Silahkan Mencari !!!

Info!!!

kelanjutan fan fiction & recap drama semua ada di blog q yang baru
fanfic : www.ff-lovers86.blogspot.com
recap : www.korea-recaps86.blogspot.com
terima kasih...
Tampilkan postingan dengan label Jejoongwon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jejoongwon. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 September 2010

Jejoongwon (Episode 36-Tamat)

Mendadak pintu diketuk dengan kasar. Mong Chong membukakan pintu, mempersilahkan orang tersebut masuk. Do Yang masuk terburu-buru.

"Kuharap aku tidak terlalu terlambat!" kata Do Yang, terengah-engah.

Allen melanjutkan pidatonya.

Nyonya Yoo menangis terharu (dan marah karena tahu kalau Hwang Jung menggantikan suaminya sebagai pemimpin pasukan pejuang). Allen memintanya tersenyum.

"Iya, aku akan tersenyum." kata Nyonya Yoo.

Allen menceritakan perjalanan Hwang Jung dan Seok Ran sejak pertama mereka bertemu sampai kini mereka menikah. Mengharukan banget!

"Aku, Hwang Jung, akan menerima Yoo Seon Ran sebagai istriku. Aku akan melaksanakan tugasku sebagai suaminya. Aku akan mencintai dan membantunya. Aku akan menghargai dan melindunginya. Ia akan menjadi istriku satu-satunya. Aku akan setia dan mencintainya selamanya."

Setelah Seok Ran menyatakan janjinya dan Hwang Jung memakaikan cincin pernikahan di jari Seok Ran, Allen mensahkan mereka sebagai suami istri.

"Sekarang, pengantin pria boleh mencium pengantin wanita." kata Allen.

Seok Ran dan Hwang Jung terkejut.

"Tapi ada ibuku disini..." tolak Seok Ran.

"Aku tidak tahu!" seru Nyonya Yoo seraya menutup matanya. "Aku tidak lihat!"

Karena Hwang Jung dan Seok Ran menggunakan pernikahan barat, maka mereka harus mengakhiri prosesi dengan ciuman.

Hwang Jung mencium Seok Ran.

Nyonya Yoo mengintip.

"Terima kasih, Dr. Baek." kata Hwang Jung ketika mereka hendak pergi berbulan madu. "Aku sangat berterima kasih dan meminta maaf padamu."

"Lebih baik kalian cepat pergi." kata Do Yang.

Hwang Jung tersenyum. "Aku... Kurasa aku tidak bisa kembali lagi ke Jejoongwon." katanya. "Tolong jaga Jejoongwon, Dr. Baek."

Do Yang kelihatan sangat terkejut dan matanya berkaca-kaca.

Hwang Jung membungkuk untuk memberi hormat, kemudian menjabat tangan Do Yang.

Do Yang kembali ke Jejoongwon. Mereka sangat sedih karena pernikahan Hwang Jung dan Seok Ran harus dilakukan dengan rahasia.

"Sejak kecil, Dr. Hwang selalu menjadi pemimpin, dan sekarang ia harus jadi pemimpin pasukan pejuang juga." kata Gwak sedih. "Kuharap ia makan dengan baik."

"Yang mencemaskan itu seharusnya Dr. Yoo." kata Miryung. "Kadang-kadang aku merasa kau jatuh cinta pada Dr. Hwang."

"Itu karena kami teman sejak kecil." kata Gwak.

Hwang Jung dan Seok Ran pergi ke makam Ma Dang Gae dan istrinya. Hwang Jung memamerkan Seok Ran pada kedua orang tuanya. Dalam perjalanan pulang, Hwang Jung menggendong Seok Ran di punggungnya.

Chung Hwan sedang berada di markas pasukan pejuang. Mong Chong melapor padanya bahwa ia sudah mengantarkan Hwang Jung dengan selamat ke makam orang tuanya.

"Kapan ia akan datang kemari?" tanya Chung Hwan.

"Beberapa hari lagi." jawab Mong Chong.

"Sayang sekali masa bulan madunya hanya sebentar." kata Chung Hwan sedih. "Kau yakin ia aman?"

"Ia aman." kata Mong Chong menenangkan.

Do Yang datang ke restoran. Ia berjalan ke arah piano dan memainkannya ringan. Kelihatan sekali kalau Do Yang merasa kesepian dan menahan tangisnya. (Tenang aja, kan masih ada Han Ga In yang selalu setia. Hehee...)

Hwang Jung dan Seok Ran berencana menghabiskan masa bulan madu mereka di desa tukang jagal. Mereka menginap di salah satu rumah warga.

Setelah mandi, Hwang Jung masuk ke kamar. Ia duduk di lantai, sementara Seok Ran sudah duduk di atas kasur.

"Selimut ini pasti baru." kata Seok Ran. "Sangat halus."

Hwang Jung memegang-megang selimut itu. "Ya, sangat halus." katanya setuju.

"Kenapa kau duduk disitu?" tanya Seok Ran malu-malu.

"Karena kakiku masih basah." jawab Hwang Jung gugup seraya mengeringkan kakinya dengan handuk. "Jika tidak dikeringkan, kau akan terkena jamur." Aih, capek deh nih dokter...

Seok Ran tertawa.

"Sudah selesai." kata Hwang Jung. "Sekarang kita bisa tidur. Kau tahu, seharusnya mereka memberi kita satu selimut lagi."

"Dr. Hwang. Karena kita sudah menikah, kita bisa berbagi selimut." kata Seok Ran.

"Ah, benar juga! Aku lupa!"

Keesokkan harinya di Jejoongwon, Dr. Avison mengatakan pada semua staf bahwa Hwang Jung mengundurkan diri sebagai Kepala Staf. Hwang Jung mencalonkan Do Yang sebagai penggantinya. Semua orang setuju.

Do Yang mengajari murid-murid kedokteran Jejoongwon.

"Siapa yang bisa mengatakan padaku gejala-gejala malaria?" tanya Do Yang pada para murid, pertanyaan yang sama yang pernah diajukan Dr. Allen pada angkatannya.

Salah seorang murid menjawab, dan murid yang lain melengkapi.

Do Yang tertawa, teringat masa lalunya dengan Hwang Jung.

"Mereka seperti Dr. Baek dan Dr. Hwang." kata Miryung. "Mereka bersaing memperoleh posisi pertama."

"Begitukah?" tanya Do Yang. "Kalau begitu, aku ingin menanyakan satu hal. Apa yang lebih penting dibandingkan dengan persaingan dalam kedokteran?"

Tidak seorangpun dari keduanya bisa menjawab.

"Jawabannya adalah keinginan untuk belajar." jawab Do Yang. "Keinginan itu bisa lebih mengembangkan kemampuan kalian dibandingkan dengan persaingan."

Pengangkatan Do Yang sebagai Kepala Staf membuat Watanabe kebakaran jenggot. Ditambah lagi hampir selesainya Rumah Sakit Severance Jejoongwon. Hansung tidak akan bisa lagi menggembar-gemborkan mengenai fasilitas modern yang mereka miliki.

"Satu-satunya hal yang mengibur adalah bahwa Hwang Jung tidak akan bergabung dengan Baek Do Yang di rumah sakit yang baru." kata Watanabe.

"Maksudmu, dari segi kedokteran, kau senang Hwang Jung bergabung dengan pasukan pejuang?" tanya Kim Don.

Watanabe mendengus.

Hwang Jung memulai tugasnya sebagai pemimpin pasukan pejuang. Begitu mengetahui bahwa Hwang Jung memimpin pasukan, makin banyak warga yang ikut serta bergabung bersama mereka.

Target penyerangan meraka adalah Kedutaan Jepang. Setelah pasukan pejuang lain bergabung, mereka akan langsung menyerang.

Di rumah, Seok Ran menjahitkan sebuah baju hangat untuk Hwang Jung. Ia menuliskan inisial HJ pada baju itu.

Hwang Jung pulang. Ia melihat makanan yang sudah disiapkan Seok Ran. "Nasinya gosong." komentarnya.

"Maaf." kata Seok Ran sedih. "Sebelum aku pergi, aku tidak bisa membuatkanmu nasi yang baik."

"Karena bulan madu sudah selesai, kau harus segera kembali." kata Hwang Jung. "Aku juga harus pergi ke gunung."

Seok Ran berjanji pada Hwang Jung akan belajar memasak agar bisa membuatkan makanan yang enak untuk Hwang Jung.

Hwang Jung mengantar Seok Ran pulang ke rumah. Seok Ran menangis.

"Ingat janji kita tadi malam?" tanya Hwang Jung.

"Kita akan mengucapkan selamat tinggal seperti akan bertemu lagi besok." kata Seok Ran.

Hwang Jung mengangguk.

Beberapa hari kemudian, setelah menjenguk Seung Yeon yang sedang sakit, Seok Ran berjalan pulang bersama Chilbok. Ada dua orang pengintai yang mengikuti mereka.

Seok Ran melihat seorang peramal. Ia meminta Chilbok mengawasi pengintai, kemudian pergi mendekati si tukang ramal.

"Tolong ramal aku." kata Seok Ran.

"Beritahukan tanggal lahirmu." kata peramal itu dengan suara aneh.

"Kau tahu tangal lahirku." kata Seok Ran, tersenyum.

Peramal itu mengangkat wajahnya. Ia adalah Hwang Jung yang menyamar.

"Aku datang karena merindukanmu." ujar Hwang Jung. "Dan ada alasan lain. Tanggal penyerangan sudah ditetapkan."

Wajah Seok Ran berubah murung.

"Karena itulah aku datang untuk menemuimu." tambah Hwang Jung.

Seok Ran mencoba menguatkan diri dan menahan air matanya. "Semuanya akan baik-baik saja."

Hwang Jung tertawa. "Tentu saja." katanya. "Aku hanya ingin melihat istriku dan menggenggam tangannya."

"Tolong baca garis tanganku."

Kabar mengejutkan muncul di surat kabar. Pasukan Jepang melakukan serangan mendadak di markas pasukan pejuang dan membunuh banyak diantara mereka.

Seok Ran ketakutan. "Ia akan baik-baik saja, bukan?"

"Kita hanya bis aberharap." kata Do Yang, panik. "Seok Ran, apa kau tahu cara menghubungi Dr. Hwang?"

"Aku tahu, tapi..."

Seok Ran berlari ke tempat Hwang Jung menyamar menjadi peramal. Tapi Hwang Jung tidak ada disana. Ia menunggu, tapi Hwang Jung tidak juga muncul.

Malam itu, Seok Ran kembali ke Jejoongwon. Mong Chong sudah ada di sana dan mengabarkan bahwa Hwang Jung baik-baik saja. "Ia akan datang di pembukaan Rumah Sakit Jejoongwon Severance." kata Mong Chong.

Seok Ran sangat lega mendengarnya.

Hari pembukaan Rumah Sakit Jejoongwon Severance.

Pihak Jejoongwon lama mengucapkan selamat tinggal pada rumah sakit Jejoongwon.

Watanabe dan Duta Jepang datang ke acara pembukaan tersebut.

Ketika Seok Ran sedang berdiri seorang diri, Hwang Jung mendekatinya.

"Pasukan kami tidak lagi bisa berperang disini." katanya. "Kami menerima pesan bahwa Jenderal Hong Beumdo di Manchuria membutuhkan dokter. Mendengar itu, pikiranku menjadi jernih. Walaupun aku tidak bisa berperang menggunakan senjata, tapi aku bisa berjuang demi negaraku dengan mengobati prajurit yang terluka di medan perang. Aku kewalahan dengan posisiku sebagai pemimpin dan tidak memenuhi potensiku sebagai dokter. Sekarang, aku bisa berjuang dengan cara menyelamatkan nyawa."

"Kau akan pergi ke Manchuria?" tanya Seok Ran. "Aku akan ikut denganmu."

Hwang Jung menolak, tapi Seok Ran bersikeras. "Kita akan pergi bersama." katanya.

Sebelum pergi, Seok Ran pamit pada Seung Yeon. Keadaan Seung Yeon sekarat. Karena bersikeras menyembuhkan pasien, Seung Yeon terkena TBC. Sebelum meninggal, Seung Yeon menitipkan pasien Bogu pada Seok Ran.

Seok Ran datang terlambat ke stasiun kereta.

"Aku... aku tidak bisa pergi ke Manchuria denganmu." kata Seok Ran pada Hwang Jung. "Maafkan aku. Aku lupa bahwa aku seorang dokter. Kau pergi karena pasien membutuhkanmu disana. Aku harus tinggal karena pasien membutuhkan aku disini."

"Aku akan mengurus segalanya disini." kata Do Yang.

Hwang Jung tersenyum. "Ya, lakukan itu." katanya. "Sebelum menjadi istriku, Dr. Yoo adalah seorang dokter. Aku ingin menghormati keinginannya. Aku akan pergi sekarang."

Seok Ran menangis. Hwang Jung memeluknya.

Hwang Jung naik ke kereta. Ia mengulurkan tangannya pada Seon Ran.

Seok Ran menggenggam tangan Hwang Jung sampai laju kereta semakin kencang dan genggaman mereka terlepas.

5 tahun kemudian.

Meja kerja Baek Do Yang terpasang beberapa pigura foto. Pigura berisi foto Naoko, foto Hwang Jung bersama para pejuang dan foto Seok Ran bersama Hwang Jung.

Di puncak sebuah bukit, seorang pria berjalan pelan.

"Dr. Hwang!" panggil Seok Ran.

Hwang Jung menggandeng tangan Seok Ran. "Aku ingin membangun rumah sakit kita disini." katanya.

TAMAT

Jejoongwon (Episode 35)

Hwang Jung membaca kembali puisi yang dituliskan Jenderal Huh Wi untuknya.

Do Yang masuk ke ruangan. "Apa ini?" tanyanya ketika melihat kertas yang dipegang Hwang Jung. Ia membacanya dan tersenyum. "Aku jadi ingat kata-kata terakhir Dr. Heron." katanya. "Ia berkata bahwa ia

ingin mencintai Korea lebih dalam. Ia ingin mencintai pasiennya lebih ketimbang mengobati mereka. Kurasa guru-guru kita orang yang sangat hebat."

"Ya." ujar Hwang Jung setuju. "Seseorang sepertiku tidak bisa dibandingkan dengan mereka."

Do Yang menggeleng. "Kau berbeda." katanya. "Seorang dokter yang hebat tidak akan memilih untuk menjadi dokter yang hebat, tapi di dipilih."

"Dipilih?"

"Ya." jawab Do Yang. "Kelihatannya, orang yang menulis puisi itu sudah memilihmu." Do Yang melihat Hwang Jung. "Apa ada sesuatu yang mengganggumu?"

Hwang Jung diam. Ia kembali ke kamarnya dan berpikir.

Keesokkan harinya, Hwang Jung memeriksa Raja. Mendadak, para prajurit Jepang datang.

"Yang Mulia, semuanya sudah siap." kata prajurit. "Jenderal Ito Hirobumi sudah menunggumu untuk melepaskan tahta pada putramu."

"Kapan aku setuju untuk turun tahta?" tanya Raja.

"Aku tidak akan menduduki tahta sekarang!" seru Putra Mahkota. "Pergi sekarang juga!"

"Kau tidak ingin pergi?" tanya prajurit, mengancam.

"Yang Mulia sudah menyuruhmu pergi!" seru Hwang Jung. "Pelepasan tahta adalah peristiwa besar bagi kami! Beraninya orang asing memerintahkan apa yang harus kami lakukan!"

"Kau tidak ingin melepaskan tahta?" tanya prajurit, tidak memedulikan Hwang Jung. "Kalau begitu, kami akan menggunakan pengganti untuk melaksanakan pelepasan tahta."

Dengan seenaknya, Duta Jepang dan kroni-kroninya membacakan pidato seakan-akan dia adalah wakil Raja. Duta Jepang mengatakan dalam pidatonya bahwa ia akan menurunkan tahta pada Putra Mahkota. Mereka memaksa kasim istana untuk membawa stempel kerajaan untuk mengesahkan pidato tersebut.

Kasim menangis.

Hwang Jung tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya berdiri diam dan memandang dengan marah.

Hwang Jung menemui Allen.

"Aku merasa aku melakukan sebuah kesalahan besar." kata Hwang Jung. "Semua orang bergabung dengan pasukan pejuang, tapi aku malah menolak menjadi pemimpin pasukan karena ingin melindungi Jejoongwon. Aku menyesali keputusanku. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan."

"Hanya kaulah yang bisa menjawab itu." kata Allen. Ia mengatakan pada Hwang Jung agar tidak terlalu khawatir karena seseorang memiliki takdirnya sendiri walau saat ini terasa sulit. Jika waktunya tiba, Hwang Jung akan sadar apa takdir yang harus dijalaninya.

Pihak Jepang melakukan program intensif untuk melindungi warga dan prajurit mereka dari penyakit, salah satunya adalah dengan memeriksa wanita-wanita penghibur.

Alih-alih memeriksa, Kim Don dan Suzuki memerintahkan para wanita melepas pakaiannya agar mereka bisa memeriksa para wanita itu secara keseluruhan. Wanita penghibur Jepang setuju saja, tapi wanita penghibur Korea tidak mau.

Wanita penghibur Korea datang ke Jejoongwon dalam keadaan babak-belur karena dipukuli. Mereka bercerita bahwa mereka dipaksa membuka pakaian dan diseret ke ruang pemeriksaan. Namun karena para wanita melawan, orang-orang Jepang memukuli mereka habis-habisan.

Miryung menangis melihat teman-temannya.

"Kita tidak boleh membiarkan ini." kata Hwang Jung.

"Kita harus melakukan sesuatu." kata Seok Ran, setuju. "Mereka memiliki maksud tersembunyi dan cara mereka sangat tidak berprikemanusiaan."

Ketika Seok Ran dan Seung Yeon sedang memeriksa pasien wanita di rumah sakit Bogu, Kim dan dan Sato datang. Mereka membuat keributan dengan mengatakan bahwa Bogu mencuri pasien mereka.

Seok Ran melawan. "Semua pasien disini datang dengan kemauan mereka sendiri." katanya. "Lalu apa masalahnya?"

"Ternyata Korea punya wanita yang cerdas juga." kata Sato, mendekati Seok Ran.

"Ini adalah wanita yang tidak bisa dimiliki Baek Do Yang." kata Kim Don.

"Begitu?" Sato mengangkat tangannya untuk menyentuh dagu Seok Ran. Seok Ran menghempaskannya dengan kasar. Sato tertawa. "Baek Do Yang punya selera yang bagus pada wanita. Katakan pada Baek Do Yang bahwa Sato ingin bertemu dengannya."

Sato dan Kim Don berjalan pergi.

Tidak lama kemudian Hwang Jung datang. "Ada apa?" tanyanya. "Aku baru saja melihat Kim Don pergi."

Di Jejoongwon, seorang pasien datang. Ia merintih-rintih karena wasirnya sakit. Mong Chong memapahnya.

"Pengelola Oh! Ini keponakanmu!" kata Mong Chong panik.

Orang itu memberikan pandangan penuh arti pada Chung Hwan.

"Keponakan?" tanya Chung Hwan heran, tapi kemudian ia mengerti. "Ah, Chushik! Ayo cepat masuk!"

"Apa kau sudah mendengar mengenai penurunan tahta?" tanya Chushik. Entah Chushik ini nama asli atau nama palsu. "Dr. Hwang, disaat seperti ini, seseorang sepertimu harus maju. Jika kau memimpin pasukan, akan lebih banyak lagi yang bergabung."

Hwang Jung diam.

"Sepertinya akan sulit." kata Chushik, melihat ekspresi Hwang Jung. "Aku akan menganggap jawabanmu 'tidak'. Aku pergi."

"Tunggu." panggil Hwang Jung. "Tolong tunggu sebentar. Berikan aku waktu beberapa hari untuk berpikir. Aku harus merundingkan ini dengan seseorang terlebih dahulu."

"Ya." kata Chushik.

Dua orang wanita datang ke RS Bogu untuk berkonsultasi. Mereka menderita bintik-bintik ditubuh setelah memakan obat yang diberikan RS Hansung.

"Bisakah aku lihat obat itu?" tanya Seok Ran.

Kedua wanita memberikan obat yang sama. Sebuah pil berwarna merah.

Seok Ran berpikir sebentar, kemudian membawa obat itu ke Jejoongwon.

"Ini antibiotik yang dikembangkan di Jepang." kata Do Yang. "Antibiotik ini sangat efektif, tapi kemudian dilarang karena menimbulkan efek negatif pada sistem pencernaan dan ginjal."

"Lalu kenapa mereka menggunakannya disini?" tanya Seok Ran.

"Sepertinya ini adalah pengembangan dari antibiotik itu." jawab Do Yang. "Mereka pasti berpikir akan sia-sia jika dibuang begitu saja." Do Yang menambahkan bahwa teman sekelasnya yang mengembangkan obat tersebut bernama Sato.

Seok Ran baru teringat bahwa Sato mengatakan ia ingin menemui Do Yang. Do Yang memutuskan untuk datang menemui Sato, sementara Seok Ran dan Hwang Jung pergi ke rumah sakit lain untuk memboikot obat antibiotik Hansung.

Do Yang datang ke Hansung. Ia masuk ke ruangan Sato dan meletakkan obat dengan kasar di atas meja.

"Kau yang memberi resep antibiotik ini, bukan?" tanyanya. "Ini antibiotik terlarang!"

"Kau tahu antibiotik ini. Tapi ini berbeda dengan yang kau ingat." kata Sati dengan sikap menyebalkan.

"Mungkin ini produk pengembangan." kata Do Yang. "Tapi apakah ini lolos klinikal tes?"

"Kami sedang melakukan klinikal tes." jawab Sato.

"Dengan siapa? Dengan pasien yang datang kemari?" tanya Do Yang tajam. "Jika kau memberi resep obat ini lagi, aku tidak akan melepaskanmu." Do Yang berjalan pergi.

"Tunggu!" teriak Sato. "Aku yakin kau sudah tahu bahwa Naoko kembali ke Jepang sebagai ganti nyawamu."

Do Yang terkejut.

"Apa aku membuatmu terkejut?" tanya Sato sinis. "Tapi sekarang, nyawamu tidak bisa lagi dilindungi. Aku memperingatkanmu. Jika kau berani datang kemari lagi, kau akan mati tanpa diketahui oleh siapapun." ancamnya.

Do Yang kembali ke Jejoongwon dengan sedih, memandang tumpukan surat Naoko yang datang dari Jepang.

Setelah mengetahui bahwa pihak Agency Kesehatan melakukan hubungan dengan rumah sakit lain, memboikot obat yang diberikan Hansung dan merawat para wanita penghibur, Duta Jepang sangat marah, "Kita tidak boleh membiarkan itu." katanya. "Siapa yang memimpin mereka?"

"Hwang Jung." jawab Watanabe.

"Tentu saja." kata Duta Besar. "Orang seperti dia hanya akan membuat kita pusing jika terus dibiarkan hidup. Aku akan menangkap dia secepatnya. Kondo! Pergi dan tangkap Hwang Jung sekarang juga!"

Oh, ternyata nama prajurit Jepang yang super menyebalkan itu adalah Kondo. "Ya!" serunya.

Hwang Jung menceritakan pada Seok Ran bahwa Chushik datang menemuinya dan memintanya bergabung dengan pasukan pejuang.

Seok Ran tersenyum. "Apakah sulit untuk menolak mereka lagi?" tanyanya pelan. "Aku mengerti mengapa mereka memilihmu. Apa kau tahu? Kau seperti lilin. Saat gelap di gunung, sebuah lilin bisa membantumu menemukan jalan pulang. Tidak peduli seberapa gelap, semua orang akan mengikuti cahaya lilin. Tapi, lilin itu membakar dirinya sendiri. Ia tidak sadar bagaimana ia lenyap dan kesakitan. Bergabunglah dengan pasukan pejuang. Jika kau ragu karena aku, tapi ada banyak alasan lain untukmu bergabung."

Tidak lama kemudian, beberapa pasukan jepang muncul di restoran dan menangkap Hwang Jung.

Hwang Jung dibawa ke penjara.

Watanabe melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada Tuan Yoo. Ia menggunakan alat setrum untuk membuat Hwang Jung mengakui hubungannya dengan pasukan pejuang.

"Katakan siapa taman-temanmu." kata Kondo.

Hwang Jung tertawa. "Kau menyuruhku mengarang cerita?" tanyanya tanpa rasa takut.

Watanabe mulai menyiksa Hwang Jung habis-habisan.

Dengan bantuan Allen, pihak Jejoongwon berniat mempublikasikan klinikal tes terlarang yang dilakukan Hansung lewat sebuah surat kabar bernama Daehan. Mereka menyangkutkan hal tersebut dengan penangkapan Hwang Jung. Dengan begitu, mereka berharap Hwang Jung bisa dibebaskan.

Setelah disiksa, Hwang Jung dimasukkan ke kamar tawanan. Disana, ada dia orang tawanan lagi. Sato dan Suzuki menyuruhnya meminum obat. Hwang Jung melihat obat itu. Itu adalah pil merah antibiotik yang diberikan Hansung pada pasien.

Hwang Jung berpura-pura meminumnya, namun kemudian mengeluarkannya lagi setelah Sato dan Suzuki pergi.

Nyonya Yoo sangat sedih dan frustasi mendengar calon menantunya ditangkap.

"Kenapa nasib kita begitu buruk?" tanyanya pada Seok Ran. "Mulanya ayahmu, sekarang calon menantuku."

"Ibu, semuanya akan baik-baik saja." ujar Seok Ran, mencoba menenangkan.

"Kau tahu betapa kejamnya Jepang!" seru Nyonya Yoo. "Kau pikir mereka akan melepaskannya dengan mudah?"

Mendadak Mak Saeng datang. Ia menenangkan Seok Ran dan Nyonya Yoo bahwa Hwang Jung pasti akan baik-baik saja.

Keesokkan harinya, artikel di surat kabar mengenai obat antibiotik Hansung terbit. Pihak Jejoongwon penuh harap, sementara pihak Jepang mencak-mencak mengatakan bahwa berita tersebut salah. Duta Jepang memanggil para wartawan untuk mewawancarainya. Selain itu, ia juga menyogok mereka dengan amplop berisi uang.

"Kita lihat saja bagaimana usaha mereka untuk mengeluarkan Hwang Jung." kata Duta Jepang pada Kim Don. "Hwang Jung harus mati. Dengan begitu, pasukan pejuang tidak akan bisa berbuat apa-apa."

Beberapa saat kemudian, telepon berdering. Duta Jepang mengangkatnya.

Akhirnya Hwang Jung dibebaskan. Jang Geun memeriksa Hwang Jung. Beruntung luka Hwang Jung tidak terlalu parah.

Setelah keluar dari kamar Hwang Jung, Do Yang berjalan-jalan di Jejoongwon.

"Pada kekasihku, Do Yang-sama." Do Yang teringat isi surat Naoko. "Kau tidak akan tahu berapa banyak aku berusaha lari dari rumah karena merindukanmu. Tapi mereka selalu bisa menangkapku sebelum aku naik ke kapal." Naoko bercerita bahwa ia memohon-mohon pada ayahnya agar ayahnya membebaskan teman Do Yang (Hwang Jung). Sebagai gantinya, Naoko terpaksa berjanji akan berusaha melupakan Do Yang.

Ternyata, yang menyelamatkan Hwang Jung adalah Naoko.

"Do Yang-sama, aku sangat mencintaimu. Tapi sekarang, aku harus melupakanmu. Aku harus meninggalkanmu agar kau bisa terus melanjutkan hidup."

Ayah Naoko menghancurkan cincin pemberian Do Yang.

"Tolong lupakan aku juga."

Do Yang menatap hampa ke langit. I think he fells so lonely..

Seok Ran merawat Hwang Jung.

"Maafkan aku karena telah membuatmu cemas." kata Hwang Jung, tersenyum menenangkan.

Seok Ran hampir menangis. "Aku berpikir berulang-ulang selama kau berada di penjara." katanya. "Aku berpikir mengenai berapa banyak waktu yang bisa kita miliki bersama di dunia ini. Aku ingin menikah. Lebih cepat lebih baik."

"Aku... sudah memutuskan untuk bergabung dengan pasukan pejuang." kata Hwang Jung.

"Aku tidak peduli apakah kau dokter atau prajurit. Aku tahu apa yang kau takutkan, tapi itu tidak penting."

"Aku merasakan hal yang sama." kata Hwang Jung. "Kau sudah menunggu sangat lama, bukan? Aku minta maaf."

Seok Ran menangis. Hwang Jung mengusap air mata Seok Ran, kemudian memeluknya.

Keesokkan harinya, Hwang Jung menuliskan namanya di kertas rahasia. Kertas tersebut berisi nama-nama para pemimpin pasukan pejuang.

Nyonya Yoo sangat senang dan terharu mengetahui bahwa Seok Ran dan Hwang Jung akan menikah. "Jika ayahmu disini, ia pasti akan sangat senang." katanya seraya memeluk putrinya.

Hwang Jung memberitahukan pada teman-temannya bahwa ia akan menikah dan butuh pendamping. Gwak dan Jang Geun saling berebut.

"Aku sudah mengenal dia sejak bayi!" seru Gwak.

"Aku teman sekamarnya!" seru Jang Geun. "Kami bahkan berlatih napas buatan bersama."

Nang Rang dan Miryung melongo.

"Itu menjijikkan!" seru Nang Rang.

"Akan kuadukan pada Dr. Yoo." kata Miryung.

Do Yang masuk ke ruangan itu. "Yang menjadi pendamping Dr. Hwang pasti aku." katanya percaya diri. "Dia temanku dan aku sudah mengenal Seok Ran bertahun-tahun. Tentu saja aku."

Gwak dan Jang Geun tersenyum. Tentu saja mereka tidak bisa mengalahkan Do Yang. "Itu bagus." kata mereka.

Hari pernikahan Seok Ran dan Hwang Jung.

Pihak Jejoongwon sibuk mempersiapkan pernikahan.

Kondo menemukan sebuah kertas di saku tahanan yang ia tangkap. Kertas tersebut adalah kertas nama-nama pemimpin pasukan pejuang.

"Coba lihat disini." kata Kondo.

"Hwang Jung?" gumam Duta Jepang. "Jadi dia memang salah satu prajurit pejuang? Dimana dia?"

"Ada pernikahan di Jejoongwon hari ini."

"Bagus." kata Duta Jepang. "Tangkap dia saat pernikahan itu. Aku akan datang sendiri ke sana."

Di rumahnya, Nyonya Yoo dan Mak Saeng membantu Seok Ran berdandan. Hwang Jung masuk ke dalam dan terpana melihat Seok Ran.

Di Jejoongwon.

"Dr. Baek, orang-orang Jepang di luar bertingkah aneh." kata Mong Chong cemas. "Aku punya firasat aneh bahwa pernikahan ini akan hancur. Biasanya hanya ada satu orang disini, tapi sekarang ada empat."

"Mungkin mereka ingin mengawasi tamu." kata Do Yang.

Tidak lama kemudian, Chung Hwan datang. Ia mengajak Do Yang bicara dengannya di dalam.

"Apa?!" seru Do Yang. "Dr. Hwang adalah pemimpin pasukan pejuang?!"

"Ssshhh... pelankan suaramu." kata Chung Hwan. "Ia menggantikan Tuan Yoo. Apakah kita harus menunda pernikahan hari ini?"

"Jika pernikahan ditunda, maka pernikahan mungkin tidak akan bisa diselenggarakan lagi." tolak Do Yang. "Penundaan pernikahan, hanya akan memperlihatkan bahwa kita takut pada Jepang. Kita harus mencegah dia agar tidak ditangkap."

"Bagaimana?" tanya Mong Chong.

Do Yang tersenyum.

Hwang Jung dan Seok Ran berangkat dari rumah keluarga Yoo.

Chung Hwan dan Do Yang menyiapkan jebakan untuk pihak Jepang. Mereka memanggil Chung Hwan dan Miryung.

"Bukankah mereka terlihat bagus bersama?" tanya Chung Hwan datar.

Pernikahan di Jejoongwon dimulai. Dr. Avison membacakan pidato pernikahan.

Di luar, pihak Jepang sudah bersiaga dan langsung masuk. Do Yang tersenyum tipis.

"Apa maksudnya ini?!" seru Chung Hwan pada Duta Jepang dan prajuritnya. "Kenapa kalian mengganggu acara pernikahan?!"

Chung Hwan dan yang lainnya berusaha menahan pihak Jepang.

Kondo dan para prajuritnya mengeluarkan pedang mereka. Tamu ketakutan.

"Hwang Jung, kau ditangkap!" seru Kondo seraya menarik pengantin pria.

Pengantin pria itu menoleh. Ternyata Gwak dan pengantinnya, Miryung. "Ada apa?" tanyanya polos. "Aku bukan Hwang Jung. Namaku Lee Gwak."

"Kau pasti salah." kata Do Yang. "Pernikahan Hwang Jung ditunda."

"Lalu, dimana Hwang Jung?" tanya Duta Jepang.

"Aku tidak yakin." jawab Do Yang tenang. "Kenapa kau ingin mencarinya?"

Duta Jepang merasa dibodohi. Ia memerintahkan Kondo untuk menggeledak Jejoongwon mancari Hwang Jung.

"Silahkan, cari saja sebanyak yang kalian mau." kata Chung Hwan. Ia menoleh pada Gwak dan Miryung. "Kau terlihat bagus, Gwak."

Gwak tertawa senang pada Miryung.

Miryung kesal.

Duta Jepang marah besar. "Aku akan menangkap Hwang Jung apapun yang terjadi!" teriaknya.

Di sebuah gereja kecil di gunung, Hwang Jung dan Seok Ran bersiap menikah.

Allenlah yang akan menjadi penghulu mereka. Saat Allen baru mengucapkan beberapa kalian, terdengar ketukan kasar dari pintu gereja.

Hwang Jung dan Seok Ran menoleh terkejut.

Jejoongwon (Episode 34)

"Apa yang terjadi?" tanya Seok Ran panik pada prajurit Jepang.

"Ia dituduh mengirim pembunuh untuk membunuh Menteri Pasukan yang menandatangani Perjanjian Eulsa." jawab Prajurit Jepang kasar.

"Apa kau punya bukti?" tanya Hwang Jung.

"Bukti?" tanya Prajurit. "Tanyakan pada Jenderal. Aku hanya prajurit yang menjalankan perintah. Ayo!"

"Langit akan menghukummu!" teriak Hwang Jung.

Prajurit itu mengeluarkan pedangnya dan mengarahkannya pada Hwang Jung. "Bicara sekali lagi."

"Kau telah membunuh Ibu Negara kami dan sekarang kau menyiksa rakyat kami." kata Hwang Jung. Bagaimana mungkin langit tidak menghukummu? Beraninya kau mengancam dan menyiksa kami!"

"Dr. Hwang!" Seok Ran berkata cemas.

Parjurit Jepang mengangkat pedangnya untuk menebas leher Hwang Jung.

Hwang Jung memejamkan matanya.

Prajurit itu tertawa. "Benar. Kau adalah dokter pribadi Raja." katanya. "Ayo!" perintahnya pada anak buahnya. Mereka menyeret Tuan Yoo pergi.

"Tuan, aku akan membebaskanmu apapun yang terjadi." janji Hwang Jung.

Tuan Yoo mengangguk. "Temani ibumu." katanya pada Seok Ran. "Tuan Hwang, katakan pada teman-temanku bahwa aku baik-baik saja."

Nyonya Yoo sangat panik dan ketakutan. Hwang Jung meminta Seok Ran menemani ibunnya sementara ia ingin pergi ke markas para pembela negara.

Seok Ran mengejarnya dan bertanya apakah tuduhan pada ayahnya benar.

"Itu benar." jawab Hwang Jung. "Kau juga mengenal siapa orang yang hendak melakukan pembunuhan."

"Siapa?"

"Polisi Jung." jawab Hwang Jung.

"Jika benar, maka akan sulit membebaskan ayahku." kata Seok Ran cemas.

Hwang Jung meraih tangan Seok Ran. "Dr. Yoo, kau harus menyingkirkan semua benda yang bisa menjadi bukti melawan Tuan Yoo." katanya. "Tidak boleh ada satu barang bukti pun yang tersisa. Kau mengerti?"

Seok Ran dan Chilsuk membakar semua barang bukti yang bisa dipakai untuk memberatkan ayahnya.

Di gunung, Po Gyo sedang melatih pasukannya. Hwang Jung datang untuk memberi kabar padanya.

"Berbahaya jika kalian tetap berada disini." kata Hwang Jung.

"Ya, aku akan memindahkan pasukan ke tempat lain." kata Po Gyo.

Mendadak terdengar teriakan. "Kita diserang!"

Po Gyo dan Hwang Jung terkejut dan bergegas keluar. Para prajurit Jepang menembak dan menyerang para pejuang. Po Gyo mengajak Hwang Jung memasuki hutan untuk melarikan diri. Beberapa prajurit Jepang mengejar mereka.

Hwang Jung melawan beberapa prajurit sekaligus. Ketika Hwang Jung sedang melawan seorang prajurit, dua orang prajurit lain hendak menusuk Hwang Jung. Po Gyo berlari untuk melindunginya dan tertusuk.

Hwang Jung membunuh prajurit itu.

Po Gyo sekarat. Hwang Jung berusaha membawanya ke rumah sakit, tapi Po Gyo terlalu lemah.

"Aku sudah berakhir." kata Po Gyo. "Kau tidak akan bisa menyelamatkan aku kali ini."

"Jangan bicara. Aku akan menyelamatkan nyawamu!" seru Hwang Jung. "Aku akan menyelamatkan nyawamu!"

"Aku tidak punya kesempatan untuk bertarung dengan baik bersama pasukan pejuang." kata Po Gyo sedih. "Aku dipenuhi kesedihan karena harus mati dengan cara seperti ini. Tapi aku senang karena bisa membayar hutangku padamu."

"Apa yang kau katakan? Hutang apa?" tanya Hwang Jung cemas.

Po Gyo tertawa. "Itu ciri khasmu." katanya. "Hwang, temanku... Ambillah sesuatu di kantongku."

Hwang Jung mengambil sebuah kertas dari kantong Po Gyo.

"Berikan ini pada Pejabat Yoo." ujar Po Gyo, mulai kehabisan napas. Ia meraih tangan Hwang Jung. "Semua pasukan pejuang di negara ini sudah setuju untuk berjuang bersama. Di kertas ini tertulis semua nama pemimpin dari masing-masing pasukan pejuang. Kau harus menyerahkan kertas ini secara langsung pada Jenderal Huh Wi. Kau harus menyerahkannya langsung. Kau dengar?"

"Akan kulakukan." janji Hwang Jung.

Po Gyo bersandar di tanah. "Disini dingin." katanya. "Kapan musim semi akan tiba..."

Po Gyo meninggal dengan mata terbuka.

Hwang Jung menangis dan menutup mata Po Gyo.

Di Jejoongwon, Do Yang sedang melakukan penelitian mengenai virus rabies dan pembuatan vaksinnya. Do Yang akhirnya berhasil menemukan vaksin rabies.

Ketika Do Yang sedang berbincang mengenai rabies dengan Dr. Avison dan Naoko, Mong Chong tiba. Ia melapor bahwa seseorang dari RS Hansung datang.

"Naoko, tunggulah disini." kata Do Yang seraya berjalan keluar.

Di luar, Do Yang menemui Kim Don yang dikawal oleh beberapa prajurit.

"Untuk apa kau kemari?" tanyanya dingin.

"Aku datang untuk menjemput Nona Naoko." jawab Kim Don.

Do Yang tersenyum. "Naoko tidak akan ikut bersamamu, jadi kau boleh pergi." katanya.

"Biarkan aku menemuinya." kata Kim Don. "Aku akan meminta langsung padanya."

"Jika aku tidak mau?"

"Kau tidak akan membebaskan putri Menteri Luar Negeri yang kau culik, bukan begitu?" ancam Kim Don.

"Culik?" tanya Do Yang, tertawa. "Ini rumah sakit Amerika."

"Itulah intinya. Aku ingin tahu apa yang akan dikatakan Jenderal Ito Hibumi pada Rajamu mengenai penculikan Naoko?" ancam Kim Don.

Mendadak Naoko keluar. "Aku akan ikut dengamu." katanya.

"Naoko, aku tidak akan membiarkanmu pergi." ujar Do Yang.

"Aku tidak ingin menjadi penyebab masalah." kata Naoko. "Aku akan kembali."

"Saat kau meninggalkan Hansung, seharusnya kau meninggalkan semuanya." kata Kim Don dengan nada mengejek. "Tapi kenapa kau membawa gadis ini dan menyebabkan masalah?"

Do Yang hendak maju, tapi Naoko mendahului dengan menampar Kim Don.

"Kau pikir aku barang?" seru Naoko marah. "Minta maaf pada kami! Jika tidak, akan kukatakan pada ayahhku!"

"Aku minta maaf." kata Kim Don terpaksa.

Naoko memandang Do Yang sejenak, kemudian pergi.

Hwang Jung datang ke istana dan bertemu dengan seorang pejabat teman Tuan Yoo. Ia bertanya perihal Jenderal Huh Wi. Pejabat itu menjawab bahwa Jenderal Huh Wi jarang muncul dan membuat Pasukan Jepang kebingungan menangkapnya.

"Aku harus bicara dengan Yang Mulia." kata Hwang Jung. "Aku ingin memintanya membebaskan Pejabat Yoo."

Pejabat itu menarik napas panjang. "Sudah waktunya kau tahu segalanya." katanya. "Yang Mulia juga terlibat dalam pasukan pejuang."

"Apa?!" seru Raja, setelah mendengar kabar yang dibawa Hwang Jung mengenai penyerangan Jepang ke markas pasukan pejuang ibukota. "Pasukan pejuang lain tidak mengenal Hansung dengan baik. Kita akan kalah jika mereka datang kemari! Sekarang, bagaimana cara kita mengusir Jepang dari ibukota?"

"Jangan cemas, Yang Mulia." kata pejabat. "Aku yakin kita akan mendapat kabar bagus dari wakil kita di Konferensi Perdamaian Hague. Jika negara lain mengetahui bahwa Perjanjian Eulsa ditandatangani dengan paksaan Jepang, perjanjian tersebut bisa dibatalkan."

Raja berniat bicara dengan pihak Jepang mengenai pembebasan Tuan Yoo, tapi pejabat melarang. "Mereka akan tahu bahwa Andalah yang mengirim pembunuh untuk membunuh Tuan Yi Geun Taek." katanya. "Mereka juga akan tahu bahwa Andalah yang memimpin para pejuang."

Raja menarik napas panjang.

Prajurit Jepang menyiksa Tuan Yoo habis-habisan dan memaksanya mengaku bahwa Tuan Yoo-lah pemimpin pasukan pejuang.

"Aku hanyalah seorang penerjemah." kata Tuan Yoo, mengelak. "Bagaimana mungkin aku pemimpin pasukan? Apa Jepang selalu seperti itu? Kalian membuat cerita terlebih dahulu, kemudian berusaha membuat segala sesuatu berjalan seperti cerita yang kalian buat?"

"Mungkin kau butuh air lagi!" seru prajurit seraya memasukkan kepala Tuan Yoo ke dalam air.

Watanabe mendatangi Tuan Yoo dan menyuntikkan sesuatu padanya.

"Apakah ia akan bicara jika kau melakukan itu?" tanya prajurit.

"Dia tidak punya pilihan lain." kata Watanabe. "Ia akan merasakan sakit yang tidak terkira."

Pihak Jepang berencana untuk membuat Tuan Yoo bicara dengan menyetrumnya.

"Kita akhiri ini dengan cepat." kata prajurit Jepang pada Tuan Yoo. "Semakin lama yan mengaku, maka semakin besar penderitaan yang kau rasakan. Kau memimpin pasukan pejuang dengan perintah Raja, bukan?"

Tuan Yoo tidak membuka matanya, namun ia tertawa. "Aku pria bebas dan dewasa. Kenapa aku harus melakukan sesuatu dibawah perintah seseorang? Berhenti penyiksa orang tak bersalah dan lepaskan aku."

Watanabe menyetrum Tuan Yoo lagi.

"Tuan Yoo bukanlah orang yang harus kau curigai!" seru Allen, datang langsung ke kedutaan Jepang untuk membela Tuan Yoo. "Kau tidak bisa menangkap warga non Jepang tanpa bukti kejahatan! Kau melanggar hukum Internasional. Tuan Yoo memiliki banyak teman dari kedutaan. Jepang akan berada dalam tekanan jika tindakanmu tersebar!"

"Konsul Jenderal Allen, kenapa dua negara kita melakukan Perjanjian Katsura Taft?" tanya Duta Jepang. "Bukankah kita sudah setuju untuk tidak mencampuri urusan satu sama lain?"

Allen terlihat sangat marah.

"Jangan campuri urusan kami." kata Duta Jepang. "Lebih baik kau segera pergi sebelum kau diseret seperti anjing."

"Apa katamu?!" seru Allen marah.

Telepon berdering. Sepertinya orang ditelepon mengatakan pada Duta Jepang mengenai utusan rahasia yang dikirimkan raja ke Konferensi Perdamaian Hague.

"Apa kau tahu kalau Raja mengirimkan utusan rahasia ke Konferensi Perdamaian Hague?" tanya Duta Jepang pada Allen. "Ia ingin membatalkanPerjanjial Eulsa, tapi kelihatannya gagal."

Raja sangat putus asa. Ia dan Pejabat Herald akhirnya mengambil keputusan, yakni membuat Hwang Jung menjadi Ketua pasukan pejuang. Pejabat Herald memanggil Hwang Jung ke kediamannya.

"Kau bukan hanya mengambil alih, tapi kau juga harus membangkitkan kembali pasukan pejuang." kata pejabat.

"Aku hanyalah seorang dokter." kata Hwang Jung. "Aku sama sekali tidak mengetahui masalah perang dan tidak pantas menjadi ketua."

"Kau pikir Tuan Yoo tahu mengenai perang?" tanya pejabat. "Jenderal Huh Wi mulanya adalah seorang profesor di Akademi bangsawan dan seorang pelajar. Mereka dipilih karena sifat patriot yang mereka miliki."

"Tuan Herald, tempatku adalah di rumah sakit." tolak Hwang Jung. "Aku yakin ada kandidat yang lebih pantas."

"Sangat disesali." ujar pejabat kecewa. "Raja juga berpikir bahwa kau adalah kandidat terbaik. Kenapa kau tidak berpikir terlebih dahulu sebelum menolak?"

Watanabe membawa seorang dokter dari Jepang bernama Dr. Sato. Ia diangkat menjadi Kepala Dokter Bedah menggantikan Do Yang.

"Bisakah kami menyerahkan tanggung jawab padamu untuk melenyapkan Baek Do Yang?" tanya Watanabe. Disambut oleh anggukan kepala Duta Jepang.

"Aku sedang mengadakan penelitian mengenai pengaruh tekanan listrik dan obat pada penjahat." kata Watanabe. "Penelitian ini akan diadakan besok. Bagaimana jika kau datang bersama Suzuki?"

Sato kelihatan sangat senang. "Aku ingin sekali menggunakan Baek Do Yang sebagai bahan penelitian." katanya. "Bolehkah aku melakukan itu?"

Watanabe tertawa. "Kau dan aku akan jadi rekan yang hebat!"

Tanpa mereka ketahui, Naoko mendengar pembicaraan mereka.

Gagalnya utusan Korea di Konferensi Perdamaian membuat Do Yang, Hwang Jung dan Seok Ran sangat terpukul.

"Bagaimana dengan ayahku? Apa itu artinya ia tidak akan pernah keluar?" tanya Seok Ran, menangis. "Ia tidak melakukan sesuatu yang salah! Kenapa masalah demi masalah terus-menerus terjadi?

"Ada desas-desus yang mengatakan bahwa Yang Mulia akan ditahan." tambah Hwang Jung. "Masalah besar akan terus terjadi setelah pengiriman utusan ke Hague."

Hwang Jung menyentuh tangan Seok Ran untuk menenangkannya. Gimana perasaan Seok Ran kalau tahu Hwang Jung bakal jadi ketua pasukan pejuang?

Mendadak Naoko datang.

"Watanabe akan melakukan percobaan pada tahanan!" seru Naoko. "Pejabat Yoo mungkin salah satu dari mereka. Kau harus menghentikannya!"

Tanpa berkata apa-apa, Hwang Jung bergegas pergi.

Hwang Jung menemui Watanabe untuk meminta penjelasan.

"Dr. Hwang, kau pikir akan ada perkembangan tanpa percobaan pada manusia?" tanya Watanabe merendahkan.

"Aku yakin kedokteran akan berkembang tanpa menggunakan manusia sebagai kelinci percobaan!" seru Hwang Jung. "Bukankah sema tahanan di dalam penjara itu adalah orang Korea?"

"Aku mengerti sekarang. Kau datang untuk pejabat Yoo." Watanabe menolak untuk menjelaskan dan berniat pergi, tapi Hwang Jung menarik tangannya dengan kasar.

"Berhenti melakukan percobaan manusia!" perintah Hwang Jung. "Jika tidak, ini adalah terakhir kalinya aku memperingatkanmu dengan kata-kata!"

"Apa yang akan kau lakukan jika aku tidak mau?!" seru Watanabe. "Saat ini Kekaisaran Jepang sudah memiliki negara ini! Jangan campuri urusan kami!"

Keesokkan harinya, Watanabe, Sato dan Suzuki berangkat untuk melanjutkan percobaannya lagi. Mong Chong dan Gwak membuntuti mereka. Mong Chong dan Gwak mengenakan penutup wajah dan memukul mereka dari belakang hingga pingsan.

Watanabe, Sato dan Suzuki dibawa ke hutan dan diikat disana. Baju, sepatu dan semua perlengkapan mereka dirampas oleh Mong Cong dan Gwak.

Hwang Jung dan Seok Ran menyamar menjadi Sato dan Naoko sementara Do Yang tetap menjadi dirinya yang menjabat sebagai Kepala Dokter Bedah. Mereka pergi ke tempat tahanan dan menemui Tuan Yoo.

Do Yang menyogok para penjaga dengan uang agar meninggalkan mereka di ruangan Tuan Yoo disiksa.

"Ayah..." panggil Seok Ran pelan seraya menyentuh tangan ayahnya.

Tuan Yoo membuka matanya perlahan. "Bagaimana kau bisa masuk kemari?"

Seok Ran menangis. "Ayah, bertahanlah sebentar lagi. Kami akan mengeluarkanmu dari sini."

"Kurasa aku tidak bisa..."

"Ayah.. Bagaimana kau bisa berkata begitu?" tanya Seok Ran sedih. "Tuan Muda bisa menyelamatkanmu dulu."

Do Yang dan Hwang Jung berusaha menguatkan Tuan Yoo.

"Kau tidak boleh menyerah!' kata Hwang Jung. "Yang Mulia juga mencemaskanmu."

"Dr. Hwang, jika aku meninggalkan tempat ini, semua orang akan mati." kata Tuan Yoo. "Tapi jika aku mati... pasukan pejuang akan berkumpul kembali dan Yang Mulia akan selamat. Melihat kalian bertiga untuk terakhir kalinya sudah cukup bagiku."

Seok Ran menangis. Tapi keputusan Tuan Yoo sudah bulat. Demi negaranya, ia rela mengorbankan nyawanya.

Watanabe, Sato dan Suzuki kembali dengan keadaan kacau balau. Naoko masuk dan menertawakan mereka.

"Apakah tindakan hari ini adalah ulahmu dan Baek Do Yang?" tanya Duta Jepang pada Naoko. "Kartu identitas kalian berdua terdaftar di penjara hari ini."

"Ya." jawab Naoko jujur. "Mereka ingin mengunjungi tahanan. Apa ada yang salah?"

"Aku akan memaafkan kejadian hari ini karena memandang Menteri Luar Negeri." kata Duta Jepang. "Tapi, jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali."

"Ya, aku mengerti maksudmu." kata Naoko. "Tapi aku ragu jika ayahku mengizinkan tidakan tidak bermoral yang terjadi di penjara." Naoko berbalik hendak pergi. Ia terkejut melihat ayahnya sudah berdiri di depan pintu.

"Naoko, percobaan di dalam penjara adalah dengan perintahku." kata ayah Naoko.

"Naoko, kau akan kembali ke Jepang besok." kata Ayah Naoko.

"Ayah, apakah kau selalu kejam seperti ini?" tanya Naoko sedih.

"Aku adalah seorang Menteri dan pria yang mencintai negara ini!" kata Ayah Naoko.

"Apakah itu alasan untuk menyiksa negara ini?" tanya Naoko.

"Cukup!" seru Ayah Naoko. "Kau akan pergi besok. Kau harus mengakhiri hubunganmu dengan Dr. Baek. Jika tidak, maka aku harus melenyapkannya. Apa kau ingin aku melenyapkannya?"

Naoko diam.

Dengan sedih, Naoko mengucapkan selamat tinggal pada Kyu Hyun, Park So Sa dan Do Yang.

"Jika aku kembali, aku akan memasakkan sesuatu yang enak." janjinya pada mereka.

"Ya, aku akan menunggunya." kata Kyu Hyun.

Do Yang diam. Ia mengantar Naoko keluar, kemudian memeluknya. "Aku berjanji akan datang dan menjemputmu." katanya.

"Jangan." larang Naoko. "Aku akan kembali."

Naoko berjalan pergi, namun berbalik dan memeluk Do Yang lagi.

Do Yang lalu memakaikan dua buah cincin ke jari manis Naoko. Cincin ibunya.

Naoko menangis dan pergi. Do Yang menatap kepergian Naoko dengan sedih.

Tuan Yoo akan segera dihukum mati. Seok Ran pingsan.

Beberapa saat kemudian, Seok Ran sadar lagi dan menangis.

Seok Ran, Hwang Jung dan Nyonya Yoo mengunjungi Tuan Yoo di penjara.

"Jangan menangis." kata Tuan Yoo pada istrinya. "Kau harus mempersiapkan pernikahan Seok Ran. Bagi-bagi tanah kita dan serahkan pada semua pelayan kita, termasuk Chilbok. Biarkan mereka bebas."

"Jangan cemaskan hal itu." kata Nyonya Yoo, menangis.

"Kau telah banyak menderita karena aku."

"Aku tidak menderita." bantah Nyonya Yoo sedih. "Aku memiliki hidup yang menakjubkan sebagai istrimu. Tolong jangan mati."

"Jangan mati?" tanya Tuan Yoo. "Ya, lakukan itu. Jangan anggap aku mati. Tunggulah aku. Aku akan menemuimu dalam mimpi."

Nyonya Yoo menangis.

"Dr. Hwang, bisakah kau memanggilku ayah sekali ini?" pinta Tuan Yoo.

"Ayah.." panggil Hwang Jung pelan.

"Seok Ran, kini tempatmu adalah disisi Dr. Hwang." pesan Tuan Yoo pada putrinya. "Sebagai orang Korea dan sebagai seorang dokter, kau harus terus maju."

"Bagaimana denganku?" tangis Nyonya Yoo.

"Aku akan selalu ada di sampingmu." janji Tuan Yoo. "Aku tidak lagi sedih ataupun cemas mengenai kematian karena aku menitipkan mereka padamu, Dr. Hwang. Karena aku tahu kau bisa melakukan segalanya dengan baik. Kita harus berpisah dengan senyum dan kebahagiaan." Tuan Yoo tertawa.

Tuan Yoo tewas.

Jejoongwon mengadakan penyuntikan vaksin rabies pada semua warga. Chilbok ikut membantu karena kini ia telah menjadi perawat pria Jejoongwon.

Keadaan kesehatan Raja memburuk, ditambah lagi, ia telah kehilangan semangat dan tekadnya.

Seok Ran kini lebih sering membantu di RS wanita Bogu karena kesehatan Seung Yeon sedang buruk. Seung Yeon menyarankan pada Seok Ran agar membicarakan pernikahannya lagi dengan Hwang Jung.

Hwang Jung menjemput Seok Ran di RS Bogu. Seok Ran bersandar ke bahu Hwang Jung.

"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." kata Seok Ran.

"Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu." ujar Hwang Jung hati-hati. "Tuan Herald memintaku untuk menambil alih pasukan pejuang selama beberapa waktu."

Seok Ran terkejut, mengangkat kepalanya untuk menatap Hwang Jung.

"Tapi aku menolak, karena aku seorang dokter." tambah Hwang Jung.

"Begitu.." ujar Seok Ran ragu.

"Tapi, agak sulit..."

"Sulit untuk menolak tawarannya lagi?" tanya Seok Ran.

"Ya, mereka mengalami banyak masalah. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan." kata Hwang Jung. "Ah, kau ingin mengatakan sesuatu?"

"Tidak, tidak ada apa-apa." Seok Ran berbohong. Ia tahu bahwa sebenarnya Hwang Jung ingin ikut bergabung dalam pasukan pejuang.

Malam itu, Chung Hwan dan Hwang Jung berbincang sambil menunggu jemputan angkong mereka.

"Kenapa kau ingin bertemu kami?" tanya Chung Hwan.

"Kami ingin kau mengobati seorang pasien darurat." kata penarik angkong.

"Siapa pasien itu?" tanya Hwang Jung.

"Kau akan segera tahu." kata penarik angkong. "Tapi aku harus menutup matamu."

Hwang Jung ragu sesaat, namun akhirnya setuju.

"Sampaikan pesanku pada Jenderal." kata Chung Hwan.

Rupanya penarik angkong itu membawa Hwang Jung ke tempat Jenderal Huh Wi.

"Jenderal ditembak oleh orang Jepang." kata penarik angkong.

"Aku akan mengobati lukamu." kata Hwang Jung. Ia membuka balutan perban di tangan Jenderal. "Pelurunya masih di dalam, tapi tidak mengenai tulang. Aku tidak membawa obat bius. Aku akan mengambilnya dulu."

"Tidak ada waktu untuk itu." kata Jenderal. "Kami harus bergerak lagi saat matahari terbit."

"Aku tidak bisa." tolak Hwang Jung. "Rasa sakitnya sangat luar biasa."

"Tidak akan ada yang lebih menyakitkan dibanding kehilangan negaraku." kata Jenderal. "Tolong lakukan sekarang."

Hwang Jung setuju. Ia mengeluarkan peralatan medisnya dan memulai operasi.

"Saat Tuan Yoo masih hidup, aku pernah mendengar beberapa kali tentangmu." kata Jenderal bercerita. "Aku ingin bertemu denganmu. Sangat beruntung aku bisa bertemu denganmu sekarang." Jenderal Huh Wi menahan rasa sakitnya.

Akhirnya Hwang Jung berhasil mengeluarkan peluru tersebut.

"Terima kasih." kata Jenderal.

"Tidak. Kau adalah pasien terbaik." kata Hwang Jung. "Jenderal, aku ingin memberikan sesuatu padamu." Ia merobek bagian dalam bajunya dan mengeluarkan kertas pemberian Po Gyo.

"Ini adalah pemimpin dari semua pasukan pejuang di utara Hansung." kata Jenderal. "Pesan ini tertulis agar kita menyerang semua pemerintah Jepang di Hansung. Aku berhutang besar padamu, Tuan Hwang."

Sebagai ucapan terima kasih, Jenderal Huh Wi menuliskan sebuah puisi untuk Hwang Jung.

"Seorang dokter yang tidak berguna akan menyembuhkan penyakit.

Seorang dokter berkemampuan biasa akan menyembuhkan orang.

Tapi dokter yang hebat akan menyembuhkan sebuah negara."

"Terima kasih." kata Jenderal Huh Wi. "Kita harus bertemu lagi suatu saat nanti."

Hwang Jung kembali ke kantornya dan mengulang kembali puisi Jenderal Huh Wi. Mendadak sebuah tekad yang terpendam dalam hati Hwang Jung, muncul ke permukaan...