Silahkan Mencari !!!

Info!!!

kelanjutan fan fiction & recap drama semua ada di blog q yang baru
fanfic : www.ff-lovers86.blogspot.com
recap : www.korea-recaps86.blogspot.com
terima kasih...

Sabtu, 28 Agustus 2010

Iljimae (Episode 7)

Ryung menarik perhatian gadis-gadis penghibur dengan menunjukkan lukisan-lukisan 'porno' di buku yang ia punya, kemudian bertanya tentang Yeon. Namun sebelum ada yang sempat menjawab pertanyaannya, beberapa polisi datang dan menangkap Ryung dengan tuduhan menyebarkan buku ilegal.

Ryung dikurung dalam penjara. Ia berteriak-teriak marah pada penjaga, namun para penjaga tidak mengacuhkannya. Ia duduk lemas. "Pada saat seperti ini..." gumamnya sedih.

Di dalam penjara itu ada dua orang lagi selain Ryung. Yang satu adalah seorang pria tidak tahu diri dan yang satunya adalah seorang gadis. Gadis itu tidak lain adalah Yeon, kakaknya sendiri namun Ryung tidak mengenalinya.

Pria tidak tahu diri itu menggoda Yeon dan hendak berlaku tidak senonoh.Ryung kesal melihatnya dan menarik pria itu menjauh dari Yeon.

"Ah, paman!" teriak Ryung. "Kita bertemu lagi! Aku senang bertemu denganmu disini. Tapi, aku ingin meminta tolong sedikit padamu." Pria itu menatap Ryung marah, namun Ryung tidak memedulikannya dan terus bicara. "Aku sedang ada sedikit masalah, jadi aku butuh ketenangan untuk berpikir."

Pria itu menarik kerah baju Ryung. "Beraninya kau mencampuri urusanku!"

Ryung tertawa. "Aku ditangkap karena menjual buku lukisan 'porno' secara ilegal." katanya. "Tapi penulisnya terus menyuruhku untuk merahasiakan siapa pembelinya. Pembeli juga akan mendapatkan hukuman yang lebih berat dibandingkan penjual. Apa kau ingin aku menyebutkan nama-nama mereka?"

Pria itu kesal dan menjauh dari mereka.

"Terima kasih."ujar Yeon pada Ryung. Ryung tidak menjawab dan kembali ke pojokan.

Shi Hoo berbincang dengan salah satu pejabat kepolisian. Ia bertanya apa yang akan dilakukan polisi terhadap gadis itu. Pejabat polisi itu menjawab, "Ia akan diberi cambukan dan dipindahkan ke rumah lain sebagai budak. Bantuan Tuan Muda akan kami laporkan pada atasan kami. Ayahmu pasti akan bangga padamu."

Swe Dol datang menjenguk Ryung dan memberinya makanan buatan Dan Ee. Ryung makan dan minum dengan lahap. Swe Dol melihat Yeon kelaparan dan merasa kasihan. "Nona, kemarilah dan makan sedikit." ujarnya ramah.

Ryung menoleh ke ayahnya. "Ayah selalu ikut campur urusan orang lain." katanya kesal. "Untukku saja tidak cukup."

Swe Dol memarahi Ryung dan menyuruhnya memberikan makanan pada Yeon.

"Terima kasih, Paman." kata Yeon.

"Apa kau tidak merasa bersalah bersikap seperti itu padanya?" Swe Dol berkata marah pada Ryung.

Ryung berbisik padanya, "Apa Ayah tahu kejahatan apa yang dilakukannya? Dia berzina."

Swe Dol memukul kepala Ryung dan menutup mulutnya.

Chun dan Byun Shik melaporkan bahwa surat dari Kwon Do Hyun yang berada bersama mayat pelayan Shim Ki Yoon merupakan pertanda bahwa putra Lee Won Ho, Geom, masih hidup.

"Jadi mereka ingin memberikan surat itu pada Geom?" tanya Raja. "Berarti mereka sudah lama tahu bahwa Geom masih hidup."

"Begitulah yang kupikirkan." kata Byun Shik.

"Aku berpikir apakah anak itu sudah pernah membaca surat itu atau belum." kata Raja.

"Mungkin belum." kata Byun Shik ragu. "Tapi kalaupun sudah, kita bisa menangkap dan membunuhnya."

"Kalau begitu cepat cari dan temukan dia!"

Hari sudah malam. Swe Dol masuk menunggui Ryung di penjara. Ryung sudah tidur, Swe Dol menatap Yeon. "Apakah kau tidak ingin tidur? Kau harus tidur agar tidak jatuh pingsan." katanya. "Apa kau tidak punya keluarga? Kenapa tidak ada seorangpun yang menjengukmu?"

Yeo berusaha mengumpulkan tenaganya dan berkata lemah, "Ya."

Swe Dol berusaha menghibur Yeon. "Tempat ini memang menyeramkan. Tapi lama-kelamaan kau akan terbiasa."

"Ya." kata Yeon. "Kau sangat baik pada putramu."

"Aku tidak bisa melakukan apapun selain itu." kata Swe Dol. Ia menatap Ryung yang tidur dengan tubuh melingkar. "Ryung! Luruskan kakimu!"

Yeon terkejut, menatap Ryung. Ia teringat Hee Bong mengatakan bahwa sekarang nama Geom adalah Ryung. Yeon menangis, menatap adiknya.

Beberapa polisi menarik Yeon keluar dan menyiksanya. Byun Shik menginterogasi Yeon.

"Aku tanya sekali lagi." kata Byun Shik. "Dimana adikmu?"

"Aku tidak punya adik." jawab Yeon.

Byun Shik menunjukkan senjata, berupa dua buah kayu yang disambungkan dengan rantai, pada Yeon. "Aku tanya lagi, dimana adikmu... Lee Geom?"

"Pada malam yang sama dengan kematian ayahku 13 tahun yang lalu, adikku juga terbunuh." Yeon bersikeras. "Tolong temukan pembunuh mereka untukku, Tuan."

Byun Shik memberi isyarat pada polisi untuk memukuli Yeon dengan senjata tadi. Darah Yeon terciprat ke wajah Byun Shik. "Gadis yang tangguh." ujarnya.

Setelah selesai dengan interogasi, Yeon dibawa ke penjara dengan tubuh penuh darah. Ia mencoba bangkit dan menyeret tubuhnya mendekati Ryung yang masih tidur. Yeon menatap dan mengusap rambut Ryung. "Adikku masih hidup." bisiknya. "Masih hidup... Syukurlah..." Yeon menangis. "Adikku... Geom... Kau ada tepat di depanku, tapi aku tidak bisa bicara padamu." Yeon mendekatkan kepalanya ke kepala Ryung.

Ryung terbangun dan mendorong Yeon dengan kasar sampai terjatuh. "Apa yang dilakukan wanita ini!" serunya marah. "Benar-benar! Pantas saja aku bermimpi buruk!"

Yeon hanya bisa menatap Ryung dari jauh, sementara Ryung tidur membelakangi Yeon. Ryung menangis. "Kakak... Dimana kau?"

Keesokkan paginya, polisi membangunkan Ryung. "Kau bebas." katanya. Ryung melompat senang, lalu bicara pelan pada Yeon. "Kau juga akan dibebaskan sebentar lagi. Jangan khawatir."

Yeon tidak menjawab, menatap kepergian Ryung sambil menangis. Kali ini dia tidak bisa menahan tangisnya, dan menangis dengan kencang.

Ryung pergi ke kedai ibu Dae Shi. Ia meminta Dae Shi memijatnya dan dengan seenaknya menyuruh-nyuruh Bong Soon agar membuatkannya makanan tahu. Ryung makan dengan lahap.

Beberapa aparat polisi datang dan makan di kedai itu juga. Mereka berbincang-bincang tentang seorang gadis yang akan dihukum gantung. Salah satu polisi juga menunjukkan tali gantung yang akan digunakan untuk eksekusi itu.

"Ini adalah tali yang sangat kuat!" pamer si polisi.

"Kenapa tiba-tiba ia akan dihukum gantung?" tanya salah satu polisi.

"Karena mereka ingin gadis itu memberi tahu dimana adiknya berada." jawab polisi yang lain. "Mereka menggunakan berbagai cara untuk menyiksanya, tapi gadis itu benar-benar keras kepala. Karena itulah mereka ingin memberinya hukuman mati."

Ryung terkejut dan menoleh, mendengar pembicaraan mereka. "Siapa dia?" tanya Ryung pada mereka.

"Siapa lagi!" jawab polisi. "Apa kau tidak tahu? Kau dan dia berbagi suka dan duka di penjara yang sama."

Ryung menjatuhkan mangkuk makannya, teringat saat Yeon mendekatkan kepalanya pada Ryung namun Ryung mendorongnya hingga terjatuh.

Ryung tersenyum pada para polisi itu, kemudian membersihkan pecahan mangkuk. Kata-kata Hee Bong terngiang dikepalanya, "Ia seorang gadis yang cantik. Kalian sangat mirip. Hanya dengan sekali lihat, kalian pasti akan langsung bisa saling mengenal. Karena kalian adalah kakak beradik."

Ryung menangis. "Maaf.. Maafkan aku kakak.." tangisnya dalam hati. "Maaf karena aku tidak mengenalimu... Kakak..."

Ryung kemudian bangkit dan berlari mencari madu. "Dimana madu?" tanyanya pada Bong Soon. "Aku bertanya dimana madu!!" serunya tidak sabar.

Bong Soon memberikan botol madu padanya. Ryung mengoleskan madu itu di kedua telapak tangannya dan mendekati para polisi. "Kapan eksekusinya?" tanya Ryung ceria.

"Kenapa? Kau mau menonton?" tanya salah satu polisi.

"Tentu saja!" seru Ryung, dengan diam-diam mengoleskan madu yang ada ditangannya pada tali yang gantung yang dibawa polisi itu, kemudian menandainya dengan darah.

"Dia akan dieksekusi lusa."

Hee Bong sengaja mencari masalah dengan para polisi dengan cara buang air kecil di dalam kantor mereka. Polisi marah dan mengurung Hee Bong di penjara. Di sana, ia melihat Yeon yang terluka parah dan menjadi sedih.

"Geom bilang, ia akan mencari cara untuk membebaskanmu. Jangan khawatir." kata Hee Bong.

"Karena aku kau..." Yeon berkata lemah pada Hee Bong. "Terima kasih. Terima kasih."

"Tidak perlu begitu... Kita..."

Ryung datang ke kantor polisi dengan alasan menjenguk Hee Bong. Namun ia malah pergi mencari ruang penyimpanan tali dan melepaskan beberapa ekor tikus di sana. Setelah itu, ia mencuri satu baju polisi.

Ryung menipu tukang jagal dan para polisi untuk mencuri sapi. Sapi itu digunakannya untuk membobol jeruji penjara.

Hee Bong tiba-tiba berteriak dari penjara sebelah dengan khawatir dan mengatakan kalau Yeon sudah dibawa pergi. "Mereka bilang, eksekusinya tidak jadi besok, tapi sekarang!" serunya cemas dan sedih.

Yeon dibawa ke alun-alun tempat eksekusi hukuman gantung. Banyak warga yang berdatangan untuk menonton.

"Ayah.." ujar Yeon dalam hati. "Yeon akan datang untuk menemuimu. Beberapa tahun ini aku hidup menderita. Mulai saat ini, aku akan hidup damai di sisimu, Ayah." Yeon menatap langit. "Selain itu, aku sudah mendapat kesempatan bertemu lagi dengan Geom. Aku sangat berterima kasih pada langit. Ibu... Geom... Geom pasti akan segera menemukanmu."

Salah satu aparat polisi memasang tali gantungan di leher Yeon.

"Jika ada diantara kalian adalah kakak gadis ini, cepatlah maju!" kata kepala polisi. "Jika tidak, gadis ini akan mati di tiang gantungan. Tetap tidak ada yang maju?"

Chun dan Moo Yi berada diantara pada warga yang menonton, bersiap-siap mengambil tindakan jika Geom muncul.

Polisi menunggu beberapa saat, namun tidak juga ada yang maju. "Aku memberimu satu kesempatan lagi untuk menyelamatkan kakakmu. Aku hitung sampai tiga. Satu! Dua! Tiga!"

Kepala polisi hendak mengibarkan bendera tanda eksekusi akan dimulai. Namun tiba-tiba terdengar seruan seseorang. "Tunggu!"

Moo Yi bersiap menarik keluar pedangnya.

"Tolong jangan bunuh dia!" Ternyata Shi Hoo-lah yang berteriak.

Chun memberi isyarat agar Moo Yi menyimpan pedangnya dan menunggu.

"Apa yang terjadi?! Bukankah kau berjanji padaku tidak akan membunuh gadis itu?" seru Shi Hoo.

"Ini perintah dari pejabat tinggi." kata polisi.

Shi Hoo meledak marah dan berteriak, "Bukankah kau berjanji padaku tidak akan membunuhnya?!!!!"

Kepala polisi meyuruh anak buahnya membawa Shi Hoo pergi. Ia berkata pada Yeon, "Sampai akhir, adikmu tidak peduli apakah kau hidup atau mati. Aku memberimu kesempatan terakhir. Dimana adikmu?"

"Adikku... sudah lama mati." jawab Yeon.

Kepala polisi mengangkat benderanya tinggi-tinggi. Saat itulah Ryung berlari datang. Yeon melihatnya.

Ryung menepuk dada kirinya. "Tunggulah, adikmu akan menyelamatkanmu." Ryung berkata tanpa suara.

Yeon tersenyum.

Flashback saat Ryung melakukan uji coba dengan tali gantung. Ryung mengoleskan madu ke tali gantung dan melepaskan tikus agar si tikus bisa menggigit tali itu. Tali gantung yang digigit si tikus akan rapuh dan membuat tali tersebut putus jika ada beban berat yang diikatkan pada tali itu. Ryung mencobanya dengan menggantung dirinya sendiri dan itu berhasil.

Yeon tersenyum. Kayu tempat Yeon berdiri didorong sehingga membuat Yeon tergantung dan mati.

Ryung shock. Tali itu tidak putus. Ternyata sebelum eksekusi para polisi memeriksa tali yang digigit tikus dan menggantinya dengan yang baru.

Ryung menangis. Tiba-tiba pemburu Jang menepuknya dari belakang. "Benar-benar kejam... Melihat kakakmu dieksekusi di depan matamu sendiri." Pemburu Jang tertawa. "Itu sudah bisa diperkirakan. Saat kau masih kecil, kau bahkan melempar kepala ibumu sendiri dengan batu."

Ryung menggenggam tangannya erat-erat. Segala emosi berkecambuk di dalam dirinya. Sedih. Marah. Menyesal. Ia menghapus air matanya dan menoleh pada pemburu Jang, berkata acuh. "Paman, apa kau belum sembuh juga dari gigitan anjing gila? Bagus, ikuti saja aku seumur hidupmu. " Ryung berjalan pergi sambil ngedumel. "Benar-benar membosankan. Aku seharusnya tidak datang kesini."

Di rumahnya, Swe Dol menangisi kematian Yeon. "Gadis yang malang." tangisnya. "Aku tidak percaya ternyata gadis itu adalah kakak Ryung. Aku akan mengambil mayatnya."

Swe Dol bangkit dari duduknya.

"Apa kau mau menyebabkan Ryung terkena masalah?" Dan Ee berkata sedih.

Swe Dol menangis. "Ryung... Jika kelak ia tahu tentang cerita ini..."

"Ayah! Ibu! Apa ada sesuatu yang bisa dimakan?" terdengar Ryung berseru ceria. "Aku lapar!"

Swe Dol menghapus air matanya dan Dan Ee bergegas melakukan pekerjaannya lagi.

"Ayah! Ibu! Tadi aku baru dari pasar..." Ryung hendak bercerita. Dan Ee dan Swe Dol saling berpandangan. "Aku melihat apa yang seharusnya tidak dilihat. Sangat menyedihkan!" Ryung melihat makanan di meja dan kemudian memakannya. Ia tertawa-tawa dan bersikap seperti tidak terjadi apapun.

Moo Yi ternyata merasa curiga dan mengikuti Ryung. Melihat Ryung yang terlihat tidak sedih sama sekali karena Yeon meninggal, Moo Yi tersenyum, merasa konyol dengan kecurigaannya itu.

Ryung makan dan tersedak. Ia berlari masuk ke dapur untuk mengambil minum. Di sanalah ia menangis histeris. Menangis sejadi-jadinya. Dan ketika malam tiba, ia pergi ke rumah lamanya dan menangis lagi di depan pohon Mae Hwa.

Melihat lambang yang pernah diukirnya di pohon itu, dan teringat kenangan-kenangan menyedihkan tentang kakak dan pembunuhan ayahnya... Kemarahan membakar hatinya. Ia berlari ke tukang tatoo dan mengukir lambang pembunuh Lee Won Ho di dadanya.

"Jangan sampai ada kesalahan walau sedikit." kata Ryung pada pembuat tatoo. "Ukir lambang itu di sini." Ia menunjuk dada kirinya.

"Ayah.." Ryung berkata dalam hati. "Aku ingin melupakan segalanya. Yang aku inginkan hanyalah menemukan ibu dan kakakku. Tapi hari ini, kakakku mati. Aku, yang dulu melihat namun berpura-pura tidak melihat. Aku, yang dulu mendengar namun berpura-pura tidak mendengar. Aku tidak akan hidup seperti itu lagi. Aku pasti akan menemukan orang yang telah membunuh ayah dan kakakku. Aku akan membuatnya membayar semua rasa sakit yang selama ini kurasa. Pasti. Aku pasti akan melakukannya."

Shi Hoo murung dan bersedih sepanjang hari. Eun Sung mendekatinya dan membawa satu ikat bunga. "Kakak, aku sudah mendengar semuanya. Kakak, pergi dan hormati arwahnya."

Shi Hoo merebut bunga yang dibawa Eun Sung dan menginjak-injak bunga itu. "Menghormati? Kenapa aku harus melakukan itu?" seru Shi Hoo. "Wanita itu adalah penjahat. Dia melukai panjaga dan melarikan diri. Orang seperti itu pantas dihukum mati!"

Chun, Byun Shik dan Moo Yi mencari cara lain untuk menangkap Geom. Chun mengusulkan untuk memancing Geom menggunakan ibunya. Namun Byun Shik mengatakan bahwa ibu Geom telah meninggal karena kebakaran.

Hee Bong sengaja menunggu Ryung semalaman di pinggir jalan. "Aku mengkhawatirkanmu." katanya. "Apa kau baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja, Kak." jawab Ryung. "Aku tidak akan melupakan semua kebaikanmu." Ryung berjalan pergi, namun Hee Bong menariknya.

"Aku pasti akan menemukan ibumu." hibur Hee Bong.

"Tidak usah." ujar Ryung. "Kakakku... Jika aku tidak mencoba mencarinya, ia pasti tidak akan mati. Aku tidak ingin membahayakan ibuku. Aku tidak akan mencarinya. Aku yakin ia sedang hidup dengan baik di suatu tempat. Aku percaya itu."

Shi Hoo berjalan pulang dalam keadaan mabuk. Ia berpapasan dengan Shi Wan dan teman-temannya.

Teman Shi Wan meledek Shi Hoo habis-habisan soal Yeon. "Orang seperti dia ternyata sangat menakutkan. Hati-hati padanya, jika tidak kalian akan...."

Kali ini Shi Hoo tidak bisa bersabar. Ia maju dan memukul teman Shi Wan. Namun ia malah dikeroyok balik oleh kroni-kroni Shi Wan.

Shi Hoo terkapar dipinggir jalan dan terluka. Seorang wanita menolong dan membawa Shi Hoo ke ruangannya. Di ruangan wanita itu terdapat sebuah hiasan lilin kupu-kupu, yaitu hiasan yang dimiliki oleh keluarga Lee. Wanita itu adalah istri Lee Won Ho, Nyonya Han.

Nyonya Han merawat Shi Hoo yang sakit. Dalam tidurnya, Shi Hoo memanggil-manggil ibunya dan menangis. "Ibu... Ibu... Aku seorang pembunuh. Aku tidak percaya akulah yang telah membunuhnya. Kenapa? Kenapa kau membawaku ke rumah itu? AKu tidak bisa memaafkanmu."

Nyonya Han memegang tangan Shi Hoo untuk menenangkannya. Umur Shi Hoo yang hampir sepadan dengan anaknya membuatnya teringat. "Geom, pasti sudah tumbuh dewasa sepertimu." pikirnya sedih.

Shi Hoo terbangun keesokkan paginya. Seorang gadis penghibur masuk. "Koki di tempat kami memasakkan itu untukmu dan menyuruhmu memakannya jika sudah bangun."

Geom bertanya pada seorang ahli pedang tentang lambang pedang yang diingatnya sebagai pembunuh Lee Won Ho.

"Kau tidak akan bisa menemukannya." kata ahli pedang. "Pedang berharga semacam itu hanya akan ditemukan di dalam rumah para bangsawan. Mereka pasti menyimpan pedang seperti itu di ruang berharga mereka."

Hasil ujian telah keluar. Ryung gagal dalam ujian itu (tentu saja, karena Ryung memang tidak ikut). Shi Wan lolos dan menjadi peringkat pertama. Shi Hoo juga lolos, namun ia sama sekali tidak terlihat senang.

Pelayan Shi Hoo mengambil perkamen tanda kelulusan dan hendak memamerkannya pada anggota keluarga.

Malamnya, Shi Wan menyuruh pelayan Shi Hoo mengembalikan perkamen tersebut namun di dalamnya berisi jantung. Shi Hoo marah besar.

"Lihat saja!" seru Shi Hoo. "Suatu hari nanti, aku akan berdiri di atasmu!"

Hee Bong dan anggota gengnya (Geng Ajik) bertengkar dengan anggota geng lain (geng Tokjik). Mulai dari adu mulut, pertengkaran itu merembet menjadi adu otot. Ryung mengintip mereka dari jauh. Pihak Hee Bong mengalami kekalahan. Ryung menolong mereka melarikan diri.

Ryung bertanya pada Hee Bong mengenai gengnya. Hee Bong mejawab bahwa gengnya punya hubungan khusus dengan para bangsawan dan kerap kali masuk ke rumah para bangsawan untuk menolong mereka mengerjakan sesuatu.

Ryung berniat menggunakan kesempatan ini. Ia meminta Hee Bong menerimanya sebagai anggota geng Ajik, namun Hee Bong menolak. Ryung tidak pantas melakukan pekerjaan seperti itu. Gagal membujuk Hee Bong, Ryung kemudian memohon pada atasan Hee Bong. Dan usahanya kali ini berhasil. Atasan Hee Bong ingin melihat dulu apa yang bisa dilakukan oleh Ryung.

Karena Shi Hoo adalah anak haram, maka walaupun ia lolos ujian, ia tetap tidak bisa menjadi seorang pejabat. Shi Hoo terpaksa hanya menjadi seorang prajurit istana. Dan kepala prajurit adalah Shi Wan.

Pelayan Shi Hoo datang ke tempat Dan Ee membawa buku-buku Shi Hoo karena walaupun lolos ujian, Shi Hoo tetap saja tidak bisa menjadi pejabat istana. Pelayan itu juga menceritakan bahwa Shi Hoo menyerahkan Yeon ke polisi demi lolos ujian masuk. Dan Ee sedih mendengar hal itu dan merasa menyesal telah membawa Shi Hoo ke rumah Byun Shik.

"Hanya karena aku tidak ingin ia hidup sepertiku, aku menekan perasaanku dan membawanya ke rumah itu." Dan Ee menangis. "Apa yang harus kulakukan? Dia adalah adikmu.. Dia adikmu sendiri..."

"Apa maksudmu?" tanya Swe Dol bingung.

"Ja Dol-lah orang yang telah melaporkan kakak Ryung." ujar Dan Ee. "Karena itu dia mati."

"Apa?" Swe Dol terkejut. "Ya Tuhanku..."

Geng Hee Bong membuat keributan di pasar dan menganggu pedagang-pedagang di sana. Ryung tidak tega melihat pedagang itu, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa dan terpaksa ikut menginjak-injak barang pedagang itu.

Ketika geng Hee Bong sudah pergi, Ryung berbalik dan membantu merapikan barang dagangan yang telah dihancurkan. Seorang gadis kecil (putri si pedagang) melihatnya dari jauh.

Bong Soon marah melihat Ryung dan gengnya memporak-porandakan barang dagangan orang. Ia berteriak mencaci Ryung.

"Jangan marahi dia." kata si gadis kecil. "Aku akan menikah dengannya suatu saat nanti, jadi tolong jangan marahi dia."

Bong Soon bingung. "Aku mengakui bahwa penampilannya memang lumayan." kata Bong Soon. "Tapi dia sudah menghancurkan dagangan!"

"Kau tidak tahu apa-apa!" seru si gadis kecil marah.

Geng Hee Bong bekerja di rumah seorang bangsawan bernama Lee Myung. Ryung memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari tahu letak ruangan penyimpanan barang berharga milik bangsawan itu.

Ryung pulang ke rumah. Ia sangat terkejut melihat kelakuan ayah dan ibunya yang tidak biasa. Bahkan Dan Ee memotongkan daging untuknya.

Ryung berkata bahwa ia tidak ingin sekolah lagi dan akan mengikuti ujian untuk menjadi seorang prajurit. Swe Dol menjewer telinganya dan mengajaknya pergi. Di sepanjang jalan, Swe Dol memarahi Ryung.

Tiba-tiba seorang pria menabrak Ryung, kemudian mencuri dompet milik seorang wanita. "Maling! Maling!" jerit wanita itu.

Swe Dol ikut berteriak-teriak, "Tangkap maling itu!"

Ryung memeriksa bajunya. Ternyata barang miliknya juga dicuri. Tanpa pikir panjang lagi, Ryung bergegas berlari mengejar so pencuri. Wuzzz... Swe Dol terkejut Ryung bisa berlari begitu cepat.

Ryung mengejar pencuri itu sampai ke sungai dan mengambil kembali barang miliknya yang dicuri, yaitu perhiasan pemberian Lee Won Ho yang sangat berharga untuknya.

Ryung menyeret si pencuri kembali ke desa dan menyerahkannya pada polisi.

"Hidup!" seru Swe Dol, diikuti oleh warga yang lain. "Hidup! Hidup! Dia adalah putraku! Kami mirip kan? Hidup! Ayo bersalaman dengan pahlawan ini!"

Kejadian itu membuat Swe Dol mengizinkan Ryung untuk menjadi seorang prajurit. Ryung senang. Namun tiba-tiba ia malah meminta Swe Dol mengajarinya mencuri.

"Kau ingin menjadi prajurit karena ingin menangkap pencuri. Tapi kenapa kau malah ingin belajar mencuri?" tanya Swe Dol.

"Tentu itu penting agar bisa menangkap pencuri." kata Ryung. "Kita harus tahu metode yang digunakan si pencuri agar kita bisa menangkapnya."

Swe Dol setuju, asal Ryung tidak bercerita pada Dan Ee. (Kena dia!)

Malam itu, Ryung berdiri di atas bukit menggunakan pakaian hitam dan penutup wajah. Inilah awal munculnya Iljimae.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar