tapi kalau harus berargumentasi dulu itu yang bikin malas. Biarpun akhirnya diberi juga kan, rasanya sudah tidak sama lagi.

Aku pun mulai menata kembali perasaanku. Membangun penilaian positif setelah sebelumnya ternoda oleh kenangan pahit. Mencoba mensyukuri apa yang kumiliki sekarang. Rain suami yang rajin, bertanggung jawab, dan setia. Meski tergolong ganteng, dia tidak hobi tebar pesona. Keluarga mertuaku pun welcome sekali. Belum pernah terjadi konflik mertua-menantu pasca pernikahan seperti yang sempat menghantui pikiranku. Di rumah, aku berusaha menjadi ibu rumah tangga dan istri yang baik. Di tempat kerja, aku tetap bisa profesional.

Sampai suatu ketika, Rain mempertanyakan sebuah buku anak-anak yang baru kubeli untuk Seo Shin Ae, putri kecil kami. Satu buku kecil sebesar telapak tangan orang dewasa bergambar harganya 20.000 rupiah. Menurutnya itu kemahalan. Aduh! Aku jadi geram.

Aku kira wajar harganya segitu. Buku ini bukan buku biasa, melainkan terbuat dari karton tebal yang antisobek dan tahan air. Yang berukuran lebih besar, harganya lebih mahal lagi. Buntut-buntutnya, aku beli yang mini. Eh, masih kena omel juga.

"Kalau kemahalan, ya coba dikliping sendiri saja lalu dilem di karton tebal dipotong, dijadikan buku, dan disampul!" sahutku kesal.

Bayangkan, sejak Shin Ae lahir, Rain hanya pernah sekali membelikan mainan murah. Sampai saat ini, mainan-mainan Shin Ae semuanya hibah dari sepupu-sepupu dan hadiah dari ortu. Jauh di lubuk hatiku, aku kecewa karena Rain yang notabene bapaknya tidak pernah memperhatikan hal yang satu ini.


Di lain pihak, kakek dan neneknya selalu membelikan oleh-oleh baju, mainan, bahkan susu formula danpampers. Miris rasanya. Bukankah bapak yang hubungan darahnya lebih dekat dengan anaknya sendiri seharusnya yang lebih memperhatikan? Lebih berperan dalam tumbuh kembang anak? Memangnya anak cuma perlu dikasih makan? Dari buku-buku dan mainan-mainannya kan, anak bisa belajar banyak hal. Mengenal warna, mengenal berbagai jenis binatang. Siapa tahu malah dapat memacunya untuk lebih cepat berbicara dan bertambah pandai. Kekesalanku pun memuncak ke ubun-ubun.

"Song Hye Gyo, Kau pikir suami mencari uang untuk kesenangan pribadi? Apa gunanya aku capek-capek bekerja dari pagi sampai malam membanting tulang?" katanya berdalih saat aku mempertanyakan rasa sayangnya pada keluarga.

"Kalau begitu, kan tidak ada salahnya membelikan mainan anak yang berkualitas," sahutku.

"Aku bukannya tidak setuju kau membelikan mobil-mobilan, lego, dan sebagainya. Hanya saja, anak kita belum cukup umur. Percuma kau membelikannya sekarang. Nanti malah hilang atau rusak saja."

"Tapi terbukti kan, Shin Ae sekarang jadi lebih pintar. Dia bisa mengenali binatang-binatang yang ada di buku ini."

"Kamu kan bisa mencari yang lebih murah. Nggak harus yang kertasnya tebal anti apa katamu? Tahan air dan antisobek?"

Aku menghela napas.

"Katanya cinta, kok... gara-gara uang kita bertengkar terus. Katanya sayang, kok... untuk urusan uang kamu tidak mau mengalah. Padahal aku nggak pernah meminta sesuatu yang aneh-aneh." kataku meninggi.

Karena gemas, kutinggalkan Rain begitu saja. Belum sempat melangkah keluar pintu, aku mendengar suara kertas koran yang sedang dibaca Rain robek ditarik-tarik oleh Shin Ae. Wah, kebetulan sekali. Rasakan.

***


Malam itu, pikiranku mengembara. Aku merenung sendiri di tengah sunyi dan sepi yang kurasakan. Pulau-pulau sisa noda tangisan di bantalku mungkin sudah bertambah lagi. Tatkala mencoba memejamkan mata, aku merasakan kepalaku dibelai. Aih, jujur hati ini rasanya bagai diguyur air sejuk.

Setelah tiga tahun mengarungi bahtera pernikahan kami, aku pikir kendala yang ada seharusnya bukan makin memisahkan melainkan menyatukan kami dan membuat masing-masing pihak lebih mengerti satu sama lain. Memang ada kalanya sifat sulit diubah. Atas nama cinta, saat itulah pengertian kita dituntut.

Anyway, setiap hubungan cinta punya warna tersendiri. Aku pernah mendengar cerita dari seorang sahabat ibuku, yang suaminya setiap hari pulang larut malam sekitar jam satu-dua dini hari untuk berkumpul dengan teman-temannya bahkan ada kalanya mabuk. Istrinya sudah kenyang menangis di tahun-tahun awal pernikahan mereka. Sekarang dia sudah dapat menerima dan easy going saja. Salut aku, di tengah keadaannya yang seperti itu dia masih tetap mencintai suaminya.

Rain jauh lebih baik dari suaminya itu. Meski ketat soal uang, masih banyak sifat-sifatnya yang positif. Dia termasuk kepala rumah tangga yang baik. Mungkin, di saat kehidupan kami sudah lebih mapan, dia bakal perlahan-lahan berubah. Satu hal lagi, aku mencoba mengingatkan diriku sendiri bahwa dia adalah jodoh terbaik dari Tuhan.

Sudahlah, memang nobody's perfect. Aku pun terlelap di tengah belaian hangat suamiku. Esok pagi, aku pasti bisa tersenyum kembali.


TAMAT