Silahkan Mencari !!!

Info!!!

kelanjutan fan fiction & recap drama semua ada di blog q yang baru
fanfic : www.ff-lovers86.blogspot.com
recap : www.korea-recaps86.blogspot.com
terima kasih...
Tampilkan postingan dengan label Lee Bo Young. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lee Bo Young. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Agustus 2010

Love For Mother Earth

Title : Love For Mother Earth
Author : Sweety Qliquers
Genre : Earth, Romance, Friendship
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 22 July 2010, 04.31 PM
Cast :
Kim Bum
Kim So Eun
Yunho`TVXQ (Kim Bum’s Friend)
Lee Min Ho (Ketua Osis)
Lee Bo Young (So Eun’s Mother)


Love For Mother Earth
Created By Sweety Qliquers
(Samarinda, Kamis <> 220710, 0431PM)


Sudah seminggu ini SMA Shinhwa mengadakan aksi hijau di lingkungan sekolah. Banyak juga yang mendukung, namun yang tampak cuek dan ogah-ogahan juga tidak kalah jumlahnya.


"Apa tidak ada kerjaan lain." Iitulah pendapat yang keluar dari mulut Kim Bum, ia termasuk ke kelompok yang terkesan tidak peduli dengan aksi go green di sekolahnya.

Ketika jam istirahat dimulai, Kim So Eun memilih berkeliling mengingatkan teman-temannya untuk membuang bungkus makanan mereka ke tempat sampah yang sudah disediakan. Ia bahkan menjelaskan untuk membuang sampah ke tong sesuai jenis sampahnya.

Kim Bum sedang asyik mengunyah kripik kentangnya ketika melihat Kim So Eun sibuk wara-wiri mengingatkan orang-orang.

"Sok peduli sekali dia dengan lingkungan!" cibir Kim Bum di hadapan teman-teman segengnya.

"Katanya, dia yang mengusulkan aksi hijau di sekolah kita," sahut Yunho, teman Kim Bum yang juga apatis akan aksi cinta bumi di SMA Shinhwa ini.


"Oh ya?" tanya Kim Bum sambil memandang sosok di seberangnya dengan sinis.

"Kim Bum, Aku dengar dia menjomblo. Aneh ya? Padahal Kim So Eun cantik sekali, kan?" sahut Yunho, yang kedengaran tidak nyambung.

"Maksud kamu apa, Yunho?" tanya Kim Bum kesal. Ia merasa tersindir, karena sudah hampir lulus SMA masih belum juga mendapatkan seseorang yang spesial di hatinya. Seseorang yang tidak cuma cantik fisiknya tapi juga cantik hatinya. Padahal dia sudah dikenal sebagai cowok yang paling banyak fansnya, sayangnya dari fans yang berjibun itu dia belum juga menemukan yang dicarinya. Cewek-cewek yang mengejarnya kebanyakan hanya tertarik dengan harta dan tampilan fisiknya saja. Ia ingin seseorang yang tidak melihat itu semua dari dirinya, ia ingin seseorang yang bisa membuatnya lebih baik.


Kim Bum tidak pernah mengutarakan kriteria cewek idamannya ini ke siapapun, termasuk yunho sahabatnya sejak kelas satu. Somehow, ia merasa sulit mendapatkan cewek dengan kriteria itu dengan reputasinya sekarang—tukang bikin onar, sering skip pelajaran, hobi nongkrong di kantin, dan selalu skeptis terhadap semua kegiatan sekolah. Sehingga ia memutuskan untuk menyimpan impiannya itu rapat-rapat, entah kapan harus dibuka. Mungkin bila sudah menemukan yang tepat.

Tanpa terasa bel masuk berbunyi. Kim Bum dan teman-temannya memutuskan untuk kembali ke kelas.

"Ayo kita ke kelas. Sekarang pelajarannya Pak Ahn Jae Wook. Aku tidak mau kena skorsing lagi," ajak Kim Bum pada Yunho sambil meninggalkan bungkusan bekas kripik kentang dan kaleng Cola-nya di atas meja kantin.

Ketika berbalik, ada yang menepuk bahunya dari belakang. Refleks ia berbalik kembali dan menemukan sosok yang membuat mood-nya tidak enak akhir-akhir ini.



"Kalau sudah selesai makan dan minum, bungkus plastik sama kalengnya tolong dibuang ke tong sampah," ujar Kim So Eun ramah sembari menyodorkan bungkus kripik kentang dan kaleng Cola yang tadi ditinggalkan begitu saja oleh Kim Bum.

Merasa disulut amarahnya, Kim Bum mengambil bungkus plastik dan kaleng di tangan Kim So Eun dengan kasar lalu membuangnya ke tong sampah di dekat kantin.

"Puas?" kata Kim Bum jutek sambil menatap Kim So Eun penuh amarah. Berikutnya ia pergi menyusul teman-teman segengnya yang sudah lebih dulu masuk ke kelas.

Kim So Eun memiringkan kepalanya tidak mengerti. She's wondering, apa yang sudah diperbuatnya sampai membuat Kim Bum sedemikian marah kepadanya. Seingatnya, Kim Bum memang terkenal sebagai tukang pembuat onar meski anehnya teman-teman ceweknya banyak yang ngefans gara-gara tampang Kim Bum yang good looking. Namun, dia dan Kim Bum tidak pernah bermasalah sebelumnya.

Sang mentari perlahan beranjak ke sisi lain bumi, membuat pemandangan menjadi bersemu jingga dan meninggalkan kesan hangat. Usai main tenis bersama ayahnya, Kim Bum yang sedang menikmati segarnya jus jeruk dingin dari kulkas menyambar majalah Bunda yang tergeletak di ruang tengah, majalah yang memuat tentang pola hidup sehat, penyakit populer, info-info kesehatan sampai kondisi bumi saat ini. Entah kenapa Kim Bum tertarik untuk membaca sebuah artikel mengenai Global Warming. Judul artikel itu "Bumi sedang Koma", Kim Bum penasaran mengenai isinya. Menurutnya, mana ada benda mati yang bisa mengalami koma. Jadi ia memutuskan untuk mencari tahu sendiri apa yang dimaksud penulis dengan mencantumkan judul yang tidak rasional menurutnya itu.

***

Sementara itu, sore-sore begini sudah menjadi hobi Kim So Eun untuk menyirami tanaman-tanaman kesayangannya di belakang rumahnya. Kebetulan ibunya juga hobi merawat tanaman, terutama bunga Anggrek. Sehingga terkadang Kim So Eun pun berkebun berdua bersama ibunya, seperti sore hari ini.

Sambil menyirami pot-pot, Kim So Eun bercerita tentang kejadian di sekolah hari ini. Mengenai temannya yang diperingatkan untuk membuang sampah malah marah-marah dan membuatnya sedikit ketakutan karena tatapan matanya yang tajam.


"Apa kau yakin tidak pernah membuat temenmu itu marah sebelumnya?" tanya Ibu sambil menyemprot air ke koleksi Anggreknya yang digantung-gantung di bawah net khusus green house.

"Aduh, Ibu. Aku selalu berusaha menghindari konflik dari dia. Dia itu terkenal bad boy di sekolah, Ibu kan tahu aku paling benci membuat masalah. Sebisa mungkin aku menghidari masalah," terang Kim So Eun.

"Iya, Ibu mengerti. Tapi usulmu tentang program go green itu, apa semua setuju? Kau yakin tidak ada yang merasa kontra dengan usulmu itu, Kim So Eun? Biasanya, setelah sebuah pendapat muncul, pro dan kontra pasti akan mengikuti berikutnya."

Kim So Eun pun seperti tersadarkan, selama ini ia mengira usulnya untuk mencanangkan program go green di sekolah bakal mulus-mulus saja. Apalagi ia mendapat persetujuan langsung dari Kepala Sekolah, tanpa mengajukan proposal lewat OSIS terlebih dahulu. Ia menganggap, ini kan program untuk kebaikan, bukan program hura-hura yang cuma menghabiskan duit, pasti banyak yang mendukungnya. Ibu seolah baru saja menunjukkan bahwa beberapa pihak, sekecil apapun jumlahnya, pasti ada yang kontra.

"Tapi... Kim Bum paling cuek dengan kegiatan sekolah," gumam Kim So Eun sambil menerawang.

"Namanya Kim Bum? Dia seorang Cowok, Kim So Eun?" tanya Ibu dengan raut excited. Kim So Eun mengangguk menjawab pertanyaan ibu.

"Mungkin dia menaruh hati padamu, Kim So Eun. Cowok itu suka usil kalau lagi naksir cewek," goda Ibu yang langsung membuat pipi Kim So Eun bersemu kemerahan.

***


Esoknya di sekolah, Sang Ketua OSIS, lee Min Ho, tengah sibuk menata pot tanaman yang kini menghiasi teras depan ruang OSIS. Kim So Eun yang sedang melintas pun tertarik untuk menikmati pemandangan baru di sekolahnya ini.

"Wah, pemandangan di sini jadi segar!" ujar Kim So Eun sambil membantu memindahkan pot-pot kecil berisi bunga.

"Iya, aku juga meletakkannya hampir di teras semua ruangan. Masih baru sebagian sih, sisanya datang nanti siang. Kau mau membantu?" Lee Min Ho membetulkan letak kacamatanya yang agak melorot usai membungkuk menata pot-pot tadi.

"Ya, tentu saja!" ujar Kim So Eun bersemangat. Ini kesempatan bisa memandang sang Ketua OSIS dari dekat, diam-diam dia naksir teman sekelasnya ini.

Kim Bum yang baru saja datang, melintas di depan ruang OSIS, di mana Lee Min Ho dan Kim So Eun sibuk membawa pot-pot tanaman ke depan ruang guru yang ada di sebelah ruang OSIS.

Tak sengaja lengan Kim Bum menyenggol bahu Kim So Eun sampai pot bunga yang ada di tangannya terjatuh dan pecah.

"Oops... sori." Spontan Kim Bum minta maaf.

Begitu mendapati Kim Bum yang berdiri di sebelahnya, raut wajahnya langsung berubah menjadi keras.

"Maumu sebenarnya apa sih? Aku tau kau tidak mendukung aksi go green di sekolah ini, tapi tidak perlu bikin kacau seperti ini!" semprot Kim So Eun.

Kim Bum bingung harus menjawab apa, karena ia benar-benar tidak sengaja melakukannya. "Maaf aku tidak sengaja melakukannya! Kau jangan asal menuduh!" seru Kim Bum akhirnya dan menghambur pergi meninggalkan Kim So Eun yang masih kesal akan perbuatannya barusan.
"Sudah menjatuhkan, tidak membantu merapikan!" Kim So Eun ngomel-ngomel sambil membersihkan pecahan pot.

"Sudah, tidak apa-apa, Kim So Eun," kata Lee Min Ho sembari membantu Kim So Eun.

"Maaf ya, Lee Min Ho," balas Kim So Eun dengan nada tidak enak hati.

Lee Min Ho tersenyum memaklumi.

"Aku dengar pot-pot ini dananya dari kau pribadi ya?" tanya Kim So Eun ketika pot yang pecah selesai dibersihkan. Lee Min Ho agak terkejut mendengar pertanyaan Kim So Eun.

"Kau dengar dari mana, Kim So Eun?" tanya Lee Min Ho tanpa menatap lawan bicaranya. Ia pura-pura merapikan pot di samping kakinya.

"Ya... dari anak-anak. Tapi memang bener kan?" Kim So Eun menatap Lee Min Ho intense.

Lee Min Ho tidak langsung menjawab, ia memutuskan untuk meletakkan pot terakhirnya dulu. "Cuma sedikit rasa terima kasih kepada bumi saja, Kim So Eun. Tidak ada apa-apanya dibandingkan kau yang sudah berani mempelopori aksi go green ini. Kau hebat sekali!"

Pipi Kim So Eun bersemu merah dipuji begitu. Dalam hati ia membatin, Lee Min Ho tidak cuma cakep, pintar dan populer, ia juga berhati emas. Kalau dibandingin dengan Kim Bum, bagaikan bumi dan langit. Yah meskipun sama-sama cakep dan populer, tapi Lee Min Ho jelas punya nilai plus.

***

Hari ini akan diadakan Green Day, dimana semua warga sekolah diwajibkan untuk ikut kerja bakti membersihkan sekolah dan menanam beberapa pohon di halaman sekolah yang sebelumnya gersang.

Kim So Eun tampak lebih bersemangat hari ini, mata bulatnya berbinar-binar indah, memancarkan kecantikannya. Ia tampak sibuk menanam tanaman hias di pot besar di teras depan kelasnya bersama beberapa teman sekelasnya.

"Kim So Eun," tiba-tiba ada yang memanggilnya.


"Ya?" ujar Kim So Eun sembari berdiri dari posisi jongkoknya. Ketika melihat sosok yang berdiri di depannya, Ia mengira yang memanggilnya tadi adalah Lee Min Ho. Namun nyatanya yang ada di hadapannya saat ini adalah orang yang paling tidak ingin ia temui saat ini.

"Aku memang tidak bisa beli pot-pot tanaman untuk menghias sekolah seperti Lee Min Ho," ujar Kim Bum dengan raut serius.

Kim So Eun yang tadinya ingin langsung marah, berpikir dua kali untuk benar-benar melakukannya.


"Tapi aku punya ini untukmu, Kim So Eun. Maafkan aku ya?" Kim Bum menyodorkan sebuah pot bunga kepada Kim So Eun. "Ini sebagai ganti pot yang sudah aku pecahkan kemarin."
Kim So Eun menerima pot bunga itu ragu, ia masih tidak percaya Kim Bum berubah 180 derajat begini.

"Well, thanks." kata Kim So Eun sambil tersenyum, menimbulkan gejolak aneh di perut lawan bicaranya.

"Tapi ini bukan buatku, ini buat bumi. Kau cinta bumi kan?" tanya Kim So Eun di luar dugaan. Kim Bum sempat tidak sadar dengan maksud perkataan Kim So Eun, namun kemudian ia tersenyum penuh arti.

"Iya, aku cinta bumi," kata Kim Bum akhirnya, “di mana ada kau di dalamnya.” Batin Kim bum.

Tiba-tiba Kim So Eun menarik tangan Kim Bum untuk mengikutinya mengambil pot-pot berukuran agak besar di suatu sudut di depan kelasnya. Ia minta Kim Bum membantunya mengangkat pot-pot itu bersamanya, karena ia tak kuat mengangkatnya sendirian. Kim Bum pun menyanggupi permintaan Kim So Eun.

Somehow Kim Bum merasa inilah saatnya membuka kembali impiannya yang sudah ia pendam rapat-rapat itu.

I think I found her, batin Kim Bum.


TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.korea-lovers86.blogspot.com

Selasa, 06 Juli 2010

Senandung Lara

Title : Senandung Lara
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance 21+
Production : www.rainlovers86.blogspot.com
Production Date : 25 Mei 2010 – 09.37 AM
Cast :
Kim So Eun as Kang Hye Na
* Kekasih Seo Dong Chan
* Kejiwaannya terganggu setelah mengetahui kekasihnya, Seo Dong Chan ternyata telah memiliki istri dan hanya berpura-pura untuk mencintainya

Kim Bum as Seo Dong Chan
* Kekasih Kang Hye Na
* Menginginkan Papi Kang Hye Na untuk menanda tangani Kontrak proyek besar di perusahaan kontraktor dimana ia bekerja

Gong Yoo as Lee Tae Yoon
* Sahabat Seo Dong Chan
* Kakak Yeo Eui Joo
* Diminta Seo Dong Chan untuk membantu rencananya, menjadi kakak Seo Dong Chan untuk menjadi wali pernikahannya dengan Kang Hye Na

Gook Ji Yun as Yeo Eui Joo
* Adik Lee Tae Yoon
* Ingin membongkar semua kebohongan Seo Dong Chan pada Kang Hye Na

Lee Min Ho (Cameo)
* Anak buah Pak Ahn Jae Wook-Papi Kang Hye Na
* Mengenal dengan baik sosok Seo Dong Chan

Ahn Jae Wook (Cameo)
* Papi Kang Hye Na
* Berusaha mencari tahu keberadaan Seo Dong Chan, setelah ia menghilang dan menyakiti Kang Hye Na-Anaknya

Lee Bo Young (Cameo)
* Mami Kang Hye Na
* Merasa sedih melihat kejiwaan Kang Hye Na-anaknya terganggu karena ditipu oleh Seo Dong Chan-kekasih Kang Hye Na





Senandung Lara
(Sweety Qliquers)

Dengan riang, Kang Hye Na mendendangkan lagu ‘Nuansa Bening’ nya Vidi Aldiano. Tas batiknya dilemparkan ke sofa. Mami geleng-geleng kepala melihat tingkah putri tunggalnya itu.

“Hye Na, “ panggilnya. “Hari ini banyak pelanggan, ya?”

“Tidak, mi..” Hye Na mencopot sepatunya.

“Kalau tidak, Kenapa kau, gembira sekali?” tanya mami penasaran. Diambilnya tas Batik Hye Na dan diletakkannya di atas meja.

“Ah, mami..mau tahus aja.” Wajah ayu Hye Na menghangat tiba-tiba. Aneh!

“Ooo….mami tahu sekarang. Pasti tadi kau bertemu Seo Dong Chan.” Mami tersenyum menggoda.

“Ih, mami sok tahu!” Hye Na tersipu. Wajahnya memerah dadu. Mami tertawa.

“Ya tahu. Mami ‘kan pernah muda, “ katanya.

Hye Na senyum-senyum saja mendengar ucapan mami. Dibenaknya terbayang kembali pertemuannya dengan Dong Chan di salon kecantikannya.

“Hye Na,” Dong Chan berdiri di ambang pintu ketika dia sedang sibuk membereskan alat-alat make up. Tiga orang anak buahnya sudah pulang lebih dulu. Hari itu salonnya memang agak sepi. Mungkin, karena tanggal tua sehingga orang segan mengeluarkan uang untuk mempercantik diri.

“Dong Chan, ada apa kau kemari?“ Hye Na berkata riang.

“Aku merindukanmu.” Sahut Dhika kalem. Hye Na mencibir.

“Uh, bukannya kemarin kita baru ketemu.” Ujarnya manja.

“Iya, tapi aku masih merindukanmu.” Dhika menghampiri Hye Na, memeluk gadis itu dari belakang. “Sudah selesai membereskan alat-alat itu?” bisiknya di telinga Hye Na.

“Sudah,“ manja, Hye Na menyandarkan kepalanya di dada Dhika.

“Hye Na,“ Jemari Dong Chan membelai rambut lurus Hye Na. “Ada kabar gembira untukmu.”

“Apa itu?” Hye Na memutar tubuhnya, melepaskan pelukan Dong Chan.

“Bulan depan aku akan melamarmu.”

“Oh….secepat itu?!” Seru Hye Na. Matanya yang indah berseri-seri bahagia.

“Setengah tahun kita pacaran. Memang belum terlalu lama tapi…aku sudah tak sabar ingin segera bertunangan denganmu.” Dong Chan mempermainkan jemari Hye Na.

Hye Na tidak menjawab. Dia merasa inilah kebahagiaan yang paling sempurna dalam hidupnya. “Aku bahagia sekali, Dong Chan. “ Bisiknya.

“Tapi….,”

“Terlalu cepat?” potong Dong Chan. Hye Na mengangguk.

“Hye Na,” Dong Chan menatap Hye Na lembut. “Aku benar-benar mencintaimu dan aku takut suatu saat kau berpaling pada lelaki lain. Jadi….aku ingin kepastianmu. Dengan melamarmu, aku merasa tenang dan yakin bahwa kau memang mencintaiku.”

Hye Na terdiam. Dalam hati dia membenarkan ucapan Dong Chan. Yah, diapun amat menyayangi Dong Chana dan tak ingin kehilangan sosok tegap Dong Chan.

“Aku akan mengenakan gaun terindah pada hari kau datang melamarku.” Ujar Hye Na tiba-tiba.

“Terima kasih, Hye Na.” Dong Chan merengkuh Hye Na. Hye Na tersenyum dalam rengkuhan kukuh Dong Chan. Ada butir bening menetes di pipinya. Air mata bahagia.

“Aku ingin kau memakai gaun warna biru.” Dong Chan menghapus bening di sudut mata Hye Na dengan jemarinya. Hye Na mengangguk. “Ya, warna kesayanganmu.”

“Aduh, kenapa kau jadi melamun?” Suara mami menyentakkan lamunan Hye Na.

“Ah…. Mamiii….” Hye Na tersenyum malu. Mami tertawa.

“Ayo, tadi Dong Chan bilang apa?” Mami mengedipkan mata.

Sekali lagi Hye Na tersenyum malu. “Dong Chan …ingin melamar Hye Na…,” pelan suara Hye Na.

Mami pura-pura batuk menggoda. “Mami setuju. Kapan Dong Chan datang?”

“Bulan depan.”

“Yah, nanti mami bicarakan hal ini dengan papi.”

“Makasih mi…” Hye Na mengecup pipi mami.

***

Di depan rumah bercat kuning muda, Dong Chan menghentikan langkah. Dia memijit bel yang terletak di samping pintu pagar. Sesaat kemudian, seorang pria berusia sekitar tigapuluh tahun nongol di teras rumah.

“Dong Chan!” seru pria itu, lalu bergegas melangkah ke halaman. “Angin apa yang membawamu kemari?” tanyanya sambil membuka pintu pagar.

“Angin ribut.” Gurau Dong Chan.

“Well, ada perlu apa?” tanya pria itu lagi setelah mereka duduk di ruang tamu.

“Begini, Tae Yoon…” Dong Chan buka suara. “Bulan depan aku akan melamar Hye Na.”

“Sejauh itu permainanmu, Dong Chan?” Ujar Lee Tae Yoon terkejut.

Dong Chan mengangguk. “Demi uang,“ katanya tenang.

“Lalu isterimu?”

“Ini kan cuma sandiwara, Tae Yoon.” Tukas Dong Chan tertawa. “Setelah aku berhasil membujuk papi Hye Na agar mau menandatangani kontrak besar dengan perusahaan tempatku bekerja, maka secara perlahan aku akan menghindari Hye Na dan akhirnya…” Dong Chan menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa. “Putus Hubungan!” Dia mengelus-elus dagunya.

“Dasar ular kau!” Tae Yoon tertawa mendengar ucapan Dong Chan. Dirogohnya saku celananya. “Rokok?” Dia menyodorkan Sampoerna miliknya.

Dong Chan menggeleng. “Untuk saat ini aku puasa dulu. Hye Na tidak suka cowok perokok.” Katanya. Tae Yoon tertawa. Dia menyalakan pemantik dan membakar ujung rokoknya.

“Sekarang, katakan apa yang bisa kubantu?” Tanya Tae Yoon.

“Kau harus pura-pura menjadi kakakku yang sengaja datang mewakili kedua orang tuaku.”

Tae Yoon bersiul. ”Bukan main!” Serunya. “Kau benar-benar licik!”

“Bagaimana? Kau mau menolongku?” tanya Dong Chan.

“Oke, asal….” Tae Yoon mengedipkan mata. Dong Chan tersenyum mengerti.

“Soal money? Jangan takut.” Katanya tertawa. “Ini, aku bayar separuh dulu.” Dong Chan memberikan selembar cek.

“Kenapa tidak uang tunai?” Tae Yoon menjentikkan abu rokoknya.

“Sudahlah, jangan rewel. Percayalah padaku, Cek ini tidak kosong.” Ujar Dong Chan lalu memasukkan cek tersebut ke saku baju Tae Yoon.

Beberapa saat lamanya Dong Chan dan Tae Yoon sibuk membicarakan rencana mereka. Yeo Eui Joo, adik Tae Yoon yang terbangun dari tidur siangnya karena mendengar kedatangan Dong Chan, menguping pembicaraan mereka. Kamar tidurnya yang tidak jauh dari ruang tamu membuatnya dapat menangkap dengan jelas suara Dong Chan dan Tae Yoon.

Sungguh, dia tak menyangka kalau Dong Chan, teman kakaknya itu sampai hati menipu seorang gadis. Di balik ketampanan dan keramahannya, ternyata Dong Chan adalah seorang penipu. Dia tak lebih dari serigala berbulu domba. Dan, Tae Yoon, kakaknya mengapa dia mau membantu rencana Dong Chan? Uang! Lagi-lagi karena uang! Ugh! Tiba-tiba dia merasa muak dengan kedua orang itu.

Aku harus menolong gadis yang bernama Hye Na itu, pikir Eui Joo. Tapi, bagaimana caranya? Dia tidak mungkin mencegah kakaknya agar tidak membantu Dong Chan. Tae Yoon pasti tak segan-segan menampar pipinya bila tahu usahanya hendak digagalkan. Akh, Eui Joo memeluk bantal gulingnya. Seandainya papa dan mama masih ada, tentu Tae Yoon tidak seperti itu. Sebagai seorang pengangguran, dia mau melakukan pekerjaan apa saja. Tak peduli apakah itu merugikan orang lain atau tidak. Dan, Eui Joo tak berdaya menghadapi ulah kakaknya.

Tapi… Hye Na ….Entah mengapa, Eui Joo merasa harus menolong gadis itu. Tadi, Dong Chan menyebut-nyebut nama sebuah salon kecantikan. Katanya, salon itu milik Hye Na. Eui Joo pernah mendengar nama salon itu dari Goo Hye Sun, kawannya yang menjadi pelanggan di salon tersebut.

***

Salon sudah sepi. Seperti biasa, Hye Na menyuruh anak buahnya pulang lebih dulu. Sedangkan, dia sendiri sibuk menghitung penghasilannya hari itu. Dia baru saja hendak menyimpan Buku Catatannya ke dalam laci ketika dilihatnya sabrina berdiri di ambang pintu.

“Maaf,“ kata Eui Joo tersenyum. “Kau yang bernama Hye Na?” tanyanya.

“Ya, benar.” Hye Na mengangguk.

“Saya Yeo Eui Joo,” Tangan Eui Joo terulur. Hye Na membalas uluran tersebut.

“Silakan duduk. Ada yang bisa dibantu?” tanya Hye Na ramah.

“Terima kasih,” Eui Joo meletakkan pantatnya di sebuah kursi. Hye Na ikut duduk di kursi satunya lagi. “Ada perlu apa ya?” tanya Hye Na lagi.

“E…,” Eui Joo tergagap tapi detik selanjutnya dia dapat bercerita dengan lancar. Hye Na mendengarkan dengan tenang. Perasaannya tak menentu antara percaya dan tidak.

“Begitulah, saya cuma ingin mengingatkanmu.” Eui Joo mengakhiri ceritanya.

“Terima kasih atas kebaikanmu.” Hye Na berusaha tersenyum.

“Percayalah, saya tidak mengada-ngada.” Kata Eui Joo lagi. Dia menangkap sinar mata Hye Na yang meragukan ceritanya. “Lee Tae Yoon kakak saya pasti akan berpura-pura sebagai….”

“Maaf, sudah pukul lima.” Hye Na meraih tas batiknya. “Saya harus pulang ke rumah.”

Eui Joo bangkit berdiri. Tersenyum kecewa karena merasa ceritanya tidak dipercaya. Tapi, dia harus bagaimana lagi? Hh, semoga gadis ini mau merenungkan ceritanya tadi. Harapnya dalam hati.

“Kalau begitu, saya juga permisi.” Katanya kemudian lalu beranjak keluar.

Pulang dari salon, Hye Na membanting tubuh semampainya di tempat tidur. Dia berusah mengenyahkan galau yang melanda hatinya. Rasanya sulit mempercayai kata-kata gadis bernama Yeo Eui Joo itu. Dong Chan begitu baik, lembut dan penuh pengertian. Pasti, gadis itu cuma ingin memisahkan Dong Chan dari dirinya.

Dia pasti iri melihat kemesraan sikap Dong Chan padaku, batin Hye Na.

Ingatan Hye Na lalu berkelana ke masa setahun silam. Dong Chan, pemuda tampan yang bekerja di perusahaan kontraktor, suatu hari datang ke rumah. Dengan sopan, dia mengatakan ingin bertemu dengan papi Hye Na. Katanya, dia rekan bisnis papi. Waktu itu, Hye Na sendiri yang membukakan pintu untuk Dong Chan. Dan, senyum simpatik Dong Chan telah membuatnya jatuh ke dunia asmara pada pandang pertama.

Dong Chan yang tampan itu mengaku sebagai putera seorang pengusaha kaya. Kedua orang tuanya lebih sering berada di Amerika untuk mengurus usaha mereka di sana. Dia sendiri bekerja di sebuah perusahaan di Surabaya. Padahal, ayahnya ingin agar Dong Chan memimpin perusahaannya tapi dia menolak. Alasannya ingin mandiri.

Hari-hari selanjutnya Dong Chan datang bukan untuk urusan bisnis saja dengan papi, tapi juga untuk bertemu Hye Na. Tak terlukiskan betapa bahagianya Hye Na ketika Dong Chan mengungkapkan isi hatinya. Apalagi, papi dan mami memberi lampu hijau. Mereka juga menyukai Dong Chan yang tampan, baik hati dan selalu sopan terhadap orang tua.

“Hye Na,” ketukan di pintu menyentakkan Hye Na.

“Ada apa, mi?” Hye Na beranjak bangun dan membuka pintu.

“Kenapa kau, pulang dari salon langsung ke kamar?” Mami menatap Hye Na heran. “Kenapa? Tidak enak badan, ya?’

“Ah, tidak ada apa-apa mi…. Cuma capek sedikit.” Ujar Hye Na. Dia tak ingin mami tahu apa yang telah diceritakan Eui Joo. Toh, belum tentu cerita itu benar. Dan, dia yakin Eui Joo pasti berdusta.

“Jangan suka memaksakan diri.” Mami menasihati. “Mami ‘kan sudah bilang, kau tidak perlu buka salon. Papi ‘kan masih bisa memenuhi kebutuhanmu.”

Hye Na tersenyum mendengar kata-kata mami. Wanita tercinta itu memang sangat memanjakannya. Dulu, waktu dia berniat membuka salon, mami melarang keras.

“Uh, mami! Kalau tidak boleh buka salon, percuma saja Hye Na kursus kecantikan. Ilmunya tidak dipakai ” Begitu yang diucapkan Hye Na untuk menundukkan hati mami. Dan, akhirnya, Hye Na yang menang.

“Hye Na,” tegur mami. “Hayo, melamunkan Dong Chan, ya?”

Hye Na tergugu. “Ah, tidak mi. “ Katanya seraya meninggalkan mami.

***

Hye Na sedang bercakap-cakap dengan Dong Chan di ruang tamu kala bel berbunyi.

“Ada tamu.” Kata Hye Na lalu bergegas ke luar. Seorang pemuda berdiri di depan pintu pagar. Mengangguk hormat pada Hye Na. “Pak Ahn Jae Wook ada, Non?” tanyanya.

“Kau siapa, ya?” Hye Na balik bertanya.

“Saya Lee Min Ho. Karyawan pak Ahn Jae Wook yang ditugaskan ke Busan dan baru saja kembali ke Seoul.” Jawab pemuda itu sopan.

“Oh…..,” Hye Na manggut-manggut. Dia memang pernah mendengar kalau papi mengutus anak buahnya ke Busan. “Tapi, papi sedang pergi. “ Katanya.

“Siapa, Hye Na?” Dong Chan menghampiri Hye Na.

“Ini…,” Belum selesai Hye Na berkata, Lee Min Ho sudah tersenyum pada Dong Chan.

“Dong Chan,“ sapanya ramah. “Apa kabar?”

“Baik,“ sahut Dong Chan berusaha tersenyum ramah. Padahal, hatinya sudah deg-degan. Hye Na yang melihat keduanya saling mengenal, segera membukakan pintu pagar. Lee Min Ho menyalami Dong Chan.

“Sejak kapan kau ke Jakarta, Dong CHan? Isterimu tidak diajak? Sedang apa kau disini? Kau kenal pak Ahn Jae Wook ya?” tanya Min Ho beruntun membuat tangan Dong Chan gatal ingin membekap mulut pemuda itu. Tapi, sudah terlambat…. Hye Na sudah mendengar semuanya.

“Isterinya?” Hye Na menatap Min Ho, heran.

“Ya, kenapa?“ Min Ho balas bertanya.

“Kau sudah mempunyai isteri, Dong Chan?” Tanpa mengacuhkan Min Ho, Hye Na memandang Dong Chan tak percaya.

“Hye Na …itu…” Dong Chan terbata. Seperti maling ketangkap basah, wajahnya pucat, bibirnya kelu.

“Tidak! Kau…kau…pembohong! Aku BENCIIII kau!” Hye Na berteriak lalu berlari masuk ke dalam rumah.

“Hye Na!” Dong Chan menyusul. Di ruang tamu, dia berhasil mencekal lengan Hye Na.

“Hye Na, dengar dulu!” serunya.

“Lepaskaaan!“ Teriak Hye Na marah. “Dasar penipu!”

“Hye Na!”

“Hye Na, ada apa nak?” Mami yang sedang sibuk di dapur menghampiri mereka.

“Mami,” Hye Na menubruk mami, memeluknya erat. “Dia penipu, Mi! Hye Na benci! Benci!”

Mami menatap Dong Chan tajam, minta jawaban. Dong Chan yang merasa topengnya sudah terbuka segera meninggalkan rumah Hye Na. Dia tak ingin mendengar Hye Na menceritakan kebusukannya pada maminya.

***

Hye Na tersenyum menatap foto Dong Chan. Jemarinya membelai bingkai foto itu. “Dong Chan, aku merindukanmu….Hi hi hi….” Gadis itu cekikikan. Dia mengecup foto itu berkali-kali. “Dong Chan, sayang…kau tampan sekali! Kau seperti buaya. Hi hi hi…..”

“Hye Na,“ Mami memanggil Hye Na. Dibukanya pintu kamar.

“Dong Chan mana, Mi?” Hye Na membuka pintu sambil melongokan kepala ke luar, memandang ruang tengah. “Dia mau melamar Hye Na. Dia pasti datang, iya kan Mi?” tanyanya seperti orang linglung.

Mami mengangguk. Sekuat tenaga dia menahan butiran bening yang mendesak tak sabar ingin keluar dari kelopak matanya. Anakku, batinnya pedih. Mengapa nasibmu semalang ini? Oh, Tuhan…apa dosa kami?

“Mi…” Hye Na menarik lengan mami. “Mana Dong Chan?”

“Hye Na,“ Mami membelai rambut Hye Na. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi bibirnya terasa beku. Ditatapnya wajah Hye Na. Ah, wajah ayu itu kini seperti tanpa cahaya kehidupan. Rambutnya yang sebahu awut-awutan. Aneka pita warna warni menghiasi rambut itu. Gaun biru muda yang dikenakan Hye Na juga lusuh. Setiap kali mami selesai menyeterika gaun itu, Hye Na akan mengambilnya dan mengenakannya lagi. Dia menolak memakai pakaian lain.

“Dong Chan jelek!” Tiba-tiba Hye Na berteriak. “Bajingan! Brengsek kau, Dong Chan!” Dia menuding-nuding foto Dong Chan lalu tertawa geli. “Kau sudah mempunyai isteri, Dong Chan! Kau sudah menikah ya? Hi hi hi…”

“Hye Na,” Mami memeluk Hye Na dengan hati teriris. Hye Na, mengapa kau jadi seperti ini? Bisik hatinya. Sesaat, pikirannya melayang ke masa tiga bulan yang lalu.

Sejak Hye Na mengetahui siapa Dong Chan sebenarnya, dia berubah menjadi gadis pemurung. Kerjanya setiap hari duduk memandangi foto Dong Chan. Papi berusaha mencari Dong Chan dan meminta penjelasannya karena Hye Na tidak mau mengatakan apapun. Dia hanya bilang kalau Dong Chan sudah punya isteri. Tapi, Dong Chan seperti lenyap dari muka bumi. Bahkan, isterinya pun tidak tahu kemana Dong Chan pergi.

“Hye Na, sudahlah...” Kata mami berusaha menghibur Hye Na. Tapi, Hye Na tak memberi reaksi. Dia memeluk mami dan menangis. Semua usaha mami dan papi untuk mengusir dukanya tidak berhasil. Hingga suatu senja, Hye Na tiba di puncak kesedihannya. Rasa sakit hati, kecewa menusuk-nusuk kalbunya. Selaksa sesal juga menghantamnya karena tidak mempercayai ucapan Eui Joo. Meski dalam hati, dia bersyukur karena Dong Chan belum berhasil membujuk papi untuk menandatangani kontrak dengan perusahaan tempatnya bekerja, namun kesedihannya tak dapat dibendung. Betapa tidak, dia sangat mencintai Dong Chan. Baginya, Dong Chan adalah segalanya. Tetapi realitas begitu kejam.

Dan, Hye Na tidak kuat menghadapinya. Dia pun menjerit, menangis dan mengobrak-abrik benda-benda yang ada di kamarnya. Papi dan mami berusaha menenangkannya tapi Hye Na semakin beringas sampai akhirnya dia letih sendiri.

“Hi hi hi….” Tawa Hye Na membuyarkan lamunan mami. Dengan lesu, mami melepaskan pelukannya. Wanita yang rambutnya mulai memutih itu beranjak meninggalkan Syafa. Syafa berhenti tertawa dan mulai bersenandung. Begitu lirih dan sedih seolah mencerminkan lara di hatinya.


TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.rainlovers86.blogspot.com

Sabtu, 12 Juni 2010

Naluri Perempuan

Title : Naluri Perempuan
Author : Sweety Qliquers
Genre : Family/Comedy
Label : Yoon Eun Hye, Gong Yoo
Production : www.rainlovers86.blogspot.com
Production Date : Jum’at, 11 Juni 2010 – 03.09 PM
Cast :
Yoon Eun Hye as Kang Hye Bin (Hye Bin)
Gong Yoo as Cha Bong Gun (Bong Gun)
Seo Shin Ae as Park Yeon Yi (Yeon Yi)
Kim Hyun Joo as Ny. Goo Hye Sun (Hye Bin Mother)
Lee Bo Young as Ny. Son Dam Bi (Yeon Yi & Bong Gun Mother)
Ahn Jae Wook as Tn. Dong Seo Woo (Yeon Yi & Bong Gun Father)














Kang Hye Bin berkemas dengan cepat. Beberapa lembar pakaian dijejalkannya ke dalam tas plastik secara sembarangan. Di luar kamar, Ny. Goo Hye Sun-Ibunya ternyata sudah mencegatnya.

“Kau mau pergi dengan meninggalkan kapal pecah seperti itu?”

Kang Hye Bin berpaling dengan sebal, memandang sekilas celana pendek dan handuk yang tergolek di atas kasur. Buku-buku masih berserakan di lantai, bersaing dengan kotak DVD dan kertas tisu yang tercerai-berai.

“Bagaimana mungkin kau bisa mengurus seorang bocah jika mengurus diri sendiri saja tidak becus? Ampun, Hye Bin, kau ini sudah besar. Harusnya mulai belajar banyak untuk menjadi perempuan sejati. Perempuan yang bisa mengurus diri sendiri, mengurus rumah....”

“Perempuan sejati... ?” gumam Kang Hye Bin.

Dengan bersungut Kang Hye Bin mengemasi barang-barang yang berserakan itu dan menumpuk asal-asalan di sudut kamar. Ny. Goo Hye Sun mengawasinya sambil menggeleng-gelengkan kepala putus asa. Tak urung nanti dia sendiri yang akan membereskannya.

“Ibu pasti senang, karena dua hari ini seisi rumah akan rapi tanpa aku.” Hye Bin bersungut. “Atau justru kehilangan? Rindu? Hmmm, tidak usah telpon-telpon, ya!”

Ny. Goo Hye Sun menyembunyikan senyumnya. Ya, rumah akan terasa sepi tanpa Kang Hye Bin. Dua hari ini Kang Hye Bin akan tinggal di rumah keluarga Dong Seo Woo. Tn.Dong Seo Woo, teman Ayah Kang Hye Bin itu, meminta tolong Kang Hye Bin untuk kesekian kalinya menjadi penjaga rumah. Bedanya kali ini, di rumah ada Park Yeon Yi. Tn. Dong Seo Woo dan Ny. Son Dam Bi-istrinya akan pergi selama akhir pekan keluar kota, untuk urusan keluarga yang katanya sangat penting. Park Yeon Yi yang berusia tujuh tahun terpaksa tidak bisa ikut karena baru saja sembuh dari sakit.

“Kau bisa menjaga Yeon Yi selama dua hari saja, kan?” tanya Ny. Son Dam Bi tempo hari.

Kang Hye Bin terpaksa bilang iya, meski ia juga mengeluh dalam hati. Ia tahu persis siapa Park Yeon Yi. Memang tidak terlalu nakal, tapi bisa jadi akan sangat merepotkannya. Tapi Kang Hye Bin tidak ingin menolaknya. Beberapa kali ia menjadi tenaga sukarela di rumah keluarga Dong Seo Woo, ia tak pulang dengan tangan hampa. Hanya pindah tidur dua hari saja, pulangnya saku Kang Hye Bin dijejali dengan beberapa lembar uang ratusan ribu. Sangat lumayan untuk bersombong diri mentraktir teman.

Ketika Kang Hye Bin tiba di rumah itu, Tn. Dong Seo Woo dan Ny. Son Dam Bi sudah bersiap diri, bahkan mesin mobil sudah dihidupkan di halaman rumah. Park Yeon Yi nampak masih lemas, duduk di teras rumah mengawasi kesibukan kedua orangtuanya. Ia terlihat gembira ketika Kang Hye Bin menghampirinya.

“Just you and me, Yeon Yi!” sapa Kang Hye Bin.

Park Yeon Yi yang sejak kecil belajar berbahasa Inggris itu tersenyum lega.

“Can you play with me all night long?” bibir kecil itu berceloteh ringan, tak takut salah.

“Ups!” Kang Hye Bin memberi isyarat dengan telunjuknya. “Sssst, jangan sampai mereka tahu…,” bisik Kang Hye Bin sambil mengerling ke arah Ny. Son Dam Bi.

Park Yeon Yi tertawa senang.

Keduanya mengantar kepergian Tn. Dong Seo Woo dan Ny. Son Dam Bi.

Sesaat kemudian Kang Hye Bin menggandeng Park Yeon Yi dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.

“Well? Kau mau apa dulu? Makan, berenang atau…?”

“Kata Ibu, kita tidak boleh keluar rumah. Lagipula…”

“Oh ya, anak baik. Kau harus beristirahat sebanyak mungkin. Jadi, bagaimana kalau kita menghabiskan sore dan malam ini untuk nonton film kartun?”

Park Yeon Yi melonjak gembira ketika Kang Hye Bin memperlihatkan tujuh keping DVD yang dibawanya.

***

Sore menjelang gelap, Kang Hye Bin dan Park Yeon Yi masih asyik di kamar besar yang serba lengkap dengan fasilitas itu. Kasur busa telah berpindah ke lantai, boneka-boneka besar segera berterbangan mencari sasaran.

Ini pekerjaan yang menyenangkan, batin Kang Hye Bin. Park Yeon Yi sangat mudah untuk ditaklukkan. Jangankan cuma dua hari, setahun bersama Park Yeon Yi pun Kang Hye Bin sanggup.

Kang Hye Bin mengejar Park Yeon Yi, mengincar kepalanya dengan boneka ulat bulu raksasa.

“Aduh, ramai sekali kalau dua anak kecil sedang bercengkerama …”

WHUUUUAAAA ….!!!

Kang Hye Bin menjerit keras. Ia kaget bukan kepalang karena tiba-tiba seseorang telah berdiri di ambang pintu.

“Kak Bong Gun!!!!” Park Yeon Yi melepaskan bonekanya dan melompat ke dalam gendongan cowok itu.

“Oo… my God! Jadi inikah manusia bernama Cha Bong Gun itu?” Batin Kang Hye Bin segera paham.

“Hai! Pasti kau… Kang Hye Bin yang terkenal itu. Ibu sudah sering sekali bercerita tentang kau.” Cowok superganteng itu mengulurkan tangannya.

“Dan kau pasti Cha Bong Gun, si sulung yang …” Kang Hye Bin meneruskan dalam hati, “Tampan, kuliah desain interior di GongYoo City dan nyaris tidak pernah pulang.”

Kang Hye Bin gemetaran ketika bersalaman. Satu hal yang di luar dugaannya adalah, Cha Bong Gun tak cuma tampan, tapi benar-benar luar biasa tampan. Kang Hye Bin sama sekali tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa hari ini Cha Bong Gun akan pulang ke rumah.

Ini anugerah atau musibah?

Kang Hye Bin ingin saat itu juga memiliki keajaiban bisa menghilang. Tak terbayangkan betapa malunya tampil di depan cowok supertampan itu dalam keadaan superkusut, dengan kaus kedodoran dan celana superpendek yang warnanya sudah tak karuan lagi. Satu hal yang bisa dilakukannya adalah menyambar bed cover dan melilitkannya di pinggang untuk menyembunyikan celana pendek ajaibnya.

“Ayah dan Ibu pergi ke WooBin City, kak Hye Bin menemaniku menjaga rumah.” Park Yeon Yi menyelamatkan situasi dengan penjelasannya yang polos. Cha Bong Gun masih melongo.

“Sampai kapan?”

“Minggu malam baru pulang,” jawab Kang Hye Bin.

“Ah, jadi percuma aku pulang! Padahal Minggu sore aku sudah harus kembali ke GongYoo City.”

“Tapi…” Kang Hye Bin kembali salah tingkah. “Kebetulan juga, karena kau bisa menemani Yeon Yi yang sendirian.”

“Dan kau?”

“Pulang,” lirih Kang Hye Bin. “Oh, melayanglah sekian ratus ribu itu.”

“JANGAN PULANG!!!!”

Park Yeon Yi melompat-lompat kesal di atas kasur yang tergolek di lantai.

“Kak Hye Bin tidak boleh pulang! Kan janjinya mau nonton kartun sampai after midnight!”

“Tapi… bukankah sekarang sudah ada kakakmu? Kau sudah tidak sendirian lagi.”

Cha Bong Gun terbatuk. Batuk yang dibuat-buat. “Ya, kau jangan pulang. Tugasmu harus kau selesaikan karena malam ini aku punya rencana sendiri. Ada acara reuni SMA, dan untuk urusan itulah aku pulang. Mana mungkin aku datang bersama Yeon Yi.”

Kang Hye Bin tak yakin apakah pernyataan itu menguntungkannya atau justru sebaliknya.

Cha Bong Gun menengok arlojinya. “Sekarang aku mau mandi dan mungkin harus tidur sebentar supaya fresh. Tapi… uh? YEON YI!!! TURUN DARI KASURKU!!!”

Brrrr! Kang Hye Bin gemetaran lagi. Baru sekarang ia sadari mereka berdua telah memporak-porandakan kamar. Dan kamar itu adalah kamarnya Cha Bong Gun.

“Sebaiknya kita pindah ke kamarmu sendiri, Yeon Yi.” Kang Hye Bin menarik tangan Park Yeon Yi dan mengajaknya keluar kamar. Ia menatap sebentar ke arah Cha Bong Gun. “Nanti akn aku bereskan kamar ini seperti semula, Bong Gun. Maaf kalau membuatmu jadi kesal. Mandilah dan selesai mandi, kamarmu siap kau tempati lagi.”

Cha Bong Gun tersenyum lebar. Tulus. “Ya, kalian yang harus bertanggungjawab atas kamar ini.” Cha Bong Gun meraih selembar poster yang terlepas dan tergolek di lantai. “Oh ya! Hye Bin…? Kau bisa masak sesuatu untukku? Sepanjang perjalanan aku menahan lapar. Harus ada yang masuk ke perutku, ini! Biasanya Ibu selalu menyiapkan banyak bahan makanan di kulkas. Apa sajalah. Sup ayam, boleh juga. Favoritku buatan Ibu. Selalu sup ayam yang kurindukan di rumah ini. Mudah-mudahan kau bisa memasak sepintar Ibu.”

Kang Hye Bin melotot tanpa sepengetahuan Cha Bong Gun. Ia buru-buru menarik tangan Park Yeon Yi dan mengajaknya turun ke bawah. Ia menyambar tas plastik berisi pakaiannya yang ada di atas sofa. Di dalam kamar Park Yeon Yi, Kang Hye Bin segera merangkapi celana pendeknya dengan celana panjang. Kang Hye Bin berdiri di depan cermin dengan penuh rasa sesal. Pertama kali bertemu dengan cowok supertampan itu ia berpenampilan seperti gelandangan!

“Kakakmu itu …”

“Tampan, ya?” Park Yeon Yi menukas dengan senyum genit. “Kak Bong Gun belum punya pacar, kok!”

“Bukan begitu, adik kecil! Maksudku, untunglah ia tidak marah karena kamarnya sudah kita rusak seperti itu.”

“Dia anak yang baik, kakak yang very-very nice.”

“Dan apa jadinya, jika dua hari aku tinggal serumah dengan si very-very nice itu? Oh my God! Help me please...” Batin Kang Hye Bin.

“Hye Bin...?” Kepala tampan itu mendadak menyembul dari balik pintu. “Aku sudah lihat isi kulkas. Kau bisa membuat sambal tomat? Yang pedas, yang pas buat menemani sup ayam kita?”

“Iiiiy... iya... iya... beres. Mandilah dulu!”

SAMBAL TOMAT ???!!!

SUP AYAM ???!!!

Ketika sayup-sayup terdengar suara nyanyian Cha Bong Gun dari dalam kamar mandi, Kang Hye Bin segera menghambur ke pesawat telepon. Siapa lagi kalau bukan Ny. Goo Hye Sun-ibunya yang menjadi tumpuan harapannya.

“IBU...!!!”

“Ada apa?” Dari seberang sana Ny. Goo Hye Sun terdengar agak cemas.

“Bu, aku sudah siap membawa pulpen dan catatan. Tolong, diktekan resep untuk membuat sup ayam dan sambal tomat! Aku siap mencatat...”

“Loh? Apa susahnya sup ayam dan sambal tomat? Semua orang bisa masak itu, Hye Bin...!”

“IBU... !!!” Kang Hye Bin menjerit lagi, makin kesal. “DIKTEKAN RESEPNYA SEKARANG JUGA!!!”

Lebih dari lima menit, Kang Hye Bin mendengarkan dan mencatat setiap omongan Ibunya. Keringat bercucuran di pelipisnya.

“Cuma seperti itu? Sudah semua?”

“Ya cuma seperti itu. Memasak bukan pekerjaan yang sulit. Kau saja yang tidak pernah mau masuk dapur dan menganggap bahwa di jaman sekarang bisa memasak bukanlah kewajiban seorang perempuan lagi.”

Kang Hye Bin tak ingin berdebat. Waktunya tak cukup untuk itu. Ia sudah hampir beranjak membuka kulkas ketika tiba-tiba teringat sesuatu. Ia berbalik dan buru-buru memijit tombol redial di telepon.

“IBU ...?!!!”

“Apa lagi? Kau kemasukan setan penunggu rumahnya Tn. Dong Seo Woo, ya?” Suara Ny. Goo Hye Sun terdengar kesal.

“Ibu, bagaimana caranya memasang bed cover?”

Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Kang Hye Bin makin keringatan.




TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.rainlovers86.blogspot.com