Silahkan Mencari !!!

Info!!!

kelanjutan fan fiction & recap drama semua ada di blog q yang baru
fanfic : www.ff-lovers86.blogspot.com
recap : www.korea-recaps86.blogspot.com
terima kasih...
Tampilkan postingan dengan label Iljimae. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iljimae. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Agustus 2010

Iljimae (Episode 20-Tamat)

"Kau..." Raja menunduk untuk melihat wajah Ryung lebih jelas. "Benar. Aku masih ingat matamu. Kau adalah orang yang dulu datang kemari untuk menyatakan ketidakbersalahan temanmu. Tapi kenapa kau ada di sini?"

"Ya... Yang Mulia..." jawab Ryung. "Aku mendaftar menjadi pengawal istana dan mengabdi pada warga Chosun."

"Benarkah?" Raja kembali berdiri. "Tapi kenapa pengawal istana melakukan pekerjaan ini?"

"Karena tidak ada cukup orang untuk menyiapkan perjamuan, jadi..."

"Begitu?" Raja mengangguk. "Siapa namamu?"

Ryung berpikir. Ia mendongak dan melihat sulaman naga di baju Raja. Ia mendapat ide. "Namaku Oh Ryung, Yang Mulia."

Raja tersenyum. "Matamu masih kelihatan cemerlang, seperti sebelumnya." Raja dan para pengawalnya berjalan pergi.

Hee Bong berlari mendekati Ryung. "Kenapa kau bilang namamu Oh Ryung. Namamu kan Na Ryung. Kau mengubah nama keluargamu?"

"Bagaimana bisa aku menyebutkan nama asliku?" ujar Ryung. "Aku melihat sulaman naga di baju Yang Mulia. Naga itu punya 5 jari, jadi disebut Oh Ryung (Lima Naga)."

"Kak, cepat lakukan tugasmu." kata Eun Bok. "Aku akan membawa gerobak ini."

"Aku bergantung pada kalian." kata Ryung seraya berjalan pergi.

Shi Hoo melihat Dae Shi dengan pandangan curiga. "Aku yakin sekali." gumamnya. "Ia pasti akan datang kemari."

Tiba-tiba salah satu pengawal berlari-lari memanggil Shi Hoo. "Ayo kita pergi ke Ruang Penyimpanan Makanan. Disana kecurian!"

"Apa?!" seru Shi Hoo. Ia meminta kepala pengawal untuk menjaga tempat itu selagi ia pergi karena Iljimae pasti datang ke situ.

Shi Hoo pergi. Di Ruang Penyimpanan Makanan, Shi Wan sedang menurunkan kantong besar yang disangkutkan dengan jala ke sudut atap ruangan. Kantong tersebut berisi pengawal yang dikalahkan oleh Iljimae.

Ryung, yang menyamar sebagai pengawal, berlari-lari memanggil kepala pengawal yang menjaga Dae Shi dan para sukarelawan lain. "Iljimae..." katanya terengah-engah. "Para pengawal sedang bertarung melawan Iljimae di Ruang Penyimpanan Makanan. Kalian semua diperintahkan ke sana!"

"Apa kau yakin?" tanya kepala pengawal. "Kalian semua! Ayo!"

Kepala pengawal datang ke Ruang Penyimpanan Makanan.

"Apa yang kaulakukan disini?" tanya Shi Hoo.

"Seseorang bilang kalau para pengawal sedang bertarung melawan Iljimae dan menyuruh kami datang kemari."

"Siapa yang mengatakannya?" tanya Shi Hoo.

Kepala pengawal berpikir, baru menyadari kalau ternyata ia memang tidak pengenal orang itu.

Shi Hoo, Shi Wan, dan pengawal yang lain berlari ke tempat Dae Shi. Dae Shi dan para sukarelawan yang lain sudah lenyap.

Ryung datang ke bangunan dengan lambang Jeonwoohoe milik Kim Ik Hee. Ia membuka-buka laci, mencari pedang, namun tidak menemukan apapun.

Dae Shi dan para sukarelawan lain berusaha menggali tanah dengan cepat.

"Jika kita menggali di sini, apa kita bisa keluar?" tanya salah satu orang.

Dae Shi menunjukkan bagian dalam topengnya. "Lihat ini! Jika kita menggali disini, kita bisa keluar! Iljimae yang bilang!"

Di lain sisi, Shi Hoo bertanya pada seorang pustakawan dan melihat peta. "Apakah ada terowongan yang menuju ke luar istana?"

Flashback. Ryung menunjuk ke peta. "Di sini, dulunya adalah danau teratai."

"Terowongan? Tentu saja tidak ada." jawab pustakawan.

"Apa kau punya peta yang lama? Yang dibuat sebelum peta yang ini?" tanya Shi Hoo.

Pustakawan mengambil peta lama. Shi Hoo melihatnya dengan teliti.

"Apa ini?" tanya Shi Hoo. "Kenapa disini ada sementara di peta yang baru tidak ada?"

"Ini adalah danau teratai. Danau ini sudah diuruk."

Flashback. Ryung menjelaskan rencananya pada teman-temannya. "Dibawah ini ada terowongan saluran air yang menuju ke luar istana di Gerbang Wol Gun." Ryung menoleh ke arah ketua geng, teman Hee Bong. "Kakak, tugasmu adalah..."

Shi Hoo berlari mencari Shi Wan dan menyuruhnya ke Gerbang Wol Gun.

Di sana, Shi Wan melihat ketua geng dan anak buahnya berjongkok dekat sebuah lubang, mencari sesuatu.

"Hey!" seru Shi Wan, melihat lubang saluran. "Siapa kalian? Kalian merencanakan sesuatu!" Ia tertawa. "Pengawal, jaga mereka! Aku akan masuk ke dalam!"

Shi Wan masuk ke dalam terowongan itu bersama beberapa pengawal.

Di sisi lain, Dae Shi dan sukarelawan lain juga sudah berada di dalam terowongan . Mereka menemui dua cabang. "Kemana? Yang mana? Yang mana arah kita?" tanya Dae Shi. Dia melihat cahaya di kanan terowongan. "Ah! Ke sana! Cepat!"

Shi Hoo masuk ke terowongan yang sama melalui jalan yang dilewati sukarelawan. Di dalam terowongan itu, ia melihat topeng Dae Shi terjatuh di tanah. Dibalik topeng itu terdapat tulisan, "Galilah tanah di dekat tiang batu di sebelah paviliun Gwang Bong."

Tiga orang pengawal menjaga ketua geng dan anak buahnya. Mereka penasaran dan mengintip ke lubang saluran. Pemburu Jang dan Ayah Heung Kyun mendorong mereka dari belakang hingga mereka terjatuh dan masuk ke dalam lubang saluran. Shim Deok dan ayah Seung Seung juga ada di sana.

Setelah itu, mereka menutup lubang dengan batu dan menguburnya dengan tanah hingga lubang tersebut tertutup.

Selain lubang yang itu, ternyata masih ada lubang lain yang tersembunyi. Pemburu Jang membuka lubang itu. Dae Shi dan yang lainnya keluar dari sana. "Dae Shi!" seru Deok senang.

Flashback. "Untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi, kita akan menggali lubang yang lain." Ryung menjelaskan rencananya. Di sebelah Gerbang Wol Gun, ada saluran pembuangan dari istana."

Shi Wan dan dan pengawalnya berjalan masuk menyusuri terowongan.

"Bau apa ini?" tanya Shi Wan, menutup hidungnya. "Bau busuk apa ini?"

"Sepertinya ini bau kotoran manusia (a.k.a e'ek)." jawab pengawal.

"Apa?!" seru Shi Wan, ingin muntah.

"Di sana ada jalan keluar!"

Di pihak lain, Shi Hoo mengejar lewat jalur yang sama dengan sukarelawan dan keluar lewat lubang yang benar. Namun dia sudah terlambat.

Giliran bangunan dengan lambang Jeonwoohoe milik Suh Young Soo, yang juga merupakan tempat penyimpanan harta.

Ryung melihat pedang satu per satu, dan tentu saja tidak menemukan pedang yang dimaksud.

Hee Bong, Eun Bok dan Heung Kyun memasukkan barang-barang berharga ke dalam kantong besar.

Ryung menyalakan api di sumbu bahan peledak.

"Apakah itu akan meledak?" tanya Eun Bok ketakukan.

"Tenang saja." jawab Ryung, tersenyum. "Ini akan meledak dalam waktu setengah jam."

Selesai sudah tugas mereka.

Mereka menunggu di dekat kolam. Di permukaan kolam tersebut sudah ada beberapa yang berbentuk seperti bunga teratai.

Kini waktunya Hee Bong dan yang lainnya keluar dari istana semantara Ryung melakukan tugasnya sendiri.

"Kalian semua sudah bekerja keras." kata Ryung. "Kita akan bertemu lagi nanti, di luar istana."

"Kau harus berhasil keluar dari istana dengan selamat." kata Hee Bong seraya menyerahkan sebuah kunci.

Heung Kyun juga menyerahkan kunci. "Kuharap kau bisa menemukan jawaban atas apa yang kau cari selama ini."

Di luar gerbang istana, para warga berkurumun. Mereka sepertinya merencanakan sesuatu. Dan Ee juga ada di sana.

Ayah Heung Kyun memanggil Dan Ee. "Semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Dae Shi sudah berhasil lolos."

"Benarkah?" tanya Dan Ee, lega.

"Para warga datang kemari untuk mendukung Iljimae. Kami yang mengumpulan mereka. Jangan khawatir, bibi."

Dan Ee cemas. Ia menoleh ke arah tembok istana. Tidak sengaja, ia melihat Nyonya Han berdiri tidak jauh darinya.

Shi Wan mengomel sendirian, mencium badannya yang bau. Ia kemudian melihat Hee Bong dan Eun Bok datang.

"Hey, kemari!" panggil Shi Wan pada mereka. "Cepat kemari! Apa itu? Cepat buka."

Eun Bok membuka karung menutup gerobak yang didorongnya. Tidak ada apa-apa di situ.

"Pergi!" Shi Wan memerintahkan mereka.

Utusan Ming, Kim Min Young menemui Raja dan bertanya kenapa pasukan sukarelawan tiba-tiba menghilang.

"Aku sudah mengirim orang untuk mencari mereka." kata Raja, frustasi. "Jangan khawatir."

"Kalau begitu, tolong stempel kertas ini. Yang Mulia telah berjanji untuk menyerahkan Chosun pada Ming untuk membangun kembali kekaisaran Ming. Para Jenderal Ming sangat berterima kasih, Yang Mulia."

Setelah memberikan stempel, Raja memerintahkan Min Young pergi.

Di Jeju, Byun Shik memancing.

"Ck ck ck..." Byun Shik melihat Eun Chae, yang sedang bermain dengan anak-anak. "Sepertinya dia memang ditakdirkan untuk menjadi pemimpin para pencuri." Byun Shik menggeleng-gelengkan kepalanya dan ngedumel. "Bajingan Jung Myung Seo itu menerima batu berhargaku, tapi kenapa sampai sekarang belum ada kabar apapun darinya?"

Pelayan Byun Shik datang berlari-lari. "Tuan! Di istana sedang ada masalah besar!" katanya.

Byun Shik tertawa. "Ha ha ha... Putra Lee Won Ho sudah berhasil masuk ke istana." ujarnya senang. "Dia pasti sedang berseenang-senang dengan Yang Mulia. Ha ha ha.. Sudah jelas sekarang, mereka memang memiliki hubungan darah. Ck ck ck. Jangan sebut-sebut nama kelelawar itu di depan Eun Chae, mengerti? Hah! Memecatku dari istana? Yang Mulia pantas mati!"

Acara perjamuan dimulai. Raja dan para bangsawan duduk di bawah tenda.

Tiba-tiba terdangat suara ledakan. Orang-orang istana panik. Beberapa saat kemudian, selembar kain putih besar terbuka di tempat perjamuan. Kain tersebut berlukiskan bunga Mae Hwa. Setelah itu, kayu penyangga tenda patah. Kain tenda tersebut jatuh dan menimpa Raja beserta pada pejabatnya.

Hee Bong dan Eun Bok menunggu di jembatan. Mereka melihat ke bawah. Benda-benda berbentuk bunga teratai hampir sampai di dekat jaring yang dipasang oleh Eun Bok sebelumnya.

Flashback.

Ryung sudah menyiapkan beberapa benda berbentuk bunga teratai yang dibuat dari kertas Han. Ryung menyuruh Eun Bok dan Hee Bong untuk meniup sesuatu seperti balon, kemudian memasukkan balon tersebut ke dalam kertas bunga teratai. "Bukankah ini kertas Han?" tanya Eun Bok. "Ini akan basah jika terkena air." "Setelah dilapisi minyak wijen dan dikeringkan, kertas ini tidak ada basah lagi." kata Ryung.

Mereka menggunakan kertas bunga teratai dengan balon ditengahnya untuk menyembunyikan barang hasil curian dan menghayutkannya di kolam. Setelah itu, mereka menahan hanyutan barang curian tersebut dengan jaring. Kantong yang dipergunakan untuk membungkus barang-barang curian adalah kantong kedap air. Sepertinya sih dilapisi minyak wijen juga. Aku kurang yakin.

Setelah selesai mengangkat barang-barang hasil curian, Shi Wan mengepung mereka.

"Kau pikir aku bodoh?" tanya Shi Wan pada Hee Bong. "Kau pikir dengan menyamar seperti ini aku tidak akan mengenali kalian?"

Hee Bong menoleh ke belakang. Di sana, sudah ada anak buahnya yang menyamar menjadi pengawal.

Hee Bong dan Eun Bok mendorong Shi Wan dan melarikan diri ke arah para pengawal di seberang.

Shi Wan hanya tertawa, mengira para pengawal itu adalah pihak istana. "Hey! Tangkap dia!" teriaknya.

Namun para pengawal itu malah ikut kabur bersama Hee Bong, melarikan diri keluar istana.

Shi Wan kaget. Ia mengejar mereka. Begitu sampai di gerbang, para warga yang berkerumun di sana melempari Shi Wan dan pengawal lain dengan benda berapi.

Mereka semua sukses!

Hari sudah malam.

Raja, dengan frustasi berpikir. Ia menyebut nama bangunan yang didatangi Iljimae satu per satu. "Apa sebenarnya yang dia cari?"

Kini saatnya bangunan dengan lambang Jeonwoohoe milik Lee Won Ho. Bangunan tersebut dinamakan Byulgo.

Ryung menyelinap masuk, dan berusaha membuka gembok.

"Jika kau ingin masuk, kau membutuhkan 3 kunci." Ryung teringat Heung Kyun berkata. "Memangnya barang berharga apa yang disimpan disana?" tanya Ryung. "Kudengar, di sana ada ruangan rahasia. Yang Mulia membangunnya saat perang karena takut. Tapi ini belum pasti. Mungkin hanya gosip."

Ryung mengkombinasikan ketiga kunci yang dimilikinya untuk membuka gembok. Sulit sekali. "Bagaimana membuka gembok ini?

Flashback. Hee Bong, Heung Kyun dan Eun Bok, masing-masing mencuri satu kunci dari tiga orang prajurit tinggi istana.

Raja memerintahkan Chun untuk memeriksa Byulgo, satu-satunya tempat yang belum didatangi Iljimae.

Ryung panik. Dengan tidak sabar, ia buka gembok tersebut dengan kasar menggunakan ketiga kunci yang dimilikinya. Ryung gagal membukanya. Ia hampir menyerah dan ingin menghancurkan pintu itu, tapi mendadak ia teringat sesuatu. Diambilnya besi pembuka gembok milik Swe Dol.

Ryung gemetaran, mencoba membuka gembok.

Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh keningnya. "Lihat, kau berkeringat." kata orang itu.

Ryung menoleh dan melihat ayahnya ada disampingnya.

Swe Dol tersenyum menenangkan. "Apa kau ingin hal yang pernah kukatakan padamu?" Swe Dol memegang tangan Ryung. "Jangan gemetaran. Buka saja pelan-pelan. Tenanglah. Ada aku di sini."

Ryung mengangguk. Swe Dol mengajarinya cara membuka gembok, sama seperti hal yang pernah diajarinya dulu.

"Lihat, kau bisa membukanya." kata Swe Dol. "Kau memang penerus keluarga. Tidak ada gembok yang tidak bisa dibuka."

Tiba-tiba Ryung mendengar seseorang datang.

Chun masuk. Ia melihat gembok pintu masih terkunci, kemudian pergi.

Ryung sudah ada di dalam.

"Ryung memang hebat!" kata Swe Dol, menunjukkan ibu jarinya.

Chun membunuh Kim Min Young dan mengambil surat Kwon Do Hyun, kemudian menyimpan surat tersebut di dalam laci.

Shi Hoo mengintip mereka.

Setelah Chun keluar, ia masuk dan membuka laci. Dilihatnya surat Kwon Do Hyun. Surat tersebut berisi, "Aku harus mengatakan sesuatu padamu, jadi aku menulis surat ini sebelum aku mati. Orang yang membunuh ayahmu adalah..."

Shi Hoo teringat masa kecilnya, saat pertemuannya dengan Lee Geom dan Lee Won Ho.

Di samping surat Kwon Do Hyun, terdapat sebuah surat lain. Surat darah yang digunakan untuk menfitnah Lee Won Ho.

Shi Hoo kembali teringat masa lalunya, saat ia menguburkan surat yang sama di bawah rumah Lee Won Ho.

"Rumah itu..." Shi Hoo bergumam shock. "Dengan tanganku sendiri, aku..." Shi Hoo hampir menangis.

Ryung masuk ke sebuah ruangan yang penuh jebakan. Jika ada orang yang memasuki ruangan tersebut, maka lonceng akan berbunyi.

Ryung menembakkan tali ke seberang ruangan dan melewati tali tersebut. Di seberang, ia melihat lukisan Raja. Di lantai terukir lambang Jeonwoohoe utuh.

Ryung lemas dan terjatuh di lantai. Di lukisan itu, Raja sedang memegang sebuah pedang. Di ujungnya terukir lambang Jeonwoohoe utuh.

"Yang... Yang Mulia!" Ryung berkata shock. Ia menangis. "Pembunuh ayahku adalah... Orang yang membunuh ayahku adalah... Yang Mulia..."

Ryung mengepalkan tangannya dengan marah.

Raja berpikir. Ia bertanya-tanya siapa Iljimae ini.

"Benar." gumamnya, teringat Ryung. "Aku bertemu dengannya di depan Ruang Penyimpanan Makanan. Benar... Matanya... Matanya sama dengan mata Won Ho. Anak itu adalah Geom."

"Orang itu akan mendapat dukungan masyarakat." Raja teringat si peramal buta berkata. "Ia seperti matahari yang bersinar."

Raja juga teringat kata-katanya sebelum ia membunuh Lee Won Ho. "Bagaimana bisa ada dua matahari di langit yang sama?"

Ia berteriak pada Chun. "Tangkap Lee Geom dan bawa dia kesini!"

Ryung keluar dari ruangan tadi dan berlari di atas genting istana terlarang.

Di lain pihak, Shi Hoo juga keluar. Ia melihat Raja berlari menuju sebuah bangunan, hendak bersembunyi.

Ryung menuju ke bangunan milik Raja. Ia bertarung melawan banyak prajurit yang datang menyerangnya.

Setelah berhasil mengalahkan prajurit istana, Ryung masuk ke ruangan Raja, namun sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sana.

Makin banyak prajurit yang datang dan menyerangnya. Ryung melawan mereka semua sekuat tenaga.

Shi Hoo melihat dari jauh. Ia merobek pakaiannya dan melukai jarinya, menuliskan sesuatu pada sobekan kain tersebut dengan darahnya.

Mulanya, Shi Hoo berpura-pura bertarung dengan Ryung. "Aku juga putra Lee Won Ho." katanya. Ia menyerahkan sobekan kain pada Ryung, kemudian melawan para prajurit istana sendirian.

Ryung pergi. Ia membaca tulisan Shi Hoo, "Di dalam Byulgo"

Ryung masuk ke bangunan. Ia menyebrangi ruangan dengan tali, seperti sebelumnya. Mendadak besi pembuka gembok Swe Dol terjatuh. Lonceng berbunyi.

Pintu rahasia di depan lukisan raja terbuka. Beberapa prajurit keluar dari sana.

Ryung masuk melewati pintu rahasia itu dan lari.

Chun dan Moo Yi bertemu dengan Kong He.

Kong He berlutut. "Tolong ampuni nyawa anak itu." katanya.

"Beraninya kau menipu dan mengkhianati Tuhan kita!" seru Chun marah.

"Tuhan?" tanya Kong He. "Sa Chun, berpikirlah baik-baik. Apakah pria itu Tuhan bagimu? Kau bersedia mempertaruhkan nyawamu karena dia adalah orang yang menurutmu benar? Apa yang sudah dia lakukan? Menurunkan Gwang Hae dari tahta. Seorang pembunuh yang kejam. Dia tidak pantas menjadi Raja. Bukankah begitu?" Kong He mendongak, menatap Chun. "Agar bisa mempertahankan tahta, dia tega membunuh adiknya sendiri, membunuh teman-temannya. Ia bahkan tega membunuh putranya sendiri."

"Aku akan melakukan apapun untuk Yang Mulia. Sejak aku menjadi seperti ini, aku hanyalah seorang pembunuh."

"Chun!"

"Aku akan melindungi Yang Mulia dengan seluruh kekuatanku!" tekad Chun. Ia memerintahkan Moo Yi untuk membunuh Kong He.

Kong He menunduk sedih. Ia bertarung dengan Moo Yi dan dengan mudah mengalahkannya.

Kong He mengampuni Moo Yi dan berlari pergi.

Bong Soon berjalan terpincang-pincang ke markas persembunyian Ryung.

Flashback. Ryung menangis di depan pakaian hitam Iljimae yang digantung. "Bong Soon.. Bong Soon masih hidup..." katanya, tersenyum.

"Ryung.." gumam Bong Soon seorang diri. "Kau akan kembali dengan selamat kan? Kau akan membawaku pergi dari sini, kan? Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan tetap di sini menunggumu. Capatlah kembali."

Raja bersembunyi di ruangan rahasianya. Ia memanggil-manggil Chun, ketakutan. "Chun! Chun!"

Ryung masuk.

"Beraninya kau masuk kemari!" seru Raja. "Kau hanya seorang pencuri. Apa kau berpikir bahwa kau benar-benar seorang raja hanya karena masyarakat yang bodoh itu menyebut kau sebagai raja mereka?"

Raja mengambil pedangnya dan mengarahkannya pada Ryung.

Ryung melihat pedang itu. Ada sebuah lambang terukir di sana. "Kenapa kau membunuh ayahku?" tanya Ryung.

"Seharusnya aku membunuhmu juga." kata Raja. "Matahari itu bukan Lee Won Ho, melainkan kau. Karena kau, adikku yang tidak bersalah... adikkku Won Ho mati."

"Adik? Adik apa? Jadi... jadi..." Ryung mencoba mengendalikan emosinya. "Kenapa kau membunuh ayahku?!"

"Demi melindungi tahta ini, aku akan melakukan apapun."

"Karena itu, kau bahkan membunuh putramu sendiri?!" tanya Ryung. "Karena itu, kau membunuh banyak orang?!"

"Adikku.. atau putraku.. Siapapun yang mengancam tahtaku, aku akan membunuh mereka semua, termasuk kau!"

Raja mengayunkan pedangnya untuk menebas Ryung. Ryung mengelak dan mengarahkan pedang ke leher Raja.

"Kau tidak pantas menjadi raja." ujar Ryung tajam. "Masyarakat tidak butuh raja seperti kau! Kau harus mati! Mati!!!"

Ryung menarik Raja. "Aku berjanji pada ayahku bahwa aku akan membuatmu berlutut dihadapannya. Ikut denganku!"

Ryung membawa Raja keluar. Para prajurit tidak berani melakukan apa-apa karena Iljimae menjadikan Raja tawanan.

Di luar gerbang istana.

"Saat ini Iljimae sedang menawan Yang Mulia." kata seseorang. "Ia dikepung oleh semua prajurit istana! Kematiannya hanya tinggal menunggu waktu!"

Dan Ee cemas bukan main dan berteriak histeris. "Ryung! Ryung!"

Nyonya Han melihat Dan Ee, menyadari bahwa yang dimaksud wanita itu dalah putranya. Nyonya Han terjatuh lemas.

Dan Ee melihatnya terjatuh, dan menolongnya. "Nyonya! Nyonya!"

Nyonya Han berbisik, "Geom.. Geom.." Lalu pingsan.

Shi Hoo datang, berdiri di sisi Ryung. Beberapa saat kemudian, Kong He datang dan berdiri di sisi yang lain.

"Kita selesaikan semua ini." kata Kong He. Ryung mengangguk.

Shi Hoo dan Kong He maju bertarung melawan para prajurit istana.

"Serahkan semua ini pada kami!" seru Kong He. "Kau pergilah!"

Ryung membawa raja pergi. Chun mengikuti mereka.

Ryung membawa Raja ke rumah Lee Won Ho. Ia mendorong Raja agar berlutut di depan pohon Mae Hwa.

"Akui kesalahanmu!" perintah Ryung, mengarahkan pedang milik Raja ke leher Raja.

"Adikku..." Raja berlutut dan menangis. "Aku bersalah. Tolong maafkan aku."

"Ketidakadilan yang dialami ayahku dan semua anggota keluargaku, luruskan semuanya!" ujar Ryung.

"Baik.."

"Dan satu lagi. Kau harus memohon maaf pada semua warga yang telah kau bunuh."

"Baik..."

Ryung membuka topengnya. "Aku punya dua orang ayah. Yang satu mengajarkan aku kebajikan. Yang satunya lagi selalu menyayangi dan berkorban untukku." Ryung meneteskan air matanya. "Lalu kau.. kau ayah yang seperti apa? Untuk putramu? Untuk wargamu? Kau sungguh tidak pantas... Tinggalkan tahta! Berjanjilah!"

"Baik..."

"Jika kau tidak menepati janjimu, aku akan menyusup ke istana lagi."

"Kenapa kau tidak membunuhku?" tanya Raja.

"Pergi!" seru Ryung, menusukkan pedang yang dipegangnya ke tanah.

Raja bangkit dan berjalan pergi. "Won Ho..." gumamnya. "Won Ho..."

Ryung berlutut di depan pohon Mae Hwa dan menangis. "Ayah!" tangisnya. "Aku tidak cukup kejam, karena itulah aku mengampuni nyawanya. Apakah aku melakukan hal yang benar? Apakah aku benar?"

"Beraninya kau menghina Tuhanku!" Chun berteriak seraya menyerang Ryung dari belakang.

Ryung menghindar dan mengeluarkan pedanganya.

Mereka berdua bertarung. Pertarungan yang cukup sengit.

Chun berhasil membuat pedang Ryung terlempar.

Ryung melawan Chun dengan tangan kosong, berhasil mengalahkannya. Ia merebut pedang Chun, namun lagi-lagi Ryung tidak bisa membunuh.

Ia melempar pedang tersebut dan berbalik.

Chun mengambil pedangnya dan menebas Ryung dari belakang.

Ryung terjatuh di tanah.

Eun Chae memandang lautan, memikirkan sesuatu.

Bong Soon memutar proyektor tradisional pemberian Ryung.

Setelah menebas Ryung, Chun berjalan pergi.

Tiba-tiba Shi Hoo muncul dan dengan secepat kilat menebas leher Chun.. "Tidak peduli siapapun." ujar Shi Hoo, mengulang kata-kata yang pernah diajarkan Chun. "Jika ia menghalangi jalanku, aku akan membunuhnya.

Chun tewas.

Shi Hoo memandang mayat gurunya. "Aku... juga adalah putra Lee Won Ho."

Ryung berbaring tak bergerak di tanah, menangis sedih. "Ayah... Ayah..."

Kilatan kenangan itu muncul lagi.

4 tahun kemudian.

Seorang pedagang buku mengusir seorang anak kecil bergigi ompong.

"Nak, pergilah." katanya. "Berama umurmu?"

"5 tahun." jawab anak itu.

"Kenapa kau tinggi sekali?" tanya si pedagang.

"Karena aku mirip ibuku." jawab anak ompong.

"Lalu gigimu itu?" tanya si pedagang lagi.

"Karena aku mirip ayahku." jawab anak ompong.

Pedagang buku itu mengusir si anak. Anak ompong itu lari dan menabrak Bong Soon.

"Siapa namamu?" tanya Bong Soon.

"Namaku Kedong." jawab si anak. Kedong berarti kotoran anjing. Nama itulah yang dulu ingin diberikan Swe Dol pada Ryung, namun tidak jadi.

"Kedong?"

"Ayahku bilang, naga akan keluar dari kotoran anjing. Jadi ia memberiku nama Kedong." ujar Kedong kesal, memperlihatkan gigi ompongnya. "Kenapa dia memberiku nama Kedong? Dia merusak image-ku!"

Bong Soon tertawa. "Kenapa kau sangat mirip dengan Ryung?"

"Ryung? Ah, jika namaku Ryung, itu akan kedengaran lebih bagus." keluh Kedong.

"Kedong!" panggil seorang wanita.

"Ibu!" seru Kedong senang, berlari menuju ke dua orang wanita. "Dan Ee cantik!"

Kedong memeluk Dan Ee dan Nyonya Han.

Dan Ee terkejut melihat Bong Soon.

Dengan terpincang-pincang, Bong Soon berjalan mendekati mereka. Ia menunduk, memberi hormat.

"Sudah lama tidak bertemu." kata Dan Ee. "Bagaimana kabarmu?"

"Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan bibi?" Bong Soon menoleh menatap Nyonya Han.

"Kakakku Dae Shik!" seru Kedong. Ia menarik Dan Ee dan Nyonya Han pergi. "Ayo kita melihat pertunjukkannya."

Eun Chae kembali ke Nam Mun. Ia mengunjungi penginapannya.

"Sudah 4 tahun." Eun Chae berkata pada Ayah Seung Seung.

"Ya, sudah lama sekali." kata Ayah Seung Seung. "Apakah Tuan Besar sehat?"

Eun Chae tersenyum dan mengangguk.

"Nona!" panggil Seung Seung berlari-lari menyambut. Hee Bong mengikutinya dari belakang sambil menggendong seorang bayi. "Nona, kenapa tidak pernah memberiku kabar?"

Eun Chae hanya tersenyum.

Seung Seung menoleh ke Hee Bong. "Kenapa kau biarkan bayi itu menangis terus?" omelnya.

"Dia mengompol." jawab Hee Bong, berusaha menenangkan si bayi. "Yeon... sayang..." Hee Bong berpaling melihat Eun Chae. "Nona, kau sehat-sehat saja, kan?"

Eun Chae tersenyum dan mengangguk. Seung Seung menyuruh Hee Bong pergi untuk menggantikan popok Yeon.

"Ayo kita pergi, Yeon-ku yang imut." ujar Hee Bong penuh kasih sayang, kemudian berjalan pergi.

"Putrimu sangat cantik." kata Eun Chae. "Namanya juga cantik."

"Kurasa itu adalah nama dari gadis cinta pertama Hee Bong, tapi dia bilang tidak ingin membicarakannya." kata Seung Seung, merasa cemburu. "Siapa ya gadis itu?"

Eun Chae bertanya hati-hati, "Orang itu... apa yang dia kerjakan akhir-akhir ini?"

Seung Seung bingung. "Siapa?"

Eun Chae menunduk. "Apakah dia..."

"Si... siapa?" tanya Ayah Seung Seung, bertingkah sedikit aneh. "Maksud Nona, Ryung? Dia hidup dengan baik."

Seung Seung dan ayahnya bertukar pandang penuh arti. Ayah Seung Seung mengisyaratkan agar putrinya itu mengalihkan pembicaraan.

"Kau kelihatan lelah, Nona, ayo masuk dan beristirahat." Seung Seung berkata dan tertawa memaksa.

Eun Chae tersenyum. "Baiklah." kata Eun Chae. Ia menoleh lagi pada Ayah Seung Seung. "Bagaimana dengan kak Shi Hoo?"

"Dia baik-baik saja." jawab Ayah Seung Seung cepat.

Eun Chae tersenyum, namun kemudian wajahnya berubah muram, seperti sedang memikirkan sesuatu.

Kalau menurut pendapatku, sebenarnya Eun Chae sudah tahu tentang Ryung. Kalau dia belum tahu, pasti dia akan tanya soal Iljimae lebih dulu, bukan Ryung.

Shi Hoo tinggal di sebuah pulau di tepi pantai. Ia melihat murid-muridnya berlatih bela diri.

"Kembalilah ke istana bersamaku." ajak Moo Yi. "Tidak ada orang yang melihat kejadian saat itu."

Shi Hoo tersenyum. "Tidak." jawabnya. "Aku ingin membesarkan anak-anak itu. Aku sangat bahagia saat ini." Wajah Shi Hoo menjadi cerah dan penuh kebahagiaan, sangat berbeda dengan Shi Hoo yang dulu, yang sangat pemurung dan jarang tersenyum.

"Kau tetap tidak mau menyerahkan surat darah itu?"

"Menyimpan kerahasiaan surat itu adalah satu-satunya cara untuk melindungi mereka..." kata Shi Hoo. "Orang-orang... yang ingin dilindungi oleh adikku."

Shi Hoo tertawa. (Ganteng sekali. Hehehe...)

Eun Chae mengunjungi pohon Mae Hwa besar.

Ketika ia berbalik dan hendak pergi, terdengar kicauan burung.

"Burung-burung itu sangat malang." Ia teringat Geom kecil berkata.

"Malang? Kenapa?" tanya Eun Chae kecil.

"Ketika bunga Mae Hwa mekar, mereka akan datang. Terbang di sekitar pohon Mae Hwa siang dan malam."

Suara Ryung terngiang ditelinganya, "Aku yakin, walaupun dia sudah mati, dia akan tetap merasa bahagia."

Eun Chae menangis.

Kedong, Dan Ee dan Nyonya Han melihat pertunjukkan akrobat Dae Shi dan ayahnya. Ayah Dae Shi sudah kembali dari Cing.

Seseorang bergosip. "Apa kalian sudah dengar? Rumah pejabat istana tadi malam kemasukan maling." katanya. "Yang anehnya adalah pencuri itu mencuri dengan cara yang sama dengan yang telah dilakukan Iljimae 4 tahun lalu."

"Berarti, Iljimae sudah hidup kembali?" tanya Ayah Dae Shi.

"Tentu saja tidak!" jawab Ayah Seung Seung. "Lukisan yang digambar bukan bunga Mae Hwa merah, melainkan bunga Shindarae merah."

"Benar!" seru Deok. "Iljimae sudah mati."

"Memangnya kau melihat dia mati?" tanya orang itu.

"Ada gosip yang mengatakan bahwa dia dijual ke negara Cing." kata Ayah Seung Seung, melirik penuh arti pada Deok. Mereka mencoba melindungi rahasia Ryung.

"Dan ada gosip lain." tambah Deok. "Gosip itu mengatakan kalau Iljimae terluka sangat parah dan menjadi orang cacat."

Kedong maju dan menyimpulkan ceritanya sendiri, sama seperti yang pernah dilakukan Swe Dol. "Iljimae terluka parah dan bersembunyi ke gunung. Di sana, dia melihat bunga Shindarae. Setelah itu, dia jadi menggambar bunga Shindarae."

Kong He menyepi di pinggir pantai. Heung Kyung mengantarkan sepatu pesanan Kong He.

"Bibi Shim Deok bilang, jika kau berani memanggil Myung Wol ke sini lagi, dia akan menjual kedai dan pindah kemari." kata Heung Kyun.

Kong He tertawa. "Bagaimana kabar ayahmu yang bodoh itu?"

"Dia baik-baik saja. Sekarang dia sudah menemukan pekerjaan baru sebagai pendongeng."

Ayah Heung Kyun bekerja sebagai pendongeng. Kedong datang, membuatnya kesal.

"Cerita hari ini, berjudul 'Kembalinya Iljimae'." katanya memulai. "Dimulai pada suatu malam gerimis di Gerbang Saengsun..."

"Salah!." potong Kedong. "Seharusnya di Gerbang Hong Hwa. Dan malam itu tidak gerimis. Saat itu, ada sebuah panah melayang di Gerbang Hong Hwa..."

Iljimae mengirimkan lukisan bunga Mae Hwa ke istana. Raja menjadi panik dan ketakutan. Raja juga sepertinya bermasalah dengan kewarasannya.

"Chun, apa kau sudah menangkapnya?" tanya Raja pada Moo Yi. "Iljimae muncul lagi."

"Yang Mulia, Iljimae dan kakak Chun sudah mati." kata Moo Yi.

"Dimana Chun? Panggil Chun kemari! Dia datang lagi. Dia bilang, jika aku tidak menepati janjinya, dia akan mencuri lagi. Dia akan kembali."

Adegan kembali ke awal episode. Iljimae memecahkan balok es untuk mengambil pakaiannya. Ia menyusup dan mencuri di istana. Setelah berhasil mencuri, ia meninggalkan lukisan bunga Mae Hwa. mumkanm �#ap�/�(Чelawan tameng bahwa mereka tidak jadi dikirim ke Cing, melainkan menjadi pasukan Ming dalam peperangan melawan Cing. Di sini.

"Siapa yang berani menentang perintah Raja, maka ia akan dibunuh!" ancam Chun.

Dae Shi memegang sebuah topeng. "Aku.. aku pikir kita akan pergi ke Cing." katanya merengek. "Aku ingin pulang! Aku kelaparan!"

Moo Yi mengarahkan tombak padanya. Ryung mengintip mereka.

Ryung menyelinap ke sebuah bangunan dengan lambang Jeonwoohoe milik Lee Kyung Sub. Ia melihat pedang satu per satu dan mencari lambang Jeonwoohoe utuh, namun tidak juga menemukannya. Ryung meninggalkan lukisan bunga Mae Hwa, kemudian pergi.

Kini giliran bangunan dengan lambang Jeonwoohoe milik Kwon Do Hyun. Ia tetap tidak menemukan pedang yang dicarinya.

Ryung menyiapkan sebuah jebakan panah yang ujungnya diikatkan dengan tali dan didekatkan ke lilin. Jika lilin tersebut meleleh dan membakar tali, maka busur secara otomatis akan melepaskan anak panah.

Ia pergi ke perpustakaan di bangunan tersebut dan mencari sesuatu.

Shi Wan dan beberapa pengawal tiba-tiba datang dan menyerang Ryung. Namun anak panah tumpul melesat dengan sendirinya, mengalihkan perhatian Shi Wan dan yang lainnya. Mereka menunduk untuk menghindari panah.

Ryung memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi.

Shi Hoo melihat kekacauan yang dialami Shi Wan, kemudian pergi mengawasi para sukarelawan. Sikap Dae Shi menarik perhatiannya.

Dae Shi memegangi sebuah topeng dan merengek-rengek. "Ayah, aku ingin pergi ke Cing." katanya sedih, membersihkan topeng itu dengan seksama. Dae Shi membalik bagian dalam topeng dan terkejut melihat sesuatu.

Dae Shi menjadi salah tingkah. Ia memakai topeng itu dan melihat ke arah para pengawal, dengan sikap yang aneh. Shi Hoo curiga.

Eun Bok berjalan mengendap-endap. Tiga orang pengawal memergokinya. "Tunggu! Angkat tanganmu!"

Eun Bok mengangkat kedua tangannya. Tiba-tiba sebuah jaring jatuh dari atas dan mengurung ketiga pengawal.

Eun Bok membungkuk. "Maafkan aku." Lalu menginjak-injak ketiga pengawal. "Maafkan aku." Dan menginjak mereka lagi.

Hee Bong dan Ryung berlari datang.

"Kerjamu bagus, Eun Bok!" puji Ryung.

Eun Bok tersipu malu dan menginjak pengawal lagi.

Target selanjutnya, Ruang Penyimpanan Makanan.

Ryung, Eun Bok dan Hee Bong masuk ke Ruang Penyimpanan Makanan.

"Saat rakyat kelaparan, mereka menyimpan banyak sekali makanan di sini." omel Hee Bong.

Eun Bok memandangnya kesal. "Kau bisa bicara begitu?" tanya Eun Bok. "Kau juga ikut membantu mereka mengisi ruangan ini!"

Mereka bergegas memasukkan makanan-makanan tersebut ke dalam sebuah kantong/karung besar.

Hee Bong dan Eun Bok menyamar sebagai penjaga.

Beberapa pengawal berpatroli. "Apa ada hal yang aneh?" tanya kepala pengawal.

"Tidak!" teriak Hee Bong keras. "Tidak ada yang aneh!"

Kepala pengawal itu hendak berjalan pergi, tapi tiba-tiba berhenti. Ia melihat ke arah sepatu Eun Bok yang berbulu, bukan sepatu yang biasa dikenakan penjaga. "Ada apa dengan sepatumu?" tanyanya.

Eun Bok menunduk melihat sepatunya dan terperanjak panik.

Kepala pengawal curiga. Ia menyuruh Eun Bok membuka pintu Ruang Penyimpanan Makanan.

Di dalam, Ryung masih sibuk berkutat dengan hasil curiannya.

Eun Bok sengaja mendentingkan kunci dan gembok untuk memperingatkan Ryung.

Kepala pengawal tidak sabar dan membuka gembok itu sendiri.

Mereka masuk. Semua makanan sudah lenyap, digantikan dengan sebuah lukisan bunga Mae Hwa yang ditempel di dinding.

Hee Bong berteriak dan menunjuk. "Di sana! Iljimae! Iljimae! Iljimae pergi ke sana!"

Para pengawal berlari ke arah yang ditunjuk Hee Bong untuk mengejar Iljimae.

Hee Bong dan Eun Bok masuk ke dalam Ruang Penyimpanan Makanan dan mendongak ke atas. Di sana, kantong/karung yang berisi makanan disangkutkan oleh Ryung dengan jala. Ryung bersembunyi juga di sana.

Hee Bong melingkarkan telunjuk dan ibu jarinya. Aman.

Ryung menyamar menjadi pengawal.

Mereka bertiga meletakkan kantong/karung berisi makanan tersebut ke atas gerobak dan mendorongnya. Mereka hendak menyembunyikan makanan tersebut di suatu tempat untuk sementara.

Chun, Moo Yi dan beberapa anak buahnya lewat. Ryung melihat Moo Yi dan mengikuti mereka diam-diam. Ini di luar rencana.

"Benar." pikir Ryung. Ia teringat saat Moo Yi membawanya ke tengah danau yang membeku dan bertanya apakah Ryung adalah Geom. "Orang itu adalah..."

Ryung mengikuti Moo Yi sampai ke bangunan utama tempat Raja, kemudian berbalik lagi ke tempat teman-temannya.

"Ada apa?" tanya Hee Bong.

"Aku melihatnya. Orang yang dulu bertanya apakah aku Geom atau bukan dan mengancam akan membunuhku" jawab Ryung.

"Jadi dia adalah orang istana?" tanya Hee Bong.

"Ya." kata Ryung. "Juga orang-orang yang ingin membunuhku saat di belakang pagoda. Pembunuh ayahku pasti salah satu orang istana. Ayo kita pergi."

Ryung, Hee Bong dan Eun Bok mendorong gerobak makanan lagi. Beberapa apel terjatuh dan menggelinding ke jalan. Ryung berlari menngambil apel itu.

Tiba-tiba seseorang berdiri di hadapannya. Ia adalah Raja. Hee Bong dan Eun Bok bersujud.

Ryung mendongak untuk melihat orang itu, kemudian ikut bersujud.

"Itu buah-buahan untuk perjamuan, kan?" tanya Raja.

"Ya, Yang Mulia." jawab Ryung.

"Berhati-hatilah." Raja berkata seraya berjalan pergi diikuti para pengawalnya.

Ryung lega. Namun Raja berbalik dan kembali.

"Kau..." Raja menunduk untuk melihat wajah Ryung lebih jelas.

TAMAT

Iljimae (Episode 19)

Chun memutuskan untuk tidak membunuh Shi Hoo. Ia menatap Shi Hoo sejenak , kemudian berjalan pergi meninggalkannya.

"Saat ini pasukan sedang mengejar Iljimae." lapor Moo Yi pada Chun.

Ryung datang ke kedai untuk mencari Bong Soon. "Bong Soon!" panggilnya.

Deok mendekati Ryung dan mengeluarkan selembar kertas dari dalam bajunya. "Suamiku terburu-buru menyuruhku memberikan ini padamu. Apa ada sesuatu yang terjadi?"

Ryung membuka kertas itu. "Ryung..." ujar Kong He dalam surat tersebut. "Bong Soon selalu ingin mencari orang yang membunuh keluarganya untuk balas dendam. Dia hidup dengan tujuan itu. Namun dia, bukan saja ingin balas dendam... Demi kau, dia memutuskan untuk mengorbankan nyawanya."

Ryung terkejut.

"Aku... Putriku..." Kong He melanjutkan dalam suratnya. "Putriku Bong Soon yang malang... Aku tidak bisa membiarkannya mati seperti itu. Ryung... tidak lama lagi aku akan mati. Tolong jaga putriku Bong Soon."

Ryung bergegas berlari mencari Bong Soon dan Kong He. "Tidak... Tidak, Bong Soon... Kau tidak boleh melakukan itu!"

Kong He mengikuti pasukan yang mengejar Bong Soon. Sementara Bong Soon tersudut di sebuah jurang yang menuju laut. Ia mengeluarkan pedangnya. Ia melihat Moo Yi dan Chun datang, memutuskan untuk melawan pasukan Chun semampunya.

"Bunuh dia!" perintah Chun pada Moo Yi.

Moo Yi menyerang Bong Soon dan dengan mudah mengalahkannya. Ia mengangkat tombaknya tinggi-tinggi dan...

"Tunggu!" Kong He berseru. "Biar aku yang membunuhnya!"

Chun terkejut melihat Kong He.

"Karena Iljimae... putriku..." Kong He menatap Bong Soon. "Putriku mati. Chun, biarkan aku membunuhnya dengan tanganku sendiri."

Chun ragu. Moo Yi berkata, "Ia memang punya seorang putri."

"Baiklah." ujar Chun akhirnya. "Sudah lama sekali aku tidak melihat sorotan seperti itu di matamu. Kau adalah kau yang dulu. Berikan pedang padanya!"

Anak buah Chun menyerahkan sebuah pedang pada Kong He.

Kong He berdiri menghadapi Bong Soon. Bong Soon melawan Kong He, namun tidak bisa berbuat banyak. Ia kalah telak. Bong Soon menangis, namun terus berusaha mengangkat pedangnya.

Kong He membuang pedang Bong Soon jauh-jauh, mencoba menahan tangisnya. Ia teringat ketika Bong Soon kecil ingin ikut bersamanya. "Bong Soon, jangan takut." ujar Kong He dalam hati. "Aku akan selalu bersamamu."

Kong He menusukkan pedang diantara badan dan lengan Bong Soon, kemudian jatuh ke dalam jurang bersamanya. Kong He dan Bong Soon tercebur ke laut.

Ryung datang saat itu. "Bong... Bong Soon..." Ryung menangis.

"Turun dan bawa mayat mereka." perintah Chun pada anak buahnya.

Seorang utusan Ming bernama Kim Min Young mengatakan bahwa Ming ingin berperang dengan Cing untuk mengembalikan kejayaan mereka. Oleh karena itu, Ming butuh Chosun untuk memancing peperangan. "Mereka ingin meminta bantuanmu, Yang Mulia." katanya.

Mulanya Raja menolak, namun Min Young berusaha membujuknya dengan mengancam secara halus.

"Bukankah Yang Mulia sudah menyiapkan pasukan dan makanan untuk membantu Cing?" tanya Min Young. Min Young meminta agar Raja membantu Ming. "Jika bukan karena Ming, Yang Mulia tidak akan bisa berada di sini saat ini. Ketika kau mengalahkan Gwang Hae, kekaisaran Ming-lah yang telah membantu Yang Mulia."

Raja terlihat putus asa. "Rakyat sudah kehilangan kepercayaan mereka padaku." katanya. "Jangan bicarakan perang lagi. Kau boleh pergi."

"Yang Mulia, aku menemukan sebuah benda di sungai." kata Min Young, mulai mengancam Raja dengan tajam.

Benda yang dimaksud adalah sebuah tabung berisi sesuatu. Ingat kan, saat Moo Yi mengejar-ngejar orang, lalu orang tersebut membuang sebuah tabung ke air terjun? Tabung itulah yang ditemukan oleh Kim Min Young. Ternyata tabung itu berisi surat yang ditulis oleh Kwon Do Hyun.

Min Young mengancam Raja. Bila Raja bersedia membantu Ming, maka ia akan memberikan surat Kwon Do Hyun.

Raja tidak punya pilihan lain kecuali menuruti kemauan Kim Min Young.

Ryung mengurung dirinya dalam kamar selama berhari-hari dan bersedih. Ia menutup semua jendela dan sumber cahaya hingga kamarnya gelap gulita.

Heung Kyun menjenguknya. Ia membuka jendela kamar Ryung.

"Sampai kapan kau akan seperti ini?" tanya Heung Kyun, cemas melihat Ryung. "Perjamuan di istana akan dilaksanakan lusa. Bukankah kau ingin menyusup ke istana?"

"Kakak Bong Soon..." Ryung berkata lemah. "mati karena aku. Sekarang, Bong Soon... Bong Soon..."

"Apa kau pikir Bong Soon dan paman Kong He akan senang melihatmu murung seperti ini?" bujuk Heung Kyun. "Bagaimana dengan Dae Shi? Apa kau mau membiarkannya pergi ke Cing seperti itu? Apa kau ingin melihatnya menjadi tameng? Bukan hanya itu, seluruh Chosun akan bersedih karena kematianmu. Ayahku tidak mau makan dan jatuh sakit."

Ryung tidak bergeming.

Heung Kyun menghela nafas. "Berita peperangan sudah tersebar di istana. Kelihatannya Yang Mulia menyetujui permintaan Ming untuk memberikan Chosun sehingga mereka bisa menggunakannya untuk menyatakan perang pada Cing."

Ryung tetap tidak bergeming.

Heung Kyun menyerah. Ia kecewa pada Ryung dan kemudian keluar.

Ryung pergi ke markas persembunyiannya. "Seharusnya aku tidak mengingat masa laluku... dengan begitu, Bong Soon dan paman... kakak dan ayah... tidak mati." Ryung menatap lukisan keluarganya. "Ayah... aku akan menemukan orang itu... Aku pasti akan menangkapnya... Untuk membalaskan dendam..."

Ryung berjalan ke arah meja untuk melihat peta yang tergulung di atasnya. Ia membuka gulungan peta itu, dan menyadari sesuatu. Ia mendongak melihat pakaian Iljimae-nya yang tergantung di dinding, dan menjadi terkejut. (belum dikasih tahu kenapa Ryung terkejut).

Byun Shik mencoba membeli Jung Myung Seo. Ia memberikan sebuah batu berharga padanya.

Jung Myung Seo senang menerima hadiah tersebut, lalu berkata, "Kudengar kau dikirim ke Jeju untuk bekerja sebagai Penjaga Hewan Istana. Dimana lagi dia bisa menemukan orang setia seperti Tuan Byun Shik?"

"Aku sudah mengabdi untuk Yang Mulia sejak lama!" ujar Byun Shik kesal.

"Bersabarlah sebentar, aku akan mencoba bicara pada Yang Mulia." kata Jung Myung Seo.

Byun Shik senang mendengarnya.

Ryung mendapatkan kembali semangatnya. Ia memanggil Heung Kyun ke markas persembunyiannya.

"Kenapa kau datang lama sekali?" tanya Ryung. "Perjamuan akan diadakan sebentar lagi di istana."

Heung Kyun tertawa lega. "Ryung!"

Ryung membuka petanya dan menunjukkan pada Heung Kyun. "Enam anggota Jeonwoohoe masing-masing memiliki satu lambang, yang diukir ditubuh mereka." kata Ryung menjelaskan, menunjuk ke lambang yang ada di peta. "Kim Ik Hee, Kwon Do Hyun, Lee Kyung Sub, Suh Young Soo, yang ini mungkin Shim Ki Yoon, dan yang ini... ini simbol yang diukir di tubuh ayahku."

"Apa kau pernah melihatnya?"

"Ya, ketika aku kecil." jawab Ryung, mengangguk. "Lambang di pedang orang yang membunuh ayahku adalah gabungan dari enam lambang tadi."

"Berarti, masih ada satu orang lagi?"

"Aku berpikir bahwa orang itu adalah orang yang telah membunuh Lee Kyung Sub dan juga orang yang telah membunuh ayahku." ujar Ryung.

Heung Kyun berpikir. "Bisakah kita menemukan pembunuh itu di bangunan utama?"

"Mungkin pedang orang yang membunuh ayahku ada di sana." jawab Ryung, tidak terlalu yakin. "Aku yakin, paling tidak kita bisa menemukan petunjuk."

"Bagaimana kau bisa menyusup ke bangunan utama?" Heung Kyun ragu. "Ada ratusan penjaga di istana. Itu hal yang mustahil."

"Aku bisa melakukannya." ujar Ryung yakin.

"Kalau begitu, cari seseorang yang bisa membantumu."

Ryung menggeleng. "Tidak perlu, aku akan melakukannya sendiri. Aku tidak mau membahayakan hidup orang lain lagi demi aku."

"Kau! Ini bukan tentang dirimu saja!" seru Heung Kyun. "Ini juga untuk membantu Dae Shi dan para warga yang dipaksa pergi ke Cing. Jika kau terlalu sombong dan menyusup ke dalam istana sendirian, lalu gagal, bukan hanya kau sendiri yang akan mati, tapi juga Dae Shi dan yang lainnya. Bagaimana jika kau ditangkap? Bagaimana dengan ibumu?"

Ryung berpikir.

Anak buah Hee Bong berlari-lari panik. "Ketua! Ryung berkelahi dengan geng Niu Dou." serunya panik.

"Anak ini... Kenapa kau bicara omong kosong seperti itu?" tanya Hee Bong tidak percaya. "Bukankah Ryung mengurung diri di kamarnya selama berhari-hari karena Bong Soon? Tapi ngomong-ngomong, sejak kapan mereka punya hubungan khusus?"

"Aku sungguh-sungguh. Ryung sendiri yang bilang ketika ia mengambil senjata."

Hee Bong terkejut. "Benarkah? Jadi, si Bong Soon itu jatuh cinta pada Niu Dou?" Hee Bong mengambil kesimpulan sendiri dan memerintahkan anak buahnya untuk pergi membantu Ryung.

Di markas persembunyian, Heung Kyun membantu Ryung memasang kostum Iljimaenya. Ia menceritakan pada Ryung bahwa tabib mengambil ramuan beracun, Ia curiga bahwa tabib tersebut diperintahkan oleh raja untuk membunuh Putra Mahkota.

Ryung tertawa. "Tidak mungkin. Mana ada orang yang ingin membunuh putranya sendiri? Pikiranmu terlalu negatif."

Heung Kyun ikut tertawa. "Kau benar." katanya.

Aku mau ngasih tahu nih,, Pas Ryung memakai pakaian Iljimae-nya, di dinding ternyata masih ada pakaian Iljimae yang lain.

Ryung dan Heung Kyun mendengar pintu dibuka dengan kasar di rumah pandai besi, kemudian terdengar suara Hee Bong, "Dimana geng Niu Dou itu?!" tanyanya. "Apa mereka benar-benar disini?"

Ryung tertawa, lalu berkata pada Heung Kyun. "Jika aku tertangkap, kau akan kehilangan nyawamu. Lalu bagaimana dengan paman Ha Dou?"

Heung Kyun tertawa. "Bagus sekali kau memikirkan itu."

Ryung pergi ke atas untuk menemui Hee Bong dan anak buahnya. Hee Bong terkejut dan berteriak marah. "Kau! Dimana Ryung?!"

Ryung diam saja.

"Ah! Apa kau adalah ketua geng Niu Dou?" tanya Hee Bong, mengancam. "Kau akan mati disini!"

Anak buah Hee Bong berbisik, "Dia adalah Iljimae. Iljimae."

"Bukankah dia sudah mati?" tanya anak buah Hee Bong yang satu lagi. "Iljimae."

"Apa kau.. kau.. kau Iljimae?" tanya Hee Bong terbata-bata. "Di.. di.. dimana Ryung?"

Ryung mengibaskan rambutnya. "Kau.. benar-benar merusak image-ku." Ryung membuka topengnya. "Aku Ryung."

"Hah!!!" Hee Bong berteriak kaget. "Ryu.. Ryung!"

Ryung tertawa, melambaikan tangannya pada Hee Bong dan kedua anak buahnya. "Halo, kakak!

Salah satu anak buah Hee Bong menunduk memberi hormat pada Ryung. "Sungguh kehormatan besar bagiku! Kakak Iljimae!"

"Kehormatan untukku juga!" anak buah Hee Bong yang lain tidak mau kalah, menyalami tangan Iljimae. "Ryung adalah Iljimae!"

Hee Bong terpaku, melongo.

Ryung tersenyum padanya. "Aku butuh bantuanmu, Kak!"

Di lain sisi, pihak istana melatih pasukannya dengan intensif.

"Jangan khawatir!" kata Hee Bong. "Aku akan mengerahkan geng! Termasuk geng Guma!"

"Terima kasih, Kak!" kata Ryung.

"Terima kasih apa? Ini kehormatan bagiku." Hee Bong tertawa senang. "Tapi.. orang yang menyamar menjadi Iljimae dan mati... Siapa dia?"

Ryung maupun Heung Kyun tidak menjawab.

Ryung bersikap seolah tidak mendengar apapun dan menjelaskan rencananya. "Kita akan membagi kelompok menjadi dua. Yang satu bersiaga di dalam istana dan yang satu lagi di luar istana. Kelompok yang di dalam istana termasuk aku dan Hee Bong."

"Aku di dalam juga." kata Heung Kyun memutuskan.

"Baiklah." Hee Bong setuju.

"Geng Guma dan geng Bong Dou akan bertanggung jawab pada segala sesuatu di luar istana." Ryung melanjutkan.

Tiba-tiba terdengar suara dari rumah pandai besi. "Geom, apa kau di dalam? Geom?" Rupanya itu adalah pemburu Jang.

Ryung dan Hee Bong ke atas untuk menemuinya.

"Mau apa kau kemari?" tanya Hee Bong, siap tempur.

"Kali ini... bisakah kau mengizinkan aku bergabung dengan kalian?" tanya pemburu Jang.

"Apa?!" seru Hee Bong. "Tidak! Kau terlalu tua untuk bergabung dengan kami. Pergi!"

"Aku tahu kalau aku akan ditolak, karena itulah aku membawa seorang pemuda kemari." Pemburu Jang tersenyum menang. "Kemari, anakku."

Eun Bok masuk dan memberi hormat. "Apa kabar, kakak?" Ia terperanjat kaget dan ketakutan melihat Hee Bong.

Anak buah Hee Bong masuk dan berkata bahwa Shi Wan mencari Ryung. Ryung tersenyum. Kebetulan sekali, ia sedang butuh informasi.

"Hari ini orang tuaku akan berangkat ke Jeju, jadi aku meminta waktu keluar istana sebentar." kata Shi Wan menjelaskan.

"Jeju?" tanya Ryung bingung. "Apa seluruh anggota keluargamu ikut?"

"Ya." jawab Shi Wan sedih. "Ayahku dipecat."

Ryung menghibur Shi Wan. "Akan terjadi perang disini, pergi ke Jeju mungkin adalah hal yang baik untuknya."

"Dari mana kau tahu?" tanya Shi Wan.

"Gosip itu tersebar dimana-mana." kata Ryung. "Tapi gosip itu salah, kan?"

Shi Wan berbisik pada Ryung. "Kurasa gosip itu tidak salah. Kim Min Young, utusan Ming, menemui Yang Mulia. Aku melihatnya sendiri. Hush, ini rahasia."

Ryung memancing Shi Wan agar memberi tahu jumlah pasukan di istana. Shi Wan menjawab, "Jumlah pengawal di Gerbang Hong Hwa ada 30 orang. Bukan hanya itu, pengawal yang berpatroli di istana ada 100 orang. Pengawal khusus pelindung Yang Mulia, seperti aku, ada 15 orang." Masih banyak pasukan yang lain yang menjaga masing-masing wilayah istana.

Sebelum pergi, Byun Shik berbincang dengan Shi Hoo. Ia melihat jari kelingking Shi Hoo yang terpotong.

"Aku sudah mendengar dari Eun Chae..." kata Byun Shik, merasa bersalah. "Shi Hoo.. apa kau sangat membenci ayahmu ini? Kau berusaha keras untuk mendapat posisimu yang ini. Aku harap kau akan terus seperti itu."

"Ya."

"Aku... memiliki putra sepertimu.. membuatku bangga." Byun Shik memandang Shi Hoo dengan perasaan sayang. "Tolong jaga Shi Wan. Dia tidak pernah melakukan segala sesuatu dengan benar. Oleh karena itulah ia sangat iri padamu. Tolong kau jangan membencinya."

"Ya. Aku pergi dulu."

Byun Shik meminta Shi Hoo untuk menemui Eun Chae terlebih dahulu, namun Shi Hoo menolak. "Jaga dirimu dan hati-hati di perjalanan." Shi Hoo pamit pergi, namun kemudian berbalik lagi dan bertanya., "Ibuku... orang seperti apa dia?"

"Itu..." Byun Shik ragu sejenak. "Di Jeonwoohoe, ada seorang anggota bernama Lee Won Ho. Ibumu adalah pelayannya. Aku melihat ibumu dengan tidak sengaja dan aku ingin memilikinya."

"Lee Won Ho?"

"Dia dibunuh karena melakukan pemberontakan." Byun Shik menjelaskan. "Rumah yang sekarang ditempati bibimu adalah rumah Lee Won Ho."

Shi Hoo kemudian pergi ke rumah Lee Won Ho.

"Jadi ini adalah tempat ayahku tinggal?" gumamnya. "Tapi rumah ini sepertinya tidak asing lagi bagiku. Sepertinya aku pernah datang kemari sebelumnya."

Shi Wan menarik dan menyeret Ryung dengan paksa.

'Tuan, aku sedang terburu-buru pergi ke suatu tempat." kata Ryung, mencoba kabur. "Aku benar-benar harus pergi."

Shi Wan tersenyum penuh arti. "Kau... kau menyukai Eun Chae, kan? Kau pernah berkata pada Eun Chae tentang takdir atau semacamnya."

Ryung terdiam.

"Hari ini adalah kesempatan terakhir untuk bertemu." kata Shi Wan. "Jadi aku ingin mengajakmu menemuinya."

Ryung tersenyum pahit dan mencoba pergi. "Tapi aku harus melakukan sesuatu yang sangat penting."

Shi Wan memeganginya.

"Shi Wan!" Byun Shik memanggil Shi Wan dan menyuruhnya mendekat. Byun Shik menasehati Shi Wan agar tidak membuat keributan dan hidup dengan tenang. Shi Wan nyengir.

Ryung melihat mereka dari jarak yang agak jauh. Eun Chae memandang Ryung sekilas.

Shi Hoo mengantar ayah dan ibunya keluar, kemudian mendorong Ryung ke depan Eun Chae. "Cepat ucapkan selamat tinggal." bisiknya pada Ryung.

Ryung menundukkan kepala, sulit menatap mata Eun Chae.

"Jaga dirimu." kata Eun Chae, tersenyum, lalu berjalan pergi melewati Ryung.

Ryung menatapnya dari belakang. Eun Chae berhenti berjalan dan menoleh pada Ryung. Ryung memalingkan kepalanya.

Flashback "Sekali... Hanya sekali ini saja..." Eun Chae memeluk Iljimae dari belakang. "Izinkan aku melihat wajahmu." Ryung berbalik. Eun Chae mengulurkan tangan untuk membuka topengnya, namun Ryung memegang tangan Eun Chae, mencegahnya. Ryung membelakangi Eun Chae dan meneteskan air matanya.

Eun Chae menatap Ryung sejenak, kemudian berjalan pergi.

Shi Hoo mengunjungi Dan Ee, yang saat itu sedang menjahit baji Iljimae milik Ryung.

"Apa benar dia sudah mati?" tanya Shi Hoo. Ia kemudian masuk dan mengambil baju tersebut. "Kudengar putramu telah mati, karena itu aku khawatir dan mengunjungimu. Tapi ternyata sia-sia aku kemari. Benar, bukan?" Dia tidak akan mati semudah itu."

"Ja Dol... Tolong..."

Shi Hoo melempar baju Iljimae. "Jika dia masih hidup dan masih tetap ingin menyusup ke istana, maka aku akan menangkapnya."

Shi Hoo bertanya pada Dan Ee, kenapa Dan Ee masih terus mencintai Lee Won Ho, pria yang telah mencampakan Dan Ee dan anaknya sendiri. Sebegitu besarkah cinta Dan Ee hingga ia rela membesarkan anak pria itu (Ryung)?

"Bagiku, dia bukan siapa-siapa." kata Shi Hoo. "Dia hanyalah seorang pencuri!"

Shi Hoo pergi dan melaporkan pada Chun bahwa Iljimae masih hidup. Chun kemudian memerintahkan Moo Yi untuk memanggil semua pengawal yang berada di luar istana untuk berjaga di istana.

"Kenapa kau tidak membunuhnya?" tanya Moo Yi.

"Lukanya terlalu banyak." kata Chun. "Ia mengingatkan aku pada diriku sendiri ketika aku masih muda."

"Bukankah kau bilang bahwa kita tidak boleh punya perasaan?" tanya Moo Yi.

Chun terdiam.

Iljimae mengirimkan lukisan bunga Mae Hwa ke istana, peringatan pada pihak istana bahwa ia akan datang untuk mencuri.

Ryung, Heung Kyun, Hee Bong dan Eun Bok berunding.

"Hwang Ha Dang adalah wilayah pribadi Raja." Heung Kyun menjelaskan. "Disini adalah bangunan tempat para pejabat berunding dan mengadakan rapat, sedangkan disini adalah bangunan tempat penyimpanan rahasia."

"Lalu, dimana kita akan mencuri?" tanya Hee Bong.

"Di dua wilayah pusat istana." jawab Ryung. "Ruang Penyimpanan Harta dan Ruang Penyimpanan Makanan. Di luar banyak warga yang mati karena kelaparan, sementara di istana makanan melimpah. Ruang Penyimpanan Harta juga sangat penuh berisi. Selain itu, Dae Shi dan yang lainnya juga dikumpulkan di dekat sana."

Tanpa mereka tahu, Ayah Heung Kyun mencuri dengar dari rumah pandai besi. "Ryung... Bajingan kecil itu..."

"Aku akan memberi tahu Dae Shi." Ryung melanjutkan. "Kelompok di luar istana akan bertanggung jawab menjaga keamanan."

"Beres!" seru Hee Bong.

"Saat aku pergi untuk melihat pedang di gedung utama, Hee Bong dan Eun Bok akan menuju Ruang Penyimpanan makanan. Setelah itu, semua orang berkumpul di dekat Ruang Penyimpanan Harta. Ketika aku pergi ke ruang penyimpanan yang lain, kalian semua harus menyerbu keluar istana."

"Tapi, bagaimana cara kita masuk ke istana?" tanya Hee Bong.

Ryung mengeluarkan papan tanda masuk yang dibuatkan Bong Soon. "Ini untukmu. Baik, kelihatannya rencana kita sudah cukup sempurna."

"Lalu jika kita sudah masuk istana, kita akan bagaimana?" tanya Eun Bok. "Bagaimana kita bisa mencuri jika tidak punya kunci?"

Ryung dan Heung Kyun saling berpandangan dan tertawa. Rupanya Heung Kyun sudah memikirkan hal itu.

Sebelumnya, Heung Kyun berpura-pura menabrak penjaga yang memegang kunci hingga kunci tersebut jatuh. Setelah itu, Heung Kyun menggunakan sepatu buatannya untuk mencetak kunci tersebut.

"Wah, hebat." kata Eun Bok kagum, melihat cetakan kunci di telapak sepatu buatan Heung Kyun. "Bagaimana kau melakukannya?"

"Aku melapisi alas sepatuku dengan lumpur, kemudian menggunakan usus babi untuk melapisi bagian atasnya." Heung Kyun menjelaskan.

"Ini dia kuncinya." Ryung menyerahkan kunci pada Hee Bong dan Eun Bok.

Ayah Heung Kyun berlari menemui Pemburu Jang, Shim Deok dan Ayah Seung Seung. "Bagaimana? Bagaimana?" tanya mereka penasaran.

"Jangan berisik!" bisik Ayah Heung Kyun, melihat sekeliling seolah-olah ada orang yang sedang memata-matai mereka. "Pertama, Raja dan istrinya sudah tidur."

"Hah?" Shim Deok bingung. "Aku menyuruhmu melihat situasi dan kau kembali dengan informati seperti itu?"

Mereka kecewa dan hendak mengusir Ayah Heung Kyun. Namun Ayah Heung Kyun melanjutkan, "Lalu mengambil jantungnya."

"Mengambil jantung apa?!" seru Ayah Seung Seung kesal.

"Benar! Bukan jantung, tapi mencuri sepasang sepatu." kata Ayah Heung Kyun tidak jelas juntrungannya.

Mereka memukulinya dengan kesal.

"Kita harus menyusun strategi sendiri." kata Ayah Heung Kyun.

Hari perjamuan tiba.

Hee Bong menyamar menjadi pengantar tenda perjamuan.

"Buka." kata si Penjaga, menyuruh Hee Bong menunjukkan isi peti yang dibawanya.

Hee Bong mengangguk, memberikan isyarat.

Tiba-tiba dua orang pedagang bertengkar dan membuat keributan. Penjaga menyuruh Hee Bong masuk dan memisahkan dua orang pedagang yang bertengkar tersebut.

Ryung bersiap pergi. Terlebih dahulu ia melihat lukisan keluarga Lee Won Ho. "Ayah, aku pasti akan menemukan orang itu." janjinya. Ryung berbalik dan mengambil besi pembuka gembok pemberian Swe Dol. "Ayah, kau akan berada di sisiku, bukan?"

Ketika Ryung hendak berjalan pergi, Dan Ee masuk. "Jangan pergi!" katanya.

"Ibu.."

"Jika sesuatu terjadi padamu, aku... aku..."

"Aku akan baik-baik saja, ibu." Ryung menenangkan. "Aku pasti akan berhasil. Aku akan menyelamatkan Dae Shi... dan aku juga akan menemukan pembunuh ayahku."

"Kalau begitu berjanjilah padaku." kata Dan Ee. "Kau harus hidup dan kembali pulang."

"Ya, ibu. Aku tidak akan mati." janji Ryung.

Dan Ee menyerahkan baju Iljimae yang dijahitnya. "Pakailah pakaian yang layak. Kau adalah Iljimae. Bagaimana bisa kau merusak image-mu seperti itu?"

Ryung terharu.

"Berjanjilah. Berjanjilah kau akan kembali dengan selamat."

"Ya." janji Ryung. "Jangan cemas, ibu! Di sini..." Ryung mengenggam besi pembuka gembok yang dikalungkan di lehernya. "Aku dan Ayah Ryung akan bersama."

Dan Ee tersenyum dan mengangguk.

Nyonya Han terkejut melihat perhiasan milik Lee Won Ho dikenakan oleh salah satu gadis penghibur. "Ini... dari mana kau mendapatkan ini?" tanyanya.

"Ini pemberian kepala pengawal." jawab si gadis penghibur. "Namanya Tuan Shi Wan. Dia memberiku ini sebagai bayaran minum arak."

Nyonya Han mengambil perhiasan itu dan berlari pergi.

"Kembalikan, itu milikku!" teriak gadis penghibur.

Nyonya Han pergi ke gerbang istana, mencari Shi Wan.

"Ada apa?" tanya Shi Wan kesal.

"Tuan Muda, ini..." Nyonya Han menunjukkan perhiasan yang dipegangnya.

Shi Wan marah-marah. "Jadi kau kemari menggangguku bekerja hanya untuk menagih uang arak? Kau takut aku tidak membayar?"

"Bukan itu. Tuan, milik siapa perhiasan ini?" tanya Nyonya Han.

"Itu milik Ryung, sahabatku." jawab Shi Wan.

"Ryung?"

"Laki-laki yang malam itu aku gendong di punggungku." Shi Wan menjawab tidak sabar.

Nyonya Han mengingat malam itu.

Shi Wan mendorong Nyonya Han dengan kesal sehingga Nyonya Han hampir jatuh dan perhiasan yang dipegangnya terlempar ke tanah, hampir ke tengah jalan. Nyonya Han berlari untuk mengambil perhiasan itu.

"Beri jalan!" seru penjaga gerbang padanya. "Duta Besar Cing, Ba Eum So, akan segera tiba."

Rombongan Duta Besar Cing berjalan menuju gerbang. Nyonya Han berusaha mengambil perhiasan itu.

Rombongan Duta Besar Cing itu ternyata adalah Ryung dan kawan-kawannya yang sedang menyamar.

Ryung menyamar menjadi Ba Eum So sementara Eun Bok menjadi juru bicara dan penerjemahnya.

Ketika penjaga gerbang hendak membuka perkamen yang berisi lukisan wajah Ba Eum So, Eun Bok berpura-pura batuk dan sengaja menjatuhkan perkamen. Ia mengambil perkamen tersebut dan menggantinya dengan perkamen yang sudah disiapkan Ryung.

Flashback. Hee Bong mengajari Eun Bok trik mengganti perkamen.

"Maafkan aku." kata Eun Bok, menyerahkan perkamen palsu.

Penjaga membuka perkamen itu dan melihat wajah Ryung disana. Ia mengangguk, pertanda bahwa ia adalah mereka diizinkan masuk.

Nyonya Han mengambil perhiasan Lee Won Ho.

Ryung tidak sengaja menoleh dan melihat wanita itu sedang membersihkan perhiasan milik ayahnya dengan hati-hati.

Ryung membuka tirai tandunya lebih lebar untuk melihat wanita itu. Nyonya Han melihat Ryung.

"Ibu!" gumam Ryung, terkejut.

Nyonya Han menangis. "Geom..."

Tandu berjalan masuk melewati gerbang istana.

"Ibu..." Ryung menangis dan terus mencoba melihat ibunya.

Nyonya Han tersenyum lega. "Geom... Kau masih hidup..."

"Ibu... Bagaimana kau mengenaliku?" ujar Ryung dalam hati. "Sudah 14 tahun..."

"Geom-ku..." Nyonya Han tidak bisa menahan air matanya. "Geom-ku... tidak berubah... tidak berubah sama sekali..."

"Bertemu dengan ibu seperti ini... tapi aku masih meninggalkanmu... Sama seperti saat itu... Ibu, semuanya akan segera berakhir. Tunggulah aku sebentar lagi. Sebentar saja."

Rombongan Ryung masuk ke dalam istana. Di jembatan, Eun Bok berpura-pura tersandung dan sepatunya lepas. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk memasang jaring di bawah jembatan.

Hee Bong memasang tenda untuk perjamuan istana. Dengan diam-diam, ia menggergaji tiang kayu penyangga tenda. Heung Kyun menutupinya agar tidak terlihat.

Ryung diantar ke salah satu bangunan dengan lambang Jeonwoohoe milik Shim Ki Yoon.

Di sana adalah ruang hadiah. Eun Bok menyerahkan sebuah hadiah untuk Raja pada salah satu pejabat.

"Bisakah kami melihat hadiah tersebut terlebih dahulu?" tanya pejabat itu.

"Tentu." Eun Bok membuka peti hadiah. Di dalamnya terdapat beberapa guci keramik berharga. Si pejabat terkagum-kagum melihat hadiah itu.

"Kami akan meletakkan hadiah tersebut disini." kata Eun Bok. "Setelah perjamuan dimulai, kami akan menyerahkannya langsung pada Yang Mulia."

Sebelum perjamuan dimulai, Ryung meminta diberi waktu untuk beristirahat. Pejabat dan para pengawalnya keluar.

Ryung melihat pedang yang ada di sana satu per satu, namun tidak menemukan lambang Jeonwoohoe utuh. Ia kemudian membuka peti hadiah yang dibawanya dan mengeluarkan guci keramik. Di balik kain alas guci tersebut, tersimpan pakaian Iljimae.

Iljimae menyimpan semua hadiah dan barang berharga yang ada di ruangan itu ke dalam peti-peti.

Di saat yang sama, Raja sedang berjalan untuk menemui Duta Besar Cing. "Yang Mulia tiba!" ujar penjaga mengumumkan.

Raja masuk ke dalam ruangan hadiah itu dan melihat lukisan bunga Mae Hwa di sana. Iljimae mengganti semua barang berharga yang dicurinya dengan sebuah mangkuk tempat makan anjing yang diambilnya dari rumah Ayah Heung Kyun, sebuah guci arak milik kedai minum Shim Deok dan sebuah akar pohon yang mirip ginseng.

Raja marah, merasa dibodohi.

Saat itulah Ba Eum So yang asli tiba di depan gerbang istana.

Chun mengumumkan pada para sukarelawan tameng bahwa mereka tidak jadi dikirim ke Cing, melainkan menjadi pasukan Ming dalam peperangan melawan Cing. Di sini.

"Siapa yang berani menentang perintah Raja, maka ia akan dibunuh!" ancam Chun.

Dae Shi memegang sebuah topeng. "Aku.. aku pikir kita akan pergi ke Cing." katanya merengek. "Aku ingin pulang! Aku kelaparan!"

Moo Yi mengarahkan tombak padanya. Ryung mengintip mereka.

Ryung menyelinap ke sebuah bangunan dengan lambang Jeonwoohoe milik Lee Kyung Sub. Ia melihat pedang satu per satu dan mencari lambang Jeonwoohoe utuh, namun tidak juga menemukannya. Ryung meninggalkan lukisan bunga Mae Hwa, kemudian pergi.

Kini giliran bangunan dengan lambang Jeonwoohoe milik Kwon Do Hyun. Ia tetap tidak menemukan pedang yang dicarinya.

Ryung menyiapkan sebuah jebakan panah yang ujungnya diikatkan dengan tali dan didekatkan ke lilin. Jika lilin tersebut meleleh dan membakar tali, maka busur secara otomatis akan melepaskan anak panah.

Ia pergi ke perpustakaan di bangunan tersebut dan mencari sesuatu.

Shi Wan dan beberapa pengawal tiba-tiba datang dan menyerang Ryung. Namun anak panah tumpul melesat dengan sendirinya, mengalihkan perhatian Shi Wan dan yang lainnya. Mereka menunduk untuk menghindari panah.

Ryung memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi.

Shi Hoo melihat kekacauan yang dialami Shi Wan, kemudian pergi mengawasi para sukarelawan. Sikap Dae Shi menarik perhatiannya.

Dae Shi memegangi sebuah topeng dan merengek-rengek. "Ayah, aku ingin pergi ke Cing." katanya sedih, membersihkan topeng itu dengan seksama. Dae Shi membalik bagian dalam topeng dan terkejut melihat sesuatu.

Dae Shi menjadi salah tingkah. Ia memakai topeng itu dan melihat ke arah para pengawal, dengan sikap yang aneh. Shi Hoo curiga.

Eun Bok berjalan mengendap-endap. Tiga orang pengawal memergokinya. "Tunggu! Angkat tanganmu!"

Eun Bok mengangkat kedua tangannya. Tiba-tiba sebuah jaring jatuh dari atas dan mengurung ketiga pengawal.

Eun Bok membungkuk. "Maafkan aku." Lalu menginjak-injak ketiga pengawal. "Maafkan aku." Dan menginjak mereka lagi.

Hee Bong dan Ryung berlari datang.

"Kerjamu bagus, Eun Bok!" puji Ryung.

Eun Bok tersipu malu dan menginjak pengawal lagi.

Target selanjutnya, Ruang Penyimpanan Makanan.

Ryung, Eun Bok dan Hee Bong masuk ke Ruang Penyimpanan Makanan.

"Saat rakyat kelaparan, mereka menyimpan banyak sekali makanan di sini." omel Hee Bong.

Eun Bok memandangnya kesal. "Kau bisa bicara begitu?" tanya Eun Bok. "Kau juga ikut membantu mereka mengisi ruangan ini!"

Mereka bergegas memasukkan makanan-makanan tersebut ke dalam sebuah kantong/karung besar.

Hee Bong dan Eun Bok menyamar sebagai penjaga.

Beberapa pengawal berpatroli. "Apa ada hal yang aneh?" tanya kepala pengawal.

"Tidak!" teriak Hee Bong keras. "Tidak ada yang aneh!"

Kepala pengawal itu hendak berjalan pergi, tapi tiba-tiba berhenti. Ia melihat ke arah sepatu Eun Bok yang berbulu, bukan sepatu yang biasa dikenakan penjaga. "Ada apa dengan sepatumu?" tanyanya.

Eun Bok menunduk melihat sepatunya dan terperanjak panik.

Kepala pengawal curiga. Ia menyuruh Eun Bok membuka pintu Ruang Penyimpanan Makanan.

Di dalam, Ryung masih sibuk berkutat dengan hasil curiannya.

Eun Bok sengaja mendentingkan kunci dan gembok untuk memperingatkan Ryung.

Kepala pengawal tidak sabar dan membuka gembok itu sendiri.

Mereka masuk. Semua makanan sudah lenyap, digantikan dengan sebuah lukisan bunga Mae Hwa yang ditempel di dinding.

Hee Bong berteriak dan menunjuk. "Di sana! Iljimae! Iljimae! Iljimae pergi ke sana!"

Para pengawal berlari ke arah yang ditunjuk Hee Bong untuk mengejar Iljimae.

Hee Bong dan Eun Bok masuk ke dalam Ruang Penyimpanan Makanan dan mendongak ke atas. Di sana, kantong/karung yang berisi makanan disangkutkan oleh Ryung dengan jala. Ryung bersembunyi juga di sana.

Hee Bong melingkarkan telunjuk dan ibu jarinya. Aman.

Ryung menyamar menjadi pengawal.

Mereka bertiga meletakkan kantong/karung berisi makanan tersebut ke atas gerobak dan mendorongnya. Mereka hendak menyembunyikan makanan tersebut di suatu tempat untuk sementara.

Chun, Moo Yi dan beberapa anak buahnya lewat. Ryung melihat Moo Yi dan mengikuti mereka diam-diam. Ini di luar rencana.

"Benar." pikir Ryung. Ia teringat saat Moo Yi membawanya ke tengah danau yang membeku dan bertanya apakah Ryung adalah Geom. "Orang itu adalah..."

Ryung mengikuti Moo Yi sampai ke bangunan utama tempat Raja, kemudian berbalik lagi ke tempat teman-temannya.

"Ada apa?" tanya Hee Bong.

"Aku melihatnya. Orang yang dulu bertanya apakah aku Geom atau bukan dan mengancam akan membunuhku" jawab Ryung.

"Jadi dia adalah orang istana?" tanya Hee Bong.

"Ya." kata Ryung. "Juga orang-orang yang ingin membunuhku saat di belakang pagoda. Pembunuh ayahku pasti salah satu orang istana. Ayo kita pergi."

Ryung, Hee Bong dan Eun Bok mendorong gerobak makanan lagi. Beberapa apel terjatuh dan menggelinding ke jalan. Ryung berlari menngambil apel itu.

Tiba-tiba seseorang berdiri di hadapannya. Ia adalah Raja. Hee Bong dan Eun Bok bersujud.

Ryung mendongak untuk melihat orang itu, kemudian ikut bersujud.

"Itu buah-buahan untuk perjamuan, kan?" tanya Raja.

"Ya, Yang Mulia." jawab Ryung.

"Berhati-hatilah." Raja berkata seraya berjalan pergi diikuti para pengawalnya.

Ryung lega. Namun Raja berbalik dan kembali.

"Kau..." Raja menunduk untuk melihat wajah Ryung lebih jelas.