Silahkan Mencari !!!

Info!!!

kelanjutan fan fiction & recap drama semua ada di blog q yang baru
fanfic : www.ff-lovers86.blogspot.com
recap : www.korea-recaps86.blogspot.com
terima kasih...
Tampilkan postingan dengan label God Of Study. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label God Of Study. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Agustus 2010

God Of Study (Episode 16-Tamat)

Soo Jung dan Seok Ho sangat cemas menunggu hasil yang didapatkan anak-anak.

Bong Goo keluar.

"Bong Goo..." ujar Soo Jung cemas.

Bong Goo hanya terdiam dengan wajah bengong. Tiba-tiba ia terjatuh lemas di lantai.

"Dia pasti sangat sedih." kata Ma Ri.

Pul Ip keluar dan tersenyum. "Dia hanya sangat bahagia." katanya. "Bong Goo... lolos."

Soo Jung sangat senang dan memeluk Bong Goo.

"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Seok Ho pada Pul Ip.

Pul Ip menunduk. "Aku lolos." katanya.

Ma Ri dan Soo Jung berteriak senang. Seok Ho menarik napas lega.

Mereka masuk ke dalam untuk melihat hasil anak-anak yang lain.

"Na Hyun Jung." panggil Seok Ho.

Hyun Jung menangis. "Aku tidak lolos." katanya sedih.

Soo Jung memeluknya. Baek Hyun melihat Hyun Jung dengan sedih.

Ma Ri mengintip layar komputer Baek Hyun. "Lolos!" serunya spontan.

Baek Hyun melihat Hyun Jung.

"Selamat, Hwang Baek Hyun." kata Seok Ho.

"Terima kasih." kata Baek Hyun, menunduk memberi hormat.

"Baek Hyun, selamat." kata Hyun Jung.

"Chan Doo..." Ma Ri menunggu Chan Doo bicara.

Chan Doo hanya diam dan tersenyum.

"Hong Chan Doo.." Seok Ho membantu Chan Doo bicara. "Tidak lolos ataupun gagal."

Chan Doo menoleh menatap Seok Ho. Yang lainnya terkejut.

"Aku..." Chan Doo tersenyum. "Tidak mendaftar di Chun Ha."

"Kau mendaftar ke sekolah yang berbeda?" tanya Ma Ri penasaran. "Sekolah yang lebih bagus."

Chan Doo tersenyum dan menggeleng.

"Tidak." jawab Chan Doo tanpa menjelaskan.

Seok Ho meminta mereka semua bubar dan menghabiskan waktu sendirian untuk beberapa saat.

Pul Ip meminta Chan Doo menemaninya.

"Kenapa?" tanya Chan Doo. "Bukankah Pengacara Kang mengatakan pada kita untuk menyendiri dulu?" Chan Doo tersenyum. "Tapi kau... sangat mengerti aku."

"Baiklah, aku akan menemuimu lagi dalam satu jam." kata Pul Ip, berjalan pergi.

"Pul Ip!" panggil Chan Doo. "Selamat. Sejujurnya, aku sangat senang kau bisa lolos. Aku benar-benar senang."

Pul Ip tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Aku juga senang karena Hong Chan Doo memiliki keberanian."

Chan Doo tersenyum.

Baek Hyun mengejar Hyun Jung. "Hyun Jung!" panggilnya.

Hyun Jung berusaha mengubah ekspresi sedihnya menjadi ceria. "Kenapa kau mengikuti aku?" tanyanya dengan nada ceria. "Sejujurnya, aku merasa sangat baik. Cepatlah temui nenekmu. Jika ia tahu kau diterima, ia pasti senang."

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Baek Hyun khawatir.

"Tentu saja." kata Hyun Jung, tertawa. Ia mendorong Baek Hyun pergi. "Cepat pergi! Pergi!"

"Baiklah." kata Baek Hyun. "Kita bertemu lagi nanti!" Baek Hyun berlari pergi.

Hyun Jung menangis. "Baek Hyun, selamat... Selamat."

Orang tua Bong Goo sangat senang mengetahui anaknya diterima.

Nenek Baek Hyun juga sangat senang. Ia berteriak memberitahu semua orang yang lewat.

Keesokkan harinya, Chan Doo dan Hyun Jung menyampaikan perasaan mereka.

Dimulai dari Chan Doo.

"Aku tidak tertarik pada sekolah." kata Chan Doo di depan kelas. "Jika aku adalah orang yang sama seperti satu tahun yang lalu, maka mungkin saja aku akan mendaftar ke sekolah yang bagus. Tapi kini tidak lagi. Aku sudah belajar bagaimana cara menjalani hidupku."

"Sejujurnya, aku tidak pernah berpikir akan masuk ke universitas." kata Hyun Jung. "Hanya berpikir tentang universitas saja, membuatku merasa tidak mungkin. Tapi sejak masuk kelas khusus, aku menjadi sadar bahwa aku ingin belajar dan masuk universitas. Aku belum tahu bidang pelajaran apa yang kuinginkan, tapi jika aku belajar satu tahun lagi, maka mungkin aku bisa menemukannya. Aku pasti bisa masuk ke universitas tahun depan."

Seok Ho meminta Baek Hyun, Pul Ip dan Bong Goo menyiapkan essay, sementara Hyun Jung dan Chan Doo boleh pulang.

"Semangat!" ujar Hyun Jung menyemangati, walaupun sambil menangis.

Hyun Jung dan Chan Doo pergi ke karaoke berdua.

Saat Chan Doo menyanyi, diam-diam Hyun Jung menangis. Chan Doo sedih melihatnya.

Malam itu, Baek Hyun melihat website Universitas Tae Pyeong. Soo Jung mendekatinya.

"Sejujurnya, impianku adalah menjadi..."

"Seorang sokter." kata Soo Jung menyelesaikan perkataan Baek Hyun.

"Sebelum masuk kelas khusus, aku telah banyak gagal dalam ujian." kata Baek Hyun. "Tapi sekarang aku ingin mencobanya."

"Karena Chun Ha tidak memiliki fakultas kedokteran, maka kau memilih Tae Pyeong, bukan?" tanya Soo Jung.

"Ya, tapi ada alasan yang lain."

Chan Doo berbincang dengan kedua orang tuanya. Ia berkata bahwa ia ingin menjalankan hidupnya sendiri.

"Aku ingin menjalankan 1 tahun untuk melakukan apa yang kuinginkan." kata Chan Doo.

"Lalu apa yang kau inginkan?" tanya ayahnya.

"Dance." jawab Chan Doo.

Ayah dan Ibu Chan Doo terkejut mendengarnya. Ibu Chan Doo langsung mengambil barang-barang terdekat agar ayah Chan Doo tidak bisa melempar barang tersebut.

Chan Doo melanjutkan dengan yakin. "Jika kau memberiku waktu satu tahun untuk melakukan apa yang kumau, aku yakin aku bisa menemukan jawaban. Jadi, sampai aku bisa memutuskan, aku akan belajar dengan keras. Jika aku tetap tidak mau pergi ke universitas lagi, maka aku akan menemukan jalan lain."

"Bagaimana jika kau tidak bisa memutuskan sampai 1 tahun?" tanya ayahnya.

"Aku akan memutuskan karena aku percaya pada diriku." kata Chan Doo yakin.

"Aku akan memberimu izin." kata ayah Chan Doo. "Tapi kau harus meninggalkan rumah ini. Kau akan pergi tanpa makanan dan tempat tinggal. Aku tidak akan membantumu."

"Terima kasih, Ayah."

Di apartmentnya, Hyun Jung melukis wajahnya sendiri.

Guru-guru Byung Moon menjadi sangat bersemangat membicarakan pendidikan.

Baek Hyun pergi ke Universitas Tae Pyeong untuk melakukan interview. Hyun Jung dan Soo Jung menemaninya. Sepertinya Tae Pyeong letaknya cukup jauh dari Seol karena mereka harus beli tiket dan naik bus malam.

Di Chun Ha, Pul Ip dan Bong Goo bersiap mengerjakan essay..

Di Tae Pyeong, Baek Hyun melakukan interview.

Beberapa hari kemudian,para guru kelas khusus mengucapkan selamat tinggal dan menyampaikan pesan/kesan dan petuah-petuah untuk anak-anak.

Semuanya berakhir dengan bahagia.

Hari Pengumuman Penerimaan Universitas Chun Ha.

Bong Goo dan Pul Ip duduk di depan komputer dan menuliskan nama dan nomor ujian mereka. Mereka berdua lolos. Murid-murid di sana ikut bersorak-sorak senang.

Hari Pengumuman Penerimaan Universitas Tae Pyeong.

Baek Hyun mencari nomor ujiannya. Ia juga lolos.

"Selamat!" seru Hyun Jung, Pul Ip, Chan Doo dan Bong Goo senang.

Di Byung Moon, Seok Ho mengucapkan selamat tinggal pada para guru dan para murid kelas khusus.

"Selama satu tahun ini, kalian selalu kumarahi, selalu bertengkar satu sama lain." kata Seok Ho. "Semua pembelajaran ini bukan hanya membantu kalian agar bisa masuk ke universitas, tapi jika kalian belajar dengan keras, maka kalian akan bisa meraih segalanya. Tidak penting apakah kalian bisa masuk Chun Ha atau tidak,karena kini kalian sudah memiliki kekuatan untuk bertahan hidup di dunia yang keras ini. Kalian semua berhasil. Kalian semua adalah... orang-orang yang hebat."

Mereka mendengarkan pidato Seok Ho dengan mata berkaca-kaca.

"Terima kasih untuk segalanya." kata Seok Ho. "Aku akan pergi sekarang."

Seok Ho berjalan keluar. Soo Jung dan kelima anak kelas khusus mengejar.

"Dari awal kau selalu sangat egois!" seru Soo Jung. "Lalu bagaimana dengan sekolah ini?"

"Sekolah ini memiliki Guru Han Soo Jung dan guru-guru hebat yang lain." kata Seok Ho.

"Bukan itu maksudku." kata Soo Jung, menangis.

"Guru Han Soo Jung, kau adalah orang yang hebat." kata Seok Ho. "Aku minta maaf karena menyebabkan banyak masalah padamu. Ah, kau mungkin akan merindukan aku. Jika tahun ini 10 murid bisa masuk ke Chun Ha, maka aku akan kembali."

Seok Ho pergi. Anak-anak mengejarnya.

"Paman!" teriak mereka, menangis. Seok Ho tidak menoleh.

"Guru!" teriak Baek Hyun. Seok Ho berhenti.

"Sudah kukatakan aku bukan gurumu!" seru Seok Ho. Seok Ho melambaikan tangannya.

"Guru!" teriak anak-anak. "Guru!"

Guru-guru SMA Byung Moon mengubah cara mengajar mereka.

Bong Goo dan Pul Ip belajar di Chun Ha.

Chan Doo mengembangkan bakatnya dalam bidang dance.

Hyun Jung mengembangkan bakat melukisnya.

Baek Hyun belajar kedokteran di Tae Pyeong.

Seok Ho menjadi pengacara. Kini banyak pelanggan yang datang. Walaupun pelanggan itu miskin, namun Seok Ho tetap menerima mereka.

Seorang pengantar mie datang untuk mengantarkan pesanan Seok Ho.

"Taruh disitu." kata Seok Ho tanpa menoleh.

Pengantar itu mengantarkan makanan, namun bukan mie, melainkan makanan yang bergizi. Seok Ho menoleh dengan bingung.

"Kurasa itu bukan pesanan kami." kata Seok Ho.

Pengantar itu mendongak. Ternyata ia adalah Baek Hyun. "Ini adalah hadiah yang kuberikan pada guruku." kata Baek Hyun, tersenyum.

TAMAT

God Of Study (Episode 15)

Baek Hyun mengambil jeruknya yang terjatuh. Namun tiba-tiba sebuah taksi lewat dan melindas jeruk-jeruknya. Ia tidak sadar bahwa yang menaiki taksi itu adalah neneknya. Agar Baek Hyun tidak cemas, maka neneknya menolak untuk bertemu dengan Baek Hyun.

"Baek Hyun, kau harus mengerjakan ujian dengan baik." pikir Nenek seraya menatap Baek Hyun dari jendela belakang mobil.

Nenek menelepon Baek Hyun dan berkata bahwa ia tidak bisa pulang malam ini. Nenek berbohong bahwa ia pergi untuk membantu temannya membuat kue beras.

"Baek Hyun, Nenek sangat menyayangimu." kata Nenek, kemudian menutup telepon.

Seok Ho curiga ada sesuatu yang terjadi pada Nenek Baek Hyun.

Malam itu Pul Ip tidur. Karena MP3nya rusak, maka Pul Ip membayangkan suara ibunya bernyanyi.

"Malam ini adalah malam biasa." gumam Pul Ip pada dirinya sendiri. "Bersikaplah dengan normal."

Pul Ip membayangkan ibunya bernyanyi di luar. Suara itu terdengar begitu nyata dan jelas. Pul Ip tertidur. Tanpa ia ketahui, saat itu ibunya memang sedang berada di luar dan menyanyi untuknya.

"Pul Ip." ujar ibunya pelan. "Kerjakan ujian dengan baik."

Pul Ip terbangun saat subuh dan hari masih gelap. Makanan sudah tersedia di meja.

"Ibu..." ujar Pul Ip pelan. "Ibu!" panggil Pul Ip. Tapi ibunya tidak ada di manapun.

Pul Ip duduk, menghadapi meja yang penuh makanan. "Ibu, aku akan makan dengan baik dan mengerjakan ujian dengan baik."

Chan Doo keluar dari kamarnya saat subuh. Ia melihat ayahnya sedang berdiri, melihat ke luar jendela.

"Kenapa kau bangun sangat pagi?" tanya ayahnya.

"Tubuhku bangun secara otomatis." jawab Chan Doo.

"Tenanglah." kata ayahnya menenangkan.

Di rumah Baek Hyun, Seok Ho menyiapkan makanan untuk Baek Hyun.

Hyun Jung berangkat ujian bersama Soo Jung.

Orang tua Bong Goo mengantar anaknya sampai di pinggir jalan.

"AKU PASTI AKAN MENGERJAKAN UJIAN DENGAN BAIK!" kata Bong Goo yakin. "Kali ini, aku tidak akan mundur dan menyerah."

Bong Goo berjalan ke tempat ujian dengan percaya diri. Di tengah jalan, ia menemukan seekor anjing yang sedang sakit. Secara naluriah, Bong Goo menolong anjing itu dan mencari dokter hewan. Namun karena saat itu masih terlalu pagi, maka semua tempat masih tutup. Bong Goo menggedor-gedor pintu.

Anak-anak berkumpul.

Pul Ip sakit perut, namun Soo Jung menguatkannya.

Keempat anak sudah berada di tempat ujian, tinggal Bong Goo saja yang belum datang.

Seok Ho menyalami Baek Hyun, Pul Ip, Hyun Jung dan Chan Doo. Mereka berempat masuk ke dalam, sementara Soo Jung dan Seok Ho menunggu Bong Goo.

Di pihak lain, Bong Goo sedang berada di dokter hewan. Ia melihat jam. Sudah jam 7.45.

Ia berlari. Kebetulan Ma Ri lewat dengan menggunakan sepeda motor. Ia mengajak Bong Goo naik dan mengantarnya ke tempat ujian.

Soal ujian dibagikan.

Ujian pertama adalah ujian Bahasa Korea. Anak-anak berusaha mengerjakan dan mengingat-ingat ajaran Guru Lee.

Ujian kedua adalah Ilmu Pengetahuan.

Seok Ho mencari-cari Nenek Baek Hyun. Ia mendatangi teman Nenek yang biasa membuat kue beras, namun temannya itu mengatakan bahwa Nenek tidak datang ke tempatnya.

Setelah itu, Seok Ho datang ke rumah sakit. Penjaga rumah sakit mengatakan bahwa Nenek terkena penyakit gastritis dan sering datang ke rumah sakit itu.

"Kapan terakhir kali ia membuat janji berobat?" tanya Seok Ho.

"Kurasa 2 bulan yang lalu."

Tiba-tiba, Seok Ho mendapat telepon di ponselnya.

"Nenek menyuruhku menghubungi nomor ini." kata orang di saluran seberang.

"Apa?!" teriak Seok Ho terkejut.

Ujian ketiga adalah Matematika.

Anak-anak membaca soal dan mencoba mengingat-ingat ajaran Guru Cha. Mereka panik karena waktu sangat sempit, namun mereka mencoba untuk menenangkan diri.

Seok Ho mendapat telepon dari seseorang yang menemukan Nenek pingsan di sebuah hotel.

Seok Ho bergegas menjenguk Nenek.

"Nenek, kenapa kau pergi dalam keadaan sakit seperti ini?" tanya Seok Ho.

"Jika aku tidak pergi, Baek Hyun tidak akan mau berangkat ujian." jawab Nenek. "Aku kenal cucuku. Jika ia tahu mengenai penyakitku, maka ia tidak akan mau meninggalkan aku. Guru, apapun yang terjadi padaku..."

Seok Ho panik. "Dokter! Dokter!"

"Baek Hyun... sampai ujiannya selesai.. tolong jangan katakan apapun. Guru.. aku mohon padamu..." Nenek Baek Hyun sekarat. Para perawat dan dokter memberi oksigen padanya.

Nenek meminta Seok Ho berjanji agar tidak memberi tahu Baek Hyun dan Seok Ho terpaksa berjanji.

Seok Ho bicara pada dokter mengenai kemungkinan Nenek dioperasi. Namun dokter mengatakan bahwa akan ada kemungkinan Nenek meninggal saat operasi karena umurnya yang sudah tua. Seok Ho benar-benar sedih dan bingung.

Dokter meminta keputusan dengan cepat. Akankah Nenek dioperasi atau tidak.

Seok Ho menarik napas dalam-dalam. Dilain sisi, ia ingin memberi tahu Baek Hyun, namun disisi lain ia sudah berjanji pada Nenek.

Akhirnya Seok Ho membuat keputusan, "Tolong operasi dia."

Seok Ho menghubungi Soo Jung dan Ma Ri. Mereka berdua bergegas datang ke rumah sakit.

Ujian keempat adalah Bahasa Inggris. Sama seperti pelajaran-pelajaran sebelumnya. Ajaran Anthony terngiang-ngiang di kepala mereka.

Saat hari gelap, ujian mereka selesai.

Soo Jung menemui mereka.

"Baek Hyun..." ujar Soo Jung.

Baek Hyun bergegas lari ke rumah sakit. "Apakah Nenek masih di ruang operasi?" tanyanya pada Ma Ri.

"Sepertinya sudah selesai." jawab Ma Ri.

Beberapa saat kemudian dokter keluar. "Operasi berjalan lancar." katanya. "Tapi karena penyakitnya sudah terlalu parah..."

"Apa? Lalu?" Baek Hyun menangis dan ketakutan.

"Tunggulah sebentar lagi." Dokter kembali masuk ke dalam ruang operasi.

Seok Ho datang. "Baek Hyun."

"Kenapa? Kenapa kau tidak memberitahu aku?" tanya Baek Hyun, menangis. "Bagaimana jika aku tidak bisa melihatnya lagi? Kenapa kau tidak memberitahu aku? Kenapa?"

"Maafkan aku." kata Seok Ho.

"Apa karena jika aku tidak ikut ujian maka jumlah murid khusus akan berkurang?!" seru Baek Hyun.

Seok Ho diam.

"Yang ada dipikiranmu hanya mengirim kami ke Chun Ha, bukan?" seru Baek Hyun, menarik kerah kemeja Seok Ho. "Apakah seseorang mati atau tidak, apakah aku bisa melihat orang yang sangat penting untukku atau tidak, semuanya tidak ada di pikiranmu, bukan?!"

"Maafkan aku." kata Seok Ho, tidak melawan sama sekali.

Baek Hyun menangis dan berlari pergi.

Baek Hyun duduk seorang diri. Teman-temannya hanya bisa melihat dari jauh.

Baek Hyun menemani Neneknya yang belum juga sadar. Seok Ho masuk.

"Saat masker oksigen dipakaikan padanya, walau dia sudah tidak sadarkan diri, mata Nenekmu memohon padaku." kata Seok Ho lemah. "Jika... jika... jika ia tidak bisa melewati operasi, jika ia tahu bahwa kau tidak menyelesaikan ujianmu dan datang kemari, maka arwahnya tidak akan pergi dengan tenang. Kurasa, itulah yang akan membuatnya merasa sangat sedih. Maafkan aku.... Aku sungguh minta maaf."

Baek Hyun diam, dan terus menangis.

"Aku tahu kau tidak akan memaafkan aku." kata Seok Ho. "Tapi, aku tetap minta maaf." Seok Ho meneteskan air matanya dan beranjak pergi.

"Mau kemana kau?" tanya Baek Hyun. "Jika kau memang merasa bersalah, maka kau harus menjagaku sampai akhir. Mau kemana kau?"

"Aku tidak pantas ada disini bersamamu dan nenekmu." kata Seok Ho. "Aku akan berada di luar."

"Jangan pergi!" seru Baek Hyun. "Aku takut... Aku takut pada kematian... Tolong tetaplah di sini bersamaku. Dengan begitu, aku tidak akan menjadi lemah. Dengan begitu, aku tidak akan jatuh. Tetaplah disini."

Seok Ho menangis, dan meraih pundak Baek Hyun untuk menguatkannya.

Keempat murid kelas khusus, Ma Ri dan Soo Jung menunggui Nenek Baek Hyun di rumah sakit.

"Apakah kalian mengerjakan ujian dengan baik?" tanya Ma Ri.

Anak-anak tersenyum.

"Bagus sekali." kata Ma Ri.

Sudah pukul 3 dini hari, mereka masih tetap berada di rumah sakit.

Nenek Baek Hyun akhirnya sadar.

"Nenek!" seru Baek Hyun lega.

"Apakah kau mengerjakan ujian dengan baik?" tanya Nenek.

"Ya, Nenek." jawab Baek Hyun, tersenyum.

Seok Ho menarik napas lega.

Anak-anak pulang ke rumah, kemudian pergi ke sekolah. Seok Ho membagikan nilai ujian mereka.

Anak-anak membuka kertas tersebut. Chan Doo, Pul Ip, dan Hyun Jung berteriak senang. Bong Goo menangis bahagia. Baek Hyun hanya diam.

"Jangan senang hanya karena hasil ini." kata Seok Ho. "Kalian harus mempersiapkan untuk ujian essay. Kubilang jangan senang dulu."

Tapi anak-anak tidak mendengarkannya dan terus melonjak-lonjak senang.

Seok Ho keluar dari ruang kelas itu dan tersenyum.

Guru-guru kelas khusus mewawancarai anak-anak.

"Aku ingin mengambil major Kedokteran Hewan." kata Bong Goo.

"Aku ingin belajar tentang Ilmu Kehidupan." kata Pul Ip.

"Aku ingin belajar mengenai Fashion." kata Hyun Jung.

"Aku belum menentukan dibidang apa aku ingin belajar." kata Chan Doo. Guru Lee menatapnya tajam. "Kenapa?" tanya Chan Doo takut, melihat pandangan mata Guru Lee.

"Bukankah aku sudah mengatakan agar kau mendengarkan kata hatimu?" tanya Guru Lee, tersenyum.

"Aku masih berpikir." kata Baek Hyun

"Berpikirlah mengenai apa yang membuatmu bahagia." kata Soo Jung menyarankan.

"Ada sesuatu yang aku inginkan ketika masih kecil. Tapi kurasa itu mustahil untuk dicapai." kata Baek Hyun. Baek Hyun ragu sesaat, kemudian menoleh ke jendela, melihat Seok Ho.

"Apapun itu, aku akan mendukungmu." kata Soo Jung.

Malam itu, Chan Doo berjalan-jalan di kota dan melihat panggung dance.

Ia maju dan ikut bergabung.

Hari natal. Murid-murid kelas khusus mempersiapkan ujian essay di sekolah. Setelah itu, mereka makan bersama untuk merayakan natal.

Hari Pengumuman Ujian Masuk Universitas Chun Ha Tahap 1.

Anak-anak duduk di depan komputer dan bersiap melihat hasil ujian.

Hati mereka sangat berdebar dan tidak berani melihat ke layar. Mereka membuka mata perlahan-lahan.

Bong Goo bahkan meminta seorang temannya untuk melihatkan untuk hasilnya. Teman Bong Goo mengernyit. Bong Goo ketakutan. Ia menguatkan dirinya untuk melihat ke layar komputer.

Mereka semua terkejut.

"Nenek.." gumam Baek Hyun, meneteskan air mata.

God Of Study (Episode 14)

Guru-guru SMA Byung Moon terkejut melihat nilai murid-murid kelas khusus yang meningkat dengan drastis, bahkan Bong Goo mendapat nilai tertinggi.

Tiba-tiba ayah Bong Goo datang dengan terengah-engah dan panik.

"Ada apa?" tanya Seok Ho, masuk ke ruangan itu.

"Apa yang harus kami lakukan pada Bong Goo?" tanya ayah Bong Goo panik.

Ayah Bong Goo mengajak Soo Jung dan Seok Ho ke rumah mereka. Rupanya Bong Goo mengunci diri dalam kamar dan tidak mau keluar. Orang tuanya memanggil-manggil tapi Bong Goo tetap tidak mau keluar.

Seok Ho mendobrak pintu dan di dalam, Bong Goo sedang duduk di ranjangnya seraya memegang soal ujian.

Seok Ho dan Soo Jung masuk.

"Aku sudah belajar dengan keras." kata Bong Goo menangis. "Belajar dengan sangat keras. Tapi nilaiku sama sekali tidak meningkat."

"Jika kau belajar dengan keras, bagaimana bisa nilaimu tidak meningkat?" tanya Seok Ho.

"Karena aku bodoh." jawab Bong Goo. "Aku lahir dengan otak yang tidak berguna ini."

"Jika kau berkata begitu, berarti semua orang lahir dengan otak yang tidak berguna." kata Seok Ho. "Berapa kali kubilang itu padamu dan kau masih tidak mendengarkan aku!"

"Kau pikir aku tidak mendengar ucapanmu?!" teriak Bong Goo. "Kau hanya berkata begitu untuk menghibur orang yang bodoh seperti aku! Ada orang yang terus mencoba tapi tetap tidak bisa! Kau pikir aku tidak tahu kalau aku tidak akan berhasil sekeras apapun aku berusaha?!"

"Kau harus diberi pelajaran!" bentak Seok Ho kehilangan kesabaran.

"Pengacara Kang!" seru Soo Jung.

"Jika ia sudah menetapkan hal negatif di pikirannya, maka bagaimana ia akan bisa berkonsentrasi masuk ke universitas bagus?!" teriak Seok Ho.

"Aku berbohong pada teman-temanku." kata Bong Goo. "Aku tahu aku berjanji pada Pul Ip bahwa aku akan berusaha mendapatkan nilai yang baik. Aku belajar berbohong tentang belajarku pada teman-teman. Aku melakukan hal yang sangat jahat!"

"Apa yang kau bicarakan?" tanya Soo Jung, menangis. "Kau tidak melakukan hal yang salah!"

"Itu karena aku terlalu bodoh!" seru Bong Goo, menangis histeris seraya memukuli kepalanya.

Soo Jung mencoba menghentikan Bong Goo. Ayah dan Ibu Bong Goo masuk ke dalam kamar.

"Ini semua salah Ayah!" seru ayah Bong Goo. "Ayahlah yang menyebabkanmu memiliki otak yang tidak berguna. Semuanya salah Ayah!" Ayah Bong Goo menangis dan memukuli kepalanya.

"Akulah yang mengandungnya!" kata Ibu Bong Goo menangis. "Aku tidak makan dengan benar! Semuanya salahku!"

Seok Ho pulang ke rumah Baek Hyun. Baek Hyun mencoba bersikap baik pada Seok Ho. Tapi Seok Ho malah berkata, "Hwang Baek Hyun, tidak perlu mengkhawatirkan aku. Berkonsentrasilah saja untuk ujianmu."

Baek Hyun kesal.

Keesokkan harinya di kelas khusus, Bong Goo tidak masuk.

"Bong Goo pasti saat ini sedang bersantai." kata Chan Doo.

"Ya, nilainya meningkat dengan drastis." kata Hyun Jung menanggapi.

"Oh Bong Goo..." Seok Ho berkata. "Nilainya tidak meningkat. Ia berbohong."

Murid-murid terkejut dan bingung.

"Kalian semua, jangan coba menghubungi atau menghibur Bong Goo." kata Seok Ho. "Jangan bertanya pada keluarganya mengenai dia. Kalian semua tidak diperbolehkan melakukan apapun."

Kali ini murid-murid tidak membantah.

Saat istirahat, Pul Ip dkk melihat Bong Goo kembali ke kelasnya yang lama. Bong Goo sedang diganggu oleh teman sekelasnya yang biasa.

"Oh Bong Goo, kenapa kau di sini?" tanya Pul Ip.

"Ayo!" Baek Hyun mengambil buku Bong Goo dan mengajaknya kembali ke kelas khusus.

"Tidak." kata Bong Goo, mangambil bukunya lagi. "Aku tidak mau ke universitas lagi."

"Apa, Bong Goo?" tanya Jang Ma Ri, masuk ke kelas itu. "Siapa yang memberimu izin untuk berkata dan berlaku sesukamu? Tinggalkan kelasku. Sekarang."

Baek Hyun mengangkat meja Bong Goo. Pul Ip, Hyun Jung dan Chan Doo mengambil barang-barangnya.

Baek Hyun meletakkan meja Bong Goo di luar kelas khusus. "Duduk disini. Kau pikir kau bisa lulus jika tidak memperhatikan pelajaran?"

"Kalian tidak masuk?" tanya Baek Hyun pada teman-temannya. "Bong Goo ingin duduk disini."

"Baek Hyun!" seru Soo Jung.

"Oh Bong Goo, kau bilang bahwa kita bersama-sama akan berusaha dengan baik sampai akhir." kata Baek Hyun. "Bagaimana bisa kau keluar begitu saja? Orang yang tidak berguna!"

"Ayo kita masuk." kata Pul Ip, mengajak teman-temannya masuk.

Murid-murid kelas khusus belajar Bahasa Inggris dengan Anthony sementara di luar, Bong Goo diajari oleh Soo Jung.

Setelah itu, pelajaran Guru Lee. Soo Jung, Guru Jang dan Bong Goo belajar bersama di luar. Guru Lee sengaja membuka pintu dan jendela agar Bong Goo bisa ikut mendengar.

Setelah pelajaran Guru Lee, giliran Guru Jang yang mengajar. Makin banyak yang menemani Bong Goo diluar, termasuk Anthony, Guru Cha dan Guru Lee juga ikut duduk di dekat Bong Goo. Seok Ho hanya bisa menarik napas panjang melihat mereka.

Seok Ho kehabisan kesabaran. Ia menarik Bong Goo dan mengajaknya ke sebuah ruang kelas. Ia membuang buku-buku di depan Chan Doo.

"Kau sudah berusaha dengan keras dan sekarang kau ingin menyerah?!" seru Seok Ho. "Kenapa kau pikir bahwa kau tidak mampu saat ujian?"

Bong Goo mendongak.

"Aku tidak ingin mendengar alasanmu lagi mengenai kebodohanmu dalam belajar!" seru Seok Ho. "Kenapa kau pikir bahwa kau tidak mampu saat ujian?"

Bong Goo diam.

"Kau tidak bisa menjawab, bukan?" tanya Seok Ho. "Apa kau mau tahu jawabannya? Itu karena apa yang ada di kepalamu! Yang kau pikirkan hanyalah 'Aku terlalu bodoh' atau 'Otakku tidak cukup baik'. Walaupun kau berusaha keras, hasil yang kau dapatkan tidak akan sesuai dengan yang kau harapkan."

Bong Goo menangis.

"Kau menjadi pesimis karena ujian masuk tinggal sebentar lagi dan kau merasa buruk dan takut." kata Seok Ho, menarik kerah baju Bong Goo.

"Benar!" seru Bong Goo. "Aku memang takut! Nilai semua murid meningkat dan hanya aku yang tidak meningkat!"

Seok Ho melempar botol ke jendela hingga berlubang. Ia menarik Bong Goo mendekati jendela itu.

"Saat ini kau tidak bisa melihat apapun." kata Seok Ho. "Tapi jika kau maju selangkah maka kau akan bisa melihat dan mencapai tujuanmu. Walaupun kau tidak bisa melihat tujuanmu, tapi kau bisa merasakannya. Akan sangat bodoh jika kau menyerah sekarang, bukan? Terutama jika tujuanmu sudah dekat. Jangan hanya karena kau tidak bisa melihat, maka kau akan berhenti percaya bahwa tujuanmu memang ada disana!"

Bong Goo menangis. Teman-temannya menenangkan.

Baek Hyun protes pada Seok Ho tentang perlakuannya pada Bong Goo. Namun Seok Ho tidak memedulikannya.

Ujian sudah dekat. Anak-anak mengalami sindrom ujian seperti sakit perut, tidak bisa tidur dan lain-lain. Mereka melakukan persiapan ujian namun Bong Goo masih juga belum masuk.

Di restoran, seorang murid sedang mengerjakan sebuah soal dan tidak bisa mengerjakannya. Bong Goo melihatnya dan secara spontan mengerjakannya di kertas lain. Murid itu terkejut dengan apa yang dikerjakan Bong Goo.

"Wah, kak Bong Goo, kau pandai matematika." kata murid itu kagum.

"Apa?" tanya Bong Goo. Baru kali ini seseorang mengatakan hal itu padanya.

Bong Goo menuju ke kamarnya dan melihat buku pelajaran. Bong Goo meneteskan air matanya.

"Benar." gumam Bong Goo. "Akan sangat bodoh jika aku menyerah sekarang.Aku tidak akan menyerah! Karena aku... aku... sudah belajar terlalu keras dan tidak pantas menyerah sekarang!"

Bong Goo mengenakan seragamnya dan berlari ke sekolah.

Guru Cha mengajarkan anak-anak kelas khusus. Ia memberi pertanyaan dan tidak ada yang bisa menjawab.

"Benar-benar.." Guru Cha mengeluh.

Tiba-tiba Bong Goo masuk dan menjawab pertanyaan Guru Cha.

Murid-murid terkejut. "Bong Goo!"

"Maju dan jelaskan." kata Guru Cha, menyuruh Bong Goo menuliskan jawaban pertanyaan itu. Bong Goo mengerjakannya dengan lancar (mengharukan banget adegan yang ini).

Seok Ho melihat dari jendela. Tiba-tiba ponselnya bergetar dan Seok Ho mengangkatnya. Wajah Seok Ho berubah menjadi shock dan sedih. Ia bergegas pergi ke suatu tempat.

Seok Ho ternyata datang ke pemakaman seseorang. Guru Seok Ho meninggal dunia.

Seok Ho berlutut dan menangis. Ia teringat masa lalunya, Guru inilah yang menasehatinya untuk belajar dengan keras dan mencapai tujuannya karena mulanya Seok Ho adalah anak yang nakal dan suka berkelahi. Guru itulah yang telah merubah hidupnya.

Guru Cha mengajak Soo Jung, Ma Ri dan anak-anak kelas khusus datang ke pemakaman.

Seok Ho kembali ke sekolah. Ia sudah kembali seperti biasa dan menyuruh anak-anak berlari sambil menghapal.

Soo Jung memberi ide agar guru-guru menghabiskan waktu dan tidur bersama dengan anak-anak untuk satu malam. Ia ingin memberikan kenangan yang manis untuk mereka semua.

Murid-murid kelas khusus belajar untuk mempersiapkan ujian. Para orang tua berdoa untuk anak-anak mereka. H-10, H-7, H-4, H-2, H-1.

Pada H-1, murid-murid dibagikan kartu ujian dan melihat kelas tempat mereka ujian di Universitas Chun Ha.

"Kami tidak ingin universitas lain!" teriak Seok Ho, membuat semua orang menoleh pada mereka.

Baek Hyun dan yang lainnya malu.

"Ikuti kata-kataku!" teriak Seok Ho. "Aku akan berusaha keras pada ujian!"

Muird-murid berteriak mengikutinya. "Kemenangan adalah milik kami!"

Para guru memberikan nasehat, petuah dan menenangkan anak-anak. Mereka berkata agar anak-anak jangan takut dan tetap tenang. Yakin bahwa anak-anak akan bisa melakukan yang terbaik.

"Cobalah untuk melupakan kegugupan kalian." kata Seok Ho. "Kalian pasti akan berhasil dalam ujian."

Di rumah, Nenek Baek Hyun melihat foto orang tua Baek Hyun.

Baek Hyun menelepon neneknya dan mengatakan bahwa ia akan pulang hari ini. Nenek Baek Hyun kelihatan sangat sakit.

"Baek Hyun tidak boleh tahu keadaanku." kata Nenek. "Aku tidak boleh sakit sekarang."

Di pihak lain, Baek Hyun membelikan jeruk untuk neneknya. Kantung tempat jeruk tersebut sobek dan jeruk berjatuhan.

Di rumahnya, nenek Baek Hyun pingsan.

God Of Study (Episode 13)

Seok Ho datang dan memotret semua yang terjadi di bar Pul Ip.

"Aku memotret sebagai barang bukti!" kata Seok Ho. "Aku akan menuntut kalian dengan tuduhan mengganggu ketenangan umum dan menghancurkan kepemilikan pribadi. Kalian akan dikenai hukuman denda 7 juta won."

"Siapa paman ini?" tanya wanita-wanita itu.

"Aku adalah Kang Seok Ho, pengacara!"

Wanita-wanita itu ciut dan pergi. Seok Ho yakin mereka tidak akan berani kembali lagi.

Seok Ho menasehati Pul Ip agar tidak tepengaruh dengan semua kejadian ini dan tetap berjalan lurus ke depan untuk meraih cita-citanya.

Chan Doo membantu Pul Ip membereskan barnya.

Murid-murid kelas khusus sudah kembali ke sekolah. Pul Ip kembali ceria, begitu juga dengan Hyun Jung. Chan Doo melihat Pul Ip, dan merasakan bahwa keceriaan Pul Ip terlalu dipaksakan.

Murid-murid belajar seperti biasa.

Setelah selesai mengajari murid-murid, guru Cha keluar. Di depan pintu is berpapasangan dengan Anthony.

"Aku tidak melupakan kecelakaan itu." kata Anthony pada Guru Cha. "Kecelakaan dengan jas."

Guru Cha mengangkat kayunya dan memukulkan kayu tersebut ke lantai. Anthony ketakutan.

Di ruangannya, Guru Cha teringat zaman dahulu saat Anthony masih menjadi muridnya.

Anthony ternyata keluar dari sekolah dan membeli lahan dengan uang pinjaman. Hal itulah yang membuat Guru Cha sangat marah padanya.

Setelah mengetahui tujuannya untuk belajar, Bong Goo menjadi sangat bersemangat belajar. Ia sangat berkonsentrasi, bahkan orang tuanya masuk ke kamarnya pun ia tidak tahu.

"Ayo Bong Goo, kau bisa melakukannya!" seru Bong Goo menyemanngati dirinya sendiri.

Chan Doo mencoba menghibur Pul Ip dengan membawakan makanan. Ia mengepalkan nasi kemudian menyuapi Pul Ip makan.

Yee Ji melihat mereka dengan kesal.

Saat Pul Ip pergi ke toilet, is mendekatinya. "Kau pasti senang kak Chan Doo membawakan makanan untukmu." katanya. "Kau tidak berpikir bahwa kau setara dengannya kan? Kak Chan Doo berasal dari keluarga kaya, tapi kau? Apa yang kau punya? Hanya karena kalian berada di kelas yang sama, maka kau menganggap dirimu setara dengannya?"

"Kau gadis yang sangat jahat." kata Pul Ip, hampir meledak marah.

"Lee Yee Ji!" teriak Hyun Jung dari belakang mereka. Hyun Jung mendekati Yee Ji. "Jika kau berani bersikap seperti itu lagi pada Pul Ip, maka aku tidak segan-segan lagi padamu!" ancam Hyun Jung.

Yee Ji berjalan keluar.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Hyun Jung pada Pul Ip.

"Kau sangat hebat." kata Pul Ip, tersenyum.

Mereka berdua keluar dari toilet. Hyun Jung berkata pada Pul Ip bahwa ia telah berpikir dan ingin Pul Ip kembali menjadi BFFnya.

Guru Soo Jung punya ide untuk mengajak anak-anak ke mall dan mengerjakan soal ujian bulan Juni yang lalu disana. Ia berpendapat bahwa kegiatan tersebut bisa membantu anak-anak beradaptasi dalam kondisi apapun ketika mereka sedang mengerjakan soal ujian. Jadi bisa tetap berkonsentrasi tanpa terpengaruh lingkungan sekitar.

Jawaban yang mereka kerjakan diperiksa oleh Seok Ho dan hasilnya masih banyak yang salah. Mereka mengulangi kesalahan yang sama.

"Di ujian ulangan ini, yang mendapatkan nilai paling baik adalah Bong Goo." kata Seok Ho. "Belakangan ini, Oh Bong Goo selalu bekerjas dengan sangat keras di kelas. Aku yakin di ujian selanjutnya, Bong Goo akan bersinar dengan cerah."

Bong goo tersenyum malu.

Setelah pelajaran Guru Lee mengenai hati dan perasaan tiba-tiba Pul Ip menghilang tanpa pamit pada teman-temannya.

"Percayalah apa yang sikatakan hatimu." begitulah kata Guru Lee.

Pul Ip berlari pergi. Teman-temannya heran melihatnya.

Baek Hyun memandang Chan Doo. "Kau.. tahu, bukan?" tanyanya. "Apa yang terjadi? Beritahu kami."

Pul Ip berkeliling kota untuk mencari pekerjaan. Namun kebanyakan toko tidak memperbolehkan anak sekolah untuk bekerja.

Chan Doo, Hyun Jung, Baek Hyun, dan Bong Goo mengikuti Pul Ip diam-diam. Bong Goo kelihatan sangat tidak senang dengan apa yang sedang mereka lakukan. Ia berpura-pura tidak enak badan dan kembali ke sekolah.

Akhirnya Pul Ip mendapat pekerjaan di sebuah restoran.

Chan Doo, Baek Hyun dan Hyun Jung memohon-mohon pada Manager restoran tersebut agar mengizinkan mereka membantu Pul Ip walaupun tanpa digaji.

"Kalian pulanglah!" pinta Pul Ip ketika tanpa sengaja ia melihat mereka.

"Jika kau tidak mendengarkan kami, maka kami akan berhenti belajar." kata Baek Hyun.

"Aku akan pindah sekolah." kata Hyun Jung mengancam.

Manager tersenyum melihat kesetiakawanan anak-anak. Akhirnya ia mengizinkan mereka membantu asal tidak menganggu jalannya kegiatan restoran.

Seok Ho dan Soo Jung melihat anak-anak bekerja. Ia berniat menghentikan mereka, namun Soo Jung melarang. "Pul Ip tidak akan membiarkan teman-temannya seperti itu." kata Soo Jung.

Anak-anak kelihatan lelah. Bahkan Hyun Jung sempat memecahkan gelas. Pul Ip merasa bersalah melihat teman-temannya seperti itu.

Di lain pihak, Bong Goo belajar sendiri di rumah. "Maafkan aku, Teman-teman." gumamnya.

Sepulang bekerja, mereka berjalan bersama.

"Kurasa aku tidak akan melanjutkan berkerja disana." kata Pul Ip.

"Kenapa?" tanya teman-temannya.

"Setelah bekerja disana, aku sadar bahwa banyak sekali waktu yang kuhabiskan. Kita tidak punya banyak waktu tersisa." kata Pul Ip. "Mulai besok, kita harus berkonsentrasi untuk belajar keras. Oke?"

Pul Ip mencoba untuk terlihat ceria dan bersemangat. Teman-temannya khawatir padanya. Mereka sadar bahwa sikap Pul Ip tersebut pasti karena Seok Ho mengatakan sesuatu padanya.

Pul Ip pulang ke rumah. Tiba-tiba seorang pria datang dan memberikan sebuah surat. Ia meminta Pul Ip segera pindah dari rumah tersebut.

Karena Seok Ho tidak lagi memiliki rumah, maka dengan diam-diam, Baek Hyun mengambil barang-barang Seok Ho di spa dan membawanya pulang. Ia menceritakan segalanya pada neneknya. Nenek kemudian meminta Seok Ho tinggal di rumahnya.

Mulanya Baek Hyun melakukannya hanya untuk memberi Seok Ho pelajaran dan dikasihani oleh neneknya, namun Seok Ho malah mempergunakan kesempatan ini untuk mengerjai Baek Hyun balik.

Ketika semua teman-temannya sedang belajar, Pul Ip sibuk bekerja paruh waktu.

Pul Ip berpikir. "Aku tidak bisa pindah" pikirnya. "Tidak akan ada tempat untuk ibu jika ia kembali."

Pul Ip berkunjung ke tempat pemilik rumah yang disewanya untuk berunding. Di sana, ada Lee Yee Ji sedang belajar bersama teman-temannya. Yee Ji terus-menerus menyindir dan menghina Pul Ip. Mengatakan bahwa Pul Ip adalah murid terbawah a.k.a bodoh.

"Jangan menangis. Jangan menangis." pikir Pul Ip dalam hatinya, mencoba menguatkan diri.

"Ah, Pul Ip." si pemilik rumah akhirnya datang.

"Tolong izinkan kami tetap tinggal." kata Pul Ip memohon. "Kami akan segera membayar biaya sewa secepat yang kami bisa."

"Ini bukan masalah uang." kata pemilik rumah. "Hanya saja, bisnis yang kau jalankan kelihatannya tidak baik."

"Kalau begitu, aku akan mengubah usahaku." kata Pul Ip mencoba menahan tangisnya. "Ibuku sedang pergi ke suatu tempat, tapi ia akan segera kembali. Kami akan segera mengganti usahaku. Tolonglah. Tolong izinkan kami tinggal."

Lee Yee Ji dan teman-temannya melihat Pul Ip dengan iba, demikian juga si pemilik rumah.

Pul Ip kembali lagi ke rumah. Di sana, sudah ada Soo Jung dan Hyun Jung.

Pul Ip mencoba terlihat kuat, namun akhirnya ia menangis.

"Guru aku tidak tahu... aku tidak tahu.." tangis Pul Ip. "Aku tidak tahu bahwa tidak menjadi murid yang baik adalah kesalahan yang sangat besar."

Soo Jung memeluk Pul Ip.

"Aku akan belajar dengan keras." kata Pul Ip menangis dengan keras. "Aku akan menunjukkan pada mereka dan aku akan belajar dengan keras."

Setelah Pul Ip bisa menenangkan diri, Hyun Jung mengajak Pul Ip tinggal bersama dan tidak memikirkan hal yang lain kecuali berkonsenrasi belajar. Pul Ip setuju.

Soo Jung memotret murid kelas khusus satu per satu untuk foto kartu ujian. Melihat mereka membuat Soo Jung terharu dan menangis. Setelah memotret murid-murid, ia memotret para guru bersama-sama.

Murid-murid kelas khusus belajar dengan sangat keras. Bahkan Bong Goo sampai mimisan.

Ujian Bulan September

Murid-murid sudah mempersiapkan diri untuk ujian kali ini. Mereka sangat percaya diri dan ingin membuktikan kemampuan mereka.

Murid-murid mengerjakan soal. Hasil yang didapatkan Chan Doo, Baek Hyun, Hyun Jung dan Pul Ip sangat meningkat tajam. Mereka bisa memenuhi target yang diinginkan.

Bong Goo diam di dekat jendela, tidak mengatakan apa-apa.

"Bong Goo, bagaimana hasilmu?" tanya Soo Jung.

Bong Goo hanya tersenyum.

Chan Doo penasaran dan melihat kertas Bong Goo. Nilai totalnya adalah 411. Nilai tertinggi diantara mereka.

Anak-anak berseru senang.

Seok Ho melihat Bong Goo dari jendela dengan pandangan aneh.

Sepulang dari sekolah, Bong Goo langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu kamarnya. Ia mengeluarkan kertas ujian dari dalam tasnya.

"Aku belajar dengan sangat keras." gumam Bong Goo seorang diri, dengan mata berkaca-kaca. "Aku belajar dengan sangat keras tapi... nilaiku turun."

Bong Goo menangis dengan keras.