Silahkan Mencari !!!

Info!!!

kelanjutan fan fiction & recap drama semua ada di blog q yang baru
fanfic : www.ff-lovers86.blogspot.com
recap : www.korea-recaps86.blogspot.com
terima kasih...
Tampilkan postingan dengan label Gook Ji Yun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gook Ji Yun. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Agustus 2010

30 Years, It's Just Too Early

Title : 30 Years, It's Just Too Early
Author : Sweety Qliquers
Genre : Earth, Romance, Friendship
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 1 Agustus 2010, 11.11 AM
Cast :
Goo Hye Sun
Lee Min Ho
Gook Ji Yun (Hye Sun’s Friend)
Kim Hyun Joong (Hye Sun’s Friend)
Han Hyo Joo (Hye Sun’s Friend)



30 Years, It's Just Too Early
Created By Sweety Qliquers
(Samarinda, Kamis <> 010810, 111AM)


"Diperkirakan 30 tahun dari sekarang, bumi dikhawatirkan akan mengalami kehancuran."

Begitulah kutipan kalimat dalam sebuah artikel suratkabar yang dibaca Goo Hye Sun. Ditutupnya koran yang ia pegang kemudian ia mengkalkulasikan umurnya saat ini dengan perkiraan waktu bumi akan hancur.

"Berarti ketika aku berumur 47 tahun! Haaaaaaaaahhh?!" jerit Goo Hye Sun histeris, membuat Bunda yang melintas di depannya terkejut melihat putrinya menjerit heboh.

"Ada apa, Goo Hye Sun?" tanya Bunda bingung.

Goo Hye Sun teringat langkah pencegahan global warming dari artikel yang baru dibacanya. "Mulai besok aku mau ke sekolah naik sepeda saja, Bun," kata Goo Hye Sun.


"Sepedanya kan dibawa Kak Hyun Bin ke Busan," timpal Bunda.

"Bukan sepeda motor, Bun. Tapi sepeda ontel yang sudah lama tidak pernah dipakai itu," terang Goo Hye Sun.

"Hah?" Bunda terkejut dengan penjelasan Goo Hye Sun yang terdengar agak aneh itu.

"Sekolahmu kan lumayan jauh, Goo Hye Sun. Apa nanti kau tidak terlambat datangnya?" tanya Bunda, masih tidak mengerti maksud di balik rencana putrinya itu.

"Aku kan bisa berangkat lebih pagi, sekalian olahraga, Bun. Lagipula, aku pernah baca di koran, Pemkot saja udah mencanangkan Bike to Work. Kenapa aku tidak Bike to School? Demi kelangsungan bumi kita tercinta, Bunda." Goo Hye Sun mengakhiri perkataannya sambil tersenyum, Bunda pun dibuat amazed akan jawaban Goo Hye Sun. Beliau kagum putrinya concern juga masalah kondisi bumi yang semakin gawat ini.

***

Esoknya di sekolah.

Goo Hye Sun sudah menjadi pusat perhatian sejak ia mulai mengayuh sepedanya melewati pintu gerbang sekolahnya, bahkan satpam penjaga gerbang saja sampai tercengang.

"Goo Hye Sun?" sebuah suara menyapa Goo Hye Sun yang sedang mengunci sepeda ontelnya di tempat parkir motor.

"Hai, Lee Min Ho," sapa Goo Hye Sun, degup jantungnya mendadak semakin cepat. Diam-diam ia naksir sang Ketua Kelas di hadapannya ini.

"Kau naik sepeda ke sekolah?" tanya Lee Min Ho sambil melirik sepeda yang masih tampak mulus di samping Goo Hye Sun.

Goo Hye Sun mengangguk. "Aku tidak mau mati muda, Lee Min Ho" jawab Goo Hye Sun sambil berlalu, meninggalkan Lee Min Ho yang masih belum menangkap maksud jawaban Goo Hye Sun.


Lee Min Ho pun mengejar Goo Hye Sun yang melenggang masuk ke dalam sekolah.

"Maksudmu? Kau tidak sedang mengidap penyakit parah, kan?" tanya Lee Min Ho setengah khawatir.

"Tentu saja tidak, Lee Min Ho. Ini cuma supaya bumi kita tidak cepat hancur, aku baca di koran prediksinya 30 tahun dari sekarang. Masih banyak yang mau aku lakukan, masih pengen keliling dunia. Aduh, pokoknya mati umur 47 masih terlalu muda!" Goo Hye Sun berseru histeris.

Lee Min Ho pun dibuat terdiam akan jawaban Goo Hye Sun yang polos itu. Selama ini ia tidak pernah notice hal-hal tentang global warming meski media juga tengah gencar menyiarkan. Tapi, penjelesan sederhana dari cewek yang selama ini ia kagumi ini ternyata mampu menyadarkannya tentang seberapa gawat keadaan bumi sekarang.

30 tahun? Aku juga masih ingin hidup di umur 47 tahun, batin Lee Min Ho.

"Goo Hye Sun, kau kan Ketua Osis. Kenapa tidak membuat program saja untuk menyelamatkan bumi? Kalau tidak salah kan Pemkot bikin Bike to Work, kita buat saja Bike to School." Lee Min Ho mengusulkan.

Gosh, Lee Min Ho. Kenapa kita bisa berpikiran sama sih? batin Goo Hye Sun.

"Boleh. I've been thinking about that actually. Makasih ya usulnya," kata Goo Hye Sun sambil tersenyum manis. Membuat jantung Lee Min Ho berdebar kencang saat melihatnya.


"Goo Hye Sun, aku denger kau naik sepeda ke sekolah," todong Kim Hyun Joong, salah satu sahabat Goo Hye Sun.

Bel istirahat berdering, para siswa SMA Shinhwa berhamburan menuju kantin sekolah yang mungil tapi punya tempat makan favorit siswa yang nyaman karena outdoor di area taman. Tidak terkecuali Goo Hye Sun dan ketiga sahabatnya.

"Iya, memang kenapa?" tanya Goo Hye Sun sambil menyeruput es jeruk nipis kesukaannya kala matahari sedang terik-teriknya seperti sekarang.


"Apa kata anak-anak nanti, Goo Hye Sun. Masa Ketua Osis naik sepeda? Memangnya Papamu sudah tidak mau mengantarmu lagi?" tanya Gook Ji Yun yang selalu mementingkan image di depan orang lain.

"Kalau aku cuek saja, Goo Hye Sun. Tidak usah perduli apa kata orang! Di Seoul, orang yang nekat sepertimu itu jarang sekali. Teruskan saja, Goo Hye Sun. Besok aku juga naik sepeda ke sekolah." Berbeda dengan pendapat kedua temannya yang lain, Han Hyo Joo yang asli Seoul malah mendukung Goo Hye Sun.

Goo Hye Sun pun menceritakan tentang artikel yang dibacanya kemarin. "Kalian tidak harus mengikuti caraku kok, kalian boleh ke sekolah naik apa saja sesuka kalian. Tapi usahakan jangan membuat polusi semakin meningkat," lanjut Goo Hye Sun.

"Oh begitu ya, Goo Hye Sun. Kemarin aku juga baca artikel seperti itu juga. mengerikan memang membayangkan kalau bumi kita hancur dalam waktu dekat," sahut Kim Hyun Joong.

"Berarti kita mati muda dong?! NO...!" seru Gook Ji Yun heboh. "Aku kan masih pengen jadi bintang film di Hollywood.Kalo 30 tahun lagi bumi sudah hancur, aku tidak bisa ke Hollywood dong!"


"Ya sudah, besok kau berangkat ke sekolah naik bis saja, Gook Ji Yun," kata Han Hyo Joo asal, membuahkan tawa yang mendengarnya. Naik angkutan umum adalah hal yang paling tidak mungkin Gook Ji Yun lakukan. Pikiran-pikiran parno mengenai bis pun langsung menyergapnya. Gook Ji Yun pun memandang Goo Hye Sun, minta pertolongan.

"Kalo tidak mau naik bis ya naik sepeda saja, Gook Ji Yun," usul Goo Hye Sun yang malah membuahkan tawa yang semakin keras dari teman-temannya. Membayangkan Gook Ji Yun mengayuh sepeda bakal sama seperti membayangkan betapa lucunya seorang putri manja yang naik sepeda ontel ke sekolah.

"Atau kau bisa bareng denganku ke sekolah, Gook Ji Yun. Memang sih mobilku tidak senyaman Mercedez-mu. Apalagi aku barengan dengan dua adikku yang masih SD, tapi masih ada tempat kosong kalau kau mau nebeng. Bagaimana?" Kim Hyun Joong memberi usul yang kali ini masih agak masuk akal.


"Iya, Gook Ji Yun. Rumah kalian kan sekomplek, barengan saja kan lebih efisien," timpal Goo Hye Sun.

Gook Ji Yun pun mengiyakan. "Ini semua demi mimpiku ke Hollywood," kata Gook Ji Yun menerawang. Goo Hye Sun, Kim Hyun Joong dan Han Hyo Joo pun tertawa terbahak melihat tingkah temannya ini.

***

Esok paginya di sekolah.


Ketika sedang antri untuk memarkirkan sepedanya, Goo Hye Sun dibarengi seorang cowok yang juga naik sepeda ontel ke sekolah. Saat menoleh ke samping, ternyata cowok itu adalah Lee Min Ho.

"Lee Min Ho? Kau...." tanya Goo Hye Sun takjub, tak menyangka Lee Min Ho yang tampak berwibawa ini akan mengikuti jejaknya.

"Aku juga tidak mau mati muda. Still have lots of things to do," jawab Lee Min Ho sembari tersenyum.

Goo Hye Sun dan Lee Min Ho pun memarkirkan sepedanya bersebelahan, hal itu tanpa mereka sadari menarik perhatian Han Hyo Joo yang tengah melintas usai memarkirkan sepedanya tepat di depan mereka.

"Aduh, romatis sekali! Sepedanya sampai diparkir bersebelahan begitu," goda Han Hyo Joo sambil melenggang pergi.

Goo Hye Sun pun jadi blushing mendengarnya, ia lihat Lee Min Ho juga tampak bingung menyembunyikan wajahnya yang merona.

30 years is just too early for God's sake!



TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.korealovers-86.blogspot.com

Jumat, 23 Juli 2010

Happy B'Day Cinta

Title : Happy B`Day Cinta
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance 18+, Friendship, Love In High School
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : 20 July 2010, 0336 AM
Cast :
Goo Hye Sun as Geum Jan Di
Lee Min Ho as Goo Jun Pyo
Lee Min Jung as Ha Jae Kyung
Lee Hye Young as Kang Hee Soo (Jun Pyo’s Mother)
Gook Ji Yun (Cameo)
Kim Young Ok (Ka.Rumah Tangga)



Sinopsis
Incheon kala itu masih menyimpan kenangan manis. Mungkin hal tersebut merupakan euforia cinta masa remajanya. Jun Pyo yang merupakan kakak kelasnya suatu ketika mengungkapkan isi hatinya pada seorang gadis bernama Geum Jan Di. Namun sayang, kenangan indah cinta mereka tak berlangsung lama. Jan Di yang tulus mencintai Jun Pyo, dan Jun Pyo yang ternyata hanya menomorduakan cinta mereka di bawah prioritas sekolah dan orangtuanya.

Sebenarnya Jun Pyo pun mencintai Jan Di, tapi karena ia tidak mau dianggap anak yang tidak berbakti, Jun Pyo menuruti semua perintah kedua orang tuanya. Ia meminta Jan Di untuk backstreet dan menurutnya itu adalah solusi paling tepat untuk mengakali hubungan mereka yang jelas-jelas ditentang kedua orang tua Jun Pyo. Jan Di tidak mau main-main dengan cinta mereka! Ia tidak mau backstreet. Ia lebih memilih putus dengan Jun Pyo.

Waktu itu Jan Di tidak mau berkompromi. Usia dini masa SMP baginya bukanlah alasan kalau cinta itu dijadikan sebentuk konsekuensi akil-balig dan pencarian jatidiri remaja. Cinta adalah sesuatu yang harus dibina dengan keseriusan. Tidak ada backstreet. Tidak ada cinta monyet. Makanya, diputuskannya untuk mengakhiri hubungannya yang singkat dengan Jun Pyo, yang kala itu dianggapnya tidak memiliki pendirian dan masih terkekang oleh orangtuanya.

Namun sang waktu mempertemukan mereka kembali. Sebagai siswa berprestasi di sekolah, Jan Di mendapat prioritas beasiswa di SMA Shinhwa Seoul sehabis menamatkan SMP-nya. Tapi siapa nyana ia dapat bertemu kembali dengan cinta pertamanya di Seoul. Barangkali sang waktu ingin kembali menguakkan luka lama di hatinya. Barangkali sang waktu tidak ingin seorang Geum Jan Di melupakan masa lalunya yang pahit. Ah, entahlah. Ia sendiri tidak tahu!

Dan barangkali bukan kebetulan kalau ia akhirnya bertemu dengan cowok itu lagi, justru di ‘Kost’annya di Seoul. Luka lama itu kembali menguak begitu Goo Jun Pyo hadir di ‘Kost’annya suatu hari. Dan ia hadir sebagai anak sulung Ny. Kang Hee Soo, pemilik ‘Kost’an tersebut.



Tokoh Happy B`Day, Cinta


Goo Hye Sun as Geum Jan Di
Gadis dari keluarga sederhana di Incheon. Karena mendapatkan beasiswa di SMA Shinhwa Seoul, mengharuskan Geum Jan Di tinggal di rumah ‘kost’ di Seoul. Dan disanalah ia bertemu kembali dengan Goo Jun Pyo, cintanya di masa SMP.


Lee Min Ho as Goo Jun Pyo
Cinta Pertama Geum Jan Di. Ketika semasa SMP dulu Goo Jun Pyo menganggap cintanya pada Geum Jan Di hanya ada diurutan no.2, sedangkan sekolah dan orang tua baginya adalah prioritas utama. Menuruti perintah Mamanya untuk menjauhi Geum Jan Di karena tidak mau dianggap anak yang tidak berbakti.


Lee Min Jung as Ha Jae Kyung
Membantu Goo Jun Pyo untuk membuat pesta kejutan Ultah Geum Jan Di. Ha Jae Kyung dan anak-anak kost yang lain mau membantu Goo Jun Pyo karena Jun Pyo yang bertugas menagih uang bulanan sewa kamar para penghuni kost sering memberi kelonggaran bagi mereka yang terlambat mendapat 'kiriman' dari Orang Tua mereka.


Lee Hye Young as Kang Hee Soo (Jun Pyo’s Mother)
Mama Goo Jun Pyo. Wanita yang menentang hubungan Goo Jun Pyo – anaknya dengan Geum Jan Di dimasa mereka masih duduk di bangku SMP. Pemilik Kost yang ditempati Geum Jan Di di Seoul.


Gook Ji Yun (Cameo)
Teman kost Jan Di dan Jae Kyung.
Tiba-tiba dibentak Jan Di dan Jae Kyung ketika ikut nimbrung pembicaraan mereka yang menjadi menegang.
Gook Ji Yun nimbrung setelah sedari tadi diam menyimak. "Eh, Jan Di. Lo dipegang-pegang sama Jun Pyo sampe lo hate banget sama dia, ya?"


Kim Young Ok as Kepala Rumah Tangga
“Ya, ada apa, Non Jan Di?”
“Lho, Non Jan Di nggak tahu?” Wanita separo baya itu seperti terperanjat.
“Apa Non Jan Di belum diberitahu sama anak-anak kalau acara siang nanti....”
“Acara ulangtahun. Kan hari ini ulangtahun Non Jan Di?”
“Non Jan Di lupa, ya?”
“Ya, tentu saja mereka sibuk, Non Jan Di. Soalnya, mereka kan sudah diwanti-wanti sama Tn.Muda Jun Pyo untuk bikin acara ulangtahun Non Jan Di hari ini.”
”Ya, Tn.Muda Jun Pyo. Putra sulung Ny. Kang Hee Soo. Non Jan Di sudah kenal, kan?”
“Non Jan Di, Non Jan Di!” Bibi Young Ok tercenung tidak mengerti.
“Non Jan Di nggak apa-apa, kan?”



Happy B`Day, Cinta
Created By Sweety Qliquers
(Samarinda, 200710 <> 0336PM)


Kalau sepagi ini terdengar riuh rutinitas di lantai bawah yang asalnya dari ruang dapur, tentulah bukan hal yang lumrah. Masih terlalu pagi. Bahkan terlalu pagi sekadar menjalankan aktivitas semisal mengebulkan asap kompor buat sarapan sekalipun. Tapi hari ini semuanya jadi aneh. Nyaris seluruh penghuni ‘Kost’ grasa-grusu seperti hendak menyambut kedatangan makhluk dari Planet Mars. Sibuknya luar biasa.

Acara tidurnya terganggu. Padahal, jarang-jarang ia memiliki waktu luang untuk dipakai tidur senyenyak-nyenyaknya. Masa liburan sebulan sekolah lalu pun tak pernah dikecapnya dengan nyaman seperti gadis-gadis penghuni Kost lainnya. Sebab ia mesti kerja sambilan untuk menambah biaya sekolahnya. Kesadaran yang datangnya dari lubuk hati atas kondisi keluarganya yang pas-pasan di daerah. Mungkin dia kurang beruntung terlahir dalam keluarga sederhana di Incheon, tapi ia masih tetap bersyukur karena terlahir dalam keadaan sempurna lahir dan batin.

“Ada kejadian apa sih, Ha Jae Kyung?" tanya Geum Jan Di pada Jae Kyung, sahabatnya yang tinggal bersebelahan kamar dengannya. Sembari mengucek-ngucek mata, gadis yang masih mengantuk dan sesekali menguap itu bertanya sesaat setelah turun dari lantai atas.

“Ada acara makan-makan ya, Jae Kyung?”

Jae Kyung menggeleng cuek. Sama sekali tidak berminat menanggapi kebingungan Jan Di. Pertanyaan gadis bertubuh mungil itu dijawabi dengan satu kibasan tangan. Dan gadis tajir asal Busan itu terus saja bergelut dengan kegiatannya yang super-sibuk di dapur. Membersihkan piring-piring dan gelas-gelas yang sudah berdebu di lemari dapur, satu-satunya aset ‘Kost-Kost’an yang ditinggal pemiliknya untuk penghuni kost yang baru.

Jan Di masih tercenung di ujung tangga setelah turun buru-buru tadi dengan daster yang masih melekat di badan. Alisnya mengernyit. Diliriknya jam dinding yang tergantung di atas bingkai pintu utama. Jarum pendek masih menunjuk tepat di angka enam. Biasanya juga kalau jam-jam begini gadis-gadis itu masih pada ngorok. Ih, boro-boro bikin sarapan. Menyentuh air di kamar mandi saja rasanya ogah!

Tapi hari ini memang lain. Pasti ada 'something wrong'. Kalau tidak, mana mungkin nona-nona tajir itu mau kompakan bangun pagi dan bersibuk-sibuk ria dengan senang hati di dapur. Tentu saja. Buktinya tadi, saking sibuknya, Jae Kyung yang nyinyir itu malah tidak punya waktu untuk menjelaskan ‘what happen in kitchen’.

“Jae Kyung...”

“Sorry. Gue sibuk.”

“Tapi....”

“Udah deh, Jan Di. Lo tidur aja sana. Jangan ganggu kita-kita!”

“Gue bantuin, ya?”

“Jangan. Kita-kita di sini nggak butuh PRT lagi.”

Jan Di tersenyum geli. “Hei, emangnya gue babu apa?”

Jae Kyung hanya tersenyum sebentar sebelum melanjutkan kegiatannya yang ‘misterius’. Jan Di mengedikkan bahunya tanda tidak paham. ‘Kita-kita’ yang dimaksud cewek tajir asal Busan tadi adalah geng rumpi ‘Kost-Kost’an; Gook Ji Yun, Lee Hyori, Yoon Eun Hye, Song Hye Gyo, dan Ha Jae Kyung. Heh, sejak kapan nona-nona tajir itu tiba-tiba dengan suka rela tanpa dipaksa-paksa mau bekerja ala PRT?

Jan Di masih menggeleng tidak mengerti, dan baru saja hendak menapaki undakan naik tangga ketika berpapasan dengan Bibi Young Ok yang berjalan turun dari lantai atas.

“Eh, Bibi Young Ok...,” Jan Di mengurungkan niatnya ke lantai atas, hendak meneruskan tidurnya yang terganggu gaduh ‘misterius’ sahabat satu ‘kost-kost’an dengannya. Dijawilnya pundak pembantu wanita yang mengurusi keperluan penghuni Kost.

“Ya, ada apa, Non Jan Di?”

“Ada acara apaan sih, Bibi Young Ok? Kok, kelihatannya mereka sibuk banget?”

“Lho, Non Jan Di nggak tahu?” Wanita separo baya itu seperti terperanjat.

“Apa Non Jan Di belum diberitahu sama anak-anak kalau acara siang nanti....”

“Acara?!” Jan Di membeliak.

“Acara apaaan?!”

“Acara ulangtahun. Kan hari ini ulangtahun Non Jan Di?”

“Hah?!” Jan Di nyaris terjatuh dari tangga saking kaget.

“U-ulangtahun gue?! Ya, ampun!”

“Non Jan Di lupa, ya?”

“Tapi, kok mereka yang sibuk sih, Bibi Young Ok?!”

“Ya, tentu saja mereka sibuk, Non Jan Di. Soalnya, mereka kan sudah diwanti-wanti sama Tn.Muda Jun Pyo untuk bikin acara ulangtahun Non Jan Di hari ini.”

Astaga!

Ia sendiri lupa kalau hari ini merupakan hari ulangtahunnya. Dan cowok bernama ‘JUN PYO itu mengingatnya! Bahkan hendak merayakannya secara diam-diam siang nanti untuknya!

“Jun… Pyo?!”

”Ya, Tn.Muda Jun Pyo. Putra sulung Ny. Kang Hee Soo. Non Jan Di sudah kenal, kan?”

Kepala Jan Di mendadak berdenyar. Dicengkeramnya pegangan tangga erat-erat. Jun Pyo?! Goo Jun Pyo?! Rasa-rasanya kepalanya hendak pecah dipenuhi serpihan-serpihan kenangan lama. Tubuhnya serasa limbung.

“Non Jan Di, Non Jan Di!” Bibi Young Ok tercenung tidak mengerti.

“Non Jan Di nggak apa-apa, kan?”

Jan Di menggeleng. Meneruskan langkah menuju kamarnya di lantai atas.

***

Incheon kala itu masih menyimpan kenangan manis. Mungkin hal tersebut merupakan euforia cinta masa remajanya. Jun Pyo yang merupakan kakak kelasnya suatu ketika mengungkapkan isi hatinya pada seorang gadis bernama Geum Jan Di. Namun sayang, kenangan indah cinta mereka tak berlangsung lama. Jan Di yang tulus mencintai Jun Pyo, dan Jun Pyo yang ternyata hanya menomorduakan cinta mereka di bawah prioritas sekolah dan orangtuanya.

“Gue nggak bermaksud nyakitin hati lo, Jan Di.”

“Tapi, nyata-nyata Lo udah melukai hati gue!"

"Gue minta maaf. Tapi gue nggak mau dianggap anak nggak berbakti, Jan Di. Mending kita backstreet aja. Ini solusi buat ngakalin hubungan kita yang jelas-jelas ditentang sama bokap-nyokap gue."

"Gue nggak mau main-main dengan cinta kita, Jun Pyo! Gue nggak mau backstreet. Lo seperti nggak punya pendirian, Jun Pyo! Gue mau hubungan kita ini jelas. Terus atau putus!"

"Tapi...."

Waktu itu Jan Di tidak mau berkompromi. Usia dini masa SMP baginya bukanlah alasan kalau cinta itu dijadikan sebentuk konsekuensi akil-balig dan pencarian jatidiri remaja. Cinta adalah sesuatu yang harus dibina dengan keseriusan. Tidak ada backstreet. Tidak ada cinta monyet. Makanya, diputuskannya untuk mengakhiri hubungannya yang singkat dengan Jun Pyo, yang kala itu dianggapnya tidak memiliki pendirian dan masih terkekang oleh orangtuanya.

Namun sang waktu mempertemukan mereka kembali. Sebagai siswa berprestasi di sekolah, Jan Di mendapat prioritas beasiswa di SMA Shinhwa Seoul sehabis menamatkan SMP-nya. Tapi siapa nyana ia dapat bertemu kembali dengan cinta pertamanya di Seoul. Barangkali sang waktu ingin kembali menguakkan luka lama di hatinya. Barangkali sang waktu tidak ingin seorang Geum Jan Di melupakan masa lalunya yang pahit. Ah, entahlah. Ia sendiri tidak tahu!

Dan barangkali bukan kebetulan kalau ia akhirnya bertemu dengan cowok itu lagi, justru di ‘Kost’annya di Seoul. Luka lama itu kembali menguak begitu Goo Jun Pyo hadir di ‘Kost’annya suatu hari. Dan ia hadir sebagai anak sulung Ny. Kang Hee Soo, pemilik ‘Kost’an tersebut.

***

"Gue pengen ngomomg sama Lo , Jae Kyung!"

"Ada apa sih, Jan Di? Gue sibuk, nih."

Jan Di menarik lengan Jae Kyung yang hendak meneruskan kewajibannya mengamanati perintah putra sulung Ny. Kang Hee Soo, Goo Jun Pyo. Tentu saja anak-anak penghuni ‘Kost’ yang didominasi seratus persen cewek itu tidak bisa menolak. Selain karena tidak enak hati, Goo Jun Pyo yang punya wajah cool mirip Lee Min Ho – salah satu pemain di drama serial Korea ‘Boys Befote Flower’ itu sebenarnya juga diidolai nyaris satu penghuni ‘Kost’.

Sayang Goo Jun Pyo jauh-jauh hari sudah memploklamirkan kalau Geum Jan Di merupakan calon pendamping hidupnya kelak. Jadi anak-anak cewek penghuni ‘Kost’ yang rada-rada genit tersebut hanya bisa ngiri. Tapi sebetulnya tidak tepat-tepat begitu. Yang paling mengandili antusiasme mereka bantu-bantu adalah, karena Goo Jun Pyo yang bertugas menagih uang bulanan sewa kamar pada anak-anak cewek sering ngasih kelonggaran bagi mereka yang terlambat dapat 'kiriman' dari Orang Tua mereka.

"Jae Kyung! Ini penting!"

"Acara ini lebih penting. So, tolong jangan recoki kesibukan gue lagi, ya?"

"Jae Kyung, please! Gue nggak mau lo-lo pada bikin acara norak begini untuk gue!"

Jae Kyung terlongong. Beberapa cewek yang mendengar 'pertengkaran kecil' itu mengalihkan perhatian mereka dari oven-kue. Gook Ji Yun malah sudah mendekat ke arah sumber keributan.

"Ja-jadi lo udah tahu kalau acara siang nanti adalah pesta ultah Lo, Jan Di?!"

"Sorry, Jae Kyung. bukannya gue nggak menghargai niatan kalian, tapi tolong hargai juga dong hak gue untuk menolak segala kebaikan Jun Pyo!"

"Lho, memangnya Jun Pyo salah apa sama Lo sampe Lo antipati gitu?!"

Gook Ji Yun nimbrung setelah sedari tadi diam menyimak. "Eh, Jan Di. Lo dipegang-pegang sama Jun Pyo sampe lo hate banget sama dia, ya?"

"Gook Ji Yun... please...!" Kalimat itu serempak terlontar dari mulut Jan Di dan Jae Kyung.

"Batalin acara itu!" Jan Di mengultimatum setelah mengalihkan pandangannya dari wajah culun Gook Ji Yun, dan kembali menatap mata Gook Ji Yun yang sedikit rikuh dengan sikapnya yang emosional.

"Batalin?!" Mata Jae Kyung melotot.

"Heh, gue lebih memilih diomeli dan dimusuhi sama Lo ketimbang harus ngebatalin acara nanti. Dih, bisa digorok leher gue sama Jun Pyo!" Lanjut Jae Kyung.

"Apa hak Jun Pyo bikin acara ultah untuk gue?!"

Sepi sesaat. Entah Jae Kyung harus ngomong apa untuk membela diri. Ia bingung dengan pertanyaan Jan Di barusan. Ya, untuk apa mereka turut campur dalam urusan Jan Di dan Jun Pyo?! sesalnya.

"Benar, gue nggak berhak atas hidup Lo!" Ada suara berat dari arah bingkai pintu masuk ‘Kost’.

"Tapi, tolong. Jangan salahkan anak-anak. Gue yang nyuruh mereka, kok. Kalau Lo mau marah, marah aja sama gue. Acara nanti semuanya atas inisiatif gue kok, Jan Di!" Lanjut Jun Pyo.

Kegiatan di dalam ruang dapur terhenti. Semua cewek melongok. Jun Pyo telah berdiri di hadapan Jan Di dan Jae Kyung dengan sikap dingin.

"Tapi, gue nggak suka Lo seenaknya bikin acara siang nanti tanpa seizin gue, Jun Pyo!"

"Sorry. Itu kesalahan gue. Tapi, semua gue lakukan demi Lo. Gue pengen bikin Lo happy. Gue pengen menebus kesalahan gue yang lalu-lalu, Jan Di!"

"Ta-tapi, bukan begitu caranya...."

"Gue tahu Lo masih benci sama gue, Jan Di! Lo belum dapat menerima kegagalan cinta kita semasa SMP dulu. Tapi, swear! Waktu itu gue nggak bermaksud nyakiti hati Lo. Gue...."

Jan Di mengibaskan tangan. "Udahlah, Jun Pyo! Itu masa lalu!"

"Tapi gue masih mencintai Lo, Jan Di!" Jun Pyo berteriak tanpa mempedulikan penghuni ‘Kost’ yang menyaksikan mereka.

"Gue nggak bisa melupain Lo. Sampai kapan pun juga!"

Jan Di menutup telinganya dengan kedua belah telapak tangan. Namun Jun Pyo menarik kedua lengan Jan Di, menyentaknya dan memandang sepasang mata telaga itu dalam-dalam.

"Oke, oke. Dulu, memang gue yang salah karena nggak punya pendirian seperti yang lo tuduhin ke gue. Tapi, gue mau Lo jujur. Kenapa Lo nggak nyari ‘Kost’ lain begitu lo tahu sebenarnya gue ini anak Kang Hee Soo, pemilik ‘Kost’ ini?! Kenapa, kenapa, Jan Di?!"

Jan Di tercenung. Digigitnya bibir keras-keras. Airmatanya sudah menitik. Ada kalimat yang berdenyar di nuraninya. Kenapa?! Ya, kenapa?! Karena sesungguhnya ia pun masih mencintai Jun Pyo!

Dan ketika Jun Pyo menarik tubuhnya ke dalam pelukannya, ia tidak kuasa menolaknya lagi. Hanya airmatanya saja yang semakin menderas.

"Gue cinta sama Lo, Jan Di," jelas Jun Pyo.

"Dan gue nggak pengen kehilangan Lo lagi. Selamanya."

Jan Di terisak. Rasa sakit yang selama ini berkecamuk di dadanya mendadak lenyap. Mungkin sudah saatnyalah ia membuka pintu hatinya untuk pemuda cinta pertamanya itu.

"Met ultah ya, Jan Di," bisik Jun Pyo lembut, mempererat pelukannya.

Sementara itu terdengar riuh tepuk tangan nyaris seantero penghuni ‘Kost’. Persis penonton dalam ruang teater yang menyaksikan akhir cerita yang membahagiakan. Happy ending.


TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.mininovel-lovers86.blogspot.com

Jumat, 16 Juli 2010

Harapan Yang Pupus

Title : Harapan Yang Pupus
Author : Sweety Qliquers
Genre : Friendship, Romance 18+, Love In University
Production : www.rainlovers86.blogspot.com
Production Date : 19 Mei 2010 – 10.52 AM
Cast :
Gook Ji Yun as Choi Young In
* Sangat menyukai senyum Yoon Hyun Seo
* Sempat menaruh hati pada Yoon Hyun Seo

Zac Efron as Yoon Hyun Seo
* Pura-pura merasa tertarik pada Choi Young In
* Mendekati Choi Young In hanya untuk menyontek tugas dan ujian

Kim So Eun as Chu Ga Eul
* Sahabat Choi Young In
* Chu Ga Eul & So Yi Jung dikenal sebagai sepasang merpati yang dijodohkan secara paksa

Kim Bum as So Yi Jung
* Pria konyol yang senang sekali memanggil Chui Ga Eul dengan gaya sok mesra
* Chu Ga Eul & So Yi Jung dikenal sebagai sepasang merpati yang dijodohkan secara paksa

Ahn Jae Wook (Cameo)
* Dosen Sosiologi Choi Young In Cs

Son Dam Bi (Cameo)
* Kekasih Yoon Eun Hye
* Mencurigai Yoon Hyun Seo tertarik pada Choi Young In


Harapan Yang Pupus
(Sweety Qliquers)

Baru saja kakiku menginjak ruang 303, Yoon Hyun Seo sudah melambaikan tangan sambil tersenyum ramah. Aku balas tersenyum dan melangkah santai ke deretan bangku nomor dua. Chu Ga Eul, sahabatku sudah menyiapkan sebuah bangku untukku tepat di sampingnya. Dia menoleh ke belakang melihat Hyun Seo yang masih mengulas senyum padaku, lalu memutar kepalanya menatapku sambil tertawa geli.

“Aduh, Kalau seperti ini aku bisa cemburu.” Katanya, “Kenapa hanya si Choi Young In yang diberi senyum tapi aku tidak.”

Hyun Seo yang mendengar ucapannya senyum-senyum saja, sedangkan aku sibuk mencari kata-kata buat membalas ledekannya.

“Jangan begitu, Ga Eul!” Ujarku setelah menemukan kalimat yang pas. “Kau kan sudah punya So Yi Jung. Kalau Yi Jung cemburu bagaimana? Iya kan, Hyun Seo?” Aku menoleh ke arah Hyun Seo. Hyun Seo - seperti biasa - cuma tersenyum-senyum. Umm, aku suka pada senyumnya. Senyum yang biasa aja seperti juga wajah Hyun Seo yang biasa-biasa saja. Tidak jelek, juga tidak tampan.

“Kenapa kau diam saja, Ga Eul?”

Benar kan? Mendengar nama So Yi Jung disebut-sebut, Ga Eul langsung diam. Dia memang paling kesal dengan Yi Jung, si kocak yang hobi menganggu cewek-cewek cakep. Bukan berita baru lagi kalau Yi Jung dan Ga Eul dijodohkan oleh anak-anak. Yi Jung yang konyol paling semangat memanggil-manggil Ga Eul dengan gaya sok mesra. Sementara Ga Eul sendiri tidak suka diperlakukan begitu. Tapi dasar Yi Jung! Makin dicuekin makin gatal mulutnya memanggil Ga Eul. So, tidak heran kalau mereka dikenal sebagai ‘sepasang merpati yang dijodohkan secara paksa’.

“Wah..wah..kau benar-benar ingat Yi Jung, ya?” Godaku lagi ketika melihat Ga Eul masih juga diam. Malah kini dia asyik menekuni catatannya. “Sabar ya. Yi Jung kan selalu datang tepat pukul 7.30. Mana mau dia datang sepagi ini kecuali kau yang suruh.”

“Young In! Cukup, jangan bicarakan Yi Jung lagi! Aku kesal sekali mendengar namanya!!.” Akhirnya Ga Eul mau juga ngomong meski suranya hampir membuatku tuli.

“Bukannya kau yang memulainya,” Aku pura-pura cemberut.

“Ssst, jangan ribut! Dosen sudah datang.” Ga Eul menepuk lenganku pelan. Aku mengarahkan pandang ke depan. Pak Ahn Jae Wook, dosen Sosiologi melangkah gagah memasuki ruangan.

“Tidak seperti biasanya, baru jam tujuh lewat lima pak Ahn Jae Wook sudah datang. “Aku bergumam.“ Si Yi Jung bisa ketinggalan pelajaran kalau seperti ini. Dia kan suka telat. “

“Kau menyebalkan sekali, Young In. Sekali lagi kau menyebutkan nama Yi Jung, aku akan memusuhinmu seumur hidup,” Ga Eul menyikut lenganku. Aku tertawa. Puas rasanya melihat Ga Eul keki.

***

“Young In, boleh aku pinjam buku tugasmu?” Hyun Seo menghampiriku ketika aku baru saja datang pagi itu.

“Aku belum mengerjakan tugas yang diberikan pak Ahn Jae Wook. Kau sudah mengerjakannya, Hyun Seo?” Tanyaku sembari memberikan buku tugasku kepada Hyun Seo. Hyun Seo menggeleng.

“Belum semuanya,“ jawabnya. “Jawaban soal nomor terakhir belum aku temukan. Aku cari-cari di buku, tidak ada.”

“Siapa bilang tidak ada? Aku sudah menemukan jawabannya. Hanya belum aku tulis saja. “

“Di mana? Ketemu di buku karangan Kansil?” Hyun Seo bertanya seraya membolak balik buku tugasku. Aku mengangguk.

“Kalau begitu aku tidak jadi pinjam bukumu. Kau saja belum menulis jawabanmu.” Hyun Seo mengembalikan buku tugasku.

Esoknya, Hyun Seo kembali meminjam buku tugasku. Dan karena aku sudah menjawab soal-soal yang diberikan oleh pak Ahn Jae Wook, maka Hyun Seo memutuskan untuk membawa pulang bukuku.


***

Hari-hari selanjutnya, Hyun Seo semakin sering meminjam buku-bukuku, entah itu berupa buku tugas ataupun buku catatan. Apalagi menjelang mid test, dia seringkali menghampiriku yang sedang asyik membaca buku-buku wajib. And, tanpa kusadari hubungan kami makin akrab. Bahkan, Ga Eul pun ikut berteman karib dengan Hyun Seo. Bertiga, kami saling membahas pelajaran-pelajaran yang sulit. Tidak jarang pula, kami hanya berbincang-bincang saat jam istirahat tiba.

Semuanya itu kuanggap wajar tanpa dibaluri perasaan apapun terhadap Hyun Seo. Hingga mid test berakhir, mulailah timbul suatu perasaan aneh di hatiku. Entah mengapa, aku sering merasa sunyi bila Hyun Seo tidak menghampiri tempat dudukku untuk bertanya ini itu atau sekadar mengobrol sambil bergosip sedikit.

Di malam-malam sepi, aku kerap kali teringat pada Hyun Seo. Pada semua yang dimilikinya.

Sungguh, aku merasa tidak tentram dengan perasaan yang muncul tanpa diundang itu. Dalam setiap mata kuliah yang kuikuti, aku selalu merasa resah. Dudukku tak lagi tenang. Inginnya menoleh ke belakang melihat Hyun Seo dengan senyumnya yang biasa saja. Ah, inikah yang namanya cinta? Pertanyaan itu selalu muncul di benakku setiap kali aku merindukan Hyun Seo. Kalau benar itu yang disebut cinta, mungkinkah Hyun Seo memiliki perasaan yang sama?


***

Jantungku berdegup dua kali lebih kencang dari biasanya. Darahku seolah-olah membeku dan sesuatu yang pedih menikam dada. Benarkah dua insan yang duduk berdampingan di perpustakaan itu Hyun Seo dan Son Dam Bi? Akh, benar. Aku tidak salah lihat. Mereka memang Hyun Seo dan Dam Bi. Oh, oh….mesranya satu bangku berdua seperti tidak ada bangku lain. Tanpa sadar, aku duduk di bangku lain yang letaknya tidak jauh dari mereka. Dan, rupanya mereka tidak menyadari kehadiranku karena terhalang oleh sebuah sekat.

“Aku tidak percaya. Kau pasti naksir Young In. Kalau tidak, mana mungkin kau akrab sekali dengannya. Atau, barangkali …kau mengincer Ga Eul? Kau juga akrab dengannya kan?” Telingaku langsung tegak mendengar kalimat itu. Ah, mereka sedang membicarakan aku.

“Tidak, Dam Bi. Aku hanya berteman biasa karena Young In dan Ga Eul itu anak pintar. Kalau tidak percaya, lihat saja buktinya. Akhir-akhir ini aku jarang bergaul dengan mereka. Tapi menjelang ujian akhir nanti, aku pasti mendekati mereka lagi, terutama Young In. Dia yang paling pintar kan?”

Kurang ajar! Geramku dalam hati setelah mendengar jawaban Hyun Seo. Jadi, dia tak sungguh-sungguh tulus berteman denganku. Dia cuma….hei ..hei….mengapa harus marah? Wajar toh kalau di jaman modern ini orang hanya mau berteman bila ada maunya, bila ada keuntungan yang bisa diperolehnya.

“Ok, sekarang aku percaya.” Lanjut Dam Bi manja

Uh, manja sekali suara Dam Bi. Aku buru-buru bangkit dengan hati terluka. Pantas, akhir-akhir ini Hyun Seo bersikap dingin terhadapku. Ternyata….akh, sudahlah….Aku mengedikkan kepala, mencoba untuk tetap tegar. Toh, dunia tidak selebar daun kangkung (bosan, daun kelor melulu.)


TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.rainlovers86.blogspot.com

Selasa, 06 Juli 2010

Senandung Lara

Title : Senandung Lara
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance 21+
Production : www.rainlovers86.blogspot.com
Production Date : 25 Mei 2010 – 09.37 AM
Cast :
Kim So Eun as Kang Hye Na
* Kekasih Seo Dong Chan
* Kejiwaannya terganggu setelah mengetahui kekasihnya, Seo Dong Chan ternyata telah memiliki istri dan hanya berpura-pura untuk mencintainya

Kim Bum as Seo Dong Chan
* Kekasih Kang Hye Na
* Menginginkan Papi Kang Hye Na untuk menanda tangani Kontrak proyek besar di perusahaan kontraktor dimana ia bekerja

Gong Yoo as Lee Tae Yoon
* Sahabat Seo Dong Chan
* Kakak Yeo Eui Joo
* Diminta Seo Dong Chan untuk membantu rencananya, menjadi kakak Seo Dong Chan untuk menjadi wali pernikahannya dengan Kang Hye Na

Gook Ji Yun as Yeo Eui Joo
* Adik Lee Tae Yoon
* Ingin membongkar semua kebohongan Seo Dong Chan pada Kang Hye Na

Lee Min Ho (Cameo)
* Anak buah Pak Ahn Jae Wook-Papi Kang Hye Na
* Mengenal dengan baik sosok Seo Dong Chan

Ahn Jae Wook (Cameo)
* Papi Kang Hye Na
* Berusaha mencari tahu keberadaan Seo Dong Chan, setelah ia menghilang dan menyakiti Kang Hye Na-Anaknya

Lee Bo Young (Cameo)
* Mami Kang Hye Na
* Merasa sedih melihat kejiwaan Kang Hye Na-anaknya terganggu karena ditipu oleh Seo Dong Chan-kekasih Kang Hye Na





Senandung Lara
(Sweety Qliquers)

Dengan riang, Kang Hye Na mendendangkan lagu ‘Nuansa Bening’ nya Vidi Aldiano. Tas batiknya dilemparkan ke sofa. Mami geleng-geleng kepala melihat tingkah putri tunggalnya itu.

“Hye Na, “ panggilnya. “Hari ini banyak pelanggan, ya?”

“Tidak, mi..” Hye Na mencopot sepatunya.

“Kalau tidak, Kenapa kau, gembira sekali?” tanya mami penasaran. Diambilnya tas Batik Hye Na dan diletakkannya di atas meja.

“Ah, mami..mau tahus aja.” Wajah ayu Hye Na menghangat tiba-tiba. Aneh!

“Ooo….mami tahu sekarang. Pasti tadi kau bertemu Seo Dong Chan.” Mami tersenyum menggoda.

“Ih, mami sok tahu!” Hye Na tersipu. Wajahnya memerah dadu. Mami tertawa.

“Ya tahu. Mami ‘kan pernah muda, “ katanya.

Hye Na senyum-senyum saja mendengar ucapan mami. Dibenaknya terbayang kembali pertemuannya dengan Dong Chan di salon kecantikannya.

“Hye Na,” Dong Chan berdiri di ambang pintu ketika dia sedang sibuk membereskan alat-alat make up. Tiga orang anak buahnya sudah pulang lebih dulu. Hari itu salonnya memang agak sepi. Mungkin, karena tanggal tua sehingga orang segan mengeluarkan uang untuk mempercantik diri.

“Dong Chan, ada apa kau kemari?“ Hye Na berkata riang.

“Aku merindukanmu.” Sahut Dhika kalem. Hye Na mencibir.

“Uh, bukannya kemarin kita baru ketemu.” Ujarnya manja.

“Iya, tapi aku masih merindukanmu.” Dhika menghampiri Hye Na, memeluk gadis itu dari belakang. “Sudah selesai membereskan alat-alat itu?” bisiknya di telinga Hye Na.

“Sudah,“ manja, Hye Na menyandarkan kepalanya di dada Dhika.

“Hye Na,“ Jemari Dong Chan membelai rambut lurus Hye Na. “Ada kabar gembira untukmu.”

“Apa itu?” Hye Na memutar tubuhnya, melepaskan pelukan Dong Chan.

“Bulan depan aku akan melamarmu.”

“Oh….secepat itu?!” Seru Hye Na. Matanya yang indah berseri-seri bahagia.

“Setengah tahun kita pacaran. Memang belum terlalu lama tapi…aku sudah tak sabar ingin segera bertunangan denganmu.” Dong Chan mempermainkan jemari Hye Na.

Hye Na tidak menjawab. Dia merasa inilah kebahagiaan yang paling sempurna dalam hidupnya. “Aku bahagia sekali, Dong Chan. “ Bisiknya.

“Tapi….,”

“Terlalu cepat?” potong Dong Chan. Hye Na mengangguk.

“Hye Na,” Dong Chan menatap Hye Na lembut. “Aku benar-benar mencintaimu dan aku takut suatu saat kau berpaling pada lelaki lain. Jadi….aku ingin kepastianmu. Dengan melamarmu, aku merasa tenang dan yakin bahwa kau memang mencintaiku.”

Hye Na terdiam. Dalam hati dia membenarkan ucapan Dong Chan. Yah, diapun amat menyayangi Dong Chana dan tak ingin kehilangan sosok tegap Dong Chan.

“Aku akan mengenakan gaun terindah pada hari kau datang melamarku.” Ujar Hye Na tiba-tiba.

“Terima kasih, Hye Na.” Dong Chan merengkuh Hye Na. Hye Na tersenyum dalam rengkuhan kukuh Dong Chan. Ada butir bening menetes di pipinya. Air mata bahagia.

“Aku ingin kau memakai gaun warna biru.” Dong Chan menghapus bening di sudut mata Hye Na dengan jemarinya. Hye Na mengangguk. “Ya, warna kesayanganmu.”

“Aduh, kenapa kau jadi melamun?” Suara mami menyentakkan lamunan Hye Na.

“Ah…. Mamiii….” Hye Na tersenyum malu. Mami tertawa.

“Ayo, tadi Dong Chan bilang apa?” Mami mengedipkan mata.

Sekali lagi Hye Na tersenyum malu. “Dong Chan …ingin melamar Hye Na…,” pelan suara Hye Na.

Mami pura-pura batuk menggoda. “Mami setuju. Kapan Dong Chan datang?”

“Bulan depan.”

“Yah, nanti mami bicarakan hal ini dengan papi.”

“Makasih mi…” Hye Na mengecup pipi mami.

***

Di depan rumah bercat kuning muda, Dong Chan menghentikan langkah. Dia memijit bel yang terletak di samping pintu pagar. Sesaat kemudian, seorang pria berusia sekitar tigapuluh tahun nongol di teras rumah.

“Dong Chan!” seru pria itu, lalu bergegas melangkah ke halaman. “Angin apa yang membawamu kemari?” tanyanya sambil membuka pintu pagar.

“Angin ribut.” Gurau Dong Chan.

“Well, ada perlu apa?” tanya pria itu lagi setelah mereka duduk di ruang tamu.

“Begini, Tae Yoon…” Dong Chan buka suara. “Bulan depan aku akan melamar Hye Na.”

“Sejauh itu permainanmu, Dong Chan?” Ujar Lee Tae Yoon terkejut.

Dong Chan mengangguk. “Demi uang,“ katanya tenang.

“Lalu isterimu?”

“Ini kan cuma sandiwara, Tae Yoon.” Tukas Dong Chan tertawa. “Setelah aku berhasil membujuk papi Hye Na agar mau menandatangani kontrak besar dengan perusahaan tempatku bekerja, maka secara perlahan aku akan menghindari Hye Na dan akhirnya…” Dong Chan menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa. “Putus Hubungan!” Dia mengelus-elus dagunya.

“Dasar ular kau!” Tae Yoon tertawa mendengar ucapan Dong Chan. Dirogohnya saku celananya. “Rokok?” Dia menyodorkan Sampoerna miliknya.

Dong Chan menggeleng. “Untuk saat ini aku puasa dulu. Hye Na tidak suka cowok perokok.” Katanya. Tae Yoon tertawa. Dia menyalakan pemantik dan membakar ujung rokoknya.

“Sekarang, katakan apa yang bisa kubantu?” Tanya Tae Yoon.

“Kau harus pura-pura menjadi kakakku yang sengaja datang mewakili kedua orang tuaku.”

Tae Yoon bersiul. ”Bukan main!” Serunya. “Kau benar-benar licik!”

“Bagaimana? Kau mau menolongku?” tanya Dong Chan.

“Oke, asal….” Tae Yoon mengedipkan mata. Dong Chan tersenyum mengerti.

“Soal money? Jangan takut.” Katanya tertawa. “Ini, aku bayar separuh dulu.” Dong Chan memberikan selembar cek.

“Kenapa tidak uang tunai?” Tae Yoon menjentikkan abu rokoknya.

“Sudahlah, jangan rewel. Percayalah padaku, Cek ini tidak kosong.” Ujar Dong Chan lalu memasukkan cek tersebut ke saku baju Tae Yoon.

Beberapa saat lamanya Dong Chan dan Tae Yoon sibuk membicarakan rencana mereka. Yeo Eui Joo, adik Tae Yoon yang terbangun dari tidur siangnya karena mendengar kedatangan Dong Chan, menguping pembicaraan mereka. Kamar tidurnya yang tidak jauh dari ruang tamu membuatnya dapat menangkap dengan jelas suara Dong Chan dan Tae Yoon.

Sungguh, dia tak menyangka kalau Dong Chan, teman kakaknya itu sampai hati menipu seorang gadis. Di balik ketampanan dan keramahannya, ternyata Dong Chan adalah seorang penipu. Dia tak lebih dari serigala berbulu domba. Dan, Tae Yoon, kakaknya mengapa dia mau membantu rencana Dong Chan? Uang! Lagi-lagi karena uang! Ugh! Tiba-tiba dia merasa muak dengan kedua orang itu.

Aku harus menolong gadis yang bernama Hye Na itu, pikir Eui Joo. Tapi, bagaimana caranya? Dia tidak mungkin mencegah kakaknya agar tidak membantu Dong Chan. Tae Yoon pasti tak segan-segan menampar pipinya bila tahu usahanya hendak digagalkan. Akh, Eui Joo memeluk bantal gulingnya. Seandainya papa dan mama masih ada, tentu Tae Yoon tidak seperti itu. Sebagai seorang pengangguran, dia mau melakukan pekerjaan apa saja. Tak peduli apakah itu merugikan orang lain atau tidak. Dan, Eui Joo tak berdaya menghadapi ulah kakaknya.

Tapi… Hye Na ….Entah mengapa, Eui Joo merasa harus menolong gadis itu. Tadi, Dong Chan menyebut-nyebut nama sebuah salon kecantikan. Katanya, salon itu milik Hye Na. Eui Joo pernah mendengar nama salon itu dari Goo Hye Sun, kawannya yang menjadi pelanggan di salon tersebut.

***

Salon sudah sepi. Seperti biasa, Hye Na menyuruh anak buahnya pulang lebih dulu. Sedangkan, dia sendiri sibuk menghitung penghasilannya hari itu. Dia baru saja hendak menyimpan Buku Catatannya ke dalam laci ketika dilihatnya sabrina berdiri di ambang pintu.

“Maaf,“ kata Eui Joo tersenyum. “Kau yang bernama Hye Na?” tanyanya.

“Ya, benar.” Hye Na mengangguk.

“Saya Yeo Eui Joo,” Tangan Eui Joo terulur. Hye Na membalas uluran tersebut.

“Silakan duduk. Ada yang bisa dibantu?” tanya Hye Na ramah.

“Terima kasih,” Eui Joo meletakkan pantatnya di sebuah kursi. Hye Na ikut duduk di kursi satunya lagi. “Ada perlu apa ya?” tanya Hye Na lagi.

“E…,” Eui Joo tergagap tapi detik selanjutnya dia dapat bercerita dengan lancar. Hye Na mendengarkan dengan tenang. Perasaannya tak menentu antara percaya dan tidak.

“Begitulah, saya cuma ingin mengingatkanmu.” Eui Joo mengakhiri ceritanya.

“Terima kasih atas kebaikanmu.” Hye Na berusaha tersenyum.

“Percayalah, saya tidak mengada-ngada.” Kata Eui Joo lagi. Dia menangkap sinar mata Hye Na yang meragukan ceritanya. “Lee Tae Yoon kakak saya pasti akan berpura-pura sebagai….”

“Maaf, sudah pukul lima.” Hye Na meraih tas batiknya. “Saya harus pulang ke rumah.”

Eui Joo bangkit berdiri. Tersenyum kecewa karena merasa ceritanya tidak dipercaya. Tapi, dia harus bagaimana lagi? Hh, semoga gadis ini mau merenungkan ceritanya tadi. Harapnya dalam hati.

“Kalau begitu, saya juga permisi.” Katanya kemudian lalu beranjak keluar.

Pulang dari salon, Hye Na membanting tubuh semampainya di tempat tidur. Dia berusah mengenyahkan galau yang melanda hatinya. Rasanya sulit mempercayai kata-kata gadis bernama Yeo Eui Joo itu. Dong Chan begitu baik, lembut dan penuh pengertian. Pasti, gadis itu cuma ingin memisahkan Dong Chan dari dirinya.

Dia pasti iri melihat kemesraan sikap Dong Chan padaku, batin Hye Na.

Ingatan Hye Na lalu berkelana ke masa setahun silam. Dong Chan, pemuda tampan yang bekerja di perusahaan kontraktor, suatu hari datang ke rumah. Dengan sopan, dia mengatakan ingin bertemu dengan papi Hye Na. Katanya, dia rekan bisnis papi. Waktu itu, Hye Na sendiri yang membukakan pintu untuk Dong Chan. Dan, senyum simpatik Dong Chan telah membuatnya jatuh ke dunia asmara pada pandang pertama.

Dong Chan yang tampan itu mengaku sebagai putera seorang pengusaha kaya. Kedua orang tuanya lebih sering berada di Amerika untuk mengurus usaha mereka di sana. Dia sendiri bekerja di sebuah perusahaan di Surabaya. Padahal, ayahnya ingin agar Dong Chan memimpin perusahaannya tapi dia menolak. Alasannya ingin mandiri.

Hari-hari selanjutnya Dong Chan datang bukan untuk urusan bisnis saja dengan papi, tapi juga untuk bertemu Hye Na. Tak terlukiskan betapa bahagianya Hye Na ketika Dong Chan mengungkapkan isi hatinya. Apalagi, papi dan mami memberi lampu hijau. Mereka juga menyukai Dong Chan yang tampan, baik hati dan selalu sopan terhadap orang tua.

“Hye Na,” ketukan di pintu menyentakkan Hye Na.

“Ada apa, mi?” Hye Na beranjak bangun dan membuka pintu.

“Kenapa kau, pulang dari salon langsung ke kamar?” Mami menatap Hye Na heran. “Kenapa? Tidak enak badan, ya?’

“Ah, tidak ada apa-apa mi…. Cuma capek sedikit.” Ujar Hye Na. Dia tak ingin mami tahu apa yang telah diceritakan Eui Joo. Toh, belum tentu cerita itu benar. Dan, dia yakin Eui Joo pasti berdusta.

“Jangan suka memaksakan diri.” Mami menasihati. “Mami ‘kan sudah bilang, kau tidak perlu buka salon. Papi ‘kan masih bisa memenuhi kebutuhanmu.”

Hye Na tersenyum mendengar kata-kata mami. Wanita tercinta itu memang sangat memanjakannya. Dulu, waktu dia berniat membuka salon, mami melarang keras.

“Uh, mami! Kalau tidak boleh buka salon, percuma saja Hye Na kursus kecantikan. Ilmunya tidak dipakai ” Begitu yang diucapkan Hye Na untuk menundukkan hati mami. Dan, akhirnya, Hye Na yang menang.

“Hye Na,” tegur mami. “Hayo, melamunkan Dong Chan, ya?”

Hye Na tergugu. “Ah, tidak mi. “ Katanya seraya meninggalkan mami.

***

Hye Na sedang bercakap-cakap dengan Dong Chan di ruang tamu kala bel berbunyi.

“Ada tamu.” Kata Hye Na lalu bergegas ke luar. Seorang pemuda berdiri di depan pintu pagar. Mengangguk hormat pada Hye Na. “Pak Ahn Jae Wook ada, Non?” tanyanya.

“Kau siapa, ya?” Hye Na balik bertanya.

“Saya Lee Min Ho. Karyawan pak Ahn Jae Wook yang ditugaskan ke Busan dan baru saja kembali ke Seoul.” Jawab pemuda itu sopan.

“Oh…..,” Hye Na manggut-manggut. Dia memang pernah mendengar kalau papi mengutus anak buahnya ke Busan. “Tapi, papi sedang pergi. “ Katanya.

“Siapa, Hye Na?” Dong Chan menghampiri Hye Na.

“Ini…,” Belum selesai Hye Na berkata, Lee Min Ho sudah tersenyum pada Dong Chan.

“Dong Chan,“ sapanya ramah. “Apa kabar?”

“Baik,“ sahut Dong Chan berusaha tersenyum ramah. Padahal, hatinya sudah deg-degan. Hye Na yang melihat keduanya saling mengenal, segera membukakan pintu pagar. Lee Min Ho menyalami Dong Chan.

“Sejak kapan kau ke Jakarta, Dong CHan? Isterimu tidak diajak? Sedang apa kau disini? Kau kenal pak Ahn Jae Wook ya?” tanya Min Ho beruntun membuat tangan Dong Chan gatal ingin membekap mulut pemuda itu. Tapi, sudah terlambat…. Hye Na sudah mendengar semuanya.

“Isterinya?” Hye Na menatap Min Ho, heran.

“Ya, kenapa?“ Min Ho balas bertanya.

“Kau sudah mempunyai isteri, Dong Chan?” Tanpa mengacuhkan Min Ho, Hye Na memandang Dong Chan tak percaya.

“Hye Na …itu…” Dong Chan terbata. Seperti maling ketangkap basah, wajahnya pucat, bibirnya kelu.

“Tidak! Kau…kau…pembohong! Aku BENCIIII kau!” Hye Na berteriak lalu berlari masuk ke dalam rumah.

“Hye Na!” Dong Chan menyusul. Di ruang tamu, dia berhasil mencekal lengan Hye Na.

“Hye Na, dengar dulu!” serunya.

“Lepaskaaan!“ Teriak Hye Na marah. “Dasar penipu!”

“Hye Na!”

“Hye Na, ada apa nak?” Mami yang sedang sibuk di dapur menghampiri mereka.

“Mami,” Hye Na menubruk mami, memeluknya erat. “Dia penipu, Mi! Hye Na benci! Benci!”

Mami menatap Dong Chan tajam, minta jawaban. Dong Chan yang merasa topengnya sudah terbuka segera meninggalkan rumah Hye Na. Dia tak ingin mendengar Hye Na menceritakan kebusukannya pada maminya.

***

Hye Na tersenyum menatap foto Dong Chan. Jemarinya membelai bingkai foto itu. “Dong Chan, aku merindukanmu….Hi hi hi….” Gadis itu cekikikan. Dia mengecup foto itu berkali-kali. “Dong Chan, sayang…kau tampan sekali! Kau seperti buaya. Hi hi hi…..”

“Hye Na,“ Mami memanggil Hye Na. Dibukanya pintu kamar.

“Dong Chan mana, Mi?” Hye Na membuka pintu sambil melongokan kepala ke luar, memandang ruang tengah. “Dia mau melamar Hye Na. Dia pasti datang, iya kan Mi?” tanyanya seperti orang linglung.

Mami mengangguk. Sekuat tenaga dia menahan butiran bening yang mendesak tak sabar ingin keluar dari kelopak matanya. Anakku, batinnya pedih. Mengapa nasibmu semalang ini? Oh, Tuhan…apa dosa kami?

“Mi…” Hye Na menarik lengan mami. “Mana Dong Chan?”

“Hye Na,“ Mami membelai rambut Hye Na. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi bibirnya terasa beku. Ditatapnya wajah Hye Na. Ah, wajah ayu itu kini seperti tanpa cahaya kehidupan. Rambutnya yang sebahu awut-awutan. Aneka pita warna warni menghiasi rambut itu. Gaun biru muda yang dikenakan Hye Na juga lusuh. Setiap kali mami selesai menyeterika gaun itu, Hye Na akan mengambilnya dan mengenakannya lagi. Dia menolak memakai pakaian lain.

“Dong Chan jelek!” Tiba-tiba Hye Na berteriak. “Bajingan! Brengsek kau, Dong Chan!” Dia menuding-nuding foto Dong Chan lalu tertawa geli. “Kau sudah mempunyai isteri, Dong Chan! Kau sudah menikah ya? Hi hi hi…”

“Hye Na,” Mami memeluk Hye Na dengan hati teriris. Hye Na, mengapa kau jadi seperti ini? Bisik hatinya. Sesaat, pikirannya melayang ke masa tiga bulan yang lalu.

Sejak Hye Na mengetahui siapa Dong Chan sebenarnya, dia berubah menjadi gadis pemurung. Kerjanya setiap hari duduk memandangi foto Dong Chan. Papi berusaha mencari Dong Chan dan meminta penjelasannya karena Hye Na tidak mau mengatakan apapun. Dia hanya bilang kalau Dong Chan sudah punya isteri. Tapi, Dong Chan seperti lenyap dari muka bumi. Bahkan, isterinya pun tidak tahu kemana Dong Chan pergi.

“Hye Na, sudahlah...” Kata mami berusaha menghibur Hye Na. Tapi, Hye Na tak memberi reaksi. Dia memeluk mami dan menangis. Semua usaha mami dan papi untuk mengusir dukanya tidak berhasil. Hingga suatu senja, Hye Na tiba di puncak kesedihannya. Rasa sakit hati, kecewa menusuk-nusuk kalbunya. Selaksa sesal juga menghantamnya karena tidak mempercayai ucapan Eui Joo. Meski dalam hati, dia bersyukur karena Dong Chan belum berhasil membujuk papi untuk menandatangani kontrak dengan perusahaan tempatnya bekerja, namun kesedihannya tak dapat dibendung. Betapa tidak, dia sangat mencintai Dong Chan. Baginya, Dong Chan adalah segalanya. Tetapi realitas begitu kejam.

Dan, Hye Na tidak kuat menghadapinya. Dia pun menjerit, menangis dan mengobrak-abrik benda-benda yang ada di kamarnya. Papi dan mami berusaha menenangkannya tapi Hye Na semakin beringas sampai akhirnya dia letih sendiri.

“Hi hi hi….” Tawa Hye Na membuyarkan lamunan mami. Dengan lesu, mami melepaskan pelukannya. Wanita yang rambutnya mulai memutih itu beranjak meninggalkan Syafa. Syafa berhenti tertawa dan mulai bersenandung. Begitu lirih dan sedih seolah mencerminkan lara di hatinya.


TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.rainlovers86.blogspot.com