Silahkan Mencari !!!

Info!!!

kelanjutan fan fiction & recap drama semua ada di blog q yang baru
fanfic : www.ff-lovers86.blogspot.com
recap : www.korea-recaps86.blogspot.com
terima kasih...
Tampilkan postingan dengan label Kim So Eun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kim So Eun. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 September 2010

Menanti Kim So Eun Pulang (Part 7-Tamat)


Title : Menanti Kim So Eun Pulang
Author : Sweety Qliquers
Genre : Family
Episodes : 7 Part
Part 7 “Terima Kasih, Go Ah Ra!”
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 15 September 2010, 04.34 PM
Cast :
Kim So Eun
Go Ah Ra
Kim Ja Ok (So Eun’s Auntie)
Ryu Seung Ryong (So Eun’s Father)
Park Hae Mi (Ah Ra’s Mother)
Kang Shin Il (Ah Ra’s Father)
Lee Mi Sook (So Eun’s Mother)
Kim Ji Young (Ka.Rmh Tangga Kel.Kim So Eun)
Baby (So Eun’s Son)
Kim Bum (So Eun’s Husband)


Part 7
Terima Kasih, Go Ah Ra!


"Papa memang kejam!"

Go Ah Ra berlari setelah menjerit histeris. Matanya memanas. Dia sama sekali tidak menyangka lelaki itu tetap bertahan dengan keputusannya. Tidak pernah dapat memaafkan kesalahan putri kandungnya sendiri! Dan atas nama martabat keluarga pula, dia lebih rela kehilangan buah hatinya untuk seumur hidup!

Dilajukannya mobil menyusuri jalan-jalan Seoul yang membasah. Dia marah terhadap dirinya sendiri, gagal menggugah kekerasan hati Papa. Perjuangannya menanti selama ini akhirnya kandas atas nama baik keluarga yang telah tercoreng. Dia menangis untuk Kim So Eun.

"Ma-maafkan aku, Kak Kim So Eun! Pa-Papa ti-tidak...."

"Sudah aku duga."

"Ta-tapi?"

"Ini hukuman untukku, Go Ah Ra. Mungkin juga ini merupakan suratan hidup yang mau tidak mau harus aku jalani. Percuma menyesali keputusan Papa. Semua itu merupakan konsekuensi kesalahan besar yang pernah aku lakukan. Kau jangan ngotot membelaku lagi. Jangan-jangan nanti malah kau yang diusir oleh Papa."

"Ta-tapi, Yoon Hyun Seo?"


"Don't worry about me and Yoon Hyun Seo, Go Ah Ra. Kami tidak apa-apa, kok. Mama memaksa dan bersikeras mensubsidi susu untuk Yoon Hyun Seo serta jatah ransum untukku, meskipun aku menolaknya mati-matian. Untuk sementara kami berdua tinggal di bekas rumah kalian yang dulu. Mama sudah menyiapkan semuanya. Katanya, aku jangan berpikir macam-macam kecuali konsentrasi merawat Yoon Hyun Seo. Katanya juga, setiap hari Mama akan membujuk Papa sampai Papa dapat menerima dan memaafkanku."

Sampai saat ini Kim So Eun memang belum dapat pulang karena kekerasan hati Papa. Tapi Go Ah Ra bahagia karena impiannya sudah terwujud. Menjadi bagian dari hidup Kim So Eun. Sebagai adik, saudara perempuannya yang merupakan anugerah tak ternilai.

Ada sekelebat cahaya kilat dari langit yang membuyarkan semua lamunan Go Ah Ra. Diliriknya jam tangan yang melingkar di pergelangan kiri. Sudah jauh larut malam. Besok pagi dia harus ke sekolah. Mama juga pasti mencemaskannya. Dia harus segera kembali.

Dan tetap menanti Kim So Eun pulang.

TAMAT

Menanti Kim So Eun Pulang (Part 6)


Title : Menanti Kim So Eun Pulang
Author : Sweety Qliquers
Genre : Family
Episodes : 7 Part
Part 6 “Kami Menerima Kak Kim So Eun!”
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 15 September 2010, 04.34 PM
Cast :
Kim So Eun
Go Ah Ra
Kim Ja Ok (So Eun’s Auntie)
Ryu Seung Ryong (So Eun’s Father)
Park Hae Mi (Ah Ra’s Mother)
Kang Shin Il (Ah Ra’s Father)
Lee Mi Sook (So Eun’s Mother)
Kim Ji Young (Ka.Rmh Tangga Kel.Kim So Eun)
Baby (So Eun’s Son)
Kim Bum (So Eun’s Husband)


Part 6
Kami Menerima Kak Kim So Eun!


"Aku minta maaf, Go Ah Ra!"

Go Ah Ra membeliak. Dipandanginya betul-betul sepasang mata yang berkaca-kaca di seberang meja. Kalimat yang barusan didengar itu bagai sebuah doa. Gemanya menyentuh sampai ke lubuk hati. Kim So Eun telah terlahir kembali! Dia serasa tak percaya.

"Aku sudah menyakiti hati kalian."

"Ti-tidak. Kak Kim So Eun tidak boleh bilang begitu!"

"Tapi aku memang tidak pantas diampuni. Jadi...."

"Biar bagaimanapun juga Kak Kim So Eun tetap saudaraku."

"Ka-kau baik sekali, Go Ah Ra!"

"Kami merindukan Kak Kim So Eun."


Ibu muda itu menggeleng. Airmatanya menitik. Diusapnya kepala mungil bayinya dengan penuh perhatian tatkala bayi itu terbangun dan menangis keras. Beberapa tamu di McDonald's yang mereka kunjungi itu menoleh karena terkejut, tapi meneruskan acara makan mereka yang terganggu lima detik kemudian.

"Kim Bum...?"

"Ke mana dia, Kak Kim So Eun?"

"Aku tidak tahu. Selama ini aku memang telah dibutakan oleh cinta. Kami sebetulnya masih terlalu dini untuk membentuk rumah tangga. Segalanya masih prematur. Kami masih anak-anak!"

"Selama ini Kak Kim So Eun kemana saja?"

"Seperti juga Papa, orangtua Kim Bum juga menolak kami. Hei, orangtua gila mana yang ikhlas menerima anaknya yang bertitel MBA, Married by Accident?" Kakak tirinya itu tertawa.

"Waktu itu, kami bingung mau ke mana. Kim Bum masih menganggur. Jangankan kerja, SMA-nya saja amburadul. Tapi, untung Kim Bum punya saudara di Busan. Mereka menampung kami untuk sementara sampai Kim Bum mendapat pekerjaan, dan mengontrak rumah kecil di sana."

"Lalu...."


"Setahun belakangan ini sikap Kim Bum mulai berubah. Hampir setiap hari kami bertengkar. Dari masalah sepele sampai masalah keuangan yang menjadi momok menakutkan bagi kami. Tidak ada keharmonisan lagi dalam rumah tangga!"

"Kenapa, Kak Kim So Eun?!"

"Aku tahu dia frustasi karena cita-citanya untuk bersekolah tinggi tidak kesampaian. Tapi, itu juga karena kesalahan dia. Sebetulnya cinta kami dulu tidak didasari dengan ketulusan. Kami tidak pernah memikirkan akibat buruk yang akan terjadi dengan masa depan kami. Terus saja bermain api hingga terbakar. Sekarang apa boleh buat, Go Ah Ra. Nasi sudah jadi bubur. Kami meraih gelar MBA duluan."

"Ka-kasihan Yoon Hyun Seo!"

"Aku bingung, Go Ah Ra. Kim Bum depresi. Dia tidak memperdulikan kami lagi. Ketika Yoon Hyun Seo sakit keras pun, dia malah cuek dan apatis. Sekarang, dia ke mana juga aku tidak tahu."

Bayi itu masih saja terus menangis ketika dilihatnya kakak tirinya itu menghela napas panjang.


"Pulanglah bersama kami lagi, Kak Kim So Eun!"

"Aku malu!"

"Dua tahun kami menunggu kepulangan Kak Kim So Eun."

"Mama pasti membenciku."

"Mama tidak pernah mendendam. Kak Kim So Eun masih ingat tidak, waktu Papa memukul Kak Kim So Eun, Mamalah yang berusaha keras menahannya. Mama sayang padamu, sama seperti Mama menyayangiku."
"
Ta-tapi, aku telah menyakiti hati Mama dengan mempermalukannya di depan umum."

Kim So Eun menundukkan kepalanya.

Suaranya berhenti di tengah tenggorokan. Pelupuk matanya memanas. Dihirupnya Coca-Colanya tanpa selera.

"Tidak, Sayang."

Ada suara lembut yang mengalun di belakangnya. Tampak seorang wanita berdiri anggun mengangguk pelan ke arahnya.

"Ma-Mama?!"

Kim So Eun kontan berdiri dan menyambut tubuh wanita itu. Dijatuhkannya kepalanya di bahu wanita itu dengan airmata berlinang.


"Mama tidak pernah membencimu. Mama sedih kau pergi. Mama harap kau mau tinggal bersama kami lagi."

"Ma-maafkan aku, Ma!"

Go Ah Ra berdiri dengan mata membasah. Inilah impian yang telah lama dinanti-nantikannya. Kini terwujud dan menjadi kenyataan. Kim So Eun menerima mereka seutuhnya sebagai bagian dari hidupnya yang baru.

Di luar sana, di balik dinding kaca resto, dilihatnya Bibi Kim Ji Young berdiri mematung dengan meneteskan airmata haru. Pasti wanita tua itu yang membocorkan rahasia pertemuannya dengan Kim So Eun.

Bersambung…

Menanti Kim So Eun Pulang (Part 5)


Title : Menanti Kim So Eun Pulang
Author : Sweety Qliquers
Genre : Family
Episodes : 7 Part
Part 5 “Maafkan Aku, Go Ah Ra!”
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 15 September 2010, 04.34 PM
Cast :
Kim So Eun
Go Ah Ra
Kim Ja Ok (So Eun’s Auntie)
Ryu Seung Ryong (So Eun’s Father)
Park Hae Mi (Ah Ra’s Mother)
Kang Shin Il (Ah Ra’s Father)
Lee Mi Sook (So Eun’s Mother)
Kim Ji Young (Ka.Rmh Tangga Kel.Kim So Eun)
Baby (So Eun’s Son)
Kim Bum (So Eun’s Husband)


Part 5
Maafkan Aku, Go Ah Ra!


Bibi Kim Ji Young yang memberitahu Go Ah Ra secara diam-diam pagi tadi sebelum berangkat ke sekolah. Katanya, ketika sedang membersihkan taman pagi-pagi sekali tadi, dia bertemu dengan Kim So Eun di depan gerbang rumah. Kelihatannya ada hal penting yang hendak disampaikan. Wanita tua yang telah mengabdi pada keluarga Ryu Seung Ryong selama puluhan tahun itu juga mengatakan agar kedatangannya jangan dikatakan pada siapa-siapa terutama Papa. Dia juga minta untuk bertemu di suatu tempat yang sudah ditentukannya sore nanti.

Ketika bertemu dengannya, tidak ada pelukan hangat dari seorang kakak yang selama ini diimpi-impikan Go Ah Ra. Hanya ada sambutan senyum tawar dengan sepasang mata cekung yang menatapnya hampa.

"Papa masih belum dapat menerimaku!"

"Sudah dua tahun...."

"Mungkin seratus tahun pun Papa...."


"Kak Kim So Eun!"

"Kalau bukan karena Yoon Hyun Seo...."

"Tidak! Kak Kim So Eun harus pulang. Papa pasti akan memaafkan Kak Kim So Eun. Mama juga sedih!"

"Ma-Mama?!"

Go Ah Ra terkesiap. Itu impiannya selama ini. Kim So Eun menyebut Mama!

"Kembalilah, Kak Kim So Eun. Aku mohon. Mari bangun lagi keluarga kita dari awal."

"Sudah terlambat."

"Ta-tapi"

"Papa tidak akan menerima Yoon Hyun Seo!"

Go Ah Ra memejamkan matanya sesaat ketika kerongkongannya mendadak memerih.
Dua tahun Kim So Eun berkalang derita dikarenakan kekerasan hati Papa. Hatinya gamang. Diliriknya bayi lima belas bulan yang sedang tertidur di pangkuan ibu mudanya.


Sebersit rasa iba menikam ulu hatinya. Bayi ringkih itu sama sekali tidak berdosa.

"Mama sudah berulang kali memohon pada Papa."

"Tapi Yoon Hyun Seo...."

"Yoon Hyun Seo tidak berdosa."

"Sudah seminggu dia panas seperti ini. Aku takut sekali, Go Ah Ra."

"Kita bawa dulu Yoon Hyun Seo ke dokter."


"Aku sudah membawanya ke Puskesmas."

"Tapi Yoon Hyun Seo membutuhkan perawatan yang lebih intensif, Kak Kim So Eun."

"A-Aku...."

"Kak Kim So Eun jangan berpikir macam-macam lagi. Yoon Hyun Seo perlu segera diberi perhatian. Kelihatannya dia kurang gizi."

Ibu muda itu mengangguk pelan. Wajahnya pasi. Kecantikan remajanya telah memudar disaput penderitaan.

Bersambung…

Menanti Kim So Eun Pulang (Part 4)


Title : Menanti Kim So Eun Pulang
Author : Sweety Qliquers
Genre : Family
Episodes : 7 Part
Part 4 “Jangan Hukum Kak Kim So Eun, Papa!”
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 15 September 2010, 04.34 PM
Cast :
Kim So Eun
Go Ah Ra
Kim Ja Ok (So Eun’s Auntie)
Ryu Seung Ryong (So Eun’s Father)
Park Hae Mi (Ah Ra’s Mother)
Kang Shin Il (Ah Ra’s Father)
Lee Mi Sook (So Eun’s Mother)
Kim Ji Young (Ka.Rmh Tangga Kel.Kim So Eun)


Part 4
Jangan Gukum Kak Kim So Eun, Papa!


Go Ah Ra ingat bagaimana bencinya Kim So Eun terhadapnya, terlebih-lebih pada Mama. Penolakannya yang sarkartis terhadap mereka membuat Papa Ryu Seung Ryong murka. Bukan hal terpuji bila seorang anak tega mempermalukan ibunya sendiri di depan banyak orang justru pada saat momen paling bahagia dalam hidupnya.

"Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu serta tamu undangan yang saya hormati. Hari ini adalah resepsi pernikahan ayah saya yang tercinta dengan wanita yang bernama Park Hae Mi ini. Saya harap Anda sekalian dapat merasakan dan merayakan kebahagiaan mereka dengan gembira. Tapi semua itu bukan merupakan kebahagiaan saya. Wanita ini, Park Hae Mi beserta putrinya Go Ah Ra, telah merusak ketenangan saya selama ini. Kenapa? Karena dengan begitu cepatnya mereka dapat menarik perhatian dan kasih sayang ayah saya terhadap almarhumah ibu saya, Lee Mi Sook yang belum juga genap setahun meninggal! Dan hal yang mereka lakukan itu bagi saya sangat tidak bermoral, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu!"

Dan bukan sekali-dua dia menumpahkan kekesalannya terhadap ibu dan adik barunya yang berpredikat tiri itu. Setiap hari kedua wanita itu diintimidasi seperti terpidana mati. Rasa tidak sukanya itu diaplikasikannya dengan vulgar. Sehingga pada suatu ketika himpunan kesabaran dari lelaki separuh baya itu runtuh tak terbendung.

"Pa-Papa me-menamparku?!" Tanya Kim So Eun sambil menahan airmata.

"Kau sudah keterlaluan!"

"Pa-Papa tidak adil! Papa lebih menyayangi kedua orang luar itu ketimbang anak kandung sendiri! Papa kejam!"


Namun naluri keibuan seorang wanita memang tak pernah lekang oleh waktu. Sang ibu tiri tidak marah. Memaafkannya dengan tulus. Dan membalikkan persepsi sepanjang zaman tentang ibu tiri yang jahat dan kejam. Dibuktikannya semua itu dengan kebesaran jiwanya. Disayanginya gadis itu selayaknya menyayangi putri tunggalnya sendiri, Go Ah Ra. Dipeluknya tubuh lelaki separuh baya itu kala kalap hendak memukul kembali putri kandungnya sendiri. Dengan berlinang airmata dia memohon agar lelaki separuh baya itu mengurungkan niatnya.

"Aku mohon jangan pukul Kim So Eun lagi, Pa!"

"Anak kurang ajar ini akan semakin menjadi-jadi kalau tidak diberi pelajaran!"

"Tapi Kim So Eun tidak bermaksud...."

"Jangan halangi aku, Park Hae Mi!"

Sayang gadis itu tidak tergugah. Hatinya masih sekeras batu. Dan pemberontakan hati gadis itu terus berlanjut dan menjadi-jadi setelah Papa, orang yang paling dicintainya pun berpaling mengantipati. Gadis itu berubah menjadi merpati liar. Narkoba dan dugem menjadi aplikasi kekecewaannya. Sampai suatu ketika pergaulan bebas tak dapat dihindarinya sehingga mencorengkan arang aib bagi keluarga. Dia tersuruk. Tak ada pilihan lain kecuali hengkang dengan menyimpan segumpal dendam yang membara.


"Ja-jangan pergi, Kak Kim So Eun!" Pinta Go Ah Ra

"Papa tidak menginginkanku lagi!"

"Suatu saat Papa pasti dapat memaafkan Kak Kim So Eun."

"Percuma kalau di matanya seorang Kim So Eun merupakan pencoreng dan perusak nama baik keluarga."

"Mama sudah berusaha membujuk Papa."

"Terima kasih untuk kebaikan kalian. Tapi, sedari dulu juga aku tidak pernah meminta bantuan kalian. Jadi...."

"Kak Kim So Eun...."

"Sudahlah, Go Ah Ra. Kalian hanya buang-buang waktu saja."


"Ta-tapi...."

"Aku memang pantas diusir. Aku bukan anak yang berbakti."

"Tapi, Aku dan Mama tidak ingin Kak Kim So Eun pergi. Kami sayang padamu!"

Tapi gadis itu tetap melangkah. Tangisan Mama dan adik tirinya sama sekali tidak menggugah hasratnya untuk meninggalkan rumahnya yang megah selaksana istana. Dihalaunya semua jeritan yang terdengar memilukan. Meski nuraninya terketuk atas kebaikan dan ketulusan kasih sayang dari orang-orang yang pernah dipermalukannya itu, namun bara di hatinya telah kepalang membakar. Dia benci semuanya termasuk kepada dirinya sendiri. Diayunkannya langkahnya secepat mungkin agar semuanya lekas berlalu.

Di luar seorang pemuda telah menantinya!

Bersambung…

Menanti Kim So Eun Pulang (Part 3)


Title : Menanti Kim So Eun Pulang
Author : Sweety Qliquers
Genre : Family
Episodes : 7 Part
Part 3 “Kami Mencintai Kak Kim So Eun!”
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 15 September 2010, 04.34 PM
Cast :
Kim So Eun
Go Ah Ra
Kim Ja Ok (So Eun’s Auntie)
Ryu Seung Ryong (So Eun’s Father)
Park Hae Mi (Ah Ra’s Mother)
Kang Shin Il (Ah Ra’s Father)
Lee Mi Sook (So Eun’s Mother)
Kim Ji Young (Ka.Rmh Tangga Kel.Kim So Eun)


Part 3
Kami Mencintai Kak Kim So Eun!


Semilir angin masih basah.

Masih terdengar lembut serangkaian lagu di gendang telinganya. Go Ah Ra menyandarkan kepalanya ke jok mobil ketika 'Cinta Jangan Kau Pergi'-nya Vidi Aldiano mengalun merdu dari frekuensi 102,2 FM di radio digital mobil. Dipejamkannya mata, takzim menyimak. Ada suara Kim Hyun Joong-Sang Penyiar meningkahi sebelum lagu tadi diputar di Prambors Seoul. Lagu masih mengalun syahdu. Tidak dia matikan sejak dari garasi rumah tadi.

Pandangannya lurus mengarah ke jalan. Aspal masih membasah, tampak licin seperti kulit seekor ular raksasa yang sedang terpulas. Di tengah jalan sana pula sesekali hanya terlihat sekelebat cahaya lampu dari beberapa kendaraan yang lalu-lalang. Malam ini semuanya seperti membeku. Hatinya giris (Ketakutan). Dingin angin malam masih menusuk-nusuk sampai ke tulang sumsumnya. Dia menggigil.

"Tapi, itu insiden, Pa!"

"Bukan insiden...."

"Tapi...."

"Bukan insiden kalau hal buruk yang dia lakukan itu merusak nama baik keluarga Ryu Seung Ryong. Papa benar-benar malu!" Sebuah penegasan yang membungkam sederet perbendaharaan kalimatnya.

"Ke-kenapa, kenapa, Pa?! Kenapa Papa ti-tidak dapat memaafkannya sampai sekarang?!"

"Papa maafkan dia sampai seribu kali pun tidak dapat mengubah keadaan. Nama baik Ryu Seung Ryong sudah kepalang hancur!"

"Papa! Sebegitu pentingkah nama baik keluarga sampai Papa tega mengusir dan tidak menganggap Kak Kim So Eun sebagai anak kandung Papa sendiri?!"

"Kau jangan membela anak tidak tahu diri itu!"


"Bagiku, seburuk-buruknya Kak Kim So Eun, tapi dia tetap saudaraku." Jawab Go Ah Ra tegas

"Tidak ada tempat di hati Papa untuk anak perusak nama baik keluarga!"

"Kak Kim So Eun tidak sejahat itu, Pa. Kak Kim So Eun cuma khilaf!"

"Papa tidak dapat lagi mengetahui dan memilah perbuatannya. Apakah itu jahat atau tidak kalau terhadap ibunya sendiri dia tega..."

"Tapi, Mama sendiri sedari dulu sudah memaafkannya."

"Mamamu terlalu baik."

"Kak Kim So Eun masih belum dapat menerima Mama dan Aku pada waktu itu, Pa. Kak Kim So Eun sama sekali tidak bermaksud jahat. Itu hanya persoalan personal jealous. Seandainya Aku adalah Kak Kim So Eun, mungkin aku juga akan berbuat seperti yang dilakukan oleh Kak Kim So Eun."

"Lalu, apa perbuatan memalukannya itu juga bukan...."

"Pa-Papa...!"

"Hah, karma apa Papa hingga...."

Kepala Go Ah Ra masih menyandar di jok mobil. Matanya terpejam. Dia terisak, membiarkan butiran-butiran bening itu mengaliri pipinya dengan hangat.

Bersambung…

Menanti Kim So Eun Pulang (Part 2)


Title : Menanti Kim So Eun Pulang
Author : Sweety Qliquers
Genre : Family
Episodes : 7 Part
Part 2 “Jangan Pergi, Kak Kim So Eun”
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 15 September 2010, 04.34 PM
Cast :
Kim So Eun
Go Ah Ra
Kim Ja Ok (So Eun’s Auntie)
Ryu Seung Ryong (So Eun’s Father)
Park Hae Mi (Ah Ra’s Mother)
Kang Shin Il (Ah Ra’s Father-almarhum)
Lee Mi Sook (So Eun’s Mother)


Part 2
Jangan Pergi, Kak Kim So Eun


Dihentikannya laju mobil. Daerah Bougenville tampak lengang ketika dia menepikan mobil di bahu jalan. Metropolitan seolah lelap dibuai angin. Gedung-gedung pencakar langit di sana tampak tertidur dengan penerangan yang temaram. Sesaat disandarkannya pelan kepalanya di atas kemudi mobil. Dibiarkannya semilir angin basah membasuh wajahnya lewat kaca jendela yang sedari tadi dibiarkan terbuka setengah. Udara masih menyisakan partikel-partikel air. Sesekali terdengar tirisan air hujan dari rerimbunan pohon di tepi jalan yang menerpa atap mobil. Sebagian menerpa kaca mobil dengan irama yang teratur.

Seoul masih membasah ketika dia melajukan mobilnya secepat kilat tadi. Diikutinya suara hati tanpa tujuan, dan berhenti setelah tangisannya meledak. Dia lelah menanti.

Dua tahun lalu dia berpikir hari-harinya akan berbunga. Mama telah menemukan kebahagiaannya sendiri. Takdir seolah mempertemukannya kembali dengan lelaki sahabat semasa remajanya dulu. Lelaki yang bernama Ryu Seung Ryong itu mempersuntingnya. Sekian belas tahun sejak kematian ayah kandungnya, sungguh, dia tidak pernah dapat merasakan lagi kasih sayang seorang ayah. Kebahagiaan itu pun membuncah ketika dia mengetahui akan memiliki seorang kakak. Seorang kakak perempuan yang akan mengawal dan membimbingnya menjalani hari-harinya yang panjang.


Sebagai putri tunggal dari Park Hae Mi dan almarhum Kang Shin Il, memiliki seorang kakak perempuan merupakan karunia Ilahi yang tak terhingga.

Sekelebat kenangan silam itu mendengung di kepalanya. Ada ultimatum dari gadis ringkih itu sebelum segalanya lantak. Bara dalam sekam itu telah menjadi api, membakar dan menghanguskan semua impian yang telah dibangunnya selama itu.

"Papa kejam!"

"Papa melakukan hal itu karena Papa sayang pada Kak Kim So Eun."

"Tidak! Tidak, Go Ah Ra! Papa tidak adil! Papa tidak pernah adil!"

Satu lagi helaan napas panjang ketika rangkaian kisah berulang dalam alur yang sama. Selalu saja begitu. Padahal, dia ingin gadis itu hadir seutuhnya dalam keluarga mereka. Hadir sebagai saudara, mengisi kekosongan hari-harinya yang lalu. Namun semua impiannya hanya menjelma menjadi kenangan maya ketika gadis itu tetap bersikeras dengan keputusannya. Tidak pernah menganggap dia dan Mama masuk sebagai bagian dari kehidupannya yang baru.


Dua tahun berlalu dengan cepat. Menanti gadis itu pulang hanyalah usaha yang sia-sia. Namun dia masih saja tetap menanti.

"Papa tidak mau punya anak durhaka seperti dia!"

"Papa tidak dapat menghukumnya seberat itu."

"Hukuman itu belum setimpal dengan tindakan keterlaluan yang telah dia lakukan!"

"Kak Kim So Eun putri kandung Papa!"

"Papa lebih baik tidak punya anak seumur hidup ketimbang harus menanggung malu!"

"Ta-tapi...."


"Papa yang salah. Papa tidak dapat mendidiknya dengan baik"

"Tapi...."

"Sejak Lee Mi Sook meninggal tiga tahun lalu, dia berubah drastis. Papa tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk mendidik anak kurang ajar itu. Ah, seandainya saja kanker itu...."

"Mama Lee Mi Sook sudah tenang di alam sana, Pa."


"Tapi, dia pasti akan sangat sedih bila melihat putri tunggalnya."

"Mama Lee Mi Sook akan jauh lebih sedih jika mengetahui Papa tidak pernah mau memafkan Kak Kim So Eun!"

"Ah seandainya saja Lee Mi Sook masih hidup, tentu dia dapat mendidik dan mengawasi anak itu. Dia terlalu manja sehingga...."

Bersambung…

Menanti Kim So Eun Pulang (Part 1)


Title : Menanti Kim So Eun Pulang
Author : Sweety Qliquers
Genre : Family
Episodes : 7 Part
Part 1 “Menanti Kim So Eun Pulang”
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 15 September 2010, 04.34 PM
Cast :
Kim So Eun
Go Ah Ra
Kim Ja Ok (So Eun’s Auntie)
Ryu Seung Ryong (So Eun’s Father)
Park Hae Mi (Ah Ra’s Mother)
Kang Shin Il (Ah Ra’s Father-almarhum)
Lee Mi Sook (So Eun’s Mother)


Menanti Kim So Eun Pulang
Created By Sweety Qliquers


Part 1
Menanti Kim So Eun Pulang

"Cinta dan kasih sayang bukanlah semata diturunkan dari langit,
namun ia diciptakan oleh hati yang putih dan murni."
(Sweety Qliquers)


Prolog
Hai, namaku Kim So Eun. Aku lahir di dalam keluarga yang terbilang cukup segala-galanya. Dan pada mulanya keluarga kami utuh serta bahagia, namun Tuhan berkehendak lain saat Ia memanggil Mama lewat penyakit kanker yang dideritanya. Beberapa saat setelah Mama meninggal, Papa memutuskan menikah dengan perempuan lain, serta memboyong putri tunggalnya, Go Ah Ra. Itulah ihwal lantaknya hubunganku dengan Papa. Pada saat itulah Aku merasakan dunia ini tidak indah lagi. Dunia remaja yang penuh dengan bunga kini berubah menjadi neraka. Yang ada hanya pertengkaran dan pertengkaran. Aku tidak dapat menerima kehadiran ibu baru dan adik baru dalam keluarga kami.

Bagiku, ibu tiri adalah Seorang penguasa yang sewenang-wenang kepada bawahannya. Namun benarkah demikian?! Bahwa penderitaan itu selalu bermuasal dari orang lain?! Sungguh aku tidak tahu. Yang pasti, pertengkaran itu telah membuat kami begitu menderita. Aku, setelah lari dari keluarga kami, tinggal serumah dengan Tante Kim Ja Ok, adik almarhumah Mama di luar kota. Namun sayang, pergaulan bebas membuatku terpuruk dan hal itu menambah penderitaanku. Ya, Allah! Aku memang telah bergelimang dosa. Lalu Aku kembali ke rumah Papa setelah menyadari satu hal bahwa, cinta dan kasih sayang bukanlah semata-mata diturunkan dari langit, namun ia diciptakan oleh hati yang putih dan murni.

Ya, hati yang putih dan murni!
***


Tentang Go Ah Ra
Tak ada yang pernah tahu bagaimana getir kenangan itu.

Dibiarkannya airmata menitik setiap hal itu melintas mendadak dalam benaknya.

Dan tetap berharap, Kim So Eun akan datang dengan kedua tangan terpentang, lari ke arahnya lantas memeluknya.

Namun buliran waktu yang berdetak melalui himpunan detik seolah enggan menyapa. Hari demi hari. Bulan demi bulan. Semuanya berlalu tanpa terasa. Sudah dua tahun. Gadis itu tidak pernah datang. Menyimpan api dendam yang entah sampai kapan dapat padam.

Gadis itu baru juga genap tujuh belas tahun.

Beban hukuman yang disanksikan Papa semestinya belum pantas dipikulnya.

Dia sama sekali tidak sadar apa yang telah dilakukannya. Kehilangan orang yang sangat disayanginya memang telah melimbungkannya dalam lara berkepanjangan. Dia pun belum dapat menerima kasih sayang dari orang lain. Terlebih-lebih menyaksikan sepotong kasih dari Papa telah terbagi. Bukan lagi semata-mata untuknya!

Dia lari dengan membawa segumpal dendam. Terpuruk ke dalam kekhilafan yang tidak dapat dimaafkan. Tidak ada tempat lagi baginya untuk berpijak di dalam keluarganya sendiri, meski dia terlahir dari darah dan daging lelaki separuh baya panutannya itu.

Dua tahun gadis itu menghilang. Pusaran waktu seolah menelannya. Dan tidak pernah memunculkannya kembali menyusuri kehidupan baru yang selama ini menjadi impiannya.
Lalu, ketika dia datang....

Bersambung…

Selasa, 07 September 2010

Jodoh Dari Amerika (Part 2)

glitter-graphics.com

Title : Jodoh Dari Amerika
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance, Comedy
Episodes : 7 Part
Part 2 “Aku Ikhlas, Kim Bum!”
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 14 Januari 2010, 04.24 PM
Cast :
Kim Bum
Kim So Eun
Yunho’TVXQ


Jodoh Dari Amerika
Created By Sweety Qliquers

Part 2
Aku Ikhlas, Kim Bum!


Kim So Eun termenung di kamarnya.

Uh! Betapa jahatnya Kim Bum itu, gumamnya dengan sedih. Dia memutuskan cinta kami yang indah.

Oh... alangkah kejamnya!

Tanpa ucapan sayang pula dia pergi!

Kenapa?!

Kenapa dulu tak terpikir olehnya kalau dia dan Kim Bum akan secepat ini berpisah?

Selintas kenangan manis kembali bermain di benaknya. Ada memori biru yang terkuak mengesankan. Tentang ihwal pertemuan yang menyatukan dua hati pada akhirnya. Yang mengisi hari-hari nan panjang dengan serangkai cerita indah. Yang mengisi tidur malam dengan mimpi-mimpi penuh bunga. Yang....

"Kim Bum!"

Dengan lucu, tanpa sengaja serupa menggumam, Kim So Eun mengeja nama di badge seragam SMP si pemuda.

"Ya?" Cowok itu menatap Kim So Eun dengan serius. Rupanya dia mendengar desisan itu. "Kau memanggilku?"

"A-apa?" Kim So Eun gelagapan menerima tatapan pemuda itu. "Aku...."

"Kau memanggil namaku. Ada apa?"

Suaranya begitu lembut.

Kim So Eun jadi salah tingkah.

Apalagi tatapan matanya begitu tajam.

Dan, oh... Eyang!

Begitu tampan wajah makhluk berjenis kelamin laki-laki itu!

Matanya yang coklat, dan wajahnya yang masih kekanakan itu serasa merubuhkan jantung di dadanya!

"Kau... namamu bagus!" Akhirnya, daripada salah tingkah ditatap terus, Kim So Eun menjawab juga.

"Oh... itu!" pemuda itu tersenyum. "Mamaku yang memberi nama."


"Oya?" Mata indah Kim So Eun membulat. Tanda dia amat tertarik. Entah oleh nama itu, entah pula oleh si Empunya nama itu.

"Ya." Sahut pemuda itu sambil tersenyum.

"Bagus sekali!" Kim So Eun tertawa gembira.

Pemuda itu hanya membalas dengan senyuman. Duh, betapa manisnya!

Kim So Eun tersipu mengenalkan dirinya. "Namaku Kim So Eun!"

"Nama yang bagus dan cantik." Pemuda itu tersenyum kembali, menyambut. Bibirnya bagus dan tipis. Wajahnya jauh lebih bersinar.

"Terima kasih," Kim So Eun tertunduk dengan wajah memerah.

"Persis seperti yang punya nama."

"A-apa?!"

Tapi pemuda itu terlanjur pergi. Masih sempat Kim So Eun melihat bayangannya di antara kerumunan para pengunjung book-fair. Kim So Eun mendesah kecewa. Dia belum sempat menanyakan pemuda itu anak SMP mana? Dan Kim So Eun juga belum sempat bercerita kalau dia siswi SMP Kangsan.

Bersambung…

Jodoh Dari Amerika (Part 1)

glitter-graphics.com

Title : Jodoh Dari Amerika
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance, Comedy
Episodes : 7 Part
Part 1 “Jodoh Untuk Kim Bum”
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 14 Januari 2010, 04.24 PM
Cast :
Kim Bum
Kim So Eun
Yunho`TVXQ


Jodoh Dari Amerika
Created By Sweety Qliquers

Part 1
Jodoh Untuk Kim Bum


Jodoh dari Amerika itu dalam bayangan Kim Bum pasti cantik serta berwajah indo. Setiap hari Kim Bum mulai sibuk bertanya-tanya dan membayangkan wajahnya.

"Kim So Eun...!" Kim Bum membujuk. Suaranya mendadak serak.

"Psstt... sudahlah!"

"Dengarkan penjelasanku!"

"Who care?"

"Tapi kau perlu tahu!"

"Aku sudah tahu!" Kim So Eun mendelik ke arah Kim Bum dengan tampang dibuat sejudes mungkin. "Tapi aku kecewa sekali padamu, Kim Bum! Kenapa cerita ini justru aku dengar dari mulut Yunho . Bukannya dari kau. Apa kau merasa tidak perlu memberitahu ini padaku?"

"No, bukan begitu, Kim So Eun!" Kim Bum menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Aku... belum saatnya kuberi tahu!"

"Atau kau takut aku akan bunuh diri begitu mendengar pengakuanmu?" Kim So Eun mencibir kesal. "Tidak akan!"

"Tidak!" Kim Bum cepat menggeleng. Wajahnya yang tampan dan berkesan kekanakan itu sedikit memucat demi mendengar kata 'bunuh diri'.

"Aku tahu, apalah artiku bagimu. Kehilangan seorang Kim Bum tidak akan sampai membuatmu down. Aku tahu itu. Jangan kata sampai bunuh diri, mengurangi nafsu makanmu saja, itu tidak mungkin kan?"

"Aku tidak suka pembicaraan seperti itu, Kim Bum!" Tiba-tiba Kim So Eun membuang muka. "Ini karena kau juga, kan?"

Kim Bum terdiam. Seperti menyimak dalam sesal.

"Aku juga tidak menyangka jika hubungan cinta kita sependek ini umurnya." Kim So Eun menekan dalam kesedihan hatinya. "Hanya enam bulan, Kim Bum!"

"Ya, enam bulan. Lebih pendek dari umur tikus di got!" Kim Bum mengangguk-angguk, mencoba mencairkan kebekuan dengan mengurai kalimat lucu.


"Jangan bercanda lagi!" Kim So Eun menahan tangisnya. "Kau pasti bahagia!"

"Jangan bicara seperti itu, Kim So Eun," Kim Bum menangkap tangan Kim So Eun. "Aku mencintaimu, sungguh!"

"Tapi kau akhirnya meninggalkan aku juga, kan?" Kali ini Kim So Eun merasa matanya kian memanas. "Itu yang kau ceritakan pada Yunho, kan? Kau akan memutuskan cinta kita. Kau bingung bagaimana agar aku tidak sedih, dan bisa menerimanya dengan lapang dada." Kim So Eun hampir terisak. "Apa kau pikir hatiku seluas samudera sehingga aku tidak sakit hati, heh?"

"Kim So Eun, tenanglah!" Kim Bum meremas-remas tangan Kim So Eun. "Aku juga tidak ingin meninggalkanmu. Aku...."

"Itu tidak mungkin," Kim So Eun menggeleng. "Adat, tradisi, budaya, dan kesepakatan keluargamu telah mengharuskan begitu. Kau harus menikah dengan saudara sepupu perempuanmu. Iya, kan?"

"Ya...." Kim Bum mengangguk pelan.

"Dan melanggar keharusan itu berarti durhaka, kualat, dan membuat marah leluhurmu. Iya, kan?"

"Ya...." Kim Bum mengangguk lagi.

"Dan kini, kita putus karena kau harus bersama sepupumu itu. Iya, kan?"

"Ya." Kim Bum kian mengangguk. Tapi kali ini dia amat sedih.

"Ya, yah!" Kim So Eun menarik napasnya. "Kau memang harus bersama sepupumu. Hanya saja, kenapa dulu kau katakan kalau kau tidak punya sepupu perempuan?!"

"Aku...?" Wajah tampan Kim Bum memias.

"Kau jahat!" Kim So Eun menarik tangannya dari genggaman Kim Bum. "Kau sengaja ingin menyakitiku. Kau pura-pura suka padaku. Setelah itu kau campakkan aku dengan dalih kau sudah punya seseorang yang dijodohkan untukmu dan...."

"Kim So Eun!" Kim Bum bangkit dari duduknya dan memeluk bahu Kim So Eun. "Jangan bicara seperti itu! Jangan!" Kim Bum hampir menangis. "Aku tidak akan meninggalkanmu. Percayalah!"

"Jangan berkata seperti itu," Kim So Eun menyeka airmatanya. "Sungguh, aku rela. Yang penting kau bahagia dan tetap punya telinga dua buah!"

Kim So Eun bangkit.


"Rasanya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Kim Bum!" tegasnya.

"Kim So Eun...." Kim Bum mencoba mencegah Kim So Eun.

"Kau mau mengatakan apa?" Kim So Eun membalikkan badannya dan menatap Kim Bum dengan sendu.

"Aku...." Kim Bum menelan ludahnya.

"Apa?" Mata Kim So Eun memohon. Katakan sayang sebelum kau pergi, mohonnya pula dalam hati.

"Aku antar, ya?"

"Tidak perlu!" Kim So Eun melangkah pergi. "Aku ingin terbiasa dengan keadaan ini. Terbiasa sendiri. Toh, besok atau lusa tak ada lagi kau yang...."

"Tapi sekali ini izinkanlah, Kim So Eun!"

"Tidak perlu!"

Kim So Eun bangkit.

Kim Bum menggeleng gusar. Diperhatikannya saja langkah Kim So Eun yang diayunkan dengan cepat.

Bersambung…

Lantai 4 (Part 1)

glitter-graphics.com

Title : Lantai 4
Author : Sweety Qliquers
Genre : Mystery
Episodes : 5 Part
Part 1 “Teman Berbagi Cerita”
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 07 September 2010, 10.45 AM
Cast :
Son Dam Bi
Kim So Eun
Peter Ho (Dam Bi’s Husband)

Lantai 4
Created By Sweety Qliquers

Part 1
Teman Berbagi Cerita


..."Suara-suara dari lantai empat itu sungguh mengerikan. Benarkah itu hanya suara orang yang sedang latihan drama?"...

Kami bertemu secara kebetulan pagi itu: Aku dan Kim So Eun. Di pintu Mini Apartment kami yang sempit. Hujan turun rintik-rintik.

“Ow. Shit,” katanya menghela napas.

Aku tertawa dalam hati. Di negeri ini, hujan bisa turun kapan saja, sesuka hati. Bahkan, semenit setelah matahari bersinar terang benderang, ia bisa turun dengan lebatnya. Tanpa tanda-tanda. Aku mulai terbiasa dengan hal itu dan siap menenteng payung yang besar dan bergagang kokoh ke mana pun aku pergi.

“Aku harus lari lagi ke lantai empat!” keluhnya.

“Kau mau ke mana?”

“Bougenville.”

“Hei. Ayolah. Kita bisa pakai payung ini berdua.”

Ia melongo dan tertawa.

“Kita?”

Tawaran berbagi payung dari orang yang baru Kau kenal, memang jarang terjadi. Aku pun tidak biasa melakukan hal itu. Tapi, berhubung jarak Mini Apartment kami dan Bougenville hanya lima menit berjalan kaki, dan aku pun sedang menuju ke supermarket itu, apa salahnya?

“Ya. Kenapa tidak.”

“Aha. Terima kasih. Terima kasih.”

Dan kami berjalan bersisian.

“Kita baru kali ini berjumpa, bukan? Kau penghuni baru di Mini Apartment ini?”

“Ya. Ya. Kami baru tinggal di sini lima bulan….”

“Oh, sudah lama juga. Di lantai berapa?”

“Dua.”

“By the way, Aku Kim So Eun.”

“Aku Son Dam Bi.”

Mini Apartment kami berlantai empat. Letaknya di timur kota Seoul. Suamiku, Peter Ho, sedang ditempatkan di kota ini untuk jangka waktu dua tahun. Peter Ho seorang arsitek dan sebuah proyek mengundangnya ke sini.

Malam itu aku sedang merebus spaghetti. Dalam kesendirian, lamat-lamat aku dengar lagi bunyi-bunyi itu. Aku sudah mendengarnya beberapa kali. Bunyi yang sama: agak jauh rasanya, tapi cukup jelas gemanya. Sesuatu seperti… hmmm... kursi berderit-derit. Lalu tembok yang ditinju. Lalu orang bercakap-cakap dengan suara keras, cukup jelas iramanya, tapi sulit aku cerna kata-katanya. Aku dan Peter Ho pernah mendiskusikan hal ini. Peter Ho menebak, suara itu di lantai empat.

Hmmm. Lantai Kim So Eun. Ada dua pintu seingatku di sana. Berarti ada dua unit. Kalau nanti aku bertemu Kim So Eun lagi, akan aku tanyakan padanya.

Saya bertemu lagi dengan Kim So Eun di pagi hari. Waktu itu aku sedang jogging dan ia berjalan dari arah berlawanan.


“Kim So Eun,” sapaku dari jarak tiga puluh senti darinya.

“Oh. Eh. Pagi, Son Dam Bi,” katanya seperti tersadar dari lamunan panjang.

“Hai,” aku tersenyum. “Belanja apa?”"

“Oh…,” dipandangnya plastik yang ia bawa. “Susu. Untuk kopi. Aku selalu minum kopi di pagi hari. Kau?”

“Aku lebih suka teh daripada kopi. Kapan-kapan kita bisa minum teh sama-sama kalau kau tidak sibuk.”

Kim So Eun menatapku. Aku bisa membaca keragu-raguannya. Lalu….

“Aku tidak pernah sibuk.”

“Ayolah, mampir,” kataku ketika kami tiba di pintu Mini Apartment. “Temani aku sarapan.”

“Mmm,” ia tersenyum sedikit.

“Ayolah. Saya punya Kopi susu hangat. Punya Blackforest. Aku bisa buatkan kau telur dadar, kalau mau.…”

“Are you sure?” tanyanya lagi.

Aku mengangguk.

“Aku ambil cookies dan akan segera ke tempatmu. Lantai dua, ya.”

“Ya. Sebelah kanan lift.”

Sejak pagi itu, Kim So Eun sering mampir berkunjung ke tempatku. Aku sungguh gembira mendapatkan teman baru. Terlebih lagi, kami mempunyai beberapa kegemaran yang serupa. Sama-sama suka memotret. Sama-sama senang masak. Sama-sama membaca cerita detektif.

Hal lain yang membuatku gembira adalah Kim So Eun punya banyak cerita. Ia sudah berkelana ke mana-mana: India, Nepal, Brazil, Ghana, China, Montreal. Seluruh belahan bumi. Aku selalu terkesima mendengar pengalamannya di masing-masing negara. Yang paling menakjubkan adalah bagaimana ia memaparkan apa yang ia makan di tiap sisi dunia.

“India. Nomor satu India, Son Dam Bi. Itu favoritku.”

“Mereka makan kari, bukan? Dengan santan dan cabai pedas?”

“Hmmm. Itu hanya satu pilihan. Tapi, coba kau bayangkan nikmatnya memakan roti nan sambil mencelupkannya beberapa kali pada bumbu kari? Dan sedikit daging? Hmmm….” Ia memejamkan mata.

Aku menatapnya tak berkedip. Enak betul roti dan kari itu. Enak betul jadi Kim So Eun.

“Kau sudah pernah ke mana di dunia ini?” tanyanya.

Rasanya wajahku merah seketika. Seoul adalah kota pertama yang pernah aku injak, di luar tanah air.


“Aku baru kali ini meninggalkan negaraku.”

“Ah, ah,” ia tersenyum menggoda. “Bagaimana mungkin?”

“Begitulah. Aku anak sulung. Ayahku meninggal ketika usiaku tiga tahun. Selebihnya, aku hidup dengan ibu dan adikku. Aku tak pernah meninggalkan mereka, jika tidak penting sekali. Baru setelah aku menikah dengan Peter Ho.”

“Oh…,” katanya.

Barangkali sulit ia pahami, hubungan antara ‘statusku sebagai anak sulung’ dengan ‘tidak ke luar negeri’. Aku pun bingung menjelaskannya. Tapi, itu sungguh terjadi: keterikatanku yang teramat besar dengan ibu dan adik-adikku, membuatku gelisah jika mereka tak ada.

“Kau selalu pergi sendirian, Kim So Eun? Dengan teman? Atau dengan ibu?”

“Dengan teman. Ibuku meninggal ketika aku remaja. Lima belas-enam belas... sekitar usia itu.

Kim So Eun pun pernah bercerita bahwa ia sudah menjalani berbagai profesi. Guru musik. Juru rawat. Dan terakhir, sebagai penyiar radio. Ia bisa bernyanyi dan bermain piano. Asal tahu saja, itu cita-citaku sejak taman kanak-kanak. Bernyanyi sambil memainkan piano. Tapi, bakat musik tak ada dalam darahku. Main piano aku tak sabar. Menyanyi? Mmm, tidak. Suaraku tak lebih merdu dari derit pintu.

“Waktu Aku jadi penyiar radio, aku sempat memegang dua jenis musik. Klasik dan jazz. Asal kau tahu, aku buta musik klasik. Tak bisa membedakan mana Mozart mana Beethoven. Ketika satu lagu selesai terputar, aku bacakan semua komentar tentang Mozart dari artikel di majalah. Lengkap dengan bumbu-bumbu sekadarnya. Lima menit kemudian, ada telepon ke studio, memberi tahu: komposisi tadi karya Beethoven. Malunya!”

Aku tergelak-gelak.

Bersambung…