Silahkan Mencari !!!

Info!!!

kelanjutan fan fiction & recap drama semua ada di blog q yang baru
fanfic : www.ff-lovers86.blogspot.com
recap : www.korea-recaps86.blogspot.com
terima kasih...

Sabtu, 28 Agustus 2010

Jejoongwon (Episode 11)

Seok Ran memandang hiasan yang dikembalikan Hwang Jung dengan sedih. Ia murung dan mengunci diri di kamar selama berhari-hari.

Tuan Yoo memanggil Seok Ran dan hendak mengajaknya berjalan-jalan, namun Seok Ran menolak. Tuan Yoo agak terkejut, kerena tidak biasanya Seok Ran menolak ajakannya pergi.

Tuan Yoo cemas. "Kau sudah mengurung dirimu dalam kamar selama berhari-hari."

"Aku hanya sedang banyak pikiran." kata Seok Ran.

"Sungguh kau tidak ingin ikut denganku?" tanya Tuan Yoo. "Bagaimana jika kau pergi ke ruang penyimpanan?"

Mak Saeng menarik Seok Ran dengan paksa ke ruang penyimpanan. Disana ada sebuah sepeda baru pemberian ayahnya, namun Seok Ran tidak merasa senang.

"Ada apa denganmu?" tanya Mak Saeng. "Kau sudah memohon-mohon pada ayahmu selama bertahun-tahun!"

"Benarkah?" tanya Seok Ran murung. Ia maju dan menyentuh sepedanya tanpa ekspresi senang sama sekali.

Dokter Allen meminta Mong Chong memanggil murid-murid untuk mengadakan perputaran untuk melihat pasien. Saat itu, Hwang Jung dan Go Jang Geun belum keluar dari kamar mereka. Je Wook menjahati mereka dengan menyangga pintu dengan sendok agar pintu tidak bisa dibuka dari dalam.

Hwang Jung dan Jang Geun panik. Mereka bisa terlambat jika tidak segera keluar dari kamar.

Hwang Jung kemudian membuka jendela dan keluar lewat sana. Ia membukakan pintu untuk Jang Geun.

Di sisi lain, para murid sudah siap melakukan perputaran.

"Kupikir Hwang tidak bisa bergabung bersama kita. Mungkin Baek bisa mendampingi Dokter Allen." kata Je Wook.

"Silahkan." kata seorang murid. "Asistennya juga tidak ada disini."

Miryung berusaha mencari perhatian Do Yang. "Apa kau akan membantu Dr. Allen hari ini?"

Do Yang tidak menjawab.

"Hwang benar-benar orang tidak tahu malu." kata Je Wook menghina. "Aku tidak akan berani masuk ke Jejoongwon jika jadi dia."

"Karena dia murid pengganti?" tanya seorang murid.

"Hwang adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian ayah Do Yang." kata Je Wook.

Do Yang menatap Je Wook tajam. "Je Wook!"

"Menteri yang meninggal saat kudeta adalah ayah Do Yang." kata Je Wook.

"Sudah cukup!" seru Do Yang.

"Kenapa? Mereka berhak tahu!" kata Je Wook bersikeras. "Ayah Do Yang sekarat, tapi Hwang si bodoh itu melakukan operasi padanya dan menyebabkan kematiannya!"

"Apa yang dia tahu?" ledek seorang murid.

"Dia sangat mengerikan!" kata murid yang lain.

Beberapa saat kemudian, Allen datang. Ia bertanya dimana Hwang Jung, dan Je Wook menjawab, mungkin Hwang Jung masih tidur.

Hwang Jung dan Jang Geun datang. Allen mengatakan pada Hwang Jung jangan pernah terlambat lagi.

Dr. Allen dan murid yang lain menjenguk pasien. Hwang Jung menjelaskan penyakit-penyakit yang diderita para pasien.

"Katakan padaku tahapan malaria." kata Allen pada para murid.

Do Yang menjawab dengan lancar dan lengkap.

Allen memuji Do Yang. Ia kemudian bertanya pada Hwang Jung mengenai ciri-ciri malaria.

Hwang Jung menjawab, namun tidak lengkap. Do Yang melengkapi jawaban Hwang Jung.

"Perfect." kata Allen pada Do Yang.

Setelah perputaran, Allen meminta bahwa mulai besok, Do Yang-lah yang akan membuat laporan perputaran pasien.

"Bukankah itu tugas Hwang? Aku belum siap." kata Do Yang.

"Tidak. Pengetahuanmu akan membantu murid yang lainnya." kata Allen.

Semua murid bertepuk tangan menyelamati Do Yang, termasuk Hwang Jung, yang bisa menerima dengan ikhlas.

Nang Rang, pelayan Miryung, mendadak datang sambil berlari-lari. "Ada masalah!' serunya.

Allen dan yang lainnya bergegas mengikuti Nang Rang. Di sana, Miryung dan perawat lain sedang berkelahi hebat dengan seorang pria. Mereka saling jambak-menjambak.

"Disini rumah sakit!" seru Hwang Jung berusaha memisahkan mereka.

Kata-kata tidak mempan untuk bisa menghentikan perkelahian itu. Nang Rang punya ide. Ia membawa seember air dan menyiramkannya pada para wanita yang berkelahi.

Selain wanita yang bertengkar, ada pula satu wanita lain yang sedang hamil. Wanita itu pingsan seketika.

Dr. Allen memeriksa wanita hamil tersebut. "Ia baik-baik saja." katanya.

"Mereka berdua pasti selir." kata Je Wook.

Di luar, suami kedua wanita itu, Tuan Chun, menampar wanita yang tidak hamil. "Sudah kubilang jangan cemburu!" bentaknya.

"Tapi dia menghinaku." kata si wanita tidak hamil (yang bekelahi dengan perawat).

Tuan Chun mengangkat tangan hendak memukul si wanita, tapi wanita itu berteriak. "Bunuh saja aku! Bunuh aku dan bayi dalam kandunganku!"

Tuan Chun langsung melunak dan bersikap baik pada si wanita. Wanita itu pura-pura pusing.

Allen membawanya ke kamar pasien.

"Kapan menstruasi terakhirmu?" tanya Allen.

Karena mereka tidak mengerti kata 'menstruasi', maka Do Yang menjelaskan dengan tidak enak.

Si wanita marah-marah. "Beraninya kau bertanya padaku sesuatu seperti itu!" omelnya.

Tuan Chun juga marah-marah, kemudian mengajak istrinya itu pulang.

"Andai Nona Yoo ada disini, kita pasti bisa melakukan perawatan." kata Allen. "Aku sudah meminta misioner agar mengirimkan seorang dokter wanita."

Seok Ran masih saja murung dan mengurung diri dalam kamar. Ia juga tidak mau makan.

Mak Saeng dan ibunya khawatir pada sikap Seok Ran yang tidak biasa.

Nyonya Yoo mengatakan bahwa Tuan Yoo sedang menjemput seorang dokter wanita. Seok Ran merasa tertarik dan menjadi bersemangat. Ia bergegas mengambil sepedanya dan menuju ke tempat ayahnya menjemput dokter wanita.

Di sepanjang perjalanan, orang-orang menatapnya dengan heran. Pada zaman itu, menaiki sepeda bukanlah hal yang biasa.

Seok Ran sampai dan bertemu dengan dokter wanita bernama Dr. Horton. Tuan Yoo meminta Seok Ran mengantarkan Dr. Horton ke Jejoongwon.

"Jejoongwon?" tanya Seok Ran.

"Aku ada keperluan mendadak yang harus diselesaikan." kata Tuan Yoo.

Seok Ran kelihatan ragu dan berpikir, namun menyetujui permintaan ayahnya.

Seok Ran mengantar Dr. Horton ke Jejoongwon.

Dr. Allen senang sekali bertemu Dr. Horton dan mengajaknya masuk ke ruangan untuk berbincang.

Seok Ran menunggu di luar.

Hwang Jung berjalan, membawa beberapa keperluan medis.

Seok Ran menaiki sepedanya dan berputar mengelilingi Hwang Jung. Matanya berkaca-kaca, hampir menangis.

Hwang Jung bingung.

Tiba-tiba Seeok Ran menghentikan laju sepedanya di samping Hwang Jung.

"Apakah perbincangan kalian menyenangkan?" tanya Seok Ran.

Hwang Jung menoleh ke belakang. Seok Ran sedang bicara dengan Dr. Allen dan Dr. Horton.

Tanpa berkata apa-apa pada Hwang Jung, Seok Ran maju mendekati kedua dokter.

Seok Ran membantu Dr. Horton memperkenalkan diri di kelas.

Seok Ran menatap Hwang Jung, namun Hwang Jung menunduk untuk menghindari tatapannya.

Dr. Horton akan mengajari mereka Ilmu Kebidanan dan Ginekologi, segala sesuatu yang berkaitan dengan kehamilan.

Anak-anak menertawakan. "Kau tidak akan bilang kita harus membantu melahirkan kan?"

"Kita harus membantu proses kelahiran jika kondisi sedang darurat." kata Allen.

Baek Kyu Hyun memanggil Dr. Allen dari luar. Ia mengatakan bahwa selir Tuan Chun akan melahirkan sungsang, dan mungkin akan meninggal.

Dr. Allen hendak masuk untuk melihat, namun Tuan Chun dan Chung Hwan melarangnya. "Ini kamar wanita!"

Dr. Horton dan Seok Ran masuk untuk melihat keadaan. Bayi tersebut kaki yang keluar terlebih dahulu. Dr. Horton memutuskan untuk melakukan operasi.

Dr. Horton dan Seok Ran membawa pasien ke ruang operasi. Dr. Horton meminta memanggil para perawat agar membantunya, namun tidak ada satupun perawat yang mau. Akhirnya Nang Rang yang bersedia membantu.

Murid-murid keluar dari kelas dan ingin melihat jalannya operasi.

Dr. Horton membedah perut pasien. Ia meminta Seok Ran dan Nang Rang memegang sebuah benda untuk membuka kedua sisi perut.

Hwang Jung melihat dari jendela, namun Je Wook mendorongnya pergi sehingga ia tidak bisa melihat apapun.

Dr. Horton mengambil bayi dari dalam rahim, kemudian memotong ari-arinya.

Bayi tersebut tidak bernafas, jadi Dr. Horton memberikan nafas buatan dan memukul pantas si bayi pelan.

Akhirnya bayi menangis.

Bayi dan si ibu selamat.

Hwang Jung meminta tolong pada Jang Geun untuk menggambarkan di sebuah kertas, apa yang dilakukan Dr. Horton pada si bayi.

Nang Rang sangat gugup setelah operasi. Jika terjadi kelahiran sungsang maka biasanya bayi dan si ibu meninggal. Namun kali ini, keduanya hidup.

"Dr. Horton pasti datang dari langit." kata Nang Rang pada Seok Ran, karena Dr. Horton tidak mengerti bahasa Korea. "Jika saja ia datang beberapa tahun lebih awal."

Mata Nang Rang bekaca-kaca. Dr. Horton memintanya menarik napas dalam-dalam agar lebih tenang.

"Ada apa?" tanya Seok Ran pada Nang Rang.

"Lima tahun yang lalu, ibuku meninggal karena melahirkan." ujar Nang Rang, menangis. "Ia melahirkan sungsang seperti hari ini. Jika dulu Dr. Horton ada disini, maka ibuku dan bayinya pasti akan hidup."

Dr. Allen mengajari murid-murid napas buatan. "Metode ini biasanya digunakan bagi orang yang tenggelam." kata Allen.

"Orang yang tenggelam masih bisa hidup?" tanya Je Wook. "Sepupuku tenggelam dan meninggal."

Allen meminta Je Wook maju dan berbaring di meja.

"Setelah korban dikeluarkan dari air, miringkan kepalanya seperti ini." Dokter Allen mencontohkan. "Setelah itu, luruskan tubuhnya dan angkat kepalanya. Luruskan lehernya dan pencet hidungnya." Dr Allen lalu memberikan napas buatan pada Je Wook.

Je Wook mendorong Allen. "Apa yang kau lakukan?!" teriaknya. "Semua orang melihat!"

Seok Ran mengantar Dr. Horton pulang. Diam-diam, Hwang Jung mengintip kepergian Seok Ran dari jauh.

Kim Don melaporkan datangnya seorang dokter wanita ke Jejoongwon. Dokter tersebut melakukan operasi caesar, bayi dan si ibu keduanya selamat.

Duta Besar melrik Watanabe. Watanabe juga pernah melakukan operasi caesar, namun si ibu meninggal.

"Lalu, apakah ada murid yang berbakat?" tanya Duta Besar Jepang.

"Ya, Hwang Jung dan Baek Do Yang sangat pandai." kata Kim Don.

"Aku kenal Baek Do Yang." kata Watanabe. "Tapi siapa Hwang Jung?"

"Aku tidak yakin. Dia adalah murid pengganti. Kemampuannya menggunakan pisau sangat luar biasa." jawab Kim Don. "Menurut pendapatku, hanya dua orang itulah yang akan menjadi dokter jika lulus. Kedokteran barat akan segera terbentu di Korea."

"Itu tidak bisa diterima!" seru Duta Jepang. "Saat-saat bersejaran itu adalah milik Jepang!"

"Aku akan menjalankan misiku sesuai rencana." ujar Kim Don.

Nang Ran ingin sekali menjadi seorang perawat. Saat malam, ia bermain ke ruang operasi dan melihat-lihat benda disana. Ia berpura-pura sedang melakukan operasi seperti tadi siang.

Hwang Jung melihatnya dan tertawa. Nang Rang malu.

"Dimana perawat yang lain?" tanya Hwang Jung. "Mereka mabuk-mabukan lagi, kan?"

Nang Rang mengangguk. "Ini pertama kalinya aku melihat perut dibuka."

Hwang Jung mengatakan pada Nang Rang agar berhati-hati memegang peralatan medis di ruang tersebut.

Hwang Jung kembali ke kamar. Jang Geun mencari-cari hiasan milik Hwang Jung.

"Aku tidak sengaja menyadari hilangnya hiasan itu saat sedang mencari pensil." kata Jang Geun. "Bicaralah padaku. Kita kan teman sekamar. Jika ada masalah, sudah seharusnya kita saling membantu."

"Aku membuangnya." kata Hwang Jung murung.

"Membuangnya? Kau benar-benar bukan pria sejati! Kau tidak bisa membuang hati seorang wanita seperti itu!Jik aia tahu kau membuang benda itu... dia pasti patah hati.."

Di rumah keluarga Yoo, Dr. Horton mengajari Seok Ran berdansa. Nyonya Yoo dan Mak Saeng bergabung.

Dr. Horton meminta izin pada Tuan Yoo agar mengizinkan Seok Ran menjadi asistennya.

Keesokkan harinya, Dr. Horton menemui Raja bahwa ia menginginkan Seok Ran menjadi asistennya.

Raja berpikir sejenak dan akhirnya menyetujui hal tersebut. Seok Ran akan kembali ke Jejoongwon sebagai asisten Dr. Horton.

Do Yang menjemput Seok Ran dan mengajaknya ke toko buku.

Di lain pihak, Hwang Jung juga sedang menuju toko buku. Sesampainya di toko buku, ia melihat Do Yang dan Seok Ran di sana. Hwang Jung mengintip sedikit, kemudian pulang, mengurungkan niatnya.

Di Jejoongwon, Gwak memberi tahu Hwang Jung bahwa Seok Ran akan kembali ke Jejoongwon. Hwang Jung tidak terlihat senang.

Di Laboratorium Jejoongwon, Dr. Allen mengajarkan kimia pada murid-murid.

"Jika kau mencampurkan asam Nitrit dan Sulferic dengan gliserol, maka akan menjadi nitrogliserin." Dr. Allen menjelaskan. "Apa ada yang tahu fungsi Nitrogliserin?" Tidak ada yang menjawan. "Tuan Hwang, apa kau tahu?"

Hwang Jung melamun. Jang Geun menyenggolnya.

"Apa fungsi Nitrogliserin?" tanya Allen lagi. Hwang Jung tidak mengetahui jawabannya. "Tuan Baek?"

Do Yang menjawab, "Nitrogliserin digunakan untuk menurunkan tekanan darah."

Dr. Allen membenarkan. "Kalian harus hati-hati, karena senyawa ini bisa meledak. Jumlah ini bisa meledakkan seisi kelas."

Kim Don berpikir. Ia buru-buru menuliskan reaksi kimia yang dibutuhkan untuk membuat senyawa itu meledak.

Hwang Jung dan Jang Geun melakukan tugas bergilir untuk memeriksa Nitrogliserin. Kelompok selanjutnya adalah Baek Do Yang dan Joon Je Wook.

Setelah Hwang Jung dan Jang Geun keluar, Kim Don dengan diam-diam masuk dan melakukan sesuatu.

Hwang Jung berjalan ke sebuah ruangan untuk melihat bayi yang baru lahir.

Di tengah perjalanan, ia berpapasan dengan Seok Ran. Mereka bicara dengan kaku. Setelah pembicaraan singkat, Hwang Jung berbalik pergi.

Do Yang dan Je Wook menuju laboratorium. Dari jendela, terlihat asap keluar dari dalam. Do Yang masuk, sementara Je Wook ragu-ragu untuk masuk. "Do Yang, ayo pergi saja dari sini!" ajaknya.

Seok Ran mengejar Hwang Jung.

"Kenapa kau menghindari aku?" tanya Seok Ran.

"Tidak." jawab Hwang Jung.

"Kau menghindariku sejak mengembalikan hiasan." kata Seok Ran.

"Tidak begitu."

Do Yang masuk ke laboratorium.

Tiba-tiba terjadi ledakan di sana. Do Yang terkena ledakan api dan pingsan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar