Silahkan Mencari !!!

Info!!!

kelanjutan fan fiction & recap drama semua ada di blog q yang baru
fanfic : www.ff-lovers86.blogspot.com
recap : www.korea-recaps86.blogspot.com
terima kasih...

Jumat, 18 Juni 2010

Mr.Goodbye (Episode 1)

Sinopsis Mr. Goodbye
Episode 1


"Untuk apa kau datang kemari Tuan?" tanya seorang pengurus Hotel.

"Minggir!" bentak seorang pria.

Pengurus hotel tidak mengizinkannya lewat. "Kyle." panggil seseorang dari belakang, Yoon Hyun Suh.

Pengurus hotel yang ternyata bernama Kyle itu minggir untuk mempersilahkan Hyun Suh lewat.

"Pemilik Nikko adalah tamu, bukan pegawai ataupun pemegang saham!" kata seorang pria, marah-marah pada Hyun Suh. "Kalian tidak bisa membeli kami dengan uang, jadi hentikan semua ini sekarang juga!"

Dengan tenang, Hyun Suh membungkuk untuk memberi hormat pada pria dari Hotel Nikko. "Selamat datang di jantung Caesar." katanya.

Pria dari Nikko berlutut di hadapan Hyun Suh. "Nikko adalah segalanya bagi kami." kata pria itu. "Bisakah kau melepaskan kami?"

Hyun Suh ikut berlutut, kemudian dengan santai meminta pria itu pergi.

Yoon Hyun Suh adalah Manajer Tertinggi Hotel Caesar di Amerika.

Choi Young In mengikuti lomba lari. Walaupun merasa tidak sanggup, ia memaksakan dirinya untuk lari. Ia bersaing ketat dengan pelari lain. Menjelang finis, ia mengulurkan kakinya sehinngga berhasil menang.

Young in kemudian pingsan. Mulutnya mengeluarkan busa. Kekasihnya dan teman dekatnya bergegas berlari menolong.

Pemenang Pertama Lomba Lari Marathon: 2 Tiket ke Las Vegas.

Keesokkan harinya, Young In sibuk menyiapkan bekal makanan.

"Aku ingin pergi lebih cepat dan sarapan bersama Gun Young." kata Young In. "Aku akan pergi bersamanya." Gun Young adalah kekasih Young In.

"Kau sangat menyukai Gun Young?" tanya ibu.

Young In hanya tersenyum.

Setelah semuanya siap, ibu mengantar Young In pergi sampai depan rumah dan memasukkan sesuatu ke dalam saku mantel Young In. "Gunakan ini baik-baik bersamanya." pesan ibu Young In.

Young In mengira itu uang. Ia sangat terkejut ketika menemukan kondom dalam saku mantelnya, bukan uang.

Young In masuk ke apartment kekasihnya, Gun Young. Di depan pintu, ia melihat sepatu Gun Young dan sepatu seorang wanita.

Young In terkejut, dan dengan perlahan-lahan masuk ke dalam ruangan itu. Di ruang tengah, ia melihat pakaian wanita dan pakaian pria berserakan dekat sofa. Ia kemudian naik ke kamar di lantai dua dan melihat Gun Young dan sahabatnya tidur bersama.

Young In membuka selimut dan membuat mereka terbangun kaget.

Young In meminta Gun Young dan sahabatnya makan bersamanya.

"Kalian tahu kenapa aku memberi makanan pada kalian?" tanya Young In. "Karena aku benci jika makan sendirian. Jadi jangan tidur lagi dan lihat aku makan!"

Young In makan dengan lahap, setelah itu, ia keluar dari apartment Gun Young dengan sedih.

Young In pergi ke bandara untuk menukarkan kupon tiketnya ke Las Vegas dengan uang, tapi tentu saja pegawai bandara menolak. "Kami tidak bisa menukar kupon dengan uang." katanya.

Young In mengomel sendiri bahwa ia tidak mood untuk pergi berlibur. Namun mendengar pengumuman pemanggilan penumpang pesawat ke Las Vegas, Young In luluh. Ia akhirnya memutuskan untuk pergi sendirian.

Young in duduk di dalam pesawat sendirian dan menangis. Ia menutupi suara tangisannya dengan handuk. Semua penumpang mencari asal suara tangisan itu.

Sesampainya di bandara transit, tanpa sengaja Young In menjatuhkan handuknya. Seorang pria memungut dan mengembalikan handuk itu padanya.

"Kau datang sendirian untuk berlibur?" tanya pria itu.

"Ya." jawab Young In. "Bagaimana denganmu?"

"Untuk menikah." jawab pria itu, tersenyum.

"Dimana pengantin wanitanya?" tanya Young In. "Kau tidak datang bersamanya?"

"Aku datang bersamanya." jawab pria itu.

Young In mencari wanita yang berada di dekat situ.

Si pria tersenyum malu dan memanggil seorang pria yang duduk di dekatnya. "Kami akan menikah." katanya. Ah, rupanya mereka homo.

"Se... selamat..." ujar Young In, terbata-bata.

Pria homo itu bernama Ronny, sedang kekasihnya bernama Arthur.

Young In dan Ronny naik lagi ke pesawat.

"Terima kasih karena sudah sangat ramah mengenai pernikahan kami." kata Ronny. Ia menoleh ke belakang untuk melihat apakah kekasihnya sudah kembali dari toilet.. "Arthur mungkin terlihat kuat, tapi ia sangat sensitif pada reaksi orang lain."

Young In tersenyum.

"Tempat duduk disampingmu kosong." kata Ronny ramah. "Jika kau kembali, aku berharap ada seorang pria yang akan menemanimu. Tapi bukan seseorang sepertiku." Ekspresi Ronny berubah sedih. "Aku ingin kakakku memberi selamat pada kami, tapi aku terlalu gugup.Walaupun aku tidak memiliki apapun, aku ingin bersikap baik pada Arthur dan tidak ingin menyakitinya. Tapi aku masih merasa cemas."

Akhirnya Young In dan kedua pria homo tiba di Las Vegas. Mereka berjalan bersama.

"Kakak!" panggil Ronny, memanggil kakak laki-lakinya, Yoon Hyun Suh.

Hyun Suh menyambut mereka dengan hangat. Ia menyalami adiknya dan Arthur, kemudian memeluk Young In dengan akrab. "Selamat datang di Las Vegas!" katanya ramah.

Young In dan Ronny terkejut dengan sikap Hyun Suh. Hyun Suh mengajak mereka bertiga ikut dengannya, tanpa mendengar penjelasan Ronny terlebih dulu.

Young In ikut dalam mobil Hyun Suh. Di sepanjang jalan, sedang ada gembar-gembor berita mengenai Caesar yang mengambil alih Hotel Nikko. Hyun Suh tersenyum puas.

"Kakak..." Ronny berusaha menjelaskan pada Hyun Suh, tapi Hyun Suh memotong kata-katanya.

"Setelah kalian menikah, jika kalian mau, aku bisa memberikan sebuah kamar di Nikko pada kalian." kata Hyun Suh. "Nikko adalah milikku sekarang!" Hyun Suh tidak tahu bahwa adiknya homo.

"Maafkan aku." bisik Ronny pada Young In. "Tapi bisakah kau ikut bersama kami?"

Young In terjebak dalam situasi sulit. Hyun Suh menyiapkan satu kamar di hotel untuk Ronny dan Young In, sementara Arthur menggunakan kamar lain.

Ronny berjanji pada Young In dan Arthur bahwa ia akan menjelaskan semuanya pada kakaknya besok.

"Walaupun ia tidak bisa menerima kita, cintaku padamu tidak akan berubah." kata Ronny pada Arthur.

Malam itu, Young In berjalan-jalan di kota Las Vegas seorang diri.

Seorang tukang foto menawarkan untuk memotret Young In denan harga 5 dollar. Secara tidak sengaja Hyun Suh melihatnya.

"Apa yang kau lakukan sendirian disini?" tanya Hyun Suh seraya berjalan mendekati Young In.

"Ronny lelah dan ingin tidur, tapi aku belum lelah..." Young In berusaha mencari-cari alasan.

"Kau memegangnya salah." kata Hyun Suh. "Seharusnya di tangan satunya."

Young In melihat fotonya. Ia memegang es krimnya tidak sama dengan patung Liberty.

Young In dan Hyun Suh berjalan bersama.

"Kalian tidak telihat mirip, tapi kalian mirip." kata Young In, membandingkan Hyun Suh dan Ronny. "Ronny terlihat pekerja keras dan pandai, sedangkan kau terlihat pandai dan pembuat masalah."

"Aku pintar dan pekerja keras, Nak!" bantah Hyun Suh. "Kau ingin tahu seperti apa kau terlihat? Kau orang yang tidak terlalu pandai dan pembuat masalah."

Young In terkesan melihat pertunjukkan air mancur. "Pasti akan lebih baik jika aku melihatnya dengan seseorang yang kusukai." gumamnya.

Hyun Suh memandang Young In.

Keesokkan harinya, Hyun Suh mengetuk pintu kamar Young In.
"Apakah ia masih tidur?" tanya Hyun Suh pada Young In, menanyakan adiknya.

"Dia tidur bersama temannya." jawab Young In setengah sadar.

Young In terkejut mendengar ucapannya sendiri dan melarang Hyun Suh masuk ke kamar sebelah. "Mereka sudah pergi." katanya.

Hyun Suh membelikan sebuah pakaian untuk Young In. Ronny dan Arthur menghindarinya.

"Apakah adikku sudah kembali?" tanya Hyun Suh, menelepon Kyle, pengurus hotel.

"Ia keluar lagi." jawab Kyle, berbohong. Ronny dan Arthur saat itu ada di hadapannya.

"Apakah kau punya rekomendasi untuk kapel pernikahan?" tanya Arthur padanya.

Hyun Suh mengantar Young In berjalan-jalan di Las Vegas. Seperti layaknya tour guide, ia menjelaskan berbagai sisi kota pada Young In.

Akhirnya, Hyun Suh mengajak Young In ke sebuah lahan luas dekat pegunungan.

"Aku akan membangun sebuah hotel disini." katanya. "Orang-orang akan datang dan aku bisa menghasilkan banyak uang. Bukankah sangat bagus?"

"Apanya? Menghasilkan banyak uang?" tanya Young In.

"Pemandangan disini." jawab Hyun Suh.

"Oh, ya." jawab Young In. Ia menceritakan pada Hyun Suh mengenai adiknya. "Dia ingin menikah ditempat kau berada. Dia datang kesini untuk menemuimu."

"Kenapa kau menyukai adikku?" tanya Hyun Suh. "Dia tidak punya uang. Kemampuan menggambarnya tidak terlalu baik."

Young In ragu sejenak dan tertawa. "Aku.. tidak tahu." jawabnya kaku.

"Adikku tidak akan pernah melakukan apa yang kulakukan padamu hari ini." kata Hyun Suh. "Apakah itu tidak apa-apa?"

"Aku tidak mengerti." kata Young In bingung.

Hyun Suh memegang pundak Young In. "Dia dan aku bukan saudara kandung. Kami berdua diadopsi dari rumah yatim piatu yang berbeda di Korea." Hyun Suh tersenyum dan mendekatkan kepalanya pada Young In. "Tidak ada yang perlu dipikirkan dan tidak ada yang salah."

Young In merasa marah. Ia melepaskan tangan Hyun Suh dari bahunya dan berjalan masuk ke dalam mobil.

Young In menarik napas dalam, membuka bajunya dan berganti pakaian. Ia kemudian berjalan mendekati Hyun Suh dan memberikan baju itu padanya.

"Kau brengsek!" seru Young In. "Kau menyebut dirimu seorang kakak. Kau bahkan tidak memiliki setengah dari kejantanan adikmu. Menginginkan kau memberi selamat padanya... dia sangat..." Young In tidak menyelesaikan kata-katanya dan berjalan pergi sambil ngomel. Hyun Suh tersenyum.

"Naik!" kata Hyun Suh, mengejar Young In dengan mobil.

"Pergi ke neraka!" omel Young In.

"Naik!" perintah Hyun Suh.

"Kau harus dihukum!" seru Young In seraya menendang mobil Hyun Suh. Agar bisa mengalihkan perhatiannya dari Hyun Suh, ia memikirkan perhitungan matematika.

Di hotel, Ronny mengatakan pada Young In bahwa kakaknya mengajak mereka makan malam.

"Sepertinya ia sangat menyukaimu." katanya. "Aku tidak pernah melihatnya membicarakan orang lain seperti ini. Ia bilang kita harus menikah." Ronny mengenggam tangan Young In. "Bantu kami sampai akhir. Kurasa akan lebih mudah jika kau bersama kami."

"Tolong, Young In." pinta Arthur.

Young In terpaksa setuju.

Hyun Suh mengajak Ronny dan Young In berbincang di dalam kamar. Ia sudah menyiapkan sepasang cincin nikah untuk mereka.

"Kakak, sebenarnya... orang yang kucintai adalah Arthur..." Ronny berkata hati-hati.

"Arthur? Siapa Arthur?" tanya Hyun Suh.

Arthur masuk ke dalam kamar.

"Arthur dan aku akan menikah." kata Ronny.

Hyun Suh diam. Ia lebih kelihatan berpikir dibanding terkejut. Ia bangkit dari duduknya dan melihat Arthur tajam.

"Aku ingin memberitahu lebih awal..." kata Arthur. "Kau ingin... aku bahagia, bukan?"

"Lalu siapa dia?" tanya Hyun Suh, menunjuk Young In. Tanpa menunggu jawaban, Hyun Suh mendekati Arthur. "Apa benar yang dikatakan Ronny?"

Arthur mengangguk.

"Maaf, bisakah kau menunggu diluar?" pinta Hyun Suh pada Arthur. Hyun Suh merasa sangat marah pada Ronny, dan dengan tersenyum meminta Arthur keluar.

"Aku juga akan keluar." kata Young In.

"Tidak, tetap disini." larang Hyun Suh.

Hyun Suk menarik kerah kemeja Ronny dengan marah.

"Dia sangat berharga untukku." kata Ronny.

"Lalu bagaimana denganku?" tanya Hyun Suh. "Apa aku bagimu? Apakah aku berharga untukmu juga? Apa aku kakakmu? Kau hanya ingin uang, tapi apakah kau hanya memanfaatkan aku untuk uang?!"

"Kau tidak membutuhkan aku." kata Ronny. sedih "Kau tidak membutuhkanku disisimu. Walaupun kau selalu sibuk, ditunjuk-tunjuk dan ditertawakan karena kau yatim piatu, kau tidak pernah terluka. Kau kuat! Jika dibandingkan denganmu, aku lemah dan butuh seseorang. Kau tidak akan pernah mengerti. Aku tahu bahwa aku membuatmu malu. Aku tahu bahwa aku hanya mengganggu jalanmu."

"Aku tidak pernah mengharapkan apapun... tapi untukmu... kau tahu seberapa banyak yang sudah kulakukan." kata Hyun Suh, melepaskan cengkeramannya. "Mulai saat ini, anggap aku bukan kakakmu. Hiduplah sendirian. Itulah yang akan orang lain lakukan."

Keesokkan harinya, Hyun Suh dan bosnya, David, berbincang di elevetor. David mengatakan bahwa Hyun Suh masih terlalu muda dan berbahaya jika menjadi Presiden Nikko. Ia meminta Hyun Suh untuk pergi berlibur ke Hotel Empire di Korea selama 6 bulan. Namun Hyun Suh menolak.

Setelah David keluar, Young In masuk ke elevator. Hyun Suh kelihatan sangat marah pada Young In dan mengacuhkannya.

Young In mengoceh mengenai Arthur dan Ronny. "Mereka saling mencintai." katanya.

Hyun Suh tidak memedulikan kata-kata Young In.

Di lobby, Hyun Suh meminta Kyle mengusir Ronny, Arthur dan Young In.

Kyle tidak memedulikan Hyun Suh. Ia berkata ramah pada Young In. "Nona, apakah kau ingin check out?"

"Ini perintah!" seru Hyun Suh pada Kyle.

Kyle tetap tidak memedulikan Hyun Suh. "Nona, apakah kau ingin check out sekarang?" tanyanya.

"Tidak. Tidak Check out." jawab Young In.

Pernyataan Young In merupakan alasan cukup bagi Kyle untuk menolak perintah Hyun Suh. "Tamu hotel adalah prioritasku." katanya pada Hyun Suh.

Young In tersenyum berterima kasih pada Kyle, kemudian mengikuti Hyun Suh. Dengan semena-mena, Hyun Suh memecat sekretarisnya karena terlambat datang 23 menit, sebagai pelampiasan rasa marahnya.

Young In terus mengikuti Hyun Suh.

Hyun Suh akhirnya berbalik menghadapinya. "Kenapa kau ikut campur dalam urusan ini?" tanyanya. "Apa yang kau peroleh?"

Young In merogoh saku mantelnya ingin mengambil sesuatu, tapi tanpa sengaja menjatuhkan kondom pemberian ibunya.

"Begitu... Inikah cinta yang kau bicarakan?" tanya Hyun Suh mengejek. Ia maju selangkah mendekati Young In. "Murah." ujarnya pelan.

"Jika kau mahal, kau tidak akan menyakiti adikmu dan membuat seorang gadis menangis." kata Young In tajam Ia menyerahkan sebuah kartu undangan. "Terserah kau mau datang atau tidak ke pesta pernikahan itu! Kau pikir, kenapa mereka ingin menikah disini? Karena kau ada disini. Karena kau adalah kakaknya! Karena ia menyayangimu! Tidakkah kau melihatnya?! Kini aku bisa menilai dirimu, menakutkan dan egois!"

Young In mengomel dan pergi ke pinggir kolam renang. Kyle memberinya minuman, kemudian pergi.

"Yang sebelumnya... terima kasih." kata Young In.

Kyle berbalik dan tersenyum melihat Young In meminum minuman pemberiannya dengan rakus.

Young In menelepon ibunya. Di Korea, ibunya sedang sibuk pindah ke sebuah apartement. Ibunya ingin menyembunyikan hal tersebut dari Young In dan menutup telepon dengan cepat.

Ibu Young In mengintip ke kamar sebelah, yang pindah kesitu pada hari yang sama. Pria itu marah-marah di telepon. "Tetap saja di Amerika! Jangan datang!" pria itu ngambek karena tidak ada yang datang membantunya.

Hyun Suh makan bersama dengan mantan Presiden Nikko, Tuan Nitoshi, di sebuah restoran Jepang. Tuan Nitoshi membawa seorang wanita pencicip makanan. Ia membutuhkan wanita itu untuk mengetahui apakah makanan yang hendak ia makan beracun atau tidak.

Setelah selesai makan, Tuan Nitoshi memohon pamit. "Hotel adalah sesuatu yang hidup. Mereka akan tumbuh seperti pemiliknya." katanya. "Tolong jaga Hotel Nikko."

Hyun Suh bergegas berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan makanannya. Ia memikirkan kata-kata Tuan Nitoshi. "Omong kosong." gumamnya.

Hari pernikahan Ronny dan Arthur.

Young In memakai gaun pemberian Ronny dan menghadiri pesta pernikahan mereka. Hanya ialah satu-satunya tamu yang datang. Ronny kelihatan sedih karena kakaknya tidak juga datang.

Di lain pihak, Hyun Suh sedang dalam perjalanan, tiba-tiba ia mendapat telepon bahwa Tuan Nitoshi bunuh diri.

Hyun Suh ragu. Haruskah ia pergi ke pernikahan adiknya?

Akhirnya Hyun Suh memutuskan untuk datang ke pernikahan adiknya.

Ketika ia sampai di kapel, tempat tersebut sudah kosong. Tidak ada seorang pun disana.

Young In mengantarkan kepergian Ronny dan Arthur.

Bunuh dirinya Tuan Nitoshi membuat Hyun Suh menyadari bahwa Tuan Nitoshi memang menganggap Hotel Nikkon sebagai sebagian jiwanya. Ia kemudian menemui David dan menyatakan persetujuannya untuk pergi ke Korea.

"Kau pikir aku mengirimmu ke Korea hanya untuk berlibur?" tanya David. "Aku punya proyek khusus untukmu."

Hyun Suh bersiap-siap pergi. Ia mengambil sebuah kotak dari dalam laci, berisi kalung berbandul hati. Ia menatap kalung itu.

Keesokkan harinya, Young In naik pesawat kembali ke Korea. Ia menukarkan dua tiketnya dengan satu kursi kelas bisnis.

Young In masuk ke pesawat dan menoleh pada orang yang duduk disampingnya, Hyun Suh. Sambil ngedumel mengenai penyesalannya karena menukat tiket, ia mencoba tidur.

Di tengah perjalanan, ada kendala di pesawat. Pilot mengatakan bahwa mereka mendapat masalah dengan sistem turbulensi dan meminta penumpang mengenakan sabuk pengaman.

Hyun Suh memegangi dadanya, yang lagi-lagi terasa sakit. Ia meraih tas untuk mengambil obatnya, tapi tidak bisa menemukannya.

Young In mendengar nafas Hyun Suh yang berat, seperti kesakitan. Ia mengintip dan panik. "Ada apa?" tanyanya. "Tidak.. apa yang harus kulakukan?! Pramugari! Pramugari!"

"Aku.. aku tidak ingin mati.. tolong... tolong...." gumam Hyun Suh kesakitan.

"Hentikan pesawat!" teriak Young In, panik dan ketakutan. "Buat U-turn!! U Turn!!"

To Be Continued

Sabtu, 12 Juni 2010

Embun Di Mata Eun Hye


Title : Embun Di Mata Eun Hye
Author : Sweety Qliquers
Genre : Friendship, Family
Production : www.korea-lovers86.blogspot.com
Production Date : Sabtu, 12 Juni 2010 – 10.23 AM
Cast :
Yoon Eun Hye
Song Hye Gyo (Eun Hye’s Bestfriend)
Gong Yoo (Eun Hye’s Brother)


Embun Di Mata Eun Hye
Sweety Qliquers


Gadis itu melangkah dengan sangat lamban,wajahnya tampak pucat pasi, kantung matanya terlihat cekung dengan rambut yang di biarkan kering dan tegerai kusut,ia terus melangkah memasuki kelas,hanya terdiam dan tak menoleh,hanya menunduk berusaha menyembunyikan raut wajahnya yang kian memucat.

“Eun Hye? Kau kenapa? kau sakit?” Hye Gyo teman sebangkunya ,mulai menyapa.

“Aku tidak apa apa.” Eun Hye berkata pelan sambil menundukan wajahnya.

“Tapi wajahmu pucat sekali hari ini.” sambil melihat wajah Eun Hye.

“Aku kan sudah bilang aku tidak apa apa, pergi kau dariku!!” ungkap Eun Hye dengan sedikit membentak.

“Aneh!!” pikir Hye Gyo. Dua minggu ini Eun Hye sangat pendiam,dan dia selalu menyendiri setiap berada di kelas, kadang ia juga bolos sekolah.

“Kalau kau punya masalah, kau tak perlu malu untuk menceritakannya padaku siapa tahu aku bisa membantu, aku siap mendengarkan semua ceritamu… “ Hye Gyo meyakinkannya.

“Jangan terlalu peduli padaku.” Dengan suara lemas Eun Hye menjawabnya.



“Kau itu teman sebangkuku, jelas saja aku peduli denganmu, guru slalu bertanya tentang dirimu, kenapa kau jarang masuk akhir-akhir ini?” ungkap Hye Gyo.

“Itu bukan urusanmu!” Eun Hye menunjukan sikap tak sukanya.

“Ayolah Eun Hye, aku tidak bisa melihat temanku sendiri terhanyut dengan masalah yang dia alami.” seru Hye Gyo.

“Kau tak mengerti dengan apa yang kurasakan.” Eun Hye berdiri dari duduknya lalu melangkah meninggalkan Hye Gyo di kelas.

“Eun Hye, kau mau kemana?” teriak Hye Gyo.

Eun Hye hanya diam, sambil melangkahkan kakinya, Hye Gyo pun mengejarnya. “Bagaimana jika pak’ guru bertanya tentang kau, apa yang harus aku katakan?”

Eun Hye menoleh, menatap wajah Hye Gyo dengan pandangan menusuk. “Kau hanya mengatakan apa yang bisa kau lihat sekarang…!”

“Aku tak tahu mengapa akhir akhir ini kau berubah.”

“Masalahku adalah masalahku bukan masalahmu, dan yang tahu masalahku hanya Tuhan dan aku, biarkan aku untuk menyendiri!” seru Eun Hye dengan suara lemas.

“Kalau itu yang kau mau aku tak dapat berbuat apa apa lagi”

“Terimakasih sudah mau mengerti aku.” tanpa rasa ragu sedikit pun Eun Hye melangkah ke luar kelas.

***


Eun Hye kembali ke rumahnya,mengambil tas yang penuh dengan pakaian. kemudian keluar dari rumahnya menuju ke rumah sakit. Tak di sangka Hye Gyo mengikuti Eun Hye dari sekolah, rumah, hingga rumah sakit. Eun Hye pun memasuki salah satu ruangan yang ada di rumah sakit, didalam ruang itu terlihat seorang perempuan, yang dirawat oleh Eun Hye, tapi anehnya perempuan tua itu belum membuka matanya, terlihat seperti orang yang sedang koma.

Tersimpanlah pertanyaan di dalam hati Hye Gyo untuk ditanyakan kepada Eun Hye, saat Hye Gyo sedang melihat Eun Hye di dalam ruangan itu melalui jendela, tiba tiba ada seorang suster yang menabrak Hye Gyo.

“Praakkkk.” terdengar suara barang yang terjatuh.

“Maaf Nona…maaf,, saya tidak sengaja.” ungkap suster itu

“Owh,,, iyah,,, “ jawab Hye Gyo.

“Hye Gyo? Sedang apa kau di sini, kenapa kau bisa ada disini?” Tanya Eun Hye.

“Sudahlah Eun Hye,kau tak bisa menutupi itu semua dariku, sekarang bersediakah kau untuk pergi bersamaku? Aku mohon sebentar saja.”

“Kita mau kemana?”

“Aku ingin menunjukan sesuatu padamu.” seru Hye Gyo.

Eun Hye dan Hye Gyo pun pergi meninggalkan rumah sakit, mereka pergi ke sebuah danau, dimana danau itu terlihat sepi dan Hye Gyo sering mengunjungi danau itu ketika ia merasa sedih, kecewa dan marah. Akhirnya mereka saling berbicara di rumah pohon yang meghadap ke danau, disitu akhirnya Eun Hye pun mau menceritakan semua kejadiannya kepada Hye Gyo.

“Kau tahu? Di sini tempatku mencurahkan semuanya, kemarahan , kekecewaan dan kesedihan kucurahkan semuanya disini. Sekarang waktunya kau untuk mencurahkan perasamu di sini.” ungkap Hye Gyo.

“Jadi,wanita yang kau lihat di rumah sakit itu adalah ibuku, dia koma mulai dari hari minggu kemarin, itu semua karena ayahku, dia meninggalkan kita semua begitu saja hanya untuk menikah dengan wanita lain. Sedangkan kakakku Gong Yoo telah menjadi liar, ia tertekan dengan semua kejadian itu. Aku tak dapat membujuknya untuk pulang ke rumah, itulah yang kualami saat ini Hye Gyo.” Eun Hye menceritakan semuanya pada Hye Gyo

“Jadi begitu ceritanya, aku tahu bagaimana agar ibumu bisa membuka mata lagi,”

“Bagaimana caranya?” Tanya nanda.

“Bagaimana kalau kau meminta semuanya berkumpul di rumah sakit? Ayahmu dan kakakmu-Gong Yoo.” Hye Gyo mengusulkan kepada Eun Hye.

Hye Gyo pun menarik tangan Eun Hye dan turun dari rumah pohon itu,mereka mengunjungi rumah ayahnya dan meminta agar ayahnya dan istri barunya itu mau menjenguk ibunya di rumah sakit dan terakhir mereka berdua mencari Kak Gong Yoo-kakak Eun Hye. Mereka pun membujuk Kak Gong Yoo dengan berbagai cara agar ia mau menjenguk ibunya.

Eun Hye yakin jika semuanya berkumpul ibunya akan sadar dan akhirnya semua keluarga Eun Hye lengkap di rumah sakit untuk setia membangunkan ibunya dari koma. Ketika sampai di depan pintu,wajah Eun Hye tampak bersinar kembali setelah keluarganya kumpul ia pun segera mendekati ibunya.

“Ibu,coba lihat Bu,semua keluarga kita berkumpul disini, mereka ingin ibu segera membuka mata… aku mohon Bu.” ungkap Eun Hye.

Gong Yoo pun mendekati ibunya dan adiknya “Ibu bangun yah Bu… kita semua disini, apa ibu masih ingat,,? Waktu kita bermain bersama… aku, Eun Hye, ayah dan juga ibu, saat itu kita berkumpul untuk merayakan hari ulang tahun ibu, waktu itu wajah Eun Hye kena kue.” Gong Yoo menceritakan semuanya sambil mengeluarkan air matanya.


“Ah kak Gong Yoo itu semua kan gara gara kakak juga.“ ungkap Eun Hye.

“Sudah kalian jangan ribut, ayah waktu itu juga di jatuhkan kekolam, huh mana airnya dingin.” ungkap ayah.

“Hhahahaah, iya aku ingat itu.” ucap Eun Hye.

Mereka terlihat kompak seperti dulu, mereka saling tertawa dan becanda, tapi seketika mereka terdiam melihat ibunya yang belum juga sadar. Kedua mata Eun Hye pun mulai berembun karena melihat ibunya yang belum juga bangun. Eun Hye terlihat hampir putus asa dengan usahanya, dia meminta permohonan kepada Tuhan agar ibunya dapat membuka matanya kembali. “Ya Tuhan tolonglah,,, hamba ingin melihat ibu membuka matanya.” air mata Eun Hye pun jatuh di pipi ibunya. Tangan ibunya pun mulai bergerak, matanya perlahan lahan terbuka dan memandangi wajah Eun Hye, semuanya pun bergegas mendekati ibu, Eun Hye pun mengusap air mata di pipinya.

“Eun Hye, Gong Yoo maaf kan ibu jika harus meninggalkan kalian, kalian berdua akan tetap menjadi anak ibu, usap air mata kalian. Ayo peluk ibu…” Eun Hye dan Gong Yoo pun memeluk ibunya hingga akhirnya ibunya menutup mata untuk terakhir kalinya di pelukan kedua anaknya.

Ketika itu Eun Hye merasa detak jantung ibunya tak berdetak lagi dan tak menghembuskan nafas. Seperti pisau yang menusuk di ulu hatinya yang membuat kedua matanya kembali mengembun. Embun di mata Eun Hye pun kian berguguran menorah hatinya yang semakin terluka…!


TAMAT

Cinta Terlarang

Title : Forbidden Love
Alternate Titles : Cinta Terlarang
Author : Sweety Qliquers
Genre : Romance/Fairy Tale
Production : www.rainlovers86.blogspot.com
Production Date : Selasa, 08 April 2010 – 04.30 PM
Cast :
Son Dam Bi as Choi Young In (Young In)
Rain Bi as Yoon Hyun Seo (Hyun Seo)
Yoon Eun Hye as Kang So Jin (So Jin)







Padang rumput yang indah hari ini diterangi sinar mentari yang boleh dibilang malu-malu, tidak terlalu terik, tapi cukup untuk menyinari seisi taman itu. Bunga-bungaan tampak tersenyum senang menyambut mentari pagi. Begitulah setiap paginya Choi Young In menyambut paginya, yah Choi Young In, seorang malaikat yang bertugas di surga bunga.

Choi Young In melihat langit, mengecek tanda-tanda kedatangan Kang So Jin, sahabat baiknya yang selalu menjenguknya setiap 2 hari sekali. Kang So Jin dan Choi Young In akan bermain, bernyanyi, dan menari bersama kupu-kupu, kebiasaan favorit mereka. Hari itu juga tak luput, secercak awan meruak bersinar ketika Kang So Jin memasuki surga Choi Young In, The Fairyland, begitu Choi Young In menamai dunianya. Choi Young In menyambut Kang So Jin dan mereka pun melangkah ke padang bunga lily untuk terbang melayang mengikuti iringan harpa yang dibawa Kang So Jin, sang malaikat music.

Tanpa disadari mereka berdua, Yoon Hyun Seo, salah satu devil dari Underworld mengintip di celah perbatasan The Fairy Land dengan Underworld. Hari itu Yoon Hyun Seo bertekad mengambil batu malaikat yang terkalungkan di leher setiap malaikat. Ia telah ditugaskan Kim Nam Gil, salah satu penguasa Underworld untuk mengumpulkan batu-batu malaikat yang memiliki energy murni yang dapat membuat devil semakin kuat. Jalan satu-satunya adalah membunuh malaikat karena energy dalam batu malaikat itulah yang merupakan energy kehidupan bagi setiap malaikat.

Yoon Hyun Seo terus mengamati Choi Young In dan Kang So Jin. Ia terpesona pada tarian mereka yang indah. Ia tersadar untuk cepat melaksanakan misinya.

Tapi matanya terus terpaku pada seorang malaikat yang menari di hadapannya.

“Siapa malaikat itu?” Yoon Hyun Seo bertanya dalam hati.

“Ia begitu mempesona. Matanya begitu teduh, senyumnya yang lembut dan tulus, gerakan tubuhnya yang mengalun bersama music indah, kupu-kupu pun terus menempel ke rambut panjangnya yang berkilau.” Tanpa disadari, hati dingin milik Yoon Hyun Seo yang telah beku selama ribuan tahun tergerak.

“Choi Young In! Aku pergi dulu ya, 2 hari lagi kita bersenang-senang lagi.” Malaikat satunya berteriak pada malaikat yang sedang diamati Yoon Hyun Seo selama berjam-jam.

“Ooh Choi Young In … Namanya Choi Young In, sangat indah, sesuai dengan dirinya.” Pelan-pelan Yoon Hyun Seo mengucap pada dirinya. Tanpa disadarinya, sebentuk senyum tersungging di wajahnya.

Seperginya Kang So Jin, Choi Young In masih tetap asik menari bersama kupu-kupu lain. Ketika ia mendengar patahan ranting, Choi Young In tersentak dan menoleh. Ooh Choi Young In melihat Yoon Hyun Seo yang tak hati-hati memijak ranting. Yoon Hyun Seo yang teringat misinya segera medekati Choi Young In.

“Hello Choi Young In. Perkenalkan aku Yoon Hyun Seo. Ijinkan aku memiliki kalungmu.” Choi Young In yang ketakutan langsung berlari kembali ke pondok bunganya. Ia harus mengambil pecahan kaca Malaikat Sinar yang dapat menghalau devil untuk menyerangnya. Tapi Yoon Hyun Seo lebih cepat, dalam sekejab ia telah terbang ke depan Choi Young In untuk merampas kalungnya. Choi Young In sangat ketakutan, jika kalung miliknya diambil, maka hilang jugalah hidupnya. Dalam keadaan terdesak, kalung Choi Young In bersinar sangat kuat tepat ketika Yoon Hyun Seo menyentuh kalung tersebut. Yoon Hyun Seo terkejut akan reaksi kalung tersebut, bahkan energi sinar kalung tersebut akhirnya melukainya hingga ia tak sadarkan diri.

Yoon Hyun Seo perlahan membuka matanya, pertama yang dilihatnya adalah atap sebuah pondok yang dipenuhi bunga-bunga. Ia menoleh ke samping, mengamati seluruh pondok. Dalam hatinya bertanya-tanya, dan ketika ia berusaha bangun, ia tak bisa menggerakkan kakinya, bahkan tubuhnya penuh luka. Saking sakitnya, ia kembali tak sadarkan diri. Ketika ia tersadar lagi, ia mendengar suara nyanyian merdu. Siapa itu, dalam hatinya berpikir, dan dari celah jendela, ia melihat Choi Young In. Choi Young In, malaikat yang ingin dibunuhnya, tampak sedang menumbuk daun-daunan dan ketika siap ia masuk ke dalam. Yoon Hyun Seo berpura-pura masih pingsan, ia ingin tahu apa yang dilakukan Choi Young In. Choi Young In yang masuk mendekati Yoon Hyun Seo, ia membalut luka-luka Yoon Hyun Seo dengan daun-daunan tersebut. Tes! Yoon Hyun Seo merasakan setetes air di kakinya. Ia mengintip sedikit dan mendapati Choi Young In sedang berlinang air mata. Kenapa dia menangis. Yoon Hyun Seo bertanya dalam hati.

“Choi Young In!” Yoon Hyun Seo memanggil lirih.

Choi Young In yang sedang menangis tersentak. Ia mundur beberapa langkah. Mereka berdua saling bertatapan. “Maaf! Aku tak tahu kalau kalungku bisa mencelakakan kamu sampai begini. Maaf! Maaf!” ujar Choi Young In pelan.

Kebingungan menyelimuti Yoon Hyun Seo. Ia melihat sekujur tubuhnya, luka di sana sini. Ternyata ia terluka parah ketika menyerang Choi Young In. “Tapii… Kenapa ia begitu baik padaku. Jelas-jelas aku ingin membunuhnya. Kenapa? Kenapa?” Yoon Hyun Seo begitu bimbang.

***
Hari-berganti hari, minggu berganti minggu. Choi Young In terus merawat Yoon Hyun Seo hingga sembuh. Pagi itu, Yoon Hyun Seo sedang duduk di rumput basah mengamati Choi Young In yang sedang merawat bunga-bungaan. Kang So Jin sudah tidak pernah datang sejak terakhir Yoon Hyun Seo melihatnya. Choi Young In mengatakan ada badai di langit yang mengakibatkan para malaikat harus berdiam di tanahnya masing-masing. Choi Young In terus bernyanyi sambil menebarkan bubuk bunga ke padang, sesekali ia menari berputar-putar.

Yoon Hyun Seo terus mengamati Choi Young In, ia memegang dadanya, ada apa dengan aku, ia bertanya dalam hati. Kenapa aku merasakan sesuatu yang sesak di dadaku beberapa minggu ini. Seperti perasaan yang membuncah ketika ia melihat Choi Young In. Apakah ini cinta? Apakah ia telah jatuh cinta? Hanya 1 jawaban yang didapatnya, ya, dia telah jatuh cinta. Jatuh cinta kepada seorang malaikat. Cinta yang terlarang. Cinta yang seharusnya tak ada pada dirinya karena ia telah lama merasakan tak memiliki hati. Apakah hatinya yang telah beku selama hidupnya kini perlahan mencair karena seorang Choi Young In. Apakah ia telah tersentuh begitu dalam akan seorang Choi Young In? Sepertinya memang begitulah jawaban yang ia dapat. Pelan-pelan ia mendekati Choi Young In, ia akan menyatakan cintanya.

***

Sudah sebulan mereka bersama. Cinta yang telah tumbuh di antara mereka semakin bersemi, laksana mentari pagi yang hangat, bagaikan bunga-bunga yang mekar di antara padang hijau. Begitu indah dan murni. Saling melengkapi satu sama lain. Bahkan senyuman sekarang tidak menjadi sesuatu yang asing bagi Yoon Hyun Seo. Kini kebahagiaan bukanlah sesuatu yang tabu baginya. Ia begitu bahagia, dalam ribuan tahun kehidupannya, saat-saat ini lah yang paling berarti baginya. Saat dimana ia kembali memiliki hatinya yang telah lama hilang.

Apakah kebahagiaan dari cinta terlarang ini dapat bertahan selamanya? Jawabannya datang bersama dengan kedatangan Kang So Jin bersama The Lady of Heaven yang datang mengunjunginya setelah badai berlalu. Awan yang menyeruak secara tiba-tiba mengagetkan Choi Young In dan Yoon Hyun Seo yang sedang bercengkerama.

Keterkejutan mereka tidak lama, ketika The Lady of Heaven menyadari sesosok devil sedang bersama dengan malaikatnya. Ia murka, dan menyorotkan kaca utama Malaikat Sinar ke arah Yoon Hyun Seo. Ia akan memusnahkan devil itu saai ini juga. Saat sinar itu hampir mengenai tubuh Yoon Hyun Seo, Choi Young In melompat ke depan Yoon Hyun Seo, menghalangi kekasih hatinya dari hujaman sinar penghancur.

“Tidakkkk….” Yoon Hyun Seo sangat terkejut ketika Choi Young In yang melindunginya, perlahan-lahan berubah menjadi sinar. Choi Young In menghilang sepenuhnya di hadapan Yoon Hyun Seo setelah mengatakan “Pergi sekarang juga! Aku akan selalu mencintaimu Yoon Hyun Seo”.

Dalam saat terakhirnya, Choi Young In mendorong Yoon Hyun Seo ke celah antara 2 dunia, mendorongnya kembali ke Underworld. Yoon Hyun Seo terjatuh dalam keterpanaan, ketidakpercayaan bahwa Choi Young In telah tiada.

***

Beberapa hari berlalu sejak kepergian Choi Young In. Yoon Hyun Seo kembali ke The Fairyland. Ia telah duduk berhari-hari di sana. Hidupnya hampa, hatinya yang pernah datang kini kembali pergi, hilang tak berbekas bersama menghilangnya Choi Young In. Tangannya terus memegang dadanya. Apakah rasa sakit ini? Sakit yang tak tertahankan, sakit yang membuatnya hampir tak bisa bernafas. Ia tertunduk sedih ke rerumputan ketika ada langkah-langkah kaki yang membuatnya menoleh secepat kilat. Apakah Choi Young In telah kembali? Ternyata yang di hadapannya adalah Kang So Jin. Pandangan Kang So Jin yang penuh dendam menghunjam Yoon Hyun Seo.

“Kau lihat apa yang kau perbuat pada sahabatku? Kau menghancurkannya. Kau membunuhnya. Kau lihat rumput dan bunga di sini telah layu sepenuhnya. Ia tidak akan pernah kembali.”

Dilemparkannya kalung milik Choi Young In yang telah kehilangan sinarnya. Yoon Hyun Seo memungutnya, mengusap batu tersebut. Perlahan tangannya basah, ada air yang menetes dari matanya. Ia, sesosok devil yang telah beku hatinya, menangis.

“Kau menangis? Kau, devil, dapat menangis?” dan Kang So Jin mengeluarkan pecahan kaca Malaikat Sinar dari sakunya. “Kau akan kubunuh. Akan kubinasakan dengan tanganku sendiri!” Dibuangnya pecahan kaca tersebut dan dicekiknya Yoon Hyun Seo dalam pembalasan dendam yang kuat. Yoon Hyun Seo tak melawan, ia hanya menggenggam erat kalung Choi Young In, seakan merasakan Choi Young In bersamanya saat itu. Ketika nyawa terakhir hampir hilang dari tubuhnya, Yoon Hyun Seo memejamkan matanya, berharap dapat kembali ke sisi Choi Young In, bersama-sama kembali, merasakan kembali kebahagiaan.

Kang So Jin telah membunuhnya. Ia telah membunuh Yoon Hyun Seo dengan tangannya sendiri. Perlahan air mata mengalir di pipinya. Sayapnya yang putih mulai berubah menjadi hitam. Kalung kehidupannya bersinar dari putih ke hitam. Ya, Kang So Jin berubah menjadi devil. Ia seorang malaikat yang dengan sadarnya melakukan dosa, menggunakan tubuhnya untuk melakukan pembunuhan, menggunakan hatinya untuk dikotori dengan pembalasan dendam. Kang So Jin telah berdosa. Ia tidak lagi murni untuk menjadi malaikat. Ia tersenyum sedih. “Ini pantas kudapat, untuk menebus nyawa Choi Young In, sahabatku”. Dan perlahan ia terbang ke bawah, ke Underworld, tempatnya yang baru dan untuk selama sisa hidupnya.




TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.rainlovers86.blogspot.com

Naluri Perempuan

Title : Naluri Perempuan
Author : Sweety Qliquers
Genre : Family/Comedy
Label : Yoon Eun Hye, Gong Yoo
Production : www.rainlovers86.blogspot.com
Production Date : Jum’at, 11 Juni 2010 – 03.09 PM
Cast :
Yoon Eun Hye as Kang Hye Bin (Hye Bin)
Gong Yoo as Cha Bong Gun (Bong Gun)
Seo Shin Ae as Park Yeon Yi (Yeon Yi)
Kim Hyun Joo as Ny. Goo Hye Sun (Hye Bin Mother)
Lee Bo Young as Ny. Son Dam Bi (Yeon Yi & Bong Gun Mother)
Ahn Jae Wook as Tn. Dong Seo Woo (Yeon Yi & Bong Gun Father)














Kang Hye Bin berkemas dengan cepat. Beberapa lembar pakaian dijejalkannya ke dalam tas plastik secara sembarangan. Di luar kamar, Ny. Goo Hye Sun-Ibunya ternyata sudah mencegatnya.

“Kau mau pergi dengan meninggalkan kapal pecah seperti itu?”

Kang Hye Bin berpaling dengan sebal, memandang sekilas celana pendek dan handuk yang tergolek di atas kasur. Buku-buku masih berserakan di lantai, bersaing dengan kotak DVD dan kertas tisu yang tercerai-berai.

“Bagaimana mungkin kau bisa mengurus seorang bocah jika mengurus diri sendiri saja tidak becus? Ampun, Hye Bin, kau ini sudah besar. Harusnya mulai belajar banyak untuk menjadi perempuan sejati. Perempuan yang bisa mengurus diri sendiri, mengurus rumah....”

“Perempuan sejati... ?” gumam Kang Hye Bin.

Dengan bersungut Kang Hye Bin mengemasi barang-barang yang berserakan itu dan menumpuk asal-asalan di sudut kamar. Ny. Goo Hye Sun mengawasinya sambil menggeleng-gelengkan kepala putus asa. Tak urung nanti dia sendiri yang akan membereskannya.

“Ibu pasti senang, karena dua hari ini seisi rumah akan rapi tanpa aku.” Hye Bin bersungut. “Atau justru kehilangan? Rindu? Hmmm, tidak usah telpon-telpon, ya!”

Ny. Goo Hye Sun menyembunyikan senyumnya. Ya, rumah akan terasa sepi tanpa Kang Hye Bin. Dua hari ini Kang Hye Bin akan tinggal di rumah keluarga Dong Seo Woo. Tn.Dong Seo Woo, teman Ayah Kang Hye Bin itu, meminta tolong Kang Hye Bin untuk kesekian kalinya menjadi penjaga rumah. Bedanya kali ini, di rumah ada Park Yeon Yi. Tn. Dong Seo Woo dan Ny. Son Dam Bi-istrinya akan pergi selama akhir pekan keluar kota, untuk urusan keluarga yang katanya sangat penting. Park Yeon Yi yang berusia tujuh tahun terpaksa tidak bisa ikut karena baru saja sembuh dari sakit.

“Kau bisa menjaga Yeon Yi selama dua hari saja, kan?” tanya Ny. Son Dam Bi tempo hari.

Kang Hye Bin terpaksa bilang iya, meski ia juga mengeluh dalam hati. Ia tahu persis siapa Park Yeon Yi. Memang tidak terlalu nakal, tapi bisa jadi akan sangat merepotkannya. Tapi Kang Hye Bin tidak ingin menolaknya. Beberapa kali ia menjadi tenaga sukarela di rumah keluarga Dong Seo Woo, ia tak pulang dengan tangan hampa. Hanya pindah tidur dua hari saja, pulangnya saku Kang Hye Bin dijejali dengan beberapa lembar uang ratusan ribu. Sangat lumayan untuk bersombong diri mentraktir teman.

Ketika Kang Hye Bin tiba di rumah itu, Tn. Dong Seo Woo dan Ny. Son Dam Bi sudah bersiap diri, bahkan mesin mobil sudah dihidupkan di halaman rumah. Park Yeon Yi nampak masih lemas, duduk di teras rumah mengawasi kesibukan kedua orangtuanya. Ia terlihat gembira ketika Kang Hye Bin menghampirinya.

“Just you and me, Yeon Yi!” sapa Kang Hye Bin.

Park Yeon Yi yang sejak kecil belajar berbahasa Inggris itu tersenyum lega.

“Can you play with me all night long?” bibir kecil itu berceloteh ringan, tak takut salah.

“Ups!” Kang Hye Bin memberi isyarat dengan telunjuknya. “Sssst, jangan sampai mereka tahu…,” bisik Kang Hye Bin sambil mengerling ke arah Ny. Son Dam Bi.

Park Yeon Yi tertawa senang.

Keduanya mengantar kepergian Tn. Dong Seo Woo dan Ny. Son Dam Bi.

Sesaat kemudian Kang Hye Bin menggandeng Park Yeon Yi dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.

“Well? Kau mau apa dulu? Makan, berenang atau…?”

“Kata Ibu, kita tidak boleh keluar rumah. Lagipula…”

“Oh ya, anak baik. Kau harus beristirahat sebanyak mungkin. Jadi, bagaimana kalau kita menghabiskan sore dan malam ini untuk nonton film kartun?”

Park Yeon Yi melonjak gembira ketika Kang Hye Bin memperlihatkan tujuh keping DVD yang dibawanya.

***

Sore menjelang gelap, Kang Hye Bin dan Park Yeon Yi masih asyik di kamar besar yang serba lengkap dengan fasilitas itu. Kasur busa telah berpindah ke lantai, boneka-boneka besar segera berterbangan mencari sasaran.

Ini pekerjaan yang menyenangkan, batin Kang Hye Bin. Park Yeon Yi sangat mudah untuk ditaklukkan. Jangankan cuma dua hari, setahun bersama Park Yeon Yi pun Kang Hye Bin sanggup.

Kang Hye Bin mengejar Park Yeon Yi, mengincar kepalanya dengan boneka ulat bulu raksasa.

“Aduh, ramai sekali kalau dua anak kecil sedang bercengkerama …”

WHUUUUAAAA ….!!!

Kang Hye Bin menjerit keras. Ia kaget bukan kepalang karena tiba-tiba seseorang telah berdiri di ambang pintu.

“Kak Bong Gun!!!!” Park Yeon Yi melepaskan bonekanya dan melompat ke dalam gendongan cowok itu.

“Oo… my God! Jadi inikah manusia bernama Cha Bong Gun itu?” Batin Kang Hye Bin segera paham.

“Hai! Pasti kau… Kang Hye Bin yang terkenal itu. Ibu sudah sering sekali bercerita tentang kau.” Cowok superganteng itu mengulurkan tangannya.

“Dan kau pasti Cha Bong Gun, si sulung yang …” Kang Hye Bin meneruskan dalam hati, “Tampan, kuliah desain interior di GongYoo City dan nyaris tidak pernah pulang.”

Kang Hye Bin gemetaran ketika bersalaman. Satu hal yang di luar dugaannya adalah, Cha Bong Gun tak cuma tampan, tapi benar-benar luar biasa tampan. Kang Hye Bin sama sekali tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa hari ini Cha Bong Gun akan pulang ke rumah.

Ini anugerah atau musibah?

Kang Hye Bin ingin saat itu juga memiliki keajaiban bisa menghilang. Tak terbayangkan betapa malunya tampil di depan cowok supertampan itu dalam keadaan superkusut, dengan kaus kedodoran dan celana superpendek yang warnanya sudah tak karuan lagi. Satu hal yang bisa dilakukannya adalah menyambar bed cover dan melilitkannya di pinggang untuk menyembunyikan celana pendek ajaibnya.

“Ayah dan Ibu pergi ke WooBin City, kak Hye Bin menemaniku menjaga rumah.” Park Yeon Yi menyelamatkan situasi dengan penjelasannya yang polos. Cha Bong Gun masih melongo.

“Sampai kapan?”

“Minggu malam baru pulang,” jawab Kang Hye Bin.

“Ah, jadi percuma aku pulang! Padahal Minggu sore aku sudah harus kembali ke GongYoo City.”

“Tapi…” Kang Hye Bin kembali salah tingkah. “Kebetulan juga, karena kau bisa menemani Yeon Yi yang sendirian.”

“Dan kau?”

“Pulang,” lirih Kang Hye Bin. “Oh, melayanglah sekian ratus ribu itu.”

“JANGAN PULANG!!!!”

Park Yeon Yi melompat-lompat kesal di atas kasur yang tergolek di lantai.

“Kak Hye Bin tidak boleh pulang! Kan janjinya mau nonton kartun sampai after midnight!”

“Tapi… bukankah sekarang sudah ada kakakmu? Kau sudah tidak sendirian lagi.”

Cha Bong Gun terbatuk. Batuk yang dibuat-buat. “Ya, kau jangan pulang. Tugasmu harus kau selesaikan karena malam ini aku punya rencana sendiri. Ada acara reuni SMA, dan untuk urusan itulah aku pulang. Mana mungkin aku datang bersama Yeon Yi.”

Kang Hye Bin tak yakin apakah pernyataan itu menguntungkannya atau justru sebaliknya.

Cha Bong Gun menengok arlojinya. “Sekarang aku mau mandi dan mungkin harus tidur sebentar supaya fresh. Tapi… uh? YEON YI!!! TURUN DARI KASURKU!!!”

Brrrr! Kang Hye Bin gemetaran lagi. Baru sekarang ia sadari mereka berdua telah memporak-porandakan kamar. Dan kamar itu adalah kamarnya Cha Bong Gun.

“Sebaiknya kita pindah ke kamarmu sendiri, Yeon Yi.” Kang Hye Bin menarik tangan Park Yeon Yi dan mengajaknya keluar kamar. Ia menatap sebentar ke arah Cha Bong Gun. “Nanti akn aku bereskan kamar ini seperti semula, Bong Gun. Maaf kalau membuatmu jadi kesal. Mandilah dan selesai mandi, kamarmu siap kau tempati lagi.”

Cha Bong Gun tersenyum lebar. Tulus. “Ya, kalian yang harus bertanggungjawab atas kamar ini.” Cha Bong Gun meraih selembar poster yang terlepas dan tergolek di lantai. “Oh ya! Hye Bin…? Kau bisa masak sesuatu untukku? Sepanjang perjalanan aku menahan lapar. Harus ada yang masuk ke perutku, ini! Biasanya Ibu selalu menyiapkan banyak bahan makanan di kulkas. Apa sajalah. Sup ayam, boleh juga. Favoritku buatan Ibu. Selalu sup ayam yang kurindukan di rumah ini. Mudah-mudahan kau bisa memasak sepintar Ibu.”

Kang Hye Bin melotot tanpa sepengetahuan Cha Bong Gun. Ia buru-buru menarik tangan Park Yeon Yi dan mengajaknya turun ke bawah. Ia menyambar tas plastik berisi pakaiannya yang ada di atas sofa. Di dalam kamar Park Yeon Yi, Kang Hye Bin segera merangkapi celana pendeknya dengan celana panjang. Kang Hye Bin berdiri di depan cermin dengan penuh rasa sesal. Pertama kali bertemu dengan cowok supertampan itu ia berpenampilan seperti gelandangan!

“Kakakmu itu …”

“Tampan, ya?” Park Yeon Yi menukas dengan senyum genit. “Kak Bong Gun belum punya pacar, kok!”

“Bukan begitu, adik kecil! Maksudku, untunglah ia tidak marah karena kamarnya sudah kita rusak seperti itu.”

“Dia anak yang baik, kakak yang very-very nice.”

“Dan apa jadinya, jika dua hari aku tinggal serumah dengan si very-very nice itu? Oh my God! Help me please...” Batin Kang Hye Bin.

“Hye Bin...?” Kepala tampan itu mendadak menyembul dari balik pintu. “Aku sudah lihat isi kulkas. Kau bisa membuat sambal tomat? Yang pedas, yang pas buat menemani sup ayam kita?”

“Iiiiy... iya... iya... beres. Mandilah dulu!”

SAMBAL TOMAT ???!!!

SUP AYAM ???!!!

Ketika sayup-sayup terdengar suara nyanyian Cha Bong Gun dari dalam kamar mandi, Kang Hye Bin segera menghambur ke pesawat telepon. Siapa lagi kalau bukan Ny. Goo Hye Sun-ibunya yang menjadi tumpuan harapannya.

“IBU...!!!”

“Ada apa?” Dari seberang sana Ny. Goo Hye Sun terdengar agak cemas.

“Bu, aku sudah siap membawa pulpen dan catatan. Tolong, diktekan resep untuk membuat sup ayam dan sambal tomat! Aku siap mencatat...”

“Loh? Apa susahnya sup ayam dan sambal tomat? Semua orang bisa masak itu, Hye Bin...!”

“IBU... !!!” Kang Hye Bin menjerit lagi, makin kesal. “DIKTEKAN RESEPNYA SEKARANG JUGA!!!”

Lebih dari lima menit, Kang Hye Bin mendengarkan dan mencatat setiap omongan Ibunya. Keringat bercucuran di pelipisnya.

“Cuma seperti itu? Sudah semua?”

“Ya cuma seperti itu. Memasak bukan pekerjaan yang sulit. Kau saja yang tidak pernah mau masuk dapur dan menganggap bahwa di jaman sekarang bisa memasak bukanlah kewajiban seorang perempuan lagi.”

Kang Hye Bin tak ingin berdebat. Waktunya tak cukup untuk itu. Ia sudah hampir beranjak membuka kulkas ketika tiba-tiba teringat sesuatu. Ia berbalik dan buru-buru memijit tombol redial di telepon.

“IBU ...?!!!”

“Apa lagi? Kau kemasukan setan penunggu rumahnya Tn. Dong Seo Woo, ya?” Suara Ny. Goo Hye Sun terdengar kesal.

“Ibu, bagaimana caranya memasang bed cover?”

Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Kang Hye Bin makin keringatan.




TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.rainlovers86.blogspot.com

Kamis, 29 April 2010

Sekeping Hati

Sekeping Hati
Created By Sweety Qliquers
(Samarinda, Kamis <> 290410, 1109AM)


Kupunya Sekeping Hati
Yang Ditebari Cinta
Karena Cinta
Dia Rela Menghadapi Bertubi Derita

Cinta Merebut Dirimu
Dengan Pengorbanan Jiwa
Kan Kutebus Pula
Dengan Sesuatu Di Atas Jiwa




Copyright Sweety Qliquers
www.puisi-lovers86.blogspot.com

Cinta Semu

Cinta Semu
Created Sweety Qliquers
(Samarinda, Kamis <> 290410, 1054AM)


Saat Malam Mulai Menyapa Alam
Tampak Sebuah Bintang
Tak Lama Kemudian Sang Bintang Pun Tenggelam
Beberapa Saat Kemudian
Terbitlah Sang Rembulan
Bersinar Indah Penuh Kelembutan
Namun, Bulan Pun Hanya Sesaat
Tersipu Malu Dengan Keindahannya

Pagi Pun Menyeruak Kegelapan
Kokok Ayam Jantan Membelah Tetesan Embun Pagi
Tak Lama Keperkasaan Mentari Menerangi Jagat Raya

Inikah Cinta Yang Kucari ?
Cinta Semu…



Copyright Sweety Qliquers
www.puisi-lovers86.blogspot.com

Embun Pagi

Embun Pagi
Created Sweety Qliquers
(Samarinda, Kamis <> 290410, 1047AM)

Segarnya Tetesan Embun Pagi
Biaskan Indahnya Sinar Mentari
Angin Yang Semilir Sejukkan Hari
Kuikuti Jalannya Hari

Kini Ku Coba Tuk Pahami Dunia
Betapa Mempesonanya Alam
Terkuak Misteri Kehidupan

Andai Semua Seindah Bintang
Menepis Kegelapan
Menabur Cinta Di Antara Kita Berdua

Bila Malam Telah Menjelang
Kupandangi Bintang Kian Benderang
Dimanakah Engkau Wahai “Belahan Jiwa”



Copyright Sweety Qliquers

Kamis, 22 April 2010

Hello Miss (Episode 16-TAMAT)

Sempat berniat pulang, obrolan lewat ponsel dengan Lee Ha salah satu pengurus Hwa Ahn Dang membuat Soo-ha berubah pikiran. Sementara itu, berita tentang kehebohan Dong-gyu sampai ke telinga Myeong-suk dan Chan-min, yang kaget setengah mati.

Di pabrik, Dong-gyu tidak habis pikir karena rasa pangsit yang dihasilkan tidak keruan, dan meminta sang asisten untuk memanggil ahli masakan......yang ternyata adalah Soo-ha. Setelah diteliti, ternyata perbedaan ada di bagian kulit pangsit.

Dengan wajah berbinar, Dong-gyu membawa pangsit hasil buatan pabrik ke Man-bok dan meminta sang kakek untuk mau merestui hubungannya dengan Soo-ha apabila rasa produk sesuai dengan yang diharapkan. Bisa dibayangkan, bagaimana kagetnya Man-bok saat tahu pangsit yang dimakan bukan dari Hwa Ahn Dang melainkan hasil dari produksi salah satu pabriknya.

Sayang, Man-bok ternyata masih keras hati sehingga Dong-gyu datang ke Hwa Ahn Dang dengan tangan hampa. Melihat mata Soo-ha yang begitu berbinar, pemuda itu tidak tega dan akhirnya berbohong dengan menyebut sang kakek telah menyetujui hubungan mereka.
Bersama-sama, keduanya menghadap para pengurus Hwa Ahn Dang untuk minta restu.

Di Seoul, Hwa-ran sempat kebingungan mendapat ikatan bunga dan sekotak kue dari Joon-young. Namun begitu melihat isinya, gadis itu sadar bahwa pria yang dicintainya tersebut telah tahu siapa ia sebenarnya. Sambil bercucuran air mata, Hwa-ran mengangkat telepon Joon-young dan menyebut kalau gadis yang disukai sang kakak Soo-ha telah lama mati.

Sebal dengan Man-bok yang rewel, Yoo-il memutuskan menyusul Dong-gyu ke Hwa Ahn Dang untuk membujuk pria itu kembali. Namun, begitu melihat betapa bahagianya Dong-gyu dan Soo-ha saat hidup sebagai petani, ia berubah pikiran.

Yoo-il yang tidak tahu apa yang terjadi menceritakan semuanya pada Soo-ha....termasuk tentang belum direstuinya hubungan gadis itu oleh Man-bok. Keruan saja saat kembali ke Hwa Ahn Dang, Soo-ha memanggil Dong-yu dan dengan tegas meminta sang kekasih untuk tidak kembali sampai restu yang selama ini diharapkan bisa didapat dari sang kakek.

Melihat nona besarnya sedih, Lee Ha nekat berangkat sendirian ke Seoul untuk bertemu Man-bok. Berkat bantuan Chan-min (keduanya berpapasan di tengah jalan), wanita tua itu berhasil menemui sang pemilik TOP Group dan akhirnya sukses membujuk Man-bok merubah pikirannya tentang hubungan Dong-gyu dan Soo-ha.

Dong-gyu yang mendengar Man-bok bakal menemui para tetua langsung bergegas ke Hwa Ahn Dang karena takut bakal terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, bahkan bersama Soo-ha nekat menerobos masuk ruang pertemuan. Padahal, di saat yang sama Man-bok berniat untuk memohon maaf atas kesalahannya 50 tahun silam.

Keruan saja, para tetua kembali salah-paham dan mengira itu bagian dari strategi Man-bok. Pada saat itulah sang pemilik TOP Group melakukan hal yang tidak disangka-sangka : ia berlutut dihadapan semua dan memohon supaya akibat kesalahan yang pernah dilakukannya tidak ditimpakan pada Dong-gyu sang cucu.

Diwarnai suasana tegang, Dong-gyu dan Soo-ha (serta Man-bok dari belakang) langsung lega mendengar para tetua bertepuk tangan yang menjadi pertanda mereka setuju. Secara seremonial, Man-bok akhirnya kembali ke Hwa Ahn Dang sambil membawa beberapa ekor sapi sebagai pertanda untuk membayar kesalahannya lebih dari setengah abad silam.

Di tengah kebahagiaan yang dirasakan Hwa Ahn Dang, masih ada satu orang lagi yang akhirnya memutuskan berdamai dengan masa lalunya : Hwa-ran, yang meminta Joon-young untuk mengantar bibi Hwa menemuinya di luar desa. Bersama, keduanya masuk dan bersama yang lain merasakan kemeriahan pesta pernikahan Dong-gyu dan Soo-ha yang sudah tentu digelar secara tradisional.



Hello Miss (Episode 15)

Absennya Man-bok langsung dimanfaatkan oleh Myeong-suk, yang dengan cepat meminta supaya TOP Group menutup divisi bagian penjualan makanan. Namun dengan berani, Dong-gyu (yang hadir di rapat tanpa jabatan penting) menentang dan mendapat dukungan dari Chan-min.

Di saat pusing memikirkan strategi menyelamatkan divisi bagian makanan, Dong-gyu dikejutkan oleh kemunculan Soo-ha (yang datang jauh-jauh dari desa demi bertemu dirinya). Siapa sangka, sambutan pria itu begitu dingin, bahkan ia meninggalkan sang gadis malang dengan ekspresi yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Nekat mencari hingga ke TOP Group, Soo-ha kelabakan saat diberitahu kalau Dong-gyu tidak berada di kantor. Berpapasan dengan Chan-min, ia diajak pemuda itu makan siang bersama. Meski begitu, pikirannya tidak bisa lepas dari Dong-gyu dan terus berulang-ulang berusaha menelepon meski hasilnya gagal.

Meminjam ponsel sang kakak Joon-young, Soo-ha terkejut saat Dong-gyu menyebut tidak akan mau berbicara dengan gadis itu lagi. Sang kakak hanya bisa terdiam melihat perkembangan tidak menyenangkan tersebut, dan saat tinggal berdua, berusaha membujuk Chan-min untuk mau membiarkan Chan-min bahagia dengan Dong-gyu.

Dong-gyu mulai kehabisan akal karena makanan yang dihasilkan oleh perusahaannya tidak mengalami perkembangan rasa yang berarti meski telah mengikuti instruksi Soo-ha, dan sang asisten berinisiatif untuk pergi ke Hwa Ahn Dang dan kembali merekam para penghuni disana saat memasak.

Dasar apes, ia tertangkap dan diusir oleh Soo-ha. Dalam keadaan kepepet, sang asisten akhirnya buka mulut soal Dong-gyu yang terus berusaha menghindar hingga sakitnya Man-bok. Mendengar cerita tersebut, gadis itu akhirnya mengerti apa yang terjadi dan memaksa untuk diantar ke Seoul.

Meski telah sadar, Man-bok menolak untuk bertemu Dong-gyu dan menyampaikannya lewat sang putri Yoo-il. Ditengah rasa putus asanya, pemuda itu tidak sadar bahwa Soo-ha terus menunggunya sejak siang didepan rumah.

Begitu berpapasan, Soo-ha dengan bercucuran air mata menyatakan perasaan yang sesungguhnya ke Dong-gyu, yang langsung dibalas oleh pelukan dan kecupan. Sadar pria yang dicintainya berada dalam keadaan mabuk, sang pewaris Hwa Ahn Dang memapah Dong-gyu masuk ke dalam rumah.

Tidur bersama di sofa dalam posisi saling berpelukan, keduanya tidak sadar kalau pagar rumah tidak terkunci. Man-bok dan Yoo-il yang tiba keesokan paginya sempat mengira kediaman mereka dimasuki maling............sampai melihat kemesraan Dong-gyu dan Soo-ha.

Bisa ditebak, keduanya langsung disidang oleh Man-bok yang marah besar. Tidak ingin gadis yang dicintainya tersakiti lagi, Dong-gyu langsung menyebut kalau dirinya bakal menikahi Soo-ha, yang langsung diangguki. Siapa sangka, Man-bok mengajukan syarat yang cukup berat.

Hello Miss (Episode 14)

Seolah tidak memikirkan perasaan Joon-young dan Soo-ha, para tetua sibuk berdebat apakah akan menjual Hwa Ahn Dang atau tidak. Dengan suara dingin, sikap mereka langsung dikritik oleh ayah Soo-ha.

Berita soal Hwa Ahn Dang langsung menarik minat pemirsa, muncul sejumlah nama yang siap memberikan donasi untuk melestarikan istana tua itu. Akibatnya, Man-bok berada dalam posisi kalah dan kembali harus menahan kekesalan karena untuk kesekian kalinya, para tetua berubah pikiran dan tidak mau menjual Hwa Ahn Dang.

Berhasil bersembunyi selama beberapa hari, Dong-gyu akhirnya ketahuan juga dan nyaris saja diusir keluar. Namun, ia terselamatkan oleh telepon para tetua yang meminta Soo-ha menghadapi sejumlah turis yang bakal datang berkunjung. Mengingat gadis itu tidak bisa bahasa asing, mau tidak mau Hwa Ahn Dang harus mengandalkan Dong-gyu.

Saat berniat membeli cincin pertunangan, Chan-min bertemu dengan Joon-young. Sadar kalau sang sahabat sedang terpukul akibat gagal menjadi pewaris Hwa Ahn Dang, ia mengingatkan untuk tidak begitu saja percaya terhadap Hwa-ran yang berhati kejam. Namun apa daya, peringatan tersebut tidak diindahkan Joon-young.

Siapa sangka, lamaran tersebut ditolak oleh Hwa-ran (yang sudah pasti membuat Joon-young patah hati). Ketika berpapasan dengan Chan-min, keduanya langsung membuka kartu masing-masing saat bicara empat mata. Mereka tidak sadar, pembicaraan itu terdengar oleh asisten Dong-gyu.

Begitu mendengar penuturan sang asisten, Dong-gyu berubah geram apalagi setelah belakangan mendengar dirinya difitnah dihadapan sang kakek. Namun kali ini ia tidak bisa berbuat banyak, satu-satunya jalan adalah menunaikan tugasnya di Hwa Ahn Dang sebagai pemandu sebelum kembali ke Seoul dan membongkar semuanya.

Namun, Dong-gyu kalah cepat dari Yoo-il yang berkat bantuan asisten pemuda itu sukses membongkar persekongkolan yang dilakukan Chan-min didepan Man-bok. Wajah pria tua itu langsung merah-padam karena merasa telah ditipu, dan memerintahkan sang putri untuk segera membawa Dong-gyu kembali ke Seoul.

Berhasil mengumpulkan kedua cucu, putri dan menantunya, Man-bok dengan suara tegas meminta pertanggungjawaban siapa dalang dibalik tindakan Hwa-ran. Begitu mendengar Dong-gyu membantah, posisi Chan-min dan ibunya semakin gawat apalagi setelah sang kakek berbicara dengan nada tinggi.

Dalam posisi terjepit, Myeong-suk masih berusaha membebankan kesalahan pada Dong-gyu terutama setelah pemuda itu mengangguk membenarkan saat ditanya apakah pemuda itu sempat tinggal di Hwa Ahn Dang sejak diusir. Hebatnya meski terus dituding, DOng-gyu menolak buka mulut soal peran Chan-min dan Myeong-suk dalam kasus gagalnya pembelian Hwa Ahn Dang.

Akibat terlalu marah, Man-bok ambruk dan harus dilarikan ke rumah sakit. Sambil menunggui sang kakek, Dong-gyu diberitahu oleh Yoo-il bahwa satu-satunya harapan TOP Group adalah dirinya sehingga otomatis pemuda itu harus memilih antara perusahaan atau Soo-ha.




Hello Miss (Episode 13)

Dengan tegas, Soo-ha menolak tawaran Chan-min dan bergeming meski pria itu menyebut cinta itu bisa dipelajari. Memasang wajah serius, gadis itu menyebut hanya ingin menikah dengan pria yang dicintai dan kelak tidak akan berpisah selamanya.

Di Seoul, Dong-gyu kembali harus menghadapi kemarahan Man-bok. Terkejut mendengar perkembangan yang terjadi, dengan berani ia melawan sang kakek yang dianggap sudah keterlaluan meski untuk itu harus rela diusir keluar dari TOP Group dalam keadaan tidak punya uang sepeserpun.

Kekalutannya makin menjadi saat Soo-ha (yang dalam keadaan mabuk menelepon) dan menyebut siap menikah asalkan pria itu bisa mencegah niat Man-bok menguasai Hwa Ahn Dang. Tidak memikirkan apapun, Dong-gyu dengan segala cara langsung menuju Hwa Ahn Dang dan berbeda dari biasanya, pemuda itu akhirnya tidak menggunakan cara sembrono dan tidur didepan pintu.

Paginya saat bangun, ia kembali harus menelan kekecewaan karena Soo-ha tidak ingat akan apa yang diucapkan di malam sebelumnya. Untungnya, sikap simpatik Dong-gyu mampu membuat para penghuni Hwa Ahn Dang membela sehingga Soo-ha sempat gelagapan.

Tidak sadar kalau terjadi hal tidak mengenakkan pada diri Dong-gyu, Soo-ha terus memperlakukan pemuda itu dengan buruk dan terus menuduh macam-macam. Tidak punya tempat tinggal lagi, ia berusaha memohon salah satu pembantu Soo-ha untuk memperbolehkannya menempati satu kamar.

Sebelum tidur, Dong-gyu menyerahkan pangsit buatan Soo-ha pada sang asisten, yang kemudian memberikannya pada Yoo-il. Siapa sangka, makanan bercita rasa tinggi itu digunakan wanita tersebut untuk melunakkan hati Man-bok, yang langsung menyukai cita rasa pangsit dan langsung mempromosikan (mantan) asisten Dong-gyu ke bagian makanan.

Di hari upacara adat, Soo-ha dikejutkan oleh pemberitahuan Chan-min yang menyebut telah mengundang kru televisi untuk pengambilan gambar. Saat diwawancara, kesedihan Soo-ha berkurang drastis saat salah seorang tetua menyebut tidak akan menjual Hwa Ahn Dang dalam kondisi sesulit apapun.

Diberondong pertanyaan oleh sang asisten seputar siapa pembuat pangsit yang digemari Man-bok, Dong-gyu diberitahu bahwa Hwa-ran ternyata menghabiskan masa kecilnya di daerah Hwa Ahn Dang. Sontak, ia langsung curiga wanita itu memiliki hubungan dengan Bibi Hwa.

Kecurigaan tersebut akhirnya terbukti saat Dong-gyu diam-diam menyelinap keluar dan melihat dengan mata kepalanya sendiri Hwa-ran memanggil Bibi Hwa dengan sebutan ibu. Kebetulan dari arah berlawanan, Joon-young juga melihat adegan itu.





Hello Miss (Episode 12)

Sukses memasukkan kotak obat, Dong-gyu langsung ditangkap saat berusaha memanjat pagar Hwa Ahn Dang dan nyaris saja dilaporkan ke polisi oleh penduduk. Beruntung, mereka mulai mengenali pria yang ternyata berasal dari TOP Group tersebut.

Langsung mendapat sambutan bagai raja, Dong-gyu akhirnya tahu dalang dibalik gosip miring yang membuat Hwa Ahn Dang dalam kesulitan. Tidak mau kalah cepat, pemuda itu balik mengeluarkan strategi baru yang membuat pihaknya diatas angin. Sudah tentu, Hwa-ran yang mendengar Dong-gyu ada di Hwa Ahn Dang kaget setengah mati.

Dong-gyu semakin curiga karena tidak ada data soal latar belakang Hwa-ran, dan meminta sang asisten untuk terus menyelidiki. Apes baginya, saat hendak pulang, ia ditarik oleh penduduk setempat untuk minum-minum. Bisa ditebak, pemuda itu kembali mabuk sehingga membuat asistennya pusing. Pasalnya, Bok-man mengira sang cucu masih ada di Seoul.

Soo-ha yang akhirnya sembuh berkat obat yang diberikan Dong-gyu kaget saat mendengar dari Chan-min kalau pria yang disukainya itu ada di Hwa Ahn Dang. Kebingungannya makin menjadi karena saat menelepon ke ponsel sang direktur TOP Group, Yoo-il yang menganggap menyebut kalau Dong-gyu sedang sibuk.

Begitu melihat Dong-gyu dalam keadaan mabuk, Soo-ha kembali salah sangka dan mengira semua adalah rencana pria itu untuk membeli Hwa Ahn Dang. Dasar nekat, Dong-gyu nekat melompati pagar rumah gadis yang dicintainya itu demi memberi penjelasan bahwa semua yang dilakukannya adalah demi Soo-ha.

Apes bagi Dong-gyu, kehadirannya bertepatan dengan dua tetua yang datang untuk mengambil surat tanah Hwa Ahn Dang. Selain Soo-ha yang dimarahi habis-habisan, Dong-gyu juga harus menerima hukuman dikurung dalam gudang.

Meskipun masih jengkel, Soo-ha terharu juga saat mendengar ucapan Dong-gyu dari balik pintu gudang yang terdengar begitu tulus. Di tempat lain, Hwa-ran tersenyum simpul saat mendengar Joon-young memperkenalkan dirinya sebagai kekasih didepan keluarga Hwang.

Berniat meminta pertanggungjawaban TOP Group, kedua tetua langsung terdiam saat Man-bok menyebut siap memberikan donasi dalam jumlah yang fantastis asalkan Hwa Ahn Dang mau dilepas. Ucapan tersebut diam-diam terdengar oleh Myeong-suk dan Chan-min, yang sama terkejutnya dengan Yoo-il yang kebetulan berada bersama sang ayah.

Baru saja melepas Dong-gyu dengan resiko dimarahi para tetua, Soo-ha terkejut saat mendengar orang-orang yang dihormatinya mulai goyah saat ditawari uang dalam jumlah besar. Dengan mata berkaca-kaca di hadapan Chan-min, ia bersikukuh untuk tetap mempertahankan Hwa Ahn Dang.




Hello Miss (Episode 11)


Secara kebetulan, adegan dorong-mendorong tersebut terlihat oleh Dong-gyu yang kebetulan melintas. Keruan saja, Soo-ha langsung panik dan mengira surat tanah Hwa Ahn Dang telah jatuh ke tangan Hwa-ran. Bersama Dong-gyu, gadis itu kembali bertolak ke Seoul.

Keduanya tidak sadar bahwa di bagian belakang, Bibi Hwa tertidur dengan pulasnya. Begitu sampai di kantor, Soo-ha langsung menumpahkan kemarahannya pada Hwa-ran, apalagi setelah melihat gadis itu belakangan berada bersama Bibi Hwa. Sementara itu, Dong-gyu diikat oleh sang kakek Bok-man meski belakangan berhasil meloloskan diri.

Setelah diperiksa dengan kamera pengaman, baru ketahuan bahwa Bibi Hwa datang bersama Dong-gyu dan Soo-ha. Gadis itu makin putus asa saat tahu surat tanah yang disimpannya didalam bantal hilang. Setelah semuanya pergi, Chan-min menemukan berkas yang dimaksud di bagian bawah bangkunya.

Malang bagi Soo-ha, saat pulang Bibi Hwa mengalami kecelakaan gara-gara nekat berusaha mencegat mobil yang dikendarai Hwa-ran yang kebetulan melintas. Kebingungan menghadapi semuanya, gadis itu ditolong oleh Chan-min yang berhasil 'memaksa'nya untuk bertingkah sebagaimana gadis kebanyakan.

Terbiasa hidup di desa yang begitu sederhana, bisa dibayangkan bagaimana reaksi Soo-ha saat diajak masuk ke sebuah diskotik. Apalagi saat gadis itu tidak tahu, Chan-min nekat menghapus pesan yang ditinggalkan oleh Dong-gyu.

Diam-diam, hati Hwa-ran terasa hancur demi melihat ibu yang melahirkannya tergolek lemah. Namun dasar bergengsi tinggi, ia tetap berpura-pura tidak mengenal Bibi Hwa saat mendapat telepon dari Soo-ha. Terduduk lesu, gadis itu langsung merangkul Joon-young yang kebetulan lewat sambil menangis tersedu-sedu.

Begitu sembuh, Bibi Hwa langsung diantar pulang bersama Soo-ha dengan kendaraan milik TOP Group. Tapi cobaan lain telah menghadang saat tiba : sejumlah petinggi desa berusaha mendesak supaya Hwa Ahn Dang dijual, yang sudah tentu ditolak mentah-mentah.

Usaha penduduk desa ternyata tidak hanya sampai disitu, mereka menghadang pintu masuk Hwa Ahn Dang dan tidak memperbolehkan penghuninya keluar sampai menandatangani surat persetujuan untuk dijual. Kacaunya lagi, di saat bersamaan kondisi Soo-ha juga merosot drastis.

Satu-satunya cara untuk keluar dari kesulitan adalah lewat Dong-gyu, yang sedang 'disandera' oleh sang kakek sehingga tidak boleh keluar. Tidak kehabisan akal, ia bertukar pakaian dengan sang asisten sebelum kemudian memacu mobil sekencang-kencangnya ke Hwa Ahn Dang.




Hello Miss (Episode 10)

Tidak terima diomeli, Chan-min dengan suara tinggi menyebut Dong-gyu sebagai orang yang munafik dan hanya memanfaatkan Soo-ha untuk mendapatkan Hwa Ahn Dang. Keruan saja, sang gadis yang mendengar semua pembicaraan itu dari balik pintu langsung meneteskan air mata dan hatinya hancur.

Setelah sempat terjadi adu pukul, Dong-gyu akhirnya terus menunggui Soo-ha di depan kamar hotelnya tanpa tahu kalau gadis yang ditunggu telah pergi sejak lama. Terus teringat akan pengkhianatan yang dilakukan oleh Dong-gyu, dengan berat hati Soo-ha memutuskan untuk mengembalikan pinjaman perusahaan dan kembali ke Hwa Ahn Dang, kali ini untuk selamanya.

Adu argumen keduanya terhenti oleh berita yang datang dan memberitahukan bahwa para tetua Hwa Ahn Dang berada di gedung TOP Group untuk melakukan protes. Rupanya, kabar yang menyebut bakal terjadi akuisisi telah menyebar luas hingga masuk koran dan membuat resah semua orang.

Akibat masalah tersebut, posisi Dong-gyu semakin sulit apalagi sang kakek Man-bok tak henti-henti memarahi sang cucu yang dianggapnya tidak becus. Tindakan lebih lanjut juga diambil para tetua, yang meminta Joon-young menggantikan posisi Soo-ha sebagai pewaris sekaligus pengurus Hwa Ahn Dang.

Soo-ha yang baru saja sampai mendapat pukulan berikut dari Chan-min : Man-bok yang marah besar karena dipermalukan didepan umum ternyata tidak hanya memutuskan untuk membeli Hwa Ahn Dang melainkan juga seluruh desa.

Ketenangan Dong-gyu membuat sang bibi Yoo-il heran, sampai akhirnya pemuda itu menyebut kalau dirinya tidak bisa mengambil keuntungan dari Soo-ha. Dari situ, baru ketahuan bahwa Dong-gyu, yang polos dan tidak kuat minum, ternyata benar-benar mencintai sang pemilik Hwa Ahn Dang.

Dari pembicaraan Jun-hee dan Jeong-sook, Dong-gyu sadar ada sesuatu yang tidak beres pada diri Soo-ha dan memutuskan untuk kembali menyusul ke Hwa Ahn Dang. Padahal, di saat yang sama ia dipanggil Man-bok. Keruan saja, sang kakek yang mengamuk langsung memerintahkan supaya Dong-gyu tidak diperbolehkan masuk kantor lagi (dan disambut oleh senyum Chan-min dan Myeong-suk).

Rencana Hwa-ran semakin mendekati kenyataan. Setelah tahu kalau Joon-young bakal menjadi pewaris Hwa Ahn Dang yang baru, ia juga memerintahkan supaya proyek pembelian rumah penduduk desa disekitar tempat keramat itu dipercepat.

Di saat yang sama, Soo-ha terkejut mendengar posisi dirinya telah digantikan oleh Joon-young. Teringat akan pembicaraan beberapa waktu sebelumnya, ia langsung menolak perintah tetua meski tidak memberitahu apa alasannya.

Begitu sampai di rumah, dengan perasaan ketar-ketir ia langsung mencari surat-surat tanah Hwa Ahn Dang. Namun terlambat, semua berkas yang disembunyikan di dalam bantal tersebut telah dibawa seseorang untuk diberikan pada Hwa-ran.




Hello Miss (Episode 9)

Lucunya meski impian tercapai, Man-bok malah tidak bisa tidur dan saat berjalan-jalan keluar, berpapasan dengan Lee Hak. Malang baginya, kehadiran pemilik TOP Group itu terlihat oleh Byeong-tae, yang langsung mengejar-ngejar sang rival dengan pentungan.

Sempat dipisahkan oleh Soo-ha dan Dong-gyu, kebersamaan keduanya (yang sempat berpegangan tangan tanpa sengaja) terlihat oleh Chan-min. Kekesalan pemuda itu semakin bertambah saat mereka nampak begitu akrab dan saling menggoda saat pulang ke Seoul.

Begitu mendengar pembicaraan antara Jeong-sook dan Jun-hee saat di kantor, Hwa-ran tersenyum dan langsung menebak kalau strateginya mulai berbuah. Dengan berani, ia berusaha merayu Joon-young dengan menelepon pemuda itu dan mengajaknya makan bersama.

Melihat Joon-young diantar oleh Hwa-ran, Jeong-sook panas dan langsung menduga-duga strategi apa yang bakal dilancarkan gadis licik itu. Di rumah, pelan tapi pasti hubungan antara keluarga Lee (khususnya Soo-ha dan Jun-hee) mulai membaik seiring dengan keterlibatan seluruh anggota bermain kartu.

Kedekatan dengan Joon-young membuat Jeong-sook mabuk kepayang dan menceritakan semua yang dirasakannya pada Soo-ha. Siapa sangka, gadis itu juga merasakan hal yang sama terhadap Dong-gyu, bahkan sempat salah-tingkah saat berpapasan dengan sang pria di lift.

Demi memuluskan rencananya memusnahkan Hwa Ahn Dang, Hwa-ran mulai menjalankan rencana tahap kedua (terutama setelah mendapat iming-iming menggiurkan dari direktur Myeong-suk dan Chan-min. Di trempat lain, Dong-gyu yang merasa rencananya memikat Soo-ha mulai berhasil memutuskan untuk memberi kejutan bagi gadis itu.

Siapa sangka, yang dicari justru sedang berada di Hwa Ahn Dang dan dengan mata kepalanya sendiri, Soo-ha melihat Chan-min sukses menghajar sekelompok berandalan yang hendak berbuat onar. Yang paling sial adalah Dong-gyu, yang terus menunggu Soo-ha tanpa kepastian.

Jantung pria itu mulai berdegup kencang saat Chan-min mengangkat ponsel Soo-ha dan menyebut keduanya sedang minum. Teringat akan kejadian terakhir saat gadis itu mabuk, Dong-gyu langsung menyusul.

Dugaannya tidak salah, Soo-ha yang mulai tertekan akibat tuntutan sebagai pewaris Hwa Ahn Dang mulai mabuk setelah minum beberapa gelas. Melihat itu, Chan-min langsung berinisiatif membopong gadis itu dan membawanya ke sebuah kamar hotel untuk beristirahat.




Hello Miss (Episode 8)

Dengan cueknya, Soo-ha meninggalkan Dong-gyu dan Chan-min yang sedang bertengkar dan nyaris saja terlibat masalah dengan segerombolan gadis berandal kalau saja Jeong-sook dan Joon-young tidak muncul menyelamatkan.

Dari penuturan Joon-young saat ketiganya berada di tempat pemandian, Soo-ha baru sadar betapa rumitnya hubungan sang mendiang ibu, ayah dan ibu tirinya. Paginya, tanpa sengaja mobil Joon-young nyaris menabrak Hwa-ran yang dengan keji berusaha menyebarkan berita miring seputar penjualan Hwa Ahn Dang.

Ketika jam makan siang tiba, lagi-lagi nasib membuat Soo-ha berpapasan dengan Dong-gyu dan Chan-min. Kedua pria itu sama-sama terkejut saat tahu saingan mereka ternyata menghabiskan waktu bersama Soo-ha sehari sebelumnya, dan aroma persaingan memperebutkan cinta pun semakin kental.

Di Seoul, Man-bok terus teringat akan masa-masa indah di Hwa Ahn Dan dan mendadak mendapat ide untuk menuntaskan kerinduannya terhadap tempat bersejarah itu (dan sang pelayan Lee Hak). Dengan cepat, ia membangun sebuah panggung yang diperuntukkan untuk kontes menyanyi untuk para penduduk.
Kuatir ada yang tidak beres, Soo-ha kembali ke Hwa Ahn Dang ditemani dengan Dong-gyu dan Chan-min. Bisa ditebak, kehadiran dua pemuda itu lagi-lagi mendapat sambutan dingin dari nenek Lee Hak. Sambil setengah berbisik, wanita tua itu meminta Byeong-tae untuk memberi pekerjaan 'ekstra' pada keduanya.

Demi melihat apa yang terjadi, Soo-ha mengajak dua pembantunya melihat keramaian di panggung yang dibuat Bok-man. Tepat setelah ketiganya pergi, Hwa-ran mendatangi Hwa Ahn Dang dan tersenyum melihat rencananya berhasil. Namun, disana ia harus menahan perih melihat pendangan mata rindu sang ibu yang kebetulan kembali.

Sebelum naik ke atas panggung, Soo-ha sukses memergoki Dong-gyu dan Chan-min yang menyelinap dan langsung meminta sang paman Byeong-tae untuk mengawasi keduanya. Saat naik, gadis itu sukses membuat yang hadir terpesona dengan dandanan hanbok kemampuannya memainkan drum tradisional.

Berikutnya yang tampil adalah Dong-gyu dan Chan-min yang didandani habis-habisan hingga menyerupai wanita. Namun sebelum keduanya sempat naik, panitia mengumumkan kalau Man-bok bakal memberikan kata sambutan. Keruan saja saat nama itu disebut, wajah para tetua yang hadir langsung berubah.

Baru berbicara satu-dua patah kata, Man-bok langsung mendapat cercaan yang keruan saja langsung memukul mental pria setengah baya itu, yang dihatinya tidak pernah bisa melupakan Hwa Ahn Dang sampai kapanpun. Dari kejauhan, Soo-ha hanya bisa melihat wajah sedih pria itu (yang dituntun putrinya Yoo-il) tanpa bisa berbuat apa-apa.

Untuk kesekian kalinya, Soo-ha kembali disalahkan oleh para tetua karena dianggap sebagai pihak yang mengundang kembalinya keluarga Hwang (khususnya Bok-man) kembali ke Hwa Ahn Dang. Keadaan semakin parah ketika ditengah rapat, kakek tua yang mabuk itu menggedor-gedor pintu masuk.




Hello Miss (Episode 7)


Kaget mendengar penuturan Joon-young yang mengaku bakal menjual Hwa Ahn Dang bila dijadikan pewaris, Soo-ha langsung menerima tawaran Jeong-sook berkaraoke. Karena minum terlalu banyak, gadis itu akhirnya mabuk dan harus pulang dengan dibopong sang adik.

Dasar konyol, Jeong-sook memanfaatkan kesempatan itu untuk menginap dan merasakan tinggal di kediaman Soo-ha. Untungnya sebelum terjadi lebih banyak hal memalukan, Soo-ha berhasil menarik sang sahabat untuk kembali ke kantor. Sesampai disana, ia langsung diajak pergi oleh Chan-min.

Marah-marah karena mengira Chan-min hanya beralasan untuk mengajaknya kencan, Soo-ha langsung terdiam ketika muncul beberapa klien dari Jepang. Dengan gayanya yang polos, gadis itu malah berhasil membuat sang klien (dan beberapa petaruh lain) terkesan. Sebagai bentuk terima kasih, Soo-ha mendapat sebuah amplop berisi uang banyak.

Sempat terkaget-kaget, Soo-ha akhirnya memutuskan untuk menyerahkan uang yang seharusnya bisa digunakan untuk merenovasi Hwa Ahn Dang itu ke organisasi amal (meski dengan hati sangat berat). Usaha Chan-min belum berhenti, ia berhasil menyewa sebuah perahu layar mewah dan sukses mengajak Soo-ha berduaan.
Cara yang dilakukan Dong-gyu lebih menggelitik, ia berusaha merebut hati para pelayan Hwa Ahn Dang dengan memberikan kursi pemijat dan mesin karaoke. Tidak cuma itu, sang petinggi TOP Group dan asistennya juga rela membersihkan peralatan dengan menggunakan jerami.

Begitu tiba, Soo-ha sempat terkesan oleh usaha Dong-gyu. Namun dua buah kecelakaan, mulai dari terjepit kursi hingga terkena uap panas, membuat gadis itu tidak habis pikir ada pria sebodoh Dong-gyu di dunia.

Merawat Dong-gyu yang terserang gatal-gatal membuat Soo-ha kembali meneteskan air mata, ia teringat akan mendiang ibunya. Dalam perjalanan kembali ke Seoul, gadis itu dengan wajah sendu menceritakan sejarah wanita yang telah melahirkannya tersebut hingga kemesraan mereka saat sang ayah masih bersama.

Begitu kembali ke rumah, Soo-ha dikejutkan oleh Jeong-sook yang baru saja selesai membersihkan rumah. Begitu mendengar rencana sang sahabat untuk membuatkan makanan bagi sang ayah, ia langsung teringat akan masa lalu dan memutuskan untuk membuat makanan kesukaan pria itu.

Dengan lahap, sang ayah melahap makanan yang dibuat putrinya. Namun reaksi berbeda ditunjukkan oleh sang ibu tiri, yang langsung membuang makanan buatan Soo-ha ke tempat sampah. Keruan saja, hal tersebut membuat si gadis sakit hati dan berlari keluar.

Dalam keadaan kalut dan kebingungan sambil menerima telepon Dong-gyu, Soo-ha ditemukan oleh Chan-min yang berinisiatif menghibur. Dasar apes, Dong-gyu yang melihat sang sepupu memeluk Soo-ha langsung berpikiran yang tidak-tidak dan melayangkan bogemnya.

Hello Miss (Episode 6)

Begitu mendengar penuturan Soo-ha dari balik pintu, hati Chan-min langsung terbakar cemburu. Dengan suara tinggi, ia menelepon dan memarahi sang sekertaris, Dasar apes, sikap tersebut langsung dibalas dengan cara yang sama oleh Soo-ha dengan menutup telepon.

Memutuskan untuk memberikan usaha yang terbaik, termasuk berlatih bahasa asing, Soo-ha akhirnya menemani Dong-gyu ke sebuah pulau. Siapa sangka, semua itu ternyata hanya jebakan Man-bok pemilik TOP Group. Dong-gyu sendiri baru sadar belakangan, dan berusaha mengejar kapal terakhir namun gagal.

Mau tidak mau, ia terjebak bersama Soo-ha di rumah yang ternyata juga sudah dirancang untuk suasana romantis. Kacaunya lagi, gadis itu ternyata meminum arak yang telah diberi campur obat perangsang. Bisa dibayangkan, bagaimana paniknya Dong-gyu menghadapi cecaran sang pewaris Hwa Ahn Dang.

Paginya saat bangun, Soo-ha malah mengira Dong-gyu yang telah berusaha merayu dan memperkosanya. Dengan terburu-buru, ia langsung menaiki kapal laut pertama dan bahkan tega membiarkan Dong-gyu yang berusaha menyusul tercebur ke laut. Sambil menahan kedinginan, pemuda itu hanya bisa memaki sang kakek didalam hati.

Keheranan mendengar Soo-ha yang tidak juga muncul di kantor dan mengaku ada urusan bisnis, Chan-min akhirnya bisa menebak bahwa semua yang terjadi adalah berkat siasat Man-bok. Dengan blak-blakan, pemuda itu menyebut siap mendapatkan Hwa Ahn Dang untuk sang kakek asalkan ia diperbolehkan untuk ikut persaingan memperebutkan cinta Soo-ha.

Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan mengajak Man-bok ke HWa Ahn Dang bersama Soo-ha. Begitu tahu kemana mereka menuju, gadis itu kaget setengah mati dan langsung menelepon Dong-gyu. Tidak kalah terkejut, sang direktur TOP Group langsung meminta Soo-ha untuk berusaha menunda perjalanan dengan cara apapun.

Tindakan yang diambil Soo-ha cukup nekat : ia menjatuhkan diri ke dalam sebuah jurang kecil (dan akhirnya diselamatkan dengan cara yang cukup memalukan). Namun, semua itu ternyata tidak cukup untuk menghalangi Man-bok kembali ke tempat yang telah lama menjadi impiannya : Hwa Ahn Dang.

Begitu sampai, Man-bok langsung dikejar-kejar oleh Byeong-tae yang rupanya masih dendam karena sapinya setengah abad silam dicuri. Ketika nyaris disabet oleh sebuah clurit, Dong-gyu muncul tepat waktu dan berhasil menghalangi.

Kejadian di Hwa Ahn Dang langsung membuka luka lama Man-bok, apalagi begitu mendapat penolakan dari wanita yang dulu begitu dicintainya Lee Hak. Tidak cuma, itu wanita yang membesarkan Soo-ha tersebut meminta sang nona untuk segera mundur dari pekerjaannya di TOP Group.

Begitu kembali ke rumah di Seoul, Soo-ha terkejut saat tahu ada dua tetua yang datang berkunjung. Yang cukup mengejutkan, mereka menawari supaya jabatan sebagai pewaris klan yang semula disandang Soo-ha dilimpahkan ke Joon-young.




Hello Miss (Episode 5)



Ternyata orang-orang tersebut adalah suruhan para tetua, yang langsung menyidang dan memarahi Soo-ha yang berani memamerkan tubuhnya didepan umum. Meskipun berusaha menjelaskan, gadis itu tidak berdaya dan akhirnya dikurung di dalam gudang.

Di pagi hari, Dong-gyu yang sumrigah karena mengira Soo-ha bakal muncul kembali kecele. Penuturan sang kakek saat bicara empat mata soal kebiasaan yang dilakukan para tetua di masa lalu membuatnya kuatir sesuatu telah terjadi pada Soo-ha, dan langsung memutuskan untuk pergi ke Hwa Ahn Dang.

Karena Soo-ha absen dan tuntutan kepada TOP Group muncul, tidak ada pilihan lain kecuali kembali menampilkan Hwa-ran, yang baru saja keluar rumah sakit, sebagai model utama. Belakangan baru terungkap, gadis licik itulah yang meneruskan rekaman insiden Soo-ha di atas panggung kepada para tetua sehingga mereka marah besar.

Berkat bantuan Dong-gyu, Soo-ha akhirnya bebas dan dengan berani menghadap para tetua. Terkejut mendengar gadis itu yang begitu berani berbicara didepan mereka, para tetua akhirnya tidak bisa berkutik saat Soo-ha membeberkan situasi Hwa Ahn Dang yang sebenarnya.

Sambil berjalan kaki pulang ke Hwa Ahn Dang, Dong-gyu mengungkapkan kekagumannya terhadap Soo-ha yang terkadang bisa tampil begitu polos namun disaat lain begitu berwibawa. Di Seoul, direktur Myeong-suk akhirnya tahu hubungan antara TOP Group dan Hwa Ahn Dang dan bertekad mematahkan usaha Bok-man untuk menjodohkan Dong-gyu dengan Soo-ha.

Salah satu cara yang digunakan adalah dengan mengutus Hwa-ran untuk memata-matai Hwa Ahn Dang. Bisa dibayangkan, bagaimana reaksi gadis itu yang tidak mampu menolak meski hatinya sudah bersumpah tidak akan kembali ke tempat yang telah meninggalkan bekas trauma di masa lalu itu.

Saat kembali, hati Hwa-ran sempat tercekat melihat ibunya yang setengah gila dipermainkan anak-anak. Niatnya menolong langsung diurungkan begitu Soo-ha muncul membela, dan kebenciannya semakin menjadi-jadi melihat gadis yang dibencinya itu memeluk sang ibu.
Kembali ke Seoul, Soo-ha yang sudah bersiap menyerahkan surat pengunduran diri hanya bisa melongo ketika direktur Myeong-suk menolak. Waktu berpapasan dengan Hwa-ran, ia langsung disambut oleh kemarahan gadis itu yang malah nyaris membongkar identitas wanita yang semula bernama Kkot-bun tersebut.

Sebagai tugas baru, Soo-ha ditempatkan sebagai sekretaris Chan-min dan sebelum mulai bekerja, didandani habis-habisan oleh pemuda itu hingga semua orang pangling. Dong-gyu yang berpapasan dengan gadis tersebut di lift terkejut luar biasa, apalagi saat tahu pekerjaan baru Soo-ha.

Chan-min yang heran melihat sikap sang ibu yang begitu antusias terhadap Soo-ha akhirnya tahu alasan dibalik semuanya, dan menolak terlibat persaingan perebutan perusahaan dengan Dong-gyu. Namun, pendapat tersebut berubah saat mendengar pembicaraan Dong-gyu dan Soo-ha, yang mengaku tidak keberatan menjadi kekasih pemuda itu (meski yang dimaksud hanya pura-pura).