Silahkan Mencari !!!

Info!!!

kelanjutan fan fiction & recap drama semua ada di blog q yang baru
fanfic : www.ff-lovers86.blogspot.com
recap : www.korea-recaps86.blogspot.com
terima kasih...

Jumat, 03 September 2010

Jejoongwon (Episode 28)

Baek Do Yang membantu Hwang Jung mengobati pasien.

"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Miryung.

"Bagaimana denganmu, Perawat Miryung?" Do Yang bertanya balik.

"Ya, aku baik-baik saja." jawab Miryung.

Seok Ran datang ke ruang operasi untuk melihat siapa dokter yang dikirim RS Hansung. Seok Ran diam, terkejut melihat Do Yang ada disana.

"Aku Direktur Jejoongwon, Dr. Avison." Dr. Avison memperkenalkan dirinya pada Do Yang setelah mereka selesai mengobati pasien. "Kudengar kau dan Dr. Hwang adalah murid yang paling pandai di Jejoongwon. Bagaimana jika kau bekerja disini?"

"Benar." kata Hwang Jung, tersenyum. "Bukankah kau kembali untuk bekerja disini?"

Do Yang terdiam sesaat, menatap Hwang Jung. "Itu mustahil." jawabnya. "Aku mendapat beasiswa pendidikan dari Jepang."

"Rumah Sakit Hansung dibuat untuk mengeksploitasi orang Korea." kata Seok Ran. "Bagaimana bisa kau bekerja untuk mereka?"

"Dr. Baek, kau tahu betul orang seperti apa Watanabe." kata Hwang Jung.

"Kedokteran tidak digunakan untuk politik." kata Do Yang.

"Ratu kita dibunuh oleh orang Jepang!" seru Hwang Jung.

"Kudengar itu perbuatan penjahat." kata Do Yang. "Kau terlalu mencurigai Jepang."

"Tapi kami ada disana ketika semuanya terjadi." kata Seok Ran. "Itu bukan perbuatan penjahat atau bandit!"

Seperti apapun Seok Ran dan Hwang Jung membujuk Do Yang, Do Yang tetap bersikeras menolak untuk kembali ke Jejoongwon.

Tuan Yoo, Chung Hwan dan pelajar juga berusaha membujuk Do Yang, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk merubah keputusan Do Yang.

Hwang Jung meminta Seok Ran bicara dan membujuk Do Yang. "Kurasa, hanya kaulah yang bisa merubah pikirannya." kata Hwang Jung.

Seok Ran terlihat enggan, namun akhirnya setuju.

Tuan Yoo sengaja datang ke Jejoongwon untuk bicara dengan Hwang Jung.

"Aku ingin kau membantuku melakukan sesuatu." kata Tuan Yoo pada Hwang Jung. "Ini menyangkut Yang Mulia."

Tuan Yoo kemudian mengajak Hwang Jung menemui beberapa pejabat, diantaranya adalah Lee Yong Ik (Menteri Dalam Negeri), Underwood dan seorang pria lain.

"Aku sudah mendengar tentangmu dari Ratu dan Tuan Min Young Ik." kata Yong Ik. "Kami merasa kau adalah kandidat yang paling tepat. Kita harus membantu Yang Mulia melarikan diri ke Kedutaan Rusia."

Hwang Jung meminta Tuan Yoo menceritakan mengenai Lee Yong Ik.

"Mulanya ia adalah pedagang air." kata Tuan Yoo. "Saat Pemberontakan Imo, ayah Raja berusaha membunuh Ratu. Apakah kau pernah mendengar mengenai seorang pria yang menggendong Ratu di punggungnya dari istana sampai ke Yeoju?"

"Apakah maksudmu, pria yang diberi julukan 'Kilat' karena ia menggunakan sihir untuk lari?" tanya Hwang Jung.

"Ya, itulah dia." kata Tuan Yoo. "Dia bukan hanya Menteri Dalam Negeri, tetapi juga kepala finansial dan militer pada pemerintahan. Selain itu, dia juga adalah Kepala fraksi pro-Rusia Chinro. Ia dan pejabat yang lain ingin membawa Yang Mulia ke Kedutaan Rusia agar Yang Mulia bisa aman dan menjauhkan Jepang darinya."

Pagi itu, Hwang Jung keluar dari Jejoongwon. Diam-diam Kim Don mengikutinya.

"Jika kita gagal, bukan hanya nyawamu dan nyawaku saja yang akan hilang, tapi nyawa Yang Mulia juga akan berada dalam bahaya." Hwang Jung teringat Tuan Yoo berkata.

Hwang Jung berjalan menuju ke Kedutaan Rusia untuk menemui Duta Besar Rusia. Selain untuk memeriksa mata Duta Rusia, ia juga ingin mengingatkan bahwa malam ini seorang tamu spesial akan datang.

"Kami sudah siap menyambutnya." kata Duta Rusia.

Kim Don melaporkan tindak-tanduk Hwang Jung pada Duta Rusia dan Watanabe. Duta Jepang curiga bahwa Jejoongwon merencanakan sesuatu dengan Kedutaan Rusia.

"Bagaimana dengan Baek Do Yang?" tanya Duta Jepang. "Kenapa ia mengobati orang-orang yang melakukan unjuk rasa?"

Watanabe terkejut. "Itu... aku yang menyuruhnya." kata Watanabe berbohong.

"Dia tetap orang Korea." kata Duta Jepang. "Ingat, jika dibutuhkan, dia akan menjadi orang pertama yang harus dibuang jauh."

Rupanya Watanabe sama sekali tidak tahu bahwa Do Yang pergi mengobati pasien di Jejoongwon.

"Kenapa kau pergi ke Jejoongwon?" tanya Watanabe. "Kenapa kau pergi padahal aku sudah melarangmu?"

"Dokter akan pergi ke tempat dimana ada pasien." jawab Do Yang tenang. "Mereka butuh bantuan dan aku membantu mereka. Apa ada yang salah?"

"Aku Direktur Rumah Sakit Hansung!" seru Watanabe marah. "Jika aku bilang jangan pergi, itu karena ada alasan bagus! Kau harus mematuhi perintahku!"

"Pasien adalah orang-orang yang harus kupatuhi." kata Do Yang membantah.

Watanabe diam.

Seok Ran melaksanakan permintaan Hwang Jung untuk membujuk Do Yang. Setelah Do Yang selesai dari pekerjaannya, Seok Ran mencoba bicara dengannya.

"Tuan Muda, tidak bisakah kau kembali ke Jejoongwon?" bujuk Seok Ran.

Do Yang diam. Ia teringat Je Wook berkata bahwa Seok Ran dan Hwang Jung putus.

Pelayan mengantarkan minuman untuk mereka.

"Minumlah dulu." kata Do Yang ramah.

Seok Ran mengambil cangkir dan meminumnya. Do Yang menoleh untuk melihat jari Seok Ran. Ada cincin pemberian Hwang Jung melingkar di jarinya.

"Dr. Hwang sangat cemas." kata Seok Ran. "Sejujurnya setelah kau pergi, ia sangat mencemaskanmu."

"Begitukah?" tanya Do Yang. "Dia masih saja punya kebiasaan mencemaskan orang lain."

Seok Ran tersenyum. "Kau juga sama sekali belum berubah."

Do Yang tertawa kecil. "Kenapa kau belum menikah dengan Dr. Hwang?" tanyanya. "Tadinya kupikir saat ini kau sudah menjadi istrinya."

"Memang begitulah adanya." jawab Seok Ran. "Saat ini, Jejoongwon makin berkembang. Karena itulah kau harus kembali. Karena itulah aku bicata denganmu. Tolong kembalilah ke Jejoongwon."

"Itu tidak akan pernah terjadi." kata Do Yang. "Mulanya, ada dua alasan kenapa aku memilih Jejoongwon. Tapi suatu hari, aku sadar bahwa kedua alasan tersebut sudah tidak ada. Karena itulah aku pergi." Do Yang menarik napas dalam. "Tidak ada gunanya membicarakan masa lalu. Aku harus pergi sekarang."

Tiba-tiba, seorang gadis Jepang datang.

"Do Yang-sama, kenapa kau meninggalkan Jepang tanpa menemuiku?" tanya gadis itu.

Do Yang terkejut melihat gadis itu. Ia kemudian berpaling pada Seok Ran. "Ini tunanganku." katanya pada Seok Ran.

"Kalian tampak serasi." kata Seok Ran.

Gadis Jepang itu bernama Naoko. Ia bertemu dengan Do Yang ketika menjadi pasiennya.

Do Yang dan Naoko berjalan di kota. Seok Ran memohon pamit untuk pulang.

Do Yang menyadari bahwa seorang pria mengikuti mereka.

Do Yang berlari dan menjebak pria itu. Ia memukuli pengintai itu habis-habisan, namun si pengintai berhasil kabur.

"Aku pernah melihat pria itu di kantor Watanabe!" seru Naoko.

"Dia pasti mengikutimu." kata Seok Ran.

"Dia juga memata-matai Jejoongwon." ujar Do Yang.

Kim Don memata-matai tempat Hwang Jung dan yang lainnya merundingkan rencana mereka mengeluarkan Raja dari istana. 'Lima Orang' begitulah yang ditulis Kim Don dicatatannya.

Tuan Yoo mengusulkan sebuah ide, yakni menyamarkan Raja dan Putra Mahkota menjadi pelayan istana yang sakit kemudian membawa mereka dengan tandu.

Setelah selesai berunding, mereka bangkit dari duduknya dan berjalan pergi. Yong Ik merasa kakinya sakit.

Hwang Jung memeriksa kaki Yong Ik. "Ini pemekaran urat." katanya. "Pemekaran ini disebabkan kebiasaan terlalu banyak duduk."

"Aku tahu ini akan terjadi." kata Yong Ik. "Dulu aku pelari yang baik, tapi sekarang aku selalu menaiku tandu. Apa yang harus kulakukan?"

"Aku menyarankan melakukan operasi secepatnya." ujar Hwang Jung.

"Setelah kita menyelesaikan tugas kita, aku akan pergi ke Jejoongwon." kata Yong Ik. "Selain itu, aku berdoa untuk keberhasilanmu. Masa depan Korea ada ditanganmu."

Kim Don mengintai mereka dari jauh.

Di tempat lain, Chung Hwan dan para pelajar melanjutkan aksi unjuk rasa mereka.

"Yang Mulia, jangan lupakan pembunuhan Ratu!" seru mereka.

Chung Hwan menggigit jarinya hingga berdarah, kemudian menulis di sebuah kertas dengan darahnya. "Kekuatan kami untuk Raja. Kesetiaan kami pada Raja."

"Yang Mulia, tolong cabut kembali perintahmu untuk memotong rambut kami!"

Do Yang duduk diam di kantornya, melihat cincin ibunya. Naoko mendadak masuk dan memakai cincin itu. Do Yan merebut cincin tersebut dengan kasar.

"Ini milik ibuku." kata Do Yang. "Maafkan aku."

Naoko kemudian mengajak Do Yang ke suatu ruangan. Disana ada Alat Sinar X.

"Ini hadiah dari ayahku untukmu." kata Naoko. "Apakah kau suka?"

"Kami sangat menyukainya!" Watanabe tiba-tiba muncul.

Seok Ran menceritakan pada Tuan Yoo bahwa Do Yang mengatakan Jejoongwon sedang diawasi. Tuan Yoo menjadi cemas.

"Aku harus segera pergi." kata Tuan Yoo. "Seok Ran, pergilah pada Tuan Hwang dan katakan padanya untuk melupakan hari ini."

"Ada apa dengan hari ini?" tanya Seok Ran bingung.

"Kau tidak perlu tahu. Sampaikan saja pesanku."

Do Yang memeriksa Yong Ik. Tidak lama kemudian. Tuan Yoo datang. Ia sangat terkejut melihat Do Yang ada disana.

Melihat Tuan Yoo datang, Do Yang memohon diri untuk pergi.

"Aku membatalkan rencana hari ini karena Jejoongwon sedang diawasi." kata Tuan Yoo pada Yong Ik. "Kita harus mencari tahu apa yang terjadi dan menunda rencana kita."

Hwang Jung bersiap pergi. Gwak dan Jang Geun menyamar menjadi pembawa tandu.

"Mau kemana kalian?" tanya Seok Ran mendadak muncul.

"Tidak kemana-mana." jawab Hwang Jung.

"Dr. Go berpakaian seperti pembawa tandu." bantah Seok Ran. "Apapun alasanmu, kau tidak bisa pergi. Ayah mengatakan padamu untuk melupakan hari ini."

"Kenapa rencana berubah?" tanya Hwang Jung.

"Jejoongwon sedang diawasi." jawab Seok Ran.

Hwang Jung membawa Seok Ran keluar dan menceritakan segalanya. Beberapa saat setelah itu Chung Hwan dan pelajar tiba di Jejoongwon setelah unjuk rasa. Mereka mengatakan bahwa besok Pasukan pro-Jepang akan datang untuk menghentikan unjuk rasa para pelajar. Jika pasukan tersebut datang, maka akan sulit bagi Hwang Jung dan yang lainnya mengeluarkan Raja dari istana. Malam ini adalah kesempatan terakhir mereka mengeluarkan Raja.

Akhirnya, Hwang Jung, Seok Ran, Jang Geun dan Gwak memutuskan untuk tetap pergi ke istana dan mengeluarkan Raja, walaupun Tuan Yoo sudah meminta mereka membatalkan rencana malam itu.

Hwang Jung dan yang lainnya datang ke istana. Para penjaga memeriksa tandu yang mereka bawa, kemudian mengizinkan mereka masuk.

"Yang Mulia, jika kau tidak menggunakan pakaian ini, maka kau tidak akan bisa keluar dari istana." kata seorang pejabat, membujuk Raja untuk mengenakan pakaian pelayan istana.

"Aku Raja negara ini. Aku tidak bisa menggunakan pakaian itu!" kata Raja menolak.

"Yang Mulia, tolong dengarkan kami." Hwang Jung membujuk. "Jika kau tetap di istana, kau akan menerima penghinaan yang lebih besar dari Jepang. Aku pernah mendengar bahwa seorang pria yang mengemban tugas besar, menahan hinaan merangkak diantara kaki."

"Maksudmu, pahlawan Cina, Han Sin?" ujar Raja. Raja akhirnya bersedia memakai pakaian pelayan itu.

Raja dan Putra Mahkota menaiki tandu. Kim Don dan beberapa prajurit Jepang menghadang jalan mereka. Underwood dan seorang pejabat mengintip dengan waswas.

"Kami akan membawa dua pasien yang terkena typhoid ke Jejoongwon." kata Hwang Jung.

"Kau mungkin mencuri benda berharga dari istana." kata Prajurit Jepang. "Atau mungkin juga Raja dan Putra Mahkota!"

"Apa maksud kalian?" tanya Seok Ran. "Kau pikir Raja dan Putra Mahkota ada di tandu?"

"Turunkan tandu." perintah prajurit Jepang.

"Mereka dalam kondisi kritis!" seru Seok Ran. "Biarkan kami lewat."

Prajurit Jepang mengeluarkan pedang dan mengarahkannya ke leher Hwang Jung. "Turunkan tandu." perintahnya.

Underwood dan pejabat bersiap dengan pistol mereka.

Hwang Jung memberi isyarat agar tandu diturunkan.

"Usaha bagus." ujar Kim Don, tersenyum licik. Ia dan prajurit Jepang berjalan mendekati tandu. "Bau apa ini?" tanyanya. "Apakah seseorang sedang diare?"

"Sudah kubilang mereka terkana typhoid!" seru Hwang Jung.

"Typhoid sangat menular." Seok Ran menambahkan.

"Terserah." ujar Kim Don, membuka pintu tandu dan melihat kedalam. "Sangat bau." gumamnya kesal.

"Tunjukkan dirimu." kata prajurit Jepang.

Orang ditandu membuka mantelnya. Ternyata orang tersebut memang benar-benar seorang pelayan wanita yang terkena penyakit typhoid. Kim Don menutup tandu dengan cepat, takut tertular.

"Raja pasti pergi tanpa putranya." kata Kim Don, melihat tandu yang satunya. Ia dan prajurit Jepang bergegas mendekati dan membuka pintu tandu.

"Hachim!" orang yang di dalam tandu bersin dengan suara wanita.

Kim Don bergegas menutup pintu tandu.

"Sebaiknya kau cepat-cepat membersihkan dirimu." kata Seok Ran. "Kau akan tertular typhoid."

Kim Don bingung. Prajurit Jepang menatap Kim Don dengan marah, kemudian berjalan pergi.

Seok Ran dan Hwang Jung menarik napas lega. "Ayo pergi."

Akhirnya rombongan Hwang Jung berhasil keluar dari istana.

"Yang Mulia, kita sudah meninggalkan istana." ujar Hwang Jung.

Wanita yang terkena typoid menyingkir. Raja ada di belakangnya. "Kau menyelamatkan nyawaku." ujar Raja.

"Tidak, Yang Mulia. Kami hanya melakukan apa yang direncanakan." kata Hwang Jung. "Kumpulkan kembali hati dan kekuatanmumu, kemudian kembalikan negara kita ke keadaan semula."

"Ya, aku akan mengumpulkan kembali kekuatanku." ujar Raja dengan mata berkaca-kaca. "Aku akan mengumpulkan kekuatanku untuk melawan Jepang."

Hwang Jung dan yang lainnya berhasil membawa Raja dan Putra Mahkota ke Kedutaan Rusia dengan selamat.

Keesokkan harinya, rakyat bersorak di depan Kedutaan Rusia, "Hidup Raja! Hidup Raja!"

Raja memulai aksinya. "Para pemberontak Kim Hong Jip, Jung Byung Hwa, Yook Il Jun, Cho Hee Eun, Jak Bak harus diturunkan dari jabatan mereka dan dikurung dalam penjara." kata Raja pada seorang pejabat.

"Ya, Yang Mulia!"

"Kim Young Shik, kau akan menjadi Perdana Menteriku yang baru." kata Raja. Raja juga mengangkay Lee Yong Ik menjadi Menteri Luar Negeri. "Kalian akan melanjutkan penyelidikan dibalik pembunuhan Ratu."

Cabang Rumah Sakit Hansung yang menggunakan bangunan Jejoongwon diusir pergi. Suzuki mengangkat barang-barangnya pergi. Miryung dan Nang Rang mengejeknya.

Kabinet pro-Jepang telah jatuh. Perdana Menteri lama dan Menteri Pertanian dipukuli hingga mati. Sisanya bersembunyi dan lenyap begitu saja. Duta Besar Jepang kebakaran jenggot.

"Hanya ada satu jalan lagi." kata Watanabe. "Kita bisa menggunakan kedokteran untuk meraih dukungan fraksi pro-Rusia. Baek Do Yang akan melakukan tugas dengan baik."

Do Yang berkunjung ke rumah barunya. Disana, Kyu Hyun telah tinggal bersama dengan Park So Sa. Do Yang meminta bantuan Kyu Hyun untuk memberitahukan padanya jika Lee Yong Ik datang ke Jejoongwon. Ia memiliki penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh Jejoongwon (Hansung memiliki peralatan medis yang canggih sementara Jejoongwon tidak).

Hwang Jung diundang makan bersama di rumah keluarga Yoo oleh Tuan Yoo. Nyonya Yoo kelihatan sangat tidak menyukai Hwang Jung.

Setelah pulang dari rumah keluarga Yoo, Seok Ran dan Hwang Jung melewati sebuah studio foto.

"Karena kita sudah disini, kita harus berfoto." kata Seok Ran. "Kau hanya memiliki satu fotoku, bukan?

"Bagaimana kau..." tanya Hwang Jung.

Seok Ran tertawa. "Bukankah seharusnya foto itu kau berikan padaku?" tanyanya.

Hwang Jung tertawa. "Ayo kita masuk. Aku akan mengganti foto yang kuambil!" katanya.

Hwang Jung dan Seok Ran masuk ke studio foto.

"Lebih dekat sedikit." kata tukang foto.

Hwang Jung menggenggam tangan Seok Ran. Tukang foto mengambil foto mereka.

Do Yang mempublikasikan Alat Sinar X pada para wartawan.

Setelah itu, Nyonya Yoo datang menemui Do Yang. Ia meminta Do Yang kembali pada Seok Ran. Naoko kesal dan memberitahu Nyonya Yoo bahwa ia adalah tunangan Do Yang.

Tiba-tiba seseorang masuk dan memberitahukan Do Yang bahwa Yong Ik pergi ke Jejoongwon dalam kondisi sekarat.

"Kau terkena radang usus buntu." kata Hwang Jung. "Namun sudah pecah dan infeksi menyebabkan radang selaput perut."

"Lalu apa yang akan kita lakukan?"

"Kami akan melakukan operasi." kata Hwang Jung.

"Operasi? Maksudmu kau akan memotong perutku?" tanya Yong Ik takut.

Do Yang tiba. Ia meminta izin pada Hwang Jung untuk memeriksa Yong Ik. "Kau terkena radang selaput perut dari perforasi ulkus."

"Kurasa dari pecahan usus buntu." kata Hwang Jung. "Kita harus memotong bagian bawah perut."

"Dari perforasi ulkus." kata Do Yang bersikeras. "Kita harus memotong perut bagian tengah."

Do Yang ingin membuktikan kata-katanya dengan menggunakan Alat Sinar X di Rumah Sakit Hansung. Lee Yong Ik ragu, namun Hwang Jung mengatakan mereka harus melakukannya untuk memastikan.

Yong Ik diperiksa dengan Alat Sinar X. Diagnosis Do Yang benar. Ia ingin melakukan operasi pada Yong Ik di Hansung.

"Aku mempercayaimu, Dr. Baek." ujar Hwang Jung. "Tapi aku tidak mempercayai Rumah Sakit Hansung. Tuan Lee adalah anggota kabinet Yang Mulia. Itu artinya ia adalah musuh Jepang."

"Dr. Hwang, aku adalah dokter yang melakukan sumpah dokter!" seru Do Yang. "Disini rumah sakit dan aku seorang dokter. Aku akan melindungi pasienku apapun yang terjadi."

"Aku tidak punya kekuatan untuk kembali ke Jejoongwon." kata Yong Ik, kesakitan. "Baek Do Yang, lakukan operasi. Dan Tuan Hwang, tolong bantu operasi."

Duta Jepang mendengar kabar Yong Ik dioperasi di Hansung.

"Bunuh Lee Yong Ik, tapi buat seolah-olah itu kesalahan Hwang Jung." kata Duta Jepang. "Lee Yong Ik tidak akan pernah mengkhianati Raja. Lebih baik kita melenyapkan dia secepatnya.'

"Tapi... tapi Hwang Jung juga ada di ruang operasi." kata Watanabe.

"Bunuh Lee Yong Ik dan buat autopsi seakan itu kesalahan Hwang Jung!" perintah Duta Besar.

Hwang Jung diam, melihat Do Yang melakukan operasi pada Yong Ik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar