Silahkan Mencari !!!

Info!!!

kelanjutan fan fiction & recap drama semua ada di blog q yang baru
fanfic : www.ff-lovers86.blogspot.com
recap : www.korea-recaps86.blogspot.com
terima kasih...
Tampilkan postingan dengan label Jang Geun Suk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jang Geun Suk. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 September 2010

Tali Kasih (Part 1)

glitter-graphics.com

Title : Tali Kasih
Author : Sweety Qliquers
Genre : Family
Episodes : 7 Part
Part 1 ”Park Shin Hye & Jang Geun Suk”
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 06 September 2010, 03.18 PM
Cast :
Park Shin Hye
Jang Geun Suk
Park Hae Mi (Mother)
Ryu Seung Ryong (Father)
Jung Yong Hwa
Goo Hye Sun (Shin Hye’s Bestfriend)


Tali Kasih
Created By Sweety Qliquers

Part 1
Park Shin Hye & Jang Geun Suk


Buuum!

Jang Geun Suk yang tengah memandikan sepeda motor Sport-nya tersentak kaget mendengar suara itu. Tanpa mencuci tangannya yang penuh busa shampo, ia berlari kencang ke kamarnya.

"Park Shin Hyeee!" Terdengar lengkingan Jang Geun Suk dari kamarnya.

Mama yang sedang membaca di ruang tamu menoleh heran.

Di dalam kamar, tepatya di samping buku-buku yang berserakan, Park Shin Hye tertunduk gemetar.

"Aku sudah bilang, jangan masuk ke sini!" omel Jang Geun Suk dengan suara menggelegar.

Park Shin Hye semakin gemetar. "Ma…Ma…Maaf! Aku tidak se-seng...."

"Tidak sengaja, Tidak sengaja!" potong Jang Geun Suk ketus. "Sedang apa kau di sini?" tanyanya galak.

"Aku cuma mau pinjam...."

"Pinjam, Pinjam!" sela Jang Geun Suk lagi, tidak memberi kesempatan pada Park Shin Hye. "Pinjam apa mencuri?" Jang Geun Suk melotot.


"Pinjam," jawab Park Shin Hye hampir menangis.

"Pinjam tapi tidak minta izin padaku?! Sekarang kau malah membuat kamarku berantakan!"

"Aku akan membereskannya...."

"Tidak perlu!" sergah Jang Geun Suk tambah melotot. "Kau keluar saja. Cepat!" usirnya seraya membuka pintu lebar-lebar.

Park Shin Hye melangkah pelan. "Tapi...." protesnya takut-takut.

"Apa tapi-tapi?!" Jang Geun Suk memasang tampang kejam.

Park Shin Hye berlari keluar dan duduk di samping Mama. Ia menyembunyikan wajahnya di belakang Mama.

Jang Geun Suk membanting pintu kamarnya dan berjalan keluar dengan mata yang masih terus melotot pada Park Shin Hye.

"Awas kalau berani masuk lagi!" ancamnya.


"Jang Geun Suk," lerai Mama sambil mengelus rambut Park Shin Hye.

"Dia yang salah, Ma. Kamarku dibuat berantakan olehnya. Buku-buku jatuh semua," adu Jang Geun Suk.

"Aku hanya ingin meminjam buku," bela Park Shin Hye.

"Pinjam apa mencuri?! Tidak minta izin dulu!" Jang Geun Suk mendekati Park Shin Hye yang segera bersembunyi kembali di belakang Mama.

Park Shin Hye seperti tikus yang hanya memunculkan sedikit kepalanya untuk menengok.

"Awas kau kalau berani masuk lagi!" Jang Geun Suk mengacungkan telunjuknya yang tertutup busa pada Park Shin Hye yang cemberut.

"Jang Geun Suk!" tegur Mama.

Jang Geun Suk mencibir. "Dasar anak manja!"

Bersambung…

Sabtu, 14 Agustus 2010

Seharusnya Kau Tahu


Title : Seharusnya Kau Tahu
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance, Friendship, Mistic
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 12 Agustus 2010, 11.20 AM
Cast :
Park Shin Hye
Jang Geun Suk
Jung Yong Hwa

Extended Cast :
Yoon Eun Hye
Go Ah Ra
Gook Ji Yun


Seharusnya Kau Tahu
Created By Sweety Qliquers


Kulangkahkan kakiku melintasi taman belakang, masuk ke kompleks pemakaman. Yah, dulu disini Jang Geun Suk kecil dan aku-Park Shin Hye yang nakal... sering bermain. Rumahku memang langsung menyambung dengan kompleks pemakaman. Aku dan Jang Geun Suk sering sekali menjelajah nisan demi nisan, mencabuti ilalang yang tumbuh sekaligus menggoyang-goyangkan dengan keras pohon kamboja yang banyak tumbuh disekitarnya. Mengharap bunga-bunganya akan gugur. Dan kalau belum juga gugur Jang Geun Suk akan menendang pohon itu keras-keras sampai bunga-bunga kamboja itu jatuh ke tanah.

Setahun yang silam nama Jang Geun Suk terukir di deretan nisan itu, tapi Jang Geun Suk tak pernah meninggalkan aku- Park Shin Hye nya tersayang. Entah ia tahu atau tidak kalau diam-diam aku mencintainya. Tapi seharusnya dia tahu.

Aku melangkah mendekati nisan Jang Geun Suk. Menggoyangkan dahan kamboja di sebelah nisannya dengan kencang. Tak berapa lama bunga-bunga kamboja itu pun gugur. Sedetik kemudian kurasakan Jang Geun Suk sudah berdiri di dekatku. Senyum konyolnya menghiasi wajah tampannya yang pucat.

”Bagaimana sekolahmu hari ini?” Tanya Jang Geun Suk pura-pura.

”Kau pikir kau bisa membohongiku? Kau kan yang membuat pulpenku melayang-layang di udara tadi? Tadi Jung Yong Hwa melihatnya, untung saja dia tidak percaya dengan yang namanya hantu. Jadi waktu aku bilang dia berhalusinasi karena stress sehabis ulangan fisika, dia percaya saja.” Semburku kesal.

Jang Geun Suk langsung ngakak. Melihatnya begitu riang, kekesalanku langsung lenyap.

”Aku mohon Jang Geun Suk, jangan terlalu sering mengikutiku ke sekolah. Anak-anak di sekolah sudah mulai curiga. Tadi Yoon Eun Hye menyangka aku sudah seidkit gila karena menyebut-nyebut namamu.”

”Bagaimana jika aku mencoba untuk berbicara dengan Yoon Eun Hye?”

”Jangan, Jang Geun Suk! Yoon Eun Hye pasti lapor ke Mama. Mama pasti akan mencoba memisahkan kita.”

”Tapi aku bosan sendiri. tidak enak jadi hantu. Kadang-kadang aku berpikir lebih baik aku benar-benar meninggalkan dunia ini saja.”

Jang Geun Suk! Kau tega sekali padaku? Kau kan sudah berjanji akan selalu menemaniku!” Seruku dengan marah.

”Maafkan aku. Tapi ingat Park Shin Hye, ketika kau sudah menemukan pengganti diriku... aku akan segera pergi.” Kata Jang Geun Suk sambil menatap tajam ke arahku.

”Aku tahu. Tapi aku rasa, aku tak akan pernah bisa menerima orang lain sebagai pengganti dirimu, Jang Geun Suk.”

”Park Shin Hye, harus ada orang yang menggantikan tempatku. Aku tidak bisa terus tinggal di bumi.”

”Kenapa kau harus pergi, Jang Geun Suk? Aku mau kau selamanya ada di dekatku.”

”Itu tidak mungkin! Aku tidak mau terombang-ambing di antara dua alam.”

”Ok! Tapi kau harus berjanji, jangan pergi sebelum aku menemukan orang yang bisa menggantikanmu.”

”Jangan khawatir, Park Shin Hye!” Senyum Jang Geun Suk menenangkanku.

***


”Kemarin Jung Yong Hwa memintaku untuk menjadi kekasihnya, Jang Geun Suk.” Kataku pada Jang Geun Suk yang sedang duduk di atas meja perpustakaan.

”Itu bagus. Terima saja! Aku bisa segera pergi, kan?”

”Tapi aku tidak mau kau pergi, Jang Geun Suk! Kau tidak boleh pergi!”

”Jangan coba-coba untuk menahanku, Park Shin Hye! Apa kau tidak sadar persahabatan kita seharusnya sudah berakhir sejak aku mati?”

”Mengapa kau berbicara seperti itu? Kau jahat, Jang Geun Suk!” Seruku tertahan. Tanpa sadar kedua butir air mata meluncur jatuh di pipiku.

”Hushhh! Go Ah Ra jalan kemari. Cepet hapus airmatamu! Lebih baik aku pergi.” Kata Jang Geun Suk panik lalu berjalan menembus dinding.

”Sedang apa kau, park Shin Hye? Sendirian saja, kemana Yoon Eun Hye?”

” Yoon Eun Hye tidak masuk. Sudah dua hari ini dia sakit.”

”Aduh, kasihan sekali ya? Padahal minggu ini jadwal ulangan padat sekali.”

”Ya, tapi kan masih bisa ulangan susulan.”

”Iya sih! Eh, si Jung Yong Hwa titip salam untukmu, park Shin Hye.”

”O... ya?”

”Mau titip salam balik tidak?”

”Tidak perlu. Terima kasih.”

”Kau masih sering mengingat Jang Geun Suk, park Shin Hye?”

”Tidak. Siapa bilang?” Elakku was-was.

”Kata Yoon Eun Hye kau kadang suka berbicara sendiri sambil menyebut-nyebut nama Jang Geun Suk. Apakah itu benar?”

”Tidak pernah! Apakah Yoon Eun Hye berkata seperti itu?”

”Ya, Mungkin Yoon Eun Hye salah dengar. Lalu bagaimana dengan Jung Yong Hwa?”

”Ada apa dengan Jung Yong Hwa?”

”Kenapa kau tidak menanggapi perhatiannya?”


”Go Ah Ra, tolong tinggalkan aku sendiri disini!” Seruku dengan marah, nyaris membentak.

”Maafkan aku, kalau begitu aku pergi saja.” Kata Go Ah Ra kaget. Ia berbalik dan melangkah pergi.

Jang Geun Suk segera menghampiriku begitu Go Ah Ra menjauh. Ia kelihatan marah.

”Berhentilah mempersulit diriku, Park Shin Hye! Kau tahu cepat atau lambat aku harus pergi. Jangan coba-coba untuk mencegahku! Sebaiknya kau terima saja Jung Yong Hwa!”

”Kenapa kau ngotot sekali ingin pergi, Jang Geun Suk?”

”Aku sudah menemukan teman seperjalanan. Namanya Gook Ji Yun. Dia meninggal minggu lalu, kecelakaan mobil.”

”Jadi setelah bertemu Gook Ji Yun, Kau mau meninggalkanku, Jang Geun Suk?” Tuduhku dengan berang dan marah.

”Ya, dulu aku memang takut untuk pergi. Aku belum siap untuk mati. Tapi sekarang aku sudah tidak takut lagi. Aku mau pergi secepat mungkin dari dunia ini.”

”Jang Geun Suk, apa kau akan melupakanku?”

”Tidak, Park Shin Hye! Tapi aku mau kau bergaul dengan normal bersama teman-temanmu itu. Aku ini hantu, Park Shin Hye. Apa kau lupa? Sejak awal dari kematianku, persahabatan kita sudah tidak wajar. Jadi ijinkan aku pergi!”

”Aku merasa sedih jika kau pergi, Jang Geun Suk!”

”Kau harus berhenti bersedih untukku, Park Shin Hye!”

”Aku tidak bisa.”

”Pasti bisa dan kau harus bisa. Jung Yong Hwa akan membantumu!”

”Kapan kau akan pergi? Hari ini? Besok? Lusa?”

”Segera setelah kau menerima Jung Yong Hwa.”

”Aku tidak mencintai Jung Yong Hwa.”

”Aku tahu. Kau bisa bersahabat saja dengannya seperti kita dulu.”

”Ok! Tapi, bisakah kau pergi setelah aku benar-benar bisa melupakanmu?” Pintaku mengiba.

”Sampai berapa lama lagi? Sebulan?”

”Bagaimana jika 5 tahun lagi?”

”Itu terlalu lama, Park Shin Hye. Dan aku yakin setelah 5 tahun itu lewat, kau akan mencegahku untuk pergi lagi?” Tuduh Jang Geun Suk dengan marah. Mata elangnya menghujam mataku dengan tajam. Sorot matanya dingin.


”Ini semua karena Gook Ji Yun, iya kan? Dia yang mendesakmu untuk pergi?” Tuduhku tak kalah marah.

”Jangan menyalahkan Gook Ji Yun! Jangan pernah kau menyalahkannya Park Shin Hye, kau dengar itu”

”Kenapa?”

”Dia itu kekasihku.”

”Yang benar saja? Kau ini sudah menjadi hantu masih bisa juga pacaran?”

”Kau tidak perlu heran seperti itu! Yang jelas aku harus benar-benar pergi.”

”Bagaimana jika 4 tahun lagi?”

”Tidak! Itu terlalu lama!”

”3 tahun?”

”Tidak! tidak bisa!”

”2 tahun?”

”Ini yang terakhir, 1 tahun lagi?”

”Tetap tidak bisa. Seperti yang aku katakan tadi, hanya 1 bulan!”

”Ok! 1 bulan. Tapi jangan coba-coba pergi sebelum waktu 1 bulan itu berakhir! Aku tidak akan pernah memaafkanmu, jika kau pergi secara diam-diam tanpa sepengetahuanku!”

”Aku bukan penipu, Park Shin Hye! Jangan khawatir!”

***


Waktu sebulan cepat berlalu. Kulalui sebulan itu hampir senantiasa bersama Jang Geun Suk. Jika aku ke sekolah, dia ikut bersamaku. Ke kantin, ke perpustakaan, ke laboratorium, ke setiap sudut sekolah. Jarang sekali aku berada sendirian tanpanya.

Baik pagi, siang, sore ataupun malam Jang Geun Suk selalu di dekatku. Ia menemaniku belajar, membuat PR, bahkan jika aku pergi les piano, Jang Geun Suk selalu bersamaku. Seolah-olah sebulan ini adalah kado perpisahan darinya untukku.

Jung Yong Hwa masih mencoba mendekatiku. Sekarang hampir tiap hari dia menitipkan salamnya melalui Yoon Eun Hye atau Go Ah Ra, tapi dia tak pernah kugubris. Aku tidak memperdulikannya sama sekali. Meski Jang Geun Suk berulangkali menyarankan untuk menerimanya, aku tetap menolak.

Jang Geun Suk dan aku sama-sama menyadari bahwa perpisahan ini sungguh amat berat. Dan setiap hari aku semakin takut kehilangannya. Setiap fajar tiba aku semakin cepat akan kehilangan Jang Geun Suk. Kadang aku takut jika pagi tiba, aku berharap malam takkan pernah jadi pagi. Dan ketika pagi tiba aku berharap malam takkan kunjung datang. Perasaanku sungguh tak nyaman. Sebagian jiwaku tertawa karena Jang Geun Suk selalu di dekatku, tetapi bagian hatiku yang lain galau dengan perpisahan kami yang kian mendekat.

Hari demi hari berganti, minggu demi minggu terlewati. Akhirnya saat yang paling kutakuti itu tiba. Jang Geun Suk harus pergi!!!

”Jang Geun Suk sebelum kau pergi, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Jika aku tak mengatakannya, aku akan menyesalinya seumur hidupku.”

”Sebenarnya banyak yang ingin kukatakan padamu, tapi hanya satu hal yang paling penting yang harus kau tahu, Jang Geun Suk! Aku mencintaimu sejak kau masih hidup, sampai sekarang... sampai kau sekarang menjadi hantu dan akan pergi meninggalkanku.”

”Aku tahu. Kau juga harus tahu. Gook Ji Yun itu tak pernah ada. Satu hal yang harus kau tahu dariku, Sama seperti perasaanmu kepadaku, Aku juga mencintaimu sejak aku masih hidup.”

Dengan terkejut kutatap matanya. Raut wajah itu tersenyum. Dimatanya kutemukan kejujuran dan cinta yang hangat.

”Kalau begitu kenapa kau harus pergi meninggalkanku? Kenapa kau menjodohkanku dengan Jung Yong Hwa?”

”Park Shin Hye, aku ini hantu. Mana bisa kita bersatu? Tidak mungkin kau hidup tanpa pasangan sampai mati? Mamamu tidak akan pernah setuju, Park Shin Hye!”

”Aku tidak peduli! Jang Geun Suk, aku...”

”Park Shin Hye, aku tahu cinta kita terlambat diucapkan. Seharusya kita ucapkan sejak dulu, sejak ku masih hidup! Tapi tak akan pernah ada kata terlambat untuk mengetahuinya sekarang!”

”Jang Geun Suk, jangan pergi!” Pintaku dengan wajah yang kini berderai airmata.

”Selamat tinggal Park Shin Hye!” Ucap Jang Geun Suk sambil tersenyum.

”Aku tak akan pernah menerima Jung Yong Hwa atau siapapun. Tunggu sampai aku juga akan mati, Jang Geun Suk.” Seruku dengan sedih.

Jang Geun Suk hanya tersenyum. Wajah tampannya memudar. Ia tinggal setitik cahaya yang menghilang di kegelapan. Selamat jalan, Jang Geun Suk!

***


Kuakhiri cerpenku sampai disini. Yah, inilah pembalasan dendamku pada Jang Geun Suk -mantan pacarku yang berkhianat dengan sepupuku-Gook Ji Yun. Kujadikan kalian tokoh-tokoh hantu! Aku puas sekarang! Kutepis air mataku yang berlinangan sejak tadi.

Kriiing. Dering telepon berbunyi dari ruang tamu.

”Park Shin Hye, telpon dari Jung Yong Hwa!”

”Iya, Ma!” Sahutku sambil bangkit dari sofa yang ada di kamarku. Aku berlari menuruni tangga setelah keluar kamar.

”Hallo.”

”Park Shin Hye?”

”Iya, ada apa Jung Yong Hwa?”

”Hari ini ada acara tidak? Bagaimana kalau kita menonton film di bioskop?”

”Boleh. Jemput aku ya?”

”Ok! Jam 7 aku jemput ya?”

”Baiklah!” Lalu kututup telepon. Klik.

Persetan dengan Jang Geun Suk, Gook Ji Yun dan perselingkuhan mereka. Selamat datang Jung Yong Hwa. Mungkin nanti dia akan menjadi kekasihku. Aku lalu berlari ke kamar, sibuk memilih baju untuk nanti malam.


TAMAT


Rabu, 11 Agustus 2010

Kabut Obsesi Cinta


Title : Kabut Obsesi Cinta
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance, Friendship
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 28 January 2010, 04.03 PM
Cast :
Jang Geun Suk
Park Shin Hye
Kim So Eun (Kim Bum’s Girlfriend)
Kim Bum (Geun Suk’s Best Friend)



Kabut Obsesi Cinta
Created By Sweety Qliquers



Hai, namaku Jang Geun Suk. Aku mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Seoul. Aku memiliki history cinta yang ingin kusampaikan kepada sahabat semua. Well, mungkin ini cuma roman picisan. Maybe, kisah cinta klise. Entahlah. Namun aku merasa perlu menceritakannya sebab aku tidak ingin sahabat semua terpuruk di dalam 'kasus' cintaku yang miris. Ya, miris. Sebab selama ini, aku sudah dibutakan oleh obsesi cinta sehingga tak mampu melihat arti cinta yang sesungguhnya itu sendiri. Aku terkungkung dan terpenjara oleh obsesi meski di lain pihak, ada cinta lain yang justru merupakan cinta yang nyata dan sejati.

Cinta itu bernama Park Shin Hye. Dia adalah teman sekampusku. Dia telah lama mencintaiku dengan sepenuh hati. Namun aku dibius oleh obsesi dan kecantikan Kim So Eun sehingga melalaikan Park Shin Hye. Aku terus ingin menggapai gadis obsesiku, meski ia serupa gemintang yang tak terjamah. Hei, betapa bodohnya aku, mengharap gemintang penerang temaram hatiku sementara ada pijar kecil yang senantiasa bersinar untukku lewat pelita cinta Park Shin Hye.

Betapa naifnya aku. Seharusnya aku sudah diganjar karma dari obsesiku sendiri. Namun cinta sejati Park Shin Hye yang kutampik justru mengulurkan tangannya. Diberikannya aku bahunya untuk bersandar dan menangis. Dan diberikannya satu tempat yang paling istimewa di hatinya. Selamanya. Ya, selamanya.

***


Kabut tipis mulai menyelimuti hutan-hutan kecil di lereng bukit. Angin dingin menusuk tulang hingga ke ulu hati. Pohon-pohon pinus masih basah dan lembab. Api unggun mulai meninggalkan bara berwarna kemerahan. Dengan asap menjulang tinggi.

Di gasebo kecil Jang Geun Suk termangu. Memperhatikan siluet pinus yang berjejer rapi. Bak raksasa yang sangat menakutkan. Sesekali ia mendekap jaket parasutnya. Sambil teringat dengan seorang gadis yang pernah mencuri perhatiannya. Kim So Eun, nama gadis itu. Mahasiswi ekonomi di sebuah universitas swasta.

Pertemuan itu memang begitu singkat. Di sebuah toko buku. Saat Jang Geun Suk menabraknya tanpa sengaja, dan gadis itu memaki-maki Jang Geun Suk seenak hatinya. Jang Geun Suk pun berang dan membalas makian kecil itu. Dan ternyata mereka bertemu lagi di salah satu universitas di Seoul. Pertemuan itu membuat Jang Geun Suk terbayang-bayang dengan gadis judes yang menghardiknya. Kebencian itu pun timbul dengan sendiri. Jang Geun Suk mengolok-olok si Gadis di depan umum. Bahkan di depan mahasiswa lainnya.

Namun kebencian itu mendadak berubah menjadi sebuah kerinduan di hati Jang Geun Suk. Jang Geun Suk berkali-kali mencoba merayunya. Meminta maaf kepada si Gadis. Tapi si Gadis menolaknya mentah-mentah. Ia sama sekali tidak mempedulikan Jang Geun Suk. Meski Jang Geun Suk sangat mengharapkan cinta sang Gadis, namun tetap saja ditolak.

Hal itu membuat Jang Geun Suk sakit hati. Perih rasanya. Terasa kabut-kabut tipis menyelubungi relung hatinya. Entah mengapa kabut-kabut itu semakin menebal, rasanya.

Jang Geun Suk mendesah pelan. Desahan angin menghapus tubuhnya yang beku. Gesekan angin membuat dahan-dahan pinus bergoyang dan riuh dengan suara yang syahdu. Saat menikmati semilir angin, sebuah tangan tiba-tiba saja menutup mata Jang Geun Suk dari belakang. Jang Geun Suk tercekat merasakan tangan dingin yang menutup kedua matanya.

"Kim Bum!" tebaknya asal.

Namun si pemilik tangan diam saja.

Jang Geun Suk berusaha menebaknya lagi. Mungkin hal ini keisengan teman-temannya. "Jung Yong Hwa! Lepaskan tanganmu," tebak Jang Geun Suk lagi.

Namun lagi-lagi orang di belakangnya itu diam saja. Jang Geun Suk mengulurkan tangannya dan menebak lagi. Namun tidak ketebak.

"Sorry, aku sedang tidak ingin bercanda," seru Jang Geun Suk menyerah.

Kemudian tangan itu pun membuka matanya dengan perlahan.

"Hei! Kenapa kau melamun terus," sapa seseorang padanya.

Jang Geun Suk mengucek-ucek matanya. Melihat seseorang di depannya dengan terpana.

"Park Shin Hye?" gumamnya.

Gadis itu tersenyum. Duduk di depannya kemudian.

"Ada apa denganmu akhir-akhir ini, Jang Geun Suk. Aku lihat, kau selalu Melamun. Apa kau sedang kasmaran?" selidik Park Shin Hye.

"Ah, tidak. Aku tidak melamum."

"Sudah, jangan bohongi aku. Buktinya, dari tadi aku perhatikan, kau selalu bengong. Aku tahu ada seorang gadis yang mencuri perhatianmu. Siapa dia, Jang Geun Suk?"

Jang Geun Suk terbelalak sambil menelan air liurnya.

"Melamun? Melamunkan siapa?"

"Sudahlah, tidak usah bohong lagi."

Jang Geun Suk mengerinyitkan keningnya. "Kau tahu dari mana?"

"Aku sudah membaca semua buku catatan harianmu. Maaf, kalau aku lancang."

"Park Shin Hye...! Ja-jadi... kau.... " Jang Geun Suk menatap wajah Park Shin Hye dengan lekat, seperti tidak percaya atas pendengarannya sendiri.

"Maaf, aku tidak sengaja, Jang Geun Suk. Kau marah?"

Jang Geun Suk diam. Hening. Namun hanya sesaat.

"Siapa Kim So Eun? Kau mengenalnya?" tanya Park Shin Hye memecahkan keheningan

"Hm, dia anak ekonomi."

Bibir Park Shin Hye membulat. "Oo."

Hening lagi. Perasaan Park Shin Hye tercabik-cabik. Sesungguhnya dia sangat mengharapkan Jang Geun Suk menjadi kekasihnya. Namun Jang Geun Suk tidak pernah menggubris perasaan itu. Meski perhatian yang diberikan Park Shin Hye sangat lebih untuk Jang Geun Suk, Jang Geun Suk seakan tidak peduli.

Tak berapa lama Jang Geun Suk beringsut dari duduknya. Angin dingin semakin menggila seakan menghunus jantungnya.

"Aku pergi dulu, Park Shin Hye. Aku mengantuk," ucap Jang Geun Suk sambil berlalu meninggalkan Park Shin Hye yang terpaku.

"Tapi, Tunggu... jangan tinggalkan aku sendiri disini Jang Geun Suk."

"Sudahlah, besok saja mengobrolnya," tolak Jang Geun Suk apatis (tanpa perasaan).

Park Shin Hye terpaku. Kali ini hatinya seolah terhempas ke dalam cadas-cadas yang tajam. Namun Park Shin Hye dengan sabar hati menunggu kepastian yang tak pasti. Meski berkali-kali hatinya tersayat pedih karena Jang Geun Suk memikirkan gadis lain, Park Shin Hye tetap saja memberi perhatian penuh terhadap Jang Geun Suk.

Park Shin Hye terpaku memperhatikan Jang Geun Suk yang meninggalkannya begitu saja. Malam seakan menghadirkan giris sunyi yang luar biasa. Tak terasa airmatanya menitik. Dan setiap begitu, maka ia hanya dapat menuangkan baur perasaannya lewat lembar-lembar buku diarinya. Di sana, ia menaburkan kalimat dalam bentuk puisi. Puisi cinta buat Jang Geun Suk.

Ketika hasrat hatiku
mendambakan dirimu
namun bayanganmu
hanya terlintas dalam angan dan mimpiku

Aku begitu mendambakanmu
mengharap kau merajut benang cintaku
agar menjadi sebuah sutra
yang indah dalam hatiku
dan terlukis sejuta namamu
(Di sudut kamar- Park Shin Hye)


Park Shin Hye meremas buku diari yang senantiasa menyertainya kemana pun ia pergi. Hatinya masih berdarah dalam penantian. Pemuda itu terlalu angkuh di dalam obesesinya. Dipandanginya jelaga langit. Gemintang bermain mata dalam kerlap-kerlip abadinya. Mereka indah namun tak tergapai tangan. Seperti itulah Jang Geun Suk sekarang. Ia gemintang yang tak terjamah!

***


Terlihat Jang Geun Suk mengibaskan kotoran yang menempel di celana jinsnya. Membetulkan kancing jaket parasutnya hingga menutupi lehernya yang jenjang. Memakaikan penutup kepalanya. Entah mengapa bayangan-bayagan Kim So Eun bermain-main lagi di benaknya. Bayangan itu seakan tidak mau pergi.

'Mengapa Kim So Eun menolak cintaku?' batinnya lagi. 'Aku harus mendapatkannya. Harus!'

Jang Geun Suk menuruni anak tangga gasebo dan berjalan melewati semak belukar. Langkah terhenti oleh suara canda seseorang yang telah mencuri perhatiannya. Jang Geun Suk berusaha mempertajam pendengaranya. Sepertinya ia kenal betul dengan suara itu. Ya, tidak salah lagi!

Jang Geun Suk berjalan menghampiri sebuah gasebo lain didepannya. Dengan lampu remang dan redup. Ia melihat dua orang anak manusia sedang memadu kasih.

"Kim So Eun?" jeritnya, mengerutkan dahi.

"Kim Bum?" lanjutnya terbelalak tak percaya.

Kim Bum terbelalak kaget melihat kehadiran Jang Geun Suk.

"Jang Geun Suk...."

"Kalian sedang apa di sini?" tanya Jang Geun Suk menahan gejolak cemburu yang telah membakar di hatinya.

Ternyata Kim So Eun mencintai Kim Bum, sahabatnya. Pantas saja Kim So Eun menolak cintanya.

"Kau keterlaluan, Kim Bum! Kau keterlaluan!" sergah Jang Geun Suk emosi.

"Jang Geun Suk! Apa maksudmu!"

Jang Geun Suk menarik baju Kim Bum dengan kasar. Matanya melotot tajam menahan kemarahan. Melirik ke arah Kim So Eun dengan tatapan mata tajam pula. Sedangkan Kim So Eun hanya tertunduk melihat Jang Geun Suk yang tengah kalut. Kim So Eun meringkuk ketakutan di tempat duduknya. Matanya hanya sesekali memicing memperhatikan Jang Geun Suk dan Kim Bum.

"Kau pagar makan tanaman. Kau tahu kan kalau selama ini aku sangat mencintai Kim So Eun."

"Sudahlah, Jang Geun Suk!" tepis Kim Bum. " Kim So Eun tidak mencintaimu."

"Hei, kau pikir kau hebat?! Sahabat macam apa kau?!" Jang Geun Suk mempererat tarikan pada kerah baju Kim Bum. Dan dengan kasar dihentaknya tubuh tegap itu hingga terjerembab di atas rerumputan.

Tak lama kemudian Kim Bum bangkit dengan emosi yang membara. "Kau mau apa, Jang Geun Suk?! Seharusnya Kau tahu diri sedikit. Kim So Eun itu tidak mencintaimu! Tapi mencintaiku!"

"Hei, kurang ajar!" Jang Geun Suk mendorong tubuh Kim Bum. "Yang pertama kali mengenal Kim So Eun itu aku! Bukan kau!"

"Hm... apa kau lupa, kau itu tidak pantas mendapatkan Kim So Eun. Kau itu pecundang!"

"Arrghhh...."

Buuuk! Braakkk. Duuk....

Jang Geun Suk memukul tubuh Kim Bum berkali-kali. Dan menghajarnya tanpa ampun. Jang Geun Suk dan Kim Bum terus berkelahi. Saling baku hantam memperebutkan seorang gadis yang sama-sama mereka cintai.

Kim Bum balik memukul Jang Geun Suk dengan keras. Beberapa kali Jang Geun Suk tersungkur dan bangkit dengan tertatih. Dengan terhuyung Jang Geun Suk menghantam wajah Kim Bum. Dan Kim Bum yang sudah kalap juga memukul tubuh Jang Geun Suk dengan kuat hingga ia terpelanting jauh di rerumputan.

"Sudahlah Kim Bum! Sudah...! Jangan berkelahi lagi!" Suara Kim So Eun terdengar menengahi kegaduhan mereka.

Jang Geun Suk bangkit dengan sakit di sekujur tubuhnya. Semakin terasa sakit saat melihat Kim So Eun lebih memperhatikan Kim Bum. Ternyata benar, Kim So Eun sama sekali tidak mencintainya.

Jang Geun Suk beringsut dengan mata memar. Hidungnya berdarah dan pelipisnya sobek. Ia sempoyongan di antara semak belukar. Berjalan tertatih dengan langkah yang tidak teratur. Dan mendadak saja ia tergelincir di bebatuan. Terperosok jatuh di dasar bukit. Terguling hingga terpental dan akhirnya terlentang tak sadarkan diri. Ranting-ranting kecil dan berduri menyayat jaket parasutnya.

Jeritan keras Jang Geun Suk membelah sunyi malam di hutan pinus. Park Shin Hye tercengang di depan unggun yang masih berkobar. Ia bangkit berdiri dan segera mencari asal suara yang telah mengisi hatinya sekian lama.

***


Jang Geun Suk membuka matanya dengan perlahan. Melihat seisi ruangan dengan mata nanar. Putih, semua serba putih.

'Apa aku sudah mati?' batinnya. Pandangannya buram, dan masih sangat buram.

"Jang Geun Suk...? Kau sudah sadar?" Suara seseorang menghentakkan hatinya.

"Park Shin Hye...." gumamnya parau.

"Sudah dua hari kau tidak sadarkan diri. Kata dokter, kau gegar otak ringan. Kau harus banyak istirahat."

Jang Geun Suk tersenyum tipis. Menggenggam jemari tangan Park Shin Hye yang semula beku. Kini hangat bagaikan matahari yang menyinari lubuk hatinya. Mengapa ia harus mengejar gadis yang tidak mencintainya sama sekali. Ia merasa berdosa telah membiarkan Park Shin Hye diselimuti kabut tebal. Kini ia berusaha menepis kabut-kabut itu dari kehidupannya.

"Jangan tinggalkan aku, Park Shin Hye?" ujar Jang Geun Suk sendu. Suaranya masih terdengar parau.

Park Shin Hye tersenyum tipis dengan mata penuh airmata.

"Aku tidak akan meninggalkanmu, Jang Geun Suk. Selamanya. Percayalah."

Jang Geun Suk tersenyum. Diciuminya jemari Park Shin Hye dengan lembut.

"Aku menyayangimu, Park Shin Hye," ujarnya lirih dan pelan.

Park Shin Hye tersipu bahagia dengan pipi merona merah.

Kini kabut cinta tersebut tak lagi menutupi hati mereka. Kabut telah berlalu. Terhembus angin yang sepoi nan semilir.

Keduanya tersenyum bahagia. Terlebih Park Shin Hye, yang kini mendapatkan kembali hati pujaannya.


TAMAT

Jumat, 23 Juli 2010

Masih Ada Hari Esok


Title : Masih Ada Hari Esok
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 21 July 2010, 03.10 PM
Cast :
Park Shin Hye
Jung Yong Hwa
Jang Geun Suk


Masih Ada Hari Esok
Created By Sweety Qliquers


Butuh satu jam untuk mengenal seseorang, satu hari untuk jatuh cinta, namun untuk melupakannya bisa jadi butuh seumur hidup.

Pagi belum lagi beranjak siang, namun langit di atas kota Seoul kelabu tua. Mendung menyelimutinya. Hujan turun rintik-rintik. Air yang jatuh dari atas langit bagai jutaan jarum lembut. Membasahi genting, dedaunan, lalu mengalir sepanjang jalan menuju selokan.

Hari ini adalah hari keempat belas Park Shin Hye berada di rumah sakit. Setelah dioperasi pada hari pertama dan beristirahat total selama hampir dua minggu, dia akhirnya diperbolehkan pulang. Luka-luka di kakinya sudah mengering. Semua barang-barang Park Shin Hye juga sudah dimasukkan ke mobil.

Gadis itu mencoba berdiri meski dengan bantuan tongkat.

"Pagi, Dok!" sapanya begitu melihat dokter yang ikut membantu perawatannya sedang berbicara dengan seorang suster di pintu kamar.

Dokter muda itu memandangnya sejenak, lalu membalas sapaannya.

"Sudah mau pulang?"

"Ya, Dokter. Sekalian saya mau pamit."

"Baiklah, Park Shin Hye. Satu saja pesan saya, hidup harus berjalan terus. Kau tetap kuat dan tabah ya? Selain berusaha menjaga kondisi badan, mulailah berlatih berjalan setahap demi setahap."

Park Shin Hye mengangguk. "Terima kasih atas bantuannya, Dokter."

Lalu dibantu papa dan mamanya, gadis itu masuk ke dalam mobil. Semenit kemudian, mobil sedan yang membawanya telah melaju di jalan.

Park Shin Hye beralih ke tepi jendela. Hujan masih menyisakan rintiknya. Dia teringat kembali tentang Jang Geun Suk, pria yang sangat dicintainya, yang dulu pernah menemaninya merenda hari. Sampai detik ini, Park Shin Hye belum mampu melupakannya. Padahal cukup hitungan waktu untuk mengenang kehangatan dan cinta Jang Geun Suk padanya. Kecelakaan mobil telah membawa pria itu tidur lelap ditemani kedamaian. Sementara Park Shin Hye terpuruk dalam kesendiriannya kini.

Memang, tak seorang pun dapat menduga kapan musibah itu datang. Semuanya terjadi begitu cepat. Park Shin Hye sama sekali tak pernah menyangka, malam itu adalah malam terakhir dia bersama Jang Geun Suk. pria itu mengajaknya dinner seminggu menjelang keberangkatannya untuk melanjutkan sekolah ke negeri Paman Sam.
"Jika rentang waktu setahun ada 365 hari, maka berapa kali matahari terbenam yang akan kita lewatkan hingga kita bertemu lagi?"

"Aku tidak tahu, Jang Geun Suk." Park Shin Hye menatap kosong. Dia bahkan belum menyentuh potongan steak -nya yang terhidang di meja.

"Suatu hari nanti, aku ingin kita bisa menikmati matahari terbit bersama-sama. Begitu terus setiap hari." Jang Geun Suk menggenggam jemari Park Shin Hye lembut. Mencoba memberi keyakinan pada gadis itu.

Tapi nyatanya, apa yang terjadi sungguh ironis.

Park Shin Hye masih ingat betul, dalam perjalanan pulang Jang Geun Suk membanting setir mobilnya ke kanan guna menghindari tabrakan dengan mobil depan yang mengerem mendadak. Namun bukannya terhindar dari maut, tiba-tiba malah muncul mobil dari arah sebaliknya menabrak mereka.

Mobil Jang Geun Suk yang ringsek berat menjadi saksi bisu betapa kecelakaan itu demikian parah dan tak menyisakan ampun. Saat keduanya tak sadarkan diri di rumah sakit, pria itu duluan menghembuskan napas terakhirnya. Park Shin Hye beruntung masih selamat. Dia hanya menderita patah kaki ringan dan beberapa luka gores.

***

Satu tahun lebih berlalu....

Tak mudah memang bagi Park Shin Hye menjalani hari dengan trauma yang masih membekas. Tak seorang pun juga begitu ambil pusing dengan sikapnya yang tertutup dan cenderung pendiam. Ya, kecuali Jung Yong Hwa.

Kring! Begitu bel kampus berbunyi, Park Shin Hye bergegas meninggalkan ruangan. Rasanya ingin cepat-cepat pulang karena begitu banyak yang harus dikerjakannya di rumah siang ini.

"Park Shin Hye, tunggu! Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."

Park Shin Hye memperlambat langkahnya sambil menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. Tampak Jung Yong Hwa berlari-lari kecil ke arahnya. Sedikit terengah begitu berhasil menjejeri langkahnya.

"Aku tidak punya banyak waktu," Park Shin Hye lantas memotong seraya membalikkan tubuhnya.

"Please, aku hanya ingin bertanya. Bolehkah aku ke rumahmu malam minggu ini?" imbuh Jung Yong Hwa sambil tersenyum kikuk.

"Kenapa? Beberapa jam saja tidak melihatku, membuatmu merindukanku?" tatapan mata Park Shin Hye melunak.

"Jadi boleh aku main ke rumahmu?"

"Siapa yang bilang boleh?" Park Shin Hye mendelik. "Aku sibuk!"

"Sibuk? Memangnya kau punya bisnis apa?"

Park Shin Hye tertawa kecil. Jung Yong Hwa yang baik selalu mengingatkannya pada Jang Geun Suk. Tubuhnya yang tinggi menjulang, kulitnya yang putih serta senyum baby face-nya seolah menjelma pada diri Jung Yong Hwa. Hanya saja....

Park Shin Hye menarik napas dalam-dalam. "Pokoknya tidak boleh, kecuali...."

"Kecuali apa?"

"Kecuali kau bisa mempertemukanku dengan Jang Geun Suk," tantang gadis itu.

Jung Yong Hwa terperangah. Permintaan itu terasa janggal. Bagaimana mungkin mempertemukan orang yang masih hidup dengan orang yang sudah tidak ada di dunia ini? Park Shin Hye hanya mengada-ada.

Dan itu menjadi beban batinnya. Ternyata, menyadarkan seseorang yang terbelenggu cinta tak semudah yang dibayangkannya. Sayang dia keburu terbius oleh gadis itu. Sejak perkenalan pertama beberapa tahun silam, sebelum Park Shin Hye akhirnya menjadi milik Jang Geun Suk. Kalaupun saat itu dia memutuskan untuk mundur, itu semata karena Jung Yong Hwa yakin Jang Geun Suk dapat membahagiakan gadis yang sedikit manja itu.

Perkiraannya tidak meleset. Semuanya berlangsung baik-baik saja. Sampai tiba-tiba kabar buruk itu diterima: Jang Geun Suk meninggal akibat kecelakaan mobil.

***


Park Shin Hye menggenggam sebuah boneka beruang kecil di tangannya. Hadiah dari Jang Geun Suk di hari jadi mereka pacaran.

"Aku akan selalu memberimu boneka beruang ini di setiap tahun hari jadi kita. Sampai meja belajarmu penuh! Sebab aku ingin kita selalu bersama," kata Jang Geun Suk suatu saat.

Park Shin Hye mengenang hal itu dengan pahit. Hari ini seharusnya hari jadi mereka yang kedua, jika Jang Geun Suk masih hidup tentunya. Betapa Park Shin Hye merindukan senyum, tawa, perhatian, bahkan omelan pria itu disaat dirinya lupa sarapan pagi. Sudah setahun pula Park Shin Hye terus menyalahkan dirinya atas kecelakaan yang menimpa Jang Geun Suk. Andai saat itu dia tidak mengganggu konsentrasi Jang Geun Suk menyetir dengan mengajaknya mengobrol. Andai dinneritu tak pernah ada. Ah, andai....

Sebuah ketukan di pintu membangunkan lamunannya.

"Park Shin Hye, ada temanmu yang datang. Kalau tidak salah namanya Jung Yong Hwa."

"Eh... iya, Ma." Park Shin Hye buru-buru menyusut airmatanya.

Untuk apa lagi Jung Yong Hwa kemari? Bukannya aku sudah bilang tidak usah mampir?

Di ruang tamu, Park Shin Hye melihat pria itu sedang duduk terpekur menatap lantai. Wajahnya langsung sumringah begitu melihat dirinya.

"Hai!" sapa Jung Yong Hwa spontan. Park Shin Hye hanya bisa diam mematung di ujung meja. Jung Yong Hwa kelihatan begitu lembut malam ini, dan dia begitu tampan dengan kemeja putihnya itu.

"Malam minggu tidak keluar?" tanya pria itu lagi.

Park Shin Hye menggeleng. "Mana ada yang mau mengajak wanita kuper dan berantakan sepertiku kencan di malam Minggu."

"Kau serius? Aku mau!"

Park Shin Hye tersenyum simpul. pria di hadapannya ini, tak putus-putusnya menghibur dirinya sejak kepergian Jang Geun Suk. Park Shin Hye tidak buta. Dia sadar perhatian Jung Yong Hwa selama ini.

"Tapi kau belum mengabulkan permintaanku. Kau belum mempertemukanku dengan Jang Geun Suk," Park Shin Hye mengingatkan.

" Park Shin Hye... kau tahu sendiri hal itu tidak mungkin," sahut Jung Yong Hwa.

"Terserah."

"Sampai kapan kau mau terus mengurung diri, Park Shin Hye? Aku yakin Jang Geun Suk juga tidak suka melihatmu seperti ini," suara Jung Yong Hwa terdengar lembut tapi tegas.

"Kalau tidak suka, kau boleh tidak peduli," jawab Park Shin Hye dingin.

"Aku peduli, karena aku menyayangimu!" jawab Jung Yong Hwa gemas.

"Maafkan aku, Jung Yong Hwa. Tapi Jang Geun Suk tetap hidup di hatiku," jawab Park Shin Hye setengah terbata. Jang Geun Suk, kau di mana? Berilah aku suatu pertanda jika kau juga tak pernah melupakan ku, bisiknya.

"Jangan berburuk sangka dulu. Aku tak pernah memintamu melupakan Jang Geun Suk, Park Shin Hye. Aku hanya ingin kau membuka diri bagi orang-orang di sekitarmu. Kau sendiri yang bilang, kita harus menghargai waktu yang ada bersama orang-orang yang kita sayangi. Dan aku menghargai waktu yang aku punya bersamamu!"

Park Shin Hye terpana mendengar ucapan Jung Yong Hwa. Ada rasa haru menyeruak di hatinya.

"Aku menyukaimu sejak dulu, Park Shin Hye. Sejak kita pertama kali berkenalan. Aku ingin kau kembali ceria seperti dulu lagi," pinta Jung Yong Hwa sambil tersenyum manis.

Terima kasih, Jung Yong Hwa. Tapi aku...."

Jung Yong Hwa mengeluarkan sesuatu yang disembunyikannya sejak tadi. Astaga! Sebuah boneka beruang kecil. Antara percaya dan tidak percaya, Park Shin Hye menatap takjub saat tangan Jung Yong Hwa terulur padanya.

"Tadi sebelum ke sini, aku melihat boneka ini. Lalu aku berpikir untuk membelikannya untukmu karena setahuku kau suka pernak-pernik beruang. Sebuah awal yang bagus bukan? Jadi di kamarmu tidak harus selalu koleksi barang dari Jang Geun Suk." Lagi-lagi senyum tulus mengembang di wajah pria itu.

Park Shin Hye menerimanya dengan hati berdebar.

***



Angin malam menerpa ketika Park Shin Hye membuka jendela kamarnya. Poninya tersibak. Antara suka dan lara bergayut di hatinya. Park Shin Hye memandang boneka beruang kecil pemberian Jung Yong Hwa di tangannya, lalu menatap ke atas, menembus kelamnya langit di malam hari.

Park Shin Hye tersenyum tipis. Dipejamkannya mata. Alangkah terasa kehadiran Jang Geun Suk di sisinya. Entah mengapa kedamaian tiba-tiba menyelimutinya.

"Jang Geun Suk," gumamnya lirih, "Aku tak akan pernah melupakanmu meskipun kini sudah menerima uluran tangan Jung Yong Hwa untuk mengisi kekosongan hati ini, yang akan menemaniku melangkah di lembaran baru. Semoga kau mendapatkan kebahagiaan di tempatmu yang sekarang."

Angin kembali berdesir. Park Shin Hye membiarkan jendelanya tetap terbuka.

Sementara dari atas sana, betapa seseorang yang berpakaian seputih kapas itu tersenyum dan tampak melambai hangat kepadanya dari atas sana. Jang Geun Suk....


TAMAT