Silahkan Mencari !!!

Info!!!

kelanjutan fan fiction & recap drama semua ada di blog q yang baru
fanfic : www.ff-lovers86.blogspot.com
recap : www.korea-recaps86.blogspot.com
terima kasih...
Tampilkan postingan dengan label Mr.Goodbye. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mr.Goodbye. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Juli 2010

Mr.Goodbye Tayang Di Indosiar


DRAMA berlatar kehidupan pengelola hotel pernah dikemas menarik dalam serial Hotelier yang dibintangi Song Hye Kyo dan Bae Yong Jun sembilan tahun silam. Tahun 2006, sutradara Hwang Eui Kyung menggarap skenario buatan Seo Suk Hyang yang juga memotret lika-liku bisnis perhotelan.

Sama sekali tidak menjiplak, karena temanya saja yang sama, namun konfliknya jauh berbeda. Mr. Goodbye merangkai alur hidup seorang yatim piatu yang mengelola hotel dengan sukses, namun kehidupan pribadinya diimpit beragam masalah yang rumit. Dialah Hyeon Seo (Ahn Jae Wook), pengusaha muda yang sukses mengelola hotel bintang lima di Las Vegas dan Korea.

Perkenalan dengan sosok Hyeon Seo dimulai dengan pembukaan kisah menarik di episode pertama. Setelah pertemuan tak terduga antara Hyeon Seo dan Young In (Lee Bo Young) di Las Vegas, hubungan berlanjut hingga kembali ke Korea.

Munculnya sosok Soo Jin membawa konflik lain seputar masalah hidup dan percintaan Hyeon Seo. Kisah cinta segi tiga dan pencarian jati diri sudah barang tentu jadi menu utama drama milik KBS sepanjang 16 episode ini.

Bumbu penyedapnya, tak jauh-jauh dari topik yang sering diusung drama Korea: penyakit mematikan. Ada pula kisah percintaan sesama jenis yang dilakukan adik tiri Hyeon Seo, Ronny, juga soal memiliki anak di luar nikah.

Hmm, meski di episode-episode awal banyak dibumbui adegan kocak yang digemari remaja, serial berjudul Korea Hime No Sarange ini mengusung topik drama percintaan dewasa. Tak heran bintang utama jatuh pada aktor dan aktris di atas 30 tahun seperti Ahn Jae Wook, Lee Bo Young, Oh Yoon Ah, dan Jo Dong Hyuk.

Jadwal Syuting Mr.goodbye Padat Ahn Jae Wook Tak Menikmati Las Vegas


Mengambil lokasi syuting di luar negara asal drama, sudah barang tentu menjadi daya tarik tersendiri. Tak tanggung-tanggung, sutradara Hwang memboyong para pemain utama ke Las Vegas untuk syuting beberapa adegan Mr. Goodbye. Meski tidak dominan, drama cinta Korea ini berhasil menangkap gemerlapnya Kota Las Vegas yang identik dengan bisnis judi.

Tapi sistem syuting yang kejar tayang membuat sang bintang utama, Ahn Jae Wook, malah tak bisa memanfaatkan momen syuting di Las Vegas untuk bersenang-senang.

“Jadwal kami di Amerika sangat ketat, karenanya kami tak bisa minum-minum dengan santai saat syuting. Tapi saya tetap ingin ada hari saat saya dan semua kru dari Korea dan Amerika bisa makan bersama. Saya ingin memperkenalkan makanan Korea kepada mereka, jadi kami pergi ke tempat makan barbekyu Korea. Kami pesan banyak daging seperti daging sapi dan babi, dan para staf dari Amerika menyukainya,” kenangnya.

Selain proses syuting yang padat dan lokasi yang jauh di seberang samudra, Ahn Jae Wook juga tak bisa melupakan saat-saat bekerja sama dengan dua aktris cantik, Lee Bo Young dan Oh Yoon Ah, yang jadi lawan mainnya. Ahn Jae Wook terkesan dengan akting juga kecantikan Lee dan Oh.

“Yang paling saya sukai, kedua aktris itu terlihat sangat sehat dan bugar. Hati dan raga mereka sangat hebat. Melihat pesona keduanya, saya benar-benar tak bisa memilih salah satu di antaranya karena mereka memiliki pesona masing-masing,” akunya.

“Saya rasa kedua aktris itu bisa menyatu dengan karakter mereka. Ini sebabnya terkadang saya merasa bingung, apakah saya bicara dengan Lee Bo Young atau karakternya, Young In, begitu pula dengan Oh Yoon Ah,” paparnya.

Jika dalam kehidupan nyata Ahn Jae Wook bingung memilih, bagaimana akhir kisah Mr. Goodbye? Pada siapa cinta Hyeon Seo berlabuh?

Ahn Jae Wook Merambah ke China, Jepang, dan Amerika Selatan


Mr. Goodbye memang bukan serial masterpiece-nya Ahn Jae Wook. Selain Star in My Heart, drama berjudul O! Pil-seung Bong Sun-yeong (2004), Goodbye My Love (1999), atau Mom and Sister (2000) mungkin lebih berkesan di hati penggemarnya.

“Saya merasa waktu berjalan sangat cepat. Cinta yang saya terima dari para fans setelah bermain di Oh Pilseung Bong Soon Young masih sangat terasa. Saya benar-benar merasa telah menerima banyak cinta dari fans dan saya akan menyimpannya di dalam lubuk hati,” ungkapnya.

Di sisi lain, nama Ahn Jae Wook sebagai penyanyi top tak kalah bersinar. Selain di Korea, Ahn pernah menggelar konser di beberapa negara seperti China, Hong Kong, Taiwan, Jepang, Singapura. Serial drama yang dibintanginya bahkan sampai dikenal di negara penghasil telenovela, Mexico, juga Venezuela dan Peru.

“Saya terkenal di Amerika Selatan karena drama-drama yang saya bintangi, jadi saya mendapat undangan menggelar konser di beberapa negara seperti Mexico, Venezuela, dan Peru,” kata Ahn Jae Wook di sebuah konser pada tahun 2006.

Kiprah Ahn Jae Wook yang sudah lebih dari satu dekade membuat namanya disebut-sebut sebagai salah satu pionir penyebar demam Korea di Asia yang pengaruhnya paling besar bagi industri hiburan Hallyu. Ia punya basis fans yang besar di China daratan, belakangan juga merambah ke Jepang, dan Amerika Selatan.

“Sejujurnya saat pergi ke China, saya terkadang merasa malu karena semua pekerja bandara meminta tanda tangan saya,” akunya sedikit narsis.

Makin tua makin menjadi. Ahn Jae Wook yang tahun ini memasuki usia 39 tahun tak kehilangan aura kebintangan. Mungkin karena Ahn juga sudah menyiapkan strategi dalam menyesuaikan diri dengan pertambahan usia.

“Saya selalu mendambakan segera berusia 30 tahun. Setelah hidup sebagai pria (dewasa), saya pikir ini saatnya membangun alasan untuk merefleksikan diri dan menyiapkan saat terpenting menjelang usia 40 tahun. Saya bisa bilang popularitas saya di usia 20-an sangat bergantung pada imajinasi dan tebakan. Namun mulai saat ini saya ingin mengekspresikan akting yang telah menjadi pengalaman panjang dalam hidup saya agar mencair di dalam diri,” urainya panjang.

Setelah muncul di drama berjudul Saranghae-I Love You (2008), Ahn Jae Wook kembali lagi ke dunia off air lewat panggung musik dan drama musikal. Ahn main di drama musikal Jack the Ripper yang pertunjukannya berakhir pada 31 Januari lalu, juga menggelar konser musik di berbagai negara.

“Setelah drama ini berakhir, saya akan lebih banyak tampil di konser. Saya berencana mengadakan konser juga di Los Angeles, New York, Kanada, dll. Saya akan bekerja keras sampai akhir tahun, dan hanya berkonsentrasi pada konser,” ucapnya setelah drama Mr. Goodbye usai tayang di Korea tahun 2006 lalu.

“Saya harap penonton menikmati drama ini. Meski karakter Hyun Seo tidak nyata dan akan menghilang setelah dramanya usai, saya ingin para fans terus mengingat Hyun Seo agar kita bisa terhubung dengan merasakan kepedihannya. Jangan sedih saat Hyun Seo menghilang. Terima kasih telah menonton Mr. Goodbye,” pesannya.

Yang jelas, selama tak muncul di layar kaca, Ahn Jae Wook tidak jauh dari penggemar. Ia punya acara tahunan yang digelar untuk mendekatkan diri dengan para fans. Bukan jumpa fans yang berlangsung beberapa jam saja, tapi setiap tahun Ahn berkumpul dengan para fans dengan mengadakan acara perkemahan musim panas.

Ahn menghabiskan waktu tiga hari dua malam bersama sekitar 450 fans dari berbagai tempat, termasuk dari luar Korea. Acaranya kumpul-kumpul, bermain, olahraga, makan bersama, dan bisa menyaksikan Ahn Jae Wook menyanyi juga lho. Tertarik?

Ahn Jae Wook, Aktor Pionir Demam Korea Di Asia


PADA episode-episode awal tokoh Hyun Seo, pengusaha hotel yang menghadapi dilema dalam hidup dan cinta di serial Mr. Goodbye digambarkan cenderung antagonis. Tapi jika rajin mengikuti ceritanya, Anda akan dibawa menyelami kisah hidupnya yang pilu dan menarik simpati. Di luar dramanya, sosok pemeran Hyun Seo tak kalah mengundang penasaran. Siapakah sosok aktor pemeran Hyun Seo? Baiklah, kami berikan kilas balik perjalanan karier sang aktor utama serial Mr. Goodbye, Ahn Jae Wook.

Perjalanan karier Ahn sebagai aktor, penyanyi, dan pemain teater dimulai dengan menempuh pendidikan di Seoul Arts University pada awal ‘90-an. Niat dan kecintaannya pada dunia seni peran disalurkan lewat berbagai pentas teater. Ia pernah tampil lebih dari 20 kali pertunjukan teater semasa kuliah. West Side Story dan Guys and Dolls menjadi dua judul yang paling dikenang. Sang professor dan teman-teman kuliahnya mengatakan, Ahn murid terbaik dan sangat aktif di kampus. Ahn sendiri tak pernah melupakan masa-masa itu.

“Masa kuliah adalah saat-saat terindah dalam hidup saya,” kata aktor berperawakan sedang ini.

Setelah menamatkan kuliahnya pada 1994, Ahn langsung melamar menjadi talent di stasiun TV MBC. Desember tahun yang sama, debut aktingnya dimulai dengan membintangi drama nonfiksi berjudul Song of Blind Bird.

Perannya sebagai Kang Young Woo, seorang dokter buta pertama di Korea. Karakter Kang yang tidak biasa itu berhasil menarik simpati dan memberi kesan mendalam bagi publik Korea. Apalagi Ahn mampu bermain natural.

Selanjutnya, ia diberondong tawaran bermain drama juga menjadi pembawa acara televisi. Ahn memainkan peran di O, Min Soo (1994), Jjack (Partner) (1994-1997), Hotel (1995), War and Love (1995), Their Embrace (1996), Salted Mackerel (1996), hingga Ahn kembali membuat gebrakan karier akting saat membintangi drama Star in My Heart (1997).

Tahun 1998, ia menjadi bintang utama First Kiss, film layar lebar pertamanya bareng aktris Choi Ji Woo. Setelah itu, kiprah Ahn Jae Wook sebagai aktor dan penyanyi makin mulus.

Perannya di Star in My Heart memberikan Ahn kesempatan mengeksplorasi kemampuan akting, bernyanyi, dan menciptakan lagu dalam waktu bersamaan. Tak lama, album pertama, Forever, diperkenalkan sebagai lagu penutup di konser Kang Min (perannya di drama Star in My Heart).

Publik menyambut meriah album yang sebagian besar lagunya ditulis sendiri oleh Ahn Jae Wook ini. Album Forever mencatat angka penjualan sebanyak 700 ribu kopi, dan membuka jalan bagi Ahn untuk melahirkan album-album berikutnya: Memories, Yesterday, Red In Ahn Jae Wook, dan Sounds Like You.

Sabtu, 17 Juli 2010

Ost.Mr.Goodbye (Seo Joon-My heart)

Ost.Mr.Goodbye
Seo Joon - My Heart




Download
Ost Mr. Goodbye - Seo Joon - My heart.mp3

Ost.Mr.Goodbye (Lee Su Hoon-Good Bye)

Ost.Mr.Goodbye
Lee Su Hoon - Good Bye




Download
Ost Mr. Goodbye - Lee Su Hoon - Good Bye.mp3


Ost.Mr.Goodbye
Lirik Lee Su Hoon - Good Bye


asumi nomu apahaeso
ijen noye sonul nohuryogo hae
anirago kogaerul cho-obujiman
kojonmarhan aichyorom noye nunul polsu opso

Goodbye, Goodbye chal gayo, haengbokhaeyo
kudae ttonan narul ichoya haeya

noye ttaduthan misoye
katji maraya hal yokshimul uryo
saranghanda, chugul mankum saranghanda
I mal gasume mudko norul ponaeya hanabwa

Goodbye, Goodbye naega anin saramerado
nae motkkaji sarang badayo kugollo chokhaeyo
Goodbye, Goodbye ibyori namkyojul apumun
naega chonbu gajyo kal tenikka

hokshirado naege mianhae hajimayo
naega katji mothaetdon tan hanboni sarangul
kudaen naege chwissuni kuge nae jonbunikka

Goodbye, Goodbye taum sesange ggong mannayo
kkunnae haji mothan maltulgwa hal su optdon sarang guryoyo
Goodbye, Goodbye chalgayo ggok haengbokhaejwoyo
kudae ttonan narul yongsohaechwoyo
kudae bodan naega to apulteni

Jumat, 18 Juni 2010

Mr.Goodbye (Episode 16-Tamat)

Sinopsis Mr. Goodbye
Episode 16 (End)

Soo Jin cemas menunggu kedatangan Hyun Suh dan Yoon.

"Tidak peduli apa yang akan terjadi padaku, aku ingin menjadi ayah yang sesungguhnya." Ia teringat Hyun Suh berkata. "Walaupun mungkin hanya dalam waktu yang singkat. Tidak menghilang, tidak sebelum ia memiliki ayah yang sesungguhnya. Dikemudian hari, bagi Yoon, kenangan ini tidak akan terasa singkat."

"Paman." panggil Yoon ketika ia dan Hyun Suh berjalan pulang bersama.

Hyun Suh tidak mau menjawab.

"Ayah." panggil Yoon lagi.

"Ya?" jawab Hyun Suh.

Yoon tertawa.

"Yoon, ada satu hal lagi yang ingin kukatakan padamu." ujar Hyun Suh. "Seperti anak ayam, ayah juga..."

"Ayah juga?"

"Tidak." kata Hyun Suh, mengurungkan biatnya. "Aku akan memberitahumu lain kali saja."

Young In pindah lagi ke apartemen Hyun Suh. Di dekat pintu masuk, ia berpapasan dengan Hyun Suh, yang juga baru pulang.

"Kau minggat lagi?" tanya Hyun Suh.

"Sekarang, ini rumahku." jawab Young In.

"Apa aku pernah bilang akan memberikan rumah ini?" tanya Hyun Suh datar.

"Kalau begitu, rumah kita." ralat Young In.

Hyun Suh membantu Young In mengangkat tasnya.

"Apa yang Paman katakan?" tanya Soo Jin pada Yoon.

Yoon tertawa. "Ia adalah ayah Yoon."

"Lalu?"

"Kami pipis bersama." jawab Yoon, tertawa senang. "Ibu, kenapa kau tidak mengatakan kalau Paman adalah ayah?"

Soo Jin terrdiam.

Pihak hotel kalang-kabut mendengar berita mengenai penyakit jantung Yoon Hyun Suh.

"Kudengar penyakitnya serius. Ia mungkin akan segera mati." ujar koki pada Young Kyu.

Young Kyu kemudian menghadapi Hyun Suh. "Tolong pikirkan kembali apa yang terbaik untuk Young In." katanya.

"Apa maksudmu?" tanya Hyun Suh.

Young Kyu menoleh ke arah Young In, yang saat itu sedang melihat ke arah mereka. "Kita bicara di lift." ujarnya pada Hyun Suh.

Di elevator, Young Kyu bertanya pada Hyun Suh. "Apa kau sakit?" tanyanya.

Hyun Suh hanya diam.

Hyun Suh kembali ke ruangannya. Disana, sudah ada sekretaris baru untuknya.

Hyun Suh berjalan mendekati jendela.

Tidak lama kemudian, Young In menelepon. "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya.

"Haruskah aku keluar dari hotel?" Hyun Suh bertanya balik. "Mungkin kau merasa tidak nyaman. Gosip yang dibicarakan para karyawan semuanya tidak salah."

"Tidak apa-apa." kata Young In. Ia berkata bahwa pekerjaan Hyun Suh sudah sangat baik, untuk apa keluar? Young In juga mengingatkan Hyun Suh untuk meminum obatnya.

Seseorang menelepon Young Kyu. Young Kyu telihat cemas kalau-kalau ada seseorang disekitarnya.

Hyun Suh datang ke ruangan Park Jung Moon.

Park Jung Moon mengatakan pada Hyun Suh bahwa mereka tidak bisa membiarkan posisi General Manager, yang mulanya ditempati Kang Chul Goo, kosong.

"Aku berpikir untuk memilih seorang karyawan secara langsung." kata Hyun Suh. "General Manager adalah seorang pekerja hotel dan ibu bagi pada karyawan. Kita harus percaya pada para karawan."

"Apa kau percaya pada para karyawan?"

"Ya." jawab Hyun Suh. "Kau sangat peduli pada karyawan. Aku masih jauh tertinggal."

Sepulang latihan bela diri, Yoon menelepon ibunya.

"Yoon?" jawab Soo Jin.

"Aku hanya menelepon." kata Yoon, mematikan telepon. Setelah itu, ia menelepon Hyun Suh.

"Yoon?" jawab Hyun Suh.

"Aku hanya menelepon." kata Yoon, mematikan telepon lagi.

Yoon tertawa senang, mengangkat ponselnya tinggi-tinggi seraya berjalan pulang.

Di lain sisi, Hyun Suh merasakan sakit lagi di dadanya.

Malam itu, Young In sudah memasak makan malam untuk Hyun Suh. Ia menunggu Hyun Suh pulang dengan melihat ke luar jendela, ke arah bawah.

Hyun Suh berjalan pulang. Ia mendongak ke arah kamarnya dan melambaikan tangan pada Young In.

Young In tersenyum, walaupun sebenarnya merasa sedih.

Hyun Suh menoleh ke arah jam yang baru dipasang Young In. Ia tidak terlihat senang. Ia sudah cukup muak mendengar bunyi tik tok jam di jantungnya.

"Bisakah kita tidak memasang jam itu?" pinta Hyun Suh.

"Kenapa?"

"Tidak apa-apa." jawab Hyun Suh. "Saat aku tinggal bersamamu, aku tidak ingin tahu berapa waktu yang sudah berlalu."

"Tapi aku harus tahu waktu." kata Young In. "Jam 10, aku harus memastikan bahwa kau meminum obatmu tepat waktu. Dan pada jam 8, aku harus mengingatkanmu untuk makan dan minum obat."

"Baiklah kalau begitu." ujar Hyun Suh, mengalah.

Selesai makan, Hyun Suh berlari ke kamar mandi dan muntah.

Young In mencuci piring dan membersihkan rumah. Tidak lama kemudian, seseorang menekan bel.

Young In melihat lewat kamera. Ada ibunya di depan pintu. "Ibu?!" serunya terkejut.

Mi Hee memaksa masuk ke apartemen. Young In melarangnya dan terpaksa keluar menemui ibunya.

"Aku sudah mendengar semuanya." kata Mi Hee, membicarakan penyakit Hyun Suh. Ia menarik Young In. "Ayo pergi."

Tidak lama setelah Mi Hee menarik Young In, Hyun Suh melihat sepatu Young In terjepit diantara pintu.

"Aku tidak mau pergi." kata Young In, di depan elevator. "Aku tidak akan pergi sampai ia mati."

"Sampai dia mati?!"

"Tidak." jawab Young In. "Selama aku bisa hidup dengannya. Aku akan hidup dengannya semur hidupnya."

Mi Hee menarik Young In masuk ke elevator. "Jalanilah hidup yang mudah!" katanya. "Aku tidak bisa melihat putriku menjalani cinta dan hidup yang sulit. Aku tidak mau melihat itu!"

Young In dan Mi Hee tarik-menarik di dekat elevator.

Dengan tenang, Hyun Suh mengambil sepatu Young In yang terkepit di pintu kemudian meletakkannya dekat kaki Young In.

"Pulanglah." katanya. "Aku tidak tahu bahwa ternyata kau tidak memberitahu ibumu. Aku terlalu berpikiran pendek. Cepatlah pergi."

"Aku tidak mau." kata Young In.

Mi Hee menarik Young In masuk ke dalam elevator.

"Baik, aku akan pergi dan memberitahu ibuku." kata Young In pada Hyun Suh. "Setelah itu, aku akan kembali."

Hyun Suh kembali ke kamarnya dan tidur sendirian malam itu. Ia merasa terganggu karena bunyi detik jam.

Hyun Suh bangkit. Ia mengambil dan melepas batere jam itu. Ia duduk bersandar di dinding, mencoba tidur.

Keesokkan harinya, Hyun Suh dibangunkan oleh Young In. "Ayo kita sarapan." katanya.

Hyun Suh bingung.

"Secara benar dan jujur, aku menceritakan segalanya pada ibu." kata Young In. "Kami bertengkar dan aku datang kemari."

"Bagaimana jika ia datang lagi?" tanya Hyun Suh.

"Aku akan dipaksa pulang dan aku akan kembali lagi. Aku akan terus kembali kemari." jawab Young In.

Hyun Suh tersenyum. "Kenapa seorang putri yang baik bisa menjadi seperti ini?" tanyanya.

"Putri yang baik itu sedang jatuh cinta." jawab Young In. "Kau senang aku kembali, bukan?"

"Tidak." jawab Hyun Suh, berbohong.

Hyun Suh duduk di ruang makan bersama Young In. Jam sudah bergantung kembali di dinding.

Young In mengatakan bahwa jam mati pukul 8.23 sampai ia kembali dan menyalakannya lagi. "Apa yang kau lakukan saat itu?"

"Saat jam mati, aku juga mati." jawab Hyun Suh. "Karena kau tidak ada disini."

"Aku punya permintaan untukmu." kata Kyle pada Hyun Suh. "Kuharap kau bersedia memenuhinya. Tolong rekomendasikan aku sebagai General Manager Empire Hotel. Aku akan tetap tinggal di sini, di Seoul."

"Kenapa?" tanya Hyun Suh heran. "Kupikir Nikko akan menjadi hadiah yang besar untukmu."

Kyle terdiam.

"Apa karena Choi Young In?" tanya Hyun Suh lagi.

"Aku ingin tetap dekat dan menjaganya." jawab Kyle. "Dan terlebih lagi, aku mencintai hotel ini."

"Lebih dari Nikko?"

"Nikko adalah segalanya untuk ayahku." ujar Kyle. "Aku sudah memutuskan untuk berusaha keras demu hotel ini."

Hyun Suh tersenyum. "Presiden Nitoshi akan bangga sekali padamu." katanya, menyetujui permintaan Kyle.

Kyle menunduk untuk berterima kasih. "Dibandingkan semua orang, aku ingin mendapat pengakuan darimu, Direktur."

"Jangan lupa bahwa ini hanya permulaan."

Mi Hee datang ke hotel untuk membujuk Young In agar meninggalkan Hyun Suh. Tapi Young In menolak.

"Ibu, menurutmu mana yang lebih sulit, meninggalkan pria itu sekarang atau tetap mencintai dan berada disisinya sampai ia mati?" tanya Young In. "Aku melakukan hal yang paling mudah, ibu. Hanya inilah yang ingin kulakukan."

"Lalu bagaimana kedepannya? Setelah ia mati, apakah tidak akan sulit?" tanya Mi Hee.

"Tentu saja akan sulit." kata Young In, mencoba membuat ibunya mengerti. "Tapi... mencintai jauh lebih baik dibandingkan tidak mencintai."

"Tolong, Young In..." bujuk Mi Hee.

Young In hanya tersenyum.

Hyun Suh mengajak Yoon bermain di museum boneka. Yoon masih sering salah memanggil Hyun Suh 'paman' dan bukannya 'ayah'.

"Kau adalah ayahku, tapi kenapa kita tidak tinggal bersama?" tanya Yoon. "Kau baru memberitahuku sekarang karena kau bercerai dengan ibu?"

"Bukan begitu." jawab Hyun Suh.

"Orang tua temanku juga bercerai, jadi mereka tidak hidup bersama." kata Yoon.

"Yang sebenarnya adalah... ayah sedikit sakit jadi kita tidak bisa hidup bersama."

"Sakit seperti apa?"

"Seperti anak ayam." jawab Hyun Suh.

Yoon sangat terkejut. "Kau harus kerumah sakit!"

"Anak ayam tidak pergi ke rumah sakit."

"Karena itulah mereka mati tanpa mengatakan apa-apa padaku!" kata Yoon.

"Karena itulah ayah memberitahukanmu." ujar Hyun Suh.

"Dimana kau sakit?" tanya Yoon.

Hyun Suh menunjuk dadanya. "Disini." katanya. Ia mendekatkan kepala Yoon ke jantungnya. "Kau bisa mendengar sesuatu?"

Mulanya Yoon tidak bisa mendengar, tapi ia diam dan mencoba mendengar. "Apa ada jam disana?" tanya Yoon. "Apa kau memakan jam?"

Hyun Suh mengangguk. "Ya."

Yoon bertanya kenapa Hyun Suh memakan jam.

Hyun Suh menjawab karena dulu ia terlalu sibuk dan sering sekali melihat ke arah jam. Mungkin karena itu si jam marah dan masuk ke tubuh Hyun Suh.

"Yoon, orang yang baik tidak sering melihat jam." pesan Hyun Suh pada Yoon. "Jangan hidup terlalu sibuk. Jangan hidup dengan terlalu sering melihat jam. Lihat ke depan. Lihat ke sekeliling. Lihatlah ke saat sekarang kau berada. Melihat anak ayam dan melihat rumput yang bergerak tertiup angin. Hiduplah seperti itu." Hyun Suh hampir menangis.

"Jika jam mati, ayah akan mati." ujar Yoon. "Akulah yang seharusnya menangis. Kenapa ayah menangis? Jangan menangis. Aku akan melakukan apapun untuk ayah, jadi jangan menangis."

Di apartemen, Soo Jin menemui Young In.

"Young In... apapun yang terjadi, serahkan Hyun Suh padaku." kata Soo Jin.

"Kenapa?"

"Ini bukan operasinya yang pertama." kata Soo Jin. "Ini operasinya yang kedua dan dengan kondisi yang buruk, teknologi yang berbeda... Ia ingin hidup. Ia memohon padaku dan memintaku menyelamatkannya. Bukan karena aku, tapi karena kau dan Yoon. Aku harus menyelamatkan temanku. Young In... bisakah kau menyerahkan Hyun Suh padaku. Hanya sebagai seorang dokter."

"Dia.. ingin hidup... Ia memohon padamu agar menyelamatkan nyawanya?" gumam Young In sedih.

Hyun Suh mengantar Yoon pulang.

"Aku bertemu Young In hari ini." kata Soo Jin.

"Kenapa?"

"Memintanya menyerahkan kau padaku." jawab Soo Jin.

Hyun Suh marah dan keluar dari mobil. Ia berseru pada Soo Jin bahwa ia ingin mati. "Ini hidupku!" serunya. "Kenapa dengan egois kau melakukan semua sesukamu?! Apa kau akan puas jika aku mati di tanganmu?! Begitu?!"

"Hanya dengan transplantasi organ." kata Soo Jin. "Tidak ada cara lain. Lima tahun lagi, jika operasi jantung tersebut salah, bukan hanya jantung, tapi organ yang lain juga rusak. Mesin yang kau miliki saat ini sangat rapuh dan bisa saja rusak seperti kantong plastik. Aku tidak bisa diam saja. Semua ini membuatku cemas. Dia juga mengantung jam di dalam rumah. Dia tidak mengetahui bahwa jantungmu juga berbunyi seperti jam! Apa kau ingin mati lebih cepat? Begitu?"

Yoon mendengar pertengkaran mereka berdua,

"Kau mengatakan semua itu padanya?!" teriak Hyun Suh.

"Ya! Aku mengatakan semuanya!" teriak Soo Jin. "Dia harus tahu. Dia harus tahu agar kau bisa hidup!"

Mendadak, Hyun Suh dan Soo Jin mendengar Yoon menangis. Hyun Suh menggendong dan membawa Yoon pergi. Tidak memedulikan Soo Jin yang memanggil dengan cemas.

Soo Jin menangis.

Hyun Suh pulang ke apartemen membawa Yoon. Young In menyambutnya dengan (berusaha) terlihat ceria.

Soo Jin menelepon. Hyun Suh mengatakan bahwa Yoon akan menginap di apartemennya malam ini.

"Yoon akan menginap?" tanya Young In.

"Kau tidak suka?" tanya Yoon.

"Bukan aku tidak suka... tapi..."

"Kau tidak menyukai Yoon?" tanya Yoon dengan ekspresi memelas.

"Kau harus pulang dan tidur." kata Young In.

Yoon cemberut, memelototi Young In.

Hyun Suh tertawa. "Kita bertiga... ayo bermain."

Hyun Suh, Young In dan Yoon bermain tebak kata. Jika ada yang salah, maka hukumannya adalah wajahnya akan ditempeli dengan biji semangka.

Setelah selesai bermain, mereka bermain permainan kejujuran. Mereka harus menjawab setiap pertanyaan dengan jujur.

Yoon tertidur.

Hyun Suh bertanya pada Young In sejak kapan Young In menyukainya. Secara tidak langsung, Young In menjawab saat Hyun Suh menggaruk punggungnya di super market.

Young In menanyakan pertanyaan yang sama pada Hyun Suh. Hyun Suh menjawab saat Young In mengatakan suka dan menanyakan bagaimana perasaan Hyun Suh padanya di hotel.

"Kurasa aku akan tidur nyenyak hari ini." kata Hyun Suh. "Aku mengantuk. Aku merasa senang karena merasa mengantuk. Aku senang karena tidur disisi orang-orang yang sangat berarti untukku. Memiliki seseorang yang bisa kuajak bicara sebelum tidur. Benar-benar hal yang menyenangkan."

"Kau tidak pernah tidur nyenyak?" tanya Young In.

Hyun Suh dan Young In akhirnya tertidur.

Ketika Young In sudah tertidur, Hyun Suh membuka lagi matanya dan memandang Young In. Hyun Suh kemudian memejamkan mata dan menangis.

Soo Jin berangkat untuk menjemput dan mengantar Yoon ke sekolah.

Keesokkan harinya, Young In bangun pagi-pagi. Ia mulai memasak untuk sarapan. Tanpa ia sadari, jam di dinding telah mati.

Di hotel, seorang pria bernama Justin Kim datang untuk menggantikan kedudukan Hyun Suh sebagai Direktur Executive.

Young In menoleh ke jam dinding yang mati dan tertawa. "Dia melepas beterenya lagi." katanya. "Kenapa ia sangat membenci jam ini?"

Young In mengambil jam dinding itu. Baterenya masih ada. Ia bingung. "Ini aneh." gumamnya. "Aku kan baru saja membeli batere ini."

Young In duduk di ruang makan, tersenyum melihat Hyun Suh dan Yoon yang masih tertidur pulas.

Di kedai ibu Hyun Suh, seorang tukang pos mengirimkan surat. Ibu Hyun Suh membuka dan membacanya. Surat dari Hyun Suh untuk ibunya.

Young In terus menunggu Hyun Suh bangun. Tapi Hyun Suh tidak juga bangun.

"Aku ingin hidup." ujar Hyun Suh. "Sekali lagi. Satu jam lagi. Aku ingin hidup denganmu, Young In. Saat inilah, saat dimana aku ingin sekali hidup. Saat ini, aku bahagia. Walaupun sulit, aku ingin tetap hidup. Jaga dirimu. Selamat tinggal."

TAMAT

Mr.Goodbye (Episode 15)

Sinopsis Mr. Goodbye
Episode 15

Hyun Suh menangis melihat Young In menangis. Ia mengecup kening Young In dan menghapus air matanya.

"Kenapa kau menangis... seperti orang bodoh?" tanya Hyun Suh seraya mengucap air mata Young In.

"Kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku... seperti orang bodoh?" balas Young In. "Kita berdua sama-sama bodoh."

Young In bangkit dan berjalan ke dapur, mencuci beras.

Hyun Suh mengikutinya. Apapun yang dikatakan Hyun Suh, Young In menyuruhnya diam dan memakan apapun yang dibuatkan Young In, tidak boleh memilih.

Setelah selesai memasak, Young In makan dengan rakus. Hyun Suh cemas, takut kalau Young In sakit perut.

"Siapa yang kau cemaskan?" tanya Young In dingin.

"Apa aku tidak boleh mencemaskanmu sekarang?" tanya Hyun Suh. "Walaupun aku mati besok, aku tetap cemas apa yang kau makan dan dengan siapa kau makan. Aku takut kau marah lagi. Aku benci jika memikirkan bahwa kau mungkin saja menangis di suatu tempat dan menyakiti dirimu sendiri."

Young In tertawa pahit dan makan lagi.

"Kau mungkin duduk cuek di mobil pria manapun, menumpang payung pria manapun ketika hujan, mencuci mobil dengan pria lain, makan mie dengan pria lain. Semua itu membuatku marah." seru Hyun Suh. "Jantungku sangat kecil untuk menampung masalah yang menumpuk. Kau tersenyum pada tamu, pada kepala pengawas... Itu membuatku takut dan cemas."

"Kalau begitu, tetaplah hidup." kata Young In. "Jika kau sangat mencemaskan aku."

Hyun Suh diam, tertawa. Suara detak jam itu terdengar lagi semakin kuat.

"Apa ini saat yang tepat untuk tertawa?" tanya Young In, kesal dan bangkit berdiri dekat jendela, membelakangi Hyun Suh.

Hyun Suh memegangi dadanya dan berlari kesakitan ke kamar mandi.

Hyun Suh mengunci pintu dan merangkak ke closet. Young In cemas di depan pintu.

"Kau akan terus begini?" tanya Young In setelah Hyun Suh keluar. "Kau akan terus merasa sakit dan menahan semuanya sendirian, tanpa aku. Apa kau sangat suka sakit sendirian? Apa kau senang menahan semuanya sendirian?"

"Ya, aku suka." jawab Hyun Suh tenang.

"Baiklah. Semoga berhasil." kata Young In. "Kalau begitu aku akan menangis tanpa kau tahu. Aku akan bersembunyi, menderita dan tertekan. Di kamar mandi ini, selain buang air kecil dan mandi, kita akan gunakan untuk hal lain. Kita lakukan semuanya sendiri-sendiri. Jika Direktur sedang berada di kamar mandi, maka ia sedang kesakitan. Jika aku sedang ada di kamar mandi, maka aku sedang menangis."

"Aku tetap ingin sakit sendirian." kata Hyun Suh. "Aku tidak ingin kau tahu. Yang bisa kita lakukan bersama, hanyalah hal-hal yang baik."

Young In menangis sendirian di dalam toilet. Di luar, resepsionis bercerita bahwa Kyle akan menggantikan Hyun Suh menjadi Presiden Nikko. Informasi itu membuat Young In menangis semakin keras.

"Apa kau menangis?" tanya resepsionis setelah Young In keluar. "Jadi, apa benar Kepala Pengawas akan menggantikan Direktur Yoon?"

Young In mendongak. "Apakah ada obat yang bisa menghentikan air mata?" tanyanya.

Young In kembali ke tempat pengawas.

"Apa kau akan kembali ke Amerika?" tanya Young In pada Kyle.

"Kenapa?"

"Direktur sangat ingin pergi kesana." kata Young In. "Kau akan pergi? Benarkah?"

Kyle menepuk bahu Young In. "Aku belum memutuskan." jawabmnya. "Jika aku pergi, aku akan memberitahukanmu terlebih dulu."

Pengawas cctv mengatakan bahwa Sekretaris Oh dan Kang Chul Goo mungkin tidak akan pernah kembali.

Hyun Suh mengajak Young In ke bank. Hyun Suh bersikap biasa di depan Young In, walau Young In masih kelihatan kesal.

"Kau harus melakukan ini setelah Sekretaris Oh pergi?" tanya Young In.

"Tidak." jawab Hyun Suh.

"Semua hal yang kau lakukan sangat berat." ujar Young In. "Mulai sekarang, biar aku yang melakukannya. Jangan membuat tubuhmu terlalu kelelahan."

Hyun Suh memandang Young In. "Aku ingin ada disisimu sebagai kekasihmu, bukan pasienmu."

"Aku ingin menjadi penjaga pasien dan kekasih sekaligus!" kata Young In bersikeras.

"Aku tidak suka. Lakukan satu saja."

Young In meledak marah lagi. "Aku mencintaimu!" teriaknya, membuat semua orang disana menoleh. "Aku mencintaimu, jadi tidak apa-apa."

"Ini pertama kalinya kau mengatakan 'Aku mencintaimu'." ujar Hyun Suh. "Kedengarannya bagus. Katakan lagi."

Hyun Suh maju karena nomornya sudah dipanggil. Ternyata Hyun Suh datang untuk membuka rekening baru untuk Young In.

"Ini milikmu." kata Hyun Suh, menyerahkan buku rekening pada Young In. "Aku memberikannya untukmu."

"Kenapa?" tanya Young In, menerima rekening itu dan membukanya. "$6? Bukan $60, tapi $6?"

"Ya" jawab Hyun Suh. "Kau bilang aku harus memberimu $6 sebanyak 100.000 kali. Mulai saat ini, aku akan membelikan makan malam seharga $6. Uang $6 akan masuk ke rekeningmu setiap hari selama 30 tahun."

Young In hampir menangis lagi. Ia merobek-robek buku rekening itu dengan marah, lalu melemparnya pada Hyun Suh.

"Apa yang kau lakukan di bank?!" seru Young In. "Kau punya banyak uang dan ingin pamer padaku?! Apa aku pernah minta ini? Aku ingin makan malam bersamamu selama 30 tahun, bukan uang ini!"

Young In sangat marah dan berjalan pergi meninggalkan Hyun Suh.

Young In berjalan sambil berpikir. Setelah marahnya agak mereda, ia menelepon Hyun Suh.

"Aku minta maaf." kata Young In.

"Kau memang harus minta maaf." kata Hyun Suh. "Ini pertama kalinya aku melihat kau marah."

"Apa kau sedang mengemudi?" tanya Young In. "Kau akan pergi ke suatu tempat? Kemana kau akan pergi?"

Hyun Suh diam.

"Kau akan pergi ke rumah sakit, bukan?" tanya Young In lagi. "Kau akan kesakitan lagi, bukan?" Ia mulai merasa marah lagi. "Menghindari aku dan merasa sakit sendirian."

"Ya." jawab Hyun Suh.

"Bukankah lebih baik jika kita pergi bersama?" tanya Young In kesal. Ia berusaha membujuk Hyun Suh, namun hasilnya nihil.

Akhirnya Young In memutuskan untuk pergi sendiri ke rumah sakit naik taksi.

Young In sampai ke rumah sakit. Disana, ia melihat Hyun Suh duduk sendirian. Tidak lama kemudian, Soo Jin datang. Soo Jin dan Hyun Suh pergi bersama.

"Apa Young In masih belum tahu?" tanya Soo Jin.

"Ia sudah tahu." jawab Hyun Suh. "Setelah ia tahu, kami tetap bertengkar. Apapun yang kami lakukan, selalu berakhir dengan pertengkaran. Sejak kami tinggal bersama, rasanya semua semakin sulit."

Ketika Hyun Suh dan Soo Jin berbincang, Young In melihat mereka dari jauh. Young In merasa sangat sedih, lalu berjalan pergi.

Yoon menelepon Hyun Suh.

"Paman sedang di rumah sakit." kata Hyun Suh.

"Kau sakit?" tanya Yoon.

"Ya."

"Kau sakit banyak atau sakit sedikit?" tanya Yoon polos.

"Sedikit banyak." jawab Hyun Suh sedih.

Hyun Suh berdiri di dekat jendela apartemennya, memandang lurus ke bawah. Ia melihat Young In berjalan pulang.

"Nona, apa kau mabuk?" tanya Hyun Suh ketika Young In sudah tiba di kamar.

"Ya." jawab Young In.

"Karena aku?"

"Ya." jawab Young In lagi. Ia masuk ke dalam kamar. "Kenapa tidak ada lampu yang menyala? Apa yang sedang kau lakukan? Hanya lampu balkon yang menyala."

"Aku berdiri disana, menunggumu pulang." jawab Hyun Suh.

Young In mengatakan pada Hyun Suh bahwa ia merasa menderita, jadi ia minum untuk menghibur dirinya sendiri.

Hyun Suh dan Young In duduk berhadapan. Hyun Suh melihat Young In minum.

"Kau sangat egois." kata Hyun Suh. "Seharusnya kau menuangkan minum untukku juga."

"Hanya satu gelas." kata Young In, seraya membersihkan gelas dengan bajunya kemudian menuangkan minum untuk Hyun Suh.

"Kelihatannya kau sedang bahagia." ujar Hyun Suh. "Apa kau bahagia?"

Young In mengangguk. "Setiap aku minum, aku selalu bahagia." jawabnya. "Itu membuatku bahagia. Kapan kau bahagia? Bagiku, arak seharga 1000 won sudah bisa membuatku bahagia."

"Saat kau tidak membuatku cemas." jawab Hyun Suh. "Saat kau mendengarkan aku. Saat kau percaya padaku. Saat kau tidak menangis untukku. Saat kau tersenyum karena aku. Saat kau tidak sedih, tapi selalu ceria karena aku."

Young In diam sejenak, kemudian bangkit untuk mengambil makanan.

Tidak lama kemudian, Young In datang lagi dengan membawa toples berisi kacang. "Satu gelas arak, satu kacang."

Setiap Young In minum satu gelas, Hyun Suh mencium bibirnya.

Keesokkan harinya, Hyun Suh bangun pagi-pagi. Young In sudah tidak ada disana.

Di meja makan, ia meninggalkan sepucuk surat dan makanan untuk sarapan Hyun Suh.

"Pergilah ke rumah Soo Jin dan tinggallah disana." kata Young In dalam suratnya. "Itu akan lebih baik. Seorang teman yang membuatmu merasa aman. Bukankah tempat itulah dimana kau seharusnya berada sekarang? Dan ada Yoon disana. Seorang dokter di rumah, seorang teman dan seorang anak. Jika kita berdua tetap tinggal bersama, aku mungkin akan selalu marah ketika kau menolak berbagi kebahagiaan dan kesedihan bersamaku. Aku mengerti i tu... Aku hanya ingin menjadi kekasihmu. Aku tidak akan legi berpikir seakan aku memilikimu. Aku juga ingin kau bahagia."

Hyun Suh duduk dan sarapan sendirian dengan sedih.

Young In kembali lagi ke rumahnya. Jae Dong dan Mi Hee bingung. Tapi Mi Hee tidak ingin bertanya apapun padanya.

"Ibu..." panggil Young In. "Terima kasih karena tidak bertanya apapun padaku. Aku hanya rindu pada sup kimchi buatan ibu. Jadi aku kembali."

Mi Hee hanya diam dan tidak mengatakan apapun.

Hyun Suh pergi bekerja ke hotel. Young In tersenyum padanya, bersikap seperti biasa seakan tidak terjadi apapun. Hyun Suh menoleh sedikit dan berjalan menuju elevator dengan acuh.

Di rumah sakit, Soo Jin melihat seorang pasien berada dalam kondisi kritis dan harus segera melakukan transplantasi jantung. Soo Jin menjadi cemas.

"Jumlah donatur jantung akan mekin meningkat, bukan?" tanyanya pada seorang dokter. "Akan meningkat, bukan?"

Dokter itu hanya diam.

Seseorang bernama Aoyama Masaya menelepon Kyle. Kyle mengangkatnya.

"Apa kabarmu, Kyle?" tanya suara pria dari seberang saluran, menggunakan bahasa Jepang. "Benarkah kabar mengenai Mr.Goodbye tidak memiliki banyak waktu lagi? Apakah disana terlalu sepi? Di Las Vegas, semua rehasia sudah terbongkar. Sangat disayangkan ia memiliki penyakit mematikan. Kami tidak bisa begitu mengusirnya karena alasan itu. Kami akan mengusirnya dengan alasan telah memporakporandakan hotel. Mr. Goddbye tidak hanya akan kehilangan nyawanya, tapi ia juga harus mengucapkan selamat tinggal pada hotel. Aku yakin kau sudah tahu orang seperti apa dia." Orang di seberang telepon tertawa, lalu menutup telepon.

Setelah mengetahui bahwa Kang Chul Goo dirawat di rumah sakit karena mencoba bunuh diri, Hyun Suh menemuinya.

Hyun Suh meminta Chul Goo bertanggung jawab atas segala kekacauan yang menimpa Hotel.

"Aku akan menyelesaikan semuanya segera setelah keluar dari rumah sakit." kata Chul Goo dingin, tanpa memandang Hyun Suh.

Setelah bicara beberapa saat, Hyun Suh beranjak pergi. "Hak untuk hidup... bukanlah sesuatu yang bisa dimiliki semua orang." katanya.

"Apakah Direktur baik-baik saja?" tanya Kyle pada Young In. "Bagiku, ia saat ini kelihatan lebih bahagia. Sejak tiba di Seoul, ia menjadi orang yang berbeda."

"Orang seperti apa?" tanya Young In.

Kyle tersenyum. "Seleranya terhadap wanita.. menjadi lebih buruk dibandingkan aku."

Young In tertawa.

"Seleranya pada hotel juga menjadi lebih buruk dibandingkan aku." tambah Kyle.

"Kau pikir hanya itu kesamaan kalian?" tanya Young In. "Tidak banyak bicara, membosankan, bersikap dingin, pandangan tajam, bersikap sok tampan... padahal hanya sedikit tampan. Kalian sangat mirip."

"Begitukah?"

"Semua orang di hotel tahu." kata Young In. "Hanya kalian berdua saja yang tidak tahu."

"Kami sangat mirip, tapi kenapa kau sangat menyukai Direktur dan bukan aku?"

Young In hampir menangis, matanya berkaca-kaca. "Karena Kepala Pengawas tidak kesepian dan tidak sendirian. Karena hatimu sangat kuat."

Hyun Suh berjalan sendirian di jalan sambil membawa sebuah kotak handphone. Ia menelepon Yoon.

"Kau harus meneleponku setiap hari." kata Yoon. "Besok juga. Lusa juga."

Mendadak, dada Hyun Suh terasa sangat sakit. Hyun Suh terjatuh di tanah.

Hyun Suh dibawa ke rumah sakit. Soo Jin dan Kyle ada diantara orang-orang pengantar.

Young In menangis dan melihat dari jauh. "Tidak, tidak." tangisnya.

Hyun Suh dirawat di UGD.

Dalam ketidaksadarannya, ia teringat saat ia makan di kedai ibunya. Melihat Hyun Suh kepanasan, ibu itu mengarahkan kipas angin padanya.

"Terima kasih." ujar Hyun Suh, menikmati hembusan angin menyegarkan dari kipas angin.

Hyun Suh tersadar. Ia tersenyum melihat Young In mengipasinya. Ia menceritakan mimpinya pada Young In.

Tidak lama kemudian Soo Jin masuk ke kamarnya.

"Kapan aku bisa keluar di rumah sakit?" tanya Hyun Suh. "Cepat bantu aku keluar. Mulai saat ini, Young In akan menjadi perawatku."

"Perawat?" tanya Young In, terkejut.

"Ya. Kekasih dan perawat." jawab Hyun Suh. Ia mengatakan pada Soo Jin bahwa ia masih ingin melakukan hal yang belum sempat ia lakukan dan minta diizinkan keluar dari rumah sakit.

Hyun Suh menemui Yoon di taman bermain dan memberinya sebuah handphone.

"Ini hadiah." kata Hyun Suh.

"Terima kasih." kata Yoon.

"Cobalah."

"Siapa yang harus kutelepon?" tanya Yoon.

"Siapa yang ingin Yoon telepon? Paman sudah memasukkan nomor telepon ibu dan orang lain disana. Lihatlah."

Yoon melihat nama-nama di ponsel barunya. "Aaa.. ayah?" tanya Yoon, membaca tulisan di kontak ponsel. "Kau menemukan nomornya? Bagaimana?"

"Aku mencarinya dengan sangat sulit." kata Hyun Suh. "Kenapa kau tidak meneleponnya sekarang?"

Yoon menelepon ayahnya. Ponsel Hyun Suh-lah yang berdering.

"Halo?" kata Hyun Suh.

Yoon menoleh. "Aa a a a... ayah? Ini benar ayah?"

"Ya." jawab Hyun Suh. Ia bangkit dan mendekati Yoon. "Jangan takut. Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting pada Yoon."

Soo Jin berjalan mondar-mandir dengan cemas. Ia teringat percakapan terakhirnya dengan Hyun Suh.

"Aku harus memberitahu Yoon bahwa aku adalah ayahnya." kata Hyun Suh. "Inilah waktu yang tepat untuk memberitahu dia. Jika tidak, Yoon tidak akan pernah bisa melihat ayahnya seumur hidup."

Soo Jin menangis. "Apa yang akan Yoon lakukan jika ia tahu?"

"Apa kau benar-benar ayah Yoon?" tanya Yoon.

"Aku mencintaimu, Yoon." kata Hyun Suh. "Aku mencintaimu, karena itulah aku ayahmu. Karena aku benar-benar jatuh cinta pada Yoon. Jadi mulai sekarang, aku adalah ayahmu. Yoon adalah anugerah dari ayah dan ibu. Maafkan Ayah.. karena terlambat datang."

Yoon menangis.

"Ketika kau merindukan ayah, ketika kau ingin bertemu dengan ayah, dan ketika kau merasa kesepian atau sendirian, kau harus memikirkan aku. Mengerti?" ujar Hyun Suh seraya menghapus air mata Yoon.

Yoon mengangguk.

"Apa yang ingin kau lakukan pertama kali dengan ayahmu?" tanya Hyun Suh.

"Bersama?" tanya Yoon. "Kalau begitu, ayo ikut aku."

Yoon mengajak Hyun Suh ke dekat pohon. "Ayo pipis bersama."

"Hanya itu?"

"Aku tidak pernah melakukan itu sebelumnya." kata Yoon. "Aku tidak bisa melakukannya bersama ibu."

Hyun Suh tertawa. "Aku tahu." katanya.

Hyun Suh dan Yoon pipis bersama.

Yoon tertawa senang.

Bersambung

Mr.Goodbye (Episode 14)

Sinopsis Mr. Goodbye
Episode 14

Soo Jin, Kyle dan Young In naik elevator bersama-sama, menuju kamar Hyun Suh.

"Apa yang kalian berdua lakukan disini pagi-pagi?" tanya Young In.

"Apa yang kalian berdua lakukan disini pagi-pagi, Choi Young In?" Kyle bertanya balik, melihat ke tas besar yang dibawa Young In.

"Tas ini... itu... Aku diusir." jawabnya. Kyle dan Soo Jin melirik, terkejut.

"Diusir? Dari sini?" tanya Kyle. "Jadi, sebelum ini kau..."

"Itu... itu..."

Belum sempat Young In menemukan alasan,pintu elevator terbuka.

"Apa yang kalian semua lakukan disini?" tanya Hyun Suh, muncul di depan pintu elevator. "Apa orang yang ingin kalian temui adalah aku?"

"Ya." jawab Kyle dan Soo Jin.

Young In diam.

Hyun Suh mempersilahkan Soo Jin dan Kyle masuk ke kamat apartemennya. Young In sudah bersiap pergi, tapi Hyun Suh menyuruhnya masuk untuk membersihkan kacang. Young In senang setengah mati.

Hyun Suh juga membantu Young In mengangkat tasnya masuk.

Young In memungut kacang-lacang yang tertumpah di lantai. Hyun Suh menyuruhnya ikut berbincang dengannya, Kyle dan Soo Jin, namun Young In menolak. Ia tetap memunguti kacang. Akhirnya, Hyun Suh membantunya.

Mereka berdua ribut dan berunding mengenai kacang-kacang itu, melupakan bahwa Soo Jin dan Kyle ada di kamar.

Soo Jin dan Kyle hanya diam memandang mereka.

Soo Jin kesal. "Yoon Hyun Suh!" panggilnya.

"Maaf, tolong tunggu sebentar." kata Hyun Suh. Ia kemudian menyuruh Young In keluar membeli tahu.

Young In keluar.

Soo Jin hendak membuka mulut, namun Hyun Suh mendahului. "Soo Jin... dan Kepala Pengawas, kembalilah. Kalian berdua. Kembalilah sebelum tahu datang."

Soo Jin berdiri di depan Hyun Suh. "Kau... Kenapa tidak memberitahuku?!" serunya sedih.

"Apa yang ingin kau katakan... dan apa yang ingin kepala pengawas katakan... aku sudah tahu..." kata Hyun Suh. "Aku tidak ingin mendengar apapun. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu pada kalian berdua. Hari demi hari... hal yang paling kutakutkan selain kematian adalah... bahwa dia akan tahu. Lebih dari menyerahkan Nikko yang sangat kuinginkan, aku lebih takut ia akan tahu, kemudian meninggalkan aku. Aku takut ia akan terluka dan menderita, lalu pergi dan tidak menyukaiku lagi. Gadis yang kusukai akan meninggalkan aku. Sekali lagi aku akan ditinggalkan."

Kyle terlihat bingung.

Soo Jin menahan tangisnya.

"Aku tidak ingin dia tahu." kata Hyun Suh. "Hanya itulah keinginanku saat ini."

"Tetap lakukan perawatan denganku." kata Soo Jin.

"Kita bicara lagi nanti." ujar Kyle pengertian, kemudian mengajak Soo Jin pergi.

"Kenapa Direktur bersikap seperti itu?" tanya Kyle pada Soo Jin di elevator. "Apakah ia benar-benar sakit?"

"Aku tidak bisa membiarkannya seperti itu." kata Soo Jin sedih.

Kyle diam, berpikir.

Kyle dan Soo Jin berjalan keluar. Disana, mereka melihat Young In berlari kembali ke dalam apartemen.

Young In kembali ke kamar.

"Mereka sudah pergi?" tanya Young In. "Seharusnya mereka sarapan disini lebih dulu. Tapi, kenapa mereka datang pagi-pagi sekali?"

"Aku akan memberitahu kenapa mereka datang." kata Hyun Suh, memegang kacang yang dipungutnya. "Mereka datang untuk melihat apakah kau bisa menciumku sebanyak jumlah kacang ini. Apa kau mau menyimpan kacang ini di toples dan mengeluarkan satu per satu setiap kali kita berciuman sampai isi toples habis? Bagaimana?"

"Tadi pagi kau mengusirku." kata Young In. "Apa kau sakit?"

"Ya, aku sakit. Karenamu aku merasa sakit, disini." kata Hyun Suh seraya memegang dadanya.

Hyun.

Young In bangkit dan mengambil satu buah toples dari dapur, kemudian memasukkan semua kacang ke dalam toples tersebut.

Hyun Suh dan Young In berangkat ke kantor bersama. Sebelum keluar, Hyun Suh mencium Young In dan mengeluarkan satu kacang dari toples.

Young In keluar terlebih dulu.

Hyun Suh mengikutinya, kemudian kembali lagi ke kamar untuk mengambil obat-obatnya. Namun ada satu yang tertinggal di bawah ranjang, yakni cottonbud untuk membersihkan luka operasi.

Hyun Suh tiba di hotel. Di sana, orang-orang memandangnya dengan ekspresi aneh. Hyun Suh bingung.

Kyle menemui Hyun Suh. "Bisakah kau ikut denganku?" tanyanya.

Kyle mengajak Hyun Suh melihat papan pengumuman bagi para pegawai hotel. Kertas yang tertempel di papan pengumuman itu adalah mengenai urutan pegawai, yakni mengurutkan pegawai untuk melihat siapa yang mungkin dipecat atau tidak.

Kyle dan Hyun Suh memeriksa. Sekretaris Oh tidak ada. Direktur Kang Chul Goo juga tidak ada. Salah seorang pengawai mengatakan bahwa mereka sedang berlibur.

Hyun Suh diam di ruangannya dan berpikir. Young In datang untuk menghiburnya.

Di lain pihak, pengawas cctv mencabut kertas di papan pengumuman. "Tidak ada apa-apa yang akan terjadi." katanya. "Kembali bekerja."

Para pegawai tidak bisa tenang. Kyle berjalan tenang dan melihat kejadian itu. Ia bertukar pandang dengan pengawas cctv.

"Apa kau benar-benar berencana untuk memecat orang sejak kedatanganmu kemari?" tanya Young In.

"Ya." jawab Hyun Suh. "Itu pekerjaanku."

"Jangan lakukan pekerjaan itu lagi mulai sekarang." kata Young In. "Lakukan saja hal yang menyenangkan."

"Ya."

Ketika Soo Jin pulang ke rumah, Hyun Suh sudah ada disana bersama Yoon.

"Ayo kita pergi ke Amerika." kata Soo Jin, berbincang berdua dengan Hyun Suh. "Jika kau disana, akan ada lebih banyak donor prgan. Teknologi yang lebih baik, teknik, semuanya lebih baik dibandingkan disini..."

"Setiap hari aku selalu berpikir bagaimana caranya agar bisa hidup." kata Hyun Suh. "Sebelum operasi, dokter mengatakan bahwa beberapa orang tidak bisa bertahan sampai operasi selesai. Kemungkinan berhasil adalah 13%. Saat itu dikepalaku, 13 menjadi angka terbesar di dunia. Itu sudah cukup untukku."

Soo Jin menangis, kemudian bangkit dari duduknya. "Jika kau ingin hidup dengan Yoon... Ya, kau bisa hidup dengan Yoon. Kau bisa pergi dan hidup dengannya." katanya. "Kau boleh mengacuhkan dan melupakan aku, kau hanya harus... Hidup. Kau harus hidup."

Hyun Suh diam.

"Bersikaplah layaknya ayah yang baik." kata Soo Jin.

Young In menelepon ibunya, Mi Hee. Ia mengatakan bahwa ia sangat mencintai Hyun Suh. Mencintai Hyun Suh sebesar cintanya pada ibunya. Ibunya mengerti dan mengizinkan Young In tinggal bersama Hyun Suh.

Young In masuk ke kamar Hyun Suh untuki bersih-bersih. Ia menemukan cottonbud Hyun Suh, tapi tidak terlalu memedulikan dan meletakkannya di ranjang.

Sebelum pulang, Hyun Suh menemani Yoon tidur. Yoon memintanya agar tidak pergi sampai ia tertidur.

"Aku tidak bisa tidur karena takut kau pergi." kata Yoon dengan memejamkan matanya.

Keesokkan harinya, Young In bangun dan menengok ke kamar Hyun Suh. Hyun Suh tidak ada disana. Rupanya semalaman Hyun Suh tidak pulang dan menginap di kamar Yoon.

"Dimana kau tidur tadi malam?" tanya Young In ketika bertemu Hyun Suh di hotel.

"Di rumah Soo Jin."

"Sarapan?"

"Di rumah Soo Jin." jawab Hyun Suh.

Park Jung Moon menunggu Hyun Suh di ruangannya bersama Young Kyu. Ia marah-marah pada Hyun Suh karena Hyun Suh menempatkannya di posisi pertama di daftar orang yang akan dipecat.

"Pada saat seperti ini, Manajer malah berlibur!" katanya emosi. "Ha! Benar-benar kacau. Saat ini, hotel benar-benar hanya seperti lelucon!"

"Ketika Manager sudah kembali, aku akan menjelaskan semuanya padamu." kata Hyun Suh.

"Tidak perlu!" kata Jung Moon. "Aku ingin melihat bagaimana kau akan berakhir."

Hyun Suh menahan rasa sakit di dadanya karena emosi dan tertekan.

Kyle melihat Hyun Suh berdiri diam, dan ikut berdiri disampingnya, namun tetap diam. Ia tidak ingin mengganggu lamunan Hyun Suh.

"Aku ingin meminta tolong padamu." kata Kyle. "Apapun yang terjadi, kau harus tetap melindungi hotel ini dampai akhir."

"Akhir?"

"Melihatmu hari ini dan kemarin, kelihatannya kau telah melepaskan segalanya." ujar Kyle. "Aku tahu kau sangat mencintai hotel lebih dari orang lain. Kau tahu untuk siapa dan kenapa aku kemari. Kau tidak boleh menyerah seperti ini. Aku ingin mengalahkan dan melewatimu. Kau tidak boleh memberiku kesempatan."

"Kyle, aku..." Hyun Suh memandang Kyle. "Saat ini, aku mencoba hidup lebih keras daripada sebelumnya."

"Itulah yang ingin kudengar." kata Kyle.

Ketika Hyun Suh pulang, Young In sedang memasak.

"Biar aku yang melakukannya." kata Hyun Suh ketika ia melihat Young In kesulitan membuka kaleng.

Hyun Suh mencoba membuka kaleng itu, namun tanpa sengaja jarinya terluka dan berdarah. Young In cemas dan langsung mencari obat merah.

Young In menemukan sesuatu. "Apa ini bisa dipakai?" tanyanya. "Baunya seperti bau rumah sakit."

"Ah, bukan, bukan ini."

"Aku mengambilnya dari kamarmu. Kau tidak tahu?"

Hyun Suh mengambil tissue dan membersihkan tangannya. Tanpa berkata apa-apa, ia bergegas keluar dari apartemen.

"Obat yang kau minum sekarang digunakan untuk mencegah darahmu dari penggumpalan." Hyun Suh teringat dokter berkata. "Jika kau berdarah, kau mungkin akan menjadi lemah."

Young In keluar dan menawarkan diri untuk mengantar Hyun Suh ke rumah sakit. Namun Hyun Suh menolak. "Aku menyuruhmu untuk tetap di rumah!" seru Hyun Suh keras.

Young In terdiam dan bingung.

Young In masuk kembali ke dalam apartemen. Mendadak ponsel Hyun Suh berdering. Hyun Suh lupa membawa ponselnya.

Young In mengangkat telepon dari Soo Jin. "Di sedang tidak ada." katanya. "Ia pergi ke rumah sakit."

"Apa?" tanya Soo Jin cemas. "Sendirian?"

"Dia tidak mengizinkan aku ikut jadi..."

Hyun Suh duduk diam di ruang UGD. Saat itu sedang banyak pasien terluka parah (sepertinya karena kecelakaan) sehingga mereka lebih di dahulukan. Belum lagi pasien-pasien lain yang makin banyak berdatangan.

Hyun Suh merasa pusing mendengar keributan itu. Kepalanya berputar-putar.

Hyun Suh berjalan keluar perlahan-lahan. Dari jauh, samar-samar ia melihat seorang wanita berjalan. Karena saat itu pandangannya buram.

Hyun Suh tersenyum, memperlihatkan tangannya yang terluka, lalu menangis. "Aku... Aku harus hidup." tangisnya. "Aku ingin terus hidup, Soo Jin. Selamatkan aku. Selamatkan aku..."

Hyun Suh bersandar di bahu Soo Jin. Soo Jin memeluknya.

Soo Jin mengantar Hyun Suh pulang. Young In melihat mereka dan merasa cemburu. Ia kembali ke kamar dan menunggu Hyun Suh disana.

Young In tidur di luar sementara Hyun Suh tidur di kamar.

Diam-diam, Hyun Suh mengambil obat dari lemari dan meminumnya.

Keesokkan harinya, Young In menawarkan diri untuk membantu Hyun Suh membersihkan badan karena tangannya sedang terluka. Tentu saja Hyun Suh menolak, karena di dadanya ada bekas operasi jantung.

"Kalau dipikir-pikir, kau tidak pernah mengenakan pakaian dengan kerah rendah." kata Young In. "Kau tidak punya dada sepertiku?"

Hyun Suh diam.

"Aku hanya bercanda." kata Young In, membuat Hyun Suh menarik napas lega.

Akhirnya, Young In membantu Hyun Suh keramas.

"Suatu saat nanti, jika aku kena penyakit ganas, jangan kabur." kata Young In. "Kau harus membantuku membersihkan diri. Bagaimana?"

"Itu menjijikkan."

Soo Jin datang ke ke ruangan Hyun Suh di hotel sambil membawa sebuah amplop putih. Namun Hyun Suh tidak ada di ruangannya.

"Kau tidak di kantor?" tanya Soo Jin, menelepon Hyun Suh.

"Ya, mungkin sebentar lagi." kata Hyun Suh.

"Kalau begitu, kutinggalkan dimeja." kata Soo Jin.

"Apa?"

"Kau akan tahu jika sudah melihat."

Tidak lama setelah Soo Jin pergi, Young In datang ke ruangan Hyun Suh sambil membawa dua gelas es. Karena Hyun Suh tidak datang-datang, Young In meletakkan es di meja dan tanpa sengaja melihat amplop putih yang diletakkan Soo Jin.

"Transplantasi..." Young In membaca tulisan di amplop, lalu membukanya. "Daftar pasien Transplantasi Jantung." Ia membuka dan membaca tulisan disana.

Young In shock.

Hyun Suh masuk ke ruangannya. Disana, ia melihat amplop dari Soo Jin dan uap air bekas es yang dibawa Young In (tapi Hyun Suh tidak tahu).

Young In sangat terpukul, shock berat dan sedih sekaligus. Ia menangis. Kyle melihatnya dari atas.

Malam itu, Young In mengajak Hyun Suh tidur bersama. Ia menatap Hyun Suh dengan ekspresi sedih dan takut.

"Tidurlah bersamaku." ajak Young In.

"Nanti." kata Hyun Suh. "Perlahan-lahan."

"Nanti kapan?" tanya Young In. "Tidurlah di sampingku. Aku tidak mau tidur sendirian."

Hyun Suh menolak dan Young In bisa memahami. Tadi ia hanya mengetes.

Young In berpura-pura tidur, lalu bangun di tengah malam. Perlahan-lahan, ia membuka pintu kamar Hyun Suh dan masuk ke dalamnya.

Ia tidur di samping Hyun Suh dan memandang wajahnya sedih. Dibukanya kancing kemeja Hyun Suh satu per satu dengan takut. Tepat di dada Hyun Suh, ada jahitan panjang bekas operasi. Young In menangis.

"Aku.. ingin hidup behagia bersama gadis ini sampai aku mati." Young in teringat Hyun Suh pernah berkata.

Young In berusaha agar tangisnya tidak membuat Hyun Suh terbangun.

Rupanya Hyun Suh tidak tidur. Ia mengulurkan tangannya memeluk Young In.

Bersambung

Mr.Goodbye (Episode 13)

Sinopsis Mr. Goodbye
Episode 13

"Hasilnya sudah ada tapi... Kalian ingin aku berkata yang bagus-bagus atau berkata yang sebenarnya?" tanya peramal.

"Yang bagus-bagus." kata Young In, bersamaan dengan jawaban Hyun Suh, "Yang sebenarnya."

"Tanyakan lagi, Paman!" pinta Young In.

Mulanya peramal menolak karena jawaban yang pertama adalah yang jujur. Tapi Hyun Suh memberi isyarat agar peramal menuruti Young In. Peramal bertanya lagi.

"Yang sebenarnya." jawab Young In, bersamaan dengan jawaban Hyun Suh, "Yang bagus-bagus."

Ujung-ujungnya, Kakek peramal tidak mau memberitahu hasil ramalannya pada Young In dan Hyun Suh.

Young In keluar terlebih dulu dengan kesal. "Kurasa Kakek itu sedikit...." Young In memotong perkataannya sendiri. "Dia tidak mau memberitahu hasil ramalannya! Mungkin masa depan kita tidak bagus..."

Hyun Suh menoleh ke arah tenda si peramal dengan ekspresi was was.

"Bukankah hidupmu terlalu pendek untuk membina hubungan yang serius?" tanya peramal.

Malam itu, Hyun Suh tertidur di lantai. Ruangan itu gelap dan sepi. Hyun Suh hanya bisa mendengar suara 'tik tok, tik tok, tik tok', suara alat yang membantu jantungnya berdetak.

Hyun Suh bangkit dari tidurnya, kemudian membersihkan luka bekas operasi di dadanya. Ia menangis, memandang dirinya sendiri di cermin.

Keesokkan harinya Hyun Suh pergi ke meja pengawas dan memanggil Kyle.

"Ikut denganku." kata Kyle.

"Ya, Direktur." jawab Young In.

"Bukan kau." kata Hyun Suh. Ia berpaling pada Kyle. "Sepertinya penerusmu tidak sabaran."

"Penerus?" gumam Kyle. "Sepertinya sangat sulit."

Kyle mengikuti Hyun Suh ke ruang cctv. Pengawas cctv agak terkejut melihat Kyle.

"Sekretaris Oh ada di ruanganku dan Nikko..."

"Kau tidak pernah pergi dari negara ini." potong Kyle. "Apa sebenarnya yang kau lakukan satu bulan belakangan? Selama kepergianmu, kau tahu siapa orang yang merasa paling sedih? Nikko, Choi Young In. Kau tidak seperti orang yang kukenal. Jika kedepannya masih seperti ini, lebih baik kau berhenti sampai disini."

"Bukankah kau punya kesempatan mendekati Young In setelah kepergianku?" tanya Hyun Suh.

"Aku tidak tahu." kata Kyle. "Walaupun kau tidak ada, rasanya seperti kau selalu didekatnya. Itu selalu membuatku marah."

Hyun Suh tersenyum. "Setelah kupikir-pikir, kita berdua banyak kesamaan." katanya. "Nikko, Choi Young In. Tidak akan menyerah untuk mereka."

Hyun Suh memeriksa dokumen-dokumen di ruangannya.

"Laporan yang kuberikan padamu adalah informasi mengenai rencana mereka." Hyun Suh teringat Kyle berkata. "Sebagai Manager Umum, dia mengendalikan emosi para karyawan di hotel dan dari pusat. Mereka mengirimmu untuk menemukan apa yang tidak sesuai."

Setelah merasa bosan memeriksa, Hyun Suh menelepon Young In.

"Aku merasa senang karena tidak harus memecat dan menyakiti orang lain, lalu mengucapkan 'goodbye' pada mereka." ujar Hyun Suh.

"Memangnya kenapa dengan 'goodbye'?" tanya Young In. "Kau sibuk? Jika tidak sibuk, coba lihat keluar jendela. Hujan kesukaanmu sedang turun."

Hyun Suh menoleh. Di luar sedang hujan deras.

"Kau sangat menyukai hujan dan salju." kata Young In.

Kyle meletakkan pena dan bukunya ke meja dengan bunyi keras. Young In menoleh. Saat itu, Kyle sedang bangkit dari duduknya dan beranjak pergi.

"Kepala pengawas..."

"Bicara saja." kata Kyle. "Bicara yang keras."

Hyun Suh meminta Young In agar mengucapkan terima kasih pada Kyle. "Ucapkan terima kasih dan ia akan mengerti." katanya.

"Kepala pengawas!" panggil Young In. "Direktur.. Direktur mengucapkan terima kasih."

Kyle diam sejenak, kemudian tersenyum. "Aku mengerti."

Hyun Suh meminta Sekretarisnya untuk membatalkan semua jadwal kegiatannya. "Aku hanya tidak ingin melakukannya." kata Hyun Suh. "Mulai sekarang, aku hanya ingin melakukan hal yang menyenangkan."

Sekretaris curiga.

Hyun Suh menculik Young In dari kerjanya dan mengajaknya berkencan.

"30 menit." kata Hyun Suh.

"Tidak. 15 menit." bantah Young In. "Kepala pengawas sangat menyeramkan. Aku takut padanya, tapi kau tidak menakutkan sama sekali."

Young In dan Hyun Suh makan di sebuah restoran.

Hyun Suh diam, memandang makanan itu dengan ragu. "Kau harus menghindari makanan dengan vitamin K." Ia teringat dokter berkata. "Kulit acar, selada, dan sayuran hijau yang seharusnya menolongmu, nyatanya malah berbahaya untukmu. Kau akan mengalami efek samping atau rasa sakit yang kuat."

Young In memandang Hyun Suh. "Apa lagi yang salah dengan makanannya?" tanyanya.

"Kulit acar." kata Hyun Suh.

Young In mengambil kulit acar di mangkuk Hyun Suh dan memakannya.

Setelah selesai makan, Young In mengajak Hyun Suh ke sauna umum.

Hyun Suh belum pernah melakukan itu sebelumnya. Ia merasa malu dan ragu berganti pakaian. Di tambah lagi, ia merasa jijik dan risih karena harus menggunakan pakaian yang pernah dipakai orang lain.

Akhirnya Hyun Suh berganti pakaian juga.

Young In bertanya pada Hyun Suh apa yang tidak disukainya dan apa yang disukainya. Menurut Young In, ia dan Hyun Suh pasangan yang ideal karena mereka saling melengkapi. Hyun Suh suka putih telur dan Young In hanya makan kuning telur. Hyun Suh suka dada ayam, tapi Young In tidak suka.

"Berbeda itu sempurna." kata Young In senang.

Kyle dan Kang Chul Goo bertemu di bar.

"Apa yang terjadi jika Direktur Yoon tahu segalanya?" tanya Kyle. "Semua dokumen sudah dikirim ke pusat. Jika kau mengirim dokumen yang salah dan mendapat bantuan dari pemegang saham, masih bisakah kau melaksanakan rencanamu?"

Kang Chul Goo terkejut.

"Apa yang akan kau lakukan jika aku memberitahukan segalanya pada Direktur Yoon?" tanya Kyle tajam.

"Benarkah kau melakukan itu?!" seru Chul Goo marah seraya menarik baju Kyle dengan kasar. "Satu bulan belakangan ini, kau hanya bersandiwara di depanku?! Begitu?!"

Kyle diam. Chul Goo berusaha mengendalikan emosinya.

"Direktur Yoon adalah orang yang terbaik, bukan?" tanya Chul Goo. "Dengan pengkhianatan ini, bagaimana kau bisa menghadapi ayahmu?"

"Aku yakin ayahku akan melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan." kata Kyle tanpa ragu.

"Kau salah!" kata Chul Goo. "Ayahmu sangat membenci Direktur Yoon, jadi ia bunuh diri. Kau lupa?"

"Ayahku mengambil keputusan itu karena ia merasa bersalah karena tidak bisa melindungi hotelnya." bantah Kyle. "Karena itulah aku ingin melindungi hotel sampai akhir."

Setelah selesai dari sauna, Young In dan Hyun Suh mendinginkan diri. Di ruangan itu, salju buatan turun. Young In menepati janjinya yang dulu, untuk memperlihatkan salju pada Hyun Suh bukan pada musim dingin.

Young In berbaring. "Aku tidak sabar menunggu salju betulan di musim dingin." kata Young In. "Salju pertama di musim dingin ini, aku tidak mau sendirian. Aku juga ingin merayakan natal bersamamu. Saat tahun baru, ayo kita lihat matahari terbit bersama."

Hyun Suh sedih mendengar kata-katanya. Ia ikut berbaring di samping Young In.

Hyun Suh mengatakan bahwa ia akan mati dengan bersedih hati karena kini ia bertemu Young In, bertemu Yoon, dicintai dan mencintai. Ia akan mati dengan sedih karena semua itu hal yang baik.

Keesokkan harinya.

Soo Jin datang ke hotel dan menyapa Young In. "Dimana Hyun Suh tinggal?" tanyanya.

"Di apartemen." jawab Young In.

"Apa ia hidup sendiri?" tanya Soo Jin lagi. "Tidak seharusnya ia hidup sendiri."

Young In tertawa. "Hyun Suh bukan anak kecil lagi." katanya.

Soo Jin terdiam, kemudian memohon pamit.

Soo Jin datang ke ruangan Hyun Suh, tapi Hyun Suh sedang tidak ada disana, jadi ia menunggu.

Saat itu, Hyun Suh sedang ada di rumah sakit untuk melakukan check up.

"Dokter, bisakah kau menghentikan suara berdetik di jantungku?" tanya Hyun Suh.

"Apa suaranya sangat mengganggu?"

"Ya." jawab Hyun Suh.

"Suara itu akan muncul setiap kali katup terbuka dan tertutup. Aku tidak bisa melakukan apapun."

"Suara berdetik itu seperti berkata, 'Kau tidak punya waktu lagi. Kau tidak punya waktu lagi, Yoon Hyun Suh'." ujar Hyun Suh sedih. "Berapa lama lagi waktu yang kumiliki?"

"Tidak ada orang yang tahu." jawab Dokter.

"Aku bisa menahan rasa sakit dan tidak bisa tidur, tapi... ketika aku sedang bersama gadis yang kusukai, tolong hentikan suara ini, Dokter."

"Jika aku menghentikan suara itu, kau akan mati." kata Dokter.

Hyun Suh terus memohon pada dokter agar menghentikan suara alat di jantungnya ketika ia sedang bersama orang yang ia cintai.

Soo Jin terus menunggu, tapi Hyun Suh tidak juga datang. Ia berjalan ke jendela dan tidak sengaja melihat obat Hyun Suh.

Tidak lama kemudian, Hyun Suh tiba.

"Aku datang kesini bukan sebagai teman." kata Soo Jin. "Aku ingin membantumu. Kau masih pasienku, bukan?"

Hyun Suh diam.

"Ini waktunya kau melakukan check up." kata Soo Jin. "Ayo ikut denganku."

"Tidak perlu."

Hyun Suh cemas apakah Yoon memiliki masalah/penyakit bawaan lahir darinya. Tapi Soo Jin menjawab tidak ada masalah apapun karena penyakit Hyun Suh juga bukan sejak lahir. Itu membuat Hyun Suh tenang.

"Jantungmu berdetak dengan sehat, bukan?" tanya Soo Jin cemas.

"Ya." jawab Hyun Suh, tersenyum.

Hyun Suh mengajak Yoon makan di kedai kecil ibunya.

"Apa ia ayahmu?" tanya Ibu itu pada Yoon.

"Ya." jawab Yoon.

"Kalian sangat mirip."

"Yoon, kau mau makan apa?" tanya Hyun Suh.

Yoon melihat ke menu. Semua menu makanan itu pedas.

Setelah makanan diberikan, Hyun Suh menatap ibunya diam-diam. Tidak lama kemudian, seorang pria berpakaian tentara datang. Ibu itu sangat senang.

"Anakku sudah pulang!" serunya bahagia.

Hyun Suh menatap mereka dalam diam.

Saat hari sudah malam, Hyun Suh mengantar Yoon pulang.

"Lain kali, ajak ibu juga." kata Yoon pada Hyun Suh.

"Aku akan memikirkannya." jawab Hyun Suh berat hati.

Dalam perjalanan pulang, Hyun Suh terus teringat pada ibu dan anak laki-lakinya yang pulang dari wajib militer.

Ketika sama-sama sedang mencoba kabur dari rumah, Jae Dong dan Young In tidak sengaja berpapasan di lorong rumah.

"Kemana kau akan pergi?" tanya Young In.

"Aku ingin pergi ke kuil Budha dan mencoba belajar dengan pikiran yang fokus." jawab Jae Dong.

"Tinggallah disini. Jangan pergi." kata Young In. "Aku yang akan pergi kali ini."

"Kenapa?"

"Aku akan tinggal bersama seorang pria." jawab Young In.

Setelah Young In pergi, Mi Hee keluar. Rupanya ia tahu kalau putrinya akan pergi.

"Biarkan saja dia." kata Mi Hee ketika Jae Dong mencoba mengejarnya. "Kau bisa mempercayai kakakmu. Ia berbeda denganmu. Ia bisa jaga diri."

Hyun Suh bingung kenapa Young In membawa barang-barangnya ke apartemen.

"Aku akan tinggal disini." kata Young In. "Kau yang mengajakku tinggal bersama."

Young In hendak memasakkan sarapan untuk Hyun Suh. "Kau suka kacang?" tanyanya.

Tanpa berkata apa-apa, Hyun Suh menarik tangan Young In hingga kacang yang dipegangnya tumpah berantakan di lantai.

Hyun Suh mengusir Young In keluar.

"Karena kacang?" tanya Young In.

"Tidak, hidup bersama."

"Kenapa?"

"Kita tidak bisa hidup bersama." kata Hyun Suh, tanpa mengemukakan alasan. "Aku bisa melakukan apapun, tapi tidak hidup bersama."

"Kau tidak bisa?" tanya Young In. "Aku juga tidak bisa." Ia mencoba masuk ke dalam rumah, tapi Hyun Suh melarang.

Hyun Suh menutup pintu dan masuk ke dalam apartemennya lagi, memegang dadanya yang terasa sakit.

Dengan kesal, Young In mengangkat tasnya lagi turun ke lantai 1. Dengan meminjam telepon di ruang petugas, Young In menelepon kamar Hyun Suh dan membujuknya lagi.

Soo Jin datang ke dokter Hyun Suh untuk mencari tahu mengenai penyakit jantung Hyun Suh.

Seseorang menelepon Kyle dengan menggunakan bahasa Inggris. Orang itu mengatakan bahwa David melepaskan Nikko dan merekomendasikan Kyle sebagai Presidennya.

Kyle terkejut.

Young In masih duduk di depan apartemen dalam diam, menunggu Hyun Suh. Ia kaget melihat Kyle datang ke tempat itu.

Tidak lama kemudian, Soo Jin datang berlari-lari dengan cemas dan panik.

Bersambung

Mr.Goodbye (Episode 12)

Sinopsis Mr. Goodbye
Episode 12

Hyun Suh menarik kopernya dan berjalan ragu. Mendadak ia berhenti berjalan.

Seorang pria tidak sengaja menyenggol dan menjatuhkan kopernya. "Maafkan aku." kata pria itu seraya membantu Hyun Suh mengambil koper. "Aku tidak melihatmu. Maaf. Maafkan aku."

Hyun Suh hanya berdiri diam, teringat percakapan terakhirnya dengan dokter. Ia ragu. Cukup siapkah ia meninggalkan segalanya untuk mati?

Young In duduk di bus. "Satu minggu seperti satu tahun." gumamnya sedih. Ia menggunakan headset dan duduk diam, tidak melihat ketika Hyun Suh berjalan membawa kopernya keluar dari bandara.

Hyun Suh naik sebuah taksi. Ketika sedang lampu merah, bus Young In dan taksinya bersebelahan. Hyun Suh mendongak dan melihat Young In, namun Young In tidak melihatnya.

Young In melakukan aktivitasnya seperti biasa. Bekerja di hotel dan makan mie sendirian di supermarket. Kali ini, ia menuruti Hyun Suh dengan memberi air panas sampai batas dan menunggu 4 menit sampai mie benar-benar matang.

Setelah selesai makan, Young In keluar. Saat itu hujan, tapi ia tidak membawa payung. Ia terpaksa berlari di tengah hujan dan berhenti di pinggir jalan untuk menyeberang.

Tiba-tiba, dia sudah tidak kehujanan lagi. Young In bingung.

"Kenapa kau berdiri ditengah hujan?" terdengar suara Hyun Suh.

Young In menoleh.

"Kau bilang punya banyak payung di rumah." kata Hyun Suh. "Aku tidak mengizinkanmu berteduh di payung laki-laki lain, tapi apa aku pernah melarangmu membeli payung?"

Young In melamun. Ternyata itu hanya imajinasinya. Yang memayunginya bukan Hyun Suh, melainkan Kyle.

Young In terdiam sedih.

Ketika sedang bekerja, Young In mendapat telepon dari seorang tamu. Ia kemudian menuju ke elevator untuk pergi ke kamar tersebut untuk membantu.

Pintu elevator terbuka. Hyun Suh ada di sana.

Young In melongo.

"Naik." kata Hyun Suh.

Young In naik ke elevator itu. Sampai keluar lagi dari elevator, dia hanya diam, masih melongo.

Lagi-lagi itu hanya imajinasi. Young In benar-benar merindukan Hyun Suh dan merasa kesepian.

Young In berdiri diam di depan elevator. Resepsionis dan Kyle melihatnya.

"Kapan Direktur kembali?" tanya resepsionis pada Kyle. "Di Las Vegas, apa Nikko hotel sudah jatuh? Dia sudah pergi selama satu bulan, tapi tidak ada kabar apapun."

Kyle hanya diam.

Ketika Young In meregangkan otot di atap gedung, lagi-lagi imajinasi Hyun Suh muncul. Young In tidak memedulikannya. "Jika kau benar-benar kembali, kau akan mati di tanganku!"

Young In berkunjung ke apartemen Hyun Suh untuk bersih-bersih. Kamar itu benar-benar kotor dan berantakan. Ada satu kamar yang terkunci, tapi Young In tidak terlalu memedulikan. Mungkin Hyun Suh menguncinya sebelum pergi.

Young In berbaring dilantai sebentar, kemudian bangkit dan menangis. "Cepat kembali." tangisnya. "Cepat kembali." Ia merasa kesal dan menendang handuk-handuk yang ditumpuknya.

Setelah selesai, Young In pulang. Tapi sebelum pulang, ia sengaja tidak mematikan lampu. "Aku membiarkan lampu menyala, jadi cepat pulang." katanya seorang diri, kemudian pergi.

Tidak lama setelah Young In pulang, seorang pria keluar dari kamar yang terkunci. Hyun Suh, dengan keadaan berantakan, lengan bekas tusukan jarum dan dada dibalut perban setelah operasi. Ia membuka tirai jendela dan melihat Young In pergi dari atas.

Melihat Young In, membuatnya sangat ingin menemui gadis itu. Hyun Suh bertekad mengejar Young In.

Dengan langkah gontai, Hyun Suh menuju ke elevator dan menekan tombol. Namun elevator masih berada di lantai 1. Ia kemudian berjalan menuju tangga darurat dan berusaha menuruninya dengan cepat.

Akhirnya Hyun Suh tiba dibawah dengan terengah-engah. Young In masih berada di sekitar sana. Hyun Suh hanya berdiri diam, sudah cukup dengan melihat Young In sedikit lebih dekat.

Hyun Suh kembali ke kamarnya menaiki elevator.

"Mulanya, kau akan mulai mendengar suara tik tok." Hyun Suh teringat dokter berkata. "Seperti suara jam berdetak. Dengan kata lain, jantungmu akan seperti bom aktif. Walaupun kau sudah menggunakan alat untuk menggantikan kerja jantungmu, tapi kau harus siap secara mental. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan sekarang adalah dengan transplantasi jantung. Semuanya tergantung pada kehendak Tuhan."

Young In berjalan pulang dan melihat Kyle sedang menunggunya.

"Ayo kita menunggu bersama." kata Kyle. "Kau menunggu Direktur dan aku akan menunggumu. Ayo kita berusaha keras."

"Kepala pengawas..."

"Dia pasti akan kembali." kata Kyle, meyakinkan. "Dibandingkan kau, aku lebih lama mengenal Direktur."

Bukan hanya Young In, Yoon juga sangat merindukan Hyun Suh. Berulang kali ia mencoba menghubungi Hyun Suh dengan ponsel ibunya.

"Sudah kubilang itu tidak berguna." kata Soo Jin.

"Kapan paman kembali dari Amerika?" rengek Yoon.

Malam itu, Hyun Suh berbaring diam di tengah kegelapan kamarnya. Ia berpikir.

Keesokkan harinya, Hyun Suh membersihkan diri dan memutuskan untuk kembali ke hotel.

Young In sangat terkejut melihat Hyun Suh.

"Apa kau sibuk?" tanya Hyun Suh pada Young In.

"Ti... tidak..." jawab Young In.

"Ayo kita makan malam, setelah kau selesai bekerja."

"Makan malam?" tanya Young In, senang dan kesal sekaligus. "Aku tidak bisa menunggu sampai makan malam. Kita makan siang bersama. Tidak. Kita makan sekarang."

"Makan malam." kata Hyun Suh tegas.

Para pejabat tinggi hotel terkejut dan tidak kelihatan senang melihat Hyun Suh kembali ke hotel.

Kyle mengirim sms pada Hyun Suh. "Aku ingin bicara jika sekretarismu tidak ada." katanya.

Hyun Suh kemudian menyuruh sekretarisnya pergi.

Kyle masuk ke ruangan Hyun Suh. "Bisakah kau mengenali informasi yang kau berikan pada club?" tanyanya seraya mengeluarkan dua buah dokumen.

Kyle menceritakan pada Hyun Suh bahwa semenjak 1 bulan Hyun Suh tidak masuk, Manajer Umum semakin ambisius.

"Aku tahu kau tidak kembali ke Nikko Hotel." kata Kyle. "Apa itu artinya kau menolak tawaran menjadi Presiden?"

"Aku ingin pergi ke Nikko." jawab Hyun Suh.

"Tidak ada dokumen mengenai kepergianmu dari negara ini." kata Kyle.

Setelah melihat Sekretaris Hyun Suh pergi, Young In diam-diam berjalan menuju ruangan Hyun Suh.

Baru saja Young in tiba, Kyle membuka pintu keluar.

"Untuk apa kau kemari?" tanya Kyle.

"Direktur memanggilku." kata Young In, berbohong.

Hyun Suh keluar.

"Apa kau mencariku, Direktur?" tanya Young In.

"Aku tidak mencarimu." jawab Hyun Suh dingin. "Kalian berdua, kembali bekerja."

Hyun Suh berjalan pergi, namun kembali lagi dan mengajak Young In bicara.

"Berikan kunci apartemenku." kata Hyun Suh dingin.

"Aku tidak membawanya." kata Young In.

"Kembalikan padaku secepat mungkin." kata Hyun Suh. "Aku ingin menjualnya. Aku tidak hanya memberimu waktu satu minggu, melainkan satu bulan untuk berpikir. Seharusnya kau sudah memutuskan. Apa kau akan pergi ke Nikko?"

"Ya." jawab Young In.

"Tapi aku tidak butuh lagi." kata Hyun Suh.

"Kenapa?" tanya Young In. "Kenapa kau bersikap seperti ini padaku?"

"Aku bosan." kata Hyun Suh. "Kau, hotel ini, Seoul. Aku muak pada Seoul. Aku muak berada disini. Aku muak..."

Hyun Suh meninggalkan Young In yang shock berat.

Young In menatap kunci apartemen dengan marah. "Siapa yang memberinya dan siapa yang memintanya kembali?" gumamnya kesal. "Ini milikku!"

Setelah selesai latihan bela diri, Yoon menelepon Hyun Suh dengan telepon umum.

"Halo?"

Yoon senang mendengar suara Hyun Suh. "Paman? Kau sibuk?" tanyanya. "Kau sibuk berayun di gedung? Apa kau ada di Amerika?"

"Tidak."

Hyun Suh mengajak Yoon makan di restoran ayam cepat saji.

"Paman, jangan membuatku cemas." kata Yoon di perjalanan pulang. "Ayam-ayamku pergi. Paman juga pergi. Apa ayam-ayamku baik-baik saja? Kenapa kalau kita mati, badan kita dingin? Kenapa kalau kita mati, badan kita keras? Paman, jangan mati. Aku juga tidak akan mati."

Hyun Suh mengangguk. "Kita jalani hidup yang panjang."

Hyun Suh kembali ke rumah. Young In sudah menunggu disana.

"Keluar." kata Hyun Suh dingin.

"Aku tidak mau menyerah hanya karena kau muak padaku." kata Young In.

"Terserah."

"Dari awal kau tahu bahwa Young In membosankan." kata Young In. "Walaupun begitu, aku tidak pernah menutup hatiku yang sulit terbuka. Walaupun begitu, aku selalu menepati janji yang kubuat."

"Kau bangga menjadi orang membosankan?"

"Sebelum aku menepati janji, aku tidak akan pergi." kata Young In. Janjinya adalah memeluk Hyun Suh.

Young In memeluk Hyun Suh dan menangis. "Aku menunggumu sangat lama di rumah ini." katanya. "Berhentilah menjadi Yoon Hyun Suh Las Vegas."

Hyun Suh melepas pelukan Young In. "Tinggalkan kunci dan pergi."

Young In marah. Ia meninggalkan kunci di rak dan pura-pura pergi.

Hyun Suh keluar.

"Kenapa kau?" seru Young In. "Kau salah makan? Kenapa kau kembali seperti orang lain?!"

Tanpa mengatakan apa-apa, Hyun Suh mengambil kunci Young In dan beranjak masuk lagi ke dalam kamar.

"Aku makin mencintaimu. Apakah putar balik begitu pendek bagimu?!" teriak Young In. "Aku selalu memberi obat pada lukaku! Jadi aku memperingatkanmu! Aku tidak akan pernah menyerah! Aku tidak akan pernah melepaskanmu!"

Young In keluar sambil membanting pintu.

Ketika Mi Hee berjalan pulang dari belanja, ia melihat Young Kyu sedang mabuk-mabukan sendirian di kedai pinggir jalan. Mulanya Mi Hee mengacuhkan Young Kyu, namun akhirnya ia berakhir dengan duduk menemani Young Kyu.

Mi Hee ikut masuk sampai larut malam.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Young Kyu, akhirnya tersadar.

Mi Hee sangat mabuk dan tergeletak tidak sadar.

"Paman, darimana wanita ini datang?" tanya Young Kyu pada pemilik kedai.

"Akhirnya kau bangun." kata pemilik kedai. "Kau harus berterima kasih pada tetanggamu. Ketika kau tidur, ia membayar uang minum dan memukuli nyamuk yang mendekatimu. Kelihatannya dia mabuk. Kini giliranmu membantunya."

Young In berjalan pulang. Ia terkejut melihat Young Kyu sedang menggendong Mi Hee. Ia mengejar mereka dan membantu Young Kyu membawakan barang-barang Mi Hee.

"Kenapa kalian berdua seperti ini?" tanyanya. "Tidakkah kau tahu bahwa ibu tidak bisa minum?"

"Aku tidak membuatnya minum." kata Young Kyu. "Ketika aku bangun setelah mabuk, dia tidur disampingku."

"Kalian tidur? Kalian berdua tidur bersama?"

"Bukan!" seru Young Kyu. "Di kedai disana!"

"Kau ingin aku memanggil Jae Dong?"

"Jangan." larang Young Kyu. "Dia sedang belajar."

Hyun Suh menemui Soo Jin di rumah sakit. Soo Jin berlari senang, tapi ketika mendekati Hyun Suh, ia mencoba tenang dan tidak memperlihatkannya.

"Kupikir kau tidak kembali ke Seoul karena aku. Aku sangat sedih." kata Soo Jin.

"Soo Jin, akhir-akhir ini aku mendengar suara di jantungku." kata Hyun Suh.

Soo Jin menjadi cemas. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya.

"Mengenai Yoon... Apa kau ingin mengatakan padanya bahwa aku ayahnya?" tanya Hyun Suh. "Tolong jangan katakan padanya sampai akhir. Sampai aku mati, jangan katakan pada Yoon bahwa aku ayahnya."

Hyun Suh pergi ke sebuah toko makanan kecil. Seorang wanita yang berjualan disana.

Hyun Suh menatap wanita itu dengan sedih. Ia adalah ibu Hyun Suh.

Young In menatap ponselnya dan menimbang-nimbang. Akhirnya ia memutuskan untuk menelepon Hyun Suh. Tidak peduli pendapat Hyun Suh, Young In memaksa ingin bertemu.

"Apa yang kau lakukan selama sebulan?" tanya Young In, ketika ia dan Hyun Suh sudah berada di supermarket. "Apa jarimu patah? Kenapa kau terlambat? Kenapa kau tidak datang? Kenapa kau tidak menelepon? Kau tahu aku sangat khawatir?!"

"Aku melakukan sesuatu. Kau akan lebih khawatir jika tahu."

"Apa?"

Hyun Suh diam.

"Kenapa kau diam saja?" tanya Young In. "Aku hampir mati karena mencemaskanmu. Aku tidak tahu apa yang kau lakukan di Amerika, tapi karena kau, kupikir aku akan mati. Kau dengar, tidak?!"

Hyun Suh terdiam sejenak. "Kebalikannya denganku." katanya sedih. "Karena kau, aku ingin hidup."

"Apa sebenarnya yang kau lakukan selama sebulan?!"

"Aku hanya memikirkanmu." jawab Hyun Suh datar.

"Aku juga hanya memikirkanmu!" kata Young In.

"Kenapa kau marah?" tanya Hyun Suh. "Akhirnya aku berkata jujur, bukan?"

"Kau memikirkan aku, tapi kenapa tidak pernah meneleponku?" tanya Young In. Ia terus-menerus memojokkan Hyun Suh agar bercerita.

Hyun Suh tertawa mendengar celotehan Young In. "Hentikan." katanya. "Jika tertawa, aku akan merasa sakit."

"Apa masalahnya?" tanya Young In seraya memukul dada Hyun Suh. "Apakah masalah besar jika dadamu sakit karena tertawa? Apa aku lucu?"

Hyun Suh mengangguk. "Ya, kau lucu." jawabnya. "Sejujurnya, aku ingin bersikap dingin padamu, tapi sepertinya gagal. Aku berada dalam masalah. Mulai sekarang, apa yang kau inginkan dariku?"

"Kau aneh." kata Young In, beranjak keluar terlebih dulu.

Hyun Suh memandang Young In dengan mata berkaca-kaca.

Lagi-lagi, Hyun Suh mengajak Young In ke tukang ramal.

Young In memberikan tanggal ulang tahunnya. "Apakah kami akan menikah?" tanyanya. "Kami akan punya berapa anak? Apa kau bisa membaca garis tangan juga?"

Peramal itu menghitung hari ulang tahun Hyun Suh dan Young In.

"Kakek, kapan aku akan mati?" tanya Hyun Suh.

"Kenapa menanyakan hal itu?" tanya Young In.

Kakek peramal diam.

"Aku ingin mati dengan bahagia bersama gadis ini." kata Hyun Suh. "Apa itu mungkin?"

"Kenapa kau bertanya begitu?" tanya Young In lagi. "Kenapa kau tidak bertanya, bisakah aku hidup bahagia dengan gadis ini?"

"Sama saja." kata Hyun Suh. Ia memberikan kunci apartemennya lagi pada Young In.

"Aku tidak akan pernah mengembalikan kunci ini padamu!" kata Young In.

Hyun Suh tersenyum. "Aku ingin hidup bahagia bersamamu sampai aku mati." ujarnya.

"Benarkah?"

"Ya." jawab Hyun Suh, tersenyum.

Bersambung

Mr.Goodbye (Episode 11)

Sinopsis Mr. Goodbye
Episode 11

"Aku punya seorang putra." kata Hyun Suh.

Young In diam.

Mendadak pintu elevator terbuka dan banyak tamu masuk ke dalam elevator itu. Hyun Suh dan Young In terdorong ke sudut.

"Kuharap saat ini waktu berhenti." ujar Young In. "Karena aku khawatir, jika kita keluar dari sini, aku akan mendengar berita yang menakutkan."

Hyun Suh menceritakan mengenai donor spermanya, yang kemudian menghasilkan Yoon. "Kau tahu anak itu juga."

Young In terkejut, menoleh ke arah Hyun Suh. "Anak yang kemarin?"

"Ya."

"Tapi kenapa kau baru mengatakan ini sekarang?" tanya Young In.

"Karena aku juga baru tahu." jawab Hyun Suh. "Jika kau masih penasaran, tanyalah padaku."

"Apa yang akan kau lakukan... sekarang?" tanya Young In.

"Aku punya rencana. Apakah kau ingin aku mengatakannya padamu?"

"Tidak." tolak Young In. "Semakin banyak yang bercerita, aku akan semakin sakit. Sembunyikan saja jika perlu."

"Kau marah?"

"Belum." jawab Young In datar.

"Kau akan marah nanti?"

"Pada Yoon?"

"Padaku." jawab Hyun Suh. "Pikirkanlah. Dan jika kau berpikir ingin marah, marah saja... padaku. Bukan pada orang lain."

Young In mengangguk dan beranjak pergi. Ia berjalan keluar dari hotel dengan ekspresi sedih, bingung dan kesal sekaligus.

Kyle datang ke ruangan Hyun Suh dengan membawa sebuah amplop cokelat.

"Kudengar kau diangkat menjadi Presiden Nikko." katanya.

"Darimana kau tahu?"

"Aku memiliki seseorang yang bekerja di Nikko." jawab Kyle. "Apa kau akan pergi?"

"Haruskah aku menjawab pertanyaanmu?" Hyun Suh bertanya lagi dengan dingin.

Kyle menyerahkan sebuah amplop dan mini kaset. "Ini adalah rekaman rahasiamu, tapi tamunya sudah check out. Tujuan mereka bukan kau, tapi hotel. Untuk mengambil alih hotel, mereka mengumpulkan informasi mengenai pemegang saham, pendapatan hotel dan mereka sudah berpikir dan mencari cara bagaimana caranya mengambil alih hotel. Kau tahu hal ini lebih dari orang lain. Seperti inilah pekerjaan yang kau lakukan sebelum kau datang kemari."

Hyun Suh membuka amplop itu. Isinya adalah segala informasi mengenai si penyadap. "Terima kasih." katanya pada Kyle.

"Aku tahu kau sudah tahu mengenai hal ini." kata Kyle. "Pergilah ke Nikko. Aku tidak akan pernah menyerahkan hotel ini bahkan jika kau pergi."

"Kenapa kau tidak berdiri di pihak mereka dan mengatakan semua ini padaku? Bukankah kau tidak menyukaiku?" tanya Hyun Suh. "Siapa sebenarnya kau?"

"Hotel adalah sesuatu yang hidup." kata Kyle, mengatakan hal yang sama dengan Tuan Nitoshi. "Mereka akan menjadi seperti pemiliknya."

Hyun Suh menoleh ke arah Kyle dengan kaget.

"Itulah yang selalu dikatakan ayahku." ujar Kyle. "Aku tidak bisa melihat hotel menjadi buruk. Ayahku juga pasti tidak akan mengharapkan itu. Selain itu, aku tidak ingin Choi Young In bekerja di hotel seperti itu."

"Jangan menyakitinya dan tinggalkan dia." kata Kyle.

"Choi Young In yang akan memutuskannya." kata Hyun Suh. "Ini bukan pilihan yang bisa kita buat."

Young In membaca jurnal yang diberikan Kyle. Ia ingin menuliskan sesuatu di sana, tapi karena semua isi buku tersebut dalam bahasa Inggris, maka Young In meminta tolong Kyle untuk membantunnya.

Kyle mengatakan bahwa Young In harus menulis sendiri, dengan bahasa Korea, bukan bahasa Inggris. "Adakah aturan disana yang tertulis kau harus menulis dengan bahasa Inggris?" tanya Kyle.

Young In malah marah. "Kepala pengawas! Hari ini, tak peduli kekuasaan apa yang ada padamu, aku tidak takut! Hari ini pikiranku sedang tidak baik. Tolong mengerti untuk hari ini saja! Setelah ini, kau akan mengatakan sesuatu mengenai aku yang tidak mengerti Bahasa Inggris, bukan?"

"Choi Young In, kenapa kau tidak pernah mempercayaiku?" tanya Kyle. "Aku mengatakan kau boleh menulis kegagalanmu dan menulis dengan bahasa Korea, bukan bahasa Inggris. Dan.. kenapa kau mengacuhkan aku? Aku menyatakan bahwa aku menyukaimu dan bertanya apakah aku boleh mencintaimu. Apakah kau berpikir mengenai itu?"

"Kepala pengawas... itu..."

"Aku berkata bahwa aku bisa menunggu, tapi bukan mengacuhkan aku." kata Kyle marah.

"Aku sudah menyukai orang lain..."

"Aku tahu hal itu, karena itulah aku berkata aku akan menunggu." kata Kyle.

Young In mengatakan pada Kyle agar tidak menunggu.

Hyun Suh sengaja datang ke rumah sakit untuk bicara dengan Soo Jin.

"Aku menyukai Yoon." katanya. "Bahkan setelah kau menceritakan cerita konyol itu, aku tetap menyukai Yoon."

"Terima kasih." kata Soo Jin, tersenyum senang.

"Setelah melihat Yoon tumbuh sepertiku, aku tidak bisa melepaskannya begitu saja." tambah Hyun Suh. "Aku ingin bersikap seperti seorang ayah."

Soo Jin hendak bicara, tapi Hyun Suh menyuruhnya mendengarkannya bicara sampai selesai.

"Aku akan membawa Yoon ke Amerika." kata Hyun Suh.

"Apa maksudmu?"

"Tujuh tahun yang lalu, kau membuat keputusan tanpa mendengar pendapatku dan pendapat Yoon. Sekarang, beri kami kesempatan juga. Yoon juga harus tinggal bersama ayahnya."

"Jadi... hanya Yoon... apa... maksudnya?" Soo Jin sangat terpukul hingga bicara terbata-bata.

"Kau memilihku saat donasi karena kau percaya padaku. Berilah kepercayaan sekali lagi padaku dan biarkan aku bertanggung jawab atas Yoon."

''Jika kita bertiga, apakah itu tidak akan berhasil? Apa itu berat?" tanya Soo Jin, berusaha mengendalikan emosinya.

"Ya." jawab Hyun Suh jujur.

Soo Jin menolak dan mengatakan pada Hyun Suh agar melupakan semua yang ia katakan mengenai Yoon. Hyun Suh memberi waktu Soo Jin untuk berpikir.

Saat itu, jantung Hyun Suh terasa sangat sakit, tapi ia menahannya.

Hyun Suh kembali ke apartemen. Disana, Young In sudah masak untuknya.

"Ada yang salah denganku." kata Young In ketika mereka sedang makan. "Aku tidak marah pada temanmu, Soo Jin tapi... aku takut dan merasa tidak tenang."

"Kenapa?"

"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak tahu apapun." jawab Young In. "Walaupun aku mencoba marah padamu, tapi kau tidak melakukan kesalahan apa-apa. Aku tidak bisa marah pada temanmu. Jika kau adalah milikku, aku baru punya hak untuk marah. Tapi kau belum menjadi milikku. Yoon sangat menyukaimu. Kurasa dia lucu dan tidak melakukan kesalahan apa-apa. Tapi... aku takut pada mereka berdua."

"Kenapa?"

"Karena mungkin saja aku akan kehilanganmu karena mereka. Mereka dua dan aku satu."

"Kau bilang kau menyukaiku lebih dari aku menyukaimu." kata Hyun Suh. "Itulah yang menjadi kekuatanmu." Hyun Suh mengatakan pada Young In, jika Young In menyerah begitu saja pada Soo Jin dan Yoon, maka ia akan membunuh Young In.

Kyle menerima tawaran Kang Chul Goo untuk bekerja sama dengannya.

Hyun Suh mengatakan pada Young In bahwa ia akan kembali ke Las Vegas dalam 3 hari. "Jika kau tidak cepat membuat keputusan, aku akan pergi dan tidak akan pernah kembali." katanya.

Kyle sibuk mengerjakan sesuatu di notebooknya, mengenai rahasia besar Empire Hotel. Di lain sisi, Kang Chul Goo juga melakukan hal yang serupa.

Pengawas cctv mengatakan pada Hyun Suh bahwa Kang Chul Goo berusaha mencuri informasi rahasia yang dibawa Hyun Suh dari pusat. Ia juga mengatakan bahwa menurutnya, Kyle bisa dipercaya.

"Apa kau akan pergi ke Las Vegas?" tanya Kyle. "Kau sudah memutuskan? Tolong jangan pergi."

Namun Young In tidak mendengarkan kata-kata Kyle, pandangannya terpaku pada Soo Jin, yang saat itu sedang berjalan menuju mereka.

Soo Jin meminta Young In agar bicara dengannya. Saat itu, Hyun Suh melihat mereka dari kamera cctv.

Soo Jin berbincang dengan Young In di kafe. Ia meminta Young In mengatakan segala yang ia katakan, tapi Young In tidak bisa mengatakan apa-apa.

Mendadak ponsel Young In berbunyi. Hyun Suh mengirimkan sms, "Yoon Hyun Suh, aku memberikan dia padamu. Yoon Hyun Suh adalah milikmu. Dia milikmu, jadi jangan kehilangan kepercayaan diri dan jangan gugup. Katakan semua yang ingin kau katakan."

Hyun Suh datang ke TK Yoon dan mengintipnya belajar.

Yoon melihat Hyun Suh dan berjalan keluar.

Mendadak jantung Hyun Suh terasa sakit sampai ia terduduk di lantai.

Yoon marah pada Hyun Suh karena meninggalkan rumah dan mengajaknya kembali ke rumah.

Soo Jin berkata pada Young In bahwa ia tidak akan melepaskan Hyun Suh. Ia ingin membina keluarga dengan Yoon dan Hyun Suh.

"Kalau begitu, kita berdua harus sama-sama berusaha." kata Young In. "Aku juga berharap Direktur dan Yoon bahagia."

Soo Jin mengerti maksud Young In. "Apa kau akan pergi ke Amerika?" tanyanya.

"Aku tidak ingin Direktur menderita. Aku ingin Direktur merasa bahagia karena aku."

Di tempat lain, Hyun Suh berjalan pulang bersama Yoon. Hyun Suh membujuk Yoon agar ikut bersamanya ke Amerika tanpa ibunya.

"Aku tidak mau." kata Yoon.

"Aku tidak bisa berpisah denganmu." kata Hyun Suh. "Aku menyukaimu. Aku ingin melihatmu setiap hari."

Yoon memeluk Hyun Suh. "Tapi tetap saja tidak." jawabnya. "Paman, kau ingin aku menciummu?"

"Tidak." jawab Hyun Suh.

Yoon mencium bibir Hyun Suh, kemudian tertawa senang.

"Yoon, kau tidak boleh melupakan hari ini." kata Hyun Suh. "Walaupun kau sudah dewasa, kau tidak boleh lupa."

"Karena kita berdua laki-laki dan berciuman?" tanya Yoon polos.

"Bukan, tapi saat aku mengatakan bahwa aku menyukaimu."

Yoon tertawa. "Ya."

Hyun Suh menelepon Soo Jin dan mengatakan bahwa ia akan kembali ke Las Vegas selama 1 minggu, kemudian kembali dan akan benar-benar pergi. Ia meminta Soo Jin memikirkan baik-baik dalam waktu 1 minggu itu.

Young In berdandan di elevator karena hari itu adalah hari pertunangan tamu hotel. Hyun Suh memintanya datang ke ruangannya segera setelah acara selesai. Ia juga meminta Young In menemaninya ke rumah sakit.

Hyun Suh turun dari elevator. Di tengah perjalanan, ia berpapasan dengan Kyle dan menyatakan penyesalan juga rasa sedihnya atas kematian ayah Kyle.

Soo Jin meminta izin pada atasannya untuk pergi ke Amerika.

Setelah selesai acara, Young In pergi ke ruang loker untuk berganti pakaian. Young In kesal karena lokernya tidak bisa dibuka. Ia terpaksa tetap mengenakan baju itu.

Tanpa sengaja, Young Kyu melihat Young In berpakaian cantik.

"Ia cantik." gumamnya. "Tapi mau kemana dia berdandan seperti itu." Young Kyu membuntuti Young In dari belakang. Ia tersenyum ketika melihat Young In masuk ke ruangan Hyun Suh.

Young In penasaran kenapa Hyun Suh mengajaknya ke rumah sakit. Ia bertanya pada Hyun Suh, apa yang sakit. Tapi Hyun Suh tidak mau menjawab.

Karena Young In terus berisik, Hyun Suh memberi petunjuk. Young In menjadi teringat ketika ia satu pesawat dengan Hyun Suh. "U-Turn! U-Turn!" Saat itu dada Hyun Suh sakit. Young In menjadi cemas.

Hyun Suh tidak datang lagi ke rumah sakit tempat Soo Jin bekerja. Ia melakukan check up di rumah sakit karena ia akan pergi ke Las Vegas dengan pesawat. Ia takut kejadian seperti yang lalu terjadi lagi. Dokter menyuruh Hyun Suh datang lagi besok untuk pemeriksaan jantung.

Young In sangat cemas dan terus memojokkan Hyun Suh untuk bercerita.

"Aku datang untuk mengambil obat." kata Hyun Suh. "Ingat saat jantungku bermasalah di pesawat? Aku minum obat itu agar masalah itu tidak terjadi lagi."

"Aku menyesal karena terlalu cemas tanpa alasan." gerutu Young In.

"Menyesal?"

"Ya! Menyesal!"

"Cepat putuskan apakah kau mau ikut denganku ke Las Vegas atau tidak." paksa Hyun Suh pada Young In ketika mereka makan di kedai pinggir jalan. "Putuskan dalam waktu 1 minggu."

"Apakah Yoon ikut juga?"

"Kau tidak ingin dia ikut?" Hyun Suh bertanya balik. "Karena itukah kau belum bisa memutuskan sampai sekarang?"

"Bukan." jawab Young In ragu. "Sejujurnya... aku cemas mengenai ibu, mengenai aku yang tidak bisa bicara bahasa Inggris, tidak bisa memasak, tidak yakin mengenai Yoon, tidak punya teman."

"Lalu?"

"Aku hanya bilang." jawab Young In.

Hyun Suh malah meledak marah. Young In jadi ikut marah dan beranjak pergi meninggalkan Hyun Suh.

Keesokkan harinya, Hyun Suh pergi ke rumah sakit seorang diri untuk memeriksakan jantungnya. Dokter mengatakan, untuk saat ini kondisi jantung Hyun Suh tidak cukup baik, jika terus dibiarkan maka bisa berbahaya. "Aku menyarankan agar kau segera melakukan operasi." katanya.

"Melakukan operasi?"

Dokter menunjukkan sebuah benda.

"Dengan ini, apakah jantungku akan berdetak normal lagi?" tanya Hyun Suh.

"Karena kami harus membuka jantung, mungkin akan berbahaya." kata Dokter. "Tapi untuk situasimu, kami baru bisa tahu setelah membukanya terlebih dahulu."

Hyun Suh terdiam.

"Apa kau datang sendirian?" tanya Dokter. "Lain kali jangan datang sendirian. Bawalah seorang teman."

"Bisakah aku naik ke pesawat? 12 jam.. jantungku bisa bertahan sampai saat itu, bukan?"

"Itu bunuh diri." jawab Dokter. "Kau tidak boleh naik pesawat."

"Aku akan tetap pergi walaupun aku mati." kata Hyun Suh. "Aku harus pergi."

Young In cemas karena tidak melihat Hyun Suh seharian. Ia berpikir Hyun Suh masih marah. Ia menelepon, tapi Hyun Suh sengaja tidak mengangkatnya.

Keesokkan harinya, Young In mengantar Hyun Suh ke bandara.

"Selamat tinggal." kata Young In.

"Hanya seminggu, untuk apa mengucapkan selamat tinggal?" tanya Hyun Suh.

"Tetap saja harus."

Hyun Suh diam sejenak. "Peluk aku." katanya.

Young In kaget. "Disini?"

Hyun Suh mengangguk.

"Cepat pergi. Setelah kau kembali, aku akan memelukmu." kata Young In, merasa malu.

Hyun Suh tertawa, kemudian beranjak pergi.

Bersambung