Silahkan Mencari !!!

Info!!!

kelanjutan fan fiction & recap drama semua ada di blog q yang baru
fanfic : www.ff-lovers86.blogspot.com
recap : www.korea-recaps86.blogspot.com
terima kasih...
Tampilkan postingan dengan label Jung Yong Hwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jung Yong Hwa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Agustus 2010

Sepotong Kalimat Cinta


Title : Sepotong Kalimat Cinta
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 12 January 2010, 10.28 AM
Cast :
Park Shin Hye
Jung Yong Hwa
Yoon Eun Hye
Song Hye Gyo


Seharusnya Kau Tahu
Created By Sweety Qliquers


Aku tahu aku bodoh telah mengharapkannya. Bukankah itu adalah mimpi yang paling konyol? Aku jadi teringat kemarin, saat Yoon Eun Hye meneleponku sore-sore.

"Halo, Park Shin Hye, ya?"

"Yap." Aku menyahut cepat. "Betul sekali."

"Apa yang sedang kau lakukan?"

"Sedang menerima telepon."

"Sudah tahu, Non!" Suara Yoon Eun Hye terdengar jengkel. "Bagaimana kalau kita bergosip saja. Di rumahku sedang tidak ada orang, juga tidak ada kerjaan. Jadi daripada bengong, kan?"

Ups, itulah enaknya jadi orang kaya. Tak perlu memikirkan biaya pulsa yang membengkak.

"Tapi mau bergosip apa?"

"Bukan bergosip apa, tapi bergosip siapa?" Yoon Eun Hye meralat. "Eh, menurutmu Jung Yong Hwa itu bagaimana?"

Ups! Hatiku berdebar tiba-tiba. Sudah tentu, karena hanya dia yang selama ini merusak semangat makanku, semangat tidurku, juga semangat belajarku. Memangnya ada pria lain yang lebih keren?

"Bagaimana?" desak Yoon Eun Hye lagi.

"Eh... lumayan." Aku buru-buru menyahut.

"L-u-m-a-y-a-n?" Suara Yoon Eun Hye jelas betul tidak terima. "Hanya itu?"

"Yap."

"Apa hanya itu? Yang benar saja!"

"Memangnya menurutmu bagaimana?" pancingku mencoba tetap cuek.

"Menurutku...." Yoon Eun Hye berhenti sejenak. "Keren. Cakep. Fantastis. Manis. Ganteng!"

Aku mau tak mau tertawa juga.

"Apa kau tidak tertarik sama sekali?" Yoon Eun Hye kedengarannya penasaran. "Teman-teman sekelas kita banyak yang menaruh hati padanya."

"Termasuk dirimu."

"Tentu! Kau...."

"Ya, kalau sekedar suka sih...."

Sampai di situ lamunanku terhenti. Di pandangan Yoon Eun Hye, juga teman-teman lain — bahkan mungkin termasuk Jung Yong Hwa sendiri — aku tampak begitu acuh tak acuh terhadap pria itu. Padahal sebenarnya, berpapasan dengan Jung Yong Hwa saja dapat membuat hatiku menari dengan begitu gembiranya. Hanya, aku memang bukanlah Yoon Eun Hye, Go Ah Ra, Kim So Eun, atau siapa saja yang berani mengungkapkan perasaan dengan terus-terang. Aku lebih suka memendam rapat-rapat perasaanku.

Aku kemudian terdiam. Lama.

Aku jadi gelisah oleh kesadaran yang baru timbul. Kalau dari teman sekelas saja yang menyukainya sudah begitu banyak, bagaimana kalau jumlah yang sudah banyak itu masih harus ditambah oleh teman-teman dari kelas lain, juga adik-adik kelas? Tak tertutup kemungkinan, kan? Juga dari teman-temannya yang lain, tetangganya atau teman adiknya barangkali.

Segala harapanku memang mustahil! Seharusnya aku tahu itu. Aku terlalu jauh bermimpi. Punya keinginan sih, sah saja sebetulnya, tapi rasanya kali ini aku kelewat jauh.

***


Hup. Kuletakkan tumpukan buku tentang serangga yang kucari susah-payah di rak-rak. Heran, Guru Biologi kok mau-maunya baca satu per satu paper anak-anak tentang makhluk menakutkan itu. Atau barangkali di rumah beliau bahkan memelihara ya? Ups, aku menegur diriku sendiri. Kalau sampai kedengaran... bisa-bisa aku tinggal kelas!

"Hai, Park Shin Hye, kau sedang mencari apa?"

Aku menoleh. Itu Song Hye Gyo, anak kelas sebelah. Gawat, semoga dia ingat ini perpustakaan. Sama seperti Yoon Eun Hye, Song Hye Gyo menyenangkan tapi agak cerewet.

"Tugas Bio," sahutku singkat.

"Kurasa minggu depan giliran kelasku," keluhnya. "Pasti paper lagi, ya?"

"Yap." Aku mengangguk. Kulirik Song Hye Gyo duduk di sampingku yang memang ada kursi kosong.

"Eh, Jung Yong Hwa sudah membuatnya belum ya? Kau sekelas dengannya, kan?"

"Yap. Tapi aku tidak tahu dia sudah membuatnya apa belum." Aku menjawab dengan sedikit perhatian. Tuh kan, anak kelas sebelah juga menaruh perhatian pada Jung Yong Hwa. Song Hye Gyo juga. Pria tampan kenapa selalu gampang ketahuan? Lebih hebat lagi, kenapa pria tampan bisa membuat para wanita menjadi aktif?

Barangkali zaman memang sudah berubah ya, dan aku saja yang masih ketinggalan. Lebih suka pura-pura cuek, padahal....

"Darimana kau tahu di kelasku ada pria tampan?" gumamku pelan.

"Apa?" Song Hye Gyo mendekat. "Kau tadi bilang apa?"

"Tidak!" Aku menyahut cepat ketika menyadari aku kelepasan bicara. Ups, hampir saja!

"Eh, Jung Yong Hwa itu tampan, ya?" Song Hye Gyo berkata nyaris menyerupai bisikan.

"Yap. Semua bilang begitu," kataku sambil tetap menekuni buku-buku di hadapanku.

"Juga pintar."

"Yap."

"Tinggi dan tegap."

"Yap."

"Berwibawa. Ketua kelas, kan?"

"Yap."

"Jago basket... sudah punya pacar belum?"


"Yap. Eh, mana aku tahu?" Aku mengangkat bahu. Lagi-lagi, pura-pura cuek saja.

"Eh, itu dia!" Suara Song Hye Gyo berubah penuh semangat. Di sudut ruang, dari balik komputernya kulihat Bu Im Ye Jin - petugas perpustakaan di sini mengacungkan telunjuknya sambil membelalakkan mata ke arah kami. (Kurasa aku berhak protes. Yang membuat keributan kan Song Hye Gyo!)

"Dia kemari!"

"Sstt...." Kali ini aku yang memperingatkan Song Hye Gyo. (Biar Jung Yong Hwa tidak curiga kalau aku sebenarnya juga ikutan histeris.)

"Park Shin Hye, paper biologimu sudah selesai belum?"

Ups. Kurasa jantungku berdetak dua kali lebih keras. Aku menggeleng. "Belum."

"Itu bahan-bahan referensi, ya?" Jung Yong Hwa menunjuk beberapa buku di atas meja di depanku.

“Ya." Song Hye Gyo yang menjawabkan untukku.

"Kalau sudah selesai boleh pinjam?"

"Eh?" Aku menaikkan kedua alisku. Kulihat Jung Yong Hwa menatapku dengan sepasang matanya yang berbinar dan bagus.

"Papernya."

"Oh." Aku mengangguk, kikuk. "Tentu."

***


Besok paper Biologi ini dikumpulkan. Tadi siang di sekolah Jung Yong Hwa mengembalikannya. Tugasku ini — seperti biasa — selesai lebih cepat. Aku memang bukan siswi yang suka menunda pekerjaan, dan kali ini kurasakan betul manfaatnya.

Aku membuka paperku dengan berjuta perasaan. Ah, kira-kira apa ya pendapat Jung Yong Hwa tentang pekerjaanku ini? Ge-er sedikit boleh kan kalau Jung Yong Hwa yang cukup pintar itu sampai meminjam punyaku?

Aku mengerutkan kening tiba-tiba. Heran, biasanya dia jujur. Tidak suka mencontek, baik ulangan atau pe-er. Tapi kali ini kenapa meminjam paper orang lain, ya? Aku bertanya-tanya sendiri.

Aku menutup paperku dengan gerakan lambat, benakku masih dipenuhi sosoknya yang menarik itu. Eh! Aku mengerutkan kening lagi. Ada selembar kertas yang jatuh.

Aku memungut kertas itu. Ada tulisan tangan di sana.

Boleh kah aku menyukaimu?
Jung Yong Hwa.


Astaga!

Berulangkali kubaca sebait kalimat yang ditulis dengan teramat rapi itu. Aku hampir tak dapat mempercayainya. Jadi untuk itu Jung Yong Hwa meminjam paperku?

Untuk menyelipkan pernyataan cintanya? S-u-k-a? Jung Yong Hwa suka padaku?! Aku bertanya-tanya sendiri. Tapi, kenapa?

Beberapa saat kemudian baru aku menyadari kebodohanku. Tentu saja! Kalau aku bisa menyukainya, kenapa tak dapat terjadi sebaliknya? Apakah memang cinta perlu dipertanyakan?
Aku tersenyum manis dengan hati penuh asa berlimpah. Semua yang terjadi, bagiku bagaikan sebuah mimpi saja. Tapi seandainya memang benar hanya mimpi, sungguh, inilah mimpi paling indah yang pernah kualami.


TAMAT

Seharusnya Kau Tahu


Title : Seharusnya Kau Tahu
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance, Friendship, Mistic
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 12 Agustus 2010, 11.20 AM
Cast :
Park Shin Hye
Jang Geun Suk
Jung Yong Hwa

Extended Cast :
Yoon Eun Hye
Go Ah Ra
Gook Ji Yun


Seharusnya Kau Tahu
Created By Sweety Qliquers


Kulangkahkan kakiku melintasi taman belakang, masuk ke kompleks pemakaman. Yah, dulu disini Jang Geun Suk kecil dan aku-Park Shin Hye yang nakal... sering bermain. Rumahku memang langsung menyambung dengan kompleks pemakaman. Aku dan Jang Geun Suk sering sekali menjelajah nisan demi nisan, mencabuti ilalang yang tumbuh sekaligus menggoyang-goyangkan dengan keras pohon kamboja yang banyak tumbuh disekitarnya. Mengharap bunga-bunganya akan gugur. Dan kalau belum juga gugur Jang Geun Suk akan menendang pohon itu keras-keras sampai bunga-bunga kamboja itu jatuh ke tanah.

Setahun yang silam nama Jang Geun Suk terukir di deretan nisan itu, tapi Jang Geun Suk tak pernah meninggalkan aku- Park Shin Hye nya tersayang. Entah ia tahu atau tidak kalau diam-diam aku mencintainya. Tapi seharusnya dia tahu.

Aku melangkah mendekati nisan Jang Geun Suk. Menggoyangkan dahan kamboja di sebelah nisannya dengan kencang. Tak berapa lama bunga-bunga kamboja itu pun gugur. Sedetik kemudian kurasakan Jang Geun Suk sudah berdiri di dekatku. Senyum konyolnya menghiasi wajah tampannya yang pucat.

”Bagaimana sekolahmu hari ini?” Tanya Jang Geun Suk pura-pura.

”Kau pikir kau bisa membohongiku? Kau kan yang membuat pulpenku melayang-layang di udara tadi? Tadi Jung Yong Hwa melihatnya, untung saja dia tidak percaya dengan yang namanya hantu. Jadi waktu aku bilang dia berhalusinasi karena stress sehabis ulangan fisika, dia percaya saja.” Semburku kesal.

Jang Geun Suk langsung ngakak. Melihatnya begitu riang, kekesalanku langsung lenyap.

”Aku mohon Jang Geun Suk, jangan terlalu sering mengikutiku ke sekolah. Anak-anak di sekolah sudah mulai curiga. Tadi Yoon Eun Hye menyangka aku sudah seidkit gila karena menyebut-nyebut namamu.”

”Bagaimana jika aku mencoba untuk berbicara dengan Yoon Eun Hye?”

”Jangan, Jang Geun Suk! Yoon Eun Hye pasti lapor ke Mama. Mama pasti akan mencoba memisahkan kita.”

”Tapi aku bosan sendiri. tidak enak jadi hantu. Kadang-kadang aku berpikir lebih baik aku benar-benar meninggalkan dunia ini saja.”

Jang Geun Suk! Kau tega sekali padaku? Kau kan sudah berjanji akan selalu menemaniku!” Seruku dengan marah.

”Maafkan aku. Tapi ingat Park Shin Hye, ketika kau sudah menemukan pengganti diriku... aku akan segera pergi.” Kata Jang Geun Suk sambil menatap tajam ke arahku.

”Aku tahu. Tapi aku rasa, aku tak akan pernah bisa menerima orang lain sebagai pengganti dirimu, Jang Geun Suk.”

”Park Shin Hye, harus ada orang yang menggantikan tempatku. Aku tidak bisa terus tinggal di bumi.”

”Kenapa kau harus pergi, Jang Geun Suk? Aku mau kau selamanya ada di dekatku.”

”Itu tidak mungkin! Aku tidak mau terombang-ambing di antara dua alam.”

”Ok! Tapi kau harus berjanji, jangan pergi sebelum aku menemukan orang yang bisa menggantikanmu.”

”Jangan khawatir, Park Shin Hye!” Senyum Jang Geun Suk menenangkanku.

***


”Kemarin Jung Yong Hwa memintaku untuk menjadi kekasihnya, Jang Geun Suk.” Kataku pada Jang Geun Suk yang sedang duduk di atas meja perpustakaan.

”Itu bagus. Terima saja! Aku bisa segera pergi, kan?”

”Tapi aku tidak mau kau pergi, Jang Geun Suk! Kau tidak boleh pergi!”

”Jangan coba-coba untuk menahanku, Park Shin Hye! Apa kau tidak sadar persahabatan kita seharusnya sudah berakhir sejak aku mati?”

”Mengapa kau berbicara seperti itu? Kau jahat, Jang Geun Suk!” Seruku tertahan. Tanpa sadar kedua butir air mata meluncur jatuh di pipiku.

”Hushhh! Go Ah Ra jalan kemari. Cepet hapus airmatamu! Lebih baik aku pergi.” Kata Jang Geun Suk panik lalu berjalan menembus dinding.

”Sedang apa kau, park Shin Hye? Sendirian saja, kemana Yoon Eun Hye?”

” Yoon Eun Hye tidak masuk. Sudah dua hari ini dia sakit.”

”Aduh, kasihan sekali ya? Padahal minggu ini jadwal ulangan padat sekali.”

”Ya, tapi kan masih bisa ulangan susulan.”

”Iya sih! Eh, si Jung Yong Hwa titip salam untukmu, park Shin Hye.”

”O... ya?”

”Mau titip salam balik tidak?”

”Tidak perlu. Terima kasih.”

”Kau masih sering mengingat Jang Geun Suk, park Shin Hye?”

”Tidak. Siapa bilang?” Elakku was-was.

”Kata Yoon Eun Hye kau kadang suka berbicara sendiri sambil menyebut-nyebut nama Jang Geun Suk. Apakah itu benar?”

”Tidak pernah! Apakah Yoon Eun Hye berkata seperti itu?”

”Ya, Mungkin Yoon Eun Hye salah dengar. Lalu bagaimana dengan Jung Yong Hwa?”

”Ada apa dengan Jung Yong Hwa?”

”Kenapa kau tidak menanggapi perhatiannya?”


”Go Ah Ra, tolong tinggalkan aku sendiri disini!” Seruku dengan marah, nyaris membentak.

”Maafkan aku, kalau begitu aku pergi saja.” Kata Go Ah Ra kaget. Ia berbalik dan melangkah pergi.

Jang Geun Suk segera menghampiriku begitu Go Ah Ra menjauh. Ia kelihatan marah.

”Berhentilah mempersulit diriku, Park Shin Hye! Kau tahu cepat atau lambat aku harus pergi. Jangan coba-coba untuk mencegahku! Sebaiknya kau terima saja Jung Yong Hwa!”

”Kenapa kau ngotot sekali ingin pergi, Jang Geun Suk?”

”Aku sudah menemukan teman seperjalanan. Namanya Gook Ji Yun. Dia meninggal minggu lalu, kecelakaan mobil.”

”Jadi setelah bertemu Gook Ji Yun, Kau mau meninggalkanku, Jang Geun Suk?” Tuduhku dengan berang dan marah.

”Ya, dulu aku memang takut untuk pergi. Aku belum siap untuk mati. Tapi sekarang aku sudah tidak takut lagi. Aku mau pergi secepat mungkin dari dunia ini.”

”Jang Geun Suk, apa kau akan melupakanku?”

”Tidak, Park Shin Hye! Tapi aku mau kau bergaul dengan normal bersama teman-temanmu itu. Aku ini hantu, Park Shin Hye. Apa kau lupa? Sejak awal dari kematianku, persahabatan kita sudah tidak wajar. Jadi ijinkan aku pergi!”

”Aku merasa sedih jika kau pergi, Jang Geun Suk!”

”Kau harus berhenti bersedih untukku, Park Shin Hye!”

”Aku tidak bisa.”

”Pasti bisa dan kau harus bisa. Jung Yong Hwa akan membantumu!”

”Kapan kau akan pergi? Hari ini? Besok? Lusa?”

”Segera setelah kau menerima Jung Yong Hwa.”

”Aku tidak mencintai Jung Yong Hwa.”

”Aku tahu. Kau bisa bersahabat saja dengannya seperti kita dulu.”

”Ok! Tapi, bisakah kau pergi setelah aku benar-benar bisa melupakanmu?” Pintaku mengiba.

”Sampai berapa lama lagi? Sebulan?”

”Bagaimana jika 5 tahun lagi?”

”Itu terlalu lama, Park Shin Hye. Dan aku yakin setelah 5 tahun itu lewat, kau akan mencegahku untuk pergi lagi?” Tuduh Jang Geun Suk dengan marah. Mata elangnya menghujam mataku dengan tajam. Sorot matanya dingin.


”Ini semua karena Gook Ji Yun, iya kan? Dia yang mendesakmu untuk pergi?” Tuduhku tak kalah marah.

”Jangan menyalahkan Gook Ji Yun! Jangan pernah kau menyalahkannya Park Shin Hye, kau dengar itu”

”Kenapa?”

”Dia itu kekasihku.”

”Yang benar saja? Kau ini sudah menjadi hantu masih bisa juga pacaran?”

”Kau tidak perlu heran seperti itu! Yang jelas aku harus benar-benar pergi.”

”Bagaimana jika 4 tahun lagi?”

”Tidak! Itu terlalu lama!”

”3 tahun?”

”Tidak! tidak bisa!”

”2 tahun?”

”Ini yang terakhir, 1 tahun lagi?”

”Tetap tidak bisa. Seperti yang aku katakan tadi, hanya 1 bulan!”

”Ok! 1 bulan. Tapi jangan coba-coba pergi sebelum waktu 1 bulan itu berakhir! Aku tidak akan pernah memaafkanmu, jika kau pergi secara diam-diam tanpa sepengetahuanku!”

”Aku bukan penipu, Park Shin Hye! Jangan khawatir!”

***


Waktu sebulan cepat berlalu. Kulalui sebulan itu hampir senantiasa bersama Jang Geun Suk. Jika aku ke sekolah, dia ikut bersamaku. Ke kantin, ke perpustakaan, ke laboratorium, ke setiap sudut sekolah. Jarang sekali aku berada sendirian tanpanya.

Baik pagi, siang, sore ataupun malam Jang Geun Suk selalu di dekatku. Ia menemaniku belajar, membuat PR, bahkan jika aku pergi les piano, Jang Geun Suk selalu bersamaku. Seolah-olah sebulan ini adalah kado perpisahan darinya untukku.

Jung Yong Hwa masih mencoba mendekatiku. Sekarang hampir tiap hari dia menitipkan salamnya melalui Yoon Eun Hye atau Go Ah Ra, tapi dia tak pernah kugubris. Aku tidak memperdulikannya sama sekali. Meski Jang Geun Suk berulangkali menyarankan untuk menerimanya, aku tetap menolak.

Jang Geun Suk dan aku sama-sama menyadari bahwa perpisahan ini sungguh amat berat. Dan setiap hari aku semakin takut kehilangannya. Setiap fajar tiba aku semakin cepat akan kehilangan Jang Geun Suk. Kadang aku takut jika pagi tiba, aku berharap malam takkan pernah jadi pagi. Dan ketika pagi tiba aku berharap malam takkan kunjung datang. Perasaanku sungguh tak nyaman. Sebagian jiwaku tertawa karena Jang Geun Suk selalu di dekatku, tetapi bagian hatiku yang lain galau dengan perpisahan kami yang kian mendekat.

Hari demi hari berganti, minggu demi minggu terlewati. Akhirnya saat yang paling kutakuti itu tiba. Jang Geun Suk harus pergi!!!

”Jang Geun Suk sebelum kau pergi, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Jika aku tak mengatakannya, aku akan menyesalinya seumur hidupku.”

”Sebenarnya banyak yang ingin kukatakan padamu, tapi hanya satu hal yang paling penting yang harus kau tahu, Jang Geun Suk! Aku mencintaimu sejak kau masih hidup, sampai sekarang... sampai kau sekarang menjadi hantu dan akan pergi meninggalkanku.”

”Aku tahu. Kau juga harus tahu. Gook Ji Yun itu tak pernah ada. Satu hal yang harus kau tahu dariku, Sama seperti perasaanmu kepadaku, Aku juga mencintaimu sejak aku masih hidup.”

Dengan terkejut kutatap matanya. Raut wajah itu tersenyum. Dimatanya kutemukan kejujuran dan cinta yang hangat.

”Kalau begitu kenapa kau harus pergi meninggalkanku? Kenapa kau menjodohkanku dengan Jung Yong Hwa?”

”Park Shin Hye, aku ini hantu. Mana bisa kita bersatu? Tidak mungkin kau hidup tanpa pasangan sampai mati? Mamamu tidak akan pernah setuju, Park Shin Hye!”

”Aku tidak peduli! Jang Geun Suk, aku...”

”Park Shin Hye, aku tahu cinta kita terlambat diucapkan. Seharusya kita ucapkan sejak dulu, sejak ku masih hidup! Tapi tak akan pernah ada kata terlambat untuk mengetahuinya sekarang!”

”Jang Geun Suk, jangan pergi!” Pintaku dengan wajah yang kini berderai airmata.

”Selamat tinggal Park Shin Hye!” Ucap Jang Geun Suk sambil tersenyum.

”Aku tak akan pernah menerima Jung Yong Hwa atau siapapun. Tunggu sampai aku juga akan mati, Jang Geun Suk.” Seruku dengan sedih.

Jang Geun Suk hanya tersenyum. Wajah tampannya memudar. Ia tinggal setitik cahaya yang menghilang di kegelapan. Selamat jalan, Jang Geun Suk!

***


Kuakhiri cerpenku sampai disini. Yah, inilah pembalasan dendamku pada Jang Geun Suk -mantan pacarku yang berkhianat dengan sepupuku-Gook Ji Yun. Kujadikan kalian tokoh-tokoh hantu! Aku puas sekarang! Kutepis air mataku yang berlinangan sejak tadi.

Kriiing. Dering telepon berbunyi dari ruang tamu.

”Park Shin Hye, telpon dari Jung Yong Hwa!”

”Iya, Ma!” Sahutku sambil bangkit dari sofa yang ada di kamarku. Aku berlari menuruni tangga setelah keluar kamar.

”Hallo.”

”Park Shin Hye?”

”Iya, ada apa Jung Yong Hwa?”

”Hari ini ada acara tidak? Bagaimana kalau kita menonton film di bioskop?”

”Boleh. Jemput aku ya?”

”Ok! Jam 7 aku jemput ya?”

”Baiklah!” Lalu kututup telepon. Klik.

Persetan dengan Jang Geun Suk, Gook Ji Yun dan perselingkuhan mereka. Selamat datang Jung Yong Hwa. Mungkin nanti dia akan menjadi kekasihku. Aku lalu berlari ke kamar, sibuk memilih baju untuk nanti malam.


TAMAT


Kamis, 12 Agustus 2010

Poster Bintang Idola


Title : Poster Bintang Idola
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance, Friendship
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 12 Agustus 2010, 10.26 AM
Cast :
Park Shin Hye
Go Ah Ra (Shin Hye’s Bestfriend)
Jung Yong Hwa
Jang Geun Suk (Artis)


Poster Bintang Idola
Created By Sweety Qliquers


Mereka bertiga ke Buku’s, toko buku paling lengkap di kota ini. Langsung, sepulang dari sekolah. Tugas kelompok menyusun karya tulis itu memerlukan beberapa referensi yang harus didapatkan dan dibeli.

Park Shin Hye dan Go Ah Ra langsung bersuka cita di belantara buku-buku. Jung Yong Hwa seperti bodyguard yang selalu menempel di belakang mereka. Go Ah Ra yang paling akrab dengan toko buku ini tahu di mana dipajang buku-buku yang mereka butuhkan.

Tapi sebelum tiba di deretan yang mereka tuju, Park Shin Hye dan Go Ah Ra, seperti dikomando, berbelok ke arah pajangan majalah dan tabloid. Go Ah Ra, yang punya julukan si Ratu Dapur, segera membuka-buka majalah yang memberikan bonus resep aneka kue kering. Park Shin Hye meneliti sebuah tabloid gosip terbaru dan seketika menjerit kegirangan.

“Jang Geun Suk!”

Go Ah Ra ikut melongo, sedangkan Jung Yong Hwa berdiri, bergeming.

“Ada poster Jang Geun Suk!” Park Shin Hye menarik bonus poster besar itu dari dalam tabloid itu, bernafsu. Lalu buru-buru menaruhnya kembali di tengah tabloid dengan amat hati-hati agar tak kucel dan terlipat.

“Kau mau membelinya, Park Shin Hye?” Tanya Go Ah Ra.

“Pasti. Ada poster Jang Geun Suk!” Park Shin Hye menyembunyikan tabloid itu di belakang punggungnya, seakan takut direbut oleh Go Ah Ra.

“Katanya tadi kau tidak punya uang!” Go Ah Ra merengut. Tadi sebelum berangkat kemari Park Shin Hye sudah mengancam dan memaksa Go Ah Ra yang membayar ongkos bus.

“Ada jatah untuk jajan besok. Tapi demi Jang Geun Suk, tidak makan seminggu juga aku rela.” Park Shin Hye sengaja mengeraskan suaranya. Ia melirik ke arah Jung Yong Hwa untuk memastikan cowok itu mendengar perkataannya. Ia ingin mencuri lihat ekspresinya. Jung Yong Hwa tetap berdiri mematung, tanpa ekspresi yang berarti.

Park Shin Hye menarik lagi poster foto close up Jang Geun Suk itu.

Menatapnya dengan senyum terkembang dan mata berbinar.

“Aduh, keren sekali pria ini…” desah Park Shin Hye.

Go Ah Ra menggeleng-gelengkan kepala. Diam-diam ia menangkap sesuatu yang tidak wajar. Ada yang aneh pada semua sikap Park Shin Hye sejak mereka bertiga berangkat dari sekolah tadi.

Tapi Go Ah Ra memilih diam sambil sesekali berpikir nakal, “Barangkali Park Shin Hye lupa minum obatnya.”

Mereka lalu meninggalkan counter majalah dan menuju deretan buku Ilmu Pengetahuan Alam. Sementara Go Ah Ra dan Jung Yong Hwa sibuk mencari-cari buku yang mereka butuhkan, Park Shin Hye terus sibuk mengagumi posternya.

***


Selesai di Buku’s, ketiganya naik Bus. Kebetulan rumah mereka bertiga satu jurusan. Mereka bertiga duduk sebangku.

“Apa kau tidak bosan, memadangi poster Jang Geun Suk itu terus!” Go Ah Ra merasa risih dengan kelakuan Park Shin Hye. Ia masih terus memandangi poster Jang Geun Suk. Bahkan mendekapnya di dada. Sudah tiga kali Park Shin Hye menciumi posternya.

“Norak sekali kau, park Shin Hye!” kata Go Ah Ra sengit.

Jung Yong Hwa tetap membisu, membuang pandang ke luar.

Park Shin Hye melipat tabloid dengan amat hati-hati dan memasukannya ke dalam tas sekolahnya.

“Kau tau tidak Go Ah Ra,. Jang Geun Suk mengirimiku surat?”

“Apa kau sedang bermimpi Park Shin Hye!” Go Ah Ra membentak.

“Aku tidak berbohong Go Ah Ra! Maksudku, dia membalas suratku.”

“Kapan?”

“Dua hari yang lalu. Dia mengirimiku foto plus tanda tangan.”

“Tapi kau tak pernah memberitahuku soal itu?”

Park Shin Hye tersenyum. “Aku takut kau cemburu!”

Go Ah Ra mencubit paha Park Shin Hye.

Jung Yong Hwa yang sedari tadi tetap diam, berdiri dari duduknya.

“Aku turun.” Katanya. Bus sebentar lagi sampai di depan perumahannya.

Park Shin Hye nampak kecewa, tapi ia hanya diam.

“Besok jadi ke rumahku, kan?” kata Go Ah Ra kepada Jung Yong Hwa.

“Di rumahku saja,” potong Park Shin Hye cepat.

“Di rumah Go Ah Ra saja, Park Shin Hye. Kalau harus ke rumahmu, itu terlalu jauh untukku. Rumahmu juga tidak jauh dari rumah Go Ah Ra, kan?”

“Oke, di rumahku saja,” kata Go Ah Ra.

“Ya. Besok tugas kita harus selesai.” Jung Yong Hwa menjawab sambil berjalan ke arah pintu keluar.

Bus pun berhenti, Jung Yong Hwa melompat turun. Park Shin Hye hanya bisa menatap dengan hampa.

***


Ketika Bus sudah mulai berjalan lagi, Park Shin Hye gagal menyembunyikan kesal dan kekecewaannya. Park Shin Hye mengeluarkan tabloidnya.

“Ini buatmu saja!” Dilemparkannya tabloid itu ke pangkuan Go Ah Ra.

Go Ah Ra terkejut bukan main. “Memangnya kenapa?”

“Siapa yang suka baca tabloid gosip!”

“Kalau tidak suka, untuk apa membelinya? Kau hanya suka poster Jang Geun Suk -nya saja?”

“Kau ambil semuanya saja!”

“Lho?” Go Ah Ra semakin heran.

“Poster Jang Geun Suk?”

“Siapa yang suka Jang Geun Suk?”



“Semua wanita suka pria ganteng itu. Ibu-ibu juga pada suka. Tiga Drama seri-nya ditayangkan bersamaan di tiga stasiun TV. Aktingnya bagus. Kemarin dia baru dapet nominasi terbaik di Festival Drama Seri.”

“Aku tidak peduli! Sekali pun aku belum pernah menonton Drama Seri-nya.”

“Tapi kau sudah bersusah payah untuk menyuratinya kan? Kau tak perlu malu padaku .”

“Untuk apa aku menyuratinya.”

“Hah? Jadi?” Go Ah Ra menahan tawa.

“Setahuku, dia hanya hebat di urusan gonta-ganti wanita. Paling senang membuat gosip murahan untuk mendongkrak popularitas. Huh! Tiap hari gosipnya selalu muncul di Infotainment.”

“Hahaha… kau pasti penonton yang rajin menyantap berita-berita di infotainment.”

“Iya, sih. Dari situ aku jadi banyak mengerti sepak terjang Jang Geun Suk.” Kata Park Shin Hye dengan muka sebal.

“Memahami karakter dan isi kepalanya yang asli.” Lanjutnya.

Go Ah Ra tertawa.

“Terus buat apa kau membeli tabloid ini, mengagumi poster Jang Geun Suk, sampai kau peluk dan kau ciumi posternya?”

Wajah Park Shin Hye memerah. Ia menunduk.

“Aku hanya ingin membuat Jung Yong Hwa cemburu…” katanya lirih.

Go Ah Ra membekap mulutnya sendiri untuk menahan tawanya yang nyaris pecah lagi. Ia ingin tertawa lepas, mendengar pengakuan Park Shin Hye. Tapi ketika melihat Kondisi Park Shin Hye saat ini. Go Ah Ra jadi tak tega. Ekspresi wajahnya terlihat amat merana.

Ya, sudah cukup lama Go Ah Ra tahu, sahabat baiknya ini diam-diam menaruh hati pada Jung Yong Hwa.


TAMAT

Sepenggal Masa Lalu


Title : Sepenggal Masa Lalu
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 02 February 2010, 02.18 PM
Cast :
Park Shin Hye
Jung Yong Hwa



Sepenggal Masa Lalu
Created By Sweety Qliquers


Pesawat mendarat pukul empat sore di Kangsan Airport. Park Shin Hye bergegas menghadang sebuah taksi yang bertengger di parkiran bandara. Beberapa saat kemudian Park Shin Hye membuka pintu taksi dan masuk kedalam. Menjatuhkan pantatnya di jok empuk.

Park Shin Hye duduk termenung. Setelah lima tahun kepergiannya untuk melanjutkan studi di Seoul kini ia kembali ke Busan. Banyak kenangan manis yang masih tersisa. Terlebih terhadap seseorang yang selama ini ia mimpikan. Orang itu adalah Jung Yong Hwa, sahabat Park Shin Hye sejak kecil. Di saat mereka masih bersama di sebuah perumahan di Busan Residence. Masa kanak-kanak yang sangat menyenangkan. Dan betapa kerinduan itu telah menggerogoti hatinya. Diam-diam ia juga mencintai Jung Yong Hwa.

Sore itu Park Shin Hye tiba di rumah. Rumah model mediterania yang dibangun Papanya masih berdiri kokoh dengan tembok bercat putih. Bunga-bunga kecil yang tumbuh di halaman masih subur, meski letaknya tidak sesuai dengan lima tahun lalu. Pekarangan rumahnya tertata rapi dan asri. Mama memang selalu membersihkannya.

Sesaat Park Shin Hye terkenang dengan Papa tercinta. Matanya merebak basah. Kini Papa telah tiada. Papa telah pergi dan takkan pernah kembali. Park Shin Hye terisak, kala sekelibat kenangan indah bersama Papa melintas kembali di benaknya. Kenangan yang tidak dapat dilupakannya.

Beberapa tahun yang lalu Papa dihantarkan ke tempat peristirahatan yang kekal dan abadi, menghadap Ilahi. Sudah menjadi hukum alam dan dunia. Tak seorang pun yang dapat menghalanginya. Semua pasti bermuara kepada-Nya. Ada virus yang menggerogoti otak Papa. Papa terserang kanker otak. Dan di ruang Gawat Darurat rumah sakit Papa menghembuskan napas yang terakhir kalinya.

Rasa sesak di hati Park Shin Hye masih menjadi belenggu, kian hari mengusik dan masih bergelut menghadapi cobaan yang mahaberat tersebut.

"Ya, Allah, aku sudah ikhlas. Walau Papa adalah orang yang paling aku sayangi, namun ia adalah titipan-Mu. Engkau lebih menyayanginya. Tempatkanlah ia di sisi-Mu ya, Allah...." tutur Park Shin Hye dalam hati.

Beribu kali kata itu terucap dalam kalbunya, namun beribu kali pula bayangan Papanya menggodanya.

Perlahan Park Shin Hye membuka pintu gerbang rumahnya. Kemudian menekan bel yang terletak di samping rumahnya. Bel itu masih seperti lima tahun yang lalu. Tak berapa lama, seorang pembantu separuh baya pun membukakan pintu. Menyambut kedatangan Park Shin Hye yang dianggap sangat mengejutkan. Park Shin Hye hanya tersenyum memperhatikan Bibi Kim Young Ok yang sudah mulai keriput. Wanita tua itu sudah bekerja belasan tahun bersama keluarganya.

Setelah berkangen-kangenan dan peluk-pelukan, Park Shin Hye pun menghampiri kamarnya. Pelan ia membuka pintu kamarnya. Masih seperti lima tahun lalu. Bersih dan terawat rapi. Bibi Kim Young Ok selalu membersihkannya. Di sana, ia menemukan boneka kesayangannya. Boneka itu hadiah dari Jung Yong Hwa saat mereka duduk di bangku SMP.

***


Uh, Park Shin Hye teringat lagi dengan wajah Jung Yong Hwa. Wajah itu diam-diam mencuri hatinya.

Park Shin Hye menemukan sepucuk surat berwarna merah muda yang terselip di buku diarinya. Surat itu sudah kelihatan buram. Sejak kepergian Park Shin Hye meninggalkan kota Busan. Jung Yong Hwa mengembalikan buku diari Park Shin Hye yang dipinjamnya.

Park Shin Hye,
Mungkin aku sangat merindukanmu. Aku pasti sangat kesepian, dan sendiri. Dan mungkin kepergianmu akan menambah luka di hatiku. Betapa aku sangat menyayangimu. Aku sangat mengaggumimu. Tahukah kau... aku sangat mencintaimu!
Jung Yong Hwa


Park Shin Hye mendekap surat itu sambil menerawang jauh. Benarkah Jung Yong Hwa mencintainya? Park Shin Hye tersenyum sambil terus terlayang pada lamunan yang jauh. Hatinya berbunga-bunga. Park Shin Hye membuka gorden merah muda berbunga indah. Ia membuka sedikit jendela kamarnya. Dimana dulu ia sering mengintai Jung Yong Hwa dari ventalasi itu. Memperhatikan Jung Yong Hwa tak jemu-jemu. Dan kini ia ingin melihat sosok Jung Yong Hwa yang tumbuh dewasa. Mungkin Jung Yong Hwa begitu tampan dan berwibawa. Dengan bentuk tubuh yang porposional serta otot yang kuat. Belum lagi wajahnya yang sangat menggemaskan kaum hawa.

Hm, Park Shin Hye tersenyum tipis. Kemudian senyum itu berubah kecut. Rumah Jung Yong Hwa kelihatan sepi. "Kemana Jung Yong Hwa?" batinnya.

"Park Shin Hye..." Sebuah suara menyapanya. Membuyarkan lamunannya untuk sesaat. Park Shin Hye berpaling dengan perlahan. Menoleh ke arah suara yang memanggilnya.

"Mama...." serunya sambil beringsut memeluk Mama. "Aku sangat merindukanmu, Ma"

"Kenapa kau tidak menelpon Mama dulu, biar nanti dijemput."

"Aku mau membuat kejutan untuk Mama."

"Mm, dasar kau. Yah, sudah, kau mandi dulu. Mama tunggu di ruang tamu, ya?"

Park Shin Hye mengangguk seraya melepaskan rengkuhannya. Kemudian meraih handuk di gantungan. Dan menuju kamar mandi.

***


Sudah dua hari Park Shin Hye tidak menemukan sosok Jung Yong Hwa. Kemana gerangan sang pujaan hati? Park Shin Hye kembali membuka jendela kamarnya, dan melihat rumah mewah milik keluarga Jung Yong Hwa. Memperhatikan balkon kamar Jung Yong Hwa yang seperti tidak terurus. Mendadak saja ia terkejut melihat sosok Jung Yong Hwa. Dan segera keluar dari kamarnya menuju balkon. Dengan antusias ia memanggil nama Jung Yong Hwa dari jauh.

"Jung Yong Hwa...!" teriaknya. " Jung Yong Hwa! Ini aku, Park Shin Hye!" panggilnya lagi. Namun Jung Yong Hwa tidak bergeming barang sedikit pun. Acuh tak acuh, cuek dan sombong.

"Sombong sekali dia!" rutuk Park Shin Hye kesal. Dari jauh Park Shin Hye melihat seorang gadis menghampiri Jung Yong Hwa sambil membawakan segelas jus buah. Terlihat mesra seperti sepasang kekasih. Park Shin Hye terlihat cemburu. Wajahnya berubah cemberut.

"Siapa dia?" tanya Park Shin Hye dalam hati. "Ugh! Itu pasti kekasih Jung Yong Hwa!" sewotnya dengan hati belah. "Dasar buaya!"

Park Shin Hye bergegas saja meraih ponsel di meja belajarnya. Kemudian menekan nomor telepon Jung Yong Hwa. tersambung....

"Halo...." sapa Jung Yong Hwa berat. Suara itu mengingatkan Park Shin Hye pada sebuah kenangan manis yang pernah mereka rasakan. Tapi kini Park Shin Hye berusaha untuk melupakannya.

"Kau egois, Jung Yong Hwa. Kau keterlaluan!" suara Park Shin Hye mendadak saja meninggi. Jung Yong Hwa yang tidak tahu menahu masalahnya mendadak saja menjadi heran.

"Halo, ini siapa ya?" tanya Jung Yong Hwa lagi dengan suara berat.

"Tidak perlu basa-basi, Jung Yong Hwa! Aku sangat kecewa padamu. Tahukah kau, betapa hancur hatiku mengharapkan dirimu. Tapi kau begitu apatis. Kau buaya, Jung Yong Hwa. Aku benci melihatmu! Dan aku tidak ingin melihatmu lagi!" sergah Park Shin Hye, semakin ketus.

Jung Yong Hwa yang di seberang sana mendengarkan makian itu dengan pilu. Berusaha mengingat kembali sebuah suara yang dulu sangat dikaguminya.

"Park Shin Hye... kaukah itu?" gumam Jung Yong Hwa dengan suara serak. Matanya mulai merebak. Berkaca-kaca dan menetes tanpa sengaja.

"Hm, ternyata ingatanmu masih tajam juga, Jung Yong Hwa!" tukas Park Shin Hye lagi.

"Park Shin Hye, maafkan aku. Aku tidak bermaksud...."

"Sudahlah, Jung Yong Hwa. Aku kecewa padamu! Nikmati saja hari-harimu. Mungkin kau lebih baik begitu."

Hati Jung Yong Hwa seakan teriris pedih. Ia menelan air liurnya dengan pahit.

"Park Shin Hye, dengar dulu penjelasanku...."

"Tidak perlu, Jung Yong Hwa. Aku tidak butuh penjelasanmu. Sekian lama aku memendam rasa cintaku padamu, dan ternyata kau sama saja seperti pria-pria lain. Kau menghianatiku. Aku sudah cukup jelas melihatnya!" Suara Park Shin Hye masih tidak bersahabat.

"Jadi kau sudah mengetahuinya?" tanya Jung Yong Hwa sendu.

"Aku tahu semuanya, Jung Yong Hwa!" ucap Park Shin Hye sambil menutup ponselnya.

"Park Shin Hye... Park Shin Hye... dengar dulu, Park Shin Hye...."

Park Shin Hye mematikan ponselnya dengan sikap sarkastis.

Jung Yong Hwa tertunduk sambil terpaku. Kini gadis pujaannya pun juga tidak dapat menerima kehadirannya. Terlebih, dunia yang begitu angkuh!

***


Park Shin Hye mengepak semua barang-barangnya. Kekecewaan di hatinya tak terobati. Mungkin lebih baik ia kembali ke Seoul dan melupakan kota kelahirannya. Terlebih ia akan melupakan sosok Jung Yong Hwa yang sangat dikaguminya.

"Park Shin Hye...." sapa Mama seraya masuk ke kamar Park Shin Hye. Park Shin Hye menoleh sejenak. "Apa kau tidak terburu-buru meninggalkan kota kelahiranmu?"

"Aku harus pergi, Ma. Aku tidak mau berlama-lama tinggal di kota ini. Kota ini membuatku sakit hati, Ma. Sakit hati...."

"Park Shin Hye... tenanglah. Mama tahu bagaimana perasaanmu."

"Mama tahu bagaimana perasaanku sekarang, Ma. Sekarang Hatiku sudah hancur."

"Park Shin Hye, Mama tahu tetang permasalahanmu. Tapi kau jangan egois seperti itu, Park Shin Hye!"

"Egois? Mama bilang aku egois?" Park Shin Hye menghentikan kegiatannya. "Jung Yong Hwa sudah melupakanku, Ma. Dan kini dia sudah punya pilihan lain."

Mama menghela berat.

"Jung Yong Hwa sudah tidak mencintaiku lagi, Ma. Jung Yong Hwa sudah punya kekasih."

"Dari mana kau tahu?"

"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, Ma.“

Mama terdiam. Memperhatikan wajah Park Shin Hye yang sangat membenci sosok Jung Yong Hwa. Tapi apakah Park Shin Hye tahu bagaimana perasaan Jung Yong Hwa terhadap dirinya?

"Apakah kau benar-benar mencintainya?" tanya Mama serius. Park Shin Hye masih terdiam. Dan beberapa saat kemudian mengangguk pelan.

"Aku sangat mencintainya, Ma...." ucap Park Shin Hye sendu sambil merengkuh tubuh Mama. Terisak dengan berat.

"Apakah kau akan menerima Jung Yong Hwa apa adanya?"

Park Shin Hye melepaskan rengkuhannya. Menghapus airmatanya dengan tisu.

"Maksud, Mama?"

" Park Shin Hye, ketahuilah. Sejak kepergianmu, Jung Yong Hwa sangat merindukanmu. Jung Yong Hwa ingin sekali bertemu denganmu. Namun hal itu belum terwujud sampai kejadian naas itu menimpa keluarganya."

Park Shin Hye terpaku, terperangah memperhatikan wajah Mama.

"Sebuah truk besar menabrak mobil yang dikendarai Papa Jung Yong Hwa dan keluarganya hingga hancur. Papa dan Mama Jung Yong Hwa tewas dalam kecelekaan itu. Dan Jung Yong Hwa...." Mama menelan air liurnya. Menghapus pipinya yang mulai membasah.

"Kenapa dengan Jung Yong Hwa, Ma?" tanya Park Shin Hye penasaran.

"Jung Yong Hwa lumpuh, buta dan pendengarannya berkurang."

"Lumpuh? Buta? Tuli?" Park Shin Hye seakan tidak percaya atas keterangan Mama.

"Apakah kau masih mencintainya?"

Park Shin Hye menangis sejadi-jadinya. Mengapa hal itu harus terjadi pada Jung Yong Hwa, pemuda yang sangat ia cintai. Mama beringsut sambil menggamit tangan Park Shin Hye. Berjalan menemui Jung Yong Hwa di kediamannya. Sendiri dalam lamunan sepi. Jung Yong Hwa duduk di kursi roda. Pandangannya hampa, sehampa hatinya.

Park Shin Hye terpaku di ambang pintu. Melihat sosok Jung Yong Hwa yang tak berdaya.

"Jung Yong Hwa...." pekiknya dengan suara parau, isaknya menjelma airmata. "Maafkan aku...."

Dengan perlahan Park Shin Hye menghampiri kursi roda milik Jung Yong Hwa. Kemudian menggenggam erat jemari tangan Jung Yong Hwa. Mencium keningnya dengan penuh kasih.

"Aku mencintaimu, Jung Yong Hwa...." gumam Park Shin Hye sambil terus terisak. Jung Yong Hwa yang terduduk tidak dapat berkata apa-apa. Hanya airmata yang membanjiri pelupuk matanya. Betapa ia ingin melihat sosok Park Shin Hye. Sosok yang dulu sangat dicintainya. Namun sebuah kenangan pahit telah merentangkan hubungan mereka. Sejarak telaga yang tak bertepi.

"Park Shin Hye...."


TAMAT

Rabu, 11 Agustus 2010

Mendung Di Suatu Senja


Title : Mendung Di Suatu Senja
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance, Friendship
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 11 Agustus 2010, 11.13 AM
Cast :
Park Shin Hye
Yoon Eun Hye (Shin Hye’s Bestfriend)
Jung Yong Hwa



Mendung Di Suatu Senja
Created By Sweety Qliquers

Seraut wajah Oval muncul dari balik pintu. Park Shin Hye. Aku melempar senyum sembari meletakkan pulpen ke meja kecil di samping tempat tidurku.

”Ada apa, kau sakit Park Shin Hye?” Tanyaku menghampirinya. Park Shin Hye tidak menjawab. Didorongnya daun pintu hingga terbuka lebar, lalu duduk di pinggir tempat tidur. Keruh sekali wajahnya. Bibirnya yang tipis terkatup rapat. Sepasang mata beningnya dengan alis hitam lebat nampak muram. Entah problem apa lagi yang mengusiknya.

”Ada apa? Ditanya kok, diam?” Aku duduk di sampingnya. Hening. Park Shin Hye menunduk. Ada yang bergulir di kedua belah pipinya. Aku menghapus mutiara cair itu.

”Bebanmu tidak akan berkurang, kalau kau hanya menangis saja.” Kataku.

”Ayo, ceritakan saja. Aku siap mendengarkanmu.” Lanjutku.

Kembali hening, kembali ada yang bergulir pelan-pelan di pipi mulusnya tapi makin lama makin deras. Tangis tanpa suara, tanpa isak. Itu memang ciri khas Park Shin Hye. Atau, mungkin ia sudah tak mampu lagi terisak. Sudah jenuh karena dukanya seperti tak kunjung reda, kendati hidup dalam alam kemewahan. Kedua orang tuanya yang tak pernah rukun, kakak-kakaknya yang sibuk berhura-hura senantiasa menancapkan kuku-kuku kepedihan di lubuk hatinya. Kisah klise memang, tapi itulah realita. Itulah hidup yang harus dijalani Park Shin Hye.

Dan, ia tak mungkin menolaknya kecuali berusaha merubahnya. Tetapi mungkinkah itu? Apa yang bisa dilakukannya? Si bungsu yang tak pernah mencicipi manisnya kasih sayang orang tua. Si bungsu yang tak dipedulikan kakak-kakaknya. Sendirian sibuk berjuang untuk tetap berjalan pada jalur yang lurus agar tidak terperosok dalam lubang gelap yang kerap menggerogoti remaja-remaja dari keluarga broken home. Pasrah. Hanya itu yang bisa dilakukan Park Shin Hye.

Dan, bila segala duka tak sanggup lagi ia pendam, dicurahkannya padaku, sahabat satu-satunya yang dipercaya. Setelah tumpah ruah kerikil yang mengganjal hatinya, ia pun merasa lega... tenang. Selalu begitu. Sore ini, kehadirannya pasti seperti hari-hari lalu. Membawa cerita sedih untuk kusimak baik-baik.

”Rasanya aku ingin mati.” Kata pembukaan yang mengejutkan, Memecah kebisuan. Aku diam, memasang telinga lebar-lebar.

”Aku sudah tidak tahan lagi.” Park Shin Hye menyapu pipinya yang basah dengan tissue.

”Mereka mau bercerai. Mereka sudah gila...” Lirih suaranya hampir tak terdengar.

”Semalam Papaku pulang pagi lagi.” Lanjut Park Shin Hye masih dengan suara yang lirih.

”Mamaku yang sedang tidur, terbangun oleh suara pintu pagar yang dibuka Papa. Mama menegur Papa dengan kasar.” Park Shin Hye mulai dapat berkata lancar. Volume suaranya kini agak keras.

”Awalnya Papa pura-pura tidak mendengar tapi Mama mengomel terus. Papa jadi keael lalu menampar Mama dan...” Kembali Park Shin Hye berkata lirih.

”Mama minta cerai. Dan... Papa juga setuju. Yoon Eun Hye, kenapa aku harus dilahirkan oleh orang tua seperti mereka? Orang tua yang tidak pernah mau mengerti kebutuhan anaknya. Orang tua egois yang hanya bisa menunjukkan pertengkaran demi pertengkaran di hadapan anak-anaknya.” Sudut mata Park Shin Hye mulai basah lagi, mencurahkan aliran bening untuk yang ke sekian kalinya.

”Jangan bicara seperti itu, Park Shin Hye.” Kataku sambil membelai rambut hitamnya.

”Sebelum kita lahir, Tuhan sudah menentukan siapa yang akan menjadi orang tua kita. Jadi, kita harus menerima mereka apa adanya. Bagaimanapun juga mereka tetap orang tuamu, Park Shin Hye.” Lanjutku.

”Tapi mereka egois, Yoon Eun Hye!” Sela Park Shin Hye dengan suara keras.

”Mereka tidak pernah mencintaiku!” Teriaknya lagi.

”Siapa bilang?” Sergahku cepat.

”Semua orang tua pasti mencintai anaknya. Aku kan udah bilang itu berulang kali.” Lanjutku.

”Kalau mereka mencintaiku, kenapa harus bercerai?” Park Shin Hye menatapku sedih.

”Belum cukup mereka menyiksa batinku? 17 tahun hidup tanpa kasih sayang dan perhatian, Sekarang mereka malah berpisah hanya untuk memuaskan amarah. Tanpa peduli pada kita, anak-anaknya. Hah! Orang tua macam apa itu?” Kepala mungil Park Shin Hye merunduk.

Aku menghela nafas panjang. Tak tahu apa yang harus kukatakan untuk meringankan beban Park Shin Hye. Rasanya sudah terlalu sering aku menasehatinya, menghiburnya dan 1001 ’me’ lainnya. Tapi problem yang dihadapinya memang pelik. Papa dan Mamanya adalah korban kawin paksa. Mereka dijodohkan orang tua masing-masing. Padahal, mereka sudah memiliki pujaan hati. Tetapi, rasa cinta dan hormat pada orang tua, memaksa mereka untuk menikah dengan pilihan orang tua. Akibatnya, sepanjang usia perkawinan mereka selalu diwarnai pertengkaran. Begitu cerita Park Shin Hye padaku. Park Shin Hye tahu semua kisah orang tuanya dari diary mamanya yang tak sengaja ditemukannya.

”Park Shin Hye, kau harus tabah ya?” Kataku kemudian.

”Anggap saja semua itu kerikil kecil yang menghalangi jalan kehidupanmu. Lanjutku.

”Aku capek, Park Shin Hye.” Jawab Park Shin Hye pelan. Disandarkannya kepalanya di bahuku. Aku membelai rambutnya.

”Untung saja ada kau yang selalu mendengarkanku. Kalau tidak, mungkin sekarang aku sudah minum racun, Yoon Eun Hye.”

”Jangan Park Shin Hye...” Aku mendorong tubuh Park Shin Hye pelan.

”Aku akan membencimu seumur hidupku, Jika kau melakukan itu.”

”Tenang saja, aku tak sedepresi itu.” Jawab Park Shin Hye sambil tersenyum. Aku pun ikut tersenyum lega.

”Syukurlah!” Kataku.

”Sekarang sudah jam 8 malam. Kau belum makan kan, Park Shin Hye? Makan bersamaku saja yuk!”

”Kebetulan, aku sudah lapar sekali.” Park Shin Hye menepuk perutnya. Mendung di wajahnya sirna entah kemana. Dia memang sangat senang jika kuajak makan bersama dirumah karena di rumahnya suasana makan bersama tidak pernah terjadi. Ah, Seandainya mendung itu benar-benar berlalu... Tapi kapan???

***


Park Shin Hye datang lagi. Wajah ovalnya tampak muram. Tapi tidak semuram kemarin. Matanya juga tidak berkaca-kaca ketika mengungkapkan cerita dukanya.

”Mereka akhirnya bercerai.” Kata Park Shin Hye tanpa ekspresi.

”Kak Song Hye Gyo denganku ikut Mama. Kak Rain dan Kak Jang Geun Suk ikut Papa.” Aku menjerit kecil. Ah, Park Shin Hye... Kenapa nasibmu harus seperti ini? Betapa teganya orang tuamu. Betapa...

”Kau kaget, Yoon Eun Hye?” Tanya Park Shin Hye. Aku mengangguk.

”Kau tinggal dimana sekarang?” Tanyaku sambil dalam hati memuji ketabahan Park Shin Hye. Hebat sekali, dia bisa mengendalikan air matanya. Aku sendiri tak mampu membayangkan bila itu terjadi pada diriku.

”Di rumah yang dulu juga. Papa memberikan rumah itu untukku, Mama dan Kak Song Hye Gyo.”

”Lalu, Papa, Kak Rain dan Kak Jang Geun Suk tinggal dimana?”

”Papa masih punya rumah lain di Incheon Residence.”

”Oh...” Aku manggut-manggut.

”Sudah?”

”Apanya yang sudah?”

”Pertanyaanmu?”

Aku tertawa. ”Ya sudah, sudah jelas. Jelas sekali malah.”

”Yoon Eun Hye...” Tiba-tiba Park Shin Hye menyentuh lenganku.

”Aku ingin punya seseorang yang... memperhatikanku, menyayangiku. Aku kesepian, Yoon Eun Hye. Aku butuh kasih sayang...” Park Shin Hye menunduk.

”Betapa bahagianya, Jika saja ada orang yang mencintaiku. Aku butuh seorang sahabat, Yoon Eun Hye.”

”Park Shin Hye, aku kan sahabatmu?” Kusentuh lengan Park Shin Hye.

”Tapi kita kan tidak selalu bersama. Rumah dan sekolah kita saja berbeda. Padahal, aku ingin punya sahabat yang selalu ada untukku dimana saja aku berada.”

Aku terdiam. Park Shin Hye benar. Setelah lulus SMP, kami tidak lagi menuntut ilmu di sekolah yang sama. Karena keluarga Park Shin Hye pindah rumah maka mau tidak mau sekolah Park Shin Hye pun ikut pindah. Otomatis, kami tidak selalu dapat bersama seperti dulu. Walaupun sekarang zaman sudah canggih, rasanya aneh saja kalau hanya berkomunikasi dengan HP. Lebih menyenangkan jika bisa bertatap muka dan berbagi cerita. Dengan jarak rumah kami yang cukup jauh, jadi tidak memungkinkan untuk kami saling mengunjungi setiap hari. Hhh, betapa ingin aku mengulangi kembali pada masa-masa kami hampir selalu bersama. Betapa ingin kupeluk separuh lara Park Shin Hye. Tapi keinginan itu hanya terpendam di hati tanpa pernah terwujud. Aku tak pernah mampu berbuat lebih banyak untuk menghalau duka Park Shin Hye, kecuali dengan menghiburnya. Hanya itu...

***


Empat minggu sudah Park Shin Hye tidak hadir dengan cerita-cerita sedihnya. Aku jadi bertanya-tanya. Apa yang telah terjadi pada Park Shin Hye? Apakah...

”Hai! Kau sedang melamunkan siapa?” Aku kaget. Menoleh. Jung Yong Hwa, ketua OSIS sekolahku yang keren itu tersenyum. Aku merasa meleleh sesaat. Ah, senyum itu mengapa selalu menimbulkan getar di dalam sini? Mengapa aku mendadak dag...dig...dug... begini?

”Aku perhatikan kau melamun terus!” Jung Yong Hwa menepuk bahuku. Aku tersipu.

”Siapa yang kau pikirkan?” Tanya Jung Yong Hwa sambil duduk di kursi yang ada disampingku.

”Eh... tidak, aku tidak sedang memikirkan siapa-siapa.” Aku menggeleng.

”Bohong. Kau pasti sedang memikirkanku?” Jung Yong Hwa menatapku dengan tatapan menggoda.

”Sembarangan! Untuk apa aku memikirkanmu?”

”Sudah... mengaku saja. Aku kan kekasihmu, aku rasa itu pantas-pantas saja jika kau selalu memikirkanku.”

Uf! Apa? Jung Yong Hwa tadi bilang apa? Dia, kekasihku? Tapi, sejak kapan dia jadi kekasihku? Ah, seandainya itu jadi kenyataan.

”Sedang asyik berduan ya!” Lagi sibuk-sibuknya aku bengong, seraut wajah oval muncul dari balik pintu pagar yang tidak terkunci. Kurasakan wajahku langsung memanas.

”Siapa Yoon Eun Hye?” Tanya Jung Yong Hwa.

”Ooo... dia Park Shin Hye, sahabatku.” Sahutku sambil bangkit.

”Eh, Park Shin Hye! Ayo, masuk!” Panggilku menghampirinya.

”Aku menggangu tidak?” Park Shin Hye masuk sambil senyum menggoda. Aku memukul bahunya, pelan.

”Tentu saja tidak! Dia hanya temanku.” Desisku di telinganya.

”Kalau begitu, bolehkan aku menyukainya?” Bisik Park Shin Hye. Aku mengangguk tapi dalam hati... menyembul sepercik rasa takut akan kata-kata Park Shin Hye. Semoga dia hanya bercanda.

”Jung Yong Hwa, kenalkan Sahabatku yang paling cantik, Park Shin Hye.” Kutarik tangan Park Shin Hye.

”Jung Yong Hwa.” Tangan Jung Yong Hwa segera terulur.

” Park Shin Hye.” Park Shin Hye menjabat tangan Jung Yong Hwa. Matanya memancarkan rasa terpesona pada ketampanan Jung Yong Hwa. Bibirnya mengulas senyum manis. Oh, kucoba untuk tidak merasa sakit menyaksikan semua itu. Jung Yong Hwa kan’ bukan apa-apaku. Dia hanya teman baik. Tak lebih dari itu.

***


Sejak pertemuannya dengan Jung Yong Hwa, Park Shin Hye menjadi lebih rajin main ke rumahku. Awalnya, aku tak berprasangka apa-apa. Tapi sore ini, kata-kata Park Shin Hye hampir membuatku panas.

”Tolong aku, Yoon Eun Hye. Aku benar-benar menyukainya.”

”Iya, nanti aku coba. Kau tenang saja.” Kataku sambil menahan emosi. Ya, Tuhan! Bagaimana mungkin aku menjadi mak comblang bagi mereka? Bagaimana mungkin aku merelakan Jung Yong Hwa yang kucintai diam-diam jatuh ke tangan wanita lain? Tapi, aku sudah berjanji. Dan janji itu harus ditepati. Ah... seandainya dulu aku berterus terang, pasti keadaannya berbeda.

”Aku pasti sangat bahagia sekali, Yoon Eun Hye. Jika Jung Yong Hwa menjadi kekasihku, Aku pasti tidak akan kesepian lagi. Ternyata aku butuh seorang kekasih bukan seorang sahabat sejati.” Park Shin Hye berkata dengan mata menyimpan sejuta mimpi. Tuhan, rupanya aku memang harus membiarkan Jung Yong Hwa menjadi milik Park Shin Hye. Park Shin Hye haus kasih sayang, cinta dan perhatian. Dia lebih pantas menerima semua itu. Ya, inilah saatnya aku harus memberikan sesuatu untuk menghalau duka Park Shin Hye, walaupun ada yang patah di dalam sini.

Tetapi, sebelum aku melaksanakan aksi ’Mak Comblang’ ku. Jung Yong Hwa telah memberi surprise untukku. Dan aku tak tahu apakah harus menangis atau tertawa? Apakah aku harus menerima pernyataan cintanya? Kebimbangan seperti mengepungku dari berbagai arah. Aku menyayangi Park Shin Hye seperti saudara kandung sendiri, tapi aku juga mencintai Jung Yong Hwa. Haruskah kubiarkan Park Shin Hye menelan kekecewaan sementara aku larut dalam kebahagiaan bersama Jung Yong Hwa? Bagaimana ini, belum pernah aku dihadapkan pada situasi yang begitu rumit.

”Maafkan aku Jung Yong Hwa, aku tidak bisa menjadi kekasihmu.” Dengan menguatkan hati, aku mengambil keputusan itu. Ya, aku harus berkorban demi Park Shin Hye. Biarlah aku yang menelan kekecewaan ini asalkan Park Shin Hye mendapatkan kebahagiaan. Park Shin Hye sudah terlalu banyak menderita, kini saatnya ia merasakan setetes air kebahagiaan.

”Kau pasti berbohong, Yoon Eun Hye. Sinar matamu itu, tidakk bisa membohongiku.” Kata Jung Yong Hwa dengan mata memendam kecewa.

”Kenapa Yoon Eun Hye? Kenapa...”

”Jung Yong Hwa kita hanya bisa bersahabat, tidak lebih dari itu.” Kualihkan pandanganku ke arah luar. Sungguh, aku tak sanggup menatap mata bening itu. Aku tak sanggup melihat pijar kecewa di matanya.

”Aku tidak mengerti, Yoon Eun Hye.” Jung Yong Hwa menghela napas panjang.

”Aku pikir keakraban kita, akn memudahkanku untuk mendapatkanmu. Tapi nyatanya, kau begitu sulit untuk aku dapatkan. Angan-anganku selama ini ternyata pupus sudaj. Pupus...”

”Jung Yong Hwa.” Kusentuh tangannya.

”Lebih baik kau menerima sepotong cinta yang sudah menantimu.” Kurasakan bibirku bergetar ketika mengucapkannya.

”Apa maksudmu, Yoon Eun Hye?” Jung Yong Hwa bertanya bingung.

”Park Shin Hye. Dia... dia mencintaimu.” Serasa remuk hati ini saat mengatakannya. Tetapi aku berusaha untuk tetap tegar. Jangan sampai Jung Yong Hwa tahu isi hatiku yang sebenarnya.

”Kau ingin aku mencintai Park Shin Hye?”

Aku mengangguk, menatap Jung Yong Hwa penuh harap. ”Jika kau memang mencintaiku, kabulkanlah permintaanku. Park Shin Hye membutuhkanmu, Jung Yong Hwa. Sejak kecil Park Shin Hye tidak pernah merasakan apa itu cinta dan kasih sayang. Papa dan Mamanya selalu sibuk dan tidak pernah rukun. Dan malah sekarang orang tuanya sudah bercerai. Jung Yong Hwa please, kenapa kau tidak mencoba memberikan cintamu untuk Park Shin Hye?”

”Yoon Eun Hye, kau pikir cinta itu apa?! Mainan?! Tidak Beb! Walaupun aku sangat mencintaimu, aku tak akan pernah mengabulkan permintaan gilamu itu. Park Shin Hye akan lebih kecewa lagi jika dia tahu aku mencintainya karena terpaksa.” Jung Yong Hwa menatapku tajam. Aku seperti ditikam dengan tatapannya.

”Aku hanya mencintaimu, Yoon Eun Hye.” Suara Jung Yong Hwa melembut. Digenggamnya jemariku.

”Kenapa kau harus menyakiti diri sendiri hanya untuk seorang sahabat? Kenapa Yoon Eun Hye???”

”Aku tidak pernah mencintaimu, Jung Yong Hwa! Tidak pernah!” Kugelengkan kepala sambil menggigit bibirku. Aku tidak boleh menangis. Aku harus kuat!

”Munafik! Kau munafik, Yoon Eun Hye!” Dengan kasar, Jung Yong Hwa melepaskan genggamannya.

”Katakan, katakan... jika kau juga mencintaiku!” Kata Jung Yong Hwa sambil mengguncang bahuku.

”Aku tidak bisa, Jung Yong Hwa...” Kataku lirih.

”Hanya Park Shin Hye yang mencintaimu.”

”TIDAKKK!” Terdengar jeritan panjang. Aku menoleh. Park Shin Hye! Dia berdiri mematung di depan pintu ruang tamu. Matanya basah. Bibirnya bergetar menahan tangisnya agar tak terisak.

”Jangan paksa Jung Yong Hwa, Yoon Eun Hye.” Kata Park Shin Hye lirih.

”Park Shin Hye, aku...”

”Terima kasih untuk semua kebaikanmu.” potong Park Shin Hye lalu berlari meninggalkan rumahku. Pintu pagar dibukanya dengan kasar.

”Park Shin Hye! Tunggu!” Teriakku berusaha mengejarnya tapi... Ya, Tuhan! Decit ban mobil dan lengkingan Park Shin Hye bagai palu menghantam kepalaku.

”Park Shin Hye!” Kupeluk tubuh bersimbah darah yang tergeletak di aspal itu.

”Maafkan aku, Park Shin Hye.” Kuciumi kening yang berlumuran darah itu.

”Aku hanya ingin melihatmu bahagia.” Air mata membanjiri wajahku.

”Kau... ti... tidak... ber... sa...salah, Yoon Eun Hye.” Lemah, jemari Park Shin Hye membelai pipiku.

”A...Aku su... su...dah mendengar se...mmua...nya. A...aku per...gi ya Yoon Eun Hye. Se...sse...lamat ting...gal.” Tangan Park Shin Hye terkulai jatuh dan tak bergerak lagi.

”Park Shin Hye, kau tidak boleh pergi!” Park Shin Hyeee...” Sekelilingku mendadak gelap Gelap dan sepi.

Aku terbangun ketika mendengar seseorang memanggil namaku.

”Yoon Eun Hye...”

Kukerjapkan mataku. Park Shin Hye??? Dia berdiri di samping tempat tidurku. Wajahnya tampak lebih cantik dan berseri. Dan dia mengenakan gaun putih yang panjang menutupi kaki. Bibirnya tersenyum manis sekali.

”Aku sudah menemukan sahabat sejati, Yoon Eun Hye.” Kata Park Shin Hye sambil tetap tersenyum.

”Dia selalu menemaniku dimana dan kapan saja. Dia selalu ada didekatku. Aku bahagia sekali, Yoon Eun Hye. Aku sudah tidak kesepian lagi. Di tempatku sekarang, tidak ada duka dan airmata. Aku ingin sekali mengajakmu ke rumahku yang baru, tapi dia bilang belum saatnya.”

”Aku juga ingin tinggal disana, Park Shin Hye. Aku tidak mau berpisah denganmu.” Kataku sambil memegang tangan Park Shin Hye.

”Jangan, Yoon Eun Hye. Kau tidak kasihan dengan Jung Yong Hwa? Kau mencintainya kan?”

”Tapi, Park Shin Hye...”

”Aku pergi ya, Yoon Eun Hye. Semoga kau bahagia bersama Jung Yong Hwa.” Tiba-tiba tubuh Park Shin Hye terangkat ke atas. Dia melambaikan tangan. Aku ingin mengejarnya tapi tubuhku terasa kaku.

”Park Shin Hye... Park Shin Hye... aku ikut...” Aku menggapai-gapai tangannya.

”Yoon Eun Hye...” Ada yang berbisik di telingaku. Aku membuka mata. Mama duduk di samping tempat tidur. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling kamar. Di dekat pintu, ada Papa dan Jung Yong Hwa. Mana Park Shin Hye? Ah, aku ingat sekarang... Park Shin Hye sudah pergi. Jadi, tadi itu hanya mimpi?

”Mama...” Aku mendekap tubuh Mama erat.

”Park Shin Hye sudah pergi, Ma. Park Shin Hye...” Aku terisak dalam pelukan Mama.

”Sudahlah Yoon Eun Hye, jangan kau tangisi Park Shin Hye. Di sudah tenang disana.” Mama membelai rambutku lembut.

***

Matahari telah turun ke barat. Senja datang membayang berkawan mendung. Aku menatap tanah pemakaman yang masih merah itu dengan perasaan pilu. Selamat jalan, Park Shin Hye... bisikku. Selamat jalan sahabat... Suatu saat kita pasti bertemu lagi.

”Yoon Eun Hye...” Aku menoleh. Jung Yong Hwa menggandeng tanganku.

”Ayo kita pulang.” Ajak Jung Yong Hwa.

”Jung Yong Hwa...” Aku menangis di bahu Jung Yong Hwa.

”Seandainya, Park Shin Hye tidak datang ke rumah waktu itu dan mendengar obrolan kita, pasti...”

”Yoon Eun Hye, sudahlah. Semua itu sudah kehendak-NYA. Kau jangan mengungkit-ungkit yang sudah lewat. Park Shin Hye pasti sedih jika dia melihatmu masih menangisinya.” Jung Yong Hwa menuntunku menuju mobilnya. Aku terdiam. Menghapus pipiku yang basah dengan punggung tangan.

”Ya, Jung Yong Hwa benar. Maafkan aku Park Shin Hye, aku tidak akan menangisimu lagi. Tidurlah kau dengan tenang. Dengan damai dalam naungan cinta-NYA.” Batinku seraya memandang langit yang makin mendung.


TAMAT

Kerikil-Kerikil Cinta


Title : Kerikil-Kerikil Cinta
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance, Friendship
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 10 Agustus 2010, 04.42 PM
Cast :
Kim So Eun
Kim Bum (Yong Hwa’s Bestfriend)
Jung Yong Hwa (So Eun’s Boyfriend)



Kerikil-Kerikil Cinta
Created By Sweety Qliquers

Kim So Eun dan Jung Yong Hwa tertegun di depan pintu, saat tiba-tiba saja seisi ruangan menghentikan aktivitasnya main band dan menatap tajam ke arah mereka berdua. Dengan kikuk Kim So Eun mencoba tersenyum dan segera duduk di kursi yang tersedia di sudut ruangan. Kim Bum langsung mengambil gitar yang tergeletak di samping Kristen Stewart.

“Kenapa berhenti? Kalian marah karena aku datang terlambat? Kita bisa mulai lagi kan?”

Kim Bum mulai memetik gitar dan memainkan intro sebuah lagu. Saat sadar teman-teman yang lain tidak mengimbangi permainannya. Kim Bum hanya tersenyum kecil. Ia paham mereka pasti kecewa karena dia datang terlambat.

“Dua jam, Kim Bum. Kau terlambat dua jam!! Aku kecewa denganmu. Demi seorang wanita kau mengorbankan waktu latihan kita! Sejak bersama Kim So Eun kau mengesampingkan grup band kita. Dan kau seenaknya saja bilang terlambat!” celetuk Jung Yong Hwa panjang lebar dengan nada sinis.

Kim So Eun terkejut mendengar ucapan Jung Yong Hwa yang tidak ia sangka. Robert Pattinson, Kristen Stewart, dan Zac Efron yang berada di ruangan itu juga tampak terkejut mendengarnya. Wajah Kim Bum merah padam, sedetik kemudian ia meletakkan gitarnya dan meninggalkan studio latihan. Anak-anak yang lain segera keluar menyusul. Kim So Eun masih terpaku di tempatnya.

***


Jung Yong Hwa terlihat memainkan stick drum-nya tanpa ekspresi sedikit pun. Seolah-olah apa yang baru saja dikatakannya, sama sekali tidak membuat telinga merah. Kim So Eun merasa kecewa sekali dengan ucapan Jung Yong Hwa tadi. Tidak seharusnya Jung Yong Hwa mempermalukan Kim Bum di hadapan anak-anak. Seharusnya pria itu bisa memahami bagaimana perasaannya Kim Bum, tidak asal bicara. Jung Yong Hwa masih tidak bergeming. Menatapnya sekilas pun tidak ia lakukan. Dan itu sungguh membuat Kim So Eun merasa tertekan. Jung Yong Hwa tersenyum getir. Ia menghentikan aktivitasnya memainkan drum.

“Kau mengakhawatirkan perasaan Kim Bum kan? Lalu bagaimana dengan perasaanku, Kim So Eun? Pernah tidak kau pikirkan walaupun hanya sedikit?” tuntut Jung Yong Hwa membuat Kim So Eun tak mampu mengatakan sepatah kata pun. Kim So Eun menarik nafas perlahan. Seharusnya Jung Yong Hwa bisa memahami posisinya bukan malah menyudutkannya. Namun apa yang dilakukannya?

“Kau tidak bisa begitu saja menjadikanku sebagai sampah. Saat merasa bimbang kau bisa membuangku, tapi begitu kau meginginkanku, kau coba untuk meraihnya lagi!”

Kim So Eun tak mampu menahan beban di hatinya selama tiga bulan ini. Hingga tercurahlah kata-kata itu. Kata-kata yang selama ini tak pernah ingin ia sampaikan pada Jung Yong Hwa. Kim So Eun beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya keluar ruangan.

“Aku tidak pernah menjadikanmu sampah di hatiku,” ucap Jung Yong Hwa membuat langkah Kim So Eun terhenti. Ucapan itu begitu lirih, namun Kim So Eun mampu mendengarnya. Jung Yong Hwa merasa semakin terluka, saat tanpa bicara Kim So Eun kembali meneruskan langkahnya, meninggalkannya dalam kebimbangan.

***

Kim So Eun merasa gelisah sekali malam ini, dan itu karena semua kata-kata Jung Yong Hwa padanya tadi siang.

Jung Yong Hwa telah berubah, sama sekali berubah! Salahkah dirinya bila sekarang ini lebih mementingkan keberadaan Kim Bum daripada Jung Yong Hwa? Salahkah dirinya, bila cinta itu datang begitu saja tanpa ia mampu mengelak?.

Jung Yong Hwa berdiri tepat di depan Kim So Eun. Kim So Eun melihat sekeliling ruangan. Ia memang paling terakhir pulang saat bel sudah berbunyi 10 menit yang lalu.

“Kenapa? Kau takut Kim Bum memergoki kita?” sinis Jung Yong Hwa memaksa Kim So Eun menatap tajam cowok itu, tepat di retina matanya. Cinta itu masihkah memberi warna pada mata elangnya?

“Aku hanya tidak ingin Kim Bum punya prasangka buruk dengan kita!” tukas Kim So Eun cepat.

“Aku janji tak akan lama,” ucap Jung Yong Hwa akhirnya. Kim So Eun kembali duduk di bangkunya.

“Seberapa jauh hubungan kalian tiga bulan ini?” tanya Jung Yong Hwa menyelidik, membuat Kim So Eun mengerutkan keningnya. Ia jadi bingung dengan pertanyaan Jung Yong Hwa.

Pertanyaan itu seolah-olah Jung Yong Hwa ingin menghakiminya.

“Bukankah kau sendiri yang menyuruhku untuk mendekati Kim Bum? Membantunya untuk lepas dari drugs!”

“Tapi aku tidak menyuruhmu untuk jatuh cinta dengannya!” balas Jung Yong Hwa sinis membuat Kim So Eun terkejut dengan nada bicara Jung Yong Hwa yang naik satu oktaf lebih tinggi. Dijawab juga percuma! Kim So Eun meraih tasnya dan beranjak pergi. Tapi langkah itu terhenti seketika, saat sesosok tubuh atletis berdiri di ambang pintu dengan tatap penuh tanda tanya.

***


“Apa yang sebenarnya pernah terjadi di antara kalian? Sepertinya aku berhak mencari tahu, kan?” tanya Kim Bum. Kim So Eun membalikkan badannya menghadap Jung Yong Hwa. Matanya penuh harap menatap Jung Yong Hwa. Berharap Jung Yong Hwa tidak mengatakan apa-apa pada Kim Bum, tentang apa yang terjadi di antara mereka.

“Jung Yong Hwa, Kau sahabatku dan Kim So Eun adalah cintaku. Kalian berdua punya kedudukan penting dalam kehidupanku. Aku menyayangi kalian,” Kim Bum masih mencoba mencari tahu. Tanpa kata Jung Yong Hwa beranjak meninggalkan ruangan tanpa memedulikan pertanyaan yang dilontarkan Kim Bum. Kim Bum menatap punggung Jung Yong Hwa dengan tanda tanya di hatinya. Kini tatapnya berganti ke arah Kim So Eun. Gadis itu hanya mampu menunduk tanpa mengatakan apa-apa.

“Tolong jangan tatap aku seperti itu, Kim Bum. Aku tahu aku salah. Jangan membuatku semakin merasa bersalah,” ucap Kim So Eun getir.

***

Jangan pernah melepaskan orang yang telah membawa perubahan besar dalam hidupmu dan kau tahu, Kim So Eun? Kaulah orang itu, kaulah dewi itu. Dan aku takkan pernah melepasmu. Setetes airmata membasahi kedua pipi Kim So Eun saat mengingat ucapan Kim Bum, 3 bulan yang lalu. Saat itu Kim Bum baru saja sembuh dari ketergantungannya pada drugs. Lima bulan yang lalu Kim Bum benar-benar sosok yang rapuh. Dan suatu hari Jung Yong Hwa memintanya untuk mendekati Kim Bum, memberi perhatian dan kasih sayang. Tapi dalam usaha menjauhkan Kim Bum dari drugs tidak disangka cinta akan datang menyusup di hatinya.

Padahal saat itu dia sedang menjalin cinta dengan Jung Yong Hwa. Memang hubungannya dengan Jung Yong Hwa, tidak ada satu pun teman mereka yang tahu. Awal mula Jung Yong Hwa memintanya untuk mendekati Kim Bum, Kim So Eun sempat menolak. Tapi Jung Yong Hwa terus memaksa dengan alasan Kim Bum sahabatnya dan ia tidak ingin Kim Bum semakin terjerumus. Dengan keyakinannya, Jung Yong Hwa memastikan Kim Bum pasti akan meninggalkan drugs setelah mendapat perhatian yang tulus dari Kim So Eun.

Dan Jung Yong Hwa memang benar, Kim Bum berhasil meninggalkan dunia drugs dan cintanya pada Kim So Eun yang jadi pemacunya. Kalau mau jujur, pesona Kim Bum memang mampu membuat cinta Kim So Eun berpaling dari Jung Yong Hwa. Dan salahkah dirinya bila cintanya pada Jung Yong Hwa sudah luntur saat dia memutuskan untuk mendampingi Kim Bum?

***


“Kim Bum kenapa kau lakukan ini?” Kim So Eun masih mencoba mencari tahu. Kim Bum tersenyum getir, menatap gadis yang kini duduk di sampingnya. Betapa berat melepas gadis itu, bagaimanapun juga Kim So Eun sangat berarti dalam kehidupannya. Gadis itu membawa perubahan besar dalam hidupnya. Dan kini haruskah ia lepas? Dia memang salah memasuki ruang di antara mereka berdua. Dia menjadi penghalang bagi cinta Kim So Eun dan Jung Yong Hwa.

Sungguh Kim Bum takkan pernah sanggup, menjadi benalu pada pohon yang telah memberinya tempat untuk hidup. Dan dia telah memutuskan untuk pergi dari sisi Kim So Eun, walaupun itu akan terasa pahit bagi hati dan pikirannya.

Tapi harus bagaimana lagi? Ia tak ingin melukai perasaan Jung Yong Hwa, walaupun besar rasa cintanya pada Kim So Eun.

“Ini tidak adil! Aku tulus mencintaimu! Aku memang pernah punya kenangan bersama Jung Yong Hwa. Tapi itu sudah menjadi bagian dari masa lalu!” tegas Kim So Eun memberi keyakinan.

“Benarkah? Lalu apakah aku pantas disebut sebagai sahabat? Bahagia dengan cintaku, sementara hati sahabatku terluka? Apa kata orang nanti?” ucap Kim Bum tapi hanya dalam hati. Ia tidak ingin semakin melukai Kim So Eun. Walaupun hatinya sekarang ini benar-benar terpuruk.

Kini Kim Bum telah meninggalkan mereka berdua menempuh jalannya sendiri. Tapi mengapa Kim So Eun belum mampu melupakan Kim Bum? Dan Jung Yong Hwa tak pernah mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang menyelubungi hatinya.

“Tidak bisakah kita renda kembali tali kasih cinta kita?” tanya Jung Yong Hwa penuh asa. Kim So Eun menggeleng lemah.

Perlahan kepalanya terangkat dan matanya menatap Jung Yong Hwa pedih.

“Aku tidak bisa lagi mencintaimu. Cinta itu entah kapan telah berlalu dari hatiku.”

“Tapi kalian juga tidak mungkin bersama lagi! Kim Bum telah meninggalkanmu, tidakkah itu cukup sebagai alasan agar kau melupakan dia?”

“Tidak peduli dia ada di mana, aku akan tetap menunggunya. Aku yakin dia akan berlabuh di hatiku.”

Pedih! Itu yang dirasakan Jung Yong Hwa saat dengan tegas Kim So Eun mengucapkan semua itu. Jika memang itu keputusan Kim So Eun, berhakkah dia melarangnya?

Cinta datang tanpa diminta pergi pun tanpa kita tahu. Walau jalan cinta penuh dengan kerikil-kerikil tajam, tapi banyak yang berhasil melaluinya. Dan Jung Yong Hwa punya harapan yang begitu besar. Berharap suatu saat nanti, Kim So Eun mampu menghilangkan kerikil-kerikil tajam itu untuk mendapatkan cinta sejatinya.


TAMAT

Jumat, 23 Juli 2010

Masih Ada Hari Esok


Title : Masih Ada Hari Esok
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 21 July 2010, 03.10 PM
Cast :
Park Shin Hye
Jung Yong Hwa
Jang Geun Suk


Masih Ada Hari Esok
Created By Sweety Qliquers


Butuh satu jam untuk mengenal seseorang, satu hari untuk jatuh cinta, namun untuk melupakannya bisa jadi butuh seumur hidup.

Pagi belum lagi beranjak siang, namun langit di atas kota Seoul kelabu tua. Mendung menyelimutinya. Hujan turun rintik-rintik. Air yang jatuh dari atas langit bagai jutaan jarum lembut. Membasahi genting, dedaunan, lalu mengalir sepanjang jalan menuju selokan.

Hari ini adalah hari keempat belas Park Shin Hye berada di rumah sakit. Setelah dioperasi pada hari pertama dan beristirahat total selama hampir dua minggu, dia akhirnya diperbolehkan pulang. Luka-luka di kakinya sudah mengering. Semua barang-barang Park Shin Hye juga sudah dimasukkan ke mobil.

Gadis itu mencoba berdiri meski dengan bantuan tongkat.

"Pagi, Dok!" sapanya begitu melihat dokter yang ikut membantu perawatannya sedang berbicara dengan seorang suster di pintu kamar.

Dokter muda itu memandangnya sejenak, lalu membalas sapaannya.

"Sudah mau pulang?"

"Ya, Dokter. Sekalian saya mau pamit."

"Baiklah, Park Shin Hye. Satu saja pesan saya, hidup harus berjalan terus. Kau tetap kuat dan tabah ya? Selain berusaha menjaga kondisi badan, mulailah berlatih berjalan setahap demi setahap."

Park Shin Hye mengangguk. "Terima kasih atas bantuannya, Dokter."

Lalu dibantu papa dan mamanya, gadis itu masuk ke dalam mobil. Semenit kemudian, mobil sedan yang membawanya telah melaju di jalan.

Park Shin Hye beralih ke tepi jendela. Hujan masih menyisakan rintiknya. Dia teringat kembali tentang Jang Geun Suk, pria yang sangat dicintainya, yang dulu pernah menemaninya merenda hari. Sampai detik ini, Park Shin Hye belum mampu melupakannya. Padahal cukup hitungan waktu untuk mengenang kehangatan dan cinta Jang Geun Suk padanya. Kecelakaan mobil telah membawa pria itu tidur lelap ditemani kedamaian. Sementara Park Shin Hye terpuruk dalam kesendiriannya kini.

Memang, tak seorang pun dapat menduga kapan musibah itu datang. Semuanya terjadi begitu cepat. Park Shin Hye sama sekali tak pernah menyangka, malam itu adalah malam terakhir dia bersama Jang Geun Suk. pria itu mengajaknya dinner seminggu menjelang keberangkatannya untuk melanjutkan sekolah ke negeri Paman Sam.
"Jika rentang waktu setahun ada 365 hari, maka berapa kali matahari terbenam yang akan kita lewatkan hingga kita bertemu lagi?"

"Aku tidak tahu, Jang Geun Suk." Park Shin Hye menatap kosong. Dia bahkan belum menyentuh potongan steak -nya yang terhidang di meja.

"Suatu hari nanti, aku ingin kita bisa menikmati matahari terbit bersama-sama. Begitu terus setiap hari." Jang Geun Suk menggenggam jemari Park Shin Hye lembut. Mencoba memberi keyakinan pada gadis itu.

Tapi nyatanya, apa yang terjadi sungguh ironis.

Park Shin Hye masih ingat betul, dalam perjalanan pulang Jang Geun Suk membanting setir mobilnya ke kanan guna menghindari tabrakan dengan mobil depan yang mengerem mendadak. Namun bukannya terhindar dari maut, tiba-tiba malah muncul mobil dari arah sebaliknya menabrak mereka.

Mobil Jang Geun Suk yang ringsek berat menjadi saksi bisu betapa kecelakaan itu demikian parah dan tak menyisakan ampun. Saat keduanya tak sadarkan diri di rumah sakit, pria itu duluan menghembuskan napas terakhirnya. Park Shin Hye beruntung masih selamat. Dia hanya menderita patah kaki ringan dan beberapa luka gores.

***

Satu tahun lebih berlalu....

Tak mudah memang bagi Park Shin Hye menjalani hari dengan trauma yang masih membekas. Tak seorang pun juga begitu ambil pusing dengan sikapnya yang tertutup dan cenderung pendiam. Ya, kecuali Jung Yong Hwa.

Kring! Begitu bel kampus berbunyi, Park Shin Hye bergegas meninggalkan ruangan. Rasanya ingin cepat-cepat pulang karena begitu banyak yang harus dikerjakannya di rumah siang ini.

"Park Shin Hye, tunggu! Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."

Park Shin Hye memperlambat langkahnya sambil menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. Tampak Jung Yong Hwa berlari-lari kecil ke arahnya. Sedikit terengah begitu berhasil menjejeri langkahnya.

"Aku tidak punya banyak waktu," Park Shin Hye lantas memotong seraya membalikkan tubuhnya.

"Please, aku hanya ingin bertanya. Bolehkah aku ke rumahmu malam minggu ini?" imbuh Jung Yong Hwa sambil tersenyum kikuk.

"Kenapa? Beberapa jam saja tidak melihatku, membuatmu merindukanku?" tatapan mata Park Shin Hye melunak.

"Jadi boleh aku main ke rumahmu?"

"Siapa yang bilang boleh?" Park Shin Hye mendelik. "Aku sibuk!"

"Sibuk? Memangnya kau punya bisnis apa?"

Park Shin Hye tertawa kecil. Jung Yong Hwa yang baik selalu mengingatkannya pada Jang Geun Suk. Tubuhnya yang tinggi menjulang, kulitnya yang putih serta senyum baby face-nya seolah menjelma pada diri Jung Yong Hwa. Hanya saja....

Park Shin Hye menarik napas dalam-dalam. "Pokoknya tidak boleh, kecuali...."

"Kecuali apa?"

"Kecuali kau bisa mempertemukanku dengan Jang Geun Suk," tantang gadis itu.

Jung Yong Hwa terperangah. Permintaan itu terasa janggal. Bagaimana mungkin mempertemukan orang yang masih hidup dengan orang yang sudah tidak ada di dunia ini? Park Shin Hye hanya mengada-ada.

Dan itu menjadi beban batinnya. Ternyata, menyadarkan seseorang yang terbelenggu cinta tak semudah yang dibayangkannya. Sayang dia keburu terbius oleh gadis itu. Sejak perkenalan pertama beberapa tahun silam, sebelum Park Shin Hye akhirnya menjadi milik Jang Geun Suk. Kalaupun saat itu dia memutuskan untuk mundur, itu semata karena Jung Yong Hwa yakin Jang Geun Suk dapat membahagiakan gadis yang sedikit manja itu.

Perkiraannya tidak meleset. Semuanya berlangsung baik-baik saja. Sampai tiba-tiba kabar buruk itu diterima: Jang Geun Suk meninggal akibat kecelakaan mobil.

***


Park Shin Hye menggenggam sebuah boneka beruang kecil di tangannya. Hadiah dari Jang Geun Suk di hari jadi mereka pacaran.

"Aku akan selalu memberimu boneka beruang ini di setiap tahun hari jadi kita. Sampai meja belajarmu penuh! Sebab aku ingin kita selalu bersama," kata Jang Geun Suk suatu saat.

Park Shin Hye mengenang hal itu dengan pahit. Hari ini seharusnya hari jadi mereka yang kedua, jika Jang Geun Suk masih hidup tentunya. Betapa Park Shin Hye merindukan senyum, tawa, perhatian, bahkan omelan pria itu disaat dirinya lupa sarapan pagi. Sudah setahun pula Park Shin Hye terus menyalahkan dirinya atas kecelakaan yang menimpa Jang Geun Suk. Andai saat itu dia tidak mengganggu konsentrasi Jang Geun Suk menyetir dengan mengajaknya mengobrol. Andai dinneritu tak pernah ada. Ah, andai....

Sebuah ketukan di pintu membangunkan lamunannya.

"Park Shin Hye, ada temanmu yang datang. Kalau tidak salah namanya Jung Yong Hwa."

"Eh... iya, Ma." Park Shin Hye buru-buru menyusut airmatanya.

Untuk apa lagi Jung Yong Hwa kemari? Bukannya aku sudah bilang tidak usah mampir?

Di ruang tamu, Park Shin Hye melihat pria itu sedang duduk terpekur menatap lantai. Wajahnya langsung sumringah begitu melihat dirinya.

"Hai!" sapa Jung Yong Hwa spontan. Park Shin Hye hanya bisa diam mematung di ujung meja. Jung Yong Hwa kelihatan begitu lembut malam ini, dan dia begitu tampan dengan kemeja putihnya itu.

"Malam minggu tidak keluar?" tanya pria itu lagi.

Park Shin Hye menggeleng. "Mana ada yang mau mengajak wanita kuper dan berantakan sepertiku kencan di malam Minggu."

"Kau serius? Aku mau!"

Park Shin Hye tersenyum simpul. pria di hadapannya ini, tak putus-putusnya menghibur dirinya sejak kepergian Jang Geun Suk. Park Shin Hye tidak buta. Dia sadar perhatian Jung Yong Hwa selama ini.

"Tapi kau belum mengabulkan permintaanku. Kau belum mempertemukanku dengan Jang Geun Suk," Park Shin Hye mengingatkan.

" Park Shin Hye... kau tahu sendiri hal itu tidak mungkin," sahut Jung Yong Hwa.

"Terserah."

"Sampai kapan kau mau terus mengurung diri, Park Shin Hye? Aku yakin Jang Geun Suk juga tidak suka melihatmu seperti ini," suara Jung Yong Hwa terdengar lembut tapi tegas.

"Kalau tidak suka, kau boleh tidak peduli," jawab Park Shin Hye dingin.

"Aku peduli, karena aku menyayangimu!" jawab Jung Yong Hwa gemas.

"Maafkan aku, Jung Yong Hwa. Tapi Jang Geun Suk tetap hidup di hatiku," jawab Park Shin Hye setengah terbata. Jang Geun Suk, kau di mana? Berilah aku suatu pertanda jika kau juga tak pernah melupakan ku, bisiknya.

"Jangan berburuk sangka dulu. Aku tak pernah memintamu melupakan Jang Geun Suk, Park Shin Hye. Aku hanya ingin kau membuka diri bagi orang-orang di sekitarmu. Kau sendiri yang bilang, kita harus menghargai waktu yang ada bersama orang-orang yang kita sayangi. Dan aku menghargai waktu yang aku punya bersamamu!"

Park Shin Hye terpana mendengar ucapan Jung Yong Hwa. Ada rasa haru menyeruak di hatinya.

"Aku menyukaimu sejak dulu, Park Shin Hye. Sejak kita pertama kali berkenalan. Aku ingin kau kembali ceria seperti dulu lagi," pinta Jung Yong Hwa sambil tersenyum manis.

Terima kasih, Jung Yong Hwa. Tapi aku...."

Jung Yong Hwa mengeluarkan sesuatu yang disembunyikannya sejak tadi. Astaga! Sebuah boneka beruang kecil. Antara percaya dan tidak percaya, Park Shin Hye menatap takjub saat tangan Jung Yong Hwa terulur padanya.

"Tadi sebelum ke sini, aku melihat boneka ini. Lalu aku berpikir untuk membelikannya untukmu karena setahuku kau suka pernak-pernik beruang. Sebuah awal yang bagus bukan? Jadi di kamarmu tidak harus selalu koleksi barang dari Jang Geun Suk." Lagi-lagi senyum tulus mengembang di wajah pria itu.

Park Shin Hye menerimanya dengan hati berdebar.

***



Angin malam menerpa ketika Park Shin Hye membuka jendela kamarnya. Poninya tersibak. Antara suka dan lara bergayut di hatinya. Park Shin Hye memandang boneka beruang kecil pemberian Jung Yong Hwa di tangannya, lalu menatap ke atas, menembus kelamnya langit di malam hari.

Park Shin Hye tersenyum tipis. Dipejamkannya mata. Alangkah terasa kehadiran Jang Geun Suk di sisinya. Entah mengapa kedamaian tiba-tiba menyelimutinya.

"Jang Geun Suk," gumamnya lirih, "Aku tak akan pernah melupakanmu meskipun kini sudah menerima uluran tangan Jung Yong Hwa untuk mengisi kekosongan hati ini, yang akan menemaniku melangkah di lembaran baru. Semoga kau mendapatkan kebahagiaan di tempatmu yang sekarang."

Angin kembali berdesir. Park Shin Hye membiarkan jendelanya tetap terbuka.

Sementara dari atas sana, betapa seseorang yang berpakaian seputih kapas itu tersenyum dan tampak melambai hangat kepadanya dari atas sana. Jang Geun Suk....


TAMAT