Silahkan Mencari !!!

Info!!!

kelanjutan fan fiction & recap drama semua ada di blog q yang baru
fanfic : www.ff-lovers86.blogspot.com
recap : www.korea-recaps86.blogspot.com
terima kasih...
Tampilkan postingan dengan label Harry Potter and the Sons of Revenge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Harry Potter and the Sons of Revenge. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Juli 2010

Harry Potter (Novel)



Harry Potter merupakan salah satu seri novel fantasi karya J. K. Rowling dari Inggris mengenai seorang anak laki-laki bernama Harry Potter. Sejak rilis pertama novel ini, Harry Potter dan Batu Bertuah pada tahun 1997 di Inggris, buku ini telah mendapatkan ketenaran dan kesuksesan secara komersial di seluruh dunia, diangkat menjadi film, video game, dan beragam merchandise.

Latar belakang kisah ini kebanyakan berada di Sekolah Sihir Hogwarts dan berpusat pada pertarungan Harry Potter melawan penyihir jahat Lord Voldemort, yang menggunakan Ilmu Hitam untuk membunuh orang tua Harry.

Kesemua tujuh buku yang direncanakan Rowling dalam seri novel ini telah diterbitkan. Buku keenam, Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran versi asli bahasa Inggris diterbitkan pada 16 Juli 2005, sementara buku ketujuh, Harry Potter dan Relikui Kematian diluncurkan di seluruh dunia pada 21 Juli 2007 (versi terjemahan bahasa Indonesia diterbitkan pada tanggal 13 Januari 2008). Enam buku pertama dalam seri novel ini secara keseluruhan telah terjual lebih dari 325 juta kopi, dan telah diterjemahkan ke lebih dari 63 bahasa.

Atas kesuksesan novel-novelnya ini, Rowling telah menjadi penulis terkaya sepanjang sejarah kesusasteraan. Versi-versi asli dalam bahasa Inggris diterbitkan oleh penerbit Bloomsbury di Inggris Raya, Scholastic Press di Amerika Serikat, Allen & Unwin di Australia, dan Raincoast Books di Kanada. Versi bahasa Indonesia diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

Lima buku pertama telah diangkat menjadi film layar lebar oleh Warner Bros. dan mendulang kesuksesan besar. Film kelima, Harry Potter and the Order of the Phoenix, mulai diambil gambarnya pada Februari 2006, dan dirilis pada 11 Juli 2007 di Amerika Serikat. Film keenam, Harry Potter and Half Blood Prince, dirilis pada 15 Juli 2009.



Tentang penciptaan Harry Potter

Ide tentang Harry Potter pertama kali tercetus dalam pikiran J. K. Rowling ketika menaiki kereta api dari Manchester ke London pada tahun 1990. Pada waktu itu, dia baru saja bercerai dan mengambil inisiatif untuk menjadikan Harry Potter sebagai inspirasi hidupnya. Dia menghabiskan waktu di dalam perjalanannya itu dengan memikirkan plot yang lengkap tentang ceritanya itu. Di situs webnya, Rowling menceritakan pengalamannya itu:

“ Saya telah menulis hampir tanpa jeda sejak umur enam tapi sebelumnya saya tidak pernah merasa begitu bergairah akan suatu gagasan. Saya hanya duduk dan berpikir, selama empat jam (menunggu keterlambatan kereta api), dan semua detel bermunculan di otak saya, dan anak laki-laki ceking berambut hitam dan berkaca mata yang tidak menyadari bahwa ia adalah seorang penyihir menjadi semakin lama semakin nyata bagi saya. ”

Pada tahun 1995, buku pertama berjudul Harry Potter and Philosopher's Stone (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai Harry Potter dan Batu Bertuah) selesai dibuat dan naskahnya dikirimkan ke beberapa agen. Agen kedua yang dicobanya, Christopher Little, menawari untuk mewakilinya dan mengirimkan naskah itu ke Bloomsbury. Setelah delapan penerbit lainnya menolak Philosopher's Stone, Bloomsbury menawarkan uang muka £3.000 untuk menerbitkannya.

Walaupun Rowling menyatakan bahwa ia tidak memiliki target khusus mengenai umur pembacanya ketika ia mulai menulis buku-buku Harry Potter, penerbitnya pada permulaannya telah menetapkan target pembacanya antara umur sembilan hingga sebelas. Pada malam sebelum penerbitan, Joanne Rowling diminta oleh penerbitnya untuk menggunakan nama samaran yang lebih netral-jender, supaya dapat menarik anak laki-laki dalam jangkauan umur tersebut, karena mereka khawatir bahwa anak laki-laki tidak akan tertarik membaca novel yang mereka ketahui ditulis oleh seorang wanita. Ia memilih untuk menggunakan nama J. K. Rowling (Joanne Kathleen Rowling), mengambil nama neneknya sebagai nama keduanya, karena ia tidak memiliki nama tengah.

Buku pertama Harry Potter diterbitkan di Britania Raya oleh Bloomsbury pada Juli 1997. Di Amerika Serikat buku ini diterbitkan oleh Scholastic pada September 1998, di mana Rowling menerima $105.000 untuk hak penerbitan Amerika Serikat — sebuah nilai yang tidak biasa bagi sebuah buku anak-anak yang dikarang oleh pengarang yang tidak dikenal (pada saat itu).[8] Khawatir bahwa para pembaca di Amerika tidak mengerti kata "philosoper" atau tidak menganggapnya sebagai tema magis (karena "Philosoper's Stone" atau batu filsuf adalah kata dalam bidang alkimia), Scholastic bersikeras untuk mengganti nama buku itu menjadi Harry Potter and the Sorcerer's Stone untuk pasar Amerika.

Selama hampir satu dasawarsa, Harry Potter telah mengalami kesuksesan besar, tidak hanya karena resensi yang positif dan strategi pemasaran penerbit Rowling, tetapi juga karena pembicaraan dari mulut ke mulut di antara para penggemarnya, terutama di antara para remaja laki-laki. Kalangan remaja laki-laki ini menjadi penting, karena selama bertahun-tahun kalangan ini semakin tidak tertarik dengan bacaan yang dianggap ketinggalan zaman ketimbang video game dan internet. Penerbit Rowling berhasil menangkap kegairahan di kalangan remaja laki-laki ini dan segera merilis keempat buku pertama berturut-turut secara cepat, sehingga kegairahan mereka tidak sempat meredup ketika Rowling bermaksud untuk istirahat menulis di antara rilis Harry Potter dan Piala Api dan Harry Potter dan Orde Phoenix, dan dengan segera terbentuklah grup pembaca yang loyal. Seri ini juga mendapatkan para penggemar dewasa, dengan diterbitkannya dua edisi untuk setiap buku Harry Potter (di Kanada dan Britania Raya, tapi tidak di Amerika Serikat). Keduanya memiliki naskah yang sama persis, tetapi dengan sampul yang berbeda, untuk masing-masing edisi anak-anak dan dewasa.


Ringkasan plot
Kisah dibuka dengan perayaan tak terkendali di dunia sihir (yang biasanya merupakan komunitas yang rahasia) setelah bertahun-tahun mengalami teror oleh Lord Voldemort. Pada malam sebelumnya, Voldemort telah menemukan tempat perlindungan rahasia keluarga Potter, dan membunuh James dan Lily Potter. Namun demikian, ketika ia mengarahkan tongkat sihirnya kepada bayi mereka, Harry, kutukan pembunuh yang dikeluarkannya malah membalik kepada dirinya sendiri. Arwah Voldemort tercabik dari tubuhnya sendiri yang hancur, menghilang dari dunia sihir, tapi tidak mati. Sementara itu, satu-satunya hasil dari kutukan yang gagal itu meninggalkan bekas yang khusus di dahinya, cacat berbentuk sambaran kilat. Kekalahan misterius Voldemort memberikan Harry sebutan khusus di kalangan dunia sihir, "Anak Laki-Laki yang Bertahan Hidup". Sebutan ini khususnya dikarenakan tidak ada penyihir yang diarah oleh Voldemort dapat bertahan hidup melawannya.

Pada malam berikutnya, seorang penyihir membawa Harry ke rumah Bibi dan Pamannya, Dursley, tempat di mana ia akan tinggal bertahun-tahun setelahnya. Keluarga Dursley adalah famili Harry yang kejam dan merupakan orang-orang non-penyihir. Mereka senantiasa berusaha menyembunyikan latar belakang Harry yang merupakan penyihir dan keturunan penyihir, dan memberinya hukuman jika terjadi kejadian-kejadian aneh.

Pada ulang tahunnya yang kesebelas, Harry mendapatkan kontak pertamanya dengan dunia sihir, ketika ia menerima surat dari Sekolah Sihir Hogwarts, yang berusaha disembunyikan oleh Paman dan Bibinya, hingga ia tidak berhasil membaca surat tersebut. Surat itu pada akhirnya dapat dibacanya setelah ia ditemui oleh Hagrid, Pengawas Binatang Liar di Hogwarts. Hagrid memberitahunya bahwa ia sesungguhnya adalah seorang penyihir, dan surat itu memberitahunya bahwa ia disediakan tempat untuk belajar di Hogwarts.

Setiap jilid dari novel Harry Potter mengisahkan mengenai satu tahun kehidupan Harry, yang kebanyakan dihabiskannya dalam pelajaran di Hogwarts, di mana ia mempelajari penggunaan sihir dan membuat ramuan. Harry juga mempelajari bagaimana mengatasi rintangan-rintangan sihir, sosial, dan emosi selama masa remajanya. Dalam periode yang sama, Voldemort juga berusaha untuk kembali ke tubuh fisiknya dan mengembalikan seluruh kekuatannya, sementara Kementrian Sihir berusaha juga untuk menolak untuk mengakui adanya ancaman akan kembalinya Voldemort. Penolakan Kementerian Sihir ini kemudian menyebabkan banyak kesulitan bagi Harry Potter.


Dunia Harry Potter
Dunia sihir dalam kisah Harry Potter adalah dunia yang ada di dunia kita sekarang tapi juga sekaligus terpisah sama sekali secara sihir. Kalau diperbandingkan, dalam kisah fantasi Narnia dunia sihirnya merupakan dunia alternatif, sementara dalam Lord of the Rings Bumi-Tengah merupakan dunia mite pada masa lampau. Lingkungan sihir Harry Potter dikisahkan berada di tengah-tengah dunia kita saat ini, dengan benda-benda sihir yang mirip dengan benda-benda di lingkup non-sihir. Lembaga-lembaga dan lokasi-lokasinya pun mirip atau malah sama dengan yang berada di dunia nyata, seperti London. Lingkungan sihir sama sekali tidak dapat terlihat oleh populasi non-sihir (atau Muggle, misalnya: Keluarga Dursley).

Bakat sihir adalah kemampuan alami yang telah ada sejak lahir, tidak dapat muncul karena dipelajari. Mereka yang memiliki bakat sihir harus mengikuti pelajaran di sekolah-sekolah seperti Hogwarts untuk dapat menguasai dan mengontrolnya. Namun demikian, ada kemungkinan anak-anak yang lahir di keluarga penyihir yang hanya memiliki sedikit bakat sihir atau malah tidak ada sama sekali (disebut "Squibs", misalnya Mrs. Figg, Argus Filch). Para penyihir belum tentu dilahirkan dalam keluarga penyihir, dan banyak dari mereka yang dilahirkan dari orang tua (para Muggle) yang sama sekali tidak mengenal sihir. Mereka yang murni berdarah penyihir seringkali tidak terbiasa dengan dunia Muggle, malah terasa lebih aneh bagi mereka ketimbang kita memandang dunia mereka. Namun demikian, dunia sihir dan elemen-elemennya yang menakjubkan itu digambarkan sebagai dunia-yang-sangat-mirip-dengan-dunia-nyata.

Salah satu tema utama dalam novel ini adalah keberadaan dunia sihir dan dunia biasa; di mana para tokohnya hidup dalam lingkungan yang memiliki masalah-masalah yang "normal", sekalipun mereka hidup di antara sihir.


Kemurnian darah (Harry Potter)
Para penyihir pada umumnya memandang Muggle dengan sikap merendahkan dan curiga, masalahnya, sikap ini menjadi kefanatikan bagi sebagian kecil penyihir. Mereka yang fanatik ini mengkotak-kotakkan diri mereka atas dasar banyaknya leluhur mereka, di mana penyihir "berdarah-murni" (mereka yang keluarganya seluruhnya adalah penyihir) dianggap sebagai yang paling tinggi, penyihir "berdarah-campuran" (mereka yang memiliki keturunan penyihir dan Muggle) pada tingkat menengah, dan "kelahiran-Muggle" (mereka yang tanpa keturunan penyihir) sebagai yang terendah. Para pendukung kemurnian-darah percaya bahwa hanya mereka yang "berdarah-murni"-lah yang berhak mengontrol dunia sihir, dan tidak menganggap bahwa penyihir "kelahiran-Muggle" sebagai penyihir yang sesungguhnya.

Beberapa dari mereka bahkan bertindak terlalu jauh dengan membunuhi para "kelahiran-Muggle" supaya jangan dapat mempelajari sihir. Kebanyakan kaum fanatik ini adalah berdarah-murni, sekalipun perlu dicatat bahwa Voldemort, yang mendukung fanatisme ini, sesungguhnya adalah penyihir berdarah-campuran. Selain itu, sebenarnya hanya tinggal sedikit sekali penyihir yang benar-benar berdarah-murni, oleh karena tanpa menikah dengan populasi Muggle, para penyihir lama kelamaan akan habis. Namun demikian, banyak keluarga penyihir yang menutupi bahwa ada di antara keluarga mereka yang menikahi kaum Muggle. Salah satu contoh keluarga seperti ini adalah dalam keluarga Black.

Harry Potter and the Sons of Revenge (Chapter 1)


Chapter 1
Live To The Fullest


Harry Potter menyeret kopernya yang besar dengan hati-hati mencoba untuk tidak bersuara. Seluruh penghuni rumah keluarga Black ini memang sedang tertidur lelap. Tapi Harry tidak ingin mengambil resiko, sebisa mungkin dia harus keluar dari rumah ini tanpa membangunkan penghuni yang lain, terutama lukisan Mrs. Black.

Ketika dia mencapai pintu utama, Harry menarik napas panjang. ‘Inilah saatnya’, pikirnya. Ketika tangannya baru menggenggam gagang pintu, dia dikagetkan oleh suara dari belakangnya.

“Kau hendak pergi, Harry?”

Pikiran Harry sedang berputar keras sekarang. Dia tahu suara siapa itu. Pertanyaannya adalah apakah orang itu akan membiarkan Harry pergi atau akan mencegahnya?

Tanpa menoleh kebelakang Harry berkata pelan. “Sudah waktunya. Kuharap kau tidak mencegahku.”

Orang di belakang Harry tidak segera menjawabnya, sehingga Harry berbicara lagi. “Apa kau akan menahanku?”

“Kau sudah cukup umur Harry. Aku tak punya kuasa untuk menahanmu. Aku hanya ingin kau memikirkan sekali lagi tentang apa yang akan kau lakukan.” Walaupun suara orang tersebut sangatlah pelan, Harry dapat mendeteksi nada khawatir dari cara bicaranya.

“Aku sudah memikirkannya berulang kali. Ini adalah sesuatu yang harus kulakukan.”

“Seorang diri?”

“Benar. Aku harus melakukan ini seorang diri. Aku sendiri tidak mengharapkan akan selamat dari misi ini. Bagaimana bisa aku mengajak orang lain?” Harry berkata dengan mantap.

“Ron dan Hermione tidak akan pernah bisa mengerti keputusanmu ini.”

Harry menghela napas. “Aku tahu. Karena itu kau harus bisa membuat mereka mengerti.”

“Aku sendiri tidak mengerti alasan kenapa kau harus melakukan ini seorang diri. Order of Phoenix dapat membantumu.”

“Jangan tersinggung. Tapi aku tidak dapat mempercayai Order lagi setelah apa yang terjadi dengan Snape. Dan juga, aku tidak ingin mengambil teman-temanku dari keluarga mereka, terutama setelah apa yang kulihat malam ini.”

“Maksudmu pernikahan Bill dan Fleur?”

Harry tidak menjawab.

“Mereka memang tampak bahagia sekali. Sesuatu yang jarang terlihat pada jaman perang ini.”

“Aku tidak ingin mengganggu kebahagiaan mereka. Tidak setelah apa yang terjadi pada Bill. Aku yang sudah tidak punya siapa-siapa lagi ini tidak punya hak untuk menghancurkan kebahagiaan mereka.”

“Kau masih punya aku, Harry. Dan aku juga hanya punya kau seorang. Kumohon, pikirkanlah sekali lagi.”

“Kau punya seorang auror cantik yang sedang menunggu keputusanmu. Relakanlah aku pergi. Kalau kau merelakanku, aku akan merasa mendapatkan dukungan dari kedua orang tuaku dan juga ... Sirius.”

Mereka berdua hening untuk beberapa menit. Harry memang membutuhkan orang yang berdiri dibelakangnya untuk merelakan kepergiannya, hal itu akan membuat perasaan Harry jauh lebih baik, mendapatkan dukungan dari salah satu sahabat orangtuanya.

“Bagaimana Remus? Aku benar-benar butuh restumu.” Harry membalikkan badannya untuk pertama kali dan dalam cahaya remang-remang dia dapat melihat wajah pucat dan rambut penuh uban dari mantan professornya itu.

“Aku ingin kau mengingat satu hal, Harry. Kembalilah dengan selamat. Karena di rumah ini terdapat orang-orang yang menyayangimu dan mempercayaimu. Kembalilah.” Suara Remus Lupin terdengar berat.

“Aku titip Hedwig.” Itulah kata terakhir Harry sebelum dia melangkahkan kakinya keluar kedalam suhu senja yang dingin. Tak berapa lama kemudian, dia ber-Dissaparate.

“APA!!? HARRY PERGI!!!?” Teriakan melengking Mrs.Weasley mengagetkan seluruh penghuni Grimmauld Place, termasuk lukisan Mrs.Black yang langsung mengeluarkan sumpah serapahnya begitu mendengar teriakan itu.

Suasana di dapur rumah memang benar-benar tegang. Selain Mrs Weasley, ada juga Ron yang berdiri di samping ibunya menuntut penjelasan dari Remus Lupin yang duduk di meja makan. Duduk di seberang Lupin adalah Hermione dengan air mata yang berlinang. Tangannya menggenggam erat surat yang ditinggalkan Harry kepada kedua sahabatnya.

“Kenapa kau membiarkan dia pergi, Remus? Kenapa kau tidak menahannya?!!” Mrs Weasley berkata lagi.

“Aku tidak punya kuasa apa pun atas Harry, Molly. Dia sudah 17 tahun.” Ucap Moony dengan nada yang letih.

“Ta-tapi...” Ron terbata-bata. “Bagaimana mungkin dia melakukan ini? Dia tahu kami akan ikut dengannya. Benar kan, Hermione?”

Hermione kelihatan tidak memiliki energi untuk menjawab. Dia masih belum yakin bagaimana bisa Harry meninggalkan dirinya dan Ron? Sebegitu kecilkah Harry menghargai persahabatan mereka?

Mrs Weasley meledak lagi. “Remus. Kau tahu sendiri betapa bahayanya di luar sana, bagaimana bisa kau membiarkan Harry menantang bahaya sendirian? Dia anak James dan Lily, Remus!”

“Sudahlah Molly. Relakan saja dia dan hormati keinginannya.”

“Tidak bisa! Kita harus menghimpun seluruh anggota order. Kita harus menemukan Harry dan membawa dia kembali ke sini. Tidak mungkin aku ... “

Remus langsung berdiri. “Apa kau tidak dengar apa yang kukatakan?! Hormati keputusan Harry! Di suratnya dia bilang jangan mencarinya! Dan dia benar. Waktu kita jangan dihabiskan untuk menemukan Harry yang tidak ingin ditemukan!”

“Tapi...aku tidak...” Tubuh Molly Weasley langsung lunglai, beruntung Ron dengan sigap menahan ibunya yang dengan segera menangis tak terkendali di pelukan anak laki-lakinya yang termuda.

Beberapa meter dari situ, Hermione membaca sekali lagi surat yang ditinggalkan oleh sahabatnya.


Dear Hermione & Ron,

Kalau kalian membaca surat ini, berarti aku sudah pergi dari Grimmauld Place untuk memulai petualanganku yang mungkin juga akan menjadi petualanganku yang terakhir di dunia ini.

Aku tahu kalau kita sebelumnya sudah setuju untuk pergi bersama-sama. Tapi ... aku tidak bisa menyeret kalian berdua ke dalam hal ini. Ini adalah sesuatu yang harus kulakukan sendiri.

Kumohon janganlah beranggapan kalau aku kurang menghargai persahabatan kalian. Kalian berdua adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Dan aku sangat bersyukur telah mengenal kalian. Aku menyayangi kalian berdua lebih dari sekedar teman, tapi seperti saudaraku sendiri.

Tidak...kurasa kalian memang saudaraku. Karena itulah aku tidak mungkin menempatkan kalian dalam posisi yang serba sulit dan penuh ketidak- pastian, dan juga kondisi penuh bahaya. Itulah yang akan kalian hadapi kalau kalian mengikutiku. Aku terlalu menyayangi kalian untuk menempatkan kalian dalam posisi itu.

Jangan khawatirkan diriku. Jalani saja hidup kalian seperti biasa. Pergilah ke Hogwarts dan selesaikan pendidikan kalian. Hiduplah sepenuhnya. Carilah kebahagiaan di pelukan seseorang. Karena siapa tahu seseorang tersebut tidak jauh sama sekali dari kalian (wink-wink). Ha-ha, Please forgive your crazy friend.

Anyway, aku sangat berharap kita dapat bertemu lagi. Bila tidak ... kita bisa bertemu di kehidupan selanjutnya. Orang yang sangat bijak pernah mengatakan kepadaku kalau kematian hanyalah petualangan besar berikutnya.

Jaga diri kalian. Ingat pesanku, ‘hiduplah sepenuhnya’.

P.S : Untuk anggota order, jangan coba-coba mencariku. Lebih baik energi kalian difokuskan untuk mengatasi para death eater terkutuk itu.

Harry


Beberapa menit kemudian, tinggal Ron dan Hermione yang berada di dapur. Lupin dan Mrs Weasley sedang pergi untuk mengadakan pertemuan order. Ron masih berdiri dengan tatapan yang menandakan bahwa dia sedang berpikir keras. Sementara itu , Hermione membaca ulang surat dari Harry untuk yang kesekian kalinya kalau-kalau ada yang dia lewati.

“Hermione.” Hermione mengalihkan perhatiannya kepada Ron. Dia bisa melihat ekspresi wajah Ron yang tampak percaya diri.

“Kemasi barang-barangmu.”

“Apa?” Hermione berkata sambil menyeka air matanya.

“Kita akan mencari Harry.” Ucap Ron mantap.


“Tapi...”

“Aku tidak peduli apa kata Remus. Dan aku juga tidak peduli apa yang dikatakan Harry. Kita akan menemukan Harry dan membantunya. Karena itulah yang harus dilakukan oleh seorang teman. Tidak... itulah yang harus dilakukan oleh sesama saudara, seperti yang Harry tulis.”

“Ron, bagaimana ...” Ucapannya dipotong.

“Ayolah Hermione. Kita kan tahu Harry akan menuju kemana.”

“Godric’s Hollow.” Ucap Hermione pelan.

“Benar sekali. Sekarang kemasilah barangmu. Aku tunggu diluar dalam 10 menit.”


Puluhan mil dari Grimmauld Place, Harry berjalan sendirian di jalanan muggle berusaha untuk tidak menarik perhatian.

‘Aku tidak percaya aku akan kembali lagi ketempat itu.’ Pikir Harry dalam hati saat dia memasuki boks telepon berwarna merah tua yang sudah kehilangan beberapa kacanya.

Mengangkat gagangnya, dia memutar nomor 62442.

“Selamat datang di Kementrian Sihir. Silahkan sebutkan nama anda dan urusan anda.”

“Harry Potter. Berkunjung ke Departemen Misteri.”