Silahkan Mencari !!!

Info!!!

kelanjutan fan fiction & recap drama semua ada di blog q yang baru
fanfic : www.ff-lovers86.blogspot.com
recap : www.korea-recaps86.blogspot.com
terima kasih...

Kamis, 02 September 2010

Jejoongwon (Episode 16)

Hwang Jung memberi napas buatan pada Seok Ran. Seok Ran akhirnya sadar.

Do Yang melihat Hwang Jung, kemudian mendorongnya menjauh dari Seok Ran.

Do Yang menggendong Seok Ran ke Jejoongwon.

"Dr. Horton, tolong sembuhkan dia." kata Do Yang cemas.

Para perawat menyuruh mereka keluar. Hwang Jung sangat panik. Ia menolak untuk keluar sehingga perawat harus mendorongnya keluar dengan paksa.

Seok Ran kehilangan banyak darah. Dr. Horton melakukan operasi pada Seok Ran.

Di luar, Tuan Yoo bertanya pada Hwang Jung, "Apa yang terjadi?"

Belum sempat Hwang Jung menjawab, Do Yang memukul Hwang Jung.

"Tuan Muda!" seru Tuan Yoo.

"Tuan Baek, apa yang kau lakukan?!" seru Allen.

"Mengapa kau biarkan ini terjadi?!" bentak Do Yang emosi.

"Ketika aku sampai, ia sudah banyak mengeluarkan darah dari tangannya." kata Hwang Jung lemah.

"Lalu kenapa kau melakukan nafas buatan padanya?" tanya Do Yang.

"Dia tidak bernafas." jawab Hwang Jung.

"Dia tidak bernafas?" tanya Do Yang, tidak lagi emosi pada Hwang Jung.

"Seok.. Seok Ran..?" tanya Tuan Yoo terkejut.

"Benar." jawab Hwang Jung.

Allen membantu Hwang Jung berdiri. "Bagus sekali. Kau telah menyelamatkan nyawanya."

"Terima kasih. Dia hidup karenamu." kata Tuan Yoo.

"Dia kehilangan banyak darah." kata Hwang Jung cemas.

"Nona Seok Ran gadis yang kuat." Allen menenangkan. "Ia akan baik-baik saja. Kau harus berganti pakaian."

"Tidak, aku ingin disini." kata Hwang Jung. Namun Allen tetap menyuruhnya berganti pakaian.

Hwang Jung berpikir. Ia kemudian berlari untuk menyalakan pemanas ruangan. Ia tahu Seok Ran pasti kedinginan.

Tuan Yoo meminta Mak Saeng memanggil ibu Seok Ran ke Jejoongwon.

Beberapa saat kemudian, Dr. Horton keluar dari ruang operasi.

"Apakah operasinya berjalan lancar?" tanya Do Yang cemas.

Dr. Horton mengangguk. "Ya, tapi ia kehilangan banyak darah.""

Hwang Jung dan yang lainnya bergegas masuk ke ruang operasi.

"Aku tidak bisa merasakan denyut nadinya!" seru Allen.

"Seok Ran!" seru Tuan Yoo panik.

"Ia sangat lemah, Tuan Yoo." kata Allen. "Kita hanya bisa menyerahkan semuanya pada Tuhan."

"Kita butuh transfusi darah." kata Do Yang.

"Tidak bisa!" seru Allen melarang. "Kau bisa membuatnya berada dalam bahaya!"

"Tidak ada yang lebih berbahaya dari ini!" balas Do Yang.

"Jika kau bisa menyelamatkannya, lakukan saja!" kata Tuan Yoo. "Aku akan memberikan darahku!"

"Tuan Yoon hampir saja mati karena transfusi darah." ujar Hwang Jung.

"Itu karena aku tidak tahu banyak mengenai darah." kata Do Yang. "Tapi aku akan membuatnya berhasil kali ini."

"Tidak!" teriak Hwang Jung.

"Seok Ran akan mati!" Do Yang balas membentak, seraya meneteskan air matanya.

"Tuan Baek, pendarahannya sudah berhenti." kata Allen menenangkan. "Kita harus menunggu dan melihat perkembangannya."

"Kau bukan pembohong yang baik, Dikrektur." kata Do Yang, menoleh ke arah Allen. "Kau tahu dengan pasti bahwa kondisinya sedang kritis!"

"Kondisinya memang kritis, tapi masih ada harapan." kata Allen.

"Harapan?" tanya Do Yang. "Tuan Hwang, bagaimana meniurutmu? Apakah masih ada harapan?"

Hwang Jung menatap Seok Ran. "Kondisinya sedang kritis." gumamnya pelan.

"Dia bisa hidup jika kita menemukan darah yang cocok." kata Do Yang. "Je Wook menunjukkan efek samping, tapi aku baik-baik saja."

"Jadi kau akan melakukan transfusi hanya dengan peluang 50%?" tanya Allen.

"Tidak. Ia memiliki peluang lebih dari 50%." jawab Do Yang.

"Bagaimana kau bisa yakin?"

"Aku akan menjelaskannya nanti. Pertama, kita harus menemukan darah yang cocok." kata Do Yang.

Allen tetap menolak, namun Tuan Yoo tidak punya pilihan lain selain melakukan apa yang dikatakan Do Yang.

"Tuan Hwang, kau melihat apa yang terjadi pada Tuan Yoon!" kata Allen. "Katakan sesuatu!"

"Aku..." Hwang Jung menangis. "Aku... menentang pendapat Baek... tapi.... kita sudah tidak punya waktu lagi. Jika kita tidak melakukan sesuatu... maka... dia mungkin akan... Jika transfusi darah membuat peluang hidupnya lebih tinggi, maka kita harus melakukannya."

Akhirnya Allen setuju.

Do Yang mengambil sedikit darah Seok Ran, kemudian memeriksa darah Tuan Yoo. Namun darahnya tidak cocok dan terkoagulasi.

Do Yang memeriksa darahnya sendiri, namun tetap tidak cocok dengan darah Seok Ran.

Selanjutnya, Do Yang memeriksa darah Hwang Jung. Darahnya cocok dengan darah Seok Ran. Maka darah Hwang Jung akan ditansfusikan pada Seok Ran.

"Kita bisa melakukan transfusi langsung." kata Do Yang.

"Darah bisa diambil dari pembuluh darah." kata Allen. "Kemudian diberikan lewat pembuluh darah. Tapi, jika tekanan darahnya sama, maka darah tidak akan bisa masuk dengan mudah."

"Aku punya ide." kata Hwang Jung. "Kita harus menaikkan tekanan darah terlebih dahulu. Tekanan darah pendonor harus lebih tinggi."

Mereka meminta Gwak membawakan tempat tidur bertingkat untuk proses transfusi.

Hwang Jung berbaring di tempat tidur atas sementara Seok Ran di ranjang lain di bawahnya.

"Ketika sedang melakukan transfusi, kita tidak tahu berapa volume darah." kata Allen. "Itu bisa menyebabkan nyawa Tuan Hwang dalam bahaya."

"Aku tidak apa-apa." kata Hwang Jung menenangkan.

"Kau sudah siap" tanya Do Yang. "Katakan padaku jika kau sudah terasa sakit atau pusing."

Do Yang memasangkan saluran dari Hwang Jung ke Seok Ran, kemudian memasukkan darah Hwang Jung ke dalam tubuh Seok Ran.

Setelah beberapa lama transfusi darah dilakukan, mendadak Seok Ran muntah darah.

Dr. Allen bergegas memeriksa selang. Ia berbalik untuk memeriksa Hwang Jung. Hwang Jung pingsan.

"Tuan Hwang! Tuan Hwang!" panggil Allen khawatir.

Hwang Jung membuka matanya. "Nona.. Bagaimana keadaannya?"

"Kenapa kau tidak berkata apa-apa?" tanya Allen. "Kau memberikan terlalu banyak darah!"

"Nona.. Nona.." gumam Hwang Jung.

"Kau bodoh!" bentak Do Yang. "Aku sudah bilang padamu agar memberitahu aku jika kau merasa pusing! Kau membuat Seok Ran berada dalam bahaya lagi!"

Pandangan Hwang Jung buram, dan kemudian pingsan.

Gwak merawat Hwang Jung di kamarnya.

"Bagaimana keadaan Nona?" tanya Hwang Jung.

"Dia belum sadar." jawab Gwak. "Tapi Nang Rang akan memberitahu kita jika ia sudah sadar."

Gwak menyuapi Hwang Jung sup.

"Bagaimana jika darahku tidak cukup baik?" tanya Hwang Jung khawatir. "Bagaimana jika darahku manyakitinya? Aku ketakutan. Aku takut jika Nona Seok Ran mati karena darahku."

Dr. Horton, Nyonya Yoo dan Tuan Yoo menunggui Seok Ran yang masih belum sadarkan diri.

Di ruangan lain, Allen meminta penjelasan pada Do Yang.

"Berapa percobaan yang kau lakukan hingga kau merasa sangat percaya diri?!" tanya Allen marah.

"Aku tidak melakukan percobaan apapun." kata Do Yang. "Aku hanya mengetahuinya dari mencampurkan darah murid-murid."

"Jangan bohong padaku!" bentak Allen.

"Aku tidak melakukan percobaan." jawab Do Yang lagi. "Tapi, apakah itu penting? Seok Ran masih hidup sampai saat ini. Bukankah itu cukup untuk membuktikan kata-kataku? Apakah kau ingin berkata bahwa aku melewati kewewenanganmu karena aku bisa mencapai apa yang tidak bisa kau capai?" tanya Do Yang tajam. "Ataukah kau marah karena orang Korea bisa memperoleh hasil dalam ilmu kedokteran sementara kau tidak?"

"Tuan Baek!"

"Jadi, berhentilah memojokkan aku!" bentak Do Yang. "Semakin kau memojokkan aku, maka kau akan semakin terlihat menyedihkan."

Allen menahan kemarahannya.

Hwang Jung menjenguk Seok Ran di kamarnya. Hanya ada Mak Saeng disana. Seok Ran belum juga sadar.

Mak Saeng meminta tolong Hwang Jung agar menjaga Seok Ran sebentar sementara ia ingin mengangkat bubur dari kompor. Hwang Jung mengangguk. Mak Saeng berjalan pergi.

Hwang Jung sangat sedih melihat Seok Ran. Ia menggenggam tangan Seok Ran.

"Nona, tanganmu dingin." kata Hwang Jung. "Kau akan segera bangun, kan? Buku yang kau pinjamkan padaku, masih ada banyak yang tidak kutahu. Dan kami juga sudah kehabisan obat oles yang kau buat. Kau harus segara bangun agar bisa membantu pasien di Jejoongwon. Jejoongwon tidak akan sama lagi tanpamu. Begitu juga denganku. Jika bukan karena kau, bagaimana bisa orang sepertiku bermimpi untuk menjadi seorang dokter? Karena kau, seorang tukang jagal..." Hwang Jung menangis. "Seorang tukang jagal... bernama So Geun Gae... lahir kembali sebagai seorang murid kedokteran. Tolong bangunlah... Darahku... darahku yang rendah dan kotor mungkin sudah mengotori tubuhmu. Aku sangat takut hingga aku tidak bisa makan, minum, bahkan aku tidak bisa bernafas. Tolong bangunlah..."

Tuan Yoo masuk ke dalam ruangan. Hwang Jung buru-buru menghapus air matanya, kemudian berdiri menyapa Tuan Yoo.

Tepat pada saat yang sama, Seok Ran membuka matan ya. Sepertinya ia sudah sadar sejak tadi. Seok Ran kembali tertidur.

Keesokkan harinya, Seok Ran bangun dari tidurnya. "Mak Saeng." panggil Seok Ran. Beberapa kali memanggil, Mak Saeng tidak juga bangun. "Mak Saeng!"

"Nona!" Mak Saeng tiba-tiba terbangun. Ia berteriak senang, kemudian keluar untuk mengabarkan semua orang.

Dr. Horton dan yang lainnya masuk ke kamar. Dr. Horton memeriksa Seok Ran dan hasilnya baik.

Tidak lama setelah itu, Hwang Jung datang. "Nona." panggilnya senang.

Seok Ran menatap Hwang Jung dengan pandangan aneh.

"Nona, apa kau tahu kalau Tuan Hwang memberi darah padamu, karena itulah kau hidup?" tanya Mak Saeng.

"Terima kasih." kata Seok Ran, tidak tersenyum sama sekali. Hwang Jung tahu ada sesuatu yang membuat Seok Ran seperti itu.

Malamnya, Seok Ran memaksa Mak Saeng dan Chil Bok mengantarkannya pulang ke rumah. Seok Ran menjadi murung.

Dalam perjalanan, Seok Ran bertanya pada Mak Saeng mengenai kaki Ma Dang Gae yang sakit. Ia kemudian bertanya pada Ayahnya mengenai putra Ma Dang Gae yang bernama So Geun Gae.

"Aku tidak pernah melihatnya." kata Tuan Yoo menjawab pertanyaan Seok Ran. "Tukang jagal tidak mengizinkan anak mereka keluar. Tapi, dari apa yang kudengar, ia sangat pandai."

"Pandai untuk ukuran tukang jagal!" tambah Chil Bok.

"Tidak!" kata Tuan Yoo cepat. "Dia pasti punya kemampuan yang luar biasa, karena reputasinya sampai terdengar ke luar desanya. Beberapa tahun yang lalu, seorang pelajar yang merupakan sahabatku menderita akibat sakit paru-paru. Aku mengenalkannya pada Ma Dang Gae agar ia bisa memulihkan diri disana. Dia kesana agar memakan banyak daging dan memulihkan kekuatan mereka dengan beristirahat. Pelajar tersebut mengajarkan So Geun Gae bagaimana membaca dan menulis. Dia berkata bahwa anak itu belajar dengan sangat cepat. Suatu hari, Ma Dang Gae datang dan mengatakan padaku untuk membawa kembali pelajar tersebut."

"Kenapa?" tanya Seok Ran.

"Anak itu mengajarkan teman-temannya bagaimana membaca dan menulis." lanjut Tuan Yoo. "Di desa terjadi keributan karena mereka percaya, jika seorang tukang jagal pandai, maka akan menyebabkan kesialan."

Seok Ran sampai ke rumah. Ia turun dari tandunya.

"Ayah, lalu apa yang terjadi pada So Geun Gae?" tanya Seok Ran.

"Apa ada alasan kenapa kau ingin mengetahui tentang dia?"

"Tidak." jawab Seok Ran. "Aku hanya merasa itu cerita yang menarik."

"Aku mendengar dari Ma Dang Gae bahwa putranya pandai memotong dan menjahit sepatu kulit." kata Tuan Yoo.

"Menjahit?" gumam Seok Ran.

Murid-murid Jejoongwon hendak melakukan perputaran kunjungan lagi. Hubungan antara Do Yang dan Allen sepertinya belum membaik. Ketika Do Yang menjelaskan tentang pada pasien, Allen seakan tidak memperhatikannya.

"Tuan Hwang, tolong maju." kata Allen. "Mulai sekarang, kau akan memimpin perputaran lagi. Tuan Baek, kau melakukan kerja bagus sejauh ini." Allen menatap Hwang Jung. "Dan karena kau sudah sembuh dari herpes zoster, kau akan menjadi asistenku lagi."

"Tapi..." Hwang Jung hendak menolak.

"Lakukan apa yang kuperintahkan." kata Allen bersikeras.

"Hwang, lakukan saja!" kata seorang murid mendukung.

"Benar, kau pantas mendapatkannya!" kata murid yang lain setuju.

Teman-teman sekelasnya sudah tidak menjahati Hwang Jung lagi.

Do Yang berjalan mundur dari barisan terdepan.

Ketika murid-murid pergi untuk perputaran, Do Yang membanting papannya, kemudian pergi ke kota.

Di kota, Do Yang bertemu dengan Watanabe. Do Yang menceritakan mengenai Dr. Allen.

"Jangan khawatir." kata Watanabe. "Dia tidak akan lama menjadi direktur Jejoongwon."

"Apa maksudmu?"

"Akan ada direktur baru di Jejoongwon tidak lama lagi." kata Watanabe. "Anak buahku di Jepang, Kim Don.... Maksudku, anak buahku di Jepang mengatakan bahwa ada seorang direktur baru bernama Heron akan datang ke Jejoongwon. Saat ini dia sedang belajar Bahasa Korea dan akan tiba disini secepatnya. Kemampuannya sangat baik dan dia diminta untuk menjadi professor kedokteran di Amerika. Dia mungkin akan cocok denganmu."

Do Yang berpikir.

"Heron adalah dokter yang bisa melakukan laparotomi." tambah Watanabe.

"Laparotomi?"

"Itu adalah sebuah prosedur yang melingkupi pengirisan rongga perut dan memindahkan bagian organ tubuh." kata Watanabe kagum.

Dr. Allen mendapat sebuah surat.

"Bukankah dokter memang sudah seharusnya ada di Korea?" tanya Hwang Jung.

"Aku seharusnya pergi ke China." jawab Allen. "Tapi sulit beradaptasi disana, karena itulah aku pergi kesini."

"Lalu, siapakah yang seharusnya datang kemari?"

"Kondisi sedang tidak stabil ketika terjadi kudeta, karena itulah dia tidak datang." kata Allen menjelaskan. "Kupikir ia tidak datang sama sekali, tapi sekarang ia berkata bahwa ia sedang dalam perjalanan."

"Lalu bagaimana denganmu?"

"Jangan khawatir. Direktur disini tetap aku. Itu tidak akan berubah." kata Allen. "Ngomong-ngomong, kenapa Tuan Baek tidak pernah hadir beberapa hari terakhir ini?"

"Aku tidak yakin." jawab Hwang Jung.

Do Yang dan Je Wook mengunjungi seseorang yang bernama Heron.

"Namaku Doyang Baek." kata Do Yang memperkenalkan diri dengan Bahasa Inggris. Ia memang sengaja mengubah nama keluarganya menjadi di belakang untuk menyeimbangi adat barat.

"Kau boleh bicara Bahasa Korea." kata Heron dingin. "Masuklah."

Do Yang sedikit kesal oleh sikap Heron.

Heron mengajak Do Yang dan Je Wook masuk. Di dalam, Do Yang dan Je Wook sepertinya tidak dipedulikan. Heron sibuk berkutat dengan bukunya.

Do Yang memberi isyarat pada Je Wook. "Ehem." Je Wook menarik perhatian.

"Aku sedang mengerjakan sesuatu." kata Heron dingin dan melirik dengan pandangan tajam.

"Kami akan menyambutmu di Jejoongwon." kata Do Yang.

"Darimana kau tahu aku disini?" tanya Heron.

"Duta Besar Amerika yang memberitahuku. AKu mengenaknya sejak lama. Ketika aku ingin belajar kedokteran di Amerika, dialah yang mengurus visaku dan merekomendasikan sekolah. "

"Begitu." tanggap Heron tanpa ketertarikan sama sekali.

"Kau seharusnya mendengarkan ketika orang lain bicara...!" Je Woo berkata kesal. Do Yang menyuruhnya diam.

"Kami akan menyiapkan tandu untuk mengantarmu ke Jejoongwon." kata Do Yang. "Sampai bertemu besok pagi."

Heron tidak menanggapi. Do Yang dan Je Wook memohon diri.

Heron mengantar mereka sampai ke depan pintu. "Aku akan pergi ke Jejoongwon sendiri." katanya. "Sampai bertemu disana."

Je Wook kesal bukan main dan mengajak Do Yang pulang. Tapi tiba-tiba Do Yang bertanya pada Je Wook, "Apakah kau merasa ada yang sakit?" tanya Do Yang. Je Wook baru saja sembuh dari efek samping transfusi.

Do Yang ingin mendekati Heron dengan memeriksakan Je Wook pada Heron.

"Kau dalam kondisi sehat." kata Heron setelah selesai memeriksa Je Wook. "Kau akan mati jika mendapat lebih banyak darah. Transfusi darah memang ide yang bagus dan bisa digunakan untuk menyelamatkan nyawa seseorang."

Do Yang menceritakan bahwa ia melakukan penelitian transfusi darah.

"Apakah kau ingin melanjutkan penelitian itu?" tanya Heron pada Do Yang.

Do Yang menatap raut wajah Heron, kemudian menjawab, "Tidak." Rupanya ia ingin bermain tarik ulur dengan Heron.

"Kenapa?" tanya Heron.

"Setelah temanku menderita akibat efek samping, aku menghentikan penelitianku." kata Do Yang. "Aku memutuskan bahwa aku tidak ingin membahayakan nyawa orang lain."

Setelah perbincangan singkat, Do Yang memohon diri untuk pamit.

"Kau bilang, namamu Baek Do Yang?" tanya Heron.

Do Yang tersenyum. Usahanya untuk menarik perhatian Dr. Heron berhasil.

Keluarga Yoo mengundang Do Yang dan Hwang Jung makan malam bersama di rumah mereka. Sikap Seok Ran ke Hwang Jung sangan kaku dan canggung.

Tuan Yoo berterima kasih karena Hwang Jung telah menolong putrinya dengan mendonorkan darahnya.

"Darahku sangat banyak. Aku hanya kebetulan memiliki darah yang cocok." kata Hwang Jung.

Nyonya Yoo terkesan pada kebaikan Hwang Jung. "Kau sangat rendah hati." katanya. "Tuan Hwang adalah pria yang baik." tambahnya pada suaminya.

Seok Ran menoleh pada ibunya dengan pandangan aneh, karena tidak biasanya ibunya baik pada orang lain. Do Yang juga memandang Nyonya Yoo, kelihatan agak terkejut.

"Maksudku, jika darahmu cocok dengan darah Seok Ran, berarti kau bukan orang lain." kata Nyonya Yoo. "Aku akan membawakan arak ginseng untukmu. Minumlah ketika kau lelah belajar. Sebelum pulang, pergilah dulu ke ruang penyimpanan."

Do Yang kelihatan tidak senang.

Nyonya Yoo, Seok Ran dan Hwang Jung pergi ke ruang penyimpanan.

"Dari mana keluargamu berasal?" tanya Nyonya Yoo.

"Ibu!" Seok Ran protes.

"Seorang ibu ingin tahu segalanya yang harus diketahui." kata Nyonya Yoo. "Tadi aku tidak bisa bertanya karena ada Tuan Do Yang. Tapi, kami ingin menitipkan Seok Ran padamu."

"Ibu!" Seok Ran berseru kesal, kemudian pergi.

"Tuan Hwang, apakah kau tidak setuju?" tanya Nyonya Yoo.

"Aku.. aku tidak yakin." jawab Hwang Jung, tersenyum.

Keesokkan harinya di Jejoongwon, Seok Ran berkutat dengan pikirannya sendiri. "Apa bedanya bangsawan dengan rakyat rendah?" tanya Seok Ran pada Dr. Horton.

"Tidak ada bedanya." jawab Dr. Horton. "Perbedaan hanya diciptakan oleh manusia. Semua orang adalah sama."

"Tapi kenyataannya tidak seperti itu." kata Seok Ran.

"Kenyataan bisa berubah. Seperti dirimu, beberapa tahun yang lalu kau tidak bekerja disini."

"Apakah suatu saat nanti seorang tukang jagal bisa disetarakan dengan bangsawan?" tanya Seok Ran.

"Tentu saja." kata Dr. Horton tanpa ragu. "Saat itu pasti akan tiba." Ia menceritakan bahwa dulu di negaranya juga seperti Korea saat ini, tapi sekarang di negaranya semua sudah berubah. Korea pasti akan begitu suatu saat nanti.

Seok Ran pergi ke toko daging untuk bertemu Ma Dang Gae.

"Apakah kau menggunakan obat olesnya?" tanya Seok Ran.

"Apakah nona yang mengantarnya ke rumahku?" tanya Ma Dang Gae.

Seok Ran hampir menangis. "Benar." jawabnya berbohong.

"Nona tidak perlu melakukannya." kata Ma Dang Gae. "Aku tidak apa-apa."

"Aku hanya cemas karena tidak ada yang menjagamu sejak putramu meninggal." kata Seok Ran. "So Geun Gae... bagaimana ia meninggal?"

"Dia memotong ternak secara ilegal untuk membayar biaya pengobatan ibunya." kata Ma Dang Gae. "Mereka berkata bahwa dia tertembak ketika sedang melarikan diri dari polisi."

Seok Ran merasa sangat terpukul. Ia kembali ke rumah dan mengurung diri dalam kamarnya, mengingat kenangannya bersama Hwang Jung. Ia juga teringat kata-kata Hwang Jung saat ia sedang tidur, bahwa Hwang Jung takut darahnya akan mengotori Seok Ran.

Seok Ran menangis, menggenggam erat hiasan yang dikembalikan Hwang Jung.

Keesokkan harinya, Dr. Heron tiba di Jejoongwon.

Dr. Heron masuk ke ruangan dan melihat Hwang Jung sedang mengobati pasien.

"Kenapa kau membiarkan seorang murid mengobati pasien?" Dr. Heron marah pada Allen, juga pada Hwang Jung. "Aku membaca laporan tentang Jejoongwon, dan laporannya sangat baik untuk tahun pertama. Tapi, kurasa kita butuh perubahan."

"Akulah direktur disini." kata Allen. "Tolong hargai bahwa Jejoongwon dibangun dengan keringat banyak orang, termasuk aku."

"Jejoongwon berjalan dengan baik sebagai awal, tapi butuh perubahan yang lebih baik." kata Dr. Heron. "Tidak akan ada lagi murid yang akan mengobati pasien."

Do Yang tersenyum.

Ada ketidakcocokkan antara Dr. Heron dan Dr. Allen. Seperti ketika Mong Chong mengalami sakit perut di perut bagian kanan bawah.

"Itu radang usus besar." kata Allen. "Sebagian ususnya terinfeksi. Dengan puasa dan beristirahat, ia akan sembuh."

"Itu radang usus buntu." kata Dr. Heron tiba-tiba. "Kita harus segera mengambilnya."

Dr. Allen tidak setuju, dan meminta Dr. Heron mulai bekerja besok pagi.

Do Yang setuju dengan Dr. Heron bahwa Mong Chong terkena usus buntu. Ia meminta Dr. Heron mengajarinya bagaimana cara melakukan operasi usus buntu.

Sampai malam, Mong Chong masih juga sakit perut.

"Kita tidak punya pilihan lain." kata Allen. "Panggil Heron kemari dan bawa Mong Chong ke ruang operasi."

Hwang Jung memanggil Dr. Heron.

Dr. Heron bergegas ke ruang operasi. Ia meminta Do Yang membantunya.

Allen dan Hwang Jung hanya melihat mereka.

Di saat yang sama, Seok Ran datang ke Jejoongwon sambil membawa sesuatu.

Ia berjalan menuju ruang operasi, dan menangis, melihat Hwang Jung dari luar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar